• Tidak ada hasil yang ditemukan

DI MITRA TANI FARM

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian

Tempat Penelitian

MT Farm berlokasi di Jalan Baru Manunggal 51, No. 39, RT 04/ RW 05, Desa Tegal Waru, Ciampea, Bogor. Desa Ciampea berada pada ketinggian 219 m di atas permukaan laut dengan curah hujan 400-600 mm per tahun, temperatur udara berkisar 23-300C dan kelembaban 60%-90%. MT Farm didirikan pada bulan September 2004 oleh empat orang sarjana peternakan Institut Pertanian Bogor. Usaha yang dijalankan meliputi penggemukan domba, kambing dan sapi; pembibitan kambing dan domba; penjualan pakan konsentrat dan hijauan; katering aqiqah; budidaya sayur organik dan ikan. Segmentasi pasarnya adalah lembaga aqiqah se- Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi), rumah potong hewan dan konsumen qurban.

MT Farm mempunyai lahan seluas sekitar 4 hektar, terdiri dari bangunan kantor, kandang pembibitan, kandang penggemukan, tempat penyiapan pakan, lahan sayur organik, kolam ikan, lahan rumput, kolam penanganan limbah cair, tempat pemotongan ternak dan rumah karyawan. Sistem perkandangan yang digunakan adalah kandang koloni berbentuk panggung dan nonpanggung. Alas kandang berpanggung terbuat dari bambu dan disusun bercelah, sedangkan nonpanggung terbuat dari semen.

Kandang penggemukan berpanggung terdiri dari empat blok dengan 10 petak di masing-masing blok. Satu petak dapat menampung sekitar 15 ekor ternak, sehingga kapasitas total kandang sekitar 600 ekor. Atap kandang bertipe monitor. Pakan diberikan tiga kali sehari yaitu pada pagi, siang dan sore. Pakan berupa ampas tahu (konsentrat) dan rumput lapang. Tempat pakan berada pada kedua sisi bangunan kandang. Kotoran ternak diolah menjadi pupuk.

Ternak Penelitian

Ternak qurban yang disediakan MT Farm menjelang hari raya Idul Adha tahun 2010 secara lengkap disajikan pada Tabel 2. MT Farm bekerjasama dengan peternak mitra di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat dalam penyediaan kambing maupun domba qurban. Kambing Jawa didapatkan dari Jawa Timur (90%)

17 dan Jawa Tengah (10%), Domba tanduk didapatkan dari Bandung dan Bogor. Domba Gibas didatangkan dari Jawa Timur (80%) dan Jawa Barat (20%). Ternak didatangkan mulai dari satu minggu sampai tiga bulan sebelum qurban. Sebagian besar kambing didatangkan seminggu sebelum qurban. Hal ini dikarenakan kapasitas kandang yang terbatas.

Tabel 2. Kelompok dan Harga Ternak Qurban di MT Farm Tahun 2010

Keterangan: Kambing Jawa= Kambing Jawarandu, Domba Tanduk=Domba Garut dan Domba Ekor Tipis, Domba Gibas= Domba Ekor Gemuk

Pilihan Konsumen Terhadap Hewan Qurban

Menjelang qurban 2010, MT Farm menyediakan 2.000 ekor ternak yang terdiri dari 1.015 ekor kambing, 327 ekor domba tanduk dan 665 ekor Domba Gibas. Kambing qurban disediakan lebih banyak daripada domba karena berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, permintaan kambing lebih banyak. Permintaan tersebut datang dari konsumen asal Jakarta dan atau yang akan di pasarkan di Jakarta. Domba Gibas disediakan lebih banyak daripada domba tanduk karena selain untuk menyediakan permintaan qurban juga untuk menyediakan permintaan konsumen harian yang lebih memilih Domba Gibas. Konsumen tersebut adalah pedagang gulai atau sate dan keperluan aqiqah.

Jumlah keseluruhan ternak yang terjual sebanyak 1.748 ekor. Rincian jumlah dari masing-masing kelompok ternak dan wilayah konsumennya secara lengkap disajikan pada Tabel 3. Data menunjukkan bahwa konsumen Jakarta dan Bogor mendominasi pembelian kambing dan domba qurban dibandingkan Depok, Tangerang, Bandung dan Yogyakarta (Gambar 3).

Kelas Bobot (kg) Harga (Rp)

Kambing Jawa dan Domba Tanduk Domba Gibas

A 22-24 900.000,00 800.000,00 B 25-27 1.000.000,00 900.000,00 C 28-30 1.125.000,00 1.000.000,00 D 31-33 1.250.000,00 1.100.000,00 E 34-36 1.350.000,00 1.200.000,00 F 37-40 1.500.000,00 1.300.000,00

18 Tabel 3. Penjualan Kambing dan Domba Qurban MT Farm Tahun 2010 ke Beberapa

Wilayah Konsumen

No Daerah Tujuan Kambing Domba Tanduk Gibas Total

1 Jakarta 803 4 61 868 2 Bogor 84 239 248 571 3 Depok 44 1 2 47 4 Tangerang 64 3 1 68 5 Bandung 6 15 0 21 6 Yogyakarta 0 58 115 173 Total 1001 320 427 1748

Gambar 3. Diagram Distribusi Ternak Qurban di Beberapa Wilayah Konsumen Sebesar 80,22% kambing terjual ke Jakarta, sedangkan 74,69% domba tanduk dan 58,08% Gibas ke Bogor. Hasil uji khi kuadrat menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata (P<0,05) antara daerah konsumen dengan jenis ternak yang dibeli. Konsumen Jakarta, Depok dan Tangerang nyata (P<0,05) lebih memilih kambing daripada domba, sedangkan konsumen Bogor nyata (P<0,05) lebih memilih domba (tanduk maupun tidak) daripada kambing. Ternak yang daerah tujuannya ke Bandung dan Yogyakarta, pembelinya adalah lembaga sosial yang kemudian mendistribusikannya ke daerah tersebut. Dalam pembeliannya, lembaga tersebut tidak menyebutkan jenis ternak yang dikehendaki, tetapi disesuaikan dengan dana

0 200 400 600 800 1000 Jak art a Bo gor D ep ok T ang era n g Ba nd ung Y og ya kart a Konsumen Jum la h T erna k (e kor ) Gibas Domba Tanduk Kambing

19 yang disediakan tanpa mengabaikan syarat yang berlaku seperti umur dan kesehatan. Distribusi ke Yogyakarta dipusatkan di daerah korban bencana gunung merapi.

Karakteristik Kuantitatif Kambing dan Domba Qurban Bobot Badan

Rataan bobot badan domba dan kambing qurban di MT Farm secara lengkap disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Rataan Bobot Badan Kambing dan Domba Qurban

Jenis Ternak Bobot Badan (kg) Kelas

DG (n=37) 29,32±3,61A B-D

DET (n=25) 28,45±5,54A A-E

DEG (n=35) 28,44±4,65A A-E

KJR (n=83) 25,84±4,54B A-D

Rataan (n=180) 27,43±4,75 A-D

Keterangan: DG= Domba Garut, DET= Domba Ekor Tipis, DEG= Domba Ekor Gemuk, KJR= Kambing Jawarandu, BB= bobot badan, LD= lingkar dada, PB= panjang badan, Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan hasil sangat beda nyata (P<0,01).

Hasil uji statistik menunjukkan bahwa rataan bobot badan antara bangsa Domba Garut, Domba Ekor Tipis dan Domba Ekor Gemuk tidak berbeda nyata (P>0,05). Hasil ini tidak sesuai dengan pendapat Handiwirawan et al. (2011) bahwa perbedaan bangsa mempengaruhi pertumbuhan, ternak dari satu bangsa tertentu cenderung tumbuh dan berkembang dalam suatu sifat yang khas sehingga merupakan sifat khas bangsanya. Hal ini mungkin disebabkan karena beberapa faktor, pertama kualitas domba yang digunakan pada penelitian Handiwirawan et al. (2011) secara genetik jauh lebih baik dan seragam. Kedua, faktor lingkungan seperti pakan berbeda.

Domba di MT Farm berasal dari beberapa peternak di berbagai daerah dengan kondisi lingkungan dan manajemen pemeliharaan berbeda, sehingga meskipun ada waktu penggemukan dengan pakan, kondisi kandang serta lingkungan yang sama ketika di MT Farm, mungkin tidak memberikan pengaruh yang nyata. Bobot badan Domba Garut pada penelitian ini lebih rendah dari bobot yang ditetapkan Departemen Pertanian (2011) mengenai rumpun Domba Garut, yaitu

20 57,74±11,9 kg. Perbedaan yang sangat jauh ini dimungkikan Domba Garut di MT Farm sudah tidak murni, hasil perkawinan dengan domba-domba lokal lainnya.

Rataan bobot badan Kambing Jawarandu terlihat sangat nyata berbeda (P<0,01) dengan Domba Garut dan Domba Ekor Gemuk, sedangkan dengan Domba Ekor Tipis berbeda nyata (P<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan spesies mempengaruhi ukuran atau bobot badan. Secara umum, bobot badan dari domba dan kambing qurban di MT Farm berkisar 21,3-32,93 kg. Ternak dengan bobot tersebut masuk pada kelas A-D dengan harga Rp 800.000,00-Rp 1.250.000,00. Rataan bobot badan domba maupun kambing qurban yang tidak mencapai 35 kg atau lebih besar dari itu tidak berarti bahwa sulit mendapatkannya, tetapi dalam hal ini MT Farm menyesuaikan dengan permintaan dan daya beli konsumen. Hadist tentang qurban menganjurkan untuk memilih ternak yang gemuk. Umumnya, konsumen akan memilih ternak yang berbobot besar dengan performa yang baik, terlebih jika tujuannya untuk keperluan ibadah. Akan tetapi, keingingan itu tidak selalu dapat terpenuhi jika sudah bersinggungan dengan daya beli dan faktor lain.

Lingkar Dada dan Panjang Badan

Rataan lingkar dada dan panjang badan domba dan kambing qurban di MT Farm secara lengkap disajikan pada Tabel 5 dan 6. Hasil uji statistik memperlihatkan bahwa ukuran panjang badan domba tidak berbeda nyata diantara ketika bangsa yang berbeda maupun dalam bangsa yang sama pada kelas yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa parameter panjang badan dinilai kurang tepat jika digunakan sebagai pedoman untuk mendapatkan domba yang berkelas (berbobot) tinggi.

Secara keseluruhan, adanya perbedaan kelas menunjukkan ukuran lingkar dada yang sangat berbeda nyata antara Domba Garut dan Domba Ekor Tipis dengan Domba Ekor Gemuk. Ukuran lingkar dada domba pada bangsa yang sama tetapi berbeda kelas juga menunjukkan hasil yang berbeda nyata. Berbeda dengan domba, secara umum adanya perbedaan kelas pada Kambing Jawarandu mempunyai ukuran lingkar dada dan panjang badan yang berbeda. Setiap komponen tubuh mempunyai kecepatan pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda karena pengaruh genetik maupun lingkungan (Doho, 1994).

21 Tabel 5. Rataan Ukuran Tubuh Domba Qurban

Parameter Ukuran

Tubuh

DG DET DEG

---cm---

Berdasarkan Keseluruhan Data

LD 69,93±5,56A 69,36±5,04A 65,54±4,83B PB 55,15±4,76 54,64±4,50 53,36±3,17 Berdasarkan Kelas LD A-C 68,30±4,46A` 67,12±4,37A 63,52±3,90B D-F 74,35±6,04A 74,13±2,30AB 70,60±2,80AC PB A-C 54,30±4,34 53,74±4,48 52,58±3,17 D-F 57,45±5,31 56,56±4,18 55,30±2,30

Keterangan: DG= Domba Garut, DET= Domba Ekor Tipis, DEG= Domba Ekor Gemuk, LD= Lingkar Dada, PB= Panjang Badan, Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan hasil sangat beda nyata (P<0,01).

Tabel 6. Rataan Ukuran Tubuh Kambing Qurban Ukuran Tubuh Berdasarkan Keseluruhan Data Berdasarkan Kelas A (n=37) B (n=16) C (n=15) D-F (n=15) LD 63,92±6,24 59.91±4.06A 63.47±2.35B 67.03±3.77C 73.25±6.36D PB 53,22±6,17 49.82±4.49A 52.34±2.80B 55.43±5.70BC 61.67±5.38D

Keterangan: Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan hasil sangat beda nyata (P<0,01).

Analisi Regresi dan Korelasi antara Ukuran Tubuh dengan Bobot Badan Kambing dan Domba Qurban

Lingkar dada dan panjang badan memiliki korelasi atau hubungan erat dengan bobot badan Doho (1994). Hasil analisis regresi dan korelasi antara lingkar dada dan panjang badan kambing maupun domba qurban secara lengkap disajikan pada Tabel 7. Tabel 7 memperlihatkan bahwa nilai korelasi lingkar dada dengan bobot badan lebih besar daripada panjang badan dengan bobot badan. Hasil serupa juga diperoleh pada penelitian yang dilakukan oleh Suswati (2010) dan Meivilia (2011). Lingkar dada adalah bagian tubuh yang mengalami perbesaran ke arah

22 samping. Pertambahan bobot badan ternak menyebabkan hewan bertambah besar dan diikuti dengan pertambahan dan perkembangan otot yang ada di daerah dada sehingga ukuran lingkar dada semakin meningkat (Doho, 1994).

Tabel 7. Analisis Regresi dan Korelasi antara Ukuran Tubuh dengan Bobot Badan Pada Domba dan Kambing Qurban

Parameter

Bangsa Persamaan Korelasi

(r) R2 (adj) (%) LD-BB DG y= 104 - 2,52 x + 0,021 x2 0,746** 63,6 DET y= 345,6 - 10,13 x + 0,080 x2 0,708** 61,9 DEG y= 2.460 - 111,1x + 1,67 x2 - 0,008 x3 0,845** 76 KJR y= 533,3 - 23,96 x + 0,37 x2 - 0,002 x3 0,812** 69,8 PB-BB DG y= 0,353 x + 9,85 0,466** 19,5 DET y= 0,710 x - 10,3 0,577** 30,4 DEG y= 0,718 x - 9,9 0,490** 21,7 KJR y= 0,585 x - 5.27 0.794** 62,7

Keterangan: LD= lingkar dada, PB= panjang badan, x= lingkar dada/ panjang badan, DG= Domba Garut, DET= Domba Ekor Tipis, DEG= Domba Ekor Gemuk, KJR= Kambing Jawarandu, ** = sangat nyata (P<0,01), R2=Kofisien Determinasi.

Penelitian yang dilakukan oleh Herman et al. (1985) mendapatkan hasil bahwa lingkar dada memiliki koefisien pertumbuhan (0,3286) yang paling tinggi dibandingkan ukuran tubuh yang lain. Lingkar dada mempunyai proses pertumbuhan terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai penduga bobot tubuh, lingkar dada masih lebih mengikuti pertambahan bobot badan selama ternak tumbuh dibandingkan dengan ukuran tubuh lainnya (Herman et al., 1985). Hal inilah yang menyebabkan lingkar dada dapat lebih akurat dalam menduga bobot hidup ternak.

Selain itu, pengukuran lingkar dada lebih mudah dan akurat dibandingkan ukuran tubuh lainnya (Slippers et al., 2000) karena dapat diukur pada ternak dengan posisi apapun. Ukuran lingkar dada tidak dipengaruhi oleh posisi berdiri ternak (Suswati, 2010). Fourie et al. (2002) menambahkan bahwa lingkar dada selalu menjadi parameter penentu bobot badan pada tiap persamaan pendugaan bobot badan, bahkan menjadi parameter utama.

23 Nilai ketepatan R2 (adj) yang dihasilkan pada grafik kuadratik antara bobot badan dengan lingkar dada Domba Garut dan Domba Ekor Tipis lebih besar daripada yang dihasilkan pada grafik linier atau pangkat tiga, sedangkan pada Domba Ekor Gemuk dan Kambing Jawarandu nilai ketepatan R2 (adj) yang dihasilkan lebih besar pada grafik pangkat tiga. Hal ini menunjukkan bahwa model grafik kuadratik lebih tepat digunakan untuk menggambarkan hubungan bobot badan (y) terhadap lingkar dada (x) pada Domba Garut dan Domba Ekor Tipis, sedangkan model grafik pangkat tiga lebih tepat digunakan untuk menggambarkan hubungan bobot badan (y) terhadap lingkar dada (x) pada Domba Ekor Gemuk dan Kambing Jawarandu karena nilai ketepatan R2 (adj) yang dihasilkan lebih besar dibandingkan nilai R2 (adj) pada grafik lainnya sehingga nilai errornya akan lebih rendah.

Bentuk persamaan yang tidak linier antara bobot badan (y) dengan lingkar dada (x) menunjukkan bahwa pola pertambahan bobot badan antarwaktu sehubungan dengan perubahan lingkar dada adalah tidak tetap. Bobot badan rendah pada permulaan, naik pada tahap pertengahan dan turun ketika di akhir siklus hidupnya. Hal ini berbeda dengan hubungan antara bobot badan dengan panjang badan. Nilai ketepatan R2 (adj) yang dihasilkan pada grafik linier antara bobot badan dengan panjang badan lebih besar daripada yang dihasilkan pada grafik nonlinier, sehingga model grafik linier lebih tepat digunakan untuk menggambarkan hubungan bobot badan (y) terhadap panjang badan (x).

Umur Ternak Qurban

Umur ternak yang akan dijadikan qurban adalah salah satu syarat qurban. Persentase umur kambing dan domba qurban di MT Farm disajikan pada Tabel 8. Data menunjukkan bahwa 63,86%kambing qurban berumur kurang dari satu tahun. Berdasarkan syariah maka sebanyak 63,86%kambing tersebut belum sah dijadikan qurban karena syarat umur kambing yang akan dijadikan qurban adalah minimal genap berumur 1 tahun, sedangkan domba minimal genap berumur enam bulan (Muhammad, 2002). Banyaknya kambing yang belum cukup umur tersebut tidak berarti bahwa MT Farm tidak memperhatikan fakor umur ternak qurban, tetapi hal tersebut adalah pilihan konsumen sendiri. Tingginya permintaan kambing qurban yang tidak setara dengan jumlah kambing cukup umur membuat konsumen memilih

24 berqurban dengan kambing apa adanya daripada tidak berqurban. Dalam kondisi tersebut, MT Farm pun tidak kuasa melarang.

Tabel 8. Persentase Umur Ternak Qurban Jenis Ternak Umur Jumlah I0 I1 I3 Domba 57,73 (n=56) 37,11 (n=36) 5,16 (n=5) 100 (n=97) Kambing 63,86 (n=53) 30,12 (n=25) 6,02 (n=5) 100 (n=83) Keterangan: I0=< 1 tahun, I1=l-2 tahun, I2= 2 -3 tahun, DG= Domba Garut, DET= Domba Ekor Tipis,

DEG= Domba Ekor Gemuk.

Hal tersebut adalah gambaran di MT Farm yang bisa jadi merupakan gambaran di beberapa peternakan penyedia kambing qurban. Jika hal tersebut terjadi secara terus menerus setiap tahunnya akan menimbulkan dampak kurang baik. Pertama, dari segi sah tidaknya pelaksanaan ibadah qurban. Kedua, dari segi sistem produksi ternak. Budidaya ternak memerlukan pejantan dengan sifat-sifat unggul untuk dapat menghasilkan anakan dengan performa yang lebih baik. Oleh karena itu, diperlukan sistem produksi yang tepat dalam rangka menyediakan ternak qurban khususnya kambing sehingga permintaan kambing qurban yang tinggi dapat didukung dengan persyaratan yang sesuai syariah tanpa melupakan persediaan ternak pejantan unggul. Sistem yang mungkin dapat dilakukan adalah melakukan konsep pemeliharaan yang terpusat di suatu daerah atau kawasan yang dilengkapi dengan sistem seleksi yang baik sehingga pejantan dengan sifat-sifat yang unggul dapat diselamatkan untuk dijadikan pemacek.

Penetapan syarat umur ternak qurban pasti mengandung hikmah di dalamnya. Ilmu pengetahuan menilai bahwa salah satu faktor adanya perbedaan syarat umur antara kambing dengan domba yang akan dijadikan qurban mungkin terkait dengan kualitas daging yang akan dihasilkan. Faktor umur merupakan salah satu hal yang menentukan kualitas dan komposisi daging (Soeparno, 2005).

Karakteristik Kualitatif Kambing dan Domba Qurban Warna Bulu

Persentase warna bulu dominan kambing dan domba qurban secara lengkap disajikan pada Tabel 9. Data menunjukkan bahwa warna bulu dominan yang terdapat

25 pada domba adalah putih (P) hitam (H) dan coklat (C). Dari ketiga warna tersebut, warna bulu (P) pada domba memiliki persentase terbesar (45,45%-100%). Warna dominan Domba Garut pada penelitian ini sesuai dengan hasil Riwantoro (2005) yang mendapatkan warna dasar Domba Garut adalah hitam, putih dan coklat. Warna putih dan hitam banyak dijumpai pada Domba Garut jantan tipe daging.

Tabel 9. Persentase Domba dan Kambing Qurban Berdasarkan Warna Bulu Dominan

Jenis Ternak Putih Hitam Coklat Jumlah

DG 45,45 (n=16) 36,36 (n=13) 18,18 (n=6) 100 (n=37)

DET 100 (n=25) - - 100 (n=25)

DEG 100 (n=35) - - 100 (n=35)

KJR 19,28 (n=16) 26,51 (n=22) 54,22 (n=45) 100 (n=83) Rataan 51,11 (n=92) 19,44 (n=35) 28,33 (n=51) 100 (n=180) Keterangan: DG= Domba Garut; DET= Domba Ekor Tipis; DEG= Domba Ekor Gemuk;

KJR= Kambing Jawarandu.

Departemen Pertanian (2011) menjelaskan lebih lanjut bahwa warna tubuh dan kepala dominan Domba Garut adalah kombinasi hitam-putih. Dari ketiga bangsa domba yang diamati, tampak bahwa keragaman warna bulu berdasarkan fenotipik pada Domba Garut lebih tinggi dari Domba Ekor Tipis dan Domba Ekor Gemuk. Domba Ekor Gemuk dan Domba Ekor Tipis mempunyai keserupaan frekuensi fenotipik. Warna bulu Domba Ekor Gemuk dan Domba Ekor Tipis yang sudah seragam ini dimungkinan warna bulu domba tersebut sudah murni.

Menurut Kartika (2008), kebanyakan bangsa domba mempunyai fenotip berwarna putih karena gen warna putih (Awt) mempunyai sifat dominan dengan penetrasi yang lengkap terhadap warna lain sehingga akan menutup semua gen apapun yang mengatur pemunculan warna. Salah satu lokus penentu utama warna bulu pada kebanyakan domba adalah lokus Agouti. Inounu et al. (2009) menjelaskan lebih lanjut bahwa 65,7% domba berpenampakan umum warna putih yang ditentukan oleh lokus Agouti yang meliputi lima kelompok fenotip yaitu white atau tan, wild, badgerface, light badgerface, black dan tan.

Warna bulu dominan yang terdapat pada Kambing Jawa adalah hitam (H), coklat (C) dan putih (P). Warna bulu (H) terdiri dari hitam polos dan hitam dengan belang. Kambing Jawarandu dengan warna (P) terdiri dari putih polos dan belang,

26 baik belang hitam maupun coklat. Kambing Jawarandu dengan warna dominan (C) tampak lebih beragam dibandingkan dengan kelompok (H) dan (P), yaitu coklat tua polos, coklat muda polos, coklat dengan belang besar, belang kecil hitam maupun putih, coklat dengan garis punggung hitam. Pola warna pada Kambing Jawarandu coklat yang diamati ada tiga macam, yaitu: coklat polos atau coklat dengan hitam, coklat dengan putih atau kombinasi tiga warna tersebut. Dari ketiga kelompok warna bulu dominan, persentasenya dari yang terbesar secara berturut-turut adalah kelompok C (54,22%), H (26,51%) dan P (19,28%).

Beragamnya warna bulu kambing yang diamati mengindikasikan bahwa semakin terbuka peluang untuk melakukan seleksi pembentukkan warna-warna tertentu yang khas jika dibutuhkan. Hadist tentang qurban menjelaskan bahwa warna bulu ternak qurban yang utama sebaiknya berwarna putih, adapun jika didapati kambing atau domba qurban yang berwarna coklat, hitam atau yang lainnya maka tetap sah selama ternak tersebut sehat, tidak buta atau lumpuh.

Tanduk

Ada tidaknya tanduk domba dan kambing qurban yang ada di MT Farm dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Persentase Domba dan Kambing Qurban Berdasarkan Pertandukan

Pertandukan %

Bertanduk 75,57 (n=1321)

Tidak bertanduk 24,43(n=427)

Jumlah 100 (n=1748)

Berdasarkan pengamatan yang didapatkan, 75,57% kambing dan domba qurban bertanduk, sisanya sebesar 24,43% tidak bertanduk. Hadist tentang qurban menjelaskan bahwa domba maupun kambing yang bertanduk lebih utama digunakan sebagai qurban. Hasil uji beda menunjukkan bahwa domba yang bertanduk nyata bernilai jual lebih tinggi daripada yang tidak bertanduk (P<0,05) meskipun bobotnya sama. Tanduk pada seekor ternak merupakan salah satu parameter penilaian penampilan individu ternak (Noor, 2008). Utuh tidaknya tanduk juga dapat mempengaruhi penilaian penampilan ternak. Muhammad (2010) menyatakan bahwa

27 ternak yang terpotong separuh tanduknya atau ada cacat dan tidak bertanduk dinilai makruh untuk dijadikan qurban.

MT Farm melayani pembelian ternak qurban dalam jumlah sedikit maupun banyak, konsumennya terdiri dari pedagang dan konsumen akhir (baik perorangan maupun lembaga). Beberapa konsumen tersebut memperhatikan karakteristik ternak sebagai kriteria dalam pembelian. Persentase perhatian konsumen terhadap kriteria ternak qurban dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Persentase Kriteria Ternak Penentu Konsumen Qurban

Kriteria Pedagang Konsumen Akhir

Bobot badan (postur) 66,67 (n= 20 ) -

Umur 16,67 (n= 5 ) 6,67 (n= 5 )

Warna Bulu 3,3 (n= 1 ) 10 (n= 3)

Tanduk 3,3 (n= 1 ) 70 (n= 21 )

Tanpa kriteria 10,06 (n= 3) 3,3 (n= 1)

Adanya karakteristik ternak qurban yang disyariatkan pada akhirnya menyebabkan adanya pilihan yang jelas diantara konsumen atau penyedia yang mengetahui dan memahaminya dalam membeli atau menyediakan ternak. Bagi yang tidak mengetahui syariat tersebut dimungkinkan adanya pilihan yang berubah-ubah sebagaimana pendapat Peter dan Olson (1999) bahwa perilaku konsumen adalah dinamis. Seorang konsumen, kelompok konsumen, serta masyarakat luas selalu berubah dan bergerak sepanjang waktu. Berdasarkan Tabel 12 dapat diketahui bahwa perhatian konsumen qurban terhadap kriteria umur dan warna bulu ternak terlihat rendah dibandingkan dengan bobot badan dan tanduk.

Hasil uji khi kuadrat menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata (P<0,05) antara pedagang dan konsumen akhir dalam pemilihan kriteria ternak qurban. Pedagang nyata (P<0,05) lebih memilih kriteria bobot badan (postur) daripada kriteria lain, sedangkan konsumen akhir nyata (P<0,05) lebih memilih kriteria tanduk. Konsumen akhir juga membeli berdasarkan anggaran dana yang sudah disiapkan.

Adanya syariat yang menyatakan bahwa domba yang tidak bertanduk hukumnya makruh untuk dijadikan qurban secara tidak langsung memberikan isyarat

28 pentingnya untuk melestarikan bangsa domba yang bertanduk, tetapi tidak berarti juga bahwa tidak penting melestarikan domba yang tidak bertanduk. Melestarikan keduanya adalah penting untuk memenuhi kebutuhan pangan, pertanian dan perkembangan sosial masyarakat di masa kini dan yang akan datang. Berbeda dengan domba yang secara genetik ada yang tidak bertanduk, pada semua bangsa kambing ditemukan adanya tanduk meskipun besar atau panjangnya berbeda-beda.

Dengan demikian, ada tidaknya tanduk pada kambing bukanlah suatu pilihan, tetapi yang menjadi pilihan yaitu mengenai bobot atau postur tubuh. Konsumen cenderung memilih kambing yang postur tubuhnya terlihat tinggi atau besar, padahal belum tentu bobotnya besar. Jika demikian, maka konsumen akan memilih Kambing Jawarandu daripada Kambing Kacang sebagaimana yang sudah terjadi di MT Farm dan pada akhirnya dikhawatirkan populasi Kambing Kacang akan menurun. Dengan demikian, diperlukan upaya pengelolaan sumber daya genetik ternak-ternak yang ada. Menurut Food and Agriculture Organization (2007), pengelolaan sumber daya genetik yang efektif memerlukan SDM yang terlatih, fasilitas yang mencukupi dan struktur organisasi yang tepat (misal untuk pencatatan ternak dan evaluasi genetik) maupun keterlibatan stakeholder yang cukup beragam (khususnya pemulia dan pemelihara ternak).

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Rataan bobot badan Kambing Jawarandu, Domba Garut, Domba Ekor Tipis dan Domba Ekor Gemuk sebagai hewan qurban di MT Farm secara berturut-turut

Dokumen terkait