• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEM. PUSAT

HASIL DAN PEMBAHASAN Keragaan Usahatani Padi

Subak Gubug I berlokasi di Kabupaten Tabanan, mewilayahi sawah 234 hektar. Luas sawah garapan setiap petani relatif sempit, yaitu rata-rata 0,35 hektar, sehingga sebagian besar petani harus bekerja di luar sektor pertanian untuk mencukupi kebutuhan rumahtangganya sehari-hari. Kondisi ini berdampak terhadap curahan tenaga kerja dalam keluarga tidak dapat digunakan untuk seluruh aktivitas dalam berusahatani padi. Penggunaan tenaga kerja dari dalam keluarga umumnya dicurahkan untuk kegiatan menyemai, mengairi sawah, memupuk, mengendalikan hama/penyakit tanaman, dan membersihkan pematang. Sedangkan kegiatan mengolah tanah, menanam padi, dan menyiang pada umumnya menggunakan tenaga kerja dari luar keluarga.

Berdasarkan data yang dikumpulkan, jenis sarana produksi yang digunakan dalam berusahatani padi sawah pada pada musim tanam MK II, meliputi: benih padi varietas ciherang, pupuk urea, pupuk majemuk NPK (Phonska), pupuk organik (petroganik dan kompos kotoran sapi), dan pestisida untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (Tabel 1).

Tabel1. Jumlah Produksi dan Sarana Produksi Usahatani Padi Sawah pada Musim Tanam Juni – September 2014 di Subak Gubug I

Uraian Jumlah

Per usahatani (0,35 ha) Per hektar

Produksi:

Gabah kering panen 2,21 Ton 6,35 ton

Sarana produksi: -Benih padi 12,49 kg 35,86 kg -Pupuk urea 84,41 kg 242,26 kg -Pupuk NPK 98,12 kg 281,64 kg -Pupuk organic 198,92 kg 570,94 kg -Pestisida 52,11 ml 149,56 ml

-Tenaga kerja 18,96 HOK 54,41 HOK

Sumber: Data primer diolah.

Beberapa hasil penelitian menganjurkan bahwa, penggunaan benih dalam usahatani padi sawah 25 – 30 kg/ha, namun di tingkat petani penggunaannya masih relatif tinggi, yaitu rata-rata 35,86 kg/ha. Petani menanam bibit padi berkisar 3 – 5 batang per titik, sedangkan yang dianjurkan adalah 1 – 3 bibit per titik, sehingga jumlah benih yang dibutuhkan lebih banyak daripada yang dianjurkan. Penggunaanbenih padi sesuai anjuran belum dapat dilakukan oleh sebagian besar petani karena adanya kekhawatiran kekurangan benih dan apabila bibit yang di pertanaman mati tidak bias disulam. Penggunaan pupuk urea juga masih melebihi jumlah yang direkomendasikan oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tabanan, yaitu 100 kg/ha, sehingga terdapat selisih sebanyak 142,26 kg/ha (142,26%). Penggunaan pupuk urea yang cukup banyak tersebut, disebabkan adanya anggapan bahwa semakin hijau daun padi sebagai indikasi tanaman padi tumbuh subur, sehingga diyakini dapat berkembang dan

62

SEMINAS PERAN INOVASI TEKNOLOGI DAN JASA LINGKUNGAN BUDAYA SUBAK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN NASIONAL, DENPASAR 12 DESEMBER 2014

berproduksi maksimal. Petani belum memahami bahwa tanaman padi yang terlalu subur dapat menurunkan produksi. Pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap produksi padi yang diperoleh, diketahui bahwa produktivitas padi pada saat penelitian rata-rata 2,21 ton per usahatani (0,35 ha) atau 6,35 ton/ha. Produksi tersebut lebih tinggi daripada produktivitas padi di Bali, yang sebesar 5,71 ton/ha.

Pengaruh Input terhadap Output

Hasil analisis keragaman dengan uji F terhadap model fungsi produksi yang dibangun menunjukkan bahwa, seluruh variabel bebas secara simultan berpengaruh nyata terhadap produksi padi, yang ditunjukkan oleh nilai F-hitung sebesar 2.137 dengan nilai peluang (p) = 0,000 (p < 0,01). Koefisien determinasi (R2) yang diperoleh sebesar 0,995 yang bermakna bahwa, variasi variabel bebas mampu menjelaskan variasi produksi padi sawah sebagai variabel tak bebas sebesar 99,50 persen, sedangkan sisanya sebesar 0,5 persen dipengaruhi oleh aspek lain di luar model (Tabel 2).

Hasil analisis parsial dengan uji t dari masing-masing variable bebas pada Tabel 2, menunjukkan bahwa terdapat lima variabel bebas yang berpengaruh positif dan nyata terhadap tingkat produksi padi, sedangkan dua variable bebas lainnya berpengaruh negatif. Luas lahan memiliki pengaruh yang paling besar dan sangat nyata terhadap produksi padi, yang ditunjukkan oleh nilai koefisiennya sebesar 0,738, dengan nilai peluang = 0,000 (p < 0,01). Nilai koefisien tersebut memiliki makna bahwa setiap penambahan luas lahan sawah sebesar satu persen akan dapat meningkatkan produksi padi dalam bentuk gabah kering panen (GKP) sebesar 0,738 persen. Hasil penelitian ini sejalan dengan Triyanto (2006) dan Kusnadi et al (2011), yang mernyimpulkan bahwa luas lahan berpengaruh positif dan signifikan gterhadap produksi padi. Pupuk majemuk NPK juga memberikan pengaruh positif dan sangat nyata terhadap produksi padi, dengan nilai koefisien 0,143 dan t-hitung sebesar 3,180 dengan nilai peluang (p) = 0,002 (p < 0,01). Makna dari koefisien tersebut adalah setiap penambahan pupuk NPK sebesar satu persen akan meningkatkan produksi padi sebesar 0,143 persen. Hal senada diungkapkan oleh Permadi et al (2014); Kaya (2013); dan Londong (2009), bahwa pemberian pupuk NPK dapat meningkatkan unsur N tersedia dalam tanah, pertumbuhan vegetatif, dan hasil tanaman padi. Pengaruh yang sama juga diberikan oleh pupuk organic, yang ditunjukkan oleh nilai koefisiennya sebesar 0,107 dan t-hitung sebesar 9,940 pada α = 0,01.

Pupuk organik merupakan pupuk lengkap yang mengandung komponen penting berupa unsur makro dan mikro sebagai pembangun kesuburan tanah (Pringadi, 2009). Penggunaan pupuk organik yang sudah dikomposkan (difermentasi) diduga telah meningkatkan kualitas biologi, fisik dan kimia tanah serta meningkatkan ketersediaain hara bagi tanaman di lokasi penelitian, seperti yang disebutkan oleh Hartatik dan Widowati (2006) bahwa, pengomposan meningkatkan kadar hara N, P, K, Ca, dan Mg; menurunkan rasio C/N dan kadar air per unit yang sama. Kariyasa (2005), juga mengungkapkan bahwa penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan produktivitas tanaman padi.

Pengaruh yang berbeda diberikan oeh pupuk urea, yang berpengaruh negatif secara nyata terhadap produksi padi. Nilai koefisien pupuk organik berdasarkan uji t sebesar -0,071 dan t-hitung sebesar -2,406, yang berarti bahwa setiap penambahan pemberian pupuk urea sebesar satu persen akan menurunkan hasil padi sebesar 0,071 persen. Pengaruh yang berbanding terbalik ini mengindikasikan bahwa pemberian pupuk urea oleh petani telah melebihi kebutuhan optimal tanaman, sehingga berdampak terhadap penurunan produksi padi. Penggunaan pupuk urea yang berlebih

63

SEMINAS PERAN INOVASI TEKNOLOGI DAN JASA LINGKUNGAN BUDAYA SUBAK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN NASIONAL, DENPASAR 12 DESEMBER 2014

dapat berpengaruh terhadap penurunan produksi, karena tanaman cenderung berkembang secara vegetatif, rentan terhadap serangan hama/penyakit, tanaman mudah rebah dan meningkatkan jumlah bulir padi yang hampa.

Tabel 2. Hasil Estimasi Pengaruh Faktor Produksi terhadap Produksi Padi di Subak Gubug I pada MK II Tahun 2014

Variabel Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta (Constant) 7,550 0,415 18,211** 0,000 Luas lahan 0,738 0,091 0,752 8,139** 0,000 Benih padi 0,089 0,059 0,089 1,521ns 0,132 Pupuk urea -0,071 0,029 -0,074 -2,406** 0,018 Pupuk NPK 0,143 0,045 0,150 3,180** 0,002 Pupuk organik 0,107 0,011 0,131 9,940** 0,000 Pestisida 0,063 0,029 0,060 2,175** 0,033 Tenaga kerja -0,090 0,069 -0,081 -1,307ns 0,195 R-squared 0,995 Adjusted R squared 0,994 F-hitung 2.137,00** Sumber : Analisis Data Primer, 2014

Resiko Produksi

Hasil penghitungan terhadap risiko produksi usahatani padi sawah menggambarkan bahwa risiko produksi yang dihadapi petani cukup tinggi yaitu sebesar 62,61%, yang ditunjukkan oleh nilai koefisien variasinya (CV) sebesar 0,6261 (Tabel 2). Menghadapi risiko yang tinggi tersebut, petani dalam melaksanakan kegiatan usahatani padinya agar lebih cermat mengalokasikan dan mengkombinasikan seluruh sumberdaya yang tersedia dengan memperhitungkan ataumengantisipasi cuaca untuk memperkeil risiko yang harus diterima.

Tabel 3. Risiko Produksi Usahatani Padi Sawah di Subak Gubug I pada MK II Tahun 2014

Uraian Nilai

Produktivitas (t/ha) 6,35

Standar deviasi 1.385

Koefisien variasi 0,6261

Sumber: Analisis Data Primer, 2014

Faktor-faktor yang mempengaruhi risiko produksi padi sawah diduga dengan Methode Least Square, dimana residual yang merupakan risiko produksi padi sawah digunakan sebagai variabel tak bebas, sedangkan faktor produksi (input) sebagai variabel bebas. Berdasarkan hasil pendugaan diperoleh koefisien determinasinya (R2) sebesar 0,274 (Tabel 4), yang bermakna bahwa variasi variable bebas hanya mampu menjelaskan variasi risio produksi sebesar 27,40 persen, sedangkan sisanya sebesar 72,60 persen merupakan pengaruh dari unsur-unsur lain yang tidak terlibat dalam model.

Hasil analisis keragaman dengan uji F (Tabel 4), menunjukkan bahwa variabel bebas dalam model secara simultan berpengaruh nyata terhadap variable tak bebas (risiko produksi padi), yang dicerminkan oleh nilai F-hitung sebesar 4,309 dan peluang

64

SEMINAS PERAN INOVASI TEKNOLOGI DAN JASA LINGKUNGAN BUDAYA SUBAK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN NASIONAL, DENPASAR 12 DESEMBER 2014

(p) = 0,000, pada α = 0,01. Hasil uji t terhadap masing-masing variabel bebas diketahui bahwa terdapat satu variable bebas, yaitu pupuk NPK yang berpengaruh negatif secara nyata terhadap risiko produksi padi. Nilai koefisien dari pupuk NPK sebesar -0,065 dengan nilai t-hitung = -2,894. Nilai ini berarti bahwa setiap penambahan pupuk majemuk NPK sebesar satu persen akan dapat menurunkan risiko produksi sebesar 0,065 persen. Selanjutnya, pupuk urea dan pupuk organic berpengaruh positif dan nyata terhadap risiko produksi padi, yang mengandung makna bahwa penambahan jumlah pupuk urea dan organik akan meningkatkan risiko produksi padi.

Tabel 4. Hasil Estimasi Pengaruh Faktor Produksi terhadap Risko Produksi Padi di Subak Gubug I pada MK II Tahun 2014

Variabel Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta (Constant) 0,081 0,208 0,388ns 0,699 Luas lahan 0,025 0,045 0,596 0,552ns 0,583 Benih padi -0,002 0,029 -0,056 -0,08 ns 0,935 Pupuk urea 0,042 0,015 1,015 2,822** 0,006 Pupuk NPK -0,065 0,023 -1,592 -2,894** 0,005 Pupuk organik 0,025 0,005 0,708 4,587** 0,000 Pestisida -0,018 0,015 -0,385 -1,197ns 0,235 Tenaga kerja -0,004 0,035 -0,083 -0,114ns 0,909 R-squared 0,274 Adjusted R squared 0,210 F-hitung 4,309** Sumber: Analisis Data Primer

KESIMPULAN

Luas lahan sawah, pupuk NPK, pupuk organik, dan pengunaan pestisida sampai pada batas tertentu berpengaruh nyata terhadap peningkatan produksi padi, sedangkan pupuk urea berpengaruh nyata terhadap penurunan produksi padi. Usahatani padi sawah pada musim kering (MK) II di Subak Gubug I memiliki risiko produksi yang relatif tinggi. Penambahan jumlah pupuk NPK sampai pada batas tertentu akan dapat memperkecil risiko produksi padi, sedangkan penambahan pupuk urea akan dapat meningkatkan ridiko produksi padi. Risiko produksi padi sebagian besar dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti: cuaca, organisme pengganggu tanaman, dan faktor-faktor lainnya yang tidak teridentifikasi

DAFTAR PUSTAKA

Azahari, D.H. 2008. Membangun Kemandirian Pangan dalam rangka Meningkatkan Ketahanan Pangan Nasional. Analisis Kebijakan Kebijakan Pertanian 6 (2):174-195.

BPS Provinsi Bali.2014. Bali Dalam Angka 2013.

Coelli, T.J. D.S.P. Rao and G.E. Battese. 1998. Introduction to Efficiency and Productivity Analysis. Kluwer Academic Plublisher. Boston.

65

SEMINAS PERAN INOVASI TEKNOLOGI DAN JASA LINGKUNGAN BUDAYA SUBAK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN NASIONAL, DENPASAR 12 DESEMBER 2014

Greene, W.H. 2003. Econometric Analysis. Fifth Edition. Upper Saddle River, Prentice Hall, New Jersey.

Hartatik, W. dan L.R.Widowati.2006. 4. Pupuk Kandang. Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Hal.:59-82. Balai Penelitian Tanah.Badan Litbang Pertanian. Kariyasa.2005. Sistem Integrasi Tanaman Ternak dalam Perspektif Reorientasi

Kebijakan Subsidi Pupuk dan Peningkatan Pendapatan Petani. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian. 3(1):68-80.

Kaya, E.2013. Pengaruh Kompos Jerami dan Pupuk NPK terhadap N-Tersedia Tanah, Serapan N, Pertumbuhan, dan Hasil Padi Sawah.Prosiding FMIPA Universitas Pattimura: 41-47.ISBN:978-602-97522-0-5

Kusnadi, N., N. Tinaprilla, S.H. Susilowati, dan A. Purwoto.2011.Analisis Efisiensi Usahatani Padidi Beberapa Sentra Produksi Padi di Indonesia.Jurnal Agroekonomi.29(1):25-48.

Londong, P.2009.Hubungan Pupuk NPK dengan Pertumbuhan dan Hasil Padi Mira I pada Lahan Pasang Surut.Jurnal Agroscientise.2(16):112-115.

Pappas, J.M dan M. Hirschey. 1995. Ekonomi Managerial. Edisi Keenam Jilid II. Binarupa Aksara. Bandung.

Permadi, K., B. Sunandar, dan N.R.Purnamasari.2014.Pengkajian Mikroba Probiotik dan Pupuk NPK Kujang Terhadap Hasil Padi Varietas Inpari 13.Jurnal.Agrotrop.2(2):133-138.

Pringadi, K. 2009. Peran Bahan Organik dalam Peningkatan Produksi Padi Berkelanjutan Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Jurnal Pengembangan Inovasi Pertanian 2(1):48-64.

Roumasset, J.A. 1976. Risk Aversion, Indirect Utility Function Market Failure, In : Roumasset, J.A, Boussard, J.M, Singh, I. (eds) Risk and Uncertainty an Agriculture Develop-ment. New York: Agriculture Development Council. Sembiring, H dan I N. Widiarta. 2008. Inovasi Teknologi Padi Menuju Swasembada Beras

Berkelanjutan. Dalam: A.K. Makarim et al. (eds.): Inovasi Teknologi Tanaman Pangan. Prosiding Simposium V Tanaman Pangan. Pusat Penelitian Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor. Suryana A., S. Mardianto, K. Kariyasa, dan I.P. Wardhana. 2009. Kedudukan Padi dalam

Perekonomian Indonesia dalam Padi, Inovasi Teknologi dan Ketahanan Pangan. Buku 1. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta. Hal 7- 31.

Triyanto, J.2006.Analisis Produksi Padi Di Jawa Tengah (tesis).Program Studi Magister Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Program Pasca Sarjana. Universitas Diponegoro. Semarang.

66

SEMINAS PERAN INOVASI TEKNOLOGI DAN JASA LINGKUNGAN BUDAYA SUBAK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN NASIONAL, DENPASAR 12 DESEMBER 2014