Karakteristik mahasiswa adalah ciri yang melekat pada mahasiswa tersebut.
Karakteristik meliputi jenis kelamin, lama studi, IPK, dan keterlibatan dalam organisasi intra kampus. Data mengenai karakteristik mahasiswa disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Karakteristik Mahasiswa
Jumlah
No. Uraian Jumlah (orang) Persentase (%) 1. Jenis Kelamin
Laki-laki 56 62,22
Perempuan 34 37,78
2. Lama Studi (Semester)
4 34 37,78 6 27 30,00
8 20 22,22
>8 9 10,00 3. IPK
<2 5 5,56
2 – 2,75 47 52,22
>2,75 38 42,22
4. Keterlibatan pada Organisasi Kampus
Ya 60 66,67
Tidak 30 33,33
Jenis Kelamin
Mahasiswa yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah lebih banyak daripada mahasiswa berjenis kelamin perempuan yaitu 56 orang (62,22%) mahasiswa laki-laki dan 34 orang (37,78%) mahasiswa perempuan. Perbandingan jenis kelamin ini didapatkan secara kebetulan dalam proses pengambilan data.
Lama Studi
Lama studi mahasiswa dibagi ke dalam empat kelompok yaitu 4 semester, 6 semenster, 8 semester, dan >8 semester. Mahasiswa dengan lama studi 4 semester berjumlah 34 orang (37,78%). Kelompok ini merupakan kelompok yang paling besar
jika dibandingkan dengan kelompok lainnya. Mahasiswa dengan lama studi 6 semester berjumlah 27 orang (30%). Mahasiswa dengan lama studi 8 semester berjumlah 20 orang (22,22%), dan kelompok yang paling sedikit adalah kelompok mahasiswa dengan lama studi lebih dari 8 semester yaitu 9 orang (10%).
Proporsi responden ini menunjukkan bahwa mahasiswa semester 4 dan 6 lebih mudah dijumpai di lingkungan kampus karena hampir seluruh mahasiswa dari kelompok ini masih mengikuti perkuliahan rutin di kampus. Mahasiswa semester 8 berjumlah lebih sedikit karena banyak dari mereka yang sedang melakukan penelitian atau bahkan sudah menyelesaikan kewajibannya sebagai mahasiswa, sehingga tidak terlalu sering terlihat selama penelitian dilakukan. Mahasiswa dengan lama studi lebih dari 8 semester berjumlah paling sedikit karena lebih dari setengah jumlah mahasiswa dari kelompok ini telah lulus dari Fakultas Peternakan IPB, sehingga jumlahnya pun menjadi sedikit.
Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)
Sebagian besar mahasiswa yaitu sebanyak 47 orang (52,22%) memiliki IPK antara 2 - 2,75. Mahasiswa yang memiliki IPK lebih dari 2,75 berjumlah 38 orang atau sebesar 42,22% dari total sampel, sedangkan mahasiswa yang memiliki IPK di bawah 2 berjumlah 5 orang atau sebesar 5,56% dari jumlah sampel.
Dilihat dari IPK-nya, mahasiswa Fapet IPB dapat dikatakan memiliki kemampuan akademik yang cukup, bahkan sekitar 42,22% memiliki kemampuan akademik yang tinggi. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik rendah. IPK rendah ini diduga disebabkan oleh program studi yang tidak sesuai keinginan mahasiswa yang bersangkutan, atau sebagai akibat dari proses adaptasi mahasiswa terhadap program studinya.
Mahasiswa dengan IPK di atas 2 memiliki jumlah yang sangat dominan, seiring dengan jumlah mahasiswa yang memiliki lama studi enam semester atau lebih. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa tersebut telah beradaptasi dengan baik terhadap program studinya, sehingga IPKnya pun lebih baik.
Keterlibatan dalam Organisasi Intra Kampus
Sebanyak 60 orang mahasiswa mengaku ikut serta atau terlibat dalam organisasi intra kampus. Jumlah itu mencapai 66,67% dari total sampel. Sisanya sebanyak 30 orang (33,33%) mengaku tidak terlibat dalam organisasi intra kampus.
Organisasi-organisasi intra kampus yang dimaksud dalam hal ini meliputi himpunan-himpunan profesi di Fakultas Peternakan, BEM, DPM, DKM Al Hurriyah, Kelompok Pecinta Alam, Kopma. Banyaknya mahasiswa yang terlibat dalam organisasi intra kampus menunjukkan bahwa kebutuhan mahasiswa untuk berorganisasi sangat tinggi. Tergabung dalam organisasi dapat menambah wawasan mahasiswa, memperkuat kemampuan bekerja dalam kelompok, melatih sikap kritis, dan memperluas jaringan serta memperbanyak teman. Bagi yang tidak terlibat dalam organisasi intra kampus, mereka menganggap bahwa mereka tidak memiliki cukup waktu untuk berorganisasi atau sekedar berkegiatan di luar kegiatan akademis, atau mereka merasa tidak tertarik atau tidak cocok dengan organisasi yang ada.
Keterdedahan terhadap Media Massa
Salah satu cara untuk mengetahui keterdedahan mahasiswa terhadap media massa adalah dengan melihat intensitas mereka menggunakan media massa. Media massa yang diamati di sini adalah media massa yang kira-kira memiliki porsi paling besar dalam kehidupan mahasiswa yaitu buku, koran dan tabloid, majalah, radio, televisi, dan internet. Data mengenai intensitas mahasiswa dalam menggunakan seluruh media massa tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Keterdedahan terhadap Media Massa
No. Aspek yang dinilai Intensitas Kategori
1. Intensitas Membaca Buku ½ - 2 jam per hari Sedang 2. Intensitas Membaca Koran < ½ jam per hari Rendah 3. Intensitas Membaca Majalah 0 jam per hari Sangat Rendah 4. Intensitas Mendengarkan Radio < ½ jam per hari Rendah 5. Intensitas Menonton Televisi > 2 jam per hari Tinggi 6. Intensitas Mengakses Internet 1 – 2 jam per hari Sedang
Intensitas Membaca Buku
Intensitas mahasiswa Fapet IPB dalam membaca buku berada pada tingkat sedang. Buku, sebagaimana media cetak lainnya memerlukan kerja otak yang lebih dalam memahami isinya, tidak seperti media audio visual yang lebih mudah dimengerti.
Dari pengamatan yang dilakukan, diketahui bahwa beberapa jenis buku yang paling sering dibaca oleh mahasiswa meliputi buku referensi berupa skripsi, tesis, dan disertasi, buku profesionalyang berisi tentang hal-hal yang terkait dengan bidang studi pembaca tersebut, dan buku khusus yang terdiri dari novel dan komik. Hal ini menggambarkan bahwa sebagian besar mahasiswa membaca buku untuk keperluan akademik (tugas kuliah dan penelitian) serta untuk menambah pengetahuan dan wawasan mereka, namun ada juga mahasiswa yang membaca buku untuk tujuan mengisi waktu senggang mereka atau sebagai sarana hiburan bagi mereka.
Berdasarkan intensitasnya, 18,89% mahasiswa tidak pernah membaca buku, 21,11% membaca buku kurang dari setengah jam dalam sehari, 25,56% membaca buku selama setengah sampai satu jam dalam sehari, 25,56% membaca buku selama satu sampai dua jam dalam sehari, dan 8,89% mahasiswa membaca buku lebih dari dua jam dalam sehari. Gambaran mengenai intensitas membaca buku dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Intensitas Membaca Buku
No. Intensitas Membaca Buku Jumlah (orang) Persentase (%)
1. Tidak Pernah 17 18,89
2. < 1/2 Jam per Hari 19 21,11
3. 1/2 - 1 Jam per Hari 23 25,56
4. 1 - 2 Jam per Hari 23 25,56
5. > 2 Jam per Hari 8 8,89
Intensitas Membaca Koran
Intensitas mahasiswa dalam membaca koran berada pada kategori rendah.
Kemungkinan rendahnya intensitas tersebut diakibatkan oleh biaya yang harus dikeluarkan mahasiswa untuk membeli koran dan tabloid tersebut. Tidak seperti buku yang dapat dibaca di perpustakaan secara gratis, untuk mendapatkan koran,
seorang mahasiswa harus membeli atau meminjamnya dari orang lain. Selain itu, berkembangnya media internet dewasa ini membuat banyak mahasiswa yang beralih ke media massa modern tersebut. Beberapa hasil penelitian dalam dua tahun terakhir ini menunjukkan bahwa mahasiswa lebih sering mengeluarkan uang untuk menyewa internet dibandingkan untuk membeli koran atau tabloid.
Tujuan kebanyakan mahasiswa (67,78%) membaca koran adalah untuk menambah pengetahuan dan wawasan, sedangkan untuk tujuan membaca tabloid, sekitar 40% mahasiswa menjawab untuk mengisi waktu luang. Hal ini sesuai dengan karakteristik media-media tersebut dimana koran lebih bersifat informatif, sedangkan tabloid lebih bersifat menghibur.
Mahasiswa yang membaca koran sebagian besar (60 %) adalah mahasiswa laki-laki. Kebanyakan dari mereka membaca koran di perpustakaan dimana koran dapat dibaca secara gratis oleh para mahasiswa. Rubrik yang paling banyak dibaca adalah rubrik olahraga dan rubrik utama (headline).
Berdasarkan intensitasnya, 36,67% mahasiswa tidak pernah membaca koran atau tabloid, 36,67% membaca koran kurang dari setengah jam dalam sehari, 20%
membaca koran selama setengah sampai satu jam dalam sehari, 5,56% membaca koran selama satu sampai dua jam dalam sehari, dan 1,11% mahasiswa membaca koran lebih dari dua jam dalam sehari. Gambaran mengenai intensitas membaca tabloid dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Intensitas Membaca Koran
No. Intensitas Membaca Koran Jumlah (orang) Persentase (%)
1. Tidak Pernah 33 36,67
2. < 1/2 Jam per Hari 33 36,67
3. 1/2 - 1 Jam per Hari 18 20
4. 1 - 2 Jam per Hari 5 5,56
5. > 2 Jam per Hari 1 1,11
Intensitas Membaca Majalah
Intensitas mahasiswa dalam membaca majalah berada pada kategori sangat rendah. Kategori ini merupakan yang terendah diantara seluruh media massa yang diamati. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti harga majalah yang
relatif tinggi jika dibandingkan dengan anggaran yang dimiliki mahasiswa.
Ketersediaan majalah di perpustakaan tidak cukup untuk meningkatkan intensitas mahasiswa dalam membaca majalah, sebab kebanyakan mahasiswa datang ke perpustakaan untuk membaca literatur untuk keperluan akademis, sebagaimana telah disampaikan pada bagian intensitas membaca buku.
Hampir separuh mahasiswa (40%) mengatakan bahwa tujuan mereka membaca majalah adalah sebagai sarana hiburan, dan 40% mahasiswa mengatakan majalah yang berkaitan dengan hobi mereka adalah majalah yang paling sering dibaca.
Rendahnya intensitas membaca majalah pada mahasiswa juga disebabkan oleh karena mahasiswa cenderung memilih media lain seperti televisi sebagai sarana hiburan mereka. Majalah yang bersifat lebih spesifik juga kemungkinan menjadi penyebab rendahnya intensitas mahasiswa Fapet IPB dalam membaca majalah.
Penelitian menunjukkan bahwa para mahasiswa cenderung menggunakan media massa yang dapat memenuhi berbagai kebutuhannya sekaligus, baik kebutuhan akan pengetahuan, kebutuhan akan hiburan, dan kebutuhan akan prestise. Hal ini menyebabkan media massa yang isinya lebih beragam seperti internet dan televisi menjadi pilihan utama para mahasiswa.
Berdasarkan intensitasnya, 73,33% mahasiswa tidak pernah membaca majalah, 11,11% membaca majalah kurang dari setengah jam dalam sehari, 13,33% membaca majalah selama setengah sampai satu jam dalam sehari, 1,11% membaca majalah selama satu sampai dua jam dalam sehari, dan 1,11% mahasiswa membaca majalah lebih dari dua jam dalam sehari. Gambaran mengenai intensitas membaca majalah dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Intensitas Membaca Majalah
No. Intensitas Membaca Majalah Jumlah (orang) Persentase (%)
1. Tidak Pernah 66 73,33
2. < 1/2 Jam per Hari 10 11,11
3. 1/2 - 1 Jam per Hari 12 13,33
4. 1 - 2 Jam per Hari 1 1,11
5. > 2 Jam per Hari 1 1,11
Intensitas Mendengarkan Radio
Radio merupakan salah satu media massa yang kurang populer di kalangan mahasiswa. Hal ini dapat terlihat dari rataan skor sebesar 1,83. Hal ini berarti intensitas mahasiswa dalam mendengarkan radio berada pada kategori rendah.
Rendahnya intensitas mendengarkan radio pada mahasiswa diakibatkan oleh semakin kuatnya pengaruh media massa lain yang lebih menarik bagi mahasiswa seperti televisi dan internet.
Keterbatasan radio sebagai media audio adalah tidak adanya gambar yang lebih menarik dan persuasif bagi penggunanya, sehingga mengakibatkan meningkatnya intensitas menggunakan media massa lain yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Namun dapat terlihat disini bahwa mahasiswa yang mendengarkan radio masih lebih banyak daripada mahasiswa yang membaca majalah, hal ini dikarenakan banyaknya mahasiswa yang mendengarkan lagu pada radio di saat mereka berada di rumah. Fungsi tersebut masih sangat menonjol, khususnya pada mahasiswa, sebab kebanyakan dari mereka belum mempunyai koneksi internet di tempat tinggalnya.
Berdasarkan intensitasnya, 57,78% mahasiswa tidak pernah mendengarkan radio, 16,67% mendengarkan radio kurang dari setengah jam dalam sehari, 14,44%
mendengarkan radio selama setengah sampai satu jam dalam sehari, 6,67%
mendengarkan radio selama satu sampai dua jam dalam sehari, dan 4,44%
mahasiswa mendengarkan radio lebih dari dua jam dalam sehari. Gambaran mengenai intensitas mendengarkan radio dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Intensitas Mendengarkan Radio
No. Intensitas Mendengarkan Radio Jumlah (orang) Persentase (%)
1. Tidak Pernah 52 57,78
2. < 1/2 Jam per Hari 15 16,67
3. 1/2 - 1 Jam per Hari 13 14,44
4. 1 - 2 Jam per Hari 6 6,67
5. > 2 Jam per Hari 4 4,44
Intensitas Menonton Televisi
Di antara semua media massa yang ada, televisi merupakan media massa yang paling sering digunakan oleh mahasiswa. Rataan skor intensitas menonton televisi adalah 3,85 yang berarti bahwa mahasiswa sering menonton televisi. Tingginya intensitas mahasiswa dalam menonton televisi membuktikan bahwa televisi mudah dijangkau, murah, dan menarik. Hampir di setiap tempat tinggalnya, mahasiswa memiliki akses terhadap televisi, dan mereka tidak harus ’membayar’ untuk dapat menonton televisi. Selain itu acara-acara televisi yang beragam terbukti dapat menjangkau mahasiswa dengan segala macam perbedaannya. Televisi juga dapat membuat berbagai tujuan mahasiswa menggunakan media massa dapat terpenuhi dalam satu media massa yang sama.
Sebagian besar mahasiswa menonton televisi untuk tujuan menambah pengetahuan dan wawasan (33,33%) dan sebagai sarana hiburan (32,22%). Angka ini menunjukkan bahwa tujuan mahasiswa menggunakan media televisi adalah untuk menambah pengetahuan serta wawasan mahasiswa sekaligus sebagai sarana hiburan.
Hal ini semakin ditegaskan dengan apa yang ditonton oleh mahasiswa di televisi, yaitu 40% mahasiswa mengaku menonton berita sebagai porsi terbesar mereka, 35,56% mengaku menonton acara reality show sebagai porsi terbesar mereka, 10%
lebih menyukai sinetron dan 10% lebih menyukai acara musik dan hiburan lainnya.
Berdasarkan intensitasnya, 6,67% mahasiswa tidak pernah menonton televisi, 8,89% menonton televisi kurang dari setengah jam dalam sehari, 22,22% menonton televisi selama setengah sampai satu jam dalam sehari, 16,67% menonton televisi selama satu sampai dua jam dalam sehari, dan 45,56% mahasiswa menonton televisi lebih dari dua jam dalam sehari. Gambaran mengenai intensitas menonton televisi dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Intensitas Menonton Televisi
No. Intensitas Menonton Televisi Jumlah (orang) Persentase (%)
1. Tidak Pernah 6 6,67
2. < 1/2 Jam per Hari 8 8,89
3. 1/2 - 1 Jam per Hari 20 22,22
4. 1 - 2 Jam per Hari 15 16,67
5. > 2 Jam per Hari 41 45,56
Intensitas Mengakses Internet
Internet sebagai media massa yang paling modern telah mendapat tempat di kalangan mahasiswa. Rataan skornya adalah 3,23 yang berarti intensitas mahasiswa Fapet IPB dalam mengakses internet berada pada kategori sedang, skor ini hanya dapat dikalahkan oleh media televisi.
Bagi mahasiswa yang sering mengakses internet, internet adalah media massa dimana mereka dapat menambah wawasan dan pengetahuan sekaligus sebagai sarana hiburan. Beragamnya informasi dan hiburan yang ada di internet membuat mereka sering mengakses internet, selain itu terjangkaunya biaya untuk mengakses internet juga menjadi penyebab tingginya penggunaan internet oleh mahasiswa. Membuka email dan situs pertemanan sudah menjadi kebutuhan sehari-hari bagi mereka, namun tujuan yang paling banyak dikemukakan mahasiswa saat mengakses internet adalah untuk kebutuhan akademik seperti mengerjakan tugas kuliah dan penelitian.
Mahasiswa yang mengakses internet untuk tujuan tersebut mencapai 36,67%.
Di balik tingginya intensitas mahasiswa dalam mengakses internet, ternyata masih banyak pula yang belum mengakses internet. Ini menunjukkan bahwa melakukan perubahan pada kebiasaan manusia tidak mudah. Kelompok ini lebih sering menggunakan media massa ’tradisional’ seperti buku dan surat kabar untuk kebutuhan akademik mereka, sedangkan untuk sarana hiburan, mereka lebih memilih televisi dan radio. Biasanya kelompok ini tidak melihat internet sebagai suatu kebutuhan sama sekali.
Berdasarkan intensitasnya, 21,11% mahasiswa tidak pernah mengakses internet, 6,67% mengakses internet kurang dari setengah jam dalam sehari, 18,89%
mengakses internet selama setengah sampai satu jam dalam sehari, 34,44%
mengakses internet selama satu sampai dua jam dalam sehari, dan 18,89%
mahasiswa mengakses internet lebih dari dua jam dalam sehari. Gambaran mengenai intensitas mengakses internet dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Intensitas Mengakses Internet
Keterdedahan terhadap Pesan Flu Burung pada Media Massa
Keterdedahan terhadap pesan flu burung pada media massa dapat dilihat dari intensitas mahasiswa dalam membaca, mendengar, menonton, serta mengakses pesan flu burung yang ada pada media massa. Pada umumnya tingkat keterdedahan mahasiswa terhadap pesan flu burung pada media massa masih rendah. Kebanyakan pesan flu burung yang mereka dapat dari media massa adalah iklan layanan masyarakat serta kegiatan atau program pemerintah mengenai flu burung (51,11%), dan 28,89% merupakan berita tentang kasus flu burung yang terjadi di Indonesia.
Data mengenai keterdedahan mahasiswa terhadap pesan flu burung di media massa dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Keterdedahan terhadap Pesan Flu Burung pada Media Massa No. Aspek yang dinilai Rataan Skor Kategori
4. Intensitas Mendengarkan Pesan 1,27 Sangat Rendah Flu Burung pada Radio
5. Intensitas Menonton Pesan 2 Rendah Flu Burung pada Televisi
6. Intensitas Mengakses Pesan 1,42 Sangat Rendah Flu Burung pada Internet
Sebanyak 42,22% mahasiswa mengaku mengakses pesan flu burung di media massa untuk menambah pengetahuan dan wawasan mereka, 31,11% mengaku
mengakses secara tidak sengaja, 11,11% mengaku untuk keperluan akademik, dan hanya 14,44% yang mengaku tertarik dengan masalah flu burung.
Intensitas Membaca Pesan Flu Burung pada Buku
Rataan skor intensitas membaca pesan flu burung pada buku adalah sebesar 1,33. Artinya dapat dikatakan bahwa mahasiswa hampir tidak pernah membaca pesan flu burung pada buku. Rendahnya skor membaca pesan flu burung pada buku disebabkan oleh sedikitnya pesan mengenai flu burung pada buku yang ada di lingkungan kampus. Hanya sedikit pesan flu burung yang ada pada literatur di perpustakaan yang meliputi hasil penelitian berupa skripsi, tesis, dan disertasi. Buku yang banyak berisi tentang pesan flu burung kebanyakan adalah buku-buku baru keluaran tahun 2000an dan bisa didapatkan di toko buku, namun minat mahasiswa untuk membeli buku ilmiah populer semacam itu masih sangat terbatas selain karena tingginya harga buku menurut mahasiswa, mahasiswa juga lebih memilih membeli buku yang sifatnya menghibur seperti komik atau novel.
Tabel 11. Intensitas Membaca Pesan Flu Burung Pada Buku
No. Intensitas Membaca Pesan Jumlah (orang) Persentase (%) Flu Burung pada Buku
1. Tidak Pernah 74 82,22
2. < 1 Menit per Hari 9 10
3. 1- 5 Menit per Hari 3 3,33
4. 5 - 10 Menit per Hari 1 1,11
5. > 10 Menit per Hari 3 3,33
Intensitas Membaca Pesan Flu Burung pada Koran dan Tabloid
Secara keseluruhan, rataan skor intensitas mahasiswa dalam membaca pesan flu burung pada koran dan tabloid adalah sebesar 1,62. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa masih sangat jarang membaca pesan flu burung pada koran dan tabloid.
Sebagaimana pada buku, jumlah mahasiswa yang tidak membaca pesan flu burung pada koran dan tabloid juga memiliki persentase yang paling tinggi. Secara persentase, mahasiswa lebih banyak membaca pesan flu burung pada koran dan tabloid dibandingkan membacanya pada buku. Hal ini sangat wajar mengingat lebih banyaknya pesan flu burung pada koran dan tabloid, khususnya pada koran dimana
hampir setiap hari selalu ada pesan flu burung. Lebih tingginya intensitas membaca pesan flu burung pada koran dan tabloid dibandingkan pesan flu burung pada buku membuktikan bahwa pesan yang ada pada koran dan tabloid lebih aktual dibandingkan pesan pada buku.
Tabel 12. Intensitas Membaca Pesan Flu Burung Pada Koran
No. Intensitas Membaca Pesan Jumlah (orang) Persentase (%) Flu Burung pada Koran
1. Tidak Pernah 62 68,89
2. < 1 Menit per Hari 11 12,22
3. 1- 5 Menit per Hari 9 10
4. 5 - 10 Menit per Hari 5 5,56
5. > 10 Menit per Hari 3 3,33
Intensitas Membaca Pesan Flu Burung pada Majalah
Rataan skor intensitas membaca pesan flu burung pada majalah adalah sebesar 1,37. Skor tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa Fapet IPB hampir tidak pernah membaca pesan flu burung pada majalah.
Sedikitnya pesan flu burung pada majalah sangat mempengaruhi rendahnya skor tersebut. Majalah merupakan media massa cetak yang spesifik, sehingga pesan flu burung tidak dapat dijumpai pada semua jenis majalah. Pesan flu burung biasanya dapat ditemui pada majalah-majalah bertema pertanian, namun majalah jenis ini hanya dibaca oleh 10% mahasiswa Fapet IPB. Mahasiswa lebih gemar dan sering membaca majalah yang berkaitan dengan hobi mereka.
Tabel 13. Intensitas Membaca Pesan Flu Burung pada Majalah
No. Intensitas Membaca Pesan Jumlah (orang) Persentase (%) Flu Burung pada Majalah
1. Tidak Pernah 69 76,67
2. < 1 Menit per Hari 13 14,44
3. 1- 5 Menit per Hari 5 5,56
4. 5 - 10 Menit per Hari 2 2,22
5. > 10 Menit per Hari 1 1,11
Intensitas Mendengarkan Pesan Flu Burung pada Radio
Diantara keenam media massa yang diteliti, radio merupakan salah satu media massa yang paling sedikit diakses oleh mahasiswa. Tidak terlepas dari fakta tersebut, intensitas mahasiswa dalam mendengarkan pesan flu burung pun menjadi sangat terbatas. Rataan skor untuk intensitas mahasiswa dalam mendengarkan pesan flu burung pada radio adalah sebesar 1,26 yang berarti bahwa mahasiswa Fapet IPB hampir tidak pernah mendengarkan pesan flu burung di radio.
Rendahnya rataan skor tersebut juga disebabkan oleh minimnya pesan flu burung pada radio. Pesan flu burung yang biasa terdapat pada radio merupakan iklan, berita singkat, dan penyuluhan, yang setiap tayangannya memiliki durasi selama 30 detik sampai dua menit.
Tabel 14. Intensitas Mendengarkan Pesan Flu Burung pada Radio
No. Intensitas Mendengarkan Pesan Jumlah (orang) Persentase (%) Flu Burung pada Radio
1. Tidak Pernah 74 82,22
2. < 1 Menit per Hari 11 12,22
3. 1- 5 Menit per Hari 3 3,33
4. 5 - 10 Menit per Hari 1 1,11
5. > 10 Menit per Hari 1 1,11
Intensitas Menonton Pesan Flu Burung pada Televisi
Televisi merupakan media massa yang paling sering digunakan oleh mahasiswa Fapet IPB. Hal itu mempengaruhi persentase mahasiswa yang menonton pesan flu burung pada televisi. Rataan skor intensitas menonton pesan flu burung pada televisi adalah sebesar 2. Artinya mahasiswa sangat jarang menonton pesan flu burung di televisi. Di antara media massa lainnya, menonton pesan flu burung pada televisi memiliki rataan skor yang paling tinggi. Walaupun rataan skor tersebut masih tergolong rendah, namun persentase ini menunjukkan bahwa seringnya mahasiswa menonton televisi membuat intensitas mereka dalam menyaksikan pesan flu burung di televisi menjadi ikut bertambah.
Banyaknya berita dan iklan mengenai flu burung yang muncul di televisi setiap harinya membuat intensitas mahasiswa yang menonton pesan flu burung di televisi
pun ikut bertambah. Selain faktor banyaknya iklan dan berita mengenai flu burung di televisi, mudahnya akses mahasiswa terhadap televisi juga mempengaruhi tingginya intensitas mahasiswa menonton pesan flu burung di televisi.
Tabel 15. Intensitas Menonton Pesan Flu Burung pada Televisi
No. Intensitas Menonton Pesan Jumlah (orang) Persentase (%) Flu Burung pada Televisi
1. Tidak Pernah 44 48,89
2. < 1 Menit per Hari 13 14,44
2. < 1 Menit per Hari 13 14,44