PEMAKALAH SEMINAR
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Peserta
Karakteristik adalah ciri-ciri atau sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang yang ditampilkan melalui pola pikir, pola sikap, dan pola tindakan terhadap lingkungannya (Mislini, 2006). Setiap orang mempunyai pandangan, tujuan, kebutuhan, dan kemampuan yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini akan terbawa dalam dunia kerja yang akan menyebabkan kepuasan satu orang dengan yang lain berbeda pula, meskipun bekerja di tempat yang sama. Karakteristik individu adalah ciri khas yang menunjukkan perbedaan seseorang tentang kemampuan untuk menghadapi atau memecahkan suatu masalah. Dari perbedaan-perbedaan karakteristik individu menerangkan mengapa kinerja individu yang satu berbeda dengan yang lain (Rahman, 2013; Tomatala, 2004). Karakteristik peternak anggota kelompok ternak Cipeusing Mandiri sebagian besar berada pada tingkat usia produktif dengan tingkat pengalaman beternak yang beragam, seperti dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik Peserta Pelatihan Kesehatan Ternak di Kelompok Cipeusing Mandiri
Karakteristik Jumlah Peserta (orang) Persentase (%) Kelompok umur : > 50 tahun 46-50 tahun 41-45 tahun < 40 tahun 3 4 4 11 13,64 18,18 18,18 50,00 Jumlah 22 100,00 Pendidikan terakhir : Tidak sekolah SD SMP SMA 0 9 2 11 0,00 40,91 9,09 50,00 Jumlah 22 100,00 Pengalaman usahaternak : < 5 tahun 5 -10 tahun > 10 tahun 9 13 0 40,91 59,09 0,00 Jumlah 22 100,00
Sumber: Analisis data primer, 2016
Umur seseorang dapat mencerminkan kemampuan dan kondisi seseorang secara fisik. Tabel 1 menunjukkan bahwa peserta pelatihan didominasi oleh umur produktif yang memiliki kecenderungan lebih mudah dan cepat dalam menerima inovasi.
Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang
Soekartawi (2005) menyatakan bahwa makin muda petani biasanya mempunyai semangat untuk ingin tahu apa yang belum mereka ketahui, sehingga mereka berusaha untuk lebih cepat melakukan adopsi inovasi walaupun biasanya mereka masih belum berpengalaman dalam soal adopsi inovasi tersebut. Berdasarkan cepat lambatnya para petani dalam menerapkan inovasi teknologi melalui penyuluhan, beberapa golongan petani yang terlibat didalamnya dapat dibedakan menjadi pelopor (Innovator) yang umumnya berumur 40 tahun, penerap inovasi teknologi lebih dini (Early Adopter) berkisar antara 25-40 tahun, penerap inovasi teknologi awal (Early Majority) yang memiliki umur > 40 tahun, penerap inovasi teknologi yang lebih akhir (Late Majority) yang umumnya berusia lanjut dan tingkat pendidikan rendah, dan penolak inovasi teknolohi yang pada umumnya berusia lanjut dan tingkat pendidikan sangat rendah (Laggard) (Rogers,1983).
Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui sebagian besar peternak memiliki tingkat pendidikan SMA (50%), hal ini menunjukkan kualitas sumberdaya manusia anggota kelompok Cipeusing Mandiri cukup baik, karena tingkat pendidikan formal merupakan salah satu indikator untuk melihat kualitas sumberdaya petani, makin tinggi tingkat pendidikan formal petani maka semakin mudah untuk menerima dan memahami informasi yang diberikan, rasional dalam berpikir, dan memiliki wawasan yang relatif luas (Nasriati, 2003). Pendidikan yang didapat seseorang akan mengembangkan dan meningkatkan kemampuannya. Seseorang dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi memungkinkan dirinya untuk bekerja lebih produktif dibandingkan dengan yang berpendidikan rendah. Hal ini disebabkan karena tenaga kerja mempunyai pendidikan tinggi akan mempunyai wawasan, pengalaman dan kematangan dalam berfikir dalam bekerja lebih baik (Melati, 2008:40) Menurut Yusuf dalam Suzana (2007:11) tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi seseorang dalam mencapai keberhasilan, maka semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan tinggi pula keberhasilannya dalam menyelesaikan tugasnya. Begitu juga sebaliknya jika semakin rendah tingkat pendidikan seseorang maka akan rendah pula keberhasilannya dalam menyelesaikan tugasnya.
Pengalaman peternak di kelompokternak Cipeusing Mandiri sebagian besar berada pada kisaran 5-10 tahun (59,09%). Umumnya pengalaman beternak diperoleh dari orang tuanya secara turun temurun. Pengalaman beternak yang cukup lama memberikan indikasi bahwa pengetahuan dan keterampilan peternak terhadap manajemen pemeliharaan ternak mempunyai kemampuan yang lebih baik. Pengalaman beternak sangat berpengaruh terhadap keberhasilan usaha. Semakin lama seseorang
Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang
seseorang dalam kurun waktu yang tidak ditentukan. Pengalaman yang menyenangkan dan memuaskan akan berdampak positif untuk melanjutkan mengadopsi suatu inovasi.
Rata-rata Tingkat Pengetahuan dan Peningkatan Tingkat Pengetahuan Peternak Sapi Perah Sebelum dan Sesudah Pelatihan
Hasil analisis deskriptif pada Tabel 2 menggambarkan bahwa rata-rata tingkat pengetahuan peternak dalam pengelolaan kesehatan ternak sapi perah sebelum dilaksanakan pelatihan sebesar 41,36%. Tingkat pengetahuan tersebut ditunjukkan oleh persentase nilai rata-rata peternak yang memberikan jawaban benar terhadap pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner sebelum pelatihan. Rata-rata tingkat pengetahuan peternak sesudah pelatihan sebesar 78,18%, yang berarti terjadi peningkatan pengetahuan peternak sebesar 89,02% sesudah dilaksanakan pelatihan.
Pertanyaan kuesioner yang diajukan kepada peternak sesudah pelatihan merupakan pertanyaan yang sama dengan sebelum pelatihan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan rata-rata tingkat pengetahuan peternak terhadap pengelolaan kesehatan ternak sapi perah melalui kegiatan pelatihan. Pada umumnya dari setiap pertanyaan yang diberikan hampir semua komponen pertanyaan terjadi peningkatan pengetahuan peternak sesudah dilakukannya penyuluhan/pelatihan. Berdasarkan hal tersebut, peternak sapi perah di Kabupaten Bandung Barat memiliki tingkat pemahaman yang relatif cukup baik terhadap teknologi yang diintroduksikan, sehingga dengan sentuhan teknologi yang diberikan pada kelompok tersebut diharapkan kelompok dapat mandiri.
Tabel 2. Rata-rata Tingkat Pengetahuan Peternak Sapi Perah Sebelum dan Sesudah Pelatihan.
No. Uraian Rata-rata tingkat
pengetahuan (%)
Peningkatan Tingkat Pengetahuan (%)
1. Sebelum Pelatihan 41,36 89,02
2. Sesudah Pelatihan 78,18 Sumber: Analisis data primer, 2016
Pengaruh Faktor Umur, Pengalaman Usaha Ternak, dan Pendidikan secara Keseluruhan terhadap Tingkat Pengetahuan Peternak Sapi Perah melalui Pelatihan
Dari hasil regresi pengaruh umur, pengalaman usahaternak, dan pendidikan secara keseluruhan atau bersama-sama terhadap tingkat pengetahuan sebelum pelatihan di Kabupaten Bandung Barat diperoleh signifikansi sebesar 0,013 (Tabel 3). Nilai tersebut menunjukkan bahwa faktor umur, pengalaman, dan pendidikan peternak secara bersama-sama memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengetahuan peternak. Hal tersebut berarti tingkat pengetahuan peternak dalam pengelolaan kesehatan ternak sapi perah sebelum dilaksanakan pelatihan dipengaruhi secara signifikan oleh umur, lamanya pengalaman usahaternak, dan tingkat pendidikan peternak itu sendiri.
Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang
Berbeda dengan nilai signifikansi yang diperoleh sesudah pelatihan yang menunjukkan bahwa faktor umur, pengalaman, dan pendidikan peternak secara keseluruhan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengetahuan peternak dengan signifikansi sebesar 0,664 (Tabel 3). Hal tersebut berarti tingkat pengetahuan peternak dalam pengelolaan kesehatan ternak sapi perah sesudah dilaksanakan pelatihan tidak dipengaruhi secara signifikan oleh umur, lamanya pengalaman usahaternak, dan tingkat pendidikan peternak. Hal ini menggambarkan bahwa besaran umur peternak, sedikit atau lama pengalaman usahaternak, dan rendah atau tinggi tingkat pendidikan peternak tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat pengetahuan atau banyaknya jumlah jawaban benar yang diperoleh peternak pada saat sesudah menerima pelatihan.
Tabel 3. Hasil Analisis Pengaruh Umur, Pengalaman Usahaternak, dan Pendidikan secara Keseluruhan terhadap Tingkat Pengetahuan Peternak Sapi Perah Sebelum dan Sesudah Pelatihan
Model
Sebelum Pelatihan Sesudah Pelatihan
Sum of Squares df Mean Square F Sig. Sum of Squares df Mean Square F Sig. Regression 2059.283 3 686.428 4.753 .013b 550.921 3 183.640 .535 .664b Residual 2599.808 18 144.434 6176.351 18 343.131 Total 4659.091 21 6727.273 21
Pengaruh Faktor Umur, Pengalaman Usahaternak, dan Pendidikan secara Parsial terhadap Peningkatan Pengetahuan Peternak Sapi Perah melalui Pelatihan
Hasil perhitungan statistik diperoleh nilai signifikansi untuk variabel umur pada saat sebelum pelatihan sebesar 0,075; variabel pengalaman usahaternak 0,016; dan variabel pendidikan sebesar 0,743 (Tabel 4). Nilai tersebut menunjukkan bahwa untuk variabel umur dan pendidikan secara parsial tidak memberikan pengaruh yang signifkan terhadap peningkatan pengetahuan peternak sapi perah sebelum pelatihan. Sedangkan untuk variabel pengalaman usahaternak, nilai tersebut menunjukkan bahwa secara parsial pengalaman usahaternak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengetahuan peternak sebelum pelatihan. Hal tersebut berarti tingkat pengetahuan peternak dalam pengelolaan kesehatan ternak sebelum pelatihan dipengaruhi secara signifikan oleh pengalaman usahaternak dimana semakin lama pengalaman usahaternak maka semakin tinggi tingkat pengetahuannya.
Berdasarkan Tabel 4, nilai signifikansi untuk variabel umur, pengalaman usahaternak, dan pendidikan secara parsial sesudah pelatihan masing-masing sebesar
Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang
Tabel 4. Hasil Analisis Pengaruh Umur, Pengalaman Usahaternak, dan Pendidikan secara Parsial terhadap Tingkat Pengetahuan Peternak Sapi Perah Sebelum dan Sesudah Pelatihan
Model
Sebelum Pelatihan Sesudah Pelatihan
B Std.
Error Beta t Sig. B
Std.
Error Beta t Sig. (Constant) 52.676 25.400 2.074 .053 44.333 39.150 1.132 .272 Umur -1.081 .571 -.783 -1.892 .075 .354 .880 .214 .403 .692 Pengalaman 6.282 2.367 .762 2.654 .016 1.372 3.648 .138 .376 .711 Pendidikan 1.535 4.620 .102 .332 .743 5.792 7.121 .320 .813 .427
KESIMPULAN
Pengetahuan peternak sesudah dilaksanakan pelatihan pengelolaan kesehatan ternak mengalami peningkatan sebesar 89,02%. Faktor umur, pengalaman, dan pendidikan peternak secara bersama-sama memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengetahuan peternak sebelum pelatihan. Sedangkan sesudah pelatihan, faktor umur, pengalaman, dan pendidikan peternak secara keseluruhan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengetahuan peternak.
DAFTAR PUSTAKA
Febrina, D dan M. Liana. 2008. Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ruminansia pada peternak rakyat di kecamatan rengat barat kabupaten indragiri hulu. Jurnal peternakan, 5(1) p:28-37.
Mislini. 2006. Analisis Jaringan Komunikasi pada Kelompok Swadaya Masyarakat. Kasus KSM di Desa Taman Sari Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Nasriati. 2003. Pengaruh pendekatan penyuluhan partisipatif terhadap adopsi teknologi budidaya kakao di Kabupaten Lampung Selatan (Tesis) Program Pasca Sarjana. Jurusan Ekonomi Pertanian. Universitas Gajah Mada.
Padmowihardjo,S. 1999. Psikologi Belajar Mengajar. Jakarta Universitas Terbuka. Pangerang. 2014. Evaluasi Tingkat Pengetahuan Pengurus Poktan dan Gapoktan Peserta
Pelatihan Teknis Manajemen Angkatan I Tahun 2014 Sebelum dan Sesudah Diberikan Penyuluhan. Badan Pelaksanana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros.
Rahman, A. 2013. Pengaruh Karakteristik Individu, Motivasi dan Budaya Kerja terhadap Kinerja Pegawai pada Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Donggala. e-Jurnal Katalogis, 1(2) p: 77-86.
Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang
Singarimbun, M. dan Effendi, S. 1989. Metode Penelitian Survey. LP3ES. Jakarta. Soekartawi, 2005. Agribisnis Teori dan Aplikasinya, Raja Grafindo Persada : Jakarta. Sugiyono. 2003. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta.
Suzana, Premwidya. 2007. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pendapatan Petani Padi Sawah di Kecamatan Batang Kapas Pesisir Selatan. Padang: Universitas Negeri Padang.
Tomatala, G. S. J. 2004. Pemanfaatan Media Komunikasi Dan Perilaku Usaha Peternak Sapi Potong. Kasus Kecamatan Sukanagara, Kabupaten Cianjur. [Tesis]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang
Potensi Pakan Ruminansia Dengan Penampilan Produksi Gas Secara In_Vitro Firsoni1* dan Elsa Lisanti2
1 Badan Tenaga Nuklir Nasional 2 Universitas Negeri Jakarta e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Indonesia mempunyai berbagai jenis bahan pakan dengan kualitas berbeda yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan ruminansia. Salah satu cara untuk mengevaluasinya adalah dengan melihat penampilan produksi gas bahan pakan tersebut secara in-vitro. Bahan pakan yang diujikan pada penelitian ini adalah tepung kulit kopi, kulit kacang tanah, rumput lapang, daun turi, jerami padi dan jerami padi fermentasi. Sampel ditimbang 200±5 mg, dimasukkan ke dalam syringe glass 100 ml, ditambahkan media cairan rumen kerbau yang sudah dicampurkan larutan bicarbonat buffer sebanyak 30 ml, selanjutnya diinkubasi di dalam waterbath pada 39oC selama 48 jam. Software Neway dipakai untuk menghitung nilai fitted gas dan rancangan acak kelompok dengan 4 blok untuk menganalisa keragaman. Variabel yang diukur adalah produksi gas 2, 4, 6, 8, 10, 12, 24, 48, 72 dan 96 jam, degradasi bahan organik, potensi produksi (a+b), laju produksi gas (k), amonia (NH3) dan asam lemak terbang (VFA Total). Hasil produksi gas tertinggi setelah 24, 48 dan 72 jam dari perlakuan rumput lapang (C) yaitu 36.33, 51.12 dan 56.29 ml/200 mg BK tapi setelah 96 jam dari jerami padi yaitu 59.60 ml/200 mg BK, sedangkan terendah (24, 48, 72 dan 96 jam) kulit kopi yaitu 6.08, 7.77, 7.61, dan 7.68 ml/200 mg BK. Potensi produksi gas tertinggi dihasilkan jerami padi yaitu 69.13 ml/200 mg BK dan terendah kulit kopi yaitu 7.72 ml/200 mg BK. Persentase produksi gas setelah 24 jam tertinggi dihasilkan daun turi (D) yaitu 91.46% dan terendah jerami padi (E) yaitu 41.22%. Jerami padi potensial diolah lagi untuk mengurangi serat kasarnya, sehingga bisa dijadikan pakan ternak mendekati rumput lapang, sementara itu kulit kopi dan kulit kacang tanah perlu dilakukan kajian lebih lanjut, karena potensi produksi gasnya rendah yaitu 7.72 dan 11.45 ml/200 mg BK.
Kata Kunci: Produksi gas, degradabilitas bahan organik, jerami padi, fermentasi, kualitas
Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang
Kecernaan Nutrien dan Karakteristik Cairan Rumen In vitro dari Kombinasi Titonia (Tithonia diversifolia) dan Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)
Novirman Jamarun*, Elihasridas, Roni Pazla dan Fitriyani
Fakultas Peternakan, Universitas Andalas, Padang e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecernaan nutrien dan karakteristik cairan rumen in vitro dari kombinasi Titonia (Tithonia diversifolia) dan Rumput Gajah (Pennisetum purpureum). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan tiap perlakuan. Kombinasi Titonia (Tithonia diversifolia) dan rumput gajah (Pennisetum purpureum) adalah : T1 = 20% Titonia + 80% Rumput Gajah; T2 = 40% Titonia + 60% Rumput Gajah; T3 = 60% Titonia + 40% Rumput Gajah dan T4 = 80% Titonia + 20% Rumput Gajah. Data dianalisis berdasarkan analisa variasi (Anova) dan perbedaan antar perlakuan diuji menurut DMRT. Peubah yang diukur adalah Kecernaan Bahan Kering (KCBK), Kecernaan Bahan Organik (KCBO), Kecernaan Selulosa, Kecernaan Hemiselulosa, pH, NH3, dan VFA total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KCBK, KCBO, Kecernaan Selulosa, Kecernaan Hemiselulosa, NH3 dan nilai VFA tertinggi (P<0.05) diperoleh pada kombinasi Titonia dan Rumput Gajah pada perlakuan T1, namun tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap nilai pH. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kombinasi Titonia 20 % dan Rumput Gajah 80% memberikan hasil yang terbaik terhadap kecernaan dan karakteristik cairan rumen in vitro.
Keywords: In vitro, Pennisetum purpureum, Tithonia diversifolia
ABSTRACT
The objective of this study was to known the results of in vitro nutrient digestibility and rumen fluid characteristics of the combination Tithonia diversifolia and napier grass (Pennisetum purpureum) . This research was carried out using a randomized block design with 4 treatments (the level combination of Tithonia diversifolia and napier grass) and 4 replications in each treatment. The following treatments were: T1 = 20% Tithonia diversifolia + 80% Napier Grass; T2 = 40% Tithonia diversifolia + 60% Napier Grass; T3 = 60% Tithonia diversifolia + 40% Napier Grass; T4 = 80% Tithonia diversifolia + 20% Napier Grass. The data were subjected to an analysis of variance (Anova), and differences between treatment means were tested using Duncan’s multiple range test (DMRT). The parameters measured were as follows: dry matter digestibility (%), organic matter digestibility (%), cellulose digestibility (%), hemicellulose digestibility (%), pH, total VFA (mM) and NH3
(mg/100 ml). The results revealed that dry matter digestibility, organic matter digestibility, cellulose digestibility, hemicellulose digestibility , total VFA and NH were significantly
Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang
PENDAHULUAN
Faktor yang sangat menentukan keberhasilan dari suatu usaha peternakan adalah tersedianya bahan pakan yang cukup, kontiniu dan memiliki nilai gizi yang tinggi. Tumbuhan Titonia (Tithonia diversifolia) merupakan tanaman semak yang berpotensi untuk dijadikan pakan ternak alternatif. Titonia telah menyebar di Indonesia khususnya di Sumatera Barat yang tumbuh dan banyak dijumpai di pinggir–pinggir jalan maupun di areal persawahan yang dianggap semak, pengganggu dan penghalang pemandangan yang selama ini terbuang dan sebagian ada yang memanfaatkannya sebagai pupuk kompos, pestisida alami, namun belum banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak terutama ternak ruminansia. Titonia yang di budidayakan dapat menghasilkan 30 ton bahan segar atau 6 ton bahan kering pertahunnya dengan luas lahan sekitar 1/5 ha. Jika ditanam sebagai tanaman pagar, titonia dapat menghasilkan 27 kg berat kering perpanen dengan tiga kali panen setahun (Hakim,2001).
Titonia adalah jenis tumbuhan berbunga dengan warna kuning keemasan yang keluar pada akhir musim penghujan yang penampilannya mirip dengan bunga matahari. Selain pertumbuhannya yang cepat juga memiliki kandungan gizi yang baik. Bagian daun dan bunga Titonia memiliki produktivitas yang tinggi dan kandungan nutrisi yang baik. Kandungan gizi tanaman utuh (daun+batang) Titonia yaitu : bahan kering 18.4%, protein kasar 19.4%, lemak kasar 5.8%, serat kasar 19.4% sedangkan bagian daun saja mengandung protein kasar sebanyak 25.9% dan serat kasar 14.5 % (Adrizal dan Montesqrit, 2013). Menurut Fasuyi dan Ibitayo (2010) daun Titonia mengandung asam amino yang cukup lengkap. Titonia (Tithonia diversifolia) mengandung asam amino seperti lisin, arginin, aspartat, glutamat, metionin, sistin, isoleusin, tirosin dan fenilalani dan merupakan kandungan yang tinggi dibandingkan asam amino tanaman lainnya.
Fasuyi et al., (2010) melaporkan bahwa selain dari kandungan nutrisi yang cukup baik, titonia juga mengandung zat antinutrisi seperti asam fitat, tannin, saponin, oksalat, alkaloid dan flavonoid yang menjadi pembatas dalam penggunaannya sebagai pakan ternak. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penambahan titonia kedalam campuran ransum tidak menimbulkan efek negatif terhadap produktifitas dan kecernaan pakan pada ternak ruminansia jika dosis pemberiannya tidak berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan level yang terbaik campuran Titonia dengan rumput gajah berdasarkan kecernaan nutrien dan karakteristik cairan rumen in-vitro.