• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden

Jenis Kelamin

Responden yang terlibat dalam pemasaran ayam memiliki jenis kelamin yang berbeda, namun pada setiap lembaga pemasaran didominasi oleh jenis kelamin laki-laki. Seperti yang terlihat pada Tabel 2, jumlah tenaga kerja yang berjenis kelamin perempuan hanya 1 orang yaitu pada pedagang pengecer sedangkan pada pedagang pengumpul dan pedagang pemotong semua responden berjenis kelamin laki-laki. Banyaknya jumlah tenaga kerja laki-laki menunjukan bahwa dalam usaha ini sangat berhubungan dengan aktifitas fisik yang sangat menguras tenaga.

Jenis Kelamin Pengumpul Pemotong Pengecer

jumlah % jumlah % jumlah %

Laki-laki 2 100 4 100 8 88,88

Perempuan - - - - 1 11,11

Jumlah 2 100 4 100 9 100

Sumber : Data Primer diolah (2008)

Umur

Sebaran umur responden berada pada kisaran umur produktif yaitu berkisar antara 20 tahun sampai dengan 55 tahun. Pada Tabel 3 dapat diterangkan bahwa semua pedagang pengumpul berumur antara 36 – 45 tahun, pedagang pemotong berumur 20 – 35 berjumlah 1 (25%) orang dan yang berumur 46 – 55 berjumlah 3 orang (75%), dan pedagang pengecer yang berumur 20 – 35 tahun berjumlah 6 orang (66,67%), berumur 36 – 45 tahun sebanyak 1 orang (11,111%), dan yang berumur antara 46 – 55 tahun berjumlah 2 orang atau sebesar 22,22%.

Tabel 3. Usia Responden Pemasaran Ayam Ras Pedaging

Umur Pengumpul Pemotong Pengecer

jumlah % jumlah % jumlah %

20-35 - - 1 25 6 66,67

36-45 2 100 - - 1 11,11

46-55 - - 3 75 2 22,22

Jumlah 2 100 4 100 9 100

Sumber : Data Primer diolah (2008)

Tingkat Pendidikan

Tabel 4 dapat terlihat bahwa tingkat pendidikan responden minimal pernah bersekolah SD. Semua pedagang pengumpul hanya berpendidikan Sekolah dasar (100%), Pedagang pemotong yang berpendidikan SD berjumlah 1 orang (25%),

SMA 1 orang (25%), dan perguruan Tinggi berjunlah 2 orang (50%), pedagang pengecer yang berpendidikan SD sebanayak 2 orang (22.222%), SMP mendominasi yaitu sebesar 55.55% atau sebanyak 5 orang, SMA berjumlah 1 orang (11.111%), dan perguruan tinggi berjumlah 1 orang (11.111%).

Tabel 4. Tingkat Pendidikan Responden Pemasaran Ayam Ras Pedaging

Pendidikan Pengumpul Pemotong Pengecer

jumlah % jumlah % jumlah %

Tidak tamat SD - - - - SD 2 100 1 25 2 22,22 SMP - - - - 5 55,55 SMU - - 1 25 1 11,11 PT - - 2 50 1 11,11 Jumlah 2 100 4 100 9 100

Sumber : Data Primer diolah (2008)

Lama Usaha

Lama usaha yang dijalankan oleh lembaga pemasaran cukup berpariasi, pada pedagang pengecer sebagian besar telah menjalankan usaha berkisar antara 1 sampai dengan 5 tahun atau sebesar 77.77%, pedagang pemotong sebagian besar telah menjalankan usaha berkisar antara 6 – 15 tahun atau sebesar 75%, dan pedagang

pengumpul telah melakukan usaha berkisar 1 – 5 tahun sebesar 50% dan 6 – 15 tahun sebesar 50%.

Tabel 5. Lama Usaha Responden Pemasaran Ayam Ras Pedaging

Lama Usaha (Tahun) Pengumpul Pemotong Pengecer

jumlah % jumlah % jumlah %

1-5 1 50 1 25 7 77,77

16-30 - - 3 75 1 11,11

Jumlah 2 100 4 100 9 100

Sumber : Data Primer diolah (2008)

Jumlah Tenaga Kerja

Tenaga kerja yang terlibat dalam masing-masing lembaga pemasaran sebagian besar diambil dari keluarga dan dari kerabat di tempat asal mereka. Pedagang pemgumpul mempunyai tenaga kerja berkisar antara 1 sampai dengan 5 orang, pedagang pengecer mempunyai tenaga kerja 1 - 5 orang (100%), demikian juga dengan pedagang pemotong.

Tabel 6. Jumlah Tenaga Kerja Responden Pemasaran Ayam Ras Pedaging Jumlah Tenaga

Kerja (Orang)

Pengumpul Pemotong Pengecer

jumlah % jumlah % jumlah %

1-5 2 100 4 100 9 100

Jumlah 2 100 4 100 9 100

Fungsi-Fungsi Pemasaran Fungsi Pertukaran

Pembelian ayam dilakukan oleh pedagang pengumpul dan sebagian besar pedagang pemotong pada peternakan inti. Harga yang diterima yaitu antara Rp.10.000 – Rp.11500 per kilogram ayam hidup (pada saat penelitian). Pengumpul yang telah mendapatkan ayam melakukan penjualan ke tempat pemotongan ayam yang telah menjadi langganan, pedagang pengecer dan konsumen secara langsung,

Pedagang pemotong yang telah melakukan pembelian ayam dari pengumpul maupun peternak inti selanjutnya melakukan pengolahan ayam agar siap untuk dijual di pasar tradisional dalam bentuk karkas. Harga rata-rata yang diterima pemotong dari peternak yaitu Rp. 11500/ kilogram ayam hidup.

Pedagang pemotong kemudian menjual ayam pada pengecer, dan terkadang langsung menjual pada konsumen secara langsung.

Pedagang pengecer yang telah melakukan pembelian ayam berupa karkas dari pedagang pemotong selanjutnya menjual karkas tersebut pada konsumen langsung dengan tujuan yang beraneka ragam, ada yang membeli untuk berjualan di warung-warung, berjualan di Rumah makan dsb. Harga yang diterima oleh pedagang pengecer dari pemotong yaitu berkisar antara Rp.14.000 – Rp.15.500/kg. dan harga yang diterima konsumen yaitu sebesar Rp. 18.000/kg.

Fungsi Fisik

Fungsi fisik yaitu berupa pemotongan dilakukan oleh pedagang pemotong melalui tahapan penyembelihan ayam. Ayam broiler yang sampai ke tangan konsumen mengalami proses pengolahan lebih lanjut. Karkas ayam diperoleh dari pemotongan yang dilakukan untuk mengeluarkan darah serta jeroan dan pencabutan bulu. Pada proses penyembelihan, pemotong mengapit kedua sayap dan kepala dengan tangan kiri, kemudian ucapan “Basmallah” diucapkan kemudian leher ayam disembelih lalu dilempar ke dalam bak penampungan dan dibiarkan bertumpuk. Proses ini biasanya berlangsung pada tengah malam hingga menjelang waktu subuh, yaitu pukul 01.00 – 05.00 WIB.

Proses pencelupan kedalam air panas dilakukan untuk memudahkan pencabutan bulu. Ayam yang telah disembelih kemudian diambil 3-5 ekor pada tumpukan terbawah yang darahnya telah keluar habis. Ayam kemudian dicelupkan ke dalam kuali yang berisi air panas yang bersuhu 52,22˚-55,55˚ celcius diatas kompor yang menyala selama beberapa menit (2-3 menit) lalu diangkat. Ayam yang telah dicelupkan ke dalam air panas kemudian dicabuti bulunya secara manual sampai terlihat bersih. Pembersihan bulu-bulu halus menggunakan bantuan air bersih.

Ayam yang telah dibersihkan semuanya dari bulu lalu diambil isi perutnya, bagian kloaka antara tulang dada disobek dengan menggunakan pisau, kemudian tangan kanan masuk ke dalam rongga perut untuk mengeluarkan isi perut. Karkas dan isi perut yang telah didapatkan dikumpulkan secara terpisah. Karkas dikumpulkan dalam drum plastik berisi air dingin yang bersih dan jeroan dikumpulkan pada tempat yang berbeda.

Pengemasan jeroan berupa usus, ginjal. hati, rempela, dicuci dan dibersihkan dari kotoran yang melekat. Pengemasan untuk konsumen diperlukan kantong plastic, kemudian dipasarkan, ayam dapat dipasarkan di los-los atau kios di pasar.

Fungsi Fasilitas

Fungsi ini sangat berkaitan erat dengan penanggungan resiko dan penggolongan produk ayam ras pedaging. Resiko yang diterima lembaga pemasaran terbagi dalam dua golongan yaitu resiko fisik dan resiko pasar. Resiko fisik berupa kerusakan karkas dan tingkat kematian ayam. Resiko pasar merupakan resiko yang sulit ditangani lembaga pemasaran. Resiko ini berupa penurunan permintaan, banyaknya pesaing dan kenaikan bahan baku utama dan bahan penolong.

Saluran Pemasaran Ayam Ras Pedaging

Ayam broiler yang dijual hingga sampai ke tangan konsumen memerlukan lembaga-lembaga pemasaran yang dilibatkan. Lembaga pemasaran tersebut melibatkan pedagang pengumpul, pedagang pengecer, dan pemotong. Saluran pemasaran ayam ras pedaging di pasar yang ada di Kabupaten Bogor adalah sebagai berikut :

1. Peternak → pedagang pengumpul → pemotong → konsumen

2. Peternak → pedagang pengumpul → pemotong →pengecer→ konsumen 3. Peternak → pemotong → pengecer → konsumen

4. Peternak → pemotong → konsumen Secara sistematis dapat dilihat pada Gambar 2.

25% 100% 100% Pengecer di pasar Pengumpul Pemotong Peternak Konsumen

75% 75% 25%

Keterangan :

Produk Ayam Hidup Produk Karkas Tidak diteliti

Bobot Hidup 1,3 kg/ekor

Gambar 2. Saluran Pemasaran Ayam Ras Pedaging di Kabupaten Bogor

Secara umum terdapat empat saluran pemasaran ayam ras pedaging. Pada saluran pertama (peternak, pengumpul, pemotong dan konsumen), pemotong mendapatkan bahan baku ayam hidup dari pedagang pengumpul dan kemudian konsumen membeli bahan baku dalam bentuk karkas langsung dari pedagang pemotong. Pedagang pengecer membeli produk dalam kondisi yang sudah terpotong dari pedagang pemotong pada saluran kedua (peternak, pengumpul, pemotong, pengecer, dan konsumen). Pedagang pemotong membeli bahan baku ayam hidup kepada peternak secara langsung pada saluran ketiga (peternak, pemotong, pengecer, konsumen),dan pada saluran keempat pemotong memperoleh ayam hidup langsung dari peternak kemudian konsumen memperoleh ayam dalam bentuk karkas dari pemotong. (peternak, pemotong, dan konsumen).

Pedagang pengumpul menjual dalam bentuk ayam hidup ke pedagang pemotong secara keseluruhan atau sebesar 100%. Pada saluran kedua semua pedagang pengecer menjual ayam dalam bentuk karkas secara keseluruhan kepada konsumen (100%).

Pada saluran ketiga pedagang pemotong memperoleh ayam hidup langsung dari peternak sebesar 75%, dan pada saluran ke empat pemotong melakukan penjualan lengsung ke konsumen sebanyak 25% dari jumlah keseluruhannya.

Lembaga Pemasaran Ayam Ras pedaging

Lembaga pemasaran yang terlibat dalam penyaluran ayam ras pedaging di Kabupaten Bogor yaitu pedagang pengumpul, pedagang pemotong dan pedagang

pengecer. Masing –masing lembaga pemasaran dapat dengan secara bebas melakukan pembelian dan penjualan produknya kemanapun hal ini dikarenakan tidak adanya perjanjian yang resmi dari masing-masing lembaga pemasaran yang terkait. Walaupun demikian, beberapa lembaga pemasaran mempunyai hubungan yang sangat baik dengan pihak pemasoknya, sehingga menimbulkan keterkaitan yang erat satu sama lain.

Pedagang Pengumpul

Pedagang pengumpul mendapatkan ayam dari para peternak yang berada di wilayah Kabupaten Bogor. Setiap harinya pedagang pengumpul mampu mengangkat 400 hingga 700 ekor ayam hidup dengan harga berkisar antara Rp.11500 - Rp. 12000/ekor.

Tenaga kerja yang dipekerjakan oleh pedagang pengumpul berjumlah antara 3 sampai dengan 5 orang dengan lama bekerja antara 7 sampai dengan 8 jam perhari atau sekitar 2,25HKP sampai dengan 3,75 HKP. Semua tenaga kerja berjenis kelamin laki-laki dengan pembagian kerja antara lain supir, tenaga bongkar muat dan penimbangan, dan sebagian pengantar.

Pedagang pengumpul menjual produk mereka dalam kondisi ayam masih hidup kepada pedagang pemotong dan pedagang pengecer pasar tradisional. Harga jual di tingkat pedagang pengumpul yaitu sekitar Rp. 10.000 perkilogram ayam hidup. Penetapan harga penjualan dapat berubah-ubah tergantung dari harga ayam di tingkat peternak dan biaya pemasaran yang dikeluarkan.

Pedagang pemotong

Bahan baku utama pedagang pemotong adalah ayam hidup yang diperoleh dari pedagang pengumpul dan peternak langsung dengan harga berkisar antara Rp. 10.000 sampai Rp. 11.000 per kilogram ayam hidup. Jumlah ayam yang dapat dipotong berkisar antara 350 sampai 700 ekor per harinya. Pedagang pemotong melakukan pemotongan di rumah mereka, tidak di pasar tradisional.

Pedagang pemotong menggunakan tenaga kerja 2 sampai 3 orang dengan pembagian kerja antara lain supir, tenaga bongkar muat dan penimbangan, pemotongan dan sebagian pengantar. Pedagang pemotong menjual karkasnya kepada pedagang pengecer, tetapi mereka juga menjualnya langsung kepada konsumen. Harga jual karkas di tingkat pemotong berkisar antara Rp. 15.500

sampai Rp. 16.000 per ekor. Pedagang pemotong juga menjual jeroan, antara lain hati, rempela, jantung, dan usus ditambah pula dengan kaki dan kepala. Pedagang pemotong menjual terpisah karkas dan jeroannya.

Pedagang pengecer

Pedagang pengecer adalah mereka yang berjualan karkas dan jeroan ayam ras pedaging di pasar tradisional. Harga yang diterima oleh pedagang pengecer dari pedagang pemotong yaitu sebesar Rp.15.000 sampai dengan Rp. 16.000.

Kisaran harga jeroan antara lain, hati, rempela dan jantung seharga Rp. 530,4 per ekor, usus Rp. 242,4 sampai Rp.315 per ekor, kaki dan kepala Rp.427 dan Rp. 202,8 per ekor. Setiap harinya rata-rata pedagang penegecer sanggup menjual 40 ekor sampai 250 ekor, dengan bobot hidup rata-rata sebesar 1,3 kg/ekor.

Pedagang pengecer menjual produknya dengan menggunakan sarana berupa los atau kios di pasar tradisional. Harga jual untuk 1 ekor ayam bervariasi tergantung bobot ayam namun bobot rata-rata sekitar 1,3 kg dengan harga per kg sebesar Rp.18.000 jadi sekitar Rp.23.000 per ekor.

Tenaga kerja yang dipekerjakan oleh pedagang pengecer yaitu sebesar 0.875 HKP per hari. Nilai ini diperoleh dari pengalian antara koefisien teknis dengan tenaga kerja langsung. Tenaga kerja ini bertugas melayani konsumen yang melakukan pembelian.

Analisis Nilai Tambah Pemasaran Ayam Ras Pedaging

Analisis nilai tambah dilakukan pada periode produksi rata-rata satu bulan yaitu bulan Februari 2008. Dasar perhitungan nilai tambah menggunakan satuan kilogram bahan baku ayam ras pedaging. Perhitungan dalam analiis ini dilakukan untuk membandingkan setiap lembaga pemasaran ayam ras pedaging

output ayam dalam bentuk karkas memiliki bobot 75%: hati 1,9%: rempela 1,6%: usus 3,03%: kaki 4,7% dan kepala 2,6% dari bobot hidup (Rasyaf, 1995).

Analisis nilai tambah dilakukan untuk mengetahui besarnya nilai tambah pemasaran ayam ras pedaging dan juga untuk melihat distribusi margin yang diperoleh dari pemanfaatan faktor-faktor produksi yang digunakan dalam aktivitas pemasaran dengan menggunakan analisis Hayami et al. (1987). Analisis nilai tambah terdiri dari beberapa komponen utama pembentuk biaya produksi yang meliputi bahan baku, sumbangan input lain, tenaga kerja, dan keuntungan untuk masing-masing komponen utama yang digunakan.

Nilai faktor konversi dihitung berdasarkan pembagian antara nilai output yang dihasilkan dengan nilai input yang digunakan, Nilai faktor konversi yang dihasilkan dari pemasaran ayam bernilai satu yang berarti bahwa perhitungan satuan penjualan dan pembelian menggunakan satuan ekor ayam. Perhitungan dengan menggunakan satuan ekor ayam untuk memudahkan skala produksi tiap harinya.

Tingkat haga output merupakan rata-rata penjualan setiap harinya. Harga output pada pedagang pemotong sebesar Rp.15.750/ekor. Nilai output ini jauh lebih besar jika di bandingkan dengan harga output yang diperoleh oleh pedagang pengumpul yaitu sebesar Rp. 13.250/ekor (Tabel 2).Perbedaan ini dikarenakan pada pedagang pemotong ayam yang dijual sudah berupa karkas sebagaimana kita ketahui ayam dalam bentuk karkas sudah mengalami penambahan kegunaan yang dihasilkan dari korbanan biaya yang telah dikeluarkan. Karkas ayam dijual kepada pengecer dengan harga sebesar Rp. 14.500. Tingkat harga output pada pedagang pengecer yaitu sebesar Rp. 18.000.

Sumbangan terhadap input lain pada pedagang pemotong yaitu sebesar Rp. 355,34 per ekor, harga input lain ini jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan harga input lain pada pedagang pengumpul yaitu sebesar Rp. 1122,44 per ekor. Input lain ini terdiri dari biaya pengangkutan, retribusi, penyusutan, kemasan, listrik, minyak tanah, transportasi dan komunikasi. Besarnya sumbangan input lain pada pedagang pengecer adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pengangkutan, retribusi, penerangan pasar, kemasan plastik dan biaya akomodasi.

Jumlah biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer yaitu sebesar Rp. 449.36 per ekor.

Tabel 7. Analisis Nilai Tambah Pemasaran Ayam Broiler pada Pengecer, Pengumpul, dan Pemotong

Variabel

Pengecer Pemotong

Pengumpul

Output, Input dan Harga

1 Output (ekor/hari)

138 500 550

2 Bahan baku (ekor/hari)

138 500 550

3 Tenaga kerja (HKP/hari)

0,88 2,19 3,00

4 Faktor konversi

1 1 1

5 Koefisien tenaga kerja

0,012 0,0045 0,0055

6 Harga output (Rp/ekor)

18.000 15.750 13.250

7

Upah rata-rata tenaga kerja (Rp/HKP)

13.85,.3 18.571,43 60.000

Pendapatan dan Keuntungan

8 Harga bahan baku (Rp/kg)

14.500 11.500 10.000

9 Harga input lain (Rp/kg)

449,36 355,38 1.122,44

10 Nilai output

18.000 15.750 13.250

11 A. Nilai tambah

3.050,64 3.894,62 2.127,56

B. Rasio nilai tambah

16,95 24,73 16,06

12 A. Imbalan tenaga kerja

147,69 83,33 327,27

B. Bagian tenaga kerja

5,22 2,14 15,38

13 A. Keuntungan

2.902,95 3.811,29 1.800,29

B. Tingkat keuntungan

16,13 24,2 13,6

Balas Jasa Pemilik Faktor Produksi

14 Marjin

3.500 4.250 3.250

A. Pendapatan tenaga kerja (%)

4,22 1,96 10.07

B. Sumbangan input lain (%)

12,84 8,36 34.54

C. Keuntungan perusahaan (%)

Tenaga kerja yang dipekerjakan oleh lembaga pemasaran ayam ras pedaging adalah renaga kerja langsung. Perhitungan hari kerja produktif (HKP) di peroleh dengan cara membagi jumlah jam kerja dengan hari kerja (satu hari kerja yang digunakan dalam penelitian ini adalah 8 jam) dan dikalikan dengan faktor konversi 1 untuk la ki-laki dan 0,8 untuk tenaga kerja perempuan.

Koefisien tenaga kerja pada pedagang pemotong di peroleh nilai sebesar 0.0045 HKP/ekor yang artinya setiap satu ekor ayam membutuhkan waktu selama 0,036 jam/ekor atau 2,16 menit untuk melakukan pemotongan dengan waktu maksimal. Koefisien tenaga kerja pada pedagang pengumpul yaitu sebesar 0,055 HKP/ekor yang berarti bahwa waktu yang diperlukan untuk menangani satu ekor ayam hidup yaitu selama 0,044 jam/ekor atau sekitar 2,64 menit, sedangkan koefisien tenaga kerja pada pedagang pengecer yaitu sebesar 0,012 HKP/ekor yang berarti bahwa waktu yang dibutuhkan untuk menangani satu ekor ayam yaitu selama 0,09 jam HKP/ekor tau selama 5,76 menit per ekor.

Imbalan untuk tenaga kerja pedagang pemotong diperoleh sebesar Rp. 83.33 per ekor atau sebesar 2,14%dari nilai tambah penjualan karkas ayam., yang artinya setiap Rp.100 per ekor nilai tambah akan memberikan pendapatan tenaga kerja sebesar Rp. 5,4 per ekor. Imbalan untuk tenaga kerja pada pedagang pengumpul yaitu sebesar Rp. 327,27 dari setiap ekor ayam hidup, bagian tenaga kerja yang diperoleh yaitu sebesar 15,38% sedangkan imbalan tenaga kerja yang diperoleh pedagang pengecer yaitu sebesar Rp. 147,68 atau sebesar 5,22% dari nilai tambah penjualan.

Distribusi Nilai tambah

Nilai tambah yang diperoleh pedagang pengecer yaitu sebesar Rp. 3.050.,63 per ekor atau setara dengan 16,95% dari outputnya, artinya setiap Rp. 100 per ekor akan mengalami pertambahan nilai Rp. 16,95 per ekor dari nilai outputnya. Keuntungan yang diperoleh yaitu sebesar Rp. 2.902,95 per ekor atau sebesar 16,13%, keuntungan ini merupakan keuntungan bersih karena sudah dikurangi upah tenaga kerja.

Pemotong memperoleh nilai tambah sebesar Rp. 3.894,62 per ekor atau sebesar 24,73% dari nilai output dan keuntungan yang diperoleh dari setiap bobot

ayam hidup yaitu sebesar Rp. 3811,29 per ekor atau sekitar 24,2 %. Pedagang pengumpul memperoleh nilai tambah sebesar Rp. 2.127,56 per ekor atau sekitar 15,38% dan keuntungan sebesar Rp.1.800,29 atau sebanding dengan 13,6%. Perbedaan besar kecilnya nilai tambah yang diperoleh setiap lembaga pemasaran dikarenakan harga produk rata-rata, harga input dan sumbangan input lain yang berbeda. Secara ringkas dapat dilihat pada Gambar 3 dan 4.

0

500

1000

1500

2000

2500

3000

3500

4000

Pengecer pengumpul

Nilai Tambah

Dokumen terkait