• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Cendawan Patogen

Dalam dokumen PENYEBARAN PENYAKIT BERCAK DAUN COKLAT (Halaman 27-35)

Dari hasil identifikasi mikroskopik di laboratorium pada sampel yang berasal dari delapan lokasi lahan di empat desa/kelurahan kecamatan Pematang Bandar, kabupaten Simalungun, Sumatera Utara diperoleh bahwa bentuk dari konidia yang diduga cendawan C. henningsii dengan gejala berupa bercak berwarna coklat pada daun tanaman ubi kayu memiliki ciri konidia yang sama dan tidak ada perbedaan pada masing-masing sampel yang telah diamati (Tabel 3).

Tabel 3. Hasil identifikasi cendawan patogen secara mikroskopik yang berasal dari delapan lokasi sampel di lapangan.

No Nama Desa/

kelurahan Lahan Hasil uji mikroskopik Keterangan

1 Mariah Bandar

Lahan 1 Konidia dan hifa

cendawan

Lahan 2 Konidia dan hifa

cendawan

2 Pardomuan

Nauli Lahan 1 Konidia dan hifa

cendawan

Lahan 2 Konidia dan hifa cendawan

3 Kerasaan I

Lahan 1 Konidia dan hifa

cendawan

Lahan 2 Konidia cendawan

4 Kerasaan II

Lahan 1 Konidia dan hifa

cendawan

Lahan 2 Konidia dan hifa

cendawan

Hasil uji mikroskopik ditemukan konidia cendawan berbentuk tabung lurus atau sedikit bengkok dan menyempit, pada bagian ujung konidia membulat dan pangkal terlihat terpotong serta memiliki sekat. Hasil ini sesuai dengan deskripsi C. henningsii Allesch menurut Semangun (2008), dengan ciri konidiofor berwarna coklat kehijauan, tidak bercabang dan bulat pada ujungnya. Konidium dibentuk pada ujung konidiofor, berbentuk tabung, lurus atau agak bengkok, kedua ujungnya membulat tumpul, bersekat 2-8 sekat. Cendawan membentuk perisetium hitam, bergaris tengah 100 μm. Askus seperti gada memanjang, berisi 8 spora.

Prevalensi Penyakit

Berdasarkan pengamatan yang dilaksanakan di delapan lokasi pada empat desa/kelurahan khususnya pada kecamatan Pematang Bandar diperoleh bahwa prevalensi penyakit dari semua lokasi lahan yaitu sebesar 100%. Hal ini disebabkan karena seluruh lokasi terdapat serangan dari penyakit bercak daun coklat di mana menunjukkan gejala dengan kejadian penyakit yang hampir sama namun keparahan penyakit yang berbeda - beda di setiap lokasinya.

Dari hasil pengamatan di lapangan secara umum terlihat tingkat serangan penyakit bercak daun coklat pada tanaman ubi kayu di kecamatan Pematang Bandar tersebar merata pada tiap lokasi, baik dari serangan parah hingga serangan yang sangat parah. Penyakit tersebut umumnya ditemukan pada tanaman yang berumur di atas 4 bulan setelah tanam sampai masuk usia panen. Menurut Ng’ang’a et. al., (2019) penyakit ini sebarannya mendunia dan paling banyak ditemukan di lahan ubi kayu pada dataran rendah dan menyerang tanaman yang berumur 5 bulan.

Penyakit bercak daun coklat yang disebabkan oleh cendawan C. henningsii Allesch. Sangat mudah ditemukan di seluruh pertanaman ubi kayu di lapangan karena merupakan penyakit patogenik golongan cendawan paling umum menyerang bagian daun pada pertanaman ubi kayu. Banito et. al., (2007) menyatakan cendawan patogen Cercospora penyebab penyakit bercak daun coklat tersebar luas pada semua daerah penghasil ubi kayu. Menurut Saleh et. al., (2016) yang menyatakan bahwa penyakit bercak daun coklat sudah tersebar di daerah tropik di mana tanaman ubi kayu dibudidayakan. Di Asia dan Afrika, penyakit bercak daun terdapat di sebagian besar negara-negara penghasil ubi kayu, termasuk di Indonesia. dapat dikatakan pula penyakit ini ada di setiap pertanaman ubi kayu, meskipun dengan intensitas serangan yang beragam.

Kejadian Penyakit

Diketahui pada Tabel 4 bahwa presentase kejadian penyakit tertinggi terdapat pada tujuh lokasi lahan. Dengan presentase masing- masing sebesar 100% di antaranya terdapat di desa Mariah Bandar pada Lahan 1 dan Lahan 2, kemudian pada kelurahan Kerasaan I dan kelurahan Kerasaan II yang masing- masing di Lahan 1 dan Lahan 2, dan disusul dari desa Pardomuan Nauli pada Lahan 2. Hal ini disebabkan karena adanya faktor-faktor yang mendukung timbulnya serangan penyakit di lapangan. Wati (2019) mengemukakan bahwa tingginya serangan bercak daun coklat diduga disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya varietas tanaman, adanya serangan hama, kurangnya sanitasi lahan, dan tidak adanya pengendalian penyakit. Bercak daun coklat dapat menyebar dengan bantuan angin maupun serangga. Pada varietas rentan dan kondisi lingkungan yang mendukung, penyakit bercak daun coklat akan berkembang

hingga menyerang seluruh daun dan dapat menyebabkan kehilangan hasil yang besar.

Tabel 4. Kejadian penyakit bercak daun coklat pada delapan lahan di empat desa di kecamatan Pematang Bandar, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara

No Lokasi Lahan Umur

Berdasarkan data kejadian penyakit pada Tabel 4 telah diketahui bahwa tingkat kejadian penyakit terendah terdapat pada lokasi di desa Pardomuan Nauli Lahan 1 (78,6%). Hal ini dikarenakan adanya beberapa sampel yang belum menimbulkan gejala penyakit pada pengambilan data minggu pertama dan kedua akibat adanya pengaruh dari pemberian fungisida pada pertanaman ubi kayu sebelum pengambilan data di mulai sehingga berdampak pada penekanan perkembangan penyakit bercak daun coklat. Menurut Hillock dan Wydra (2002), penyakit bercak daun coklat dapat dikendalikan dengan menanam dengan jarak

tanam yang lebih lebar untuk mengurangi kelembaban dan penyemprotan fungisida.

Pada pengamatan di lapangan didapati bahwa seluruh tanaman setiap lokasi menunjukan gejala penyakit bercak daun coklat. Gejala khas dari penyakit ini yaitu adanya bercak nekrotik melingkar berwarna coklat pada daun, apabila masuk stadium lanjut bercak mengering dan area yang terdapat bercak akan berlubang (Gambar 3). Di samping itu bercak dapat melebar dan menyatu dengan bercak di sekitarnya lama-kelamaan bercak semakin banyak dan daun menguning kemudian rontok. Penyakit ini biasanya menyerang kanopi daun bagian bawah (daun tua). Menurut Botutihe (2018) pada daun-daun bagian bawah (daun-daun tua) lebih utama terjadi gejala karena lebih sensitif di banding daun-daun yang lebih muda. Ng’ang’a et. al., (2019) menyatakan penyakit ini di tandai dengan adanya bintik-bintik nekrotik muncul pada daun yang lebih tua dan daun yang terinfeksi memiliki kecenderungan gugur lebih awal.

Gambar 3. Gejala penyakit bercak daun coklat di lapangan: Perbandingan tingkat serangan penyakit skala 3 (A) dengan skala 0 (B)

Keparahan Penyakit

Dari Tabel 5 diperoleh bahwa presentase keparahan penyakit tertinggi terdapat pada kelurahan Kerasaan II Lahan 2 dengan varietas UK 1 Agritan persentase keparahan penyakit 88,75% (sangat parah) disusul desa Mariah Bandar

A B

dengan varietas pada Lahan 2 dan Lahan 1 sebesar 76,25% (sangat parah) dan 62,92% (sangat parah). Sedangkan untuk data keparahan penyakit terendah berada di desa Pardomuan Nauli lahan satu dengan varietas Malang 2 presentase keparahan sebesar 28,55% (parah). Hal ini dikerenakan adanya penggunaan varietas tertentu yang rentan terhadap penyakit bercak daun coklat. Menurut Saleh et. al., (2016) menyatakan bahwa di antara 10 varietas unggul dan klon ubi kayu

yang diteliti ketahanannya, varietas MLG-6, klon harapan OMM 9908-4, CMM99008-3, dan CMM 02048-6 menunjukkan reaksi tahan, sementara varietas dan klon yang lain seperti UJ-5, UJ-3, Adhira-4, dan Kaspro, serta klon unggul local Butoijo dan melati bereaksi agak tahan terhadap serangan penyakit bercak daun coklat.

Tabel 5. Keparahan penyakit bercak daun coklat pada delapan lahan di empat desa di kecamatan Pematang Bandar, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara

No Lokasi Lahan Umur

Tanaman Varietas Keparahan Penyakit

Berdasarkan Tabel 5 umur tanaman di setiap lokasi diketahui bahwa ubi kayu di desa Pardomuan Nauli Lahan 1 berumur 5 bulan dengan keparahan penyakit 28,55% (parah) dan pada ubi kayu di kelurahan Kerasaan II Lahan 2 juga berumur 5 bulan namun dengan tingkat keparahan penyakit 88,75% (sangat parah). hal ini dikarenakan bukan hanya penggunaan varietas saja yang berbeda namun juga pada kelurahan Kerasaan II Lahan 2 tidak ada dilakukan pemeliharaan tanaman pasca penanaman ubi kayu baik pemberian pupuk maupun pengaplikasian pestisida. Sehingga harus dianjurkan untuk melakukan pemeliharaan yang tepat. Menurut Sundari (2010) pupuk yang dianjurkan adalah 200 kg urea, 100 kg KCl, dan 100 kg SP-36/ ha dan di lakukan dalam dua tahap, di mana tahap pertama umur 1 bulan dan tahap 2 pada umur 3 bulan. Berdasarkan hasil penelitian Saleh dan Hadi (2011) menyatakan penyemprotan fungisida Difenokonazol 250 gr/l sebanyak 3-6 kali dapat mencegah kehilangan hasil antara 12-17,5%, tapi tidak berpengaruh terhadap kadar pati umbi.

Berdasarkan pengamatan di lapangan pada tingginya data keparahan penyakit di kelurahan Kerasaan II Lahan 2 disebabkan karena faktor vegetasi di sekitar pertanaman ubi kayu di mana petani menggunakan sistem tumpangsari dengan tanaman kacang tanah serta jarak tanam yang rapat. Menurut Tafakresnanto dan Zainal (2018) menyatakan bahwa dalam sistem tanam tumpangsari diperlukan pengaturan kerapatan tanaman dan pemilihan jenis tanaman untuk memperoleh populasi yang optimal tanpa mengabaikan daya dukung lahan. Warman dan Riajeng (2018) menyatakan pemilihan kombinasi tanaman yang tepat dapat membuat putusnya rantai serangan penyakit tanaman maupun hama yang menyerang tanaman tertentu.

Dalam dokumen PENYEBARAN PENYAKIT BERCAK DAUN COKLAT (Halaman 27-35)

Dokumen terkait