• Tidak ada hasil yang ditemukan

DATA INPUT

F. Iklim dan Curah Hujan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Berdasarkan hasil pencarian koordinat pohon plus di areal Hutan Pendidikan Gunung Walat, Sukabumi, Jawa Barat jumlah total pohon plus yang berhasil diinventarisasi sebanyak 24 pohon. Terdiri dari 14 pohon dari jenis Pinus merkusii (Pinus), 6 pohon dari jenis Schima walichii (Puspa), 4 pohon dari jenis Agathis dammara (Damar) dan selengkapnya disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 1. Jenis Pohon Plus dan Penyebarannya di Hutan Pendidikan Gunung Walat

No. Pohon Plus Jenis Koordinat (UTM)

X Y

AG 10 Agathis dammara 701393 9235130 AG 14 Agathis dammara 701496 9235062 AG 15 Agathis dammara 701579 9234980 AG 16 Agathis dammara 701525 9234866 PN 041 Pinus merkusii 702391 9235632 PN 042 Pinus merkusii 702363 9235658 PN 043 Pinus merkusii 702304 9235624 PN 11 Pinus merkusii 701286 9235796 PN 12 Pinus merkusii 701341 9235762 PN 13 Pinus merkusii 701433 9235812

PN 14 Pinus merkusii 701221 9235864

PN 15 Pinus merkusii 701614 9235766 PN 21 Pinus merkusii 702814 9235416 PN 22 Pinus merkusii 702920 9235356 PN 23 Pinus merkusii 702989 9235256 PN 24 Pinus merkusii 702967 9235358 PN 42 Pinus merkusii 702173 9235752 PN 43 Pinus merkusii 702143 9235742 PN 44 Pinus merkusii 702015 9235674 PS 31 Schima walichii 701128 9235548 PS 4907 Schima walichii 701171 9235524 PS 4908 Schima walichii 701172 9235528 PSP 12 Schima walichii 700978 9235480 PSPP 11 Schima walichii 701081 9235598 PSPP 12 Schima walichii 700891 9235458 Keterangan :

AG : Damar (Agathis dammara) PN : Pinus (Pinus merkusii) PS, PSP, PSPP : Puspa (Schima wallichii)

Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Pemberian Skor Pohon Plus HPGW

D=Diameter, TT=Tinggi Total, TBC=Tinggi Bebas Cabang, BB=Bentuk Batang, PC=Percabangan, SPC=Sudut Percabangan, PBG=Pembungaan, PBH=Pembuahan, HPC=Hama,Penyakit dan Cacat Lain

Tabel 2 di atas menunjukkan hasil dari perhitungan pemberian skor pohon plus untuk masing-masing karakter dari tiap-tiap jenis yang ada di HPGW dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

1. Diameter (D) = 100%

serta mengacu pada kriteria pemberian nilai calon pohon plus seperti yang tercantum pada Lampiran 5.

Dari tabel tersebut di atas terlihat bahwa skor pohon plus yang tertinggi dimiliki oleh tegakan Pinus merkusii (Pinus). yaitu PN43 dengan skor 115, skor pohon plus terendah dimiliki oleh tegakan Schima wallichii (Puspa) yaitu PSP12, PSPP11, PSPP12 dengan skor 88. Khusus untuk pohon plus Puspa ada sedikit hambatan dalam penentuan pohon plus, hal ini dikarenakan hampir semua pohon puspa bentuk batangnya tidak lurus dan bercagak. Sehingga dipilih pohon yang bercagak tapi dengan skor yang paling tinggi.

Sedangkan peta penyebaran pohon plus dengan skala 1:25000 disajikan pada Gambar 5 di bawah ini. Peta penyebaran tersebut diperoleh dari hasil proses tumpang tindih (overlay) beberapa peta dasar digital HPGW dengan hasil pencarian koordinat pohon plus di lapangan menggunakan GPS GARMIN 72.

Peta dasar dan peta koordinat pohon plus yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 6, 7, dan 8 secara berturut-turut di bawah ini.

B. Pembahasan

Menurut data pohon plus yang diperoleh dari Laporan Praktek Umum Pembinaan Hutan Program Diploma Budidaya Hutan Tanaman Fakultas Kehutanan IPB Tahun 2002 pemilihan pohon plus dilakukan pada tegakan Agathis dammara (Damar), Tahun 2004 pada tegakan Schima wallichii (Puspa)

dan Tahun 2005 pemilihan pohon plus dilakukan pada tegakan Pinus merkusii (Pinus) dengan masing-masing tahun tanamnya untuk Damar tahun 19651-1952, Puspa tahun 1965-1970 dan Pinus tahun 1967-1968.

Adapun kriteria standar dari pemilihan pohon plus adalah : 1. Mempunyai diameter batang yang cukup besar dan bentuknya lurus

2. Mempunyai ketinggian (tinggi total) yang lebih bila dibandingkan dengan yang lainnya

3. Pohon tersebut tidak terserang hama dan penyakit serta cacat lain 4. Batang mempunyai sedikit mata kayu dan percabangannya baik 5. Mempunyai sudut percabangan horizontal

Penentuan pohon plus harus melalui beberapa tahapan sebagai berikut : 1. Pemilihan calon pohon plus dan pohon pembanding

2. Pengukuran dan pengamatan terhadap calon pohon plus dan pohon pembanding

3. Penilaian dan penentuan pohon plus berdasarkan kriteria pemberian nilai pohon plus dan pohon pembanding

Jika dilihat dari tabel rekapitulasi hasil pemberian nilai pohon plus HPGW seperti tersebut di atas didapatkan perbedaan nilai tertinggi dan terendah dari hasil skoring pohon plus yang disebabkan karena perbedaan tempat tumbuh dan pH tanah. Tempat tumbuh yang lebih tinggi mempunyai tingkat kesuburan yang kurang bila dibandingkan dengan tempat tumbuh yang lebih rendah. Hal ini disebabkan tanah pada tempat tumbuh yang tinggi sering mengalami pengikisan pengaruh dari kelerengan tanah sehingga ikut terbawa ke lapisan bawah yang mengakibatkan tanah di lapisan bawah lebih subur dan sesuai untuk pohon plus.

Untuk pH tanah, semakin tinggi pH tanah maka pertumbuhan pohon di atas tanah tersebut menjadi semakin baik.

Berdasarkan data laporan dan keterangan dari petugas lapangan, jumlah pohon plus yang ditemukan di lapangan tidak sesuai dengan jumlah total pohon plus yang sebenarnya dimiliki HPGW yaitu kurang lebih 60 pohon plus.

Ketidaksesuaian data pohon plus ini disebabkan oleh beberapa hal antara lain :

a. Belum tersedianya data base yang cukup akurat mengenai keberadaan pohon plus di areal HPGW dan pengorganisasian datanya yang dirasa masih kurang baik dikarenakan data tersebut tidak berada pada satu tempat melainkan terpisah-pisah sehingga mengalami kesulitan dalam pengumpulan data dan pada saat pengecekan di lapangan.

b. Dalam kegiatan penentuan posisi pohon plus, pada prakteknya banyak data pohon plus yang lokasinya tidak dapat ditemukan di lapangan, dimana secara fisik papan keterangan yang merupakan petunjuk tentang pohon plus sudah banyak yang hilang. Sehingga ketika dilakukan inventarisasi dan identifikasi terhadap pohon plus di lapangan jumlah pohon plus yang berhasil diperoleh sedikit sekali.

c. Kurangnya pemeliharaan terhadap pohon plus yang sudah ada terlihat dari penampakan fisiknya.

Pemilihan pohon plus itu sendiri bersifat subyektif tergantung penggunaan atau pengusahaannya serta syarat-syarat tentang kualitas yang dikehendaki.

Misalnya untuk pembuatan kertas perlu penelitian tentang serat dan berat jenisnya, selain daripada kriteria dasar seperti di atas. Kriteria pemilihan pohon plus tersebut akan berbeda jika pengusahaannya untuk penghasil buah antara lain pertumbuhan baik, buah lebat, cabang pendek sehingga mudah dipanjat, cukup tua. Sedangkan kriteria pohon plus untuk tujuan penghasil kayu antaralain pertumbuhan tinggi&diameter di atas rata-rata, batang lurus, batang bebas cabang tinggi, tajuk normal sesuai dengan karakter jenis, bebas hama&penyakit, sudah berbunga, mutu kayu baik, cukup tua. Akan tetapi perbedaan tujuan pengusahaan pohon plus tersebut pada dasarnya semuanya mengacu kepada kriteria standar pemilihan pohon plus seperti yang sudah tersebut di atas, karena semua karakter/kualitas yang diinginkan dari suatu pohon plus untuk masing-masing tujuan pengusahaan sudah tercakup dalam kriteria tersebut.

Keberadaan pohon plus yang berkaitan langsung dengan kegiatan pemuliaan pohon dalam pembangunan hutan sangat diperlukan dalam menentukan jenis tanaman yang sesuai, provenansi terbaik dari jenis tanaman yang sesuai dan individu terbaik dalam provenansi terbaik sesuai dengan sifat-sifat yang diinginkan sehingga akan meningkatkan nilai dari suatu jenis yang di

kembangkan. Informasi yang diperoleh dari pohon plus tersebut akan diwujudkan dalam bentuk sumber benih sesuai dengan materi yang tersedia dan kualitas yang diinginkan.

Tujuan pemuliaan pohon plus jenis Pinus merkusii (Pinus) yang dilakukan oleh HPGW adalah untuk meningkatkan produksi kayu dan getah dengan cara perbaikan bentuk batang dan mencari pohon-pohon yang tinggi produksi getahnya. Pemuliaan pohon plus Agathis dammara (Damar) bertujuan untuk peningkatan hasil kopal dan produksi kayu. Sedangkan untuk jenis Schima wallichii (Puspa) tujuannya yaitu untuk meningkatkan produksi kayu.

Keberhasilan dari adanya pohon plus melalui program pemuliaan pohon tersebut telah terbukti di beberapa negara seperti Pinus taeda di Amerika Serikat bagian selatan yang pada generasi I telah meningkatkan volume 10-25 %, Pinus radiata yang sukses di New Zealand dan Pinus elliottii di Australia yang dapat meningkatkan volume sampai 30 % (Pusat Perbenihan Kehutanan Direktorat Jenderal Kehutanan, 1979). Keberhasilan tersebut bukan terjadi karena secara kebetulan tetapi melalui suatu proses yang sistematis dan memakan waktu yang relatif panjang.

Akan tetapi pada kenyataannya di lapangan keberadaan pohon plus khususnya di Hutan Pendidikan Gunung Walat belum dapat di akses secara maksimal karena belum tersedianya data yang akurat yang memuat tentang pohon plus dan lokasi penyebarannya. Padahal pohon plus ini akan dapat memberikan peran yang sangat penting dalam kaitannya pengadaan dan pengelolaan kebun benih di Hutan Pendidikan Gunung Walat. Sumber data akurat yang dimaksud adalah adanya peta lokasi penyebaran pohon plus baik peta digital maupun peta analog.

Dari hasil kegiatan pencatatan posisi pohon plus di lapangan dan proses pengolahannya dengan memanfaatkan teknologi Sistem Informasi Geografis dengan peta dasar yaitu peta digital Tata Batas dan Vegetasi HPGW yang sudah ada terlihat hasilnya tidak mengalami kesalahan, dalam pengertian nilai koordinat pohon plus yang diambil dengan GPS posisi/letaknya tepat dan sesuai dengan peta dasar yang ada, sehingga tidak perlu dilakukan koreksi. Ketelitian dari hasil

pembuatan peta penyebaran pohon plus ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :

a. Ketelitian data yang digunakan yaitu peta dasar sebagai acuan dalam pencatatan posisi koordinat pohon plus di lapangan dan proses pemetaan pohon plus merupakan peta hasil penelitian sebelumnya yang sudah mengalami pengkoreksian.

b. Geometri dan distribusi dari satelit-satelit yang teramati oleh receiver (GPS) cukup banyak sehingga mempercepat waktu pengamatan.

c. Metode penentuan posisi yang digunakan adalah metode Stop-and-Go, metode ini dapat dilakukan per titik tanpa bergantung pada titik lainnya, titik-titik yang akan ditentukan posisinya tidak bergerak (statik), sedangkan receiver GPS bergerak dari titik-titik dimana pada setiap titik nya receiver yang bersangkutan diam beberapa saat di titik-titik tersebut. Trayektori dari receiver yang bergerak antara satu titik dengan titik lainnya, tidaklah diperlukan, meskipun pada prinsipnya teramati. Oleh sebab itu pengamat relatif bebas dalam memilih rute pergerakannya dan tingkat akurasi yang diperoleh dengan metode ini relatif kecil.

d. Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis dapat mempermudah dalam proses pembuatan peta penyebaran pohon plus

e. Strategi pemrosesan data yang dilakukan yaitu moda post processing, dimana pengolahan data dilakukan di kantor setelah semua pengamatan selesai dilakukan.

Untuk Gambar 5. Peta Penyebaran Pohon Plus di HPGW Tahun 2005 Gambar 6. Peta Sebaran Vegetasi HPGW Tahun 1982

Gambar 7. Peta Tata Batas HPGW Tahun 2004

Gambar 8. Peta Lokasi Pohon Plus HPGW Tahun 2005 Berada pada folder yang terpisah.

Dokumen terkait