Data pengukuran kapasitas tukar kation (KTK) tanah dan hasil sidik ragam tertera pada Lampiran 7 dan 8 menunjukkan bahwa pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik berpengaruh nyata meningkatkan KTK tanah Ultisol.
Hasil uji beda rataan pengaruh perlakuan bahan amandemen zeolit dan bahan organik disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Nilai rataan Kapasitas Tukar Kation akibat pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik pada akhir masa inkubasi tanah
Perlakuan Bahan Amandemen KTK (me/100g)
A0 (Kontrol) 2,96 d
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama pada setiap efek perlakuan menunjukkan berbeda tidak nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%.
Uji beda rataan jarak Duncan dapat dilihat bahwa perlakuan A1 (10 ton/ha zeolit) berbeda nyata dengan semua perlakuan lainnya dalam meningkatkan KTK tanah Ultisol. Hal ini dikarenakan kemampuan zeolit dalam meningkatkan KTK tanah dengan cara menambahkan muatan negatif yang terdapat pada permukaan zeolit. Semakin besar zeolit yang diberikan, semakin tinggi nilai KTK tanah.
Tampubolon (2003) yang menyatakan bahwa zeolit memiliki muatan negatif yang tinggi serta struktur berpori yang dapat diisi oleh molekul air yang dapat dipertukarkan dengan kation lain tanpa merusak struktrur.
Pada Tabel 5 terlihat bahwa KTK tanah Ultisol meningkat akibat pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik. KTK terendah terdapat
pada perlakuan A0 (kontrol) yaitu sebesar 2,96 me/100g (sangat rendah) dan tertinggi yaitu pada perlakuan A1 (10 ton/ha Zeolit) yaitu sebesar 3,73 me/100g (sangat rendah). Meskipun dalam kriteria yang sama, tetapi terdapat peningkatan nilai KTK sebesar 0,77 me/100g.
Aluminium Dapat Dipertukarkan
Hasil pengukuran aluminium dapat dipertukarkan (Aldd) pada tanah Ultisol dan hasil sidik ragam tertera pada Lampiran 9 dan 10 menunjukkan bahwa pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik tidak nyata dalam menurunkan Aldd tanah Ultisol. Hasil rataan pengaruh pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Nilai rataan Aluminium dapat dipertukarkan akibat pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik pada akhir masa inkubasi tanah
Perlakuan Bahan Amandemen Aldd (me/100g)
A0 (Kontrol) 2,53
A1 (10 ton/ha Zeolit) 2,00
A2 (7,5 ton/ha Zeolit + 5 ton/ha bahan organik) 1,73 A3 (5 ton/ha Zeolit + 10 ton/ha bahan organik) 1,73 A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha bahan organik) 1,73
A5 (20 ton/ha bahan organik) 1,87
Hasil Tabel 6 didapati rataan terendah pada perlakuan A2 (7,5 ton/ha Zeolit + 5 ton/ha bahan organik), A3 (5 ton/ha Zeolit + 10 ton/ha bahan organik), dan A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha bahan organik) sebesar 1,73 me/100g dan tertinggi pada perlakuan A0 (Kontrol) yaitu sebesar 2,53 me/100g. Meskipun dalam kriteria yang sama, tetapi terdapat penurunan nilai Aldd sebesar 0,80 me/100g.
Semua perlakuan dapat menurunkan nilai Aldd pada tanah Ultiosl.
Penurunan nilai Aldd ini disebabkan karena kemampuan bahan organik dalam mengkhelat Al3+ yang terdapat di tanah, sehingga Al3+ tidak terhidrolisis lagi.
Atmojo (2003) menyatakan bahwa selama proses dekomposisi, bahan organik akan melepaskan asam-asam organik yang menyebabkan menurunnya pH tanah.
Namun apabila diberikan pada tanah yang masam dengan kandungan Al tertukar tinggi, akan menyebabkan peningkatan pH tanah, karena asam-asam organik hasil dekomposisi akan mengikat Al membentuk senyawa komplek (khelat), sehingga Al-tidak terhidrolisis lagi. Pemberian zeolit juga dapat menurunkan Aldd pada tanah, dimana ion Al3+ yang terdapat pada tanah Ultisol mengalami pertukaran dengan basa-basa tukar seperti Ca2+ dan Mg2+ yang terdapat pada zeolit sehingga Al3+ terlepas dan tercuci di dalam tanah. Tampubolon (2003) menyatakan bahwa struktur berpori zeolit dapat mengikat kation-kation basa seperti Ca dan Mg yang dapat dipertukarkan dalam tanah.
pH Tanah
Data pengukuran pH tanah dan hasil sidik ragam tertera pada Lampiran 11 dan 12 menunjukkan bahwa pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik berpengaruh nyata meningkatkan pH tanah Ultisol. Hasil uji beda rataan pengaruh pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Nilai rataan pH tanah akibat pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik pada akhir masa inkubasi tanah
Perlakuan Bahan Amandemen pH
A0 (Kontrol) 5,34 e
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama pada setiap efek perlakuan menunjukkan berbeda tidak nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%.
Uji beda rataan jarak Duncan dapat dilihat bahwa perlakuan A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha bahan organik), A1 (10 ton/ha Zeolit), A2 (7,5 ton/ha Zeolit + 5 ton/ha bahan organik), dan A3 (5 ton/ha Zeolit + 10 ton/ha bahan organik) tidak berbeda nyata dalam meningkatkan pH tanah, namun berbeda nyata dengan perlakuan A0 (kontrol) dan A5 (20 ton/ha bahan organik) dalam meningkatkan pH tanah Ultisol.
Pada Tabel 3 terlihat pH tanah Ultisol meningkat akibat pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik. pH tanah terendah terdapat pada perlakuan A0 (kontrol) sebesar 5,34 (masam) dan tertinggi pada perlakuan A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha bahan organik) sebesar 6,24 (agak masam), sehingga terjadi peningkatan nilai pH tanah sebesar 0,90.
Pemberian zeolit dapat meningkatkan pH tanah dikarenakan adanya pengaruh pertukaran basa-basa tukar yang terdapat pada zeolit dengan logam Al3+
yang terdapat pada tanah Ultisol. Ion logam tersebut menjadi tidak tersedia sehingga mengurangi terjadinya hidrolisis untuk menghasilkan ion H+. Hal ini akan membebaskan basa-basa tukar pada zeolit serta melepaskan ion OH- yang dapat meningkatkan pH tanah. Hal ini sesuai dengan Tampubolon (2003) yang
menyatakan bahwa peningkatan pH H2O tanah terjadi karena zeolit dapat mengurangi jumlah konsentrasi ion H+ yang ada dalam larutan tanah.
Pemberian bahan organik dapat meningkatkan pH tanah Ultisol dikarenakan adanya asam-asam organik seperti asam humat dan asam fulvat yang dihasilkan ketika proses dekomposisi bahan organik. Asam-asam organik ini akan menghasilkan senyawa-senyawa kompleks yang memiliki gugus-gugus fungsional berupa karboksil (-COOH) dan hidroksil (-OH) yang mampu menjerap ion H+ dan mengkhelat ion Al3+ melalui reaksi khelasi. Hal ini sesuai dengan Atmaja et al (2017) yang menyatakan bahwa pemberian bahan amandemen berupa bahan organik mampu menghasilkan asam-asam organik berupa asam humat dan asam fulvat yang berfungsi dalam mengkhelat Al.
P - Tersedia
Data pengukuran P - tersedia metode Bray II dan hasil sidik ragam tertera pada Lampiran 13 dan 14 serta hasil transformasi akar tertera pada lampiran 15 dan 16 menunjukkan bahwa pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik berpengaruh nyata dalam meningkatkan P - tersedia tanah Ultisol. Hasil uji beda rataan pengaruh pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik terhadap P - tersedia tanah Ultisol disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Nilai rataan P - tersedia akibat pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik pada akhir masa inkubasi tanah
Perlakuan Bahan Amandemen P-tersedia (ppm)
A0 (Kontrol) 15,59 f
A1 (10 ton/ha Zeolit) 26,79 d
A2 (7,5 ton/ha Zeolit + 5 ton/ha bahan organik) 27,26 d A3 (5 ton/ha Zeolit + 10 ton/ha bahan organik) 34,01 b A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha bahan organik) 37,52 a
A5 (20 ton/ha bahan organik) 34,27 b
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama pada setiap efek perlakuan menunjukkan berbeda tidak nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%.
Uji beda rataan jarak Duncan dapat dilihat bahwa perlakuan A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha bahan organik) berbeda nyata dengan semua perlakuan dalam meningkatkan P - tersedia tanah Ultisol.
Pada Tabel 4 terlihat bahwa P - tersedia Ultisol meningkat akibat pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik. P - tersedia terendah terdapat pada perlakuan A0 (kontrol) yaitu sebesar 15,59 ppm (sedang) dan tertinggi yaitu pada perlakuan A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha bahan organik) yaitu sebesar 34,01 ppm (Tinggi), sehingga terjadi peningkatan nilai P – tersedia sebesar 18,42 ppm.
Zeolit mampu meningkatkan P - tersedia di tanah Ultisol dikarenakan kemampuan zeolit dalam mengikat logam-logam seperti Al dan Fe yang menyebebkan terjadinya fiksasi P. Sehingga P menjadi tersedia bagi tanaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Arafat et al (2016) yang menyatakan bahwa zeolit mampu meningkatkan ketersediaan P dengan mengubah P tidak tersedia menjadi P tersedia. Kondisi P tidak tersedia dikarenakan P terikat oleh kation-kation tanah sehingga P menjadi tidak tersedia. Zeolit memiliki muatan negatif yang mampu
mengikat kation-kation tanah seperti Al dan Fe yang menjadi penyebab fiksasi P sehingga P menjadi tersedia dan meningkat.
Bahan organik dapat meningkatkan P - tersedia dimana bahan organik yang melepaskan asam-asam organik akan mengkhelat Al yang menjadi penyebab Fosfor terfiksasi sehingga fosfor akan tersedia bagi tanaman. Selain itu, pemberian bahan organik juga akan menambah hara fosfor ke tanah, sehingga menambah ketersediaan hara P pada tanah. Hal ini sesuai dengan Afandi et al (2015) yang menyatakan bahwa sumber utama P larutan tanah, disamping dari pelapukan yang berasal dari bebatuan atau bahan induk juga bersal dari proses mineralisasi P - organik hasil dari dekomposisi sisa tanaman dan hewan.
Perlakuan A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha Bahan organik) dapat meningkatkan P-tersedia pada tanah Ultisol diduga dikarenakan fungsi kedua bahan tidak saling menghambat. Selain itu, pemberian bahan organik akan memberikan pengaruh dominan dalam meningkatkan P-tersedia dikarenakan adanya penambahan unsur P dari bahan organik.
Serapan P
Data pengukuran serapan P dan hasil sidik ragam tertera pada Lampiran 17 dan 18 menunjukkan bahwa pemberian bahan amandemen Zeolit dan bahan organik berpengaruh nyata dalam meningkatkan serapan P pada tanaman jagung.
Hasil uji beda rataan pengaruh pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik terhadap serapan P pada tanaman jagung disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Nilai rataan serapan P akibat pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik pada akhir masa vegetatif tanaman
Perlakuan Bahan Amandemen Serapan P (g/tanaman)
A0 (Kontrol) 0,06 d
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama pada setiap efek perlakuan menunjukkan berbeda tidak nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%.
Uji beda rataan jarak Duncan dapat dilihat bahwa perlakuan A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha Bahan organik) berbeda nyata dengan semua perlakuan dalam meningkatkan serapan P tanaman pada tanah Ultisol.
Pada Tabel 7 terlihat bahwa serapan P pada tanaman jagung meningkat akibat pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik. Serapan P terendah terdapat pada perlakuan A0 (Kontrol), A1 (10 ton/ha Zeolit), A2 (7,5 ton/ha Zeolit + 5 ton/ha bahan organik), dan A5 (20 ton/ha bahan organik) yaitu sebesar 0,06 ppm (sedang) dan tertinggi yaitu pada perlakuan A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha bahan organik) yaitu sebesar 0,10 ppm (Tinggi), sehingga didapati pertambahan nilai serapan P sebesar 0,04 g/tanaman.
Perlakuan A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha bahan organik) mampu meningkatkan serapan P pada akhir masa vegetatif tanaman jagung dimana sejalan dengan peningkatan p tersedia pada tanah Ultisol. Peningkatan ini menyebabkan besarnya hara P yang diserap oleh akar. Peningkatan serapan P pada tanaman juga dipengaruhi oleh penyebaran akar dan kemampuan akar dalam menyerap P. Menurut Hakim (2005) , serapan P sangat tergantung pada kontak akar dengan P dalam larutan tanah. Sebaran akar di dalam tanah sangat penting
dalam meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman. Dan pengambilan P oleh akar tanaman jagung dipengaruhi oleh sifat akar dan sifat tanah dalam menyediakan P.
Tinggi Tanaman
Hasil pengukuran tinggi tanaman jagung pada akhir masa vegetatif dan hasil sidik ragam tertera pada Lampiran 19 dan 20 menunjukkan bahwa pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik tidak nyata dalam mempengaruhi tinggi tanaman. Hasil rataan pengaruh pemberian bahan amademen zeolit dan bahan organik disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Nilai rataan tinggi tanaman akibat pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik pada akhir masa vegetatif tanaman
Perlakuan Bahan Amandemen Tinggi Tanaman (cm)
A0 (Kontrol) 144,50
A1 (10 ton/ha Zeolit) 148,77
A2 (7,5 ton/ha Zeolit + 5 ton/ha bahan organik) 151,33 A3 (5 ton/ha Zeolit + 10 ton/ha bahan organik) 152,90 A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha bahan organik) 157,43
A5 (20 ton/ha bahan organik) 149,50
Hasil tabel 8 didapati rataan terendah pada perlakuan A0 (Kontrol) sebesar 144,50 dan tertinggi pada perlakuan A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha Bahan organik) yaitu sebesar 157,43. Meskipun pada hasil sidik ragam tidak nyata, tetapi tetap terjadi pertambahan nilai tinggi tanaman sebesar 12,93 cm.
Pertambahan nilai tinggi tanaman ini dikarenakan adanya pertambahan hara fosfat pada tanah dan erat kaitannya dengan serapan P tanaman. Hal ini dikarenakan unsur hara P berperan dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman.
Atmaja et al (2017) menyatakan bahwa peningkatan tinggi tanaman ini memiliki
kaitan yang erat dengan parameter serapan P. Semakin tinggi serapan P semakin tinggi tanaman. Hal ini dikarenakan unsur P merupakan unsur hara yang esensial bagi tanaman, yang berperan dalam proses pertumbuhan tanaman, meliputi proses fotosintesis, respirasi, transfer dan penyimpanan energi, pembelahan dan pembesaran sel serta proses-proses yang lainya.
Diameter Tanaman
Data pengukuran diameter batang tanaman jagung dan hasil sidik ragam tertera pada Lampiran 21 dan 22 menunjukkan bahwa pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik berpengaruh nyata dalam meningkatkan diameter batang pada tanaman jagung.
Hasil uji beda rataan pengaruh perlakuan bahan amandemen zeolit dan bahan organik terhadap diameter batang pada tanaman jagung disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9. Nilai rataan diameter batang akibat pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik pada akhir masa vegetatif tanaman
Perlakuan Bahan Amandemen Diameter Tanaman (mm)
A0 (Kontrol) 17,57 e
A1 (10 ton/ha Zeolit) 18,00 d
A2 (7,5 ton/ha Zeolit + 5 ton/ha bahan organik) 18,97 b A3 (5 ton/ha Zeolit + 10 ton/ha bahan organik) 18,53 b A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha bahan organik) 20,20 a
A5 (20 ton/ha bahan organik) 17,70 d
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama pada setiap efek perlakuan menunjukkan berbeda tidak nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%.
Uji beda rataan jarak Duncan dapat dilihat bahwa perlakuan A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha bahan organik) berbeda nyata dengan perlakuan A0 (Kontrol) terhadap diameter batang tanaman jagung.
Pada Tabel 9 terlihat bahwa diameter batang pada tanaman jagung meningkat akibat pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik.
Diameter batang terendah terdapat pada perlakuan A0 (Kontrol) yaitu sebesar 17,57 mm dan tertinggi yaitu pada perlakuan A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha bahan organik) yaitu sebesar 20,20 mm, sehingga terjadi pertambahan nilai sebesar 2,63 mm.
Perlakuan A4 (2,5 ton/ha zeolit + 15 ton/ha bahan organik) mampu meningkatkan serapan P pada akhir masa vegetatif tanaman jagung dimana sejalan dengan peningkatan p tersedia pada tanah Ultisol. Peningkatan ini menyebabkan besarnya hara P yang diserap oleh akar.
Pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik mampu meningkatkan diameter batang pada akhir masa vegetatif. Hal ini berkaitan dengan unsur hara P yang tersedia yang berasal dari P - organik maupun P - anorganik dimanfaatkan oleh tanaman sehingga mempengaruhi diameter batang dan peningkatan berat kering tajuk. Menurut Rao (1994) Fosfor organik mengandung senyawa yang berasal dari tanaman dan mikroorganisme yang tersusun dalam asam nukleat dan fosfolipid. Bentuk fosfor anorganik tanah lebih sedikit dan sukar larut. Fungsi dari fosfor bagi tanaman adalah sebagai berikut : (1) dapat merangsang pertumbuhan akar tanaman (2) mempercepat serta memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi tanaman dewasa pada umumnya (3) mempercepat pembungaan dan pemasakan buah biji atau gabah (4) dapat meningkatkan produksi dan mutu biji-bijian
Bobot Kering Tajuk
Data pengukuran bobot kering tajuk dan hasil sidik ragam tertera pada Lampiran 23 dan 24 serta hasil transformasi akar tertera pada lampiran 25 dan 26 menunjukkan bahwa pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik berpengaruh sangat nyata terhadap berat kering tajuk tanaman jagung.
Hasil uji beda rataan pemberian perlakuan bahan amandemen zeolit dan bahan organik terhadap berat kering tajuk tanaman disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Nilai rataan bobot kering tajuk akibat pemberian bahan amademen zeolit dan bahan organik pada akhir masa vegetatif tanaman
Perlakuan Bahan Amandemen Bobot Kering Tajuk (g)
A0 (Kontrol) 65,92 d
A1 (10 ton/ha Zeolit) 72,74 bc
A2 (7,5 ton/ha Zeolit + 5 ton/ha bahan organik) 75,45 b A3 (5 ton/ha Zeolit + 10 ton/ha bahan organik) 70,27 cd A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha bahan organik) 79,60 a
A5 (20 ton/ha bahan organik) 59,34 f
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama pada setiap efek perlakuan menunjukkan berbeda tidak nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%.
Uji beda rataan jarak Duncan dapat dilihat bahwa pemberian perlakuan A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha bahan organik) berbeda nyata dengan perlakuan A5 (20 ton/ha bahan organik) terhadap bobot kering tajuk tanaman jagung.
Pada Tabel 10 terlihat bahwa bobot kering tajuk pada tanaman jagung meningkat akibat pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik. Bobot kering tajuk terendah terdapat pada perlakuan A5 (20 ton/ha Bahan organik) yaitu sebesar 59,34 gram dan tertinggi yaitu pada perlakuan A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha Bahan organik) yaitu sebesar 79,60 gram, sehingga terjadi pertambahan nilai sebesar 20,26 gram.
Pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik nyata meningkatkan berat kering tajuk pada akhir masa vegetatif. Hal ini berkaitan dengan unsur hara P yang tersedia dan dimanfaatkan oleh tanaman sehingga mempengaruhi berat kering tajuk dan berat kering akar tanaman. Novriani (2010) peran penting fosfat yaitu penyediaan energi dalam proses metabolisme, mempercepat pertumbuhan dengan memperhatikan ratio berat kering tunas atau akar, mempercepat pertumbuhan tunas baru, peningkatan kualitas buah, kualitas biji dan hasil yang tinggi.
Bobot Kering Akar
Data pengukuran bobot kering akar dan hasil sidik ragam tertera pada Lampiran 27 dan 28 serta hasil transformasi akar tertera pada lampiran 29 dan 30 menunjukkan bahwa pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik berpengaruh nyata dalam meningkatkan Bobot Kering Akar.
Rataan pengaruh pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik terhadap Bobot Kering Akar disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11. Nilai rataan bobot kering akar akibat pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik pada akhir masa vegetatif tanaman
Perlakuan Bahan Amandemen Bobot Kering Akar (g)
A0 (Kontrol) 42,82 d
A1 (10 ton/ha Zeolit) 51,17 b
A2 (7,5 ton/ha Zeolit + 5 ton/ha bahan organik) 52,67 b A3 (5 ton/ha Zeolit + 10 ton/ha bahan organik) 44,87 d A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha bahan organik) 57,50 a
A5 (20 ton/ha bahan organik) 34,54 f
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama pada setiap efek perlakuan menunjukkan berbeda tidak nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%.
Uji beda rataan jarak Duncan dapat dilihat bahwa pemberian perlakuan A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha bahan organik) berbeda nyata dengan perlakuan A5 (20 ton/ha bahan organik) terhadap bobot kering akar tanaman jagung.
Pada Tabel 11 terlihat bahwa bobot kering akar pada tanaman jagung meningkat akibat pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik. Bobot kering akar terendah terdapat pada perlakuan A5 (20 ton/ha bahan organik) yaitu sebesar 34,54 gram dan tertinggi yaitu pada perlakuan A4 (2,5 ton/ha Zeolit + 15 ton/ha bahan organik) yaitu sebesar 57,50 gram, sehingga terjadi pertambahan nilai sebesar 22,96 gram.
Pemberian bahan amandemen zeolit dan bahan organik berpengaruh nyata terhadap Bobot Kering Akar. Hal ini sejalan dengan meningkatnya serapan P tanaman. Hara P berfungsi merangsang perkembangan akar. Hal ini sesuai dengan Menurut Winarso (2005) yang menyatakan bahwa fungsi penting fosfor di dalam tanaman yaitu dalam proses fotosintesis, respirasi transfer, dan penyimpanan energi, pembelahan dan pembesaran sel dan membantu mempercepat perkembangan akar dan perkecambahan.