• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden

Dalam dokumen DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA PENYAKIT MEN (Halaman 47-52)

Karakterstik responden berdasarkan Tabel 1 adalah ibu-ibu berusia 27–35 tahun sebanyak 39 orang (42,4%), dengan tingkat pendidikan SMA sebanyak 54 orang (58,7%). Responden dengan pekerjaan ibu rumah tangga sebanyak 57 orang (62,0%) dan mempunyai jumlah anak 2 orang terbanyak sebanyak 49 orang (53,3%).

Pengetahuan Ibu

Pengetahuan ibu berdasarkan Tabel 2 pada kategori kurang sebanyak 7 orang (7,6%), cukup sebanyak 75 orang (81,5%), dan baik sebanyak 10 orang (10,9%). Dari data tersebut pengetahuan ibu masuk dalam kategori pengetahuan cukup yaitu sebanyak 75 (81,5%) disebabkan responden mempunyai tingkat pendidikan SMA sebanyak 54 orang (58,7%).

Tingkat pendidikan formal tidak berhubungan langsung dengan perilaku

Hubungan Antara Pengetahuan Ibu dengan Pemberian Imunisasi Dasar Pada Bayi di Puskesmas Jetis Kota Yogyakarta

kesehatan yang apabila direncanakan dengan baik dapat mengarah dan

mempengaruhi pengetahuan[3].

Pemahaman ibu tentang program imunisasi sangatlah penting. Pemahaman ibu terhadap imunisasi sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan ibu[4]. Pendidikan seseorang merupakan salah satu proses perubahan tingkah laku. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka dalam memilih tempat-tempat

pelayanan kesehatan semakin

diperhitungkan. Pendidikan merupakan bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan individu menuju ke arah perilaku positif yang menentukan individu untuk berperilaku yang lebih baik. Pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan tinggi maka individu akan mendapatkan pengetahuan yang cukup baik[4].

Selain itu pengetahuan juga dipengaruhi oleh usia responden yaitu usia 27-35 sebanyak 39 orang (42,4%), semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan individu akan semakin matang dalam berfikir dan melakukan suatu perbuatan yang baik. Aktivitas ibu yang bekerja akan berpengaruh terhadap waktu yang dimiliki ibu untuk memberikan pelayanan/kasih sayang terhadap anaknya termasuk perhatian ibu pada imunisasi dasar anak tersebut. Tidak terdapat perbedaan pengetahuan tentang imunisasi antara ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja, di mana tingkat pengetahuan tentang imunisasi ini masih sangat kurang. Ibu yang tidak bekerja mempunyai mempunyai sikap dan perilaku tentang imunisasi lebih baik dibanding ibu yang bekerja[4].

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Ibu-Ibu di Puskesmas Jetis Kota Yogyakarta menurut Umur, Pendidikan, Pekerjaan dan Jumlah Anak

Karakteristik responden F % Umur 18 – 26 24 26,1 27 – 35 39 42,4 36 – 44 29 31,5 Pendidikan SD 10 10,9 SMP 22 23,9 SMA 54 58,7 PT 6 6,5 Pekerjaan IRT 57 62,0

Nestaria Katharina Ngete Ginu, Heni Febriani, Yuli Ernawati Swasta 34 37,0 PNS 1 1,1 Jumlah Anak 1 orang 25 27,2 2 orang 49 53,3 3 orang 15 16,3 4 orang 3 3,3

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pengetahuan Ibu di Puskesmas Jetis Kota Yogyakarta

Pengetahuan F % Baik 10 10,9 Cukup 75 81,5 Kurang 7 7,6 Jumlah 92 100,0 Pemberian Imunisasi

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi di Puskesmas Jetis Kota Yogyakarta

Pemberian imunisasi F %

Dilakukan 8 8,7

Tidak dilakukan 84 91,3

Jumlah 92 100,0

Berdasarkan Tabel 3 pemberian imunisasi pada bayi di Puskesmas Jetis Kota Yogyakarta yang dilakukan pemberian imunisasi sebanyak 84 orang (91,3%) dan yang tidak dilakukan pemberian imunisasi sebanyak 8 orang (8,7%). Pemberian imunisasi yang telah dilakukan sebesar 91,3% disebabkan responden sudah menyadari bahwa imunisasi merupakan salah satu program wajib yang sangat penting diberikan kepada bayi untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi. Anak yang telah diimunisasi akan terhindar dari

penyakit infeksi berbahaya, maka mereka memiliki kesempatan beraktivitas, bermain, belajar tanpa terganggu masalah kesehatan. Tujuan dari pemberian vaksin atau imunisasi yaitu untuk mencegah terjadinya penyakit infeksi tertentu dan apabila terjadi penyakit tidak akan terlalu parah dan dapat mencegah gejala yang dapat menimbulkan cacat atau kematian[5].

Teknik atau cara pemberian imunisasi umumnya dilakukan dengan melemahkan virus atau bakteri penyebab penyakit lalu diberikan kepada seseorang

Hubungan Antara Pengetahuan Ibu dengan Pemberian Imunisasi Dasar Pada Bayi di Puskesmas Jetis Kota Yogyakarta

anak dengan cara suntik atau minum atau di telan. Setelah bibit penyakit masuk ke dalam tubuh kita maka tubuh akan terangsang untuk melawan penyakit tersebut dengan membentuk antibodi. Antibodi itu umumnya bisa terus ada di dalam tubuh orang yang telah diimunisasi untuk melawan penyakit yang mencoba menyerang[6]. Macam-macam imunisasi yang wajib diberikan adalah BCG, DPT, polio, hepatitis B dan campak. Penyakit yang diakibatkan tidak dilakukan pemberian imunisasi yaitu penyakit

tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, polio, campak dan hepatitis B. Idealnya bayi harus mendapat imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari Hepatitis B 1kali, BCG 1 kali, DPT 3 kali, polio 4 kali, dan campak 1 kali. Untuk menilai kelengkapan status imunisasi dasar lengkap pada bayi, dapat dilihat dari cakupan imunisasi campak, karena imunisasi campak merupakan imunisasi yang terakhir diberikan pada bayi dengan harapan imunisasi sebelumnya sudah diberikan dengan lengkap.

Hubungan antara Pengetahuan Ibu dengan Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi di Puskesmas Jetis Kota Yogyakarta

Tabel 4. Korelasi Hubungan antara Pengetahuan Ibu dengan Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi di Puskesmas Jetis Kota Yogyakarta

Tingkat pengetahuan ibu Pemberian imunisasi Spearman rho Tingkat pengetahuan ibu Correlation 1,000 0,643*** Coefficient 0,000 Sig (2 tailed) N 92 92 Pemberian imunisasi Correlation 1,000 0,643*** Coefficient 0,000 Sig (2 tailed) N 92 92

Berdasarkan Tabel 4 diketahui nilai

ρvalue sebesar 0,000 dengan taraf signifikan

0,05. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dan pemberian imunisasi dengan nilai r sebesar 0,643 yang menunjukkan ada hubungan yang kuat.

Imunisasi merupakan salah satu cara yang efektif dan efisien dalam mencegah penyakit. Imunisasi pada bayi yang paling berperan penting adalah ibu. Ibu yang biasanya mengambil keputusan dalam pengasuhan terhadap anak. Pengetahuan ibu tentang imunisasi bayi sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan

Nestaria Katharina Ngete Ginu, Heni Febriani, Yuli Ernawati

imunisasi. Pengetahuan ibu dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain sosial ekonomi, budaya, agama, pendidikan dan pengalaman[7].

KESIMPULAN

Tingkat pengetahuan ibu kategori cukup sebanyak 81,5 %, baik sebanyak 10,9 %, dan kurang 7,6%. Pemberian imunisasi yang dilakukan pada bayi sebanyak 91,3 % dan yang tidak dilakukan sebanyak 8,7%. Terdapat hubungan antara pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi dasar pada Bayi di Puskesmas Jetis Kota Yogyakarta dengan kekuatan kuat.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. 2000. Buku Kader Posyandu Usaha Perbaikan Gizi Keluarga. Jakarta: Depkes RI. Kemenkes. 2012. Profil Kesehatan

Indonesia. Tersedia

di.http://www.depkes.go.id/downlo ads

Azwar, A. 2003. Buku KIA Untuk Turunkan Kematian Ibu dan Bayi, http://www.kompas.com/kompas- cetak/0308/08/iptek/481686.htm diakses tanggal 10 Mei 2014.

Muhammad, A. 2002. Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja tentang Imunisasi. Tersedia di http:// library. usu.ac.id./php.op= modload. IDAI. 2008. Pedoman Imunisasi

Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan Anak.

Anonim. 2010. Cara Pemberian Imunisasi. Diakses pada tanggal 28 Mei 2014, dari html.meti- dorenzo.blogspot. com/2010/12. Depkes RI.2009. Buku Kesehatan Ibu dan

Anak dan JICA (Japan

International Coorperation Agency). Jakarta.

JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol 08/No.01/Maret/2015 PERBEDAAN KONSENTRASI PEREKAT ANTARA BRIKET BIOARANG TANDAN

KOSONG SAWIT DENGAN BRIKET BIOARANG TEMPURUNG KELAPA

Dalam dokumen DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA PENYAKIT MEN (Halaman 47-52)