Karakteristik peternak dilihat berdasarkan umur, pendidikan dan pengalaman beternak. Tabel 1 memperlihatkan karakteristik dari peternak sapi perah dikawasan Lembang.
Umur peternak berkisar dari 24 - 71 tahun, dengan tingkat pendidikan mulai dari SD sampai dengan lulusan perguruan tinggi atau S1. Pengalaman beternak dari 1 tahun sampai dengan 39 tahun. Koresponden yang mempunyai usia produktif kerja sebanyak 86%, (24 - 55 tahun), seperti yang dinyatakan Rasyaf (1995) dalam Nuraeni dan Purwanta (2006) usia produktif kerja berkisar 25 - 55 tahun, umur diatas 55 tahun telah melewati titik optimal dan akan semakin menurun dengan bertambahnya usia.
Pendidikan peternak di dominasi pendidikan SD yaitu sebanyak 64%, SMA 18%, SMP 11% dan S1 7%. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi pola pikir peternak dalam beternak begitu juga pengalaman bertenak, sebanyak 64% peternak telah memiliki pengalaman berternak yang cukup lama berkisar dari 13 tahun sampai 39 tahun.
Tabel 1 Karakteristik peternak sapi perah Lembang
No Uraian orang % Jumlah
1 Umur 24-39 (muda) 15 54 40-55 (sedang) 9 32 56-71 (tua) 4 14 2 Pendidikan SD 18 64 SMP 3 11 SMA 5 18 S1 2 7
3 Pengalaman bertenak (tahun)
1-12 (baru) 10 36
13-26 (berpengalaman) 13 46 27-39 (sangat berpengalaman) 5 18
Jenis Pakan, Kandungan Nutrien, Fermentabilitas, Kecernaan dan Partisi Energi Bahan Pakan
Pakan ternak ruminansia terdiri dari dua kelompok yaitu hijauan dan konsentrat. Hijauan adalah pakan yang berasal dari tanaman dan tumbuhan yang berupa daun, batang dan ranting sedangkan konsentrat terbagi menjadi dua kelompok yaitu konsentrat sumber protein yang memiliki kandungan protein
kasar lebih dari 18% dan konsentrat sumber energi yang memiliki kandungan protein kurang dari 18% dengan TDN 60%.
Jenis bahan pakan yang digunakan peternak terbagi lima kelompok yaitu rumput unggul, rumput lapang, limbah pertanian, bahan konsentrat dan konsentrat (Tabel 2). Rumput unggul yang banyak digunakan peternak yaitu rumput gajah, rumput lapang yang digunakan terdiri dari 11 jenis, limbah pertanian 8 jenis, bahan konsentrat 3 jenis dan konsentrat 2 jenis. Bervariasinya penggunaan bahan pakan yang digunakan disebabkan ketersediaan rumput unggul seperti rumput gajah terbatas sehingga untuk memenuhi kebutuhan bahan pakan terutama hijauan peternak menggunakan hijauan yang ada disekitar peternak. Abdullah (2006) menyatakan hampir 70% hijauan yang digunakan peternak berasal dari rumput lokal.
Tabel 2 Jenis bahan pakan peternakan sapi perah KPSBU Jenis Bahan Pakan
Rumput
Unggul Rumput Lapang Pertanian Limbah Konsentrat Konsentrat Bahan Rumput
Gajah Babadotan (conyzoides) Ageratum Jerami padi Onggok KPS 100 Hanjuang(Cordyline) Daun Jagung Ampas tahu KPS 75 Jukut Pahit/Rumput
Teki (Cyperus
rotundus.L) Daun dan Buah Labu Ampas bir Kekangkungan Daun Pisang
Lameta (Leersia
hexandria) Daun Ubi Lampuyang (Panicum
repens) Kulit Kacang Lamsani (Tricholaena
rosea) Kol Malela (Brachiaria
mutica) Sawi Putih
Inchantus vicinus
Rumput Lapang
Sulanjana
Hijauan utama yang digunakan oleh peternak untuk memenuhi kebutuhan sapi perah berasal dari rumput gajah dan rumput lapang, bila terjadi kekurangan hijauan peternak akan menggunakan limbah pertanian sebagai sumber hijauan. Gambar 1 menunjukkan dari 28 peternak yang disurvey, 26 peternak atau 92.9% menggunakan rumput gajah dan rumput lapang sebagai sumber hijauan sedangkan untuk limbah pertanian 10 peternak atau 35.7%.
(a) (b)
Gambar 1 Hijauan yang digunakan peternak (a), Konsentrat dan Bahan Konsentrat (b)
Konsentrat yang digunakan pada peternakan rakyat sapi perah KPSBU mayoritas adalah konsentrat yang disediakan oleh koperasi KPS 100 dan onggok (100%), ampas tahu, ampas bir dan KPS 75 hanya digunakan oleh sebagian kecil peternak (46.4%, 7.1%3 dan 3.6%). Penggunaan konsentrat yang berasal dari luar koperasi bertujuan untuk meningkatkan asupan nutrien.
Selain jenis bahan pakan, kualitas bahan pakan sangat dipengaruhi oleh kandungan nutrien dari bahan pakan tersebut. Kandungan nutrien bahan pakan sapi perah dapat dilihat pada Tabel 3. Nilai BK bahan pakan berkisar 4.73% - 85.59%, abu 1.57% - 19.22%, LK 0.71% - 10.31%, PK 2.61% - 32.47%, SK 14.54% - 33.99% dan BETA-N 32.50% - 74.80%. Kandungan nutrien bahan pakan sangat bervariasi karena berasal dari bahan yang berbeda.
Kandungan PK tertinggi terdapat pada bahan pakan kol tetapi karena kandungan air kol sangat tinggi (94.90%) sehingga PK yang dapat dimanfatkan oleh ternak menjadi rendah, 1 kg kol yang diberikan ( PK 32.47% BK) mengandung PK yang setara dengan 0.49 kg rumput lapang (PK 17.28% BK). Despal et al (2007) menyatakan kandungan nutrien dari rumput lapang tidak dapat memenuhi kebutuhan sapi perah karena memiliki PK yang kecil (8.69%).
Kandungan nutrien konsentrat dipeternakan sapi perah terutama PK (10.92% dan 13.58%) yang kecil tidak dapat memenuhi kebutuhan sapi perah dan tidak sesuai dengan yang dianjurkan SNI (2009) untuk konsentrat sapi perah minimal kandungan protein kasarnya sebesar 16%. Rendahnya PK yang ada di konsentrat menyebabkan peternak menambahkan bahan konsentrat lain seperti ampas tahu dan ampas bir untuk meningkatkan kualitas pakan.
Serat menjadi salah satu nutrien yang dibutuhkan oleh ruminansia. Nilai SK tertinggi terdapat pada tanaman lameta dan yang terendah bahan pakan ampas bir, tetapi bila dilihat berdasarkan BK yang dimiliki bahan pakan daun jagung memiliki kandungan SK yang tertinggi. Kebutuhan minimum serat kasar dalam ransum sapi perah untuk sapi dara dan sapi jantan dewasa 15%, dari bahan kering, sedangkan untuk sapi betina yang sedang laktasi kadar serat minimum dalam
00 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Rumput
Gajah RumputLapang pertanianLimbah
Peternak (%) 00 20 40 60 80 100 120 KPS
100 KPS75 Onggok AmpasTahu AmpasBir
Pete
rna
k
(%
ransum 17% dari bahan kering. Bila kurang, maka kadar lemak susu yang dihasilkan akan lebih rendah dari normal (Williamson dan Payne 1993).
Tabel 3 Analisis proksimat bahan pakan sapi perah Jenis Pakan BK Total Kandungan Nutrien
(%) Abu (%) (%) LK (%) PK (%) SK BETA_N (%) Hijauan Rumput Gajah 25.61 18.04 2.51 13.78 25.55 40.12 Babadotan (Ageratum conyzoides) 27.20 8.44 2.24 10.96 25.13 53.23 Hanjuang (Cordyline) 14.77 14.27 1.88 21.65 29.71 32.50 Jukut Pahit Rumput Teki
(Cyperus rotundus .L) 13.49 10.54 1.78 10.16 28.20 49.32
Kekangkungan 7.97 12.81 1.74 20.92 22.42 42.11
Lameta (Leersia hexandria) 13.99 9.77 1.69 12.80 33.99 41.76 Lampuyang (Panicum repens) 27.82 8.58 1.52 8.58 28.74 52.59 Lamsani (Tricholaena rosea) 20.49 9.93 2.10 15.20 29.60 43.16 Malela (Brachiaria mutica) 17.95 16.34 1.67 14.35 25.34 42.30
Inchantus vicinus 11.13 17.25 1.63 16.58 22.26 42.28 Rumput Lapang 19.82 11.18 1.70 17.28 21.66 48.17 Sulanjana 19.99 7.62 1.71 10.07 28.62 51.98 Limbah Pertanian Jerami padi 25.73 17.95 1.69 5.09 22.23 53.04 Daun Jagung 23.86 3.02 0.95 5.05 31.39 59.59
Daun dan Buah Labu 9.16 18.10 1.35 18.07 18.10 44.38
Daun Pisang 14.16 12.85 3.44 12.02 26.02 45.67 Daun Ubi 7.85 12.03 1.43 12.06 26.68 47.80 Kol 5.10 7.85 1.85 32.47 15.78 42.05 Kulit Kacang 13.58 6.99 1.73 9.64 27.19 54.45 Sawi Putih 4.73 19.22 1.48 22.68 16.45 40.17 Bahan Konsentrat Onggok 19.88 1.57 0.71 2.61 20.31 74.80 Ampas tahu 7.85 3.79 10.31 24.30 26.19 35.41 Ampas Bir 13.31 4.11 5.98 17.96 14.54 57.41 Konsentrat KPS 100 85.59 10.65 2.87 13.58 15.13 57.77 KPS 75 85.06 13.33 1.12 10.92 19.33 55.31
Ket : BK: bahan kering, LK: lemak kasar, PK: protein kasar, SK: serat kasar, Beta_N: bahan ekstrak tanpa nitrogen
Fermentabiltas dan kecernaan bahan pakan merupakan salah satu tolak ukur kualitas pakan secara biologis. Tabel 4. memperlihatkan hasil fermentabilitas dan kcernaan bahan pakan peternakan sapi perah KPSBU Lembang.
Tabel 4 Fermentabilitas dan persentase kecernaan bahan pakan sapi perah Jenis Pakan
Fermentabilitas dan Kecernaan
VFA (mM) (mM) NH3 KCBK (%) KCBO (%) OMD (%) KCPK (%) Rumput Rumput Gajah 148.36 13.66 40.68 37.15 49.25 68.17 Babadotan (Ageratum conyzoides) 128.61 17.94 43.69 39.06 41.21 69.92 Hanjuang (Cordyline) 131.57 21.03 55.69 48.26 47.17 70.52 Jukut Pahit Rumput Teki
(Cyperus rotundus .L) 139.55 24.27 33.36 29.83 46.34 38.82 Kekangkungan 143.75 17.23 65.31 59.96 57.69 83.38 Lameta (Leersia hexandria) 133.90 24.51 48.93 45.45 55.09 59.55 Lampuyang (Panicum repens) 104.29 7.20 48.18 46.66 38.66 47.10 Lamsani (Tricholaena rosea) 121.78 11.82 45.94 44.96 39.42 67.37 Malela (Brachiaria mutica) 140.09 9.68 52.64 56.55 68.23 63.88
Inchantus vicinus 117.18 25.24 53.06 50.00 40.79 49.76 Rumput Lapang 128.23 23.10 48.95 46.95 40.60 40.38 Sulanjana 135.64 6.66 56.32 54.10 37.74 56.58 Limbah Pertanian Jerami padi 119.25 5.30 27.61 34.51 37.79 41.69 Daun Jagung 130.71 3.14 51.53 50.78 39.33 42.39
Daun dan Buah Labu 140.64 12.11 57.88 51.90 48.73 46.40
Daun Pisang 101.20 4.08 40.81 35.54 37.82 61.25 Daun Ubi 127.72 12.41 61.80 57.52 55.17 49.70 Kol 77.43 Kulit Kacang 149.64 3.20 76.08 74.68 52.22 57.11 Sawi Putih 123.85 15.39 80.64 76.21 58.96 73.73 Bahan Konsentrat Onggok 125.87 2.73 82.46 82.78 70.42 72.08 Ampas tahu 104.99 16.40 86.58 86.77 87.41 71.96 Ampas Bir 104.49 7.07 51.84 50.43 53.91 74.53 Konsentrat KPS 100 131.38 23.38 58.99 59.83 58.23 62.74 KPS 75 132.24 16.36 47.79 50.73 43.64 12.67
Ket : NH3: ammonia, VFA: Volatil fatty acid, KCBK: koefisien cerna bahan kering, KCBO: koefisien cerna bahan organik, OMD: Organic matter digestibility
Volatil fatty acid (VFA) merupakan sumber energi utama bagi ternak ruminansia yang dihasilkan dari proses fermentasi pakan dalam rumen. Produksi VFA dipengaruhi oleh aktifitas bakteri dan jumlah protein pakan. Nilai VFA bahan pakan yang diperoleh pada penelitian ini berkisar 101.20 mM - 149.64 mM. Nilai VFA yang diperoleh sudah dapat memenuhi kebutuhan pertumbuhan
mikroba seperti yang dinyatakan oleh Sutardi (1977) kisaran nilai VFA total untuk mendukung pertumbuhan mikroba berkisar 80-160 mM.
Fermentabilitas bahan organik yang tinggi tidak dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan mikroba bila tidak ada kerangka N dari amonia dan asam amino. NH3 merupakan sumber nitrogen utama dan sangat penting bagi pertumbuhan mikroba rumen dalam mensintesis protein selnya dan merupakan bentuk dari proses degradasi serta sintesis protein (Sutardi 1981, McDonald et al 2002). Nilai NH3 bahan pakan berkisar 2.73 mM - 25.24 mM.
Nilai NH3 yang terendah pada onggok tidak mampu memenuhi kebutuhan mikroba seperti yang dinyatakan McDonald (2002) minimal nilai NH3 pada bahan pakan adalah 4 mM. Nilai NH3 yang rendah pada onggok dapat disebabkan oleh rendahnya PK pada onggok. Bahan pakan yang mempunyai potensi sebagai sumber NH3 yaitu Inchantus vicinus yang mempunyai nilai NH3 paling besar (25 mM).
Kecernaan bahan pakan berfungsi untuk menyediakan nutrien untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksi. Nilai KCBK dan KCBO yang diperoleh pada bahan pakan berkisar 27.61% - 86.58% dan 29.83% - 86.77%. Nilai KCBK dan KCBO dari rumput dan limbah pertanian lebih kecil bila dibandingkan dengan nilai KCBK dan KCBO dari bahan konsentrat. Nilai OMD bahan pakan yang didapat dari estimasi produksi gas berkisar 37.74% - 87.41%. Kecernaan protein berkisar 12.7% - 83.38%, dengan nilai kecernaan terendah pada KPS 75 yaitu 12.67%.
Energi yang dikonsumsi oleh ternak digunakan untuk aktifitas, produksi dan repoduksi. Energi diperoleh dari bahan pakan yang mengandung karbohidrat, lemak dan protein. Hasil partisi energi bahan pakan dapat dilihat pada Tabel 5. Energi untuk kebutuhan sapi perah dilihat dari TDN, EM dan NeL.
Total digestbility nutrien adalah ukuran energi yang biasa digunakan untuk mengetahui jumlah nutrien yang dapat dimanfaatkan oleh ternak. Nilai TDN bahan pakan sapi perah di KPSBU Lembang berkisar 48.88% - 88.75%. Nilai TDN dari hijauan terutama rumput (53.01% - 64.43%) yang digunakan oleh peternak masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan ternak terutama sapi perah laktasi yang membutuhkan TDN dalam ransum minimal 65%. Despal et al
(2007) menyatakan rumput lapang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan sapi perah karena hanya memiliki TDN sebesar 52.4%.
Energi metabolisme adalah energi yang dapat dimanfaatkan oleh ternak untuk hidup pokok, aktivitas, produksi susu, reproduksi dan pertumbuhan (Moran, 2005). Energi metabolisme pada penelitian ini diperoleh dari estimasi produksi gas. Nilai energi metabolisme bahan pakan sapi perah KPSBU Lembang berkisar 3.84 MJ kg-1 BK-1 - 14.66 MJ kg-1 BK-1. Energi metabolis yang paling kecil pada rumput Inchantus vicinus (3.84 MJ Kg-1 BK-1 atau 10.26 Mkal) tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup pokok sapi perah dewasa dengan bobot 400 kg yang berdasarkan NRC (1989) membutuhkan energi metabolis sebesar 12.01 Mkal.
Energi untuk laktasi (NeL) merupakan energi yang dibutuhkan untuk hidup pokok dan produksi susu. NeL untuk sapi perah tergantung pada produksi susu dan kondisi fisiologi ternak. Nilai NeL bahan pakan sapi perah KPSBU Lembang berkisar 1.68 MJ kg-1 - 9.06 MJ kg-1. Rataan nilai NeL pada pakan sapi perah KPSBU Lembang adalah 3.27 MJ kg-1, niali NeL pada pakan yang kecil tidak mampu memenuhi kebutuhan ternak sesuai dengan yang direkomendasikan
NRC (2001) kebutuhan NeL untuk sapi perah awal laktasi yaitu 6.96 MJ kg-1, untuk sapi bunting dan dalam masa kering yaitu 5.21 MJ kg-1, untuk sapi dengan produksi susu 7 sampai 13 kg per hari adalah 5.92 MJ kg-1 dan untuk sapi dengan produksi susu 13 sampai 20 kg per hari yaitu 6.33 MJ kg-1.
Tabel 5 Partisi energi bahan pakan sapi perah
Jenis Pakan TDN Partisi Energi
(%) (MJ kgEM -1 BK-1) (MJ kgNeL -1)
Rumput
Rumput Gajah 57.20 5.45 2.79
Babadotan (Ageratum conyzoides) 59.17 5.26 2.67
Hanjuang (Cordyline) 57.66 4.97 2.48
Jukut Pahit Rumput Teki (Cyperus rotundus .L) 54.13 5.73 3.02
Kekangkungan 64.43 6.73 3.74
Lameta (Leersia hexandria) 53.01 7.00 3.93
Lampuyang (Panicum repens) 53.11 4.75 2.33
Lamsani (Tricholaena rosea) 57.69 4.59 2.20
Malela (Brachiaria mutica) 55.12 8.26 4.83
Inchantus vicinus 58.82 3.84 1.68 Rumput Lapang 62.37 4.43 2.10 Sulanjana 55.47 4.70 2.28 Limbah Pertanian Jerami padi 48.88 3.86 1.68 Daun Jagung 51.34 5.42 2.82
Daun dan Buah Labu 62.43 4.81 2.39
Daun Pisang 60.21 4.60 2.15 Daun Ubi 54.04 6.74 3.75 Kol 63.34 10.22 4.79 Kulit Kacang 56.07 7.01 3.93 Sawi Putih 69.11 6.10 3.30 Bahan Konsentrat Onggok 88.75 10.39 6.37 Ampas tahu 77.49 14.66 9.06 Ampas Bir 77.89 8.47 4.81 Konsentrat KPS 100 69.35 9.17 3.11 KPS 75 54.06 5.82 3.14
Jumlah Pemberian dan Imbangan Pakan Sapi Perah
Pberian pakan pada sapi perah pada umumnya dihitung berdasarkan bobot badan sapi, pemberian pakan secara segar oleh peternak sebesar 68.88 kg e-1 h-1 dengan persentase 15.78% dari bobot badan dan pemberian pakan berdasarkan bahan kering sebesar 19.75 kg e-1 h-1 dengan persentase 4.52% dari bobot badan (Tabel 6). Pemberian pakan yang dilakukan peternak di Lembang berdasarkan bahan kering lebih banyak dari pemberian pakan yang dianjurkan oleh NRC (2001) yaitu pemberian pakan berdasarkan bahan kering sebesar 3 - 4% dari bobot badan.
Tabel 6 Pemberian dan imbangan pakan sapi perah
Peubah Pemberian Pakan Sapi Perah Hijauan Konsentrat Imbangan Hijauan Konsentrat Hijauan Konsentrat
BS kg e-1 h-1 48.11 20.77 69.84 30.16
BK kg e-1 h-1 10.94 8.81 55.41 44.59
% BB dari BS 11.03 4.75
% BB dari BK 2.51 2.01
Ket: BS: Bahan segar, BK: Bahan kering, BB: Bobot badan
Selain jumlah pemberian, imbangan hijauan : konsentrat dalam pakan sangat penting untuk menjaga produksi dan performa sapi. Secara umum pemberian Imbangan hijauan: konsentrat berdasarkan bahan segar yang diberikan oleh peternak 69.84 : 30.16 (Tabel 5) dan berdasarkan bahan kering 55.41 : 44.59 sudah sesuai dengan yang dianjurkan Siregar (1992) imbangan hijauan : konsentrat untuk menghasilkan produksi susu tinggi dan mempertahankan lemak susu adalah 60 : 40.
Kebutuhan nutrien ternak berbeda-beda tergantung spesies, bobot badan dan kondisi fisiologinya. Nutrien yang digunakan untuk menghitung kebutuhan sapi adalah BK, TDN dan PK (NRC 1989). Rataan pemberian nutrien melebihi dari kebutuhan yang dibutuhkan oleh sapi perah, hal ini dilihat dari jumlah pemberian BK dan TDN yang mencapai 200% dan pemberian PK yang mencapai 170% dari kebutuhan ternak (Gambar 2).
Rataan jumlah pemberian BK, TDN dan PK oleh peternak 19.75 kg, 12.69 kg dan 2.15 kg dengan jumlah sapi yang memenuhi kebutuhan BK, TDN dan PK sebanyak 65.38%, 66.35% dan 67.31%. Jumlah pemberian BK, TDN dan PK yang diperoleh pada penelitian ini lebih kecil dibandingkan dengan jumlah pemberian Despal et al (2014) yaitu 24.64 kg, 15.43 kg dan 3.02 kg tetapi masih lebih tinggi dari yang dianjurkan NRC (1989), kebutuhan BK, TDN dan PK sapi perah adalah 9.93 kg, 6.25 kg dan 1.27 kg.
Selisih jumlah pemberian dan kebutuhan berdasarkan NRC diperoleh
nutrien balance dimana terdapat kelebihan nutrien BK, TDN dan PK yang diberikan oleh peternak sebesar 9.83 kg, 6.44 kg dan 0.88 kg. Jumlah pemberian nutrien yang berlebihan oleh peternak akan mengakibatkan meningkatnya biaya pakan dan menghasilkan ekskreta yang lebih banyak yang dapat menyebabkan polusi bagi lingkungan, selain itu kelebihan nutrien juga dapat mengakibatkan toksik dan mengganggu kesehatan ternak.
Gambar 2 Kebutuhan dan jumlah pemberian nutrien sapi perah. NRC (1989), jumlah pemberian (kg), jumlah sapi yang memenuhi kebutuhan (%). BK: Bahan kering, TDN: Total digestibility nutrien, PK: Protein kasar
Fraksi Serat, Kecernaan Serat dan Anti Nutrisi Bahan Pakan
Penggunaan serat untuk mengukur konsumsi dan performa ternak dilakukan karena serat penting bagi ternak terutama untuk ternak ruminansia karena serat merupakan sumber energi bagi mikroba rumen. Jumlah pemberian serat dalam pakan dipengaruhi kondisi fisiologi dan jumlah produksi ternak, tipe serat, ukuran partikel, dan frekuensi konsumsi (NRC 1989). Tabel 7 memperlihatkan hasil analisis fraksi serat pakan sapi perah KPSBU Lembang.
Umumnya serat yang diukur pada pakan sapi perah adalah serat kasar (SK), NDF dan ADF. Penelitian ini menggunakan NDF dan ADF sebagai fraksi serat yang diukur karena NRC (1989) menyatakan NDF dan ADF lebih akurat untuk mengukur komponen serat dari pada SK. Nilai NDF bahan pakan 26.45% - 92.13%, ADF 22.44% - 54.51%, lignin 3.64% - 17.35%, selulosa 15.59% - 41.71% dan hemiselulosa 2.00% - 45.99%. Nilai NDF dari hijauan rumput berkisar 67.77% - 82.84%, nilai NDF yang diperoleh lebih kecil dari yang dinyatakan oleh Mahyudin (2007) nilai NDF rumput tropis berkisar dari 73.1% - 86.3%.Nilai NDF yang tinggi pada daun jagung (92.13%) tidak berarti daun jagung merupakan sumber serat yang baik bila tidak diikuti dengan kecernaan yang tinggi.
Lignin merupakan senyawa fraksi serat yang tidak dapat dicerna oleh ternak dan dapat mengikat selulosa menjadi ligninselulosa yang seharusnya dapat dimanfaatkan oleh ternak jadi tidak dapat termanfaatkan (Jung dan Deetz 1993). Kandungan lignin yang tinggi pada hijauan akan menurunkan kecernaan pakan. Kandungan lignin tertinggi terdapat pada konsentrat KPS (17.35%) dan yang terendah terdapat pada limbah pertanian kol (3.64%). Lignin pada tanaman tergantung pada umur dan lingkungan, makin tua umur tanaman maka kandungan lignin akan semakin tinggi.
0 50 100 150 200 250 BK TDN PK 9.93 19.75 6.25 12.69 1.27 2.15 65.38 66.35 67.31
Tabel 7 Fraksi serat bahan pakan sapi perah
Jenis Pakan NDF Fraksi Serat
(%) ADF (%) Lignin (%) Selulosa (%) Hemiselulosa (%)
Rumput
Rumput Gajah 74.71 45.51 6.06 33.33 29.20
Babadotan (Ageratum
conyzoides) 68.16 54.51 10.52 41.51 13.65 Hanjuang (Cordyline) 66.86 48.70 15.25 33.50 18.16 Jukut Pahit Rumput Teki
(Cyperus rotundus .L) 82.84 49.63 8.25 36.35 33.21
Kekangkungan 64.98 35.79 8.14 27.67 29.19
Lameta (Leersia hexandria) 75.39 44.10 5.62 36.02 31.29 Lampuyang (Panicum
repens) 78.32 47.32 5.65 38.02 31.00 Lamsani (Tricholaena rosea) 78.71 50.90 13.40 34.13 27.82 Malela (Brachiaria mutica) 80.34 48.69 5.33 30.94 31.66
Inchantus vicinus 69.23 52.76 12.97 33.14 16.47 Rumput Lapang 67.77 43.38 9.20 31.44 24.39 Sulanjana 77.27 43.77 4.78 36.97 33.49 Limbah Pertanian Jerami padi 80.63 46.74 5.05 36.69 33.89 Daun Jagung 92.13 46.14 5.89 39.24 45.99
Daun dan Buah Labu 47.42 40.26 11.24 24.88 7.16
Daun Pisang 71.22 48.39 14.39 30.20 22.83 Daun Ubi 56.80 53.95 12.89 40.14 2.86 Kol 30.26 22.44 3.64 19.04 7.82 Kulit Kacang 62.52 47.87 6.11 41.71 14.65 Sawi Putih 26.45 24.45 4.66 19.98 2.00 Bahan Konsentrat Onggok 43.26 27.51 6.84 20.88 15.76 Ampas tahu 64.70 42.19 9.85 32.28 22.51 Ampas Bir 73.60 33.29 6.54 25.23 40.31 Konsentrat KPS 100 56.76 30.25 11.94 15.59 26.51 KPS 75 64.26 41.12 17.35 20.08 23.14
Ket: NDF: Neutral detergent fiber, ADF: Acid detergent fiber
Kecernaan serat menjadi salah satu peubah penting dalam kualitas hijauan karena hijauan yang memiliki kandungan NDF dan ADF yang sama dapat memiliki kecernaan yang berbeda. Kecernaan serat didefiniskan proporsi serat yang dicerna yang tidak dieksresikan di feses (Varga et al 1998). NDF dan ADF adalah salah satu fraksi serat yang diukur untuk mengetahui pengaruh kecernaan serat dan fraksi serat terhadap kecernaan karbohidrat. Kecernaan NDF dan ADF
bahan pakan berkisar 15.39% - 72.52% dan 0.69% - 62.65% (Tabel 8). Kecernaan serat dipengaruhi perbedaan struktur dan komposisi hijauan, umur panen dan ukuran hijauan (Varga et al 1998). Kecernaan ADF yang rendah pada jerami dapat disebabkan oleh kandungan lignin jerami, walaupun kandungan lignin jerami hanya 5% tetapi karena lignin dapat mengikat selulosa sehingga selulosa yang dapat dicerna menjadi tidak dapat dicerna.
Tabel 8 Kecernaan fraksi serat dan anti nutrisi bahan pakan sapi perah Jenis Pakan KCNDF Fraksi Serat dan Anti Nutrisi
(%) KCADF (%) Tanin (%)
Rumput
Rumput Gajah 27.72 8.36 -
Babadotan (Ageratum conyzoides) 23.57 11.78 1.91
Hanjuang (Cordyline) 34.66 30.37 0.35
Jukut Pahit Rumput Teki (Cyperus rotundus .L) 18.65 5.21 -
Kekangkungan 54.55 41.10 0.51
Lameta (Leersia hexandria) 25.88 13.52 -
Lampuyang (Panicum repens) 37.92 30.36 0.66
Lamsani (Tricholaena rosea) 43.56 33.62 1.11
Malela (Brachiaria mutica) 41.34 26.29 0.15
Inchantus vicinus 34.32 30.79 2.03 Rumput Lapang 33.91 14.13 - Sulanjana 33.97 18.50 1.41 Limbah Pertanian Jerami padi 37.56 0.69 - Daun Jagung 42.60 7.51 0.03
Daun dan Buah Labu 18.47 12.59 0.33
Daun Pisang 20.85 8.92 1.69 Daun Ubi 28.85 41.42 - Kol 17.58 33.94 2.43 Kulit Kacang 47.22 57.88 0.17 Sawi Putih 23.43 24.59 1.13 Bahan Konsentrat Onggok 44.86 23.13 - Ampas tahu 72.52 62.65 - Ampas Bir 31.15 16.52 ND Konsentrat KPS 100 15.39 14.67 - KPS 75 28.70 5.82 -
KCNDF : Kecernaan Neutral detergent fiber, KCADF : Kecernaan Acid detergent fiber, - : tidak dianalisa, ND: Non identification
Tanin merupakan hasil metabolisme sekunder dari tanaman yang berfungsi untuk melindungi tanaman dari predator atau hama pengganggu. Tanin banyak terdapat pada tanaman legum dan limbah pertanian (Makkar, 2003). Tanin terbagi menjadi dua kelompok yaitu tanin terhidrolisis dan tanin terkondensasi. Tanin terhidrolisis adalah tanin polimer gallic atau ellagic acid yang berikatan ester dengan sebuah molekul gula, sedangkan tanin terkondensasi merupakan polimer senyawa flavonoid dengan ikatan karbon-karbon. Tanin terhidrolisis dapat menjadi toksin bagi ternak karena dapat diserap dirumen sedangkan tanin terkondensasi tidak dalam diserap dirumen.
Tanin yang berlebihan dalam pakan akan memberi efek negatif pada kondisi sapi karena akan menurunkan konsumsi, menghambat pertumbuhan dan mengurangi kecernaan serat. Hasil analisis kadar tanin yang diperoleh dari beberapa jenis bahan pakan memiliki nilai yang berkisar 0.03% - 2.43 % (Tabel 8) dan tanin dalam pakan sangat kecil yaitu 0.023% BK dan tidak membahayakan bagi kondisi ternak, bahkan akan memberi efek positif karena dapat melindungi protein dari degradasi mikroba rumen sehingga protein tersedia hingga usus halus (Reed, 1995). Kadar tanin terkondensasi dalam pakan yang dapat ditoleransi adalah 2% - 4% (Barry et al 1985 dalam Preston dan Leng 1987).
Jumlah Pemberian Fraksi Serat Sapi Perah
Formulasi pakan sapi perah yang direkomendasikan oleh NRC (2001) berdasarkan kebutuhan serat dan karbohidrat. Tabel 9 menampilkan hasil pemberian serat efektif pada peternakan sapi perah KPSBU Lembang. Total NDF yang diberikan pada sapi sebesar 65.33 % BK dengan NDF yang berasal dari hijauan dan konsentrat 41.12 % BK dan 24.21 % BK.
Tabel 9 Pemberian serat efektif pada peternakan sapi perah lembang Jenis Pakan NDF ADF Lignin Selulosa Hemiselulosa Fraksi Serat Total (kg e-1 h-1) 12.92 7.63 1.66 5.16 5.29 Hijauan (kg e-1 h-1) 8.15 4.98 0.70 3.66 3.17 Konsentrat (kg e-1 h-1) 4.77 2.65 0.96 1.51 2.12 Total (% BK) 65.33 38.57 8.40 26.11 26.75 Hijauan (%BK) 41.12 25.12 3.52 18.47 15.99 Konsentrat (%BK) 24.21 13.45 4.88 7.64 10.76
Ket: NDF: Neutral detergent fiber, ADF: Acid detergent fiber, BK: Bahan kering
Pemberian NDF pada sapi perah di KPSBU Lembang sudah memenuhi standar minimal dari NDF yang disarankan oleh NRC (2001) yaitu sebesar 21%, bahkan pemberian NDF yang diberikan peternak berlebih dari yang dinyatakan oleh Mertens (1985) untuk sapi dengan produksi 16-24 kg (4% FCM) maksimum pemberian NDF dalam pakan sebesar 34-38% karena pemberian NDF yang berlebih dari 38% akan menurunkan produksi susu. Maksimum NDF dan ADF pada pakan berbeda-beda tergantung dari jumlah produksi susu dan jenis hijauan yang diberikan pada ternak.
Pemberian NDF oleh peternak berdasarkan bobot badan yaitu sebesar 2.96%, hal ini melebihi dari yang dianjurkan oleh Merten (1985) yaitu maksimum konsumsi NDF sebesar 1.2 ± 0.1 % BB dengan 70-80 % total NDF berasal dari hijauan. Merten (1997) menyatakan tingginya pemberian serat akan menyebabkan kepadatan energi berkurang dan konsumsi menurun, berkurangnya kepadatan energi dan konsumsi menurun akan menyebabkan produksi susu menurun. Korelasi antara kandungan NDF dan energi ditunjukkan pada Gambar 3.
Gambar 3 menujukkan hubungan yang linear negatif antara kandungan NDF pakan dengan nilai energi metabolisme (EM) dan energi untuk laktasi (NeL) walaupun nilai determinasi (R2) korelasi NDF dengan EM lebih tinggi dari pada nilai determinasi (R2) korelasi NDF dengan NeL. Makin tinggi nilai NDF pakan maka energi metabolisme dan energi untuk laktasi pada pakan akan menurun. Hasil yang sama diperoleh oleh Beauchemin et al (1994) ketika konsentrasi NDF dalam pakan meningkat maka akan menurunkan NeL pakan.
Gambar 3 Korelasi jumlah pemberian NDF dengan energi metabolisme (EM MJ kg-1 BK-1) ( ) dan energi untuk laktasi (NeL MJ kg-1) ( )
Fraksi serat selain NDF yang mempunyai peran penting dalam pakan sapi perah adalah ADF. NRC (1989) menyatakan ADF dalam pakan dapat mencegah menurunnya lemak susu dan minimum ADF dalam pakan yang direkomendasikan yaitu 19% (NRC 2001). Total jumlah pemberian ADF 38.57 % BK dengan 25.12 % BK ADF berasal dari hijauan.
Kandungan total lignin pakan sebesar 8.40%, dengan kandungan lignin yang berasal dari hijauan 3.52% dan konsentrat 4.88%. Kandungan lignin yang tinggi dari konsentrat (11.94% dan 17.35%.) dapat disebabkan kualitas bahan-bahan penyusun konsentrat tidak bagus. Goering dan Van soest (1970) menyatakan ternak dapat mentolerasi kandungan lignin dalam pakan maksimal 7%. y = -0.0479x + 6.4023 R² = 0.2943 y = -0.1814x + 19.059 R² = 0.7859 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 50 60 70 80 Pa rtisi e ne rg i NDF (%)
Performa ternak dilihat dari produksi susu, kualitas susu, bobot badan, dan
Body Condition Score (BCS) (Tabel 10). Rataan produksi susu sapi perah 14.09 l e-1 h-1 dengan produksi tertinggi 26 l e-1 h-1 dan terendah 3.6 l e-1 h-1. Hasil yang berbeda diperoleh oleh despal et al (2013) terutama pada produksi susu dengan rataan produksi susu 16 liter e-1 h-1. Kualitas susu yang diukur adalah lemak susu, laktosa, Solid Non Fat (SNF) dan protein susu. Rataan dari lemak susu, laktosa,