Setelah dilakukan pengumpulan UIC on spot dan 24 jam didapatkan subjek yang mengumpulkan urin secara lengkap setelah dibandingkan dengan kuesioner kelengkapan urin didapatkan jumlah subjek berjumlah 44 anak. Karakteristik subjek dapat dilihat pada Tabel 4.
Pemeriksaan kadar iodium dalam urin penting dilakukan pada anak usia sekolah untuk menilai kecukupan iodium karena anak usia sekolah lebih beresiko jika mengalami kekurangan iodium. Tabel 4 dapat diketahui bahwa sebagian besar siswa berusia 10-11 tahun (59.1%). Anak usia sekolah memerlukan iodium untuk sintesis hormon tiroid, dimana hormon ini penting dalam metabolisme, pertumbuhan, dan perkembangan organ khususnya otak, bila asupan iodium kurang selama masa pertumbuhan dapat mengganggu sintesis hormon tiroid dan hasilnya perlambatan metabolisme dan menyebabkan kerusakan otak secara permanen (Zimermann et al. 2013). Upaya pemantauan kecukupan iodium biasanya dilakukan pada populasi dengan menggunakan sampel yang representatif salah satunya menggunakan subjek anak usia sekolah karena anak usia sekolah merupakan indikator defisiensi iodium pada masyarakat.
Tabel 4 Distribusi karakteristik subjek
Karakteristik n (%) Jenis Kelamin Laki-Laki 13 (29.5 %) Perempuan 31 (70.5 %) Usia (Tahun) 10-11 26 (59.1 %) 12-13 18 (40.9 %) Zscore (BB/TB) Kurus 4 (8.9 %) Normal 40 (88.9 %)
Tabel 4 menyajikan karakteristik subjek yang terpilih. Mayoritas subjek dalam penelitian ini adalah perempuan (70.5%). Penelitian yang dilakukan pada usia 18–39 tahun di Washington yang membandingkan UIC 24 jam dan UIC on spot antar jenis kelamin dan ras menunjukkan bahwa konsentrasi iodium urin relatif konsisten di semua kelompok ras dan jenis kelamin (Wang et al. 2013). Penilaian status gizi subjek menggunakkan Z-score yang dikategorikan sebagai
19 kurus (-3SD – ≤-2SD), normal (-2SD – 2SD), dan gemuk (>2SD) (Kemenkes 2013). Sebagian besar anak dalam penelitian ini dalam kategori gizi normal yaitu sebesar 88.9% dengan rata-rata Z-score -2.0 ± 1.069. Status gizi individu bepengaruh terhadap jumlah simpanan iodium di dalam tubuh. Anak dengan status gizi normal memiliki kadar iodium urin lebih tinggi dibandingkan dengan anak dengan status gizi kurang (Prihartini et al. 2002).
Kadar Iodium dalam Urin
Kecukupan iodium dapat dilihat dari asupan iodium yang dikonsumsi karena tubuh tidak dapat mensintesis iodium. Analisis nilai UIC digunakan sebagai indikator untuk mengukur jumlah asupan iodium yang dikonsumsi, hampir sebagian besar yaitu 90% iodium dalam tubuh akan diekskresikan melalui urin pada hari yang sama setelah dikonsumsi (Rasmussen et al. 1999). Pada orang
normal, asupan iodium 500 μg/hari sama dengan pengeluarannya yang terjadi melalui urin 488 μg/hari dan feses 12 μg/hari (Linder 1992).
UIC dapat diukur dalam sampel urin on spot atau dalam urin 24 jam. Untuk memperkirakan asupan iodium penggunaan UIC 24 jam lebih baik namun sulit untuk dilakukan. Sebagai alternatif WHO merekomendasikan penggumpulan UIC on spot sebagai indikator status iodium dan monitoring asupan iodium di masyarakat. Penelitian ini dari 75 anak yang mengumpulkan sampel urin 24 jam, hanya 44 anak yang berhasil mengumpulkan urin 24 jam secara lengkap. Anak-anak usia 10-13 tahun yang diteliti mampu mematuhi petunjuk dan memberikan sampel urin 24 jam secara lengkap yang dilihat dari kuesioner kelengkapan urin hasil ini menunjukkan bahwa dalam pengumpulan urin 24 jam tidak terlalu rumit dilakukan pada anak usia 10-13 tahun. Keterbatasan utama dari penelitian ini adalah ketergantungan pada kuesioner mengenai kelengkapan urin 24 jam. Kuesioner mengenai kelengkapan pengumpulan urin 24 berisi waktu dan urin yang hilang selama pengumpulan urin 24 jam. Namun, berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menunjukan bahwa kuesioner kelengkapan urin menunjukkan sensitivitas 77% dan spesifisitas 33% (Fu 2014).
Selama pengumpulan sampel urin 24 jam dan on spot 44 anak yang mengumpulkan urin. Pada Tabel 5 menunjukan rata-rata UIC dari urin 24 jam 179.8 ± 56.4 μg/L dan UIC dan nilai rata rata UIC on spot pagi, UIC on spot sore, dan UIC on spot malam, masing-masing sebesar 145.3 ± 63.6 μg/L, 159.9 ± 64.5
μg/L, 167.5 ± 66.1 μg/L. Pada penelitian ini rata-rata urin 24 jam lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata urin on spot hal ini kemungkinan disebabkan karena pengambilan urin yang dilakukan hanya diambil satu kali antara pengumpulan urin setiap waktu baik antara urin setelah sarapan hingga makan siang, setelah makan siang sampai makan malam, dan makan malam sampai tidur. Nilai median UIC urin on spot pagi, urin on spot sore, urin on spot malam, dan 24 jam masing-masing sebesar 157.0 μg/L, 162.0 μg/L, 172.5 μg/L, dan 178.0 μg/L. Nilai median UIC Nilai median UIC on spot pagi 11.8% lebih rendah daripada nilai median UIC 24 jam, UIC sore 8.9% lebih rendah daripada UIC 24 jam, UIC malam 3.8% lebih rendah daripada UIC 24 jam. Hal ini sesuai dengan penelitian Mulyantoro et al. (2015) yang dilakukan pada subjek wanita usia subur didapatkan hasil bahwa perbedaan median iodium urin on spot dengan 24 jam pada rentang waktu 10.00-12.00 WIB lebih rendah 17.7%, rentang waktu
12.00-20
17.00 WIB lebih rendah 12.2%, dan rentang waktu 17.00-24.00 WIB lebih rendah 6.8% namun UIC on spot dan 24 jam tidak berbeda secara signifikan.
Tabel 5 Rata-rata, median, persentil 5 dan persentil 95 UIC on spot pagi, sore, malam dan UIC 24 jam
UIC on spot pagi (μg/L) UIC on spot sore (μg/L) UIC on spot malam (μg/L) UIC 24 jam (μg/L) Rata-rata ± SD 145.3 ± 63.6 159.9 ± 64.5 167.5 ± 66.1 179.8 ± 56.4 Median 157.0 162.0 172.5 178.0 P5th 33.3 37.8 62.8 88.8 P95th 234.0 248.5 266.0 292.5
Status iodium berdasarkan UIC sesuai rekomendasi WHO, UNICEF, ICCID dikategorikan sebagai defisiensi berat (<20 μg/L), defisiensi sedang (20-49 μg/L), defisiensi ringan (50-99 μg/L), cukup (100-199 μg/L), lebih dari cukup (200-299
μg/L), dan kelebihan (>300 μg/L) Dalam penelitian ini subjek dengan status iodium kurang berdasarkan UIC on spot pagi, on spot sore, on spot malam, dan 24 jam berturut-turut dilihat dari nilai minimum UIC sebesar 60.0 μg/L, 22.0 μg/L, 13.0 μg/L, dan 57.0 μg/L (Lampiran 2). Subjek pada penelitian ini berada dalam tahap percepatan pertumbuhan dan perkembangan, sehingga apabila terdapat defisiensi iodium dalam jangka panjang akan mengurangi jumlah produksi hormon tiroid yang nantinya akan berdampak pada gangguan pertumbuhan dan perkembangannya.
Anak-anak usia sekolah dalam penelitian ini sebagian besar memiliki status iodium cukup yang dinilai dari semua parameter iodium (UIC) dalam sample urin 24 jam, on spot pagi, on spot sore, dan on spot malam yang menunjukkan bahwa wilayah tersebut bukan merupakan daerah endemik Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI). Nilai median UIC dalam suatu populasi dapat digunakan untuk mengukur derajat endemisitas GAKI. Kadar UIC digunakan sebagai tanda biokimia untuk mengetahui adanya defisiensi iodium pada suatu wilayah (Dunn et al. 1993).
Nilai median UIC dari sampel urin 24 jam sebesar 178.0 μg/L. Nilai median UIC dari urin on spot pagi, urin on spot sore, dan urin on spot malam berturut-turut sebesar 157.0 μg/L, 162.0 μg/L, dan 172.5 μg/L. Nilai median baik dari UIC on spot maupun UIC 24 jam pada penelitian ini lebih rendah dibandingkan dengan nilai median UIC anak usia sekolah (6-12 tahun) di Indonesia berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 (224.0
μg/L) dan pada tahun 2013 (215.0 μg/L) sedangkan untuk Jawa Barat - Banten nilai median anak usia sekolah pada tahun 2013 sebesar 230.0 μg/L (Kartono et al. 2016; Kemenkes 2013), namun subjek dalam penelitian ini masih dalam kategori cukup iodium bila dilihat dari nilai median.
Beberapa negara yang memiliki cukup asupan iodium juga memiliki asupan iodium yang berlebih, beberapa laporan menunjukkan bahwa kelebihan asupan iodium ditemukan di beberapa daerah dan negara, seperti Jepang, Cina dan India (Zou et al. 2014; Fuse et al. 2007; Kapil et al. 2010). Di Jepang, 16% dari anak-anak sekolah memiliki rata-rata UIC yang tinggi (Fuse et al. 2007). Survei
21 UIC 130 negara menunjukkan bahwa 31.5% defisiensi iodium. 47 negara menunjukkan defisiensi iodium dan 7 negara memiliki status iodium yang berlebih (Pearce et al. 2013). Penelitian ini terdapat iodium lebih dari cukup (≥
200 μg/L) yaitu dilihat dari nilai maksimum UIC untuk UIC 24 jam sebesar 297.0
μg/L dan untuk UIC on spot pagi, on spot sore, dan on spot malam masing-masing sebesar 245.0 μg/L, 252.0 μg/L dan 277.0 μg/L (Lampiran 2). Kelebihan iodium dapat berakibat sama seperti bila kekurangan iodium yaitu hipertiroidisme, tiroiditis autoimun, hipotiroidisme, dan gondok. Paparan kronis asupan iodium yang tinggi dikaitkan dengan perkembangan gondok, peningkatan kadar serum thyrotropin, perubahan volume tiroid, dan pengembangan antibodi tiroid (Zimmermann et al. 2013). Tidak semua individu yang kelebihan iodium menunjukkan tanda-tanda adanya kelebihan iodium, hanya pada individu yang rentan saja. Namun tubuh memiliki mekanisme biologis untuk mencegah kelebihan iodium, pada saluran cerna memiliki kemampuan mengurangi uptake iodium dan tubuh dapat memproduksi hormon tiroid kaya iodium (Leung et al. 2014).
Validasi UIC On Spot
Uji validasi dilakukan pada UIC on spot terhadap UIC 24 jam dengan menggunakan uji korelasi untuk melihat p-value dan koefisien korelasi (r) yang diperoleh serta menggunakan sensitivitas dan spesifisitas. Se untuk menilai kemampuan UIC anak sekolah subjek yang defisiensi iodium dari UIC on spot dan juga defisiensi iodium berdasarkan UIC 24 jam. Sp untuk menilai kemampuan UIC anak sekolah subjek yang defisiensi iodium dari UIC on spot dan juga defisiensi iodium berdasarkan UIC 24 jam.
Korelasi UIC on spot dan UIC 24 jam
Pada studi populasi, penggunaan urin on spot digunakan untuk menghindari kesulitan prosedur pengumpulan urin 24 jam. Berbagai studi menunjukan bahwa UIC urin on spot baik di pagi hari maupun di waktu lain memberikan pengukuran yang adekuat dari status iodium. Kadar UIC merupakan tanda biokimia yang dapat digunakan untuk mengetahui adanya defisiensi iodium dalam suatu wilayah. Analisis nilai UIC digunakan sebagai indikator untuk mengukur jumlah asupan iodium yang dikonsumsi, dimana hampir sebagian besar iodium dalam tubuh akan diekskresikan melalui urin. Iodium dalam tubuh pada kelenjar tiroid terjadi transport aktif iodida, sebanyak 115 μg diambil kelenjar tiroid selama 24 jam, kira-kira 75 μg digunakan untuk sintesa hormon tiroid dan disimpan dalam tiroglobulin. Pada pool penyimpanan sekitar 75 μg iodida sebagai T3 dan T4 digunakan untuk metabolisme jaringan. Sekitar 60 μg hormonal iodida kembali ke pool dan 15 μg sisanya berkonjugasi dengan asam glukoronat atau asam sulfat pada hati dan dikeluarkan lewat feses (David et al. 2007).
Secara keseluruhan terdapat 44 total sampel urin 24 jam dan sampel urin on spot. Nilai median UIC on spot pagi, UIC on spot sore, UIC on spot malam, dan UIC 24 jam masing masing sebesar 157.0 μg/L, 162.0 μg/L, 172.5 μg/L, dan 178.0 μg/L. Uji korelasi dilakukan pada semua sampel, yang menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara UIC on spot pagi (r= 0.338), UIC on spot sore (r= 0.456),
22
dan UIC on spot malam (r= 0.303) dengan UIC 24 jam (Tabel 6). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mulyantoro et al. (2015) yang menujukkan bahwa terdapat korelasi UIC on spot dengan UIC 24 jam.
Hasil penelitian ini hampir sama yang menunjukkan nilai median UIC pada penelitian ini hampir sama dengan nilai median dari penelitian Chen et al. (2016) yang didapatkan hasil bahwa nilai median UIC on spot lebih rendah daripada nilai median UIC 24 jam namun secara statistik terdapat korelasi antara UIC on spot dan UIC 24 jam. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada Anak usia 7-13 tahun dengan pengulangan 2 kali menunjukkan bahwa hasil dari pengukuran pertama didapatkan median UIC 24 jam 214 μg/L dan median on spot 199 μg/L, dengan sensitivitas 48.6% dan spesifisitas 87.8% sedangkan untuk hasil pengukuran kedua didapatkan median 24 jam UIC 196 μg/L dan median on spot pagi 143 μg/L, dengan sensitivitas 39.6% dan spesifisitas 88.8% (P < 0.05) (Chen et al. 2016).
Tabel 6 Hubungan UIC on spot pagi, sore, urin malam dan UIC 24 jam pada anak sekolah
Variabel UIC 24 Jam
p-value r
UIC on spot pagi 0.025 0.338
UIC on spot sore 0.002 0.456
UIC on spot malam 0.045 0.303
Dengan menggunakan sampel urin 24 jam yang merupakan ''gold standar'' untuk pengukuran asupan iodium dalam penelitian ini, 93.2% anak-anak memiliki cukup iodium. Mengevaluasi asupan iodium baik dari tingkat populasi secara optimal, UIC dari sample urin 24 jam lebih baik. Sample urin selama 24 jam dapat menggambarkan fluktuasi iodium dari hari ke hari. UIC menggunakan urin 24 jam sering digunakan untuk memvalidasi pengukuran asupan iodium (Als et al.2003; Rasmuseen et al. 1999). Meskipun penggunaan UIC dari sampel on spot lebih sederhana daripada menggunakan sampel urin 24 jam, diketahui terdapat kekurangan penggunaan UIC dari sample urin on spot sebagai penanda status iodium penduduk. UIC dari sample urin on spot dapat dipengaruhi dari variasi harian asupan iodium (Konig et al. 2011). Distribusi dari UIC sampel urin on spot jauh lebih luas daripada distribusi ekskresi UIC dari sampel urin 24 jam (Andersen et al. 2001).
Penelitian populasi, menggunakan urin on spot dalam mengevaluasi status iodium dianjurkan untuk menghindari kesulitan prosedur dalam pengumpulan urin 24 jam. Kesulitan pada penelitian ini yaitu mengontrol subjek untuk mengumpulkan urin 24 jam yang dilihat dari 75 subjek yang memiliki urin 24 jam tidak lengkap sebesar 41.3% (31 anak) yang diantaranya dikarenakan waktu pengumpulan urin kurang, urin tumpah, pengumpulan tepat 24 jam tetapi subjek mencampur seluruh urin sehingga tidak bisa didapat urin on spot.
23 Sensitivitas dan Spesifisitas
Data UIC anak sekolah berdasarkan urin on spot dan UIC anak sekolah berdasarkan urin 24 jam dianalisis lebih lanjut dalam analisis validasi. Rata-rata nilai UIC 24 jam adalah 179.8 ± 56.4 μg/L. Berdasarkan median UIC, 6.8% dari anak-anak didefinisikan memiliki status iodium tidak mencukupi. Status iodium dikategorikan oleh UIC on spot pagi, UIC on spot sore, dan UIC on spot malam ditunjukkan pada Gambar 4.
Keterangan : UIC on spot dan 24 jam cukup apabila UIC ≥100 μg/L. Gambar 4 Distribusi status iodium subjek
Sensitivitas dan spesifisitas untuk urin on spot pagi sebesar 33.3% dan 78.1%, sensitivitas dan spesitifitas urin on spot sore sebesar 66.7% dan 75.6%, dan sensitivitas dan spesifisitas untuk urin on spot malam sebesar 33.3% dan 82.9%. Sensitivitas untuk menilai kemampuan UIC berdasarkan urin on spot dalam mengidentifikasi subjek yang defisiensi iodium juga dikatakan defisiensi iodium berdasarkan urin 24 jam. Spesifisitas untuk menilai kemampuan UIC berdasarkan urin on spot dalam mengidentifikasi subjek yang cukup asupan iodium yang juga dikatakan cukup iodium berdasarkan urin 24 jam. Penelitian yang dilakukan pada subjek sehat berusia >18 tahun menunjukkan bahwa konsentrasi iodium dalam sampel urin sore lebih baik (makan siang sampai makan malam) mencerminkan konsentrasi UIC 24 jam. Urin dikumpulkan di sore hari mungkin adalah yang terbaik untuk mengevaluasi kecukupan iodium pada subjek dengan kebiasaan diet yang sama (Frey et al. 1973; Vanacor et al. 2008).
Ritme sirkadian sebanding dengan ekskresi iodium pada anak-anak. Asupan iodium diubah menjadi ion iodida dalam lumen usus dengan cepat >90 persen di usus kecil diserap, dalam waktu 24 jam ≤15 persen iodium diambil oleh
kelenjar tiroid dan diekskresikan oleh ginjal dalam urin sisa dari iodium. Pada keadaan normal sirkulasi iodium di dalam plasma memerlukan waktu 10 jam dan
25 75 20.4 79.6 20.5 79.5 6.8 93.2 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 defisiensi cukup P erse ntase ( % )
UIC on spot pagi UIC on spot sore UIC on spot malam UIC 24 jam
24
waktu bisa lebih singkat pada keadaan kekurangan atau kelebihan dikarenakan kelenjar tiroid yang terlalu aktif. Ritme sirkadian merupakan salah satu dari penentuan waktu 24 jam pengambilan urin. Puncak Ritme sirkadian konsentrasi iodium urin terjadi 4-5 jam setelah makan utama pada orang dewasa (Zimmermann 2008; Rohner et al. 2014). Berdasarkan penelitian yang dilakukan sebelumnya pada anak-anak dan dewasa dengan menggunakan 3023 urin on spot menunjukkan bahwa ritme sirkadian dari UIC pada orang dewasa dan anak-anak tergantung dari individu subjek, usia, jenis kelamin, dan musim. Tingkat UIC terendah yang ditemukan antara 8-11 jam. Kurva diperoleh meningkat secara progresif antara 12 dan 24 jam. Puncak UIC terjadi 4-5 jam setelah makanan utama, puncak anak-anak terjadi paling lambat dibandingkan orang dewasa (Als et al. 2000).
Asupan Iodium
Kecukupan iodium tubuh dinilai dari iodium yang masuk lewat asupan, karena tubuh tidak mampu mensintesis iodium, iodium yang dibutuhkan tubuh sangat sedikit. Penelitian ini data konsumsi pangan diperoleh melalui 1x24 hours food recall, asupan iodium dianalisis berdasarkan Australian Food, Supplement and Nutrient Database 2011-2013 (AUSNUT). Nilai rata-rata jumlah asupan iodium dibandingkan dengan EAR iodium anak usia 10-13 tahun yaitu 100 mg/hari. Rata-rata, persentil 5th, dan persentil 95th asupan iodium masing masing sebesar 83.3 ± 31.9 mg/hari, 44.3 mg/hari, dan 150.3 mg/hari. Rata-rata asupan iodium menurut kelompok jenis kelamin dan usia dijelaskan pada Tabel 7.
Tabel 7 Rata-rata asupan harian iodium
Iodium dalam makanan sebagian besar sebagai iodida organik. Pangan sumber iodium meliputi ikan dan hasil olahannya, cake, sherbet, roti keju, candy bar, susu, es krim, fish sticks, bagel, coklat, sugar cookies, yogurt (Pehrsson et al. 2016). Berdasarkan recall dan di bandingkan dengan AUSNUT didapatkan 74 jenis pangan yang dikonsumsi subjek mengandung iodium, dan terdapat 17.6% bahan pangan yang tidak terkonversi diantaranya berupa jenis ikan air tawar, permen, makanan dan minuman kemasan, daun singkong, caisim, kacang panjang,
Sampel size Rata-rata (mg/hari)
Total 44 83.3 10-11 19 88.9 12-13 25 79.1 Laki Laki 13 73.1 10-11 5 83.2 12-13 8 66.9 Perempuan 31 87.5 10-11 14 90.9 12-13 17 84.7
25 dukuh, nangka dan melinjo. Tabel 8 menampilkan jenis pangan dan makanan sumber iodium yang banyak dikonsumsi subjek.
Tabel 8 Jumlah subjek, rata-rata asupan dan berat pangan sumber iodium yang dikonsumsi
Jenis Pangan Subjek yang
mengonsumsi (%) Rata-rata berat Pangan (g) Rata-rata iodium yang dikonsumsi (mg)
Susu dan olahannya 20.5 % 179.7 36.1
Telur 27.3 % 95.8 51.2
Roti 22.7 % 94.6 68.5
Nasi goreng dengan telur 22.7 % 78.0 26.3
Ikan dan olahannya 79.5 % 76.3 20.3
Coklat 11.4 % 49.2 4.7
Biskuit 29.5 % 46.2 1.4
Bahan pangan yang mengandung tinggi iodium dan paling banyak dikonsumsi subjek antara lain roti, ikan dan olahannya, telur, nasi goreng dengan telur, coklat, susu dan olahannya, dan biskuit. Bahan pangan tersebut merupakan bahan pangan yang tinggi iodium berdasarkan Pehrsson et al. (2016). Pada penelitian ini rata-rata konsumsi pangan yang mengandung tinggi iodium sebesar 74.1 mg, 88.9% dari rata-rata asupan iodium subjek sebesar 83.3 mg. Sedangkan untuk kontribusi dari masing-masing bahan pangan terhadap total asupan iodium yaitu roti 16.2%, ikan dan olahannya 13.5%, telur 17.2%, nasi goreng dengan telur 15.7%, coklat 8.3%, susu dan olahannya 12.8%, dan biskuit 5.1%.
Kelompok ikan dan olahannya yang paling banyak dikonsumsi yaitu 79.5% subjek. Kelompok ikan dan olahannya yang paling banyak dikonsumsi yaitu ikan asin, sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Cianjur menunjukan konsumsi sumber iodium yang paling sering yaitu 68.6% ikan asin dan 66.7% telur, yang dikarenakan kurangnya ketersediaan pangan laut (Amelia et al. 2015). Bahan pangan yang paling banyak dikonsumsi roti memiliki kandungan iodium paling tinggi, sereal termasuk sumber makanan sekunder, khususnya di negara–
negara dimana garam beriodium atau iodat digunakan dalam perusahaan roti. Subjek yang mengkonsumsi telur dan susu dan olahannya masing-masing sebesar 27.3% dan 20.5%. Kandungan iodium dalam susu dan telur sangat bervariasi antar daerah, musim dan jumlah iodium dalam makanan hewan (Hemken 1979). Bioavailabilitas iodium dalam telur diketahui sekitar 30% terutama dalam bentuk iodida, sedangkan bioavailabilitas iodium digaram dapur 100% dalam bentuk iodida (Lipiec et al. 2011).
Berdasarkan rata-rata asupan iodium menunjukkan bahwa asupan iodium dari pangan memenuhi 83.3% EAR. Sebagian besar anak berdasarkan rata-rata asupan harian iodium memiliki asupan iodium yang kurang yaitu sebesar 72.7% (Gambar 5) dengan rata-rata 83.3 ± 31.9 mg/hari, sedangkan angka EAR anak usia sekolah sebesar 100 mg/hari. Kekurangan iodium moderat telah terbukti menyebabkan kelainan perkembangan kecerdasan psikomotor pada anak-anak. Kekurangan iodium pada anak usia sekolah juga dapat mengakibatkan gangguan
26
belajar dan kurangnya prestasi (Zimmermann et al. 2006). Oleh karena itu banyak negara berusaha keras mencegah gangguan defisiensi iodium dengan penggunaan garam beriodium.
Gambar 5 Sebaran subjek berdasarkan katagori asupan iodium
Konsumsi rata-rata garam anak usia 5-12 tahun sebesar 3 g (SKMI 2014) dan rata-rata iodium dalam garam rumah tangga dalam penelitian ini sebesar 22.2 ± 15.1 ppm. Sehingga rata-rata konsumsi garam anak dalam penelitian ini sebesar 66.7 ± 45.4 mg/hari. Secara global, 68% dari rumah tangga memiliki akses terhadap garam beriodium (Pearce et al. 2013). Dari 128 negara sebanyak 37 negara memiliki cakupan iodium garam, 90% dari rumah tangga mengkonsumsi garam beriodium yang cukup. Secara keseluruhan 70% dari rumah tangga di seluruh dunia memiliki akses terhadap garam beriodium (Andersson et al. 2012). Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Kecamatan Getasan menunjukkan bahwa persentase garam rumah memenuhi SNI 30 ppm KIO3 masih rendah (< 50%) dengan median UIE 93 μg/L dalam katagori kekurangan iodium (Kartono et al. 2014). Rumah tangga telah menggunakan garam beriodium sebesar 86% dan 62.3% rumah tangga menggunakan garam mengandung cukup iodium (Kartono et al. 2014).
Pada orang yang defisiensi iodium, hampir 100% asupan iodium dipakai untuk sintesis hormon T3 dan T4 dan disekresikan kedalam sirkulasi. Pada target organ, iodium akan dilepas dari hormon tiroid kembali ke sirkulasi, diekskresikan oleh ginjal ke dalam urin lebih dari 90% (Banundari 2006). Rata-rata asupan iodium dalam penelitian ini sebesar 83.3 ± 31.9 mg/hari, asupan iodium tergolong kurang karena rata-rata asupan subjek dibawah nilai yang dianjurkan menurut WHO, ICCIDD (100 μg/hari untuk anak usia 6–14 tahun). Sebagian besar anak (72.7%) dalam penelitian ini memiliki asupan iodium yang kurang, namun berdasarkan UIC baik dari UIC on spot maupun 24 jam sebagian besar anak memiliki kadar iodium dalam urin cukup. Hal ini mungkin dapat dikarenakan adanya bahan pangan yang tidak terkonversi (17.6 %).
72.7% 27.3%
Kurang Cukup
27
Tabel 9 Rata-rata UIC on spot pagi, UIC sore, UIC malam dan UIC 24 jam pada anak sekolah menurut asupan iodium subjek
Asupan Iodium Urin on spot pagi Urin on spot sore Urin on spot malam Urin 24 Jam Kurang 138.8 ± 62.1 161.4 ± 63.6 165.3 ± 65.2 174.2 ± 55.7 Cukup 162.5 ± 67.0 156.2 ± 69.7 173.5 ± 70.7 194.75 ± 57.9 r 0.112 0.124 0.139 0.254
Dalam Penelitian ini dilakukan uji korelasi antara asupan iodium terhadap UIC urin baik on spot maupun UIC urin 24 jam melalui uji bivariat. Hasil analisis statistik pada tabel 6 menunjukkan tidak ada hubungan asupan iodium dengan UIC on spot dan UIC 24 jam (Lampiran 3). Hal ini mungkin dapat dikarenakan underestimasi terhadap asupan iodium karena tidak terhitung iodium dalam garam yang dikonsumsi serta kandungan iodium dalam air. Asupan iodium diperoleh