Bentuk dari pelet dan silase ransum komplit dapat dilihat pada Gambar 5.
Pelet ransum komplit Silase ransum komplit
Gambar 5. Bentuk Pelet Ransum Komplit dan Silase Ransum Komplit
Gambar 5 memperlihatkan bahwa pelet ransum komplit yang dihasilkan merupakan produk pelet yang baik karena pelet yang dihasilkan kompak, kokoh dan tidak mudah rapuh. Salah satu tujuan dari pembuatan pelet adalah mengurangi sifat voluminous pakan dan untuk mempermudah penanganan pada saat penyimpanan dan transportasi.
Silase merupakan bahan pakan yang diproduksi secara fermentasi yaitu dengan cara pencapaian kondisi anaerob (McDonald et al., 1991). Pembuatan silase ransum komplit pada penelitian ini adalah secara biologis yaitu dengan cara memfermentasi bahan tersebut sampai terbentuk asam sehingga menurunkan pH silase. Karakteristik fisik (warna, bau dan tekstur) dan karakteristik kimia (pH) dari silase ransum komplit disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Karakteristik Fisik dan Kimia Silase Ransum Komplit
Karakteristik Penilaian
Warna Hijau kecoklatan
Bau Asam
Tekstur Utuh, kompak dan tidak terlihat adanya
lendir
pH 4,0
Keterangan: Karakteristik fisik meliputi warna, bau, dan tekstur, sedangkan karakteristik kimia berupa pH
Warna silase ransum komplit yang dihasilkan berkualitas baik yaitu berwarna hijau kecoklatan. Hal ini sesuai dengan yang direkomendasikan Macaulay (2004) yang menyatakan bahwa silase yang berkualitas baik akan berwarna hijau terang sampai kuning atau hijau kecoklatan tergantung materi silase.
Bau yang dihasilkan silase ransum komplit yaitu bau khas fermentasi. Hal ini didukung oleh Lendrawati (2008) yang menyatakan bahwa silase yang baik mempunyai bau seperti susu fermentasi karena mengandung asam laktat, bukan bau yang menyengat.
Tekstur yang dihasilkan silase ransum komplit yaitu utuh, kompak dan tidak terlihat adanya lendir. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa silase yang dihasilkan berkualitas baik karena tidak terdapat kerusakan seperti tekstur yang hancur atau kering. Hal ini juga disebabkan karena kadar air silase ransum komplit yang dihasilkan sebesar 48,62%. Macaulay (2004) menyatakan bahwa tekstur silase dipengaruhi oleh kadar air. Silase dengan kadar air yang tinggi (>80%) akan memperlihatkan tekstur yang berlendir, lunak dan berjamur, sedangkan silase dengan kadar air yang rendah (<30%) mempunyai tekstur kering dan ditumbuhi jamur.
Nilai pH yang dihasilkan adalah 4,0 dan digolongkan ke dalam silase berkualitas baik sekali. Hal ini sesuai dengan pendapat Macaulay (2004) yang menyatakan bahwa kualitas silase dapat digolongkan menjadi 4 kriteria berdasarkan pH yaitu: 1) baik sekali (3,2-4,2); 2) baik (4,2-4,5); 3) sedang (4,5-4,8); dan 4) buruk (> 4,8).
Konsumsi Ransum
Rataan konsumsi segar, bahan kering, bahan organik, dan protein kasar dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Rataan Konsumsi Segar , Bahan Kering, Bahan Organik dan Protein Kasar
Peubah R1 R2
……….(g/ekor/hari)………..
Konsumsi Segar (as fed) 143 ± 6,39b 185,81 ± 2,56a
Konsumsi Bahan Kering 127,41 ± 6,59a 95,47 ± 3,34b
Konsumsi Bahan Organik 113,48 ± 5,87a 86,57 ± 3,03b
Konsumsi Protein Kasar 17,49 ± 1,10a 13,61 ± 0,43b
Keterangan: Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) R1 = Pelet ransum komplit dan R2 = Silase ransum komplit
Konsumsi Bahan Kering
Perlakuan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap konsumsi bahan kering. Rataan konsumsi bahan kering kelinci yang mendapat pelet ransum komplit lebih tinggi 25,07% dibandingkan dengan rataan konsumsi silase ransum komplit. Hal ini diduga berhubungan erat dengan fisiologi kelinci dan tingkah laku makan kelinci yang menunjukkan bahwa kelinci lebih menyukai pakan bentuk pelet dibandingkan bentuk mash. Harris et al. (1983) menyatakan bahwa ternak kelinci lebih menyukai ransum dalam bentuk pelet dibandingkan ransum bukan pelet.
Rataan konsumsi ransum (as fed) pada kelinci yang diberi pakan bentuk pelet sebesar 143 g/ekor/hari, sedangkan silase ransum komplit sebesar 185,81 g/ekor/hari. Pakan bentuk silase mempengaruhi konsumsi air minum. Kelinci yang diberi silase ransum komplit mengkonsumsi air minum lebih sedikit dibandingkan pelet ransum komplit. Hasil penelitian Utomo (belum dipublikasikan) melaporkan bahwa konsumsi air minum kelinci yang mendapat pelet ransum komplit sebesar 232,83 ml/ekor/hari dan silase ransum komplit sebesar 184,12 ml/ekor/hari.
Rataan konsumsi bahan kering pelet ransum komplit sebesar 127,41 g/ekor/hari dan silase ransum komplit sebesar 95,47 g/ekor/hari (Tabel 9). Rataan konsumsi bahan kering pelet ransum komplit pada penelitian ini lebih tinggi dari hasil penelitian Futiha (2010) yang melaporkan bahwa rataan konsumsi bahan kering kelinci yang mendapat ransum komplit mengandung bungkil inti sawit dan daun ubi jalar sebesar 105,05 g/ekor/hari. Tingginya konsumsi bahan kering pada pelet ransum komplit berpengaruh terhadap performa kelinci. Hasil penelitian Rizqiani (belum dipublikasikan) melaporkan bahwa pertambahan bobot badan kelinci yang diberi pelet ransum komplit sebesar 17,6 g/ekor/hari, sedangkan silase ransum komplit sebesar 17,29 g/ekor/hari.
Tingginya konsumsi bahan kering pada pelet ransum komplit menunjukkan bahwa palabilitas dari pelet ransum komplit lebih tinggi dibandingkan silase ransum komplit. Menurut Purbowati et al. (2007), pemberian pakan bentuk pelet, selain dapat mengontrol konsumsi pakan konsentrat dan pakan kasar sesuai dengan proporsi yang diberikan, juga untuk memperbaiki palatabilitas pakan. Aritonang dan Silalahi (1992) menyatakan bahwa palatabilitas berkaitan dengan rasa, bau dan tekstur yang dapat mempengaruhi selera makan. Bau asam pada silase diduga
penyebab ketidaksukaan kelinci dalam mengkonsumsi ransum tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Yusmadi et al. (2008) yang menyatakan bahwa konsumsi bahan kering silase ransum komplit pada kambing peranakan etawah lebih rendah dibandingkan hay ransum komplit dikarenakan silase ransum komplit memiliki bau asam yang menyengat akibat proses fermentasi. Selain itu, silase memiliki sifat voluminous sehingga ruang tidak segera tersedia dalam saluran pencernaan untuk memasukkan pakan baru dan akhirnya menurunkan konsumsi. Hal ini sesuai dengan pendapat Nuswantara et al. (2005) yang menyatakan bahwa waktu tinggal pakan dalam saluran pencernaan yang lama akan menyebabkan rendahnya konsumsi.
Konsumsi bahan kering pelet ransum komplit pada penelitian ini setara dengan 6,75% dari bobot hidup ternak, sedangkan konsumsi bahan kering silase ransum komplit pada penelitian ini setara dengan 5,06% dari bobot hidup ternak. Konsumsi bahan kering pelet ransum komplit sudah memenuhi kebutuhan bahan kering kelinci, sedangkan silase ransum komplit belum memenuhi kebutuhan bahan kering kelinci. Ensminger (1991) menyatakan bahwa kelinci dengan bobot badan 1,8-3,2 kg, kebutuhan bahan keringnya sebesar 112-173 g/ekor/hari atau setara dengan 5,4-6,2% dari bobot hidup.
Konsumsi Bahan Organik
Rataan konsumsi bahan organik kelinci yang mendapat pelet ransum komplit lebih tinggi 23,71% dibandingkan konsumsi bahan organik kelinci yang mendapat silase ransum komplit, dan secara statistik menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) (Tabel 9).
Rataan konsumsi bahan organik pelet ransum komplit sebesar 113,48 g/ekor/hari dan silase ransum komplit sebesar 86,57 g/ekor/hari (Tabel 9). Hal ini disebabkan karena konsumsi bahan kering pada pelet ransum komplit lebih tinggi dibandingkan silase ransum komplit. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutardi (1980) yang menyatakan bahwa bahan organik berkaitan erat dengan bahan kering karena bahan organik merupakan bagian dari bahan kering. Menurut Chotimah (2002), konsumsi bahan organik (BO) pada ternak berbanding lurus dengan konsumsi bahan kering (BK) dari ternak tersebut. Jika konsumsi bahan keringnya (BK) tinggi, maka akan tinggi pula konsumsi bahan organiknya (BO). Rataan konsumsi bahan organik pada penelitian ini lebih tinggi dari yang dilaporkan Futiha (2010) yang melaporkan
bahwa rataan konsumsi bahan organik kelinci yang mendapat ransum komplit mengandung bungkil inti sawit dan daun ubi jalar sebesar 95,30 g/ekor/hari.
Konsumsi Protein Kasar
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang nyata (p<0,05) terhadap konsumsi protein kasar. Rataan konsumsi protein kasar kelinci yang mendapat pelet ransum komplit lebih tinggi 22,18% dibandingkan konsumsi protein kasar silase ransum komplit. Rataan konsumsi protein kasar pelet ransum komplit sebesar 17,49 g/ekor/hari dan silase ransum komplit sebesar 13,61 g/ekor/hari (Tabel 9). Hal ini disebabkan karena konsumsi bahan kering dan bahan organik pada pelet ransum komplit lebih tinggi dibandingkan silase ransum komplit. Hal ini senada dengan hasil penelitian Cakra et al. (2005) yang melaporkan bahwa konsumsi protein kasar berkorelasi positif dengan konsumsi bahan kering dan bahan organik.
Rendahnya rataan konsumsi potein kasar (PK) kelinci yang mendapat silase ransum komplit dibandingkan pelet ransum komplit dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu kandungan protein kasar (PK) dan jumlah konsumsi bahan kering (BK). Kandungan protein kasar (PK) silase ransum komplit lebih tinggi dibandingkan pelet ransum komplit (14,32% vs 13,84%), tetapi karena konsumsi bahan kering (BK) silase ransum komplit lebih rendah maka konsumsi protein kasar (PK) silase ransum komplit lebih rendah pula, sebaliknya kandungan protein kasar (PK) pelet ransum komplit lebih rendah dibandingkan silase ransum komplit, tetapi konsumsi bahan kering (BK) pelet ransum komplit lebih tinggi dibandingkan silase ransum komplit sehingga tidak mempengaruhi rendahnya konsumsi protein kasar (PK) pelet ransum komplit. Hal ini sesuai dengan pendapat Okmal (1993) yang menyatakan bahwa kadar protein pakan yang tinggi dan disertai konsumsi bahan kering (BK) yang tinggi akan menghasilkan konsumsi protein kasar (PK) yang tinggi pula.
Kecernaan Ransum Komplit
Rataan kecernaan bahan kering, bahan organik, dan protein kasar disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Rataan Kecernaan Bahan Kering, Kecernaan Bahan Organik dan Kecernaan Protein Kasar
Peubah R1 R2
………....(%)……...
Kecernaan Bahan Kering 70,46 ± 5,52a 59,48 ± 4,38b
Kecernaan Bahan Organik 71,91 ± 5,42a 61,66 ± 4,32b
Kecernaan Protein Kasar 71,91± 7,78a 60,56 ± 4,38b
Keterangan: Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05)
R1 = Pelet ransum komplit dan R2 = Silase ransum komplit
Kecernaan Bahan Kering
Secara statistik, kecernaan bahan kering pada kelinci yang mendapat perlakuan pelet ransum komplit dan silase ransum komplit menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05). Nilai kecernaan bahan kering kelinci yang mendapat perlakuan pelet ransum komplit adalah 70,46%, sedangkan kecernaan bahan kering kelinci yang mendapat perlakuan silase ransum komplit lebih rendah 15,58% dibandingkan perlakuan pelet ransum komplit. Hal ini disebabkan karena konsumsi bahan kering pada perlakuan R1 dan R2 berbeda nyata, yang menyebabkan kesempatan pakan untuk didegradasi dalam saluran pencernaan juga berbeda. Tillman et al. (1991) menyatakan bahwa hubungan antara daya cerna dengan konsumsi adalah bertambahnya daya cerna diikuti dengan meningkatnya konsumsi. Tingginya nilai kecernaan bahan kering kelinci yang mendapat perlakuan pelet ransum komplit menunjukkan bahwa kualitas pelet ransum komplit lebih baik daripada silase ransum komplit, dimana koefisien cerna bahan kering merupakan tolak ukur dalam menilai kualitas pakan.
Kadar air yang tinggi pada silase juga mempengaruhi rendahnya kecernaan bahan kering kelinci yang mendapat perlakuan silase ransum komplit. Kadar air yang tinggi pada silase menyebabkan laju pergerakan makanan dalam saluran pencernaan ternak tersebut menjadi tinggi, sehingga kerja enzim pencernaan menjadi lebih singkat dan akhirnya menurunkan kecernaan. Hal ini sesuai dengan pendapat Nuswantara et al. (2005) yang menyatakan bahwa laju aliran partikel pakan yang tinggi dalam saluran pencernaan menyebabkan waktu tinggal pakan di dalam saluran pencernaan relatif singkat, sehingga kesempatan mikroba untuk mencerna pakan juga akan singkat dan akhirnya menurunkan kecernaan.
Rendahya kecernaan bahan kering kelinci yang mendapat perlakaun silase ransum komplit juga disebabkan oleh tingginya kandungan serat kasar (SK) silase ransum komplit yaitu sebesar 23,04% dibandingkan kandungan serat kasar (SK) pelet ransum komplit yaitu sebesar 19,66%. Menurut Oluokun (2005), tingginya komponen serat yang tidak dapat dicerna (lignin dan silika) dapat menyebabkan rendahnya kecernaan dan pendapat tersebut didukung oleh Dewi (2008) yang menyatakan bahwa jumlah kandungan serat kasar (SK) yang tinggi pada ransum yang dikonsumsi oleh seekor ternak menyebabkan laju pergerakan makanan dalam saluran pencernaan ternak tersebut menjadi tinggi, sehingga kerja enzim pencernaan menjadi lebih singkat dan akhirnya menurunkan kecernaan.
Nilai kecernaan bahan kering pelet tersebut lebih tinggi dari yang dilaporkan Futiha (2010) yang menyatakan bahwa kelinci yang diberi ransum komplit mengandung bungkil inti sawit dan daun ubi jalar memiliki kecernaan bahan kering sebesar 67,62%. Hadiati (2003) melaporkan bahwa substitusi bungkil kedelai dengan 40% daun kupu-kupu memiliki kecernaan bahan kering sebesar 69,6%, sedangkan Chotimah (2002) melaporkan bahwa pemberian 20% ampas teh memiliki kecernaan bahan kering sebesar 43,2%. Nilai kecernaan bahan kering silase ransum komplit lebih rendah dibandingkan kecernaan bahan kering silase ransum komplit pada domba ekor gemuk. Lendrawati (2008) melaporkan bahwa kecernaan bahan kering silase ransum komplit berbasis hasil samping sawit pada domba ekor gemuk sebesar 64,44%.
Kecernaan Bahan Organik
Kecernaan bahan organik kelinci pada perlakuan R1 adalah 71,91%, sedangkan kecernaan bahan organik pada perlakuan R2 lebih rendah 14,25% dibandingkan perlakuan R1, dan secara statistik menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) (Tabel 10). Hal ini disebabkan karena konsumsi bahan kering pada perlakuan R1 dan R2 berbeda nyata. Tillman et al. (1991) menyatakan bahwa sebagian besar bahan organik merupakan komponen bahan kering. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai kecernaan bahan organik berbanding lurus dengan kecernaan bahan kering, dimana nilai kecernaan bahan kering kelinci yang mendapat pelet ransum komplit lebih tinggi dibandingkan silase ransum komplit sehingga
kecernaan bahan organik kelinci yang mendapat pelet ransum komplit pun lebih tinggi dibandingkan silase ransum komplit.
Nilai kecernaan bahan organik kelinci yang mendapat pelet ransum komplit tersebut lebih tinggi dari yang dilaporkan Futiha (2010) yang melaporkan bahwa kelinci yang diberi ransum komplit mengandung bungkil inti sawit dan daun ubi jalar memiliki kecernaan bahan organik sebesar 69,72%. Chotimah (2002) melaporkan bahwa pemberian ampas teh pada taraf 20% memiliki kecernaan bahan organik sebesar 45,9%. Nilai kecernaan bahan organik silase ransum komplit lebih rendah dibandingkan kecernaan bahan organik silase ransum komplit pada domba ekor gemuk. Lendrawati (2008) melaporkan bahwa kecernaan bahan organik silase ransum komplit berbasis hasil samping sawit pada domba ekor gemuk sebesar 65,85%.
Kecernaan Protein Kasar
Kecernaan protein kasar kelinci pada perlakuan R1 adalah 71,91%, sedangkan kecernaan protein kasar pada perlakuan R2 lebih rendah 15,78% dibandingkan perlakuan R1, dan secara statistik menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) (Tabel 10). Hal ini ada hubungannya dengan konsumsi bahan kering pada R1 dan R2 yang berbeda nyata. Tingginya kecernaan protein kasar pada perlakuan R1 disebabkan karena konsumsi protein kasar R1 (pelet ransum komplit) lebih tinggi dibandingkan R2 (silase ransum komplit). Gracia et al. (1993) menyatakan bahwa kecernaan protein kasar dipengaruhi oleh kadar protein kasar dan serat kasar ransum.
Khotijah (2006) melaporkan bahwa kelinci yang diberi ransum komplit biomassa ubi jalar memiliki kecernaan protein kasar sebesar 70,75% dan Hadiati (2003) melaporkan bahwa substitusi bungkil kedelai dengan daun kupu-kupu sampai 40% pada kelinci memiliki kecernaan protein kasar sebesar 72,7%. Adewakun et al. (1989) melaporkan bahwa pemberian silase jagung pada anak sapi memiliki kecernaan protein kasar sebesar 71,3%.