• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua percobaan, yaitu percobaan in vitro

dan percobaan in vivo. Pada percobaan in vitro, sumber eksplan diperoleh dari perbanyakan dengan menggunakan buku tunas aksilar. Tunas aksilar adalah tunas yang terdapat pada sudut antara masing-masing daun dan batang (Campbell et al., 2003).

Eksplan yang ditanam diambil dari ruas tunas aksilar dengan panjang bervariasi antara 0.5 sampai 1.0 cm. Variasi panjang eksplan ini disebabkan panjang ruas tunas masing-masing klon berbeda-beda. Eksplan ditanam di dalam tabung reaksi berdiameter sekitar 3 cm dan tinggi sekitar 15 cm. Penanaman eksplan merupakan salah satu tahap kritis dalam penelitian ini. Ukuran eksplan yang kecil sangat rentan terhadap panas dari alat-alat tanam, sementara di sisi lain peralatan tanam harus selalu dipanaskan untuk menghindari kontaminasi bakteri ataupun jamur.

Dalam beberapa hari pengamatan pertumbuhan tanaman, beberapa tanaman terlihat tidak tumbuh dengan baik. Hal ini disebabkan oleh adanya akar yang mengkalus, batang yang mengkalus, dan kontaminasi bakteri. Keadaan tanaman dalam kondisi in vitro terbagi menjadi beberapa kelompok, antara lain tanaman yang berakar baik dan tumbuh dengan baik, tanaman dengan akar yang mengkalus sehingga bidang penyerapan sangat luas dan pertumbuhan sangat cepat, tanaman yang tidak berakar dan juga tidak mengkalus sehingga pertumbuhannya sangat lambat, serta tanaman yang batangnya mengkalus dan terlihat seperti kelebihan air (Gambar 3). Keadaan ini terdapat pada semua klon yang diuji.

Sebelum dipindahkan ke rumah kaca, planlet yang telah tumbuh sempurna diaklimatisasi agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan luar yang ekstrim. Proses aklimatisasi ini adalah tahapan kritis ke dua selama penelitian ini berlangsung karena dalam tahap ini tanaman mulai diadaptasikan ke lingkungan luar. Aklimatisasi berlangsung selama dua minggu. Tantangan terbesar dalam proses aklimatisasi antara lain ukuran planlet hasil fusi yang kecil dan rentan patah, serta kondisi lingkungan pada saat aklimatisasi berlangsung cukup panas sehingga tanaman rentan mengalami kelayuan.

10

SMST2 S. torvum Sw. SMST1 SMST3 Gambar 3 Kondisi umum klon yang diuji pada percobaan in vitro umur 5 MST*.

a) pangkal batang mengkalus dan akar tidak muncul, b) planlet tumbuh dengan normal, c) batang mengkalus dan tumbuh tidak normal, d) pangkal batang mengkalus dan diselubungi semacam kristas dan menyebabkan pertumbuhan sangat cepat, (*) minggu setelah tanam.

Selama masa aklimatisasi, tanaman yang mengalami kelayuan dan mati mencapai 25%. Tanaman dengan jumlah daun dan akar yang banyak lebih tahan dibandingkan dengan tanaman yang jumlah daun dan akarnya sedikit. Keberadaan akar lebih menentukan keberhasilan tanaman dalam proses aklimatisasi dibanding keberadaan daun karena selama aklimatisasi, tanaman membutuhkan akar untuk menyerap unsur hara dari media. Klon SMST5 yang memiliki pertumbuhan yang lemah hampir seluruhnya mengalami kematian dan hanya menyisakan satu tanaman, sehingga tidak dapat dimasukkan ke dalam percobaan in vivo. Kondisi tanaman pada tahap aklimatisasi dapat dillihat pada gambar 4.

Pada percobaan in vivo, tanaman yang telah berhasil tumbuh stabil selama dua minggu aklimatisasi dipindahkan ke dalam polibag berukuran 20 x 25 cm2 dengan media berasal dari campuran tanah dan pupuk organik dengan perbandingan 2 : 1. Tanaman diletakkan di dalam rumah kaca untuk menghindari serangan hama dan penyakit. Sebelum tanaman dipindahkan ke media tanam in vivo, media diberi bakterisida dan fungisida untuk menghindari serangan bakteri ataupun cendawan yang berasal dari tanah. Pengamatan dilakukan hingga tanaman berumur 5 MST (Gambar 5).

Gambar 4 Kondisi klon yang diuji pada minggu kedua aklimatisasi

Gambar 5 Klon yang diuji pada percobaan in vivo umur 5 MST. a) Solanum torvum Sw., b) Solanum melongena cv. Dourga,

c) SMST1, d) SMST2, e) SMST3, f) SMST4.

Selama tanaman berada dalam kondisi in vivo, penyiraman dilakukan setiap hari (pagi atau sore). Pemupukan dilakukan sebanyak empat kali dengan dosis total terdiri dari urea 10 g/tanaman, SP36 9 g/tanaman, dan KCl 7 g/tanaman. Selama pengamatan dilakukan dalam percobaan in vivo, beberapa tanaman mengalami kelayuan dan mati akibat kondisi rumah kaca yang cukup panas selama minggu pertama dengan suhu udara luar berkisar 22.8o sampai 32.7oC (BMKG, 2012).

Keragaan Fenotipik Tanaman in Vitro

Pada percobaan in vitro, pengamatan dilakukan secara kuantitatif (tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah akar, panjang akar, dan jumlah buku batang) dan secara kualitatif (warna daun). Pengamatan pada percobaan in vitro dilakukan hingga tanaman berumur 5 MST.

Keragaan fenotipik semua peubah vegetatif yang diamati pada percobaan in vitro menunjukkan perbedaan yang sangat nyata pada klon yang diuji (Tabel 1). Pengujian lanjut dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) bertujuan untuk mengetahui perbedaan antar klon tersebut yang memberikan pengaruh yang nyata pada klon yang diuji.

12

Tabel 1 Rekapitulasi uji F dari peubah vegetatif yang diamati pada keragaan in vitro klon yang diuji umur 1-5 MST

Peubah vegetatif Klon

1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST

Tinggi tanaman - ** ** ** **

Jumlah daun ** ** ** ** **

Jumlah akar - ** ** ** **

Panjang akar terpanjang - ** ** ** **

Jumlah buku - - - - **

**: berpengaruh sangat nyata pada uji F taraf 1%, -: pengamatan tidak dilakukan.

Tinggi Tanaman

Tinggi tanaman pada percobaan in vitro diukur dari permukaan media sampai ujung tunas apikal. Tinggi tanaman dapat menunjukkan kemampuan tumbuh dan penyerapan nutrisi tanaman terung pada kondisi in vitro.

Pada 2 minggu setelah tanam, Solanum torvum Sw. (2.56 cm) memiliki tingkat pertumbuhan di atas semua klon. Klon SMST3 (0.15 cm) merupakan klon dengan pertumbuhan paling lambat (Tabel 2).

Pada 5 MST, klon SMST3 (0.45 cm) berbeda nyata dengan kedua tetua dan memiliki pertumbuhan paling lambat. Klon SMST1 (1.53 cm), SMST2 (0.89 cm), SMST4 (1.24 cm), dan SMST5 (0.73 cm) tidak berbeda nyata dengan Solanum melongena cv. Dourga (1.16 cm). Solanum torvum Sw. (10.0 cm) sangat berbeda nyata dengan Solanum melongena cv. Dourga dan kelima klon lainnya dan memiliki pertumbuhan paling cepat (Tabel 2).

Solanum torvum Sw. lebih responsif pada media MS tanpa hormon tumbuh (Moreira et al., 2010) sedangkan Solanum melongena tidak dapat tumbuh baik pada media MStanpa hormon tumbuh (Ray et al., 2011).

Tabel 2 Rata-rata tinggi tanaman pada keragaan in vitro klon yang diuji umur 2-5 MST

Klon Tinggi tanaman (cm)

2 MST 3 MST 4 MST 5 MST S. melongena cv. Dourga 0.32 b 0.60 b 0.89 bc 1.16 b S. torvum Sw 2.56 a 5.55 a 8.89 a 10.0 a SMST 1 0.33 b 0.62 b 1.28 b 1.53 b SMST 2 0.22 bc 0.43 bc 0.60 bc 0.89 bc SMST 3 0.15 c 0.28 c 0.38 c 0.45 c SMST 4 0.24 bc 0.48 bc 0.80 bc 1.24 b SMST 5 0.34 b 0.50 bc 0.69 bc 0.73 bc Angka yang diikuti huruf sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan uji DMRT.

Tidak hanya pertumbuhan planlet yang membutuhkan hormon tambahan,

Solanum melongena juga memerlukan tambahan hormon untuk merangsang pertumbuhan kalus. Ferdausi et al. (2009) dalam penelitiannya juga mendapatkan hasil bahwa Solanum melongena cv. Jhumky memiliki persentase pertumbuhan kalus pada media MS dengan penambahan hormon dua kali lipat dibandingkan pada media MS tanpa hormon. Beberapa penelitian tersebut menunjukkan bahwa

dalam kultur in vitro, Solanum melongena membutuhkan penambahan hormon auksin dan sitokinin, sedangkan Solanum torvum tidak membutuhkan hormon auksin dan sitokinin. Oleh karena itu, performa Solanum torvum Sw. lebih baik dibandingkan Solanum melongena dan hasil fusi protoplas.

Jumlah Daun

Banyaknya jumlah daun merupakan salah satu indikator penting untuk melihat tingkat pertumbuhan tanaman. Fungsi daun pada tanaman sangat penting karena daun merupakan organ fotosintesis utama pada sebagian besar tumbuhan (Campbell et al., 2003). Pada in vitro, jumlah daun dapat dijadikan indikator bahwa tanaman tumbuh dengan baik dan akan menjadi bakal bibit yang baik.

Pada 1 MST, jumlah daun Solanum torvum Sw. (1.3 helai) telah menunjukkan perbedaan yang nyata dengan semua klon, namun pertumbuhan daun Solanum melongena cv. Dourga (0.2 helai) dan 5 klon lainnya tidak berbeda nyata satu sama lain. Perbedaan pertumbuhan daun antar klon mulai terlihat sejak 2 MST hingga 5 MST (Tabel 3).

Pada 1-5 MST, pertambahan jumlah daun Solanum torvum Sw. paling tinggi dan sangat berbeda nyata dengan klon lainnya. Klon SMST1, SMST2, SMST4, dan SMST5 tidak berbeda nyata dengan Solanum melongena cv. Dourga dan menempati urutan kedua jumlah daun terbanyak. Pertambahan jumlah daun paling lambat dimiliki oleh klon SMST3 yang berbeda nyata dengan kedua tetuanya (Tabel 3).

Tabel 3 Rata-rata jumlah daun pada keragaan in vitro klon yang diuji umur 1-5 MST

Klon Jumlah daun (helai)

1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST S. melongena cv. Dourga 0.2 b 0.8 c 1.5 bc 1.8 b 2.4 b S. torvum Sw. 1.3 a 3.2 a 4.9 a 6.0 a 7.7 a SMST 1 0.2 b 1.1 bc 1.6 bc 2.0 b 2.7 b SMST 2 0.2 b 1.1 bc 1.7 b 1.8 b 2.3 b SMST 3 0.4 b 0.7 c 0.9 c 0.9 c 1.4 c SMST 4 0.1 b 0.8 c 1.4 bc 1.8 b 1.9 bc SMST 5 0.3 b 1.4 b 1.6 bc 2.0 b 2.2 bc

Angka yang diikuti huruf sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan uji DMRT.

Jumlah Akar

Akar merupakan salah satu indikator apakah pertumbuhan tanaman berjalan baik atau tidak. Akar berfungsi menambatkan tumbuhan ke tanah, menyerap mineral dan air, menghantarkan air dan nutrien, serta menyimpan makanan (Campbell et al., 2003). Pada in vitro, akar berfungsi untuk menyerap nutrisi yang disediakan pada media in vitro.

Pertambahan jumlah akar Solanum torvum Sw. sangat cepat terjadi pada minggu ke-2 pengamatan, sedangkan pada 3 – 5 MST, pertambahan jumlah akar

Solanum torvum Sw. tidak signifikan. Jumlah akar Solanum torvum Sw. berbeda nyata dengan klon hibrida somatik dan memiliki jumlah akar terbanyak pada 2 – 5 MST (Tabel 4).

14

Hal ini sesuai dengan penelitian Moreira et al. (2010) yang menyatakan

Solanum torvum menghasilkan pengakaran yang lebih tinggi pada media tanpa penambahan hormon auksin dan sitokinin dibandingkan dengan media yang ditambahkan hormon.

Pertumbuhan akar pada klon hibrida somatik mulai terlihat pada 2 MST, namun pertumbuhan akar belum terjadi pada klon SMST5. Semua klon telah memiliki akar pada 3 MST. Pada 5 MST, Solanum melongena cv. Dourga (0.3 buah) memiliki jumlah akar paling sedikit dan tidak berbeda nyata dengan klon SMST5 (0.6 buah). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh media yang tidak diberi penambahan hormon. Ray et al. (2011) menyatakan Solanum melongena yang dikulturkan pada media tanpa hormon tidak memiliki kemampuan regenerasi. Klon SMST1 (1.6 buah), SMST2 (1.6 buah), SMST3 (1.0 buah), dan SMST4 (1.4 buah) tidak berbeda nyata satu dengan yang lain dan memiliki jumlah akar di antara Solanum torvum Sw. (6.6 buah) dan Solanum melongena cv. Dourga (0.3 buah) pada 5 MST (Tabel 4).

Hasil penelitian Ray et al. tersebut menunjukkan sifat genetik yang berbeda antara Solanum melongena cv. Dourga dengan Solanum torvum Sw. Hal inilah yang mungkin menyebabkan adanya perbedaan pertumbuhan hibrida somatik antara Solanum melongena cv. Dourga dan Solanum torvum Sw. Lestari (2012) menyatakan bahwa faktor genetik merupakan salah satu faktor yang menentukan kemampuan regenerasi tunas.

Tabel 4 Rata-rata jumlah akar pada keragaan in vitro klon yang diuji umur 2-5 MST

Klon Jumlah akar (buah)

2 MST 3 MST 4 MST 5 MST S. melongena cv. Dourga 0.3 cd 5.9 a 1.1 b 0.7 bc 0.4 cd 0.4 cd 0.0 d 0.3 c 0.3 c 0.3 d S. torvum Sw. 6.5 a 6.6 a 6.6 a SMST 1 1.3 b 1.4 b 1.6 b SMST 2 1.6 b 1.6 b 1.6 b SMST 3 0.5 c 0.6 c 1.0 bc SMST 4 1.2 b 1.3 b 1.4 b SMST 5 0.3 c 0.5 c 0.6 cd

Angka yang diikuti huruf sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan uji DMRT.

Panjang Akar

Panjang akar menunjukkan kemampuan tanaman dalam menjangkau nutrisi yang akan diserap. Panjang akar juga menjadi indikator pertumbuhan yang baik di samping jumlah akar. Tanaman dengan akar yang banyak dan panjang akan memiliki pertumbuhan yang sangat baik karena dapat menyerap hara dengan maksimal.

Pertumbuhan akar Solanum torvum Sw. terjadi sangat cepat pada 2 MST, sedangkan pada 3-5 MST tidak terjadi penambahan panjang akar yang signifikan. Hal ini berbeda dengan pertumbuhan akar Solanum melongena cv. Dourga dan klon hibrida somatik. Pertumbuhan akar klon hibrida somatik secara umum terlihat cepat pada 3 MST. Pada 4 MST, hanya klon SMST5 yang pertambahan panjang akarnya masih signifikan (Tabel 5).

Panjang akar Solanum torvum Sw. (5.91 cm) sangat berbeda nyata dengan semua klon hibrida somatik dan memiliki akar terpanjang pada 5 MST. Solanum melongena cv. Dourga (1.00 cm) memiliki akar terpendek dan tidak berbeda nyata dengan klon SMST2 (1.64 cm), SMST3 (1.11 cm), SMST4 (1.99 cm), SMST5 (1.09 cm), namun berbeda nyata dengan klon SMST1 (2.37 cm) (Tabel 5).

Tabel 5 Rata-rata panjang akar pada keragaan in vitro klon yang diuji umur 2-5 MST

Klon Panjang akar (cm)

2 MST 3 MST 4 MST 5 MST S. melongena cv. Dourga 0.13 bc 5.28 a 0.32 b 0.14 bc 0.13 bc 0.14 bc 0.00 c 0.82 bc 0.92 b 1.00 c S. torvum Sw. 5.91 a 5.91 a 5.91 a SMST1 1.47 b 2.07 b 2.37 b SMST2 0.915 b 1.415 b 1.64 bc SMST3 0.63 bc 0.86 b 1.11 bc SMST4 1.25 b 1.63 b 1.99 bc SMST5 0.095 c 0.95 b 1.09 bc

Angka yang diikuti huruf sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan uji DMRT.

Jumlah Buku

Dalam perbanyakan in vitro, setiap buku merupakan bakal individu baru. Semakin banyak jumlah buku setiap planlet, jumlah bakal bibit yang akan didapatkan semakin banyak.

Solanum torvum Sw. memiliki jumlah buku terbanyak dan berbeda nyata dengan klon lainnya. Hal ini juga sesuai dengan penelitian Moreira et al. (2010) yang menyatakan bahwa Solanum torvum pada media MS tanpa penambahan hormon menghasilkan perpanjangan tunas lebih tinggi dibandingkan MS dengan penambahan hormon, sedangkan Ray et al. (2011) menyatakan Solanum melongena pada media MS tanpa hormon tidak memiliki kemampuan regenerasi. Perbedaan ini menyebabkan perbedaan pertumbuhan masing-masing klon hibrida somatik. Klon SMST2 (3.0 buah) merupakan klon hibrida dengan jumlah buku terbanyak dan berbeda nyata dengan klon SMST5 (1.5 buah) yang memiliki jumlah buku paling sedikit (Tabel 6).

Tabel 6 Rata-rata jumlah buku klon yang diuji pada kondisi in vitro umur 5 MST

Klon Jumlah buku tunas(buah)

S. melongena cv. Dourga 2.3 bcd S. torvum Sw. 6.7 a SMST1 2.4 bcd SMST2 3.0 b SMST3 1.7 cd SMST4 2.5 bc SMST5 1.5 d

Angka yang diikuti huruf sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan uji DMRT.

16

Pada percobaan in vitro, Beberapa klon hibrida somatik yang memiliki karakter pertumbuhan yang baik dari semua peubah yang diamati (tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah akar, panjang akar, dan jumlah buku) adalah klon SMST1, SMST2, dan SMST4, sedangkan klon SMST3 dan SMST5 memiliki kemampuan tumbuh yang rendah.

Morfologi Batang dan Daun

Pada kondisi in vitro, keragaan morfologi tanaman secara kualitatif memperlihatkan adanya perbedaan yang jelas antara klon SMST5 dengan kultivar pembanding maupun klon lainnya.

Klon SMST5 memiliki batang yang rapuh dengan warna hijau keputih-putihan, sedangkan klon SMST1, SMST2, SMST3, SMST4, Solanum melongena

cv. Dourga, dan Solanum torvum Sw. berwarna hijau muda. Klon SMST5 juga memiliki warna daun yang berbeda dengan klon lainnya. Daun klon SMST5 berwarna hijau muda di bagian tengah dan berwarna putih di sepanjang tepi daunnya (variegata), sedangkan klon lainnya dan kultivar pembanding memiliki daun berwarna hijau di seluruh permukaannya (Gambar 6).

Gambar 6 Klon yang diuji pada percobaan in vitro umur 5 MST. a) Solanum torvum Sw., b) Solanum melongena cv. Dourga, c) SMST1, d) SMST2, e) SMST3, f) SMST4, g) SMST5.

Keragaan Fenotipik Tanaman in Vivo

Pada percobaan in vivo, pengamatan dilakukan secara kuantitatif (tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, panjang petiola, jumlah duri permukaan atas daun) dan secara kualitatif (warna batang, duri pada batang, bentuk daun, warna tangkai daun, duri pada daun). Keragaan fenotipik yang diamati pada percobaan in vivo menunjukkan perbedaan sangat nyata hanya pada karakter tinggi tanaman dan jumlah duri pada permukaan atas daun (Tabel 7).

Tinggi Tanaman

Tinggi tanaman menunjukkan kemampuan tanaman untuk tumbuh pada lingkungannya. Tinggi tanaman juga menggambarkan kemampuannya untuk

menyerap hara dengan baik. Peubah tinggi tanaman pada klon-klon yang diuji menunjukkan perbedaan yang nyata pada umur 1 MST, 4 MST, dan 5 MST. Pada umur 2 MST dan 3 MST, peubah tinggi tanaman tidak menunjukkan perbedaan yang nyata berdasarkan uji statistik (Tabel 8). Adanya perbedaan nyata peubah tinggi tanaman pada 1 MST disebabkan oleh pertumbuhan planlet in vitro yang bervariasi sehingga tinggi awal tanaman berbeda-beda. Pada 2 MST dan 3 MST, tanaman sudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar, sehingga pertumbuhan berjalan normal dan klon yang diuji tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Tabel 7 Rekapitulasi uji F dari peubah vegetatif yang diamati pada keragaan in

vivo klon yang diuji.

Peubah vegetatif Klon

1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST

Tinggi tanaman * tn tn ** **

Jumlah daun * * tn tn tn

Panjang daun - - - - tn

Panjang tangkai daun - - - - tn

Jumlah duri pada permukaan

atas daun - - - - **

*: berpengaruh nyata pada uji F taraf 5%,**: berpengaruh sangat nyata pada uji F taraf 1%, tn: tidak berpengaruh nyata pada uji F taraf 5%, - : pengamatan tidak dilakukan.

.

Tabel 8 Rata-rata tinggi tanaman klon yang diuji pada kondisi in vivo umur 1-5 MST

Klon Tinggi tanaman (cm)

1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST S. melongena cv. Dourga 6.91 a 7.23 9.05 10.80 b 13.00 b S. torvum Sw. 2.20 c 4.60 7.33 10.50 b 14.67 b SMST1 4.22 abc 4.83 8.85 13.20 ab 18.90 ab SMST2 6.54 ab 7.94 12.28 17.00 a 23.06 a SMST3 4.76 abc 6.21 10.33 14.67 ab 20.56 ab SMST4 3.60 bc 5.54 11.41 17.5 a 24.61 a Angka yang diikuti huruf sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan uji DMRT.

Pada 5 MST, SMST4 (24.61 cm) menunjukkan pertumbuhan tertinggi dan tidak berbeda nyata dengan SMST2 (23.06 cm). SMST1 (18.90 cm) dan SMST3 (20.56 cm) tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, dan memiliki tinggi di bawah SMST2. Pertumbuhan terendah dimiliki oleh Solanum torvum Sw. (14.67 cm) yang tidak memiliki perbedaan nyata dengan Solanum melongena cv. Dourga (13.00 cm) (Tabel 8).

Perbedaan tinggi yang signifikan pada 4-5 MST mengindikasikan adanya kemampuan tumbuh yang berbeda antar klon. Klon SMST2 dan SMST4 lebih tinggi dan berbeda nyata dari kedua tetua pembanding.

Jumlah Daun

Jumlah daun pada suatu tanaman sangat menentukan tingkat pertumbuhan dan perkembangan tanaman di samping efektifitas daun tanaman tersebut dalam menyerap cahaya. Peubah jumlah daun menunjukkan perbedaan yang signifikan

18

pada umur 1 – 2 MST, namun tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan pada umur 3 – 5 MST (Tabel 9).

Solanum melongena cv. Dourga memiliki jumlah daun terbanyak dan berbeda nyata dengan klon lainnya pada umur 1-2 MST. Jumlah daun paling sedikit pada umur 1 MST dimiliki oleh klon SMST4 (3.44 helai). Pada umur 3-5 MST, semua klon tidak memiliki perbedaan yang nyata.

Tabel 9 Rata-rata jumlah daun klon yang diuji pada kondisi in vivo umur 1-5 MST

Klon Jumlah daun(helai)

1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST S. melongena cv. Dourga 7.20 a 7.70 a 7.20 7.80 7.80 S. torvum Sw. 7.00 ab 4.00 b 6.00 6.00 7.33 SMST1 4.30 bc 4.70 b 5.00 5.90 6.00 SMST2 4.78 abc 5.00 b 5.11 5.78 6.00 SMST3 4.56 abc 5.11 b 5.33 5.89 6.11 SMST4 3.44 c 4.11 b 4.67 5.44 5.56

Angka yang diikuti huruf sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan uji DMRT.

Panjang Daun

Daun adalah bagian yang sangat penting bagi tumbuhan karena daun pada sebagian besar tumbuhan merupakan tempat melakukan fotosintesis dan penyediaan nutrisi untuk tumbuh dan berkembang (Campbell et al., 2003). Luas daun menentukan tingkat kemampuan daun dalam menyerap cahaya sebagai salah satu materi fotosintesis. Pada lebar yang sama, daun yang lebih panjang akan lebih banyak menyerap cahaya matahari. Peubah panjang daun yang diamati pada 5 MST tidak menunjukkan perbedaan nyata berdasarkan uji statistik (Tabel 10). Panjang Tangkai Daun

Panjang tangkai daun menunjukkan kemampuan tanaman dalam memaksimalkan penyerapan cahaya matahari oleh daun. Peubah panjang tangkai daun tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antar klon yang diuji. Solanum torvum Sw. (8.22 cm) memiliki tangkai daun terpanjang meskipun tidak berbeda nyata dengan klon lainnya. Tangkai daun terpendek dimiliki oleh klon SMST1 (5.93 cm) (Tabel 10).

Jumlah Duri pada Permukaan Atas Daun

Duri merupakan salah satu bentuk pertahanan tanaman terhadap serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Duri pada umumnya banyak dimiliki oleh kultivar terung liar, sedangkan terung budidaya pada umumnya tidak memiliki duri.

Dari enam klon yang diamati, peubah duri menunjukkan perbedaan yang signifikan berdasarkan uji statistik. Jumlah duri pada daun Solanum torvum Sw. (12.33 buah) berbeda nyata lebih banyak dari keempat klon hibrida somatik. Sedangkan Solanum melongena cv. Dourga (0.00 buah) tidak memiliki duri pada daunnya (Tabel 10).

Tabel 10 Rata-rata panjang daun, panjang tangkai daun, dan jumlah duri permukaan daun klon yang diuji pada kondisi in vivo 5 MST

Klon Panjang daun (cm) Panjang tangkai daun (cm) Jumlah duri permukaan daun (buah) S. melongena cv. Dourga 11.07 7.82 0.00 c S. torvum Sw. 16.92 8.22 12.33 a SMST1 13.30 5.93 7.93 b SMST2 14.72 6.41 7.99 b SMST3 13.89 6.35 9.64 b SMST4 15.22 6.07 7.67 b

Angka yang diikuti huruf sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan uji DMRT.

Morfologi Batang

Pertumbuhan batang Solanum melongena cv. Dourga dan Solanum torvum

Sw. menunjukkan pertumbuhan batang yang tegak (upright). Klon-klon hibrida somatik ini juga memiliki pertumbuhan batang yang tegak (Tabel 11). Pada umur 5 MST, Solanum melongena cv. Dourga memiliki warna batang hijau terang di seluruh permukaan batangnya dan ditumbuhi rambut-rambut yang sangat halus. Pada umur yang sama, Solanum torvum Sw. memiliki batang yang berwarna hijau keunguan dan ditumbuhi rambut-rambut halus yang lebih jelas terlihat dibandingkan Solanum melongena cv. Dourga (Gambar 7). Fusi protoplas kedua tetua ini menghasilkan klon SMST1, SMST2, SMST3, dan SMST4 yang memiliki warna batang menyerupai Solanum torvum Sw. (Tabel 11).

Gambar 7 Warna batang klon yang diuji pada kondisi in vivo umur 5 MST. a)

Solanum torvum Sw., b) Solanum melongena cv. Dourga, c) SMST1, d) SMST2, e) SMST3, f) SMST4.

Pada batang Solanum torvum Sw. tumbuh duri-duri tajam yang menyebar di permukaan batangnya, sedangkan Solanum melongena cv. Dourga tidak memiliki duri di sepanjang permukaan batangnya. Fusi protoplas kedua tetua ini juga menghasilkan klon yang memiliki duri pada batangnya, sehingga lebih menyerupai Solanum torvum Sw. (tabel 11).

20

Tabel 11 Matrik perbedaan morfologi tanaman terung pada percobaan in vivo

Karakter morfologi Klon

S. torvum S. Melongena cv. Dourga SMST1 SMST2 SMST3 SMST4 Pertumbuhan batang 1. Upright (tegak) 2. Intermediate 3. Prostate (rebah) X X X X X X Warna batang 1. Hijau 2. Hijau keunguan 3. Ungu X X X X X X Tinggi tanaman 1. Sangat pendek 2. Pendek 3. Sedang 4. Tinggi X X X X X X Warna petiola 1. Hijau 2. Hijau keunguan 3. Ungu X X X X X X Panjang daun 1. Pendek 2. Sedang 3. Panjang X X X X X X Panjang tangkai daun

1. Pendek 2. Sedang 3. Panjang

X X X X X X

Leaf blade lobing

1. Sangat lemah 2. Lemah 3. Sedang

Dokumen terkait