• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lingkungan merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan ternak. Tempat yang digunakan untuk penelitian berada di Laboratorium Lapang bagian Ruminansia kecil, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor yang berlokasi di kecamatan Darmaga dengan ketinggian 500 m dari permukaan laut. Lahan di bagian Ruminansia Kecil terdiri atas bangunan kantor, kandang kelinci, kandang penggemukan dan pembibitan domba serta tempat pemotongan ternak. Di belakang kandang terdapat padang penggembalan dengan rumput Brachiaria humidicola sebagai pakan utama domba.

Penelitian dilakukan di kandang penggemukan. Kandang terdiri atas tiga blok dengan kapasitas tampung 15 ekor per blok. Kandang individu yang digunakan untuk penelitian terletak di blok bagian pinggir. Tipe kandang yang digunakan merupakan tipe dinding tertutup dan tipe atap gravitasi (gable type). Ukuran kandang yang terlalu luas memungkinkan domba melakukan aktivitas lebih banyak sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan domba. Gambaran kondisi lingkungan di sekitar tempat penelitian tercantum dalam Tabel 2.

Tabel 2. Parameter Iklim Daerah Darmaga dan Sekitarnya Tahun 2008

Parameter Bulan

Maret April Mei

CH Total/bulan (mm/m2) 672,60 527,00 277,10 CH Rataan/hari (mm/m2) 21,70 17,57 8,94 CH Min (mm/m2) 0,00 0,00 0,00 CH Max (mm/m2) 104,5 67,5 70,0 Suhu (0C) 25,07 25,57 25,83 Kelembaban (%) 87 86 82 CH : Curah Hujan

Sumber : Badan Meteorologi dan Geofisika Darmaga-Bogor, 2008 Waktu Pengukuran : setiap hari diukur pada pukul 07.00; 13.00 dan 18.00

Hujan masih sering terjadi pada awal penelitian dan semakin berkurang pada minggu ketiga dan selanjutnya fluktuatif tetapi tidak sesering pada minggu pertama dan kedua. Curah hujan di sekitar penelitian mengalami penurunan dari bulan Maret

sampai awal Mei 2008 seperti tercantum dalam Tabel 4. (BMG, 2008). Suhu udara dan kelembaban juga fluktuatif selama penelitian sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan domba. Keadaan lingkungan akan mempengaruhi kondisi ternak, kesehatan dan konsumsi pakan. Suhu dan curah hujan yang tinggi pada minggu kelima dan keenam sangat berpengaruh terhadap kondisi ternak yang mengakibatkan rata-rata konsumsi pakan menurun.

Hal ini didukung oleh pernyataan Anggorodi (1990) yang mengemukakan bahwa iklim dan suhu lingkungan dapat mempengaruhi tingkat nafsu makan dan jumlah makanan yang dikonsumsi ternak. Suhu dan kelembaban yang tinggi akan menyebabkan rendahnya konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan yang rendah pula.

Kondisi Ternak

Ternak yang digunakan dalam penelitian diperoleh dari peternakan Mitra Tani Farm yang dibeli dari pedagang pengumpul di Cianjur, Jawa Barat. Ternak yang dipilih adalah bakalan yang sehat, kurus dan normal (tidak cacat). Ternak-ternak tersebut sampai ditempat penelitian pada rabu siang dan dilakukan adaptasi pakan selama selama satu minggu. Adaptasi pakan dilaksanakan sesuai perlakuan yang dilakukan pada penelitian. Pada hari kedua adaptasi, satu ekor domba ada yang sakit sehingga dikembalikan ke Mitra Tani Farm dan ditukar dengan domba baru dan dilanjutkan adapatasi pakan sesuai rancangan yang telah dilakukan.

Pada awal penelitian, domba yang digunakan adalah 12 ekor dan ditempatkan pada kandang individu secara acak. Pada akhir penelitian, domba yang digunakan hanya 9 ekor. Hal ini dikarenakan selama penelitian berlangsung, pada minggu ke-3 satu ekor domba P2 tidak diberi pakan sesuai perlakuan karena domba tidak mau mengkonsumsi ransum komplit. Satu ekor domba P1 mempunyai pertumbuhan yang jelek dikarenakan penyakit cacingan selama pemeliharaan. Hal ini dapat dilihat setelah domba dipotong yaitu terdapat cacing parasit pada rumen dan retikulumnya. Sedangkan satu ulangan pada P3 tidak dimasukkan dalam analisis ragam sehingga data yang digunakan seimbang.

Gangguan kesehatan yang terjadi selama penelitian adalah penyakit radang sekitar bibir (keropeng/orf) dan penyakit mata. Penyakit orf ditandai dengan bintik-bintik pada sekitar bibir yang kemudian membesar dan menyebabkan ternak sukar

makan dan kondisinya menurun serta mudah menular. Penyakit orf hampir menimpa sebagian ternak pada minggu pertama dan kedua penelitian yaitu tiga ekor pada P1 dan tiga ekor pada P3. Hal ini dimungkinkan karena rumput Brachiaria humidicola yang agak tajam sehingga dapat melukai bibir ternak. Penyembuhan dilakukan dengan pemberian Garamycin salep yang dioleskan pada bagian yang ditumbuhi keropeng yang sebelumnya dilakukan pembersihan bibir terlebih dahulu dengan air.

Penyakit mata ditandai dengan keluarnya cairan mata dan mata berwarna merah. Cairan tersebut menjadi putih kotor dan menutupi bagian mata sehingga ternak tidak dapat melihat sempurna. Pengobatan dilakukan dengan pemberian

Erlamycetin salep sampai penyakit yang diderita hilang. Gejala lain yang diderita

oleh ternak pada saat penelitian yaitu mencret yang dimungkinkan penyebabnya adalah rumput yang basah dan diduga terdapat cacing yang ikut masuk dalam saluran pencernaan. Selain itu, setelah domba dipotong ditemukan adanya sampah plastik dalam saluran pencernaan yaitu dua ekor domba P1, satu ekor domba P2 dan satu ekor domba P3. Plastik-plastik tersebut kemungkinan termakan domba sebelum waktu penelitian, yaitu pada saat ternak berada di pasar. Adanya plastik dalam saluran pencernaan dimungkinkan akan mengganggu proses pencernaan sehingga pertumbuhan domba juga terganggu.

Pekerjaan untuk mengurai tubuh hewan sangat diperlukakan ketelitian yang tinggi. Penjumlah bobot organ-organ tubuh setelah pengeruaian sebesar 97,04 % atau susut 2,96 % untuk perlakuan P1 pada bobot potong 17,27 kg, kemudian setelah penguraian sebesar 96,70 % atau susut 3,3 % untuk perlakuan P2 pada bobot potong 19,56 kg dan 96,96 % atau susut 3,04 % untuk perlakuan P3 pada bobot potong 16,68 kg. Susut atau perbedaan jumlah bobot setelah penguraian dengan bobot potong ini disebabkan oleh tidak tertampungnya sebagian kecil cairan rumen ketika dilakukan pemotongan.

Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap kualitas karkas dan daging diantaranya adalah zat nutrisi dan konsumsi pakan, umur dan berat tubuh ternak saat dipotong, bahan aditif, dan stres. Kebutuhan zat nutrisi bisa jadi merupakan faktor lingkungan yang terpenting yang mempengaruhi komposisi karkas dan daging. Ternak yang mengkonsumsi pakan dengan kandungan energi tinggi akan meningkatkan kadar lemak tubuhnya (Tillman et al., 1984).

Jenis, komposisi kimia (kandungan zat gizi) dan konsumsi pakan mempunyai pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan. Konsumsi protein dan energi yang lebih tinggi akan menghasilkan laju pertumbuhan yang lebih cepat (Soeparno dan Davies, 1987).

Bobot Potong, Bobot Tubuh Kosong, Bobot Karkas dan Persentase Karkas

Bobot potong, bobot tubuh kosong, bobot karkas dan persentase karkas sangat dipengaruhi oleh umur ternak dan pakan. Bobot semua organ tubuh tidak berbeda nyata (P>0.05), kecuali bobot tubuh kosong (P<0.05). Rataaan bobot potong, bobot tubuh kosong, bobot karkas dan persentase karkas dari penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Rataan Bobot Potong, Bobot Tubuh Kosong, Bobot Karkas dan Persentase Karkas.

Uraian Perlakuan

P1 P2 P3 Rata-rata

Bobot Potong (g)

Bobot Tubuh Kosong (g) Bobot Karkas (g) Persentase karkas (%) 17.270 ± 1,92 12.667 ± 1,18a 6.550 ± 0,58 37,99 ± 1,32 19.560 ± 0,94 14.593 ± 0,97b 7.290 ± 0,79 37,22 ± 2,75 16.667 ± 0,45 11.880 ± 0,45a 6.080 ± 0,36 36,46 ± 1,48 17.833 13.047 6.640 37,22

Superskrip berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05). Keterangan: P1 = 80 % rumput dan 20 % ransum komplit selama 2 bulan P2 = 20 % rumput dan 80 % ransum komplit selama 2 bulan

P3 = 20 % rumput dan 80 % ransum komplit selama 1 bulan pertama 80 % rumput dan 20 % ransum komplit selama 1 bulan kedua

Bobot Potong

Bobot potong adalah bobot tubuh ternak sesaat sebelum dipotong (Sugana dan Duldjaman, 1983). Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap bobot potong (P>0.05) (Tabel 3). Hal ini kemungkinan sangat dipengaruhi pertambahan bobot badan harian, ini disampaikan Yunita (2008) bahwa pertambahan bobot badan harian yang tidak berbeda nyata, secara urut 45,00; 65,56; dan 34,46 g/ekor/hari. Hal ini menunjukkan bahwa pertambahan bobot badan harian memiliki korelasi positif dengan bobot potong, ini kemungkinan dipengaruhi oleh pertumbuhan tubuh ternak yang relatif sama. Bobot potong dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis kelamin dan umur.

Salah satu yang dapat mempengaruhi bobot potong domba adalah jenis kelamin (Natasasmita et al., 1979). Bobot potong domba jantan lebih tinggi dibandingkan bobot potong domba betina hal ini disebabkan domba jantan lebih efisien dalam mengubah makanan bahan kering menjadi bobot tubuh dibandingkan dengan betina menurut Sugana dan Duldjaman (1983).

Penggunaan imbangan pakan ransum komplit dan rumput Brachiaria

humidicola yang berbeda pada penelitian ini belum dapat mengubah zat-zat yang

dikonsumsi dan diserap oleh ternak menjadi produk ternak berupa pertambahan bobot badan harian secara nyata. Kandungan serat kasar ransum komplit (21,20%) dan rumput Brachiaria humidicola (41,39%) yang tinggi menjadi penyebab menurunnya daya cerna. Sehingga menyebabkan pertumbuhan tidak berbeda walaupun konsumsi zat makanan (bahan kering, protein kasar, serat kasar dan Total

Digestible Nutrient) berbeda (Yunita, 2008).

Hal ini sangat terkait dengan nutrisi yang terkandung dalam pakan dan tingkat kecernaan pakan tersebut. Ransum yang memiliki nilai nutrisi tinggi dan tingkat palatabilitas yang baik dapat dengan cepat meningkatkan pertambahan bobot badan ternak selama penggemukan. Pemberian serat kasar terlalu tinggi maka akan menurunkan daya cerna ransum (Reksohadiprojo, 1998). Konsumsi makanan dipengaruhi terutama oleh faktor kualitas makanan dan oleh faktor kebutuhan energi ternak yang bersangkutan. Semakin baik kualitas makanannya, makin tinggi konsumsi makanan seekor ternak, akan tetapi konsumsi makanan ternak berkualitas baik ditentukan oleh status fisiologi seekor ternak (Bamualim, 1988).

Bobot Tubuh Kosong

Bobot tubuh kosong diperoleh dari bobot potong dikurangi dengan bobot isi saluran pencernaan, urine dan empedu. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa bobot tubuh kosong dipengaruhi oleh perlakuan pemberian ransum (P<0.05) (Tabel 3). Hal ini dipengaruhi oleh isi saluran pencernaan, dimana persentase isi saluran pencernaan memiliki nilai rataan yang relatif sama pada semua perlakuan dan memiliki faktor pembagi yang berbeda, dalam hal ini bobot potong sehingga menyebabkan perbedaan pada bobot tubuh kosong. Isi saluran pencernaan pada perlakuan P1, P2 dan P3 secara berturut-turut 23,40%; 22,43% dan 25,60%.

Pada penelitian ini perlakuan P2 memiliki bobot potong lebih tinggi dan diikuti bobot tubuh kosong yang lebih tinggi, ini mengindikasikan bahwa bobot potong memiliki korelasi positif dengan bobot tubuh kosong. Semakin tinggi bobot potong domba semakin tinggi pula nilai bobot tubuh kosong. Yuniarti (1982) memperlihatkan bahwa semakin meningkat bobot hidup mengakibatkan peningkatan bobot tubuh kosong.

Bobot Karkas

Bobot karkas diperoleh dari penimbangan karkas secara langsung ditempat pemotongan, bagian tubuh ternak setelah dikurangi dari bagian darah, kulit, kepala, keempat kaki bawah metatarsus dan metacarpus, paru-paru, tenggorkan, saluran pencernaan, alat reproduksi, saluran urine, jantung, limpa, hati dan ekor (Lawrie, 1995). Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan ransum tidak berbeda nyata terhadap bobot karkas domba (P>0.05) (Tabel 3). Hal ini disebabkan adanya ukuran organ non karkas yang berbeda. Sehingga pada kategori bobot potong yang tidak berbeda menghasilkan bobot karkas yang tidak bebeda juga.

Setelah pemeliharaan enam minggu menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh nyata sehingga hal ini tidak berbeda dengan bobot potong yang relatife sama. Karkas mempunyai korelasi positif terhadap bobot potong, dengan meningkatnya bobot potong terdapat peningkatan persentase karkas (Herman, 1993).

Perlemakan dan perdagingan merupakan komponen penyusun karkas. Ransaleleh (1998) mengatakan bahwa bobot potong akan mempengaruhi distribusi komponen karkas. Pada penelitian ini pertambahan bobot badan harian pada perlakuan ini tidak berbeda nyata, ini disampaikan Yunita (2008) hal ini sangat mempengaruhi bobot karkas. Selain itu domba yang digunakan dalam penelitian mempunyai asal usul yang beragam yaitu dari peternak yang berbeda-beda tanpa adanya rekording dan seleksi terlebih dahulu sehingga dimungkinkan memiliki genetik yang beragam. Leeson dan Summers (1980), faktor yang mempengaruhi bobot karkas terutama bangsa, umur, jenis kelamin, bobot badan dan makanan.

Hasil yang diperoleh, bobot potong tidak berpengaruh nyata dan bobot karkas juga tidak berpengaruh nyata, ini mengindikasikan bahwa bobot potong dan bobot

karkas memiliki korelasi yang positif, ini sesuai dengan pernyataan (Kurniawan, 2005) bobot karkas berkorelasi positif dengan bobot potong. Peningkatan bobot karkas pada domba yang diberikan perlakuan P2 secara nilai rataan memiliki rataan tertinggi dan memiliki efisiensi cerna yang lebih baik, namun secara umum tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Penggunaan imbangan pakan ransum komplit dan rumput Brachiaria humidicola yang berbeda pada penelitian ini belum dapat mengubah zat-zat yang dikonsumsi dan diserap oleh ternak menjadi produk ternak berupa pertambahan bobot badan harian secara nyata, hal ini disampaikan Yunita (2008)

Hal ini sangat terkait dengan nutrisi yang terkandung dalam pakan dan tingkat kecernaan pakan tersebut. Ransum yang memiliki nilai nutrisi tinggi dan tingkat palatabilitas yang baik dapat dengan cepat meningkatkan pertambahan bobot badan ternak selama penggemukan. Parakkasi (1999) bahwa peningkatan daya cerna pada hewan ternak seiring dengan penurunan hijauan pada ransum yang diberikan.

Produksi karkas berhubungan erat dengan dengan bobot badan karena dengan peningkatan bobot badan akan diikuti oleh peningkatan bobot karkas. Semakin meningkat umur, maka bobot karkas semakin besar, karena semakin meningkat pula bobot tubuh, ukuran tubuh dan komponen-komponen tubuh lainnya yang berpengaruh terhadap bobot karkas. Menurut Yumiati (1991) semakin banyak jumlah ransum yang diberikan, semakin baik pula pertumbuhan seekor ternak yang selanjutnya akan berpengaruh pada bobot karkas karena bobot karkas mempunyai kaitan yang erat dengan bobot potong yang dihasilkan.

Persentase Karkas

Karkas sebagai satuan produksi dinyatakan dalam bobot karkas dan persentase karkas. Persentase karkas adalah perbandingan antara bobot karkas dengan bobot hidup saat dipotong dikali 100%. Karkas secara umum menurut Soeparno (1994) adalah berat semua bagian tubuh ternak setelah pemotongan dikurangi kepala, darah serta organ-organ internal dan untuk sapi, kerbau, domba dan kambing juga dikurangi dari carpus dan tarsus ke bawah serta kulit dan menurut Lawrie (1995) menyatakan karkas terdiri dari urat daging dan jaringan lemak, tulang dan residu yang terdiri dari tendon dan jaringan pengikat lainnya, pembuluh darah besar, dan lain-lain.

Hasil dari sidik ragam bahwa persentase karkas tidak berbeda nyata (P>0.05). Salah satu faktor yang mempengaruhi persentase karkas yaitu bobot karkas. Pada penelitian ini diperoleh bobot karkas yang tidak berbeda dan diikuti persentase karkas yang tidak berbeda juga, ini sesuai dengan Berg dan Butterfield (1976) persentase karkas dipengaruhi oleh bobot karkas, bobot ternak, kondisi, bangsa ternak, proporsi bagian-bagian non karkas, ransum yang diberikan dan cara pemotongan.

Bobot Non Karkas

Bobot non karkas diperoleh dari bobot potong dikurangi bobot karkas dan bobot isi saluran pencernaan. Komponen non karkas adalah darah, kepala, kulit, keempat kaki bagian bawah mulai metatarsus dan metacarpus.

Tabel 4. Rataan Bobot Non Karkas Setelah Dua Bulan Pemeliharaan.

Uraian Perlakuan

P1 P2 P3

---g---

Total Non Karkas 6.147 ± 524A 7.243 ± 333B 5.823 ± 237A Organ internal

Hati 271 ± 13A 348 ± 17B 261 ± 23A

Limpa 36 ± 10 44 ± 4 28 ± 6

Paru-paru dan trachea 194 ± 58 238 ± 38 184 ± 4

Jantung 77 ± 13A 111 ± 13B 65 ± 6A Perut 748 ± 75 804 ± 14 757 ± 53 Ginjal 43 ± 7a 58 ± 6a 43 ± 2ab Usus halus 493 ± 88 471 ± 63 432 ± 32 Usus besar 277 ± 12 280 ± 48 270 ± 35 Organ Eksternal Darah tertampung 834 ± 34a 923 ± 37b 835 ± 10a Alat kelamin 45 ± 4a 51 ± 1a 44 ± 2ab Testis 202 ± 40 209 ± 40 184 ± 17 Kepala 1.338 ± 157 1.544 ± 394 1.144 ± 145 Kulit 1.108 ± 50 1.589 ± 400 1.104 ± 81 Kaki 469 ± 11a 493 ± 6b 466 ± 5a

Superskrip berbeda pada baris yang sama menunjukkan : huruf besar sangat berbeda sangat nyata (P<0.01), huruf kecil berbeda nyata (P<0,05).

Keterangan: P1 = 80 % rumput dan 20 % ransum komplit selama 2 bulan P2 = 20 % rumput dan 80 % ransum komplit selama 2 bulan

P3 = 20 % rumput dan 80 % ransum komplit selama 1 bulan pertama 80 % rumput dan 20 % ransum komplit selama 1 bulan kedua

Menurut Hammond (1960), komponen non karkas terdiri dari organ internal dan eksternal. Organ-organ tersebut mempunyai fungsi fisiologis yang sangat penting sehingga sudah terbentuk dan berkembang baik pada waktu kelahiran. Bobot non karkas dibagi menjadi dua bagian yaitu organ internal dan organ eksternal. Rataan total bobot non karkas, organ internal dan organ eksternal dari penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.

Bobot Organ Internal

Peningkatan bobot non karkas pada domba yang diberikan perlakuan P2 memiliki kecepatan pertumbuhan organ internal yang cepat, ini sangat di pengaruhi faktor makanan. Pada penelitian nilai tertinggi ini bobot hati dan jantung dimiliki oleh perlakuan P2 dan dari hasil sidik ragam bobot hati dan jantung sangat nyata (P<0.01) sedangkan bobot ginjal berpengaruh nyata (P<0.05). Hasil ini dapat dilihat pada Tabel 4. Bobot hati, jantung dan ginjal yang diperoleh pada penelitian kemungkinan dipengaruhi oleh faktor umur yaitu sudah terbentuknya mulai ternak dalam janin induk atau selama kebuntingan sehingga memiliki pertumbuhan yang berbeda pada setiap ternak, sesuai dengan Hafez (1969) faktor umur mempengaruhi bobot non karkas, pada jantung, hati dan ginjal telah terbentuk pada umur 20-21 hari kebuntingan dan faktor makanan juga mempengaruhi bobot non karkas, Menurut Hafez (1969) konsumsi makanan adalah salah satu faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan organ internal.

Bobot Limpa dan Paru-paru dan trachea, perut, usus halus dan usus besar pada penelitian ini tidak berpengaruh nyata (P>0.05). Limpa, paru-paru dan trachea, perut, usus halus, dan usus besar memiliki pertumbahan yang relatif sama pada semua perlakuan. Kecepatan pertumbuhan organ internal dipengaruhi oleh salah satu dari tiga faktor atau kombinasi dari berat domba, umur dan kadungan gizi makanannya (Pallson dan Verges, 1952).

Bobot Eksternal

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan berbeda nyata pada darah tertampung, alat kelamin dan kaki (P<0.05) (Tabel 4). Peningkatan bobot non karkas pada bagian eksernal pada perlakuan ini sangat dipengaruhi kecepatan pertumbuhan dan kandungan gizi makanannya. Ini diperlihatkan perlakuan P2 dengan pertumuhan

tubuh ternak yaitu bobot badan bobot potong yang cepat, diikuti pertumbuhan alat kelamin dan kaki.

Pada penelitian ini, bobot kepala dan kulit tidak berbeda nayat (P>0.05). Kepala, organ internal dan kaki merupakan komponen yang masak dini, sedangkan bagian-bagian yang penting untuk produksi seperti urat daging, lemak dan ambing berkembang lebih lambat, Hammond (1960).

Dokumen terkait