Dalam penelitian ini, tanaman jagung (Zea mays) ditanam di rumah kaca sehingga faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman seperti intensitas cahaya matahari, suhu lingkungan, kelembaban dan angin yang diterima oleh tanaman jagung relatif sama. Keadaan suhu dalam rumah kaca selama penelitian rata-rata 32,4°C dan kelembaban 71,2 % pada pagi hingga siang hari. Benih jagung yang ditumbuhkan adalah sebanyak lima biji per lubang tanam dan setiap polybag terdapat dua lubang tanam. Daun sudah mulai tumbuh dan membuka pada hari kelima setelah penanaman. Setelah dua minggu dilakukan penjarangan, yaitu pengeliminasian tanaman jagung yang tumbuh hingga disisakan 2 tanaman jagung yang terbaik untuk dipelihara sampai 80-100 hari sejak penanaman benih.
Penyiraman dilakukan setiap pagi hari. Pengamatan dilakukan setiap minggu dengan mengukur tinggi vertikal dan jumlah anakan tanaman jagung.
Gambar 1. Tanaman Jagung pada Tanah Latosol
Gambar 1 menunjukkan tanaman jagung pada media tanah latosol. Secara umum keadaan pertumbuhan tanaman jagung yang ditanam pada tanah latosol adalah baik dilihat dari kecepatan pertumbuhannya. Pertumbuhan mulai meningkat dengan
sangat jelas pada minggu keempat hingga minggu ketujuh setelah tanam. Setelah jagung berumur 82 hari dilakukan pemanenan. Keadaan tanaman jagung pada waktu akan dipanen kurang baik dimana ada beberapa tanaman yang rebah karena bagian batangnya kurang kuat dalam menopang tanaman jagung. Selain itu ukuran tongkol yang dihasilkan juga sangat kecil.
Pertumbuhan jagung yang ditanam pada tanah tailing hingga umur satu bulan tidak berbeda jauh dengan yang menggunakan media tanah latosol dilihat dari warna daun dan tinggi vertikal tanaman. Namun setelah minggu berikutnya terjadi perbedaan yang sangat nyata dimana tanaman jagung pada tanah latosol semakin cepat mengalami pertambahan tinggi vertikal sementara tanaman jagung pada media tanah tailing hampir tidak memperlihatkan pertambahan tinggi vertikal lagi dan warna daunnya semakin menguning. Tanaman jagung yang ditanam pada media tanah tailing dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Tanaman jagung pada tanah tailing
Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung pada Tanah Latosol
Pertambahan tinggi vertikal (PTV), jumlah daun, produksi bobot kering (BK) tajuk, bobot kering akar, bobot kering tongkol berkelobot dan bobot kering tongkol tanpa kelobot merupakan aspek yang dapat diamati dan dinilai dari pertumbuhan dan produktivitas suatu tanaman jagung. Untuk mengetahui respon kolonisasi mikoriza dapat dilihat melalui infeksi akar dan jumlah spora pada tanah bekas penanaman tanaman jagung. Kedua peubah ini juga akan menentukan keadaan pertumbuhan yang dialami oleh tanaman jagung. Pertumbuhan dan produksi tanaman jagung dipengaruhi oleh mikroorganisme dan asam humik yang dapat membantu tanaman mencukupi kebutuhannya pada tempat tumbuhnya. Sidik ragam pada semua peubah disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Rekapitulasi Sidik Ragam Pertumbuhan dan Produksi Jagung pada Tanah Latosol
Peubah Pengaruh perlakuan
Pertambahan Tinggi Vertikal (cm) *
Jumlah Daun tn
Bobot Kering Tajuk (gram) **
Bobot Kering Akar **
Bobot Kering Tongkol Berkelobot (gram) * Bobot Kering Tongkol Tanpa Kelobot (gram) *
Persentase Infeksi Akar (%) tn
Jumlah Spora **
Keterangan : (**) nyata pada taraf 1%, (*) nyata pada taraf 5%, (tn) tidak nyata
Rataan pertambahan tinggi vertikal, jumlah daun, bobot kering tajuk, bobot kering akar, bobot kering tongkol berkelobot, bobot kering tongkol tanpa kelobot, persentase infeksi akar dan jumlah spora tanaman jagung disajikan pada Tabel 4.
Angka yang ditunjukkan merupakan rataan dari lima ulangan pada tiap perlakuan.
Tabel 4. Rataan Pertambahan Tinggi Vertikal, Jumlah Daun, BK Tajuk, BK Tongkol Berkelobot, BK Tongkol Tanpa Kelobot, BK Akar, Persentase Infeksi Akar dan Jumlah Spora
Perlakuan Keterangan : Superskrip huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan pengaruh yang
nyata (P<0,05); Superskrip huruf kapital yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01)
Pertambahan Tinggi Vertikal Tanaman
Penampilan ukuran tinggi tanaman merupakan salah satu aspek yang dapat diamati dan mudah dinilai kualitas pertumbuhannya (Sitompul dan Guritno, 1995).
Lakitan (1996) menyatakan tinggi tanaman merupakan pertumbuhan yang paling mudah untuk diukur. Pertumbuhan tinggi tanaman ditentukan oleh perkembangan dan pertumbuhan sel, semakin cepat sel membelah dan memanjang (membesar) semakin cepat tanaman meninggi. Pertambahan tinggi vertikal diperoleh dari selisih tinggi vertikal minggu terakhir pengukuran dengan minggu sebelumnya (Muslihat, 2003)
Hasil sidik ragam pada Tabel 3 menunjukkan bahwa pertambahan tinggi vertikal jagung nyata (P<0,05) dipengaruhi oleh perlakuan. Berdasarkan uji Duncan (Tabel 4), perlakuan MA (7,17 cm) dan MP (7,01 cm) merupakan perlakuan yang mempunyai pertambahan tinggi vertikal yang paling tinggi, berbeda nyata (P<0,05)
dibanding perlakuan M dan Ktrl namun tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan perlakuan MH, MPA dan MPAH. Perlakuan MH, MPA dan MPAH juga tidak berbeda nyata dengan perlakuan M dan Ktrl.
Penambahan CMA yang dikombinasikan dengan satu mikroorganisme potensial tanah lain yaitu Azospirillum (MA) ataupun mikroorganisme pelarut fosfat (MP) memberikan pengaruh yang lebih baik dibandingkan dengan penambahan CMA saja (M). Hal ini diakibatkan ketersediaan unsur hara yang akan diserap oleh tanaman masih kurang jika hanya ditambahkan CMA saja. Karti (2003) menyatakan penambahan pembenah tanah atau mikroorganisme tanah potensial secara tunggal tidak dapat meningkatkan pertumbuhan, produksi dan serapan P, N rumput Chloris gayana.
Penambahan CMA yang dikombinasikan dengan asam humat (MH) belum menunjukkan tinggi vertikal sebaik pada perlakuan MA dan MP namun sudah lebih baik dibanding dengan Ktrl dan M. Hal ini menunjukkan bahwa CMA yang dikombinasikan dengan asam humik akan meningkatkan pertumbuhan tanaman dimana CMA akan berperan meningkatkan penyerapan unsur hara dan asam humik akan berperan dalam meningkatkan permeabilitas sel dan membran guna meningkatkan kemudahan penyerapan dan ketersediaan hara nutrien, N, P, K oleh sistem perakaran, mengubah sejumlah elemen menjadi bentuk yang dapat dimanfaatkan tanaman dengan mengubah kondisi fisik, kimia dan biologi dalam tanah seperti agregasi, aerasi, permeabilitas dan kapasitas memegang air (Huang dan Schnitzer, 1997). Secara spesifik pada tanah masam, asam humik berperan untuk pengkelatan Fe dan juga pelepasan P yang terikat oleh Fe sehingga dapat meningkatkan kadar N tajuk dan akar serta serapan N total.
Perlakuan MPA dan MPAH tidak menunjukkan tinggi vertikal sebaik MA dan MP namun sudah lebih baik dibanding Ktrl. Hal ini menandakan bahwa masing-masing mikroorganisme tidak dapat bekerja secara optimal diakibatkan adanya kompetisi diantara mikroorganisme dalam menggunakan nutrisi yang didapat dari tanaman. Dian (2003) menyatakan bahwa penambahan cendawan mikoriza arbuskula dapat meningkatkan produksi dan kualitas rumput Setaria splendida Stapf., tetapi peningkatan akan lebih besar apabila ditambahkan bersama-sama dengan asam
humik atau bakteri Azospirillum. Untuk memudahkan melihat PTV tiap perlakuan disajikan grafik rataan pertambahan tinggi vertkal (cm) pada Gambar 3.
0 Rataan Pertambahan Tinggi Vertikal (cm)
Ktrl
Gambar 3. Grafik Rataan Pertambahan Tinggi Vertikal Jumlah Daun Tanaman
Rataan jumlah daun yang dihasilkan tanaman jagung pada tanah latosol dapat dilihat pada Tabel 4. Hasil sidik ragam menunjukkan semua perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun. Jumlah daun yang dihasilkan tidak berbeda nyata karena banyaknya daun yang dihasilkan tanaman jagung dikendalikan oleh genotipe dan fotoperiode dan mungkin sedikit pengaruh suhu (Goldsworthy dan Fisher, 1992).
Produksi Bobot Kering Tajuk
Produksi bobot kering merupakan peubah penting untuk menduga produksi total potensial tanaman yang dijadikan pedoman untuk mengetahui tingkat pertumbuhan dan perkembangan tanaman karena kandungan airnya tidak terlalu beragam (Salisbury dan Ross, 1995). Hasil sidik ragam (Tabel 3) menunjukkan produksi bobot kering tajuk sangat dipengaruhi oleh perlakuan. Hasil uji Duncan (Tabel 4) menunjukkan perlakuan MA (12,34 gram) mempunyai produksi bobot kering tajuk yang tertinggi, berbeda sangat nyata (P<0,01) dengan perlakuan yang lain kecuali MP. Perlakuan MP tidak berbeda nyata dibanding perlakuan yang lain kecuali MPA dan Ktrl. Perlakuan M, MH dan MPAH tidak berbeda nyata dengan MPA dan Ktrl. Grafik rataan produksi bobot kering tajuk (gram) disajikan pada Gambar 4.
Rataan Bobot Kering Tajuk (gram)
Gambar 4. Grafik Rataan Produksi Bobot Kering Tajuk Produksi Bobot Kering Akar
Hasil uji sidik ragam pada Tabel 3 memperlihatkan produksi bobot kering akar sangat nyata (P<0,01) dipengaruhi oleh perlakuan. Hasil uji Duncan menunjukkan perlakuan MA (6,18 gram) mempunyai produksi bobot kering akar yang tertinggi, berbeda sangat nyata (P<0,01) dengan Ktrl, MPA dan MPAH namun tidak berbeda nyata dengan M, MH dan MP. Perlakuan M, MH dan MP tidak berbeda nyata dengan Ktrl, MPA dan MPAH. Grafik rataan produksi bobot kering akar (gram) disajikan pada Gambar 5.
Rataan Bobot Kering Akar (gram)
A Produksi Bobot Kering Tongkol Berkelobot
Produksi bobot kering tongkol berkelobot nyata (P<0,05) dipengaruhi oleh perlakuan yang terlihat dari Tabel 3. Hasil uji Duncan (Tabel 4) menunjukkan
perlakuan yang memiliki produksi bobot kering tongkol berkelobot tertinggi adalah perlakuan MA (3,87 gram), yang berbeda nyata (P<0,05) dengan semua perlakuan kecuali MP. Perlakuan MP tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan semua perlakuan yang lain. Grafik rataan produksi bobot kering tongkol berkelobot ditunjukkan pada Gambar 6.
Rataan Bobot Kering Tongkol Berkelobot (gram)
ab
Gambar 6. Grafik Rataan Produksi Bobot Kering Tongkol Berkelobot Produksi Bobot Kering Tongkol Tanpa Kelobot
Produksi bobot kering tongkol tanpa kelobot nyata (P<0,05) dipengaruhi oleh perlakuan yang terlihat dari Tabel 3. Hasil uji Duncan (Tabel 4) menunjukkan perlakuan MA (2,18 gram) memiliki produksi bobot kering tongkol tanpa kelobot tertinggi, yang berbeda nyata (P<0,05) dengan perlakuan yang lain. Grafik rataan produksi bobot kering tongkol tanpa kelobot ditunjukkan pada Gambar 7.
Rataan Bobot Kering Tongkol Tanpa Kelobot (gram)
a
Gambar 7. Grafik Rataan Produksi Bobot Kering Tongkol Tanpa Kelobot
Hasil yang ditunjukkan oleh peubah-peubah yang menunjukkan produksi bobot kering yakni BK tajuk, BK akar BK tongkol berkelobot dan juga BK tongkol tanpa kelobot maka perlakuan yang memberikan bobot kering terbaik adalah perlakuan MA kemudian MP. Perlakuan M, MH dan MPAH menunjukkan hasil yang sama atau tidak berbeda nyata, sedangkan MPA dan Ktrl menunjukkan produksi bobot kering yang terendah.
Jagung membutuhkan nitrogen dalam jumlah relatif besar untuk membentuk senyawa penting seperti klorofil, asam nukleat dan enzim, sementara tanah latosol merupakan tanah yang miskin unsur nitrogen. Oleh karena itu penambahan Azospirillum yang mempunyai peran memfiksasi nitrogen atau meningkatkan ketersediaan nitrogen sangat membantu tanaman jagung dalam meningkatkan pertumbuhannya. Penambahan mikoriza yang dikombinasikan dengan Azospirillum (MA) akan memberikan pengaruh yang lebih baik lagi karena Azospirillum mempunyai kemampuan membantu menyediakan unsur nitrogen dan CMA meningkatkan penyerapan unsur-unsur penting yang dibutuhkan oleh tanaman termasuk nitrogen.
Fosfor merupakan unsur yang tergolong ke dalam unsur makro esensial bagi tanaman, dan merupakan unsur hara kedua yang penting bagi tanaman setelah nitrogen (Djuniwati et al,. 2003). Fosfor yang ada dalam tanah latosol terjerap oleh Fe dan Al sehingga tidak dapat digunakan oleh tanaman. Hutami et al (2000) menyatakan bahwa jika tanaman ditumbuhkan pada tanah dengan konsentrasi Al yang meracuni maka akan mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman dimana yang terpengaruh pertama kali adalah akar yang diikuti oleh bagian atas.
Penambahan mikroorganisme pelarut fosfat adalah untuk membebaskan unsur P dari unsur Fe dengan cara mengikat unsur tersebut dengan asam-asam organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme. Dengan penambahan mikroorganisme pelarut fosfat tersebut maka kebutuhan jagung akan fosfat lebih tercukupi sehingga pertumbuhan jagung mengalami peningkatan. Dengan dikombinasikannya CMA terhadap mikroorganisme pelarut fosfat (MP) maka ketersediaan dan penyerapan unsur P akan semakin optimal.
Hasil yang diperoleh pada perlakuan penambahan mikoriza (M) tidak berbeda nyata dengan pemberian kombinasi mikoriza dan asam humik (MH). Hal ini
diakibatkan pada saat mikoriza dikombinasikan dengan asam humik maka peran asam humik bisa menjadi tidak terlihat. Hasil ini sesuai dengan pernyataan Sitompul dan Guritno (1995) yang menyatakan penghambatan pembentukan akar dan pertumbuhan tanaman karena kurangnya unsur hara dan air bagi tanaman dapat dibantu dengan pemberian CMA, akan tetapi bila diberikan bersamaan dengan asam humik maka peran asam humik tidak terlihat. Pada saat CMA dikombinasikan dengan kedua mikroorganisme lain (Azospirillum dan bakteri pelarut fosfat) atau perlakuan MPA maka terlihat pertumbuhan yang diperoleh sangat rendah dan tidak berbeda dengan kontrol. Hal ini terjadi karena kemungkinan mikroorganisme tersebut berkompetisi dalam mendapatkan makanan.
Ketika ketiga mikroorganisme potensial tanah tersebut dikombinasikan dengan asam humik (perlakuan MPAH) maka ada peningkatan pertumbuhan dibanding perlakuan MPA. Hal ini terjadi karena asam humik merupakan pembenah tanah yang dapat memperbaiki kesuburan tanah dengan meningkatkan ketersediaan unsur hara sehingga pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik. Mekanisme yang terjadi pada tanah masam adalah asam humik melepaskan ikatan P dengan unsur Fe sehingga P terlepas dan tersedia bagi tanaman. Dengan peningkatan pertumbuhan tanaman inang maka pertumbuhan mikroorganisme juga terbantu sehingga dapat bekerja dalam menyediakan unsur hara bagi tanaman inang.
Persentase Infeksi Akar
Keberadaan mikoriza pada tanaman dapat dilihat dengan menghitung persentase infeksi mikoriza pada akar tanaman inang. Cendawan mikoriza arbuskula merupakan cendawan yang dapat berfungsi hanya jika telah menginfeksi tanaman inangnya. Rataan persentase infeksi akar dapat dilihat pada Tabel 4. Dari hasil uji sidik ragam (Tabel 3) menunjukkan persentase infeksi akar tidak nyata dipengaruhi oleh perlakuan. Infeksi bukanlah suatu parameter yang menjadi tolak ukur yang pasti bahwa perlakuan itu dalah yang terbaik, tetapi hanya menunjukkan akar tersebut terinfeksi mikoriza. Dari hasil terlihat bahwa semua tanaman mengalami infeksi baik yang mendapat mikoriza maupun yang tidak (Ktrl). Hal ini menunjukkan bahwa di dalam tanah terdapat mikoriza endogen. Namun mikoriza endogen ini menginfeksi akar tidak seefektif mikoriza yang diintroduksikan
Jumlah Spora
Jumlah spora merupakan parameter yang menggambarkan perkembangan sporolisasi CMA, baik yang diinokulasi maupun yang terbawa secara alami. Hasil sidik ragam pada Tabel 3 menunjukkan jumlah spora sangat nyata (P<0,01) dipengaruhi oleh perlakuan. Dari hasil uji Duncan pada Tabel 4 terlihat bahwa perlakuan yang menghasilkan jumlah spora terbanyak adalah perlakuan MA (58, 4 butir) yang sangat nyata (P<0,01) berbeda dibanding semua perlakuan yang lain.
Dari hasil tersebut terlihat bahwa pada tanaman yang memiliki ketersediaan unsur hara nitrogen yaitu pada MA juga akan mempunyai jumlah spora yang banyak.
Kemungkinan unsur-unsur hara yang tersedia pada MA sangat seimbang dan tercukupi sehingga menghasilkan spora yang lebih banyak. Spora yang meningkat tersebut karena adanya adaptasi dan asosiasi yang baik antara CMA dan tanaman inangnya (Setyaningsih, 2007). Grafik rataan jumlah spora ditunjukkan pada Gambar 8
B B B
B B B
A
0 10 20 30 40 50 60 70
Ktrl M MA MH MP MPA MPAH
Perlakuan
Jumlah Spora (butir)
Gambar 8. Grafik Rataan Jumlah Spora
Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung pada Tanah Tailing
Sama seperti tanaman yang ditanam pada media latosol, pada media tanam tanah tailing juga akan dilihat pertambahan tinggi vertikal, jumlah daun, produksi bobot kering (BK) tajuk, bobot kering akar, bobot kering tongkol berkelobot dan bobot kering tongkol tanpa kelobot untuk menilai tingkat pertumbuhan dan produksi tanaman jagung. Juga untuk mengetahui respon kolonisasi mikoriza dapat dilihat melalui infeksi akar dan jumlah spora pada tanah bekas penanaman tanaman jagung.
Kedua peubah ini juga akan menentukan keadaan pertumbuhan yang dialami oleh tanaman jagung. Sidik ragam pada semua peubah disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Rekapitulasi Sidik Ragam Pertumbuhan dan Produksi Jagung pada Tanah Tailing
Peubah Pengaruh perlakuan
Pertambahan Tinggi Vertikal (cm) **
Jumlah Daun *
Bobot Kering Tajuk (gram) **
Bobot Kering Akar **
Bobot Kering Tongkol Berkelobot (gram) * Bobot Kering Tongkol Tanpa Kelobot (gram) tn
Persentase Infeksi Akar (%) tn
Jumlah Spora tn
Keterangan : (**) nyata pada taraf 1%, (*) nyata pada taraf 5%, (tn) tidak nyata
Rataan pertambahan tinggi vertikal, jumlah daun, bobot kering tajuk, bobot kering akar, bobot kering tongkol berkelobot, bobot kering tongkol tanpa kelobot, persentase infeksi akar dan jumlah spora tanaman jagung disajikan pada Tabel 6.
Angka yang ditunjukkan merupakan rataan dari lima ulangan pada tiap perlakuan
Tabel 6. Rataan Pertambahan Tinggi Vertikal, Jumlah Daun, BK Tajuk, BK Akar, BK Tongkol Berkelobot, BK Tongkol Tanpa Kelobot, Persentase Infeksi Akar dan Jumlah Spora
Perlakuan Keterangan : Superskrip huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan pengaruh yang
nyata (P<0,05); Superskrip huruf kapital yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01)
Pertambahan Tinggi Vertikal Tanaman
Hasil sidik ragam pada Tabel 5 menunjukkan bahwa pertambahan tinggi vertikal jagung sangat nyata (P<0,01) dipengaruhi oleh perlakuan. Dari Gambar 9 terlihat bahwa pertambahan tinggi vertikal jagung mengalami penurunan kecuali perlakuan MPAH. Penurunan tinggi vertikal tersebut terjadi sejak minggu kelima setelah tanam yaitu pada saat dilakukan pengukuran kedua kali atau yang tidak mengalami pertambahan tinggi dibanding minggu sebelumnya. Semakin lama ada tanaman yang mengalami penurunan tinggi vertikal yang menurun dan ada yang tetap. Berdasarkan uji Duncan didapatkan bahwa perlakuan MPAH (0,19 cm) merupakan perlakuan yang memiliki pertambahan tinggi vertikal tertinggi berbeda sangat nyata (P<0,01) dengan Ktrl dan MPA namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan M, MA, MH dan MP. Perlakuan MH dan MP berbeda sangat nyata (P<0,01) dibanding Ktrl namun tidak berbeda nyata dengan M, MA dan MPA.
Perlakuan M dan MA tidak berbeda nyata dengan Ktrl dan MPA.
Berdasarkan pertambahan tinggi vertikal yang diperlihatkan pada Tabel 6 bisa dikatakan bahwa tanaman yang diberi pertambahan mikoriza tumbuh lebih baik.
Hal ini menandakan bahwa mikoriza sangat membantu pertumbuhan tanaman pada media tanah limbah tailing. Tanah tailing merupakan tanah yang memiliki kandungan hara sangat rendah sehingga penambahan cendawan mikoriza arbuskula, Azospirillum dan mikroorganisme pelarut fosfat sangat membantu dalam penyediaan haranya. Hal ini sesuai dengan pernyataa Islami dan Utomo (1995) yang menyatakan bahwa tanah yang sangat miskin P bila diberi pupuk mikoriza akan mampu memperbaiki pertumbuhan tanaman inang dengan adanya infeksi mikoriza tersebut.
Selain meningkatkan penyerapan unsur P, mikoriza juga meningkatkan penyerapan beberapa unsur mikro seperti Cu dan Zn.
Pemberian CMA meningkatkan jumlah spora. Propagul-propagul dari inokulum ini berkecambah membentuk hifa eksternal atau miselia yang kemudian di daerah perakaran tanaman (rizosfer) melakukan penginfeksian membentuk hifa internal sebagai alat transport hara dari rizosfer ke tanaman inang dan alat transfer nutrisi dari inang ke mikoriza. Mikoriza membantu meningkatkan daya penyerapan fosfat ke tanaman inang untuk perkembangbiakan mikoriza membentuk miselia lebih banyak. Miselia ini pada akhirnya akan membentuk spora disaat pertumbuhan akar terhenti atau pada masa kering. Gunawan (1993) menjelaskan bahwa kolonisasi dan sporulasi CMA berkaitan dengan varietas tanaman, species CMA dan kondisi lingkungan misalnya cahaya matahari dan suhu. Hal ini disebabkan cahaya matahari berperan dalam pembentukan karbohidrat melalui asimilasi karbon yang selanjutnya CMA akan menggunakan karbon tersebut sebagai sumber energi bagi pertumbuhannya (Fakuara, 1988).
Tanaman yang mengalami pertumbuhan yang paling baik adalah tanaman yang diberi penambahan mikroorganisme dan pembenah tanah paling lengkap (perlakuan MPAH). Penambahan ketiga mikroorganisme saja tanpa dikombinasikan dengan asam humik (perlakuan MPA) memberikan hasil yang kurang baik atau tidak berbeda nyata dengan Ktrl dan tidak memberikan hasil sebaik M, MA, MH dan MP.
Hal ini karena mikroorganisme yanga ada tidak semuanya bekerja secara optimal karena kemungkinan ada kompetisi dalam menggunakan nutrisi. Persaingan itu tidak terlihat saat diberi tambahan asam humik (MPAH). Asam humik yang ditambahkan
telah membantu mikroorganisme tersebut untuk dapat bekerja secara optimal lagi.
Asam humik telah membantu meningkatkan penyediaan nutrisi bagi tanaman sehingga pertumbuhan tanaman meningkat dan mikroorganisme potensial tanah semakin terbantu dalam penyediaan nutrisinya. Salah satu mekanisme yang terjadi pada tanah tailing tersebut adalah asam humik mampu melepaskan ikatan P dengan unsur Pb. Unsur Pb yang terikat pada P dipertukarkan dengan asam-asam organik yang dihasilkan oleh asam humik. Dengan terlepasnya P dari unsur Pb yang merupakan unsur yang beracun bagi tanaman, maka unsur P tersebut dapat tersedia bagi tanaman. Rataan Pertambahan Tinggi Vertikal (cm)
Ktrl
Gambar 9. Grafik Rataan Pertambahan Tinggi Vertikal Jumlah Daun Tanaman
Hasil sidik ragam pada Tabel 5 menunjukkan bahwa jumlah daun jagung nyata (P<0,05) dipengaruhi oleh perlakuan. Berdasarkan uji Duncan pada Tabel 6 terlihat bahwa semua tanaman yang mendapat penambahan CMA menunjukkan jumlah daun yang lebih tinggi dibanding Ktrl kecuali perlakuan MPA yang hasilnya tidak berbeda nyata dengan Ktrl. Hal ini menunjukkan penambahan mikoriza membantu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah tailing. Jumlah daun lebih banyak dikendalikan oleh genotip namun dalam hal ini jumlah daun dapat dipengaruhi oleh penambahan mikoriza karena pada tanaman tersebut pertumbuhannya belum sempurna karena kekurangan kebutuhan yang sangat banyak.
Hal ini mengakibatkan tidak semua daun dapat tumbuh dengan sempurna dan banyak yang mengalami gugur daun sejak minggu ke delapan setelah tanam. Sutoro (1985) menyatakan jumlah daun tanaman jagung mempunyai hubungan dengan jenis atau
varietas, tinggi tanaman dan waktu pembungaan. Grafik rataan jumlah daun dapat dilihat pada Gambar 10.
A
Gambar 10. Grafik Rataan Jumlah Daun Produksi Bobot Kering Tajuk
Produksi bobot kering tajuk sangat nyata (P<0,01) dipengaruhi oleh perlakuan yang terlihat pada Tabel 5. Berdasarkan uji Duncan pada Tabel 6 terlihat bahwa perlakuan MPAH (5,80 gram) memberikan bobot kering yang paling tinggi dan sangat berbeda nyata (P<0.01) dengan perlakuan yang lainnya kecuali MH.
Perlakuan MH memberikan perbedaan yang sangat nyata (P<0.01) dibanding perlakuan MPA, MA, M dan Ktrl namun tidak berbeda nyata dengan MP. Perlakuan
Perlakuan MH memberikan perbedaan yang sangat nyata (P<0.01) dibanding perlakuan MPA, MA, M dan Ktrl namun tidak berbeda nyata dengan MP. Perlakuan