• Tidak ada hasil yang ditemukan

Responden pada penelitian ini adalah para pengrajin tempe yang ada di Dusun Pedak dan sekitarnya dengan pertimbangan bahwa di daerah tersebut terdapat banyak pengrajin tempe dari yang berproduksi rendah sampai tinggi serta memiliki daerah pemasaran yang cukup bervariasi.

Umur

Pada penelitian ini usia dibedakan menjadi 4 kategori sebagaimana yang dilakukan oleh penelitian terdahulu yaitu usia muda (17-30 tahun), uswia dewasa (31-40 tahun), tua (41-60 tahun) dan lanjut usia (>60 tahun). Dari keseluruhan responden yang dijadikan sampel sebanyak 12.90% pengrajin tempe di Kabupaten Grobogan adalah golongan muda. Para pemuda ini sebagian besar hanya melanjutkan usaha yang telah dijalankan oleh orang tua mereka. Usaha yang telah dilakukan oleh pendahulunya tetap dijalankan karena selain memiliki potensi yang baik membuat tempe juga merupakan sebuah keterampilan yang bisa diwariskan secara turun temurun.

Sebanyak 9.68% pengrajin tempe yang ada di Grobogan didominasi oleh masyarakat dewasa. Para pengrajin yang memiliki usia dewasa sebagian besar adalah mereka yang menjalankan usahanya sebagai sambilan dikarenakan mereka

23 memiliki keterampilan lain dan pekerjaan sampingan lain seperti menggarap sawah, bekerja sebagai buruh bangunan serta bekerja sebagai pedagang.

Usia tua adalah usia mayoritas pengrajin tempe di kabupaten ini yaitu sebanyak 70.97%. Mereka adalah masyarakat yang menjalankan usahanya mulai dari awal pendirian. Sehingga memiliki ikatan batin yang kuat untuk tetap menjalankan usaha tersebut. Hal ini juga disebabkan oleh kemampuan fisik mereka yang masih bugar serta kemampuan mereka yang semakin lihai dalam membuat tempe dengan racikan yang baik.

Kelompok lanjut usia merupakan kelompok pengrajin tempe yang paling kecil atau bisa dikatakan minoritas. Hal ini disebabkan karena sebagian besar dari lansia telah mewariskan usaha yang dirintisnya kepada anak cucunya. Kelompok lansia ini di isi oleh sebanyak 6.45% dari jumlah responden. Distribusi pengrajin tempe berdasarkan umur bisa dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Distribusi pengrajin tempe berdasarkan umur

Kategori Jumlah (orang) Presentase (%)

Muda (17-30 tahun) 4 12.90

Dewasa (31-40 tahun) 3 9.68

Tua (41-60 tahun) 22 70.97

Lanjut Usia (>60 tahun) 2 6.45

Jenis Kelamin

Dewasa ini jenis kelamin memang tidak lagi menentukan kinerja seseorang. Antara laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk sukses sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Termasuk juga dalam menjalankan usaha terlebih pengrajin tempe. Meskipun pengrajin tempe Kabupaten Grobogan didominasi oleh laki yaitu 80.65%, namun umumnya setiap pengrajin laki-laki tersebut juga dibantu oleh istrinya baik dalam produksi maupun pemasaran. Sedangkan 19.35% dari pengrajin tempe Kabupaten Grobogan adalah perempuan. Kegiatan mereka tersebut tidak lain adalah untuk membantu suami mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga sangat jarang usaha mereka dapat berkembang besar. Distribusi pengrajin tempe berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Distribusi pengrajin tempe berdasarkan jenis kelamin

Kategori Jumlah (orang) Presentase (%)

Laki-laki 25 80.65

Perempuan 6 19.35

Tingkat Pendidikan Formal

Pengrajin tempe di Kabupaten Grobogan sebagian besar menyelesaikan pendidikan formalnya sampai SD saja yaitu sebanyak 87.10%. Pengrajin tempe yang menyelesaikan pendidikanya pada tingkat SD adalah mereka yang memiliki usia tua dan lanjut usia. Hal ini disebabkan oleh faktor budaya yang ada di masyarakat ketika itu dimana sekolah masih dianggap sebagai sesuatu yang sangat mewah yang hanya bisa diraih oleh masyarakat kelas atas. Sehingga banyak

24

masyarakat jaman itu yang hanya menyelesaikan pendidikan formalnya di tingkat SD.

Sedangkan 6.45% pengrajin menyelesaikan pendidikan formal pada tingkat SMP dan 6.45 % sisanya menamatkan pendidikan formal pada tingkat SMA. Pengrajin yang menyelesaikan pendidikan sampai SMP dan SMA adlah adalah pengrajin tempe muda yang meneruskan usaha miliki orang tuanya sehingga pengalaman yang dimiliki juga masih belum terlalu lama. Distribusi pengrajin tempe berdasarkan pendidikan formal yang telah ditempuh dapat dilihat pada Tabel 12 berikut.

Tabel 12 Distribusi pengrajin tempe berdasarkan pendidikan formal

Kategori Jumlah (orang) Presentase (%)

SD 27 87.10

SMP 2 6.45

SMA 2 6.45

Lama Menjalankan Usaha

Berdasarkan lamanya menjalankan usaha, pengrajin tempe Kabupaten Grobogan pada penelitian ini dibedakan menjadi 3 kategori yaitu pengusaha pemula (1-11 tahun), sedang (12-20 tahun) dan berpengalaman (>20 tahun). Dari ketiga kategori tersebut sebaran terbesar pengrajin tempe Kabupaten Grobogan adalah pengusaha sedang yaitu sebanyak 51.6 % (Tabel 13). Hal ini karena sebagian dari mereka adalah pengrajin yang menjalankan usaha sejak sebelum terjadi krisis moneter yang menjalankan usaha karena pada saat itu kedelai masih sangat murah sehingga pendapatan mereka dari berjualan tempe cenderung besar.

Tabel 13 Distribusi pengrajin tempe berdasarkan lama melakukan usaha

Kategori jumlah orang %

Pemula (1-11 tahun) 9 29.03

Sedang (12-20 tahun) 16 51.61

Berpengalaman (>20 tahun) 6 19.36

Pengusaha pemula menduduki peringkat kedua yaitu sebanyak 29 % pengrajin, mereka adalah orang-orang yang ikut menjalankan usaha tempe karena mengikuti dari tetangga mereka yang sukses lantaran melakukan usaha tempe. Diantara mereka juga adalah orang-orang muda yang meneruskan usaha milik orang tuanya. Sedangkan pengusaha kategori berpengalaman hanya sebanyak 19.4 % dari total responden yang ada. Mereka inilah orang-orang lanjut usia yang masih bertahan menjalankan usaha membuat tempe yang telah lama ditekuninya. Produksi Per hari

Produksi tempe di Kabupaten Grobogan termasuk beragam dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa rentang produksi antara 10-600 kg/hari. Pengrajin akan mendapatkan keuntungan bersih antara Rp 1.500,- sampai Rp 2.000,- dari satu kg kedelai yang diproduksi menjadi tempe. Jumlah keuntungan bersih akan bergantung pada saipa pelanggan yang membeli tempe tersebut. Jika yang

25 membeli semuanya dari pelanggan maka sudah barang tentu keuntungan bersih akan lebih kecil karena adanya diskon yang harus diberikan. Sedangkan keuntungan akan lebih besar jika yang membeli tempe kebanyak dari para konsumen akhir. Selain itu semakin lama produk tempe semakin murah harga jual yang ditawarkan. Dari rentang data jumlah produksi tersebut kemudian digolongkan menjadi 3 kategori yaitu yang berproduksi kurang dari 71 kg/hari, antara 71-130 kg/hari dan yang berproduksi lebih dari 130 kg/hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 64.52% pengrajin memproduksi tempenya kurang dari 71 kg/hari. Mereka adalah para pengrajin yang memiliki keterbatasan dalam hal permodalan. Selain itu tingginya persaingan juga ikut mempengaruhi jumlah produksi mereka. Sebagian besar mereka menjual tempenya di pinggiran jalan pasar tanpa memiliki lapak yang baik. Sedangkan 16.13% pengrajin memproduksi tempe dengan bahan baku 71-130 kg/hari. Kelompok ini termasuk orang-orang yang memiliki modal cukup, namun sebagian besar dari mereka terpaksa membatasi produksi karena pelanggan yang mereka miliki hanya mampu menghabiskan kedelai dengan jumlah tersebut. Ketika produksi ditambah maka dapat dipastikan hanya akan membuang-buang tenaga dan biaya. Kelompok ketiga adalah yang memproduksi tempe dengan menghabiskan bahan baku lebih 130 kg/hari yaitu sebanyak 19.35%.

Para pengrajin ini adalah orang-orang yang memiliki modal besar dan memiliki pelanggan banyak serta daerah pemasaran yang luas. Para pengrajin tempe tersebut mendapatkan bahan baku dengan cara bekerjasama dengan pemasok dengan sistem pembayaran diakhir. Pemasok awal adalah Primkopti Kabupaten Grobogan, namun pada dewasa ini banyak toko-toko yang menjual kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe. sehingga para pengrajin beralih ke toko-toko yang letaknya lebih dekat dari tempat produksi. Sebaran produksi para pengrajin tempe dapat dilihat pada Tabel 14.

Table 14 Distribusi responden berdasarkan produksi per hari produksi /hari (Kg) Jumlah (orang) Presentase (%)

<71 20 64.52

71-130 5 16.13

>130 6 19.35

Daerah Pemasaran Tempe

Pemasaran merupakan pangkal dari sebuah bisnis, dimana ketika pemasaran berjalan lancar maka lancar pula keberlangsungan proses produksi. Pemasaran yang dilakukan oleh pengrajin tempe Kabupaten Grobogan tidak hanya pada lingkup desa atau kecamatan saja tapi beberapa dari mereka ada yang melakukannya sampai di luar kota/kabupaten. Dari pengrajin tempe yang di survei sebanyak 3.23% melakukan usahanya pada lingkup satu desa, mereka adalah pengrajin kecil yang memasarkan produknya pada warung-warung sekitar desa. Selanjutnya sebanyak 19.25 % memasarkan produknya pada lingkup luar desa tapi masih satu kecamatan. Para pengusaha ini memiliki relasi yang cukup baik dan termasuk orang-orang yang awal dalam menjalankan usaha pembuatan tempe. Sedangkan 61.29% dari para pengrajin tempe Kabupaten Grobogan memasarkan produknya pada lingkup luar kecamatan tempat tinggal namun masih dalam

26

Kabupaten Grobogan. Mereka adalah para pengusaha yang memilki jaringan yang baik. Sehingga mampu mengetahui permintaan potensial yang ada di pasar tersebut.

Terakhir, sebanyak 16.13% memasarkan produk tempenya ke luar kota/kabupaten. Mereka adalah orang-orang yang memiliki semangat tinggi dalam berwirausaha sehingga pasar yang jauh tidak menghalangi keinginan mereka untuk berwirausaha. Dengan semangat yang dimilikinya para pengrajin ini berani membidik pasar yang tidak diminati oleh pengrajin lain. Sehingga kemungkinan untuk menguasainya lebih besar. Sebagian dari mereka ada yang menemukan pasar tersebut dengan mencoba dari pasar satu ke pasar yang lain, sebagian ada juga yang mengikuti jejak saudaranya yang kebetulan telah lebih dahulu memasarkan produk tempenya ke luar kabupaten. Para pengrajin ini berangkat memasarkan produk mulai jam 02.00 pagi agar tidak terlambat dalam memenuhi permintaan pelanggan.

Table 15 Distribusi responden berdasarkan daerah pemasaran

Daerah pemasaran Jumlah (Orang) Presentase %

Dalam satu desa 1 3.23

Luar Desa satu keamatan 6 19.35

Luar kecamatan 19 61.29

Luar kabupaten 5 16.13

Perilaku Wirausaha

Secara umum perilaku yang dimiliki oleh pengrajin tempe Kabupaten Grobogan termasuk kategori tinggi dan sangat tinggi. Ada sebanyak 77.42% pengrajin yang berada dalam kategori tinggi. Sedangkan sisanya sebanyak 22.58 % memiliki perilaku wirausaha yang masuk kategori sangat tinggi. Perilaku wirausaha tersebut merupakan akumulasi dari pengetahuan wirausaha, sikap wirausaha dan keterampilan wirausaha yang dimiliki para pengarajin. Sebagian besar pengrajin memiliki keunggulan pada variabel pengetahuan wirausaha dan keterampilan wirausaha, namun memiliki sikap yang tidak begitu tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum kekurangan yang dimiliki oleh tiap pengrajin dalam variabel perilaku yang satu dapat dipenuhi dari variabel perilaku wirausaha yang lain. Hasil penelitian tentang perilaku wirausaha yang dimiliki oleh pengrajin tempe Kabupaten Grobogan dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16 Distribusi pengrajin tempe berdasarkan perilaku wirausha Kategori Jumlah Persentase (%)

Sangat Rendah (20-75) - 0

Rendah (76-132) - 0

Sedang (133-188) - 0

Tinggi (189-244) 24 77.42

27 Pengetahuan Wirausaha

Meskipun sebagian besar pengrajin menyelesaikan pendidikan formal pada tingkatan SD, pengetahuan wirausaha yang dimiliki oleh pengrajin tempe Kabupaten Grobogan secara umum termasuk ke dalam kategori tinggi dan sangat tinggi. Sebanyak 74.19 % dari mereka memiliki pengetahuan yang sangat tinggi dan 25.81 % memiliki pengetahuan yang tinggi (Tabel 17). Pengetahuan tersebut mencakup dua aspek yaitu pengetahuan teknis dan pengetahuan menajerial. Pengetahuan teknis yang dimiliki pengrajin sangatlah tinggi karena pengetahuan teknis berkaitan dengan pengalaman usaha yang mereka jalankan yang mana sebagian besar pengrajin telah menjalankan usaha lebih dari 10 tahun . Rata-rata pengetahuan manajerial yang dimiliki para pengrajin tempe juga termasuk dalam kategori sangat tinggi meskipun pengetahuan manajerial memiliki nilai lebih kecil. Pengetahuan manajerial belum terlalu banyak diketahui oleh pengrajin yang menjalankan usaha termasuk kategori pemula. Hal ini dikarenakan ilmu tentang manajemen termasuk ilmu untuk pengusaha modern, sedangkan pengrajin tempe yang berada di Kabupaten Grobogan sebagian besar masih merupakan usaha dengan sekala usaha yang kecil dan masih tradisional. Sehingga mereka hanya mendapatkan pengetahuan tersebut dari pengalaman yang telah dilewatinya. Sikap Wirausaha

Sikap wirausaha yang dimiliki oleh pengrajin tempe di Kabupaten Grobogan sebagian besar masuk dalam kategori tinggi yaitu sebesar 58.06%. Sisanya sebesar 41.94% berada dalam kategori sangat tinggi. Sebagaimana yang telah disampaikan dalam kerangka pemikiran, bahwa indikator sikap yang di ambil dalam penelitian ini meliputi sikap disiplin, komitmen tinggi, jujur, kreatif dan inovatif, mandiri dan realistis.

Dari masing-masing sikap tersebut dapat dijelaskan bahwa rata-rata sikap disiplin dan komitmen pengrajin tempe termasuk dalam kategori sangat tinggi. Sikap disiplin terbentuk dengan kuat karena sikap ini merupakan sikap dasar bagi seorang pengrajin tempe. Dengan sikap isiplin tersebut pengrajin dapat memproduksi tempe secara teratur, kemudian memasarkannya dengan tepat waktu. Sikap komitmen telah ditunjukkan para pengrajin tempe dengan tetap berproduksi meskipun harga kedelai mengalami kenaikan. Hal ini dapat terbangun berdasarkan pengalaman yang mereka dapatkan. Pengalaman menunjukkan bahwa usaha tempe mampu menaikkan ekonomi mereka dari pada menjadi petani saja. Bahkan dapat dibedakan antara rumah pengrajin tempe dan rumah petani biasa, dimana rumah petani tempe sebagian besar lebih baik dari pada yang hanya mengandalkan dari pertanian saja.

Sedangkan rata-rata sikap jujur, kreatif dan inovatif, mandiri dan realistis pengrajin termasuk dalam kategori tinggi. Secara umum sikap pengrajin tempe di Kabupaten Grobogan adalah pengrajin yang memiliki sikap wirausaha yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya yaitu budaya. Faktor budaya berpengaruh karena sebagian besar masyarakat adalah penduduk yang memiliki budaya disiplin, mandiri dan kejujuran yang dijunjung tinggi. Pengalaman juga berpengaruh karena sebagaimana yang berlaku di tempat pengambilan sampel bahwa pengrajin yang tidak tepat waktu dalam membuat tempe nantinya akan mempengaruhi hasil yang didapat bahkan akan menghambat

28

penjualan. Dimana pedagang yang telat dalam memasarkan tempenya akan ditinggalkan oleh pelanggan mereka.

Keterampilan Wirausaha

Keterampilan usaha yang dimiliki oleh pengrajin tempe Kabupaten Grobogan hanya mengarah pada dua kategori yaitu sedang dan tinggi. Hal ini dikarenakan pengrajin tempe ini belum memiliki keahlian-keahlian yang dimiliki oleh pegusaha modern. Sebanyak 58.06% dari mereka termasuk dalam kategori sedang, dan sisanya sebanyak 41.94% berada dalam kategori yang tinggi. Keterampilan yang diukur dalam penelitian ini meliputi tiga hal pokok yaitu keterampilan produksi, memasarkan produk, dan mengatur keuangan. Dari ketiga hal pokok tersebut pengrajin yang memiliki keterampilan sedang adalah pengrajin yang masih belum memiliki kesadaran akan pentingnya pencatatan dalam memanajemen keuangan. Dalam hal pemasaran, pengrajin juga terkesan lebih pasrah dengan keadaan tanpa berusaha untuk mempromosikan produk yang dimilikinya. Selain itu hal yang membuat pengrajin memiliki keterampilan usaha dalam kategori sedang adalah sebagian besar pengrajin merasa puas dengan keahlian yang dimilikinya. Pengrajin tidak berani melakukan inovasi yang lebih serius baik terkait bahan baku alternatif, cara produksi yang lebih baik ataupun produk olahan yang bisa dikembangkan.

Tabel 17 Distribusi pengrajin berdasarkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan wirausaha

Unsur Perilaku

Wirausaha Kategori Jumlah (orang) Presentase (%)

Pengetahuan Sangat Rendah (0-20) -

Rendah (21-40) -

Sedang (41-60) -

Tinggi (61-80) 8 25.81

Sangat Tinggi (81-100) 23 74.19

Sikap Sangat Rendah (0-20) -

Rendah (21-40) -

Sedang (41-60) -

Tinggi (61-80) 18 58.06

Sangat Tinggi (81-100) 13 41.94

Keterampilan Sangat Rendah (0-20) -

Rendah (21-40) - Sedang (41-60) 18 58.06 Tinggi (61-80) 13 41.94 Sangat Tinggi (81-100) - Kinerja Usaha Pertumbuhan Usaha

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan usaha yang telah diraih oleh pengrajin tempe di Kabupaten Grobogan dapat dikategorikan dalam tiga

29 kelompok, yaitu rendah, sedang dan tinggi (Tabel 18). Sebanyak 29.03 % pengrajin tempe tersebut memiliki kinerja usaha yang rendah. Kelompok ini adalah pengrajin yang tidak mampu memperluas area penjualannya dan tidak bisa meningkatkan pendapatannya. Mereka hanya memiliki kekuatan dari segi loyalitas pelanggan. Loyalitas pelanggan tersebut dapat dipertahankan dengan cara memberikan hadiah atau bonus kepada pelanggan yang setia setiap hari raya idul fitri. Melalui cara tersebut pelanggan tidak akan meninggalkan pengrajin kecuali dalam keadaan yang mendesak.

Sebanyak 48.39% para pengrajin tempe yang berada di Kabupaten Grobogan memiliki tingkat pertumbuhan usaha kategori sedang. Kelompok ini terdiri dari para pengrajin tempe yang memiliki loyalitas pelanggan yang tinggi serta memiliki peningkatan jumlah pelanggan. Namun pengrajin kelompok ini tidak mampu memperluas daerah pemasaran sehingga memiliki kenaikan pendapatan dan keuntungan yang kurang signifikan.

Sedangkan kelompok ketiga adalah kelompok pengrajin tempe yang memiliki pertumbuhan usaha dalam kategori tinggi. Pengrajin ini selain memiliki loyalitas pelanggan yang tinggi dan peningkatan jumlah pelanggan dalam kurun waktu satu tahun ke belakang. Mereka juga mampu memperluas daerah pemasarannya bahkan permintaan sampai ke luar kota/kabupaten. Pengrajin di Kabupaten Grobogan yang termasuk dalam kategori ini cukup banyak yaitu sebanyak 22.58%.

Table 18 Distribusi pengrajin tempe berdasarkan tingkat pertumbuhan usaha

Kategori Jumlah (orang) Presentase (%)

Rendah (< 69) 9 29.03

Sedang (69-81) 15 48.39

Tinggi (> 81) 7 22.58

Penerimaan Usaha

Penerimaan usaha merupakan salah satu tolok ukur yang digunakan dalam menganalisis kinerja usaha pengrajin tempe di Kabupaten Grobogan. hal ini dikarenakan sebagian besar pengrajin tempe memiliki penerimaan yang lebih besar dibandingkan dengan masyarakat yang menekuni pada sector pertanian primer yang banyak dijadikan sebagai mata pencaharian masyarakat Grobogan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerimaan usaha yang dimiliki oleh pengrajin tempe Kabupaten Grobogan sebagian besar dalam kategori rendah yaitu sebanyak 62.52% dari total responden. Kategori rendah ini memiliki penerimaan dari usaha tempe kurang dari Rp 27 000 000,- per bulan. Sebanyak 16.13% berada dalam kategori sedang. Para pengrajin ini memiliki penerimaan dari hasil usaha tempenya sebesar Rp 27 500 000 ,-– 51 250 000,- per bulan. Sisanya, sebanyak 19.35% pengrajin tempe memiliki penerimaan dari hasil usaha tempenya yang digolongkan dalam kategori tinggi yaitu lebih dari Rp 51 250 000,- per bulan.

Penerimaan tersebut cenderung lebih besar disbanding penerimaan dari hasil pertanian primer. Itupun harus memiliki lahan untuk digarap setiap hari. Biasanya para pengrajin tempe mengalokasikan penerimaan usahanya untuk mebayar hutang dari toko kedelai. Toko tersebut biasanya telah bekerjasama denga

30

pengrajin untuk memasok kedelai dan dibayar setelah kedelai tersebut habis terjual.

Tabel 19 Distribusi pengrajin tempe berdasarkan penerimaan usaha per bulan Kategori jumlah (orang) presentase (%) rendah (<27 000 000) 20 64.52 sedang (27 500 000 – 51 250 000) 5 16.13 tinggi (>51 250 000) 6 19.35

Hubungan Perilaku Wirausaha terhadap Kinerja Usaha

Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa pengetahuan wirausaha, sikap wirausaha, keterampilan wirausaha berkorelasi signifikan terhadap kinerja usaha. Baik dari aspek pertumbuhan usaha maupun dari aspek penerimaan usaha. Koefisien korelasi dari setiap variabel terhadap pertumbuhan usaha yaitu 0.453, 0.658, dan 0.590, artinya ketika pengetahuan wirausaha, sikap wirausaha, dan keterampilan wirausaha meningkat maka kinerja usaha akan meningkat. Begitu juga dengan hubungan perilaku wirausaha terhadap penerimaan usaha, hasil korelasi menunjukkan hasil yang signifikan dengan koefisien korelasi dari pengetahuan sebesar 0.449, sikap terhadap penerimaan sebesar 0.526, dan keterampilan terhadap penerimaan sebesar 0.528 (Tabel 20).

Pengetahuan usaha memiliki koefisien korelasi sebesar 0.453 terhadap pertumbuhan usaha dan 0.449 terhadap penerimaaan usaha. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan memiliki hubungan yang kuat dalam kaitannya dengan kinerja usaha. Pengetahuan merupakan modal awal yang harus dimiliki oleh pengrajin ketika akan menjalankan usahanya. Sangat kecil kemungkinannya ketika pengrajin menjalankan usahanya tanpa memiliki pengetahuan yang memadai.

Sikap wirausaha juga memiliki koefisien korelasi yang tinggi yaitu 0.658 terhadap pertumbuhan usaha dan 0.526 terhadap penerimaan usaha. angka ini lebih tinggi dibanding koefisien korelasi pengetahuan bahkan keterampilan. Sikap memiliki hubungan yang kuat karena dengan sikap tersebut pengrajin akan mampu membawa arah dan tujuan keberlangsungan usahanya. Melalui sikap yang baik tentunya akan memungkinkan pengrajin tempe untuk menjadi pengrajin tempe yang besar bahkan memiliki ciri khas dibanding pengrajin tempe yang lain. Keterampilan wirausaha memiliki koefisien korelasi sebesar 0.590 terhadap pertumbuhan usaha dan 0.528 terhadap penerimaan usaha. Angka tersebut lebih tinggi dibanding koefisien pengetahuan. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan memiliki hubungan yang lebih erat dibanding pengetahuan wirausaha. Dengan keterampilan usaha pengrajin tempe akan mampu mengimbangi bahkan menyaingi pengrajin tempe yang ada. Sedangkan pengetahuan hanya sekedar pengetahuan saja yang tidak akan memiliki arti jika pengrajin tempe tidak memiliki keterampilan usaha yang baik.

31 Tabel 20 Hasil uji korelasi perilaku wirausaha terhadap kinerja usaha

Pertumbuhan usaha Penerimaan usaha Variabel perilaku Pearson

Correlation Sig. (2-tailed)

Pearson Correlation Sig. (2-tailed) 1. Pengetahuan 0.453* 0.011 0.449* 0.011 a. peng.teknis 0.327 0.072 0.301 0.099 b. peng.manajerial 0.431* 0.016 0.442* 0.013 2. Sikap 0.658** 0.000 0.526** 0.002 a. Disiplin 0.323 0.076 0.329 0.07 b. Komitmen 0.467** 0.008 0.427* 0.017 c. Jujur 0.554** 0.001 0.366* 0.043 d. Kreatif 0.551** 0.003 0.383* 0.033 e. Mandiri 0.554** 0.001 0.259 0.159 f. Realistis 0.486** 0.006 0.488** 0.005 3. Keterampilan 0.590** 0.000 0.528** 0.002 a. ket.produksi 0.109 0.559 -0.096 0.608 b. ket.pemasaran 0.572** 0.001 0.580** 0.001 c. ket.keuangan 0.568** 0.001 0.545** 0.002

**Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). * Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Hubungan Pengetahuan terhadap Kinerja Usaha

Pengetahuan merupakan sebuah modal awal bagi seorang wirausaha untuk menjalankan usahanya. Melalui pengetahuan yang dimiliki pengusaha akan lebih percaya diri dalam bertindak. Namun ketika dihubungkan dengan kinerja usaha maka pengetahuan saja tanpa diikuti dengan sikap dan keterampilan untuk menjalankannya tidak akan memberikan pengaruh yang signifikan. Pada penelitian ini pengetahuan wirausaha dibagi menjadi dua kategori yaitu pengetahuan teknis terkait cara berproduksi serta pengetahuan manajerial terkait pengelolaan dan kewirausahaan. Pada Tabel 20 dapat dilihat bahwa pengetahuan teknis memiliki koefisien korelasi 0.327 terhadap pertumbuhan usaha dan memiliki koefisien korelasi sebesar 0.301 terhadap penerimaan usaha. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan yang terjadi antara variabel tersebut ternasuk dalam kategori lemah. Sedangkan pengetahuan manajerial memiliki hubungan yang kuat terhadap pertumbuhan usaha dengan koefisien korelasi sebesar 0.431.

Pengetahuan teknis memiliki hubungan yang lemah terhadap kinerja usaha dikarenakan pengetahuan dalam memproduksi tempe telah diketahui oleh masyarakat secara luas, bahkan mereka yang tidak berprofesi sebagai pengrajin tempe. Pengetahuan ini merupakan pengetahuan dasar untuk mendirikan usaha. Sehingga masih dibutuhkan pengetahuan yang lain dalam menentukan kinerja usaha. Pengetahuan teknis dalam memproduksi serta memasarkan produk yang baik akan menjadikan pengrajin lebih terampil dalam memproduksi tempe serta memasarkannya. Sebagaimana yang terjadi pada pasara persaingan sempurna bahwa konsumen akan sangat mudah berpindah ke produsen lain jika mendapatkan harga yang lebih murah dan kualitas yang lebih baik. Maka dengan

32

pengetahuan teknis tersebut akan menjadikan produsen lebih bisa menjadikan berhasil dari segi peningkatan jumlah pelanggan.

Dokumen terkait