• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil dan Pembahasan Komposisi kimia Abu Dasar

Pengaruh Suhu Hidrotermal pada Sintesis Zeolit dari Abu Dasar Bebas Sisa Karbon Secara Hidrotermal

3. Hasil dan Pembahasan Komposisi kimia Abu Dasar

Komposisi kimia abu dasar pada penelitian ini dianalisa menggunakan X-ray Flourescence (XRF). Analisa XRF dilakukan untuk mengetahui kadar unsur Si, Al, Ca, Fe, K, Mg, dan unsur lain dalam jumlah yang lebih kecil. Komposisi kimia dari Abu Dasar ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel1 Komposisi kimia Abu Dasar PLTU PT IPMOMI Paiton

Komponen Komposisi (%) Berat Komponen Komposisi (%) Berat

Si 24,1 S 0,76

Al 6,8 Mn 0,32

Fe 33,59 Cr 0,098

Ca 26,3 Ni 0,055

Mg 3,6 V 0,050

K 0,58 Ti 12,1

Selain komponen kimia seperti yang tertera di dalam Tabel 1, abu dasar juga mengandung sisa karbon yang berasal dari karbon batu bara yang tidak habis terbakar.

Pengukuran kandungan sisa karbon pada abu dasar menggunakan CHN Analyzer merk LECO seri 2000 menunjukkan bahwa kadar karbon total dari sampel abu dasar sebesar 11,12%.

Komposisi tersebut serupa dengan nilai LOI diperoleh dari proses kalsinasi pada suhu 800ºC dalam furnace selama 4 jam, dengan asumsi bahwa bahan-bahan volatil yang tersisa pada abu dasar hanyalah sisa karbon. Berat yang hilang akibat proses pembakaran ini dihitung sebagai LOI (loss of ignition). Hasil perhitungan dinyatakan dalam persen berat sebesar 11,50%.

Penghilangan kandungan sisa karbon dengan kalsinasi dapat dilihat secara visual sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 1.

Gambar 1. (a) Abu dasar awal; (b) Abu dasar setelah di ayak dan (c) Abu dasar setelah dikalsinasi

AF-179 Sebelum dikalsinasi, abu dasar halus hasil pengayakan berwarna hitam dan berubah menjadi coklat setelah dikalsinasi. Perubahan warna ini adalah indikasi bahwa karbon yang terdapat dalam abu dasar, yang menyebabkan warna hitam, telah habis terbakar. Pengukuran kandungan sisa karbon pada abu dasar setelah dikalsinasi menggunakan CHN Analyzer merk LECO seri 2000 menunjukkan bahwa kandungan sisa karbon hanya tinggal 0,43 % berat, dibandingkan dengan kandungan awal yaitu 11,12 %.

Fasa mineral pada sampel abu dasar, baik abu dasar awal maupun setelah dikalsinasi dikarakterisasi menggunakan metode difraksi sinar-X (XRD). Gambar 2 merupakan difraktogram abu dasar PLTU PT IPMOMI Paiton, baik abu dasar awal maupun abu dasar setelah kalsinasi.

Gambar 2. Difraktogram sinar-X abu dasar awal dan abu dasar setelah dikalsinasi (Q = Kuarsa dan M = Mullit). Q = Quartz (SiO2), PDF 46-1045; M = Mullite (Al6Si2O13), PDF 15-0776

Tampak pada Gambar 2, ada puncak (peak) dan gundukan (hump). Puncak menunjukkan fasa kristalin dan gundukan fasa amorf. Berdasarkan PDF 46-1045 dan PDF 15-0776 fasa kristalin abu dasar adalah kuarsa (SiO2) dan mullit (3Al2O3.2SiO2). Antara fasa kristalin dan fasa amorf pada abu dasar awal maupun abu dasar setelah kalsinasi, yang lebih dibutuhkan dalam sintesis zeolit adalah fasa amorfnya. Fenomena ini disebabkan fasa amorf lebih reaktif terhadap aktivasi alkali (Querol dkk., 1997). Fasa amorf lebih mudah larut terhadap aktivasi alkali dibandingkan fasa kristalnya, sehingga semakin banyak fasa amorf pada zeolit maka semakin banyak Si dan Al yang terlarut dan produk zeolit yang terbentuk semakin banyak.

Gambar 2 juga menunjukkan bahwa intensitas difraksi kuarsa dan mullit pada abu dasar awal lebih rendah dibandingkan dengan setelah dikalsinasi. Intensitas difraksi dapat menunjukkan konsentrasi fasa yang menghasilkan pola difraksi tersebut. Semakin tinggi intensitasnya, maka semakin tinggi pula konsentrasinya. Perubahan intensitas ini menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan konsentrasi kuarsa dan mullit akibat dari berkurangnya jumlah komponen penyusunnya. Sisa karbon adalah salah satu komponen penyusun abu dasar. Karena kandungan sisa karbon berkurang sedangkan kandungan kuarsa, mullit dan fasa amorf tetap, maka secara relatif, kandungan kuarsa, mullit serta fasa amorf menjadi lebih tinggi setelah kandungan sisa karbon berkurang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Elliot (2006), bahwa pembakaran abu layang dan abu dasar dapat mengurangi jumlah sisa karbon tak terbakar, sehingga dapat mempengaruhi jumlah fasa kuarsa dan mullit.

Perbedaan abu dasar sebelum dan setelah dikalsinasi juga dapat dilihat dari morfologi partikel-partikelnya. Morfologi partikel-partikel abu dasar dikaji secara mikroskopis dengan

AF-180 Scanning Electron Microscopy (SEM). Gambar 3 menunjukkan morfologi abu dasar baik sebelum maupun sesudah dikalsinasi.

(a) (b)

Gambar 3.Morfologi abu dasar (a) awal dan (b) setelah dikalsinasi

Pada Gambar 3 terlihat bahwa mayoritas partikel-partikel abu dasar awal maupun setelah dikalsinasi berbentuk seperti bola (spherical) dengan ukuran yang bervariasi. Abu dasar awal memiliki morfologi berbentuk bola (spherical) dengan tekstur permukaan yang relatif halus sedangkan pada abu dasar setelah dikalsinasi memiliki tekstur permukaan yang lebih kasar dan berpori. Adanya perubahan tekstur permukaan pada morfologi berbentuk bola ini merupakan indikasi bahwa proses kalsinasi mengakibatkan abu dasar kehilangan sisa karbon yang terkandung didalamnya. Berdasarkan pada perubahan tekstur sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 3 maka kemungkinan sebagian sisa karbon yang tidak terbakar juga terdapat atau menjadi bagian dari penyusun partikel-partikel abu dasar, selain terdapat dalam bentuk bebas sebagai karbon.

Sebagaimana sifat karbon pada umumnya, sisa karbon dalam abu dasar memiliki luas permukaan tinggi dan memiliki kemampuan menyerap banyak senyawa, umumnya non polar, pada permukaannya (Hassett dan Eylands, 1999). Semakin besar kandungan sisa karbon pada abu dasar maka semakin besar pula jumlah total luas permukaan abu dasar tersebut.

Luas permukaan pada abu dasar sebelum dikalsinasi adalah sebesar 61,88 m2/g, sedangkan pada abu dasar setelah dikalsinasi diperoleh luas area sebesar 4,44 m2/g. Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa sisa karbon memberi sumbangan terbesar kepada tingginya luas permukaan dari abu dasar awal. Penurunan secara drastis dari luas permukaan abu dasar setelah kalsinasi menunjukkan bahwa sisa karbon yang dikandung abu dasar telah jauh berkurang. Dengan telah banyak berkurangnya kandungan sisa karbon maka berkurang pula salah satu faktor yang dapat menghambat pembentukan zeolit.

Pengaruh Suhu Hidrotermal Pada Sintesis Zeolit Secara Hidrotermal Langsung

Untuk mengkaji pengaruh suhu hidrotermal terhadap fasa zeolit yang terbentuk dengan metode hidrotermal langsung dipelajari dengan melakukan variasi suhu hidrotermal yaitu pada suhu 100, 120, 140 dan 160°C pada waktu yang sama yaitu selama 24 jam dengan komposisi rasio molar oksida 3,165 Na2O : Al2O3 : 1,926 SiO2 : 128 H2O. Pada suhu 100-160°C zeolit yang terbentuk berupa zeolit campu ran yaitu zeolit A, X, P dan sodalit.

Berdasarkan tingginya intensitas puncak difraksi khas zeolit A dibandingkan dengan zeolit lainnya, maka dapat disimpulkan bahwa Zeolit A adalah zeolit utama yang terbentuk dari proses hidrotermal yang dilakukan.

AF-181 Gambar 4. Difraktogram Sinar-X: Abu Dasar Sesudah Kalsinasi & Hasil Sintesis Secara

Hidrotermal Langsung dengan Variasi Suhu (100, 120, 140 & 160˚C) Pada Waktu 24 Jam

Keterangan:

Q = Quartz (SiO2), PDF 46-1045 M = Mullite (Al6Si2O13), PDF 15-0776

A = Zeolit A (Na3Al3Si3O12 . 2H2O), PDF 44-0050 A = Zeolit A (Na[AlSiO4]6 . 4H2O), PDF 42-0216 X = Zeolit X (Na88Al88Si104O384 .220H2O), PDF 39-0218

P = Zeolit P (Na2Al2Si2.71O9.42.4.39H2O), PDF 43-0577

S = Sodalit (Na4Al3Si3O12 [OH]), PDF 11-0401 Gambar 4 juga menunjukkan bahwa fasa kuarsa (yang ditunjukkan oleh puncak khas pada 2θ = 26,6°) mula-mula mempunyai intensitas terkuat sebelum sampel abu dasar hasil kalsinasi di sintesis menjadi zeolit. Setelah proses hidrotermal pada suhu 100°C - 160°C, intensitas menurun. Bahkan fasa kuarsa hampir tidak terlihat pada suhu 140 dan 160°C.

Penurunan tersebut merupakan indikasi adanya pelarutan kuarsa yang merupakan fasa kristalin. Semakin tinggi suhu, maka fasa kuarsa semakin menurun (Muasyaroh, 2008).

Penurunan yang sama juga ditunjukkan oleh fasa mulit yang ditunjukkan oleh berkurangnya intensitas puncak khas mullit pada puncak 2θ = 40,9°. Intensitas puncak khas mullit tersebut semakin kecil dengan meningkatnya suhu hidrotermal. Sebagaimana pada kuarsa, penurunan ini juga menunjukkan bahwa fasa mullit terlarut ke dalam larutan pereaksi zeolit, walaupun tidak sereaktif fasa kuarsa yang ditunjukkan oleh tingkat penurunan intensitas yang lebih lambat.

Hal ini dapat disimpulkan masih adanya puncak utama fasa kuarsa maupun mullit dengan intensitas yang rendah. Selain daripada itu, fasa amorf juga mulai berkurang dengan semakin tingginya suhu hidrotermal. Fenomena ini ditunjukkan oleh makin berkurangnya hump pada 2θ = 5°-35°, yang mengindikasikan pengurangan fasa am orf akibat larutnya Si dan Al dalam larutan basa NaOH. Begitupula yang dilakukan oleh Muasyaroh (2008), semakin tinggi suhu hidrotermal maka intensitas fasa amorf mengalami adanya penurunan intensitas akibat larutnya Si dan Al dalam larutan basa KOH.

Hal yang menarik untuk diperhatikan pada Gambar 4 adalah bahwa zeolit A yang terbentuk ada dua jenis yaitu zeolit A dengan struktur ortorombik (A) dan struktur kubus (A).

Unit sel dari jenis zeolit A dapat ditentukan berdasarkan data base struktur kristal anorganik (Inorganic Crystal Structure Database/ICSD). Adanya ke dua pola struktur ini memiliki perbedaan unit pembangun sekunder (secondary building units, SBU). Zeolit A dengan PDF 44-0050) berbentuk ortorombik dengan sisi a ≠ b ≠ c dan sudut α = β = γ = 90°. Sementara zeolit A dengan PDF 42-0216 berbentuk kubik dengan sisi a = b = c dan sudut α = β = γ sama = 90°. Unit sel berbentuk kubik dan ortorombik dapat dilihat seperti yang ditampilkan pada Gambar 5.

AF-182 (a)

(b)

Gambar 5 (a) Struktur Kubik & (b) Struktur Ortorombik (P = Primitif (titik kisi hanya pada pojok-pojok); I = kisi bepusat badan; F = kisi berpusat muka & C = kisi berpusat sisi)

Pada suhu hidrotermal 100 sampai 140°C (Gambar 4), terlihat bahwa zeolit A lebih dominan daripada zeolit A, X dan sodalit yang ditandai oleh puncak-puncak dengan intensitas yang semakin tinggi dengan kenaikan suhu. Puncak-puncak ini diidentifikasi pada 2θ = 13,9°

dan 24,3° (A) dan pada 2θ = 20,1°, 36,5° 44,8° (A) dan serta puncak sodalit pada 2θ = 28,6°.

Zeolit X juga teridentifikasi yaitu pada 2θ = 17,3°. Pada suhu 100°C, ternyata fasa mullit dan kuarsa hanya sedikit melarut, hal ini tampak dengan menurunnya intensitas kuarsa pada 2θ = 20,8° dan 26,6°. Pembentukan kristal zeolit diawali dengan pelarutan Si dan Al yang terdapat di dalam abu dasar. Setelah itu dilanjutkan oleh pembentukan gel aluminosilikat yang diikuti oleh pembentukan kristal (Murayama dkk, 2001 dan Ojha dkk, 2004). Oleh karena itu pelarutan Si dan Al sangat mempengaruhi pembentukan zeolit.

Pada suhu hidrotermal 120 dan 140°C, ada perubahan fasa kristalin yang ditandai dengan perubahan intensitas dan munculnya puncak-puncak difraksi baru yang mulai terbentuk dengan intensitas yang sangat rendah.. Penurunan intensitas terjadi pada fasa kuarsa dan mullit. Semakin tinggi suhu maka semakin rendah puncak difraksi fasa kuarsa dan mullit yang mengindikasikan terjadinya pengurangan konsentrasi fasa-fasa tersebut.

Pengukuran konsentrasi Si dan Al pada larutan sisa reaksi yang dilakukan dengan ICP-AES (Gambar 6 & 7) menunjukkan penuruan konsentrasi dan angka banding Si/Al pada kenaikkan suhu hidrotermal. Sementara itu, puncak-puncak difraksi zeolit A kubus (2θ = 13,9° dan 24,3°) dan zeolit X (2θ = 17,4°) mengalami peningkatan intensitas seiring dengan kenaikan suhu dan muncul puncak baru pada 2θ = 34,6°; 37,4° dan 42,8° (puncak khas zeolit A kubus), pada 2θ = 26,1° (puncak khas zeolit A ortorombik) dan juga muncul puncak baru pada 2θ = 32,6° yang merupakan puncak khas zeolit X. Fenom ena-fenomena tersebut menunjukkan bahwa zeolit-zeolit yang terbentuk berasal dari komponen-komponen aluminosilikat yang dikandung oleh abu dasar. Komponen tersebut bukan hanya yang berasal dari fasa amorf, melainkan juga dari fasa kristalin pada abu dasar yang digunakan.

Sebagaimana yang telah diinformasikan sebelumnya bahwa fasa amorf merupakan fasa yang paling mudah larut dalam larutan basa alkali dan mengandung Si dan Al yang cukup banyak. Larutnya fasa amorf diharapkan dapat terbentuknya kerangka zeolit yang lebih banyak. Penurunan intensitas fasa menunjukkan penurunan kristalinitas maupun berkurangnya jumlah fasa tersebut karena proses pelarutan (Chang dan Shih, 2000).

Penurunan intensitas mullit dan kuarsa menunjukkan bahwa fasa tersebut makin berkurang dan sebagian terlarut, sehingga menyediakan lebih banyak Si dan Al untuk proses kristalisasi zeolit

AF-183

Gambar 6. Konsentrasi Si dan Al dalam larutan hasil sintesis pada berbagai suhu hidrotermal selama 24 Jam

Gambar 7. Perbandingan Si/Al dalam larutan hasil sintesis pada berbagai suhu hidrotermal Selama 24 Jam

Pada Gambar 6 dan 7 terlihat penurunan konsentrasi dan angka banding Si/Al pada kenaikkan suhu hidrotermal. Penurunan ini diperkirakan sebagai akibat dari pembentukan/kristalisasi zeolit. Semakin tinggi suhu hidrotermal, maka seharusnya semakin tinggi pula jumlah Si dan Al yang terlarut. Akan tetapi, Si dan Al yang terlarut ini kemudian segera mengkristal membentuk zeolit. Sebagai hasil akhirnya, konsentrasi Si dan Al di dalam larutan reaksi semakin berkurang sementara itu konsentrasi zeolit yang terbentuk meningkat dengan besar.

Suhu yang tinggi juga sangat disenangi untuk pembentukan zeolit dengan angka banding Si/Al yang tinggi dan memiliki kestabilan termodinamika yang tinggi pula seperti zeolit Na-P1. Oleh karena itu, pada suhu hidrotermal yang tinggi, lebih banyak silikon terlarut yang mengkristal menjadi zeolit daripada alumunium terlarut. Sebagai akibatnya, angka banding Si/Al menjadi menurun karena jumlah silikonnya berkurang sementara jumlah alumuniumnya relatif tetap.

Pada suhu hidrotermal 160°C, difraktogram sinar-X menunjukkan peningkatan jumlah puncak dan intensitas difraksi. Pada kondisi ini ditemukan puncak-puncak difraksi baru yang sesuai dengan pola difraksi zeolit P. Selain itu, pola difraksi juga menunjukkan bahwa fasa zeolit A berstruktur kisi ortorombik mendominasi zeolit yang terbentuk. Pada saat yang bersamaan, intensitas puncak difraksi zeolit A menurun. Selain daripada itu, masih nampak adanya fasa mullit dan kuarsa yang merupakan fasa kristalin dari abu dasar dengan intensitas yang rendah. Sebagaimana yang telah dilaporkan oleh Molina dan Poole (2004), adanya fasa mullit dan kuarsa secara bersama-sama seringkali menyebabkan produk yang terbentuk berupa produk campuran.

Pembentukan fasa zeolit dapat terjadi berdasarkan aturan Ostwald tentang transformasi berurutan (successive transformations), yaitu ketika spesies bersaing terjadi kecenderungan untuk fasa kurang stabil mengkristal dan selanjutnya digantikan oleh bentuk

AF-184 yang lebih stabil melalui transformasi yang berlangsung secara terus-menerus sampai akhirnya berhenti pada fasa yang paling stabil (Barrer, 1982). Dalam sistem larutan yang bersuhu tinggi (330 – 440°C), kristalisasi dari sil ika amorf melalui tahapan sebagai berikut:

amorf→ kristobalit → keatit → kuarsa

Akan tetapi pada kondisi reaksi lain, kristalisasi akan mengikuti tahapan yang lain seperti yang terjadi pada pembentukan zeolit alam:

amorf → zeolit → analsim → felspar

Sedangkan apabila kondisi reaksi dipengaruhi oleh alkalinitas larutan, misalnya basa NaOH, maka tahapan kristalisasi sebagai berikut:

amorf →faujasit →gismodin (tipe Na-P)

dapat juga hasil akhir berupa sodalit, hidroksi cancrinit, gmelinit dan zeolit A

Morfologi partikel padatan hasil sintesis abu dasar bebas sisa karbon secara hidrotermal langsung pada berbagai suhu hidrotermal yang diamati dengan Scanning Electron Microscopy (SEM) ditunjukkan oleh Gambar 9 Pada suhu hidrotermal 100 sampai 140°C (Gambar 4.10. a sampai c) terlihat bahwa ukur an partikel produk relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan ukuran partikel produk sintesis pada suhu 160 oC. Demikian pula dengan morfologi partikelnya. Pada suhu 100 sampai 140 oC, partikel berbentuk kristal terlihat memiliki bentuk yang lebih beragam dibandingkan dengan bentuk kristal pada 160 oC.

Selain itu pada suhu hidrotermal 160°C terlihat be ntuk yang mulai teratur dengan bentuk morfologi berbentuk empat persegi panjang (ortorombik) lebih dominan dari bentuk partikel yang lain. Partikel yang dominan ini, diindikasikan sebagai bentuk partikel zeolit A (struktur ortorombik).

Dari uraian yang telah dipaparkan diatas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa semakin tinggi suhu hidrotermal, maka semakin banyak silika maupun alumina yang larut dan kristalinitas juga semakin tinggi, sehingga fasa zeolit yang terbentuk semakin banyak dan bervariasi. Suhu hidrotermal paling baik dicapai pada suhu 160°C dengan fasa zeolit A berstruktur ortorombik paling dominan dari fasa zeolit lain yang terbentuk.

Produk sintesis zeolit dalam penelitian ini merupakan tipe zeolit A tidak murni karena mengandung beberapa fasa zeolit yang terdiri dari Zeolit X, P dan Sodalit. Hal ini disebabkan karena metode dalam sintesis zeolit ini menggunakan metoda hidrotermal langsung yang biasanya menghasilkan campuran beberapa fasa yang secara termodinamis kurang stabil.

Ketidakstabilan ini disebabkan oleh ketidakmurnian abu dasar sebagai bahan awal pembuatan zeolit, yaitu adanya unsur-unsur lain yang terkandung dalam abu dasar seperti Fe, Ca, Mg, K dan Mn. Hal serupa juga pernah dilakukan oleh Hidayati, 2008 dan Muasyaroh, 2008 dan Nafi’ah, 2008, yaitu mensintesis zeolit dari abu layang secara hidrotermal langsung dan produk yang dihasilkan juga zeolit campuran. Hal ini karena komposisi kimia abu layang tidak hanya mengandung unsur Si dan Al yang diperlukan dalam pembuatan zeolit tetapi juga mengandung unsur-unsur lain seperti Fe, Ca, Mg, K, Ni dan Ti (Hidayati, 2008 dan Muasyaroh, 2008 dan Nafi’ah, 2008).

Sebagai contoh pembanding, penggunaan metode sintesis tidak langsung, misalnya metode fusi atau dengan memisahkan pengotor dari abu dasar, terbukti dapat mensintesis zeolit dari abu dasar dengan fasa tunggal yaitu zeolit A murni (Yanti, 2009) begitupula yang dilakukan oleh Sudarno, (2008) dan Sari, (2009) dengan menggunakan metode fusi, produk zeolit yang dihasilkan juga fasa tunggal yaitu zeolit A murni. Jadi dalam hal ini, untuk mendapatkan zeolit yang kita inginkan, metoda dalam sintesis zeolit sebagai kunci utama yang sangat perlu diperhatikan. Pembuatan zeolit dengan metoda hidrotermal langsung memiliki tahapan yang lebih pendek daripada metode peleburan, meskipun tingkat kemurniannya masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan metode tersebut. Hal ini disebabkan karena pada metode peleburan, sejumlah besar Si dan Al dapat terekstrak secara efektif sebelum dilanjutkan ke proses hidrotermal, sehingga pada umumnya zeolit yang dihasilkan berupa fasa tunggal (zeolit murni). Jadi metode dalam sintesis zeolit merupakan kunci utama yang sangat perlu diperhatikan.

AF-185 4. Kesimpulan

1. Abu dasar batubara dapat di sintesis menjadi zeolit dengan penghilangan karbon terlebih dahulu sebelum di sintesis pada proses kalsinasi pada suhu yang 800°C selama 4 jam.

2. Berdasarkan hasil XRD, jenis zeolit yang terbentuk berupa zeolit campuran, yaitu zeolit A, X, P dan sodalit. Zeolit yang terbentuk paling dominan dengan berbagai variasi kondisi hidrotermal yaitu zeolit A. Zeolit A yang terbentuk ini memiliki 2 struktur yang beda, yaitu ortorombik dan kubik

3. Zeolit A dengan struktur kubik yang lebih dominan terjadi pada kondisi suhu hidrotermal 100, 120 dan 140oC selama 24 jam. Sedangkan zeolit A dengan struktur ortorombik yang lebih dominan terjadi pada kondisi suhu hidrotermal 160oC selama 24 dengan rasio Si/Al = 1.

4. Suhu hidrotermal sangat berpengaruh pada pembentukan zeolit dari abu dasar bebas sisa karbon. Semakin lama suhu hidrotermal maka zeolit yang terbentuk semakin banyak dan semakin kristal. Suhu hidrotermal paling baik dicapai pada suhu 160°C selama 24 jam dengan fasa zeolit A berstruktur ortorombik paling dominan dari fasa zeolit lain yang terbentuk.

Penghargaan

Penulis mengucapkan terima kasih kepada PT. IPMOMI yang menyediakan abu dasar serta LPPM ITS sebagai penyandang dana penelitian melalui kontrak penelitian No.

10626/I2.7/PM/2008, tanggal 1 April 2008.

Daftar Pustaka

Barrer, R.M. (1982), “Hydrothermal Chemistry of Zeolites”, Academic Press Inc, London

Chang, H.L. dan Shih, W.H. (2000), “Synthesis of Zeolites A and X from Fly Ashes and Their Ion-Exchange Behavior with Cobalt Ions”, Ind. Eng. Chem. Res., 39, hal. 4185-4191

Elliot, A.D. (2006), “An Investigation into the Hydrothermal Processing of Coal Fly Ash to Produce Zeolite for Controlled Release Fertiliser Applications”, Curtin University of Technology, Australia Hassett D.J. and Eylands K.E. (1999). "Mercury Capture on Coal Combustion Fly Ash" Fuel 78:

243-248.

Hidayati, Ririn, E. (2008), Sintesis Zeolit Dari Abu Layang Batubara: Kajian Pengaruh Waktu Hidrotermal Awal Terhadap Pembentukan Zeolit, Tesis, FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

Juan, R., Herna´ndez, S., Andre´s, J., M., dan Ruiz, C., (2007), “Synthesis of Granular Zeolitic Materials With High Cation Exchange Capacity from Agglomerated Coal Fly Ash”, Fuel, Vol. 1, hal. 1-11.

Molina, A. dan Poole, C. (2004), “A Comparative Study Using Two Methods To Produce Zeolites from Fly Ash”, Minerals Engineering, Vol. 17, hal. 167–173.

Muasyaroh, Dewi, (2008), Pengaruh Suhu Hidrotermal Awal Terhadap Pembentukan Zeolit dari Abu Layang Batubara, Tesis, FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

Murayama, N., Takahashi, T., Shuku, K., Lee H.-H. dan Shibata, J., (2008), “Effect of Reaction Temperature on Hydrothermal Syntheses of Potassium Type Zeolites from Coal Fly Ash”, Int. J.

Miner. Process., 87, 129-133.

Murayama, N., Yamamoto, H. dan Shibata, J. (2002), “ Mechanisme of Zeolite Synthesis from Coal Fly Ash by Alkali Hydrothermal Reaction”, Int. J. Miner. Process, Vol. 64, hal. 1-17.

Nafi’ah, Choirun, (2008), Pengaruh Komposisi KOH pada Sintesis Zeolit dari Abu Layang Batubara, Tesis, FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

Ojha, K., Pradhan, N. dan Samanta, A.N. (2004), “Zeolite from Fly Ash: Synthesis and Characterization”, Bull. Mater. Sci. Indian Academy of Sciences, Vol. 27, No. 6, hal. 555-564.

Robson, H. (2001), “Verified Syntheses Of Zeolitic Materials”, Elsevier Science B.V., hal.179.

Sari, Nungki, P. (2008), Penentuan Kapasitas Tukar Kation dan Selektivitas Zeolit dari Abu Layang PLTU Paiton, Tesis, FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

Smart, L. dan Moore, E. (1993), Solid State Chemestry: An Introduction, 1st edition, Chapman & Hall University and Proffesional Division, London

Sudarno, (2008), Pengaruh Komposisi NaOH Pada Konversi Abu Layang Batubara Paiton Menjadi Zeolit A, Tugas Akhir, FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

Querol, X., Alastuey, A., Lopez-Soler, A., Plana, F., Andres, J.M., Juan, R., Ferrer, P., Ruiz, C.R., (1997), “A Fast Method for Recycling Fly Ash: Microwave-Assisted Zeolite Synthesis”, Environ.

Sci. Technol., Vol. 31, No.89, hal. 2527-2533

Yanti, Yuliyanti (2009), “ Sintesis zeolit A dan Zeolit Karbon Aktif dari Abu Dasar PLTU Paiton denga Metode Peleburan” Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

AF-186

Sintesis Zeolit A dari Abu Dasar Batubara PT IPMOMI