Data karakteristik responden yang didapatkan selama proses pengambilan data meliputi : jenis kelamin, Usia, pendidikan terakhir, status pernikahan, dan pekerjaan. Hasil rangkuman karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik Responden Penelitian
Karakteristik responden Jumlah (n) = 100 Presentase (100%) Jenis Kelamin Laki-laki 46 46 Perempuan 54 54 Usia 15-24 45 45 25-34 23 23 35-44 10 10 45-53 11 11 54-64 11 11 Pendidikan terakhir SD 10 10 SMP 33 33 SMA 31 31 Perguruan Tinggi 26 26 Status Pernikahan Menikah 57 57 Belum Menikah 43 43 Pekerjaan Petani 29 29 Pelajar 33 33 Wiraswasta 6 6 Pegawai 23 23
Ibu Rumah Tangga 9 9
Berdasarkan data yang telah didapat menggunakan kuesioner pengetahuan, sikap dan tindakan maka didapatkan gambaran distribusi data Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Masyarakat Dusun Ranggu terkait Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) yang meliputi nilai rata-rata (mean), nilai minimum dan nilai maximum seperti ditunjukan pada Tabel 3.
Tabel 3. Gambaran Distribusi Data Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Masyarakat Dusun Ranggu tenang Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
Mean Minimum Maximum
Pengetahuan 14,07 8 19
Sikap 49,94 30 59
Tindakan 46,74 31 58
Nilai rata-rata untuk aspek pengetahuan adalah 14,07, aspek sikap 49,94 dan tindakan 46,74. Nilai minimum aspek pengetahuan adalah 8 dan nilai maximumnya adalah 19 dari nilai total maksimal 20, nilai minimum aspek sikap adalah 30 dan nilai maximumnya adalah 59 dari nilai total maksimal 60.
Sedangkan untuk aspek tindakan nilai minimum adalah 31 dan nilai maximumnya adalah 58 dari nilai total maksimal 60.
Deskripsi Variabel Penelitian
Data deskripsi variabel penelitian meliputi tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat Dusun Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat terkait Dengue Haemorrhagic Fever (DHF).
Pengetahuan Masyarakat terkait Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
Pengetahuan merupakan salah satu faktor penting terhadap tindakan yang dilakukan seseorang. Pengetahuan merupakan kemampuan untuk membentuk model mental yang menggambarkan objek dengan tepat dan mempresentasikannya dalam aksi yang dilakukan terhadap suatu objek (Kusrini, 2006). Tingkat pengetahuan di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu: Tahu (know), Memahami (comprehension), Aplikasi (aplication), Analisis (analysis), Sintesis (syntesis), Evaluasi (evaluation) (Fitriani, 2011).
Berdasarkan hasil analisis terhadap data variabel pengetahuan diperoleh gambaran pengetahuan Masyarakat Dusun Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat terkait Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) dapat digambarkan ke dalam diagram perbandingan jumlah responden dengan pengetahuan dalam kategori baik, cukup dan kurang baik terhadap kategori seperti pada Gambar 3.
Gambar 3 Diagram perbandingan jumlah responden dengan pengetahuan dalam kategori baik, cukup dan kurang baik terkait Dengue Haemorrhagic Fever (DHF).
30 54 16 0 20 40 60
Baik Cukup Kurang Baik
Ju
m
lah
Kategori Jumlah Terhadap Kategori
Variabel Pengetahuan
Berdasarkan Gambar 3 di atas menunjukkan tingkat pengetahuan Masyarakat Dusun Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, terkait penyakit Dengue Haemorrhagic Fever (DHF), yakni terdapat 30 orang dari 100 responden (30%) dikategorikan baik, 54 orang dari 100 responden (54%) dikategorikan cukup, dan 16 orang dari 100 responden (16%) dikategorikan kurang baik. Hal ini menunjukan bahwa pengetahuan Masyarakat Dusun Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, terkait penyakit Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) pada umumnya berkategori baik dan cukup.
Dalam penelitian ini, sebanyak 44 orang dari 100 responden (44%) responden memiliki pengetahuan baik terhadap definisi terkait Dengue Haemorrhagic Fever (DHF), 34 orang dari 100 responden (34%) memiliki pengetahuan cukup, dan sebanyak 22 orang dari 100 responden (22%) memiliki pengetahuan yang kurang baik. Sebanyak 40 orang dari 100 responden (40%) memiliki pengetahuan baik terhadap tindakan pencegahan terkait penyakit Dengue Haemorrhagic Fever (DHF), 34 orang dari 100 responden (34%) memiliki pengetahuan cukup, dan sebanyak 26 orang dari 100 responden (26%) memiliki pengetahuan kurang baik. Sebanyak orang dari 100 responden (73%) memiliki pengetahuan baik terhadap gejala terkait penyakit Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) dan sebanyak 27 orang dari 100 responden (27%) memiliki pegetahuan kurang baik. Sebanyak 11 orang dari 100 responden (11%) responden memiliki pengetahuan baik terhadap pengobatan terkait Dengue Haemorrhagic Fever (DHF), 20 orang dari 100 responden (20%) memiliki pengetahuan cukup dan sebanyak 69 orang dari 100 responden (69%) memiliki pengetahuan kurang baik. Pengetahuan masyarakat yang mayoritas kurang baik terhadap pengobatan DBD disebabkan oleh tidak diadakan program penyuluhan terkait DBD bagi masyarakat Dusun Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Azrul Zulmy (2013) menyatakan bahwa kegiatan penyuluhan merupakan kegiatan pendidikan yang bertujuan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan. Materi penyuluhan yang diberikan harus
mencakup hal-hal yang berkaitan dengan DBD dan lebih menekankan pada pengobatan terkait DBD.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Adri, Jamil, dan Suhanda (2016) yang menyatakan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang cenderung baik dan cukup dalam upaya pencegahan penyebaran DBD. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh yang menyatakan bahwa pengetahuan responden tentang Demam Berdarah Dengue sudah baik. Pengetahuan merupakan salah satu faktor penting dalam diri seseorang.
Dalam penelitian (Azzahara,Bujawati, dan Mallapiang, 2016) pengetahuan berperan penting dalam menentukan tindakan seseorang. Responden yang memahami bahaya Demam Berdarah Dengue (DBD) akan lebih berhati-hati dalam melakukan kegiatan sehari-hari karena mereka menyadari bahwa penyakit DBD dapat membahayakan diri mereka dan keluarga.
Sikap Masyarakat terkait Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
Sikap merupakan suatu respon yang tertutup dari suatu stimulus terhadap suatu objek. Secara nyata, sikap menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu. Sikap dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. (Fitriani, 2011).
Dalam penelitian ini, sebanyak 64 orang dari 100 responden (64%) responden memiliki sikap yang baik, 34 orang dari 100 responden (34%) memiliki sikap yang cukup dan 2 orang dari 100 responden (2%) sikap kurang baik terhadap upaya pencegahan Dengue Haemorrhagic Fever (DHF). Berdasarkan hasil pengisian kuesioner sebanyak 69 orang dari 100 responden (69%) yang menyatakan sangat setuju terhadap pernyataan “Saya merasa perlu untuk menggalakkan program pemerintah yaitu 3M (Menutup, Menguras, Menimbun) untuk mencegah meluasnya DBD”. Sebanyak 17 orang dari 100 responden (17%) menyatakan setuju, sebanyak 5 orang dari 100 responden (5%) menyatakan tidak setuju dan sebanyak 10 orang dari 100 responden (10%) menyatakan sangat tidak setuju. Kegiatan 3M yaitu menguras, menutup, memanfaatkan kembali atau mendaur ulang merupakan bagian dari PSN yang efektif untuk penanggulangan
DHF (Ernawati, Bratajaya, Martina, 2018). Hal tersebut berarti masyarakat Dusun Ranggu sadar akan pentingnya melakukan pencegahan terhadap DBD sebelum penyebarannya semakin luas.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Akhmadi dkk, 2012) yang menyatakan bahwa sikap responden sebagian besar setuju dengan sikap pengelolaan sampah yang baik, melakukan kegiatan pembersihan bak mandi, tempat penampungan air bersih dengan melakukan kegiatan 3M, keiatan PSN yang melibatkan masyarakat. Sikap positif atau negatif yang terbentuk dalam diri seseorang tergantung dari segi manfaat atau tidaknya komponen pengetahuan. Semakin banyak manfaat yang diketahui, maka semakin positif pula sikap yang terbentuk.
Berdasarkan hasil analisis terhadap data variabel sikap diperoleh gambaran sikap Masyarakat Dusun Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat terhadap penyakit Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) digambarkan ke dalam diagram perbandingan jumlah responden dengan sikap dalam kategori baik, cukup dan kurang baik terkait Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) seperti pada Gambar 4.
Gambar 4 Diagram perbandingan jumlah responden dengan sikap dalam kategori baik, cukup dan kurang baik terkait Dengue Haemorrhagic Fever (DHF).
Berdasarkan Gambar 4 di atas menunjukkan tingkat sikap Masyarakat Dusun Ranggu, Desa Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur terkait penyakit Dengue Haemorrhagic Fever (DHF), yakni terdapat 77 orang dari 100 responden (77%) berkategori baik, 22
77 21 2 0 20 40 60 80 100
Baik Cukup Kurang Baik
Ju
m
lah
Kategori jumlah Terhadap Kategori
Variabel Sikap
orang dari 100 responden (21%) berkategori cukup, dan 2 orang dari 100 responden (2%) berkategori kurang baik terhadap pencegahan DBD. Hal ini menunjukan bahwa sikap Masyarakat Dusun Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat terkait penyakit Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) pada umumnya berkategori baik dan cukup. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat pada umumnya memiliki sikap antisipatif terhadap gejala dan penyakit yang terkait dengan Dengue Haemorrhagic Fever (DHF).
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Adri, Jamil, dan Suhanda (2016) menyatakan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pengetahuan dan sikap terhadap suatu tindakan seseorang. Semakin tinggi pengetahuan yang dimiliki seseorang semakin baik pula sikap dan tindakan seseorang. Dalam penelitian ini, pengetahuan masyarakat Dusun Ranggu Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat cenderung berkategori baik dan cukup terhadap definisi, tindakan pencegahan dan gejala dari Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) sehingga sikap masyarakat Dusun Ranggu, kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat terkait Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) juga cenderung berkategori baik dan cukup.
Tindakan Masyarakat terkait Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
Suatu sikap sudah pasti terwujud dalam suatu tindakan. Tindakan merupakan respon yang diberikan tubuh terhadap suatu rangsangan ataupun adaptasi dari dalam maupun dari luar tubuh suatu lingkungan. Tindakan seseorang terhadap suatu rangsangan ditentukan oleh bagaimana kepercayaan ataupun perasaan terhadap suatu stimulus tersebut (Lake, Hadi, dan Sutriningsih., 2017). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbedaan nyata, dibutuhkan faktor yang mendukung, yaitu tingkatan yang mencakup tindakan yang terdiri dari Tindakan mempunyai beberapa tingkatan diantaranya : a) persepsi (perseption) yaitu mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil. b) respon terpimpin (guided response) yaitu dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh. c) mekanisme (mecanism) yaitu melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis. d) adopsi
(adoption) yaitu suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik (Fitriani, 2011).
Dalam penelitian ini, sebanyak 51 orang dari 100 responden (51%) responden memiliki tindakan yang baik, 47 orang dari 100 responden (47%) memiliki tindakan yang cukup dan 2 orang dari 100 responden (2%) memiliki tindakan kurang baik terhadap upaya pencegahan Dengue Haemorrhagic Fever (DHF). Berdasarkan jawaban responden dalam penelitian ini, sebanyak 59 orang dari 100 responden (59%) menyatakan sangat setuju, sebanyak 30 orang dari 100 responden (30 %) menyatakan setuju, sebanyak 8 orang dari 100 responden (8%) menyatakan tidak setuju, dan 2 orang dari 100 responden (2%) menyatakan sangat tidak setuju terhadap tindakan pencegahan DBD yaitu dengan menutup penampungan air rapat-rapat agar tidak menjadi tempat sarang nyamuk-nyamuk Aedes Aegypti. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Ranggu mempunyai tindakan yang baik terhadap pencegahan penyebaran DBD.
Berdasarkan hasil analisis terhadap data variabel tindakan diperoleh gambaran tindakan Masyarakat Dusun Ranggu, Desa Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat terhadap penyakit Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) dapat digambarkan ke dalam perbandingan jumlah responden dengan tindakan dalam kategori baik, cukup dan kurang baik terkait Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) seperti pada Gambar 5.
Gambar 5 Diagram perbandingan jumlah responden dengan tindakan dalam kategori baik, cukup dan kurang baik terkait Dengue Haemorrhagic Fever (DHF).
Berdasarkan Gambar 5 di atas menunjukkan tingkat tindakan Masyarakat Dusun Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat terkait
57 42 1 0 20 40 60
Baik Cukup Kurang Baik
Ju m lah Kategori jumlahTerhadap Kategori Variabel Tindakan 16
penyakit Dengue Haemorrhagic Fever (DHF), yakni terdapat 57 orang dari 100 responden (57%) berkategori baik, 42 orang dari 100 responden (42%) berkategori cukup, dan 1 orang dari 100 responden (1%) berkategori kurang baik. Hal ini menunjukan bahwa tindakan Masyarakat Dusun Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat terkait penyakit Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) pada umumnya berkategori baik dan cukup. Hal tersebut berarti masyarakat pada umumnya memiliki tindakan antisipatif, pencegahan dan pengobatan yang baik dan cukup terhadap gejala dan penyakit yang terkait dengan Dengue Haemorrhagic Fever (DHF).
Dalam penelitian (Utami, 2015) menyatakan bahwa pengetahuan memiliki peranan yang penting terhadap suatu tindakan. Pengetahuan yang dimiliki seseorang akan sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang dan mendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan. Sehingga berdasarkan penelitian ini, tindakan masyarakat yang baik dikarenakan oleh pengetahuan masyarakat yang cenderung baik terhadap definisi dan pencegahan penyakit Dengue Haemorrhagic Fever (DHF).
KESIMPULAN
1. Tingkat pengetahuan masyararakat Dusun Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat menunjukkan bahwa sebanyak 30 orang dari 100 responden (30%) pengetahuan masyarakat baik, sebanyak 54 orang dari 100 responden (54%) cukup dan sebanyak 16 orang dari 100 responden (16%) kurang. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat Dusun ranggu, kecamatan Kuwus Barat cenderung berkategori baik dan cukup.
2. Sikap masyararakat Dusun Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat menunjukkan bahwa sebanyak 77 orang dari 100 responden (77%) sikap masyarakat baik, sebanyak 21 orang dari 100 responden (21%) cukup dan sebanyak 2 orang dari 100 responden (2%) kurang. Hal ini menunjukkan bahwa sikap Masyarakat Dusun Ranggu,Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat terkait Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) pada umumnya berkategori baik dan cukup.
3. Tindakan masyararakat Dusun Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat terkait Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) menunjukkan bahwa sebanyak 57 orang dari 100 responden (57%) berkategori baik, 42 orang dari 100 responden (42%) berkategori cukup, dan 1 orang dari 100 responden (1%) berkategori kurang baik. Hal ini menunjukan bahwa tindakan Masyarakat Dusun Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat terkait Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) pada umumnya berkategori baik dan cukup.
SARAN
1. Pemerintah setempat dan para tenaga kesehatan yang berkerja di puskesmas hendaknya berpatisipasi untuk lebih meningkatkan pengetahun dengan melakukan kegiatan penyuluhan terkait kepada masyarakat Dusun Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat Kabupaten Manggarai Barat terkait Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) sehingga sikap dan tindakan massyarakat pun semakin lebih baik. Apabila pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat sudah baik, tetap disarankan untuk melakukan tindakan pencegahan terhadap Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) dengan cara melakukan kegiatan 3 M yaitu menguras, menutup, memanfaatkan kembali atau mendaur ulang.
2. Dapat dilakukan penelitian lebih lanjut untuk melihat pengaruh pengetahuan terhadap sikap dan tindakan masyarakat terkait Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)