Profil perusahaan
Unit Usaha Berangir merupakan salah satu unit dari PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan Sumatera Utara yang bergerak dalam usaha perkebunan kelapa sawit. Produk yang dihasilkan adalah minyak sawit dan inti sawit.
Pada awalnya areal Unit Usaha Berangir merupakan kebun karet yang dikelola oleh PT. Wongso Rubber Coy dan PT. Indah Putra. Pada tahun 1974 kebun tersebut diambil alih dengan ganti rugi oleh PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri tanggal 13 Nopember 1974 Nomor: SK/32/HGU/DA/1974 yang tercatat dalam kantor Sub Agraria TK. II Labuhan Batu No. II dan terdaftar tanggal 26 Juni 1975 dengan Nomor: 505/1975.
Kebun Berangir terletak di Kecamatan NA IX–X Aek Kota Batu Kabupaten Labuhan Batu Utara. Jarak dari Kota Medan 264 km dan 17 km dari Kota Rantau Prapat.
Saat ini Unit Usaha Berangir didukung sumberdaya manusia sebanyak 634 orang, terdiri dari 15 orang karyawan pimpinan, 1 orang papam, dan 618 karyawan pelaksana. Pada Gambar 1 disajikan struktur organisasi Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero).
Visi perusahaan
Menjadi pusat keunggulan perusahaan agroindustri kelapa sawit dengan tata kelola perusahaan yang baik serta berwawasan lingkungan.
Misi perusahaan
1. Menjamin keberlanjutan usaha yang kompetitif.
2. Meningkatkan daya saing produk secara berkesinambungan dengan sistem, cara, dan lingkungan kerja yang mendorong munculnya kreativitas dan inovasi untuk meningkatkan produktivitas dan efisien.
3. Meningkatkan laba secara berkesinambungan.
4. Mengelola usaha secara profesional untuk meningkatkan nilai perusahaan yang memedomani etika bisnis dan good corporate governance.
5. Meningkatkan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
6. Melaksanakan dan menunjang kebijakan serta program pemerintah pusat/daerah.
Gambar 1 Struktur organisasi Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero)
Alat dan Mesin Pengolahan Kelapa Sawit
Pengolahan kelapa sawit di Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero) merupakan proses pengolahan kelapa sawit untuk menghasilkan produk CPO dan KPO. Proses pengolahan tersebut melalui beberapa stasiun pengolahan, yaitu Stasiun Jembatan Timbang, Stasiun Perebusan (Sterilizer), Stasiun Penebah TBS, MonoPress, Hooper Tandan Kosong, Stasiun Kempa, Stasiun Pemurnian Minyak, Stasiun Pabrik Biji, Storage Minyak Sawit, Storage Inti Sawit. Spesifikasi alat dan mesin pengolahan kelapa sawit pada stasiun tersebut disajikan pada Lampiran 4.
Biaya Tetap
Biaya tetap adalah jenis-jenis biaya yang selama satu periode akan tetap jumlahnya. Biaya tetap sering juga disebut biaya kepemilikan (owning cost). Biaya tetap pengolahan kelapa sawit di Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero) ialah gaji, Tunjangan, dan biaya sosial karyawan pimpinan teknik, gaji, upah, dan biaya sosial karyawan pelaksana, premi asuransi, biaya pemeliharaan pabrik, biaya pemeliharaan perlengkapan dan inventaris, gaji dan biaya sosial seleksi, gaji dan biaya sosial analisa/sampling, biaya pemeliharaan mesin dan perlengkapan pabrik, biaya pemeliharaan jalan, jembatan, dan saluran air, biaya pemeliharaan bangunan rumah, biaya pemeliharaan bangunan rumah, biaya pemeliharaan bangunan perusahaan, biaya keamanan, biaya pemakaian dan pemeliharaan sistem komputer, biaya manajemen mutu dan keselamatan kerja, biaya pajak dan sewa tanah, biaya alat-alat dan perkakas, biaya sosial non produksi, biaya beban imbalan kerja, biaya penutupan buku dan penyusunan rencana kerja, biaya honorarium, biaya perjalanan dan penginapan, serta biaya lain-lain. Rincian biaya tetap pengolahan kelapa sawit di Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero) disajikan pada Tabel 2.
Pada Tabel 2 disajikan data biaya tetap pada tahun 2012 untuk melakukan kegiatan produksi di Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV tanpa dipengaruhi oleh jumlah output produksi. Total biaya tetap sangat besar yaitu Rp. 34 589 257 248 angka ini dipengaruhi oleh tingginya komponen biaya pemeliharaan yaitu Rp. 16 072 295 353.
Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero) merupakan salah satu bagian dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sebagaimana BUMN pada umumnya tolok ukur keberhasilan perusahaan selain berdasarkan capaian keuntungan juga diukur berdasarkan jumlah aset yang dimiliki. Oleh karena itu,
Tabel 2 Biaya tetap pengolahan kelapa sawit di Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero)a
No Uraian Total (Rp/tahun)
1 Gaji, tunjangan, dan biaya sosial karyawan pimpinan teknik
863 344 000 2 Gaji, upah, dan biaya sosial karyawan
pelaksana
2 788 343 489
3 Premi asuransi 153 575 378
4 Biaya pemeliharaan pabrik 7 596 251 409
5 Biaya pemeliharaan perlengkapan dan inventaris
12 733 000
6 Gaji dan biaya sosial seleksi 563 829 360
7 Gaji dan biaya sosial analisa/sampling 208 843 731 8 Biaya pemeliharaan mesin dan perlengkapan
pabrik
7 348 478 433 9 Biaya pemeliharaan jalan, jembatan, dan
saluran air
343 541 149 10 Biaya pemeliharaan bangunan rumah 192 719 936 11 Biaya pemeliharaan bangunan perusahaan 255 552 750
12 Biaya keamanan 2 490 375 378
13 Biaya pemakaian dan pemeliharaan sistem komputer
323 018 676 14 Biaya manajemen mutu dan keselamatan kerja 72 632 057
15 biaya pajak dan sewa tanah 2 747 851 062
16 Biaya alat-alat dan perkakas 494 500
17 Biaya sosial non produksi 400 964 228
18 Biaya beban imbalan kerja 5 958 967 307
19 Biaya penutupan buku dan penyusunan rencana kerja
30 000 000
20 Biaya Honorarium 13 301 600
21 Biaya perjalanan dan penginapan 2 064 066 932
22 Biaya lain-lain 160 372 873
Total 34 589 257 248
a
Sumber: Diolah dari Unit Berangir PTPN IV (Persero) (2012).
Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero) mengeluarkan biaya pemeliharaan yang sangat tinggi untuk menjaga nilai asetnya dari berbagai penurunan. Selain itu, biaya pemeliharaan yang tinggi diharapkan dapat mendukung kegiatan produksi seoptimal mungkin.
Biaya Tidak Tetap
Biaya tidak tetap merupakan komponen biaya yang dipengaruhi oleh output produksi Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero). Komponen biaya tidak tetap tersebut yaitu biaya pembelian TBS, biaya pembelian bahan kimia dan pelengkap, biaya pembelian minyak solar, biaya pembelian minyak premium, biaya pembelian pelumas, biaya listrik, biaya air, biaya langsir, biaya pengangkutan limbah cair, biaya pengangkutan limbah padat, biaya pengepakan, premi pengolahan, biaya pengiriman ke industri hilir, serta biaya penggunaan alat pengangkutan. Pada Tabel 3 disajikan rincian biaya tidak tetap pengolahan kelapa sawit di Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero).
Penelitian ini dibatasi pada ruang lingkup pengolahan kelapa sawit di Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero). Oleh karena itu, meskipun Unit Berangir PTPN IV (Persero) memiliki kebun kelapa sawit yang memproduksi TBS yang terintegrasi dengan pabrik pengolahan, TBS tersebut tetap dianggap membeli.
Sumber TBS yang diperoleh Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero) ialah bersumber dari kebun sendiri, kebun seinduk, dan pihak ketiga.
Tabel 3 Biaya tidak tetap pengolahan kelapa sawit di Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero)a
No Uraian Total (Rp/tahun)
1 Pembelian TBS 228 929 687 083
2 Pembelian bahan kimia dan pelengkap 441 793 453
3 Pembelian minyak solar 3 990 888
4 Pembelian minyak premium 5 440 500
5 Pembelian pelumas 174 191 566
6 Biaya listrik 3 127 958 903
7 Biaya air 716 285 315
8 Biaya langsir 554 331 455
9 Biaya pengangkutan limbah cair 156 257 400
10 Biaya pengangkutan limbah padat 190 689 637
11 Biaya pengepakan 206 924 986
12 Biaya premi pengolahan 1 442 946 474
13 Biaya pengiriman ke industri hilir 908 141 360 14 Biaya penggunaan alat pengangkutan 179 099 190
Total 237 037 738 210
a
Sumber: Diolah dari Unit Berangir PTPN IV (Persero) (2012).
Ketiga sumber tersebut memiliki mekanisme dan perjanjian jual beli yang berbeda. Untuk TBS yang bersumber dari kebun sendiri dan pihak ketiga, harga dihitung dari total TBS yang dibeli dikalikan harga rata-rata TBS pada tahun 2012. Sedangkan untuk TBS dari kebun seinduk tidak dibeli, melainkan melalui mekanisme titip olah, yaitu Kebun Berangir memperoleh pendapatan berupa biaya pengolahan TBS tersebut. Pada Tabel 4 disajikan rincian biaya pembelian TBS oleh Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero).
Komponen biaya premi pengolahan (Tabel 3) merupakan biaya yang dikeluarkan pabrik terhadap karyawan pelaksana yang berhasil melakukan pekerjaan melebihi target yang ditetapkan perusahaan. Oleh karena itu, biaya premi merupakan komponen biaya tidak tetap yaitu dipengaruhi oleh jumlah output produksi.
Biaya Investasi
Biaya investasi merupakan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian barang modal. Biaya investasi yang dikeluarkan oleh Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero) yaitu investasi mesin dan instalasi, investasi bangunan rumah, investasi bangunan perusahaan, investasi jalan, jembatan, dan saluran air, serta investasi alat-alat pengangkutan dan kendaraan. Pada Tabel 5 disajikan rincian biaya investasi Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero).
Tabel 4 Biaya pembelian TBS Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero)a
No Uraian Jumlah (kg) Harga
(Rp/kg) Total (Rp) 1 Kebun sendiri 101 429 720 1 464b 148 462 631 083 2 Pembelian pihak ketiga 54 975 120 80 467 056 000 Total 156 404 840 228 929 687 083 a
Sumber: Diolah dari Unit Berangir PTPN IV (Persero) (2012).
b
Harga TBS/kg merupakan harga rata-rata TBS pada tahun 2012 (Smart Tbk 2014).
Penentuan umur teknis seperti yang telah diasumsikan dalam metode adalah melalui pengamatan di lapangan dan studi literatur. Selain itu, umur teknis disesuaikan dengan umur proyek sehingga penggunaannya dapat efektif.
Kapasitas Pabrik
Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero) memiliki kapasitas terpasang 30 ton TBS/jam. Pada kenyataannya, kapasitas terpasang itu sulit tercapai karena beberapa faktor, yaitu ketersediaan pasokan TBS, kondisi alat/mesin pengolahan, dan kemampuan pekerja. Pada saat penelitian (31 Januari sampai 7 Februari 2014) diperoleh data kapasitas pabrik seperti yang disajikan pada Tabel 6.
Tabel 5 Biaya investasi Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero)a
No Uraian Umur teknis
(tahun)
Nilai
1 Mesin dan instalasi 15 68 570 528 289
2 Bangunan rumah 30 3 205 670 865
3 Bangunan perusahaan 30 2 161 931 208
4 Jalan, jembatan, dan saluran air 30 5 720 298 649 5 Alat-alat pengangkutan dan
kendaraan
15 2 599 003 198
Total 82 257 432 209
a
Sumber: Diolah dari Unit Berangir PTPN IV (Persero) (2012).
Tabel 6 Kapasitas Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero) Hari ke- Input TBS (kg) Jam kerja/hari Kapasitas pabrik (kg TBS/jam) 1 264 180.00 10 26 418.00 2 276 150.00 10 27 615.00 3 0.00 0 0.00 4 255 630.00 10 25 563.00 5 229 290.00 10 22 929.00 6 202 700.00 10 20 270.00 7 222 500.00 10 22 250.00 8 226 300.00 10 22 630.00 9 285 100.00 10 28 510.00 10 0.00 0 0.00 11 248 100.00 10 24 810.00 12 227 100.00 10 22 710.00 13 228 100.00 10 22 810.00 14 265 400.00 10 26 540.00 Rata-rata 24 421.00 17
Menurut Laporan Manajemen Bulanan PTPN IV (Persero) Unit Usaha Berangir (2012), total input TBS pada tahun 2012 adalah 160 201 620 kg, jam kerja pada tahun tersebut adalah 5 478 jam/tahun, sehingga kapasitas pabrik pada tahun tersebut 29 244.55 kg/jam. Perbedaan antara data yang diambil saat penelitian dan data sekunder terutama dikarenakan fluktuasi pasokan TBS. Pada saat pasokan TBS sedang tinggi maka jam kerja/hari dapat meningkat menjadi 20 jam kerja/hari (2 shift kerja), sebaliknya jika pasokan TBS tidak tinggi maka jam kerja menjadi 10 jam/hari (1 shift kerja), bahkan pabrik bisa tidak beroperasi sama sekali jika pasokan TBS sangat rendah/tidak ada pasokan. Pada Tabel 7 disajikan kapasitas TBS pada tahun 2012.
Pada perhitungan analisis selanjutnya kapasitas pabrik yang digunakan ialah kapasitas pabrik pada tahun 2012 (Tabel 7). Hal ini dikarenakan komponen-komponen biaya yang digunakan dalam perhitungan analisis menggunakan komponen biaya pada tahun 2012.
Tabel 7 Kapasitas Pabrik Kelapa Sawit Berangir tahun 2012a
Uraian Jumlah (kg TBS/tahun) Jam kerja (jam/tahun) Kapasitas (kg TBS/jam) Kebun sendiri 101 429 720.00 5 478.00 29 244.55 Kebun seinduk pane jaya 822 380.00
Kebun seinduk meranti paham
2 974 400.00 Pembelian pihak ketiga 54 975 120.00
Total 160 201 620.00
a
Sumber: Diolah dari Unit Berangir PTPN IV (Persero) (2012).
Jumlah Rata-Rata TBS yang Diolah per Hari dan Jam Kerja per Hari Pada saat penelitian (31 Januari sampai 7 Februari 2014), jumlah rata-rata TBS yang diaolah per hari adalah 244 212.50 kg dan jam kerja per hari 10 jam (1 shift kerja). Menurut Laporan Manajemen Bulanan PTPN IV (Persero) Unit Usaha Berangir (2012), Jumlah rata-rata TBS yang diolah per hari adalah 438 908.55 kg dan jam kerja per hari rata-rata adalah 15.01 jam/hari. Perbedaan ini terutama disebabkan oleh fluktuasi pasokan TBS, sehingga berpengaruh terhadap jumlah rata-rata TBS yang diolah perhari dan jam kerja per hari. Pada Tabel 8 disajikan jumlah rata-rata TBS yang diolah per hari dan jam kerja per hari tahun 2012 di Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero).
Biaya Total
Biaya total merupakan biaya keseluruhan yang diperlukan untuk mengoperasikan suatu mesin pertanian. Biaya ini merupakan penjumlahan biaya tetap dan biaya tidak tetap dan dinyatakan dalam satuan Rp/jam. Pada Tabel 9 disajikan biaya total Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero)
Tabel 8 Rata-rata TBS yang diolah per hari dan jam kerja per haria
Uraian Jumlah (kg TBS/tahun) Rata-rata TBS yang diolah per hari (kg) Rata-rata jam kerja per hari (jam) Kebun sendiri 101 429 720 438 908.55 15.01 Kebun seinduk pane jaya 822 380
Kebun seinduk meranti paham
2 974 400 Pembelian pihak ketiga 54 975 120
Total 160 201 620
a
Sumber: Diolah dari Unit Berangir PTPN IV (Persero) (2012).
Tabel 9 Biaya total Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero)a
Uraian Jumlah
Biaya Tetap (Rp/tahun) 34 589 257 248 Biaya Tidak Tetap (Rp/tahun) 237 037 738 210 Jam Kerja per Tahun (jam/tahun) 5 478
Biaya Total (Rp/jam) 49 585 067
a
Sumber: Diolah dari Unit Berangir PTPN IV (Persero) (2012).
Biaya Pokok
Biaya pokok merupakan biaya yang diperlukan pabrik untuk mengolah tiap kilogram TBS. Oleh karena itu, Biaya Pokok Pabrik Kelapa sawit Berangir PTPN IV (Persero) dinyatakan dengan Rp/kg. Pada Tabel 10 disajikan biaya pokok Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero).
Penerimaan Pabrik
Penerimaan Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero) bersumber dari penjualan hasil pengolahan kelapa sawit, yaitu berupa Crude Palm Oil (CPO) dan Kernel Palm (KP). Pada Tabel 11 disajikan data penerimaan Pabrik Kelapa Sawit Berangir Tahun 2012.
Analisis Titik Impas
Titik impas (Break even point) adalah suatu titik dimana terjadi keseimbangan antara dua alternatif yang berbeda. Sehingga, kondisi diluar titik tersebut akan mempengaruhi pengambilan keputusan.
Tabel 10 Biaya pokok Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero)a
Uraian Jumlah
Biaya Total (Rp/jam) 49 585 067
Kapasitas pabrik (kg TBS/jam) 29 244.55
Biaya Pokok (Rp/kg) 1695
a
Sumber: Diolah dari Unit Berangir PTPN IV (Persero) (2012).
Tabel 11 Penerimaan Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero)a
Uraian Jumlah (kg/tahun) Harga (Rp/kg) Nilai (Rp/kg) Penjualan produk CPO KP 35 943 346.00 8 183b 294 110 022 980 6 576 413.00 4 197c 27 599 890 078 Pendapatan dari titip
olah kebun seinduk 3 796 780.00 1 235 4 690 959 658
Total 326 400 872 716
a
Sumber: Diolah dari Unit Berangir PTPN IV (Persero) (2012).
b
Harga CPO/kg merupakan harga rata-rata CPO/kg (termasuk PPN) pada tahun 2012 (Smart Tbk 2014).
c
Harga KP/kg merupakan harga rata-rata KP/kg (termasuk PPN) pada tahun 2012 (Smart Tbk 2014).
Penentuan titik impas dapat dilakukan dengan menggunakan metode grafik, yaitu dengan memplotkan data total biaya (Rp/tahun) dan penerimaan (Rp/tahun) dengan beberapa kombinasi input produksi yang berbeda. Pertemuan antara kurva total biaya dengan penerimaan merupakan titik impas, dimana pada kondisi tersebut total biaya sama dengan penerimaan. Gambar 2 merupakan grafik titik impas Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero).
Grafik titik impas (Gambar 2) menghasilkan dua persamaan, yaitu dari kurva penerimaan y = 2051,0x - 9E-05 dan kurva total biaya y = 1479,0x + 3E+10. Maka, pertemuan kedua kurva tersebut adalah 52 447 552.45 kg TBS/tahun.
Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero) akan mencapai titik impas pada saat input produksi 52 447 552.45 kg TBS/tahun. Pada bagian kiri titik impas (Gambar 2) kurva penerimaan berada dibawah kurva biaya, ini berarti jumlah biaya yang dikeluarkan lebih tinggi dari penerimaan atau perusahaan mengalami kerugian. Sebaliknya pada bagian kiri titik impas, kurva penerimaan sudah berada di atas kurva total biaya berarti perusahaan mendapat keuntungan.
Kedua persamaan tersebut dipengaruhi oleh tiga peubah, yaitu biaya tetap, biaya tidak tetap, dan harga jual. Perubahan peubah tersebut dapat mengubah kurva dan menggeser titik impas yang semula.
Perubahan Biaya Tetap
Kenaikan biaya tetap akan menggeser kurva total biaya keatas sejajar dengan kurva biaya semula apabila komponen biaya yang lain tetap. Akibatnya, maka titik pertemuan antar kedua kurva akan bergeser ke kanan. Hal ini berarti perusahan harus mengolah lebih dari 52 447 552.45 kg TBS/tahun, agar tidak mengalami kerugian.
Perubahan Biaya Tidak Tetap
Kurva total biaya pada grafik titik impas (Gambar 2) merupakan kurva dengan persamaan linear dengan biaya tidak tetap sebagai kemiringan kurva total
Gambar 2 Grafik Titik Impas Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero) 0 100 200 300 400 500 600 700 800 0 200 400 m il iar R u p iah
Jumlah TBS yang Diolah Per Tahun (ribu ton)
Biaya
Penerimaan
biaya. Kenaikan biaya tidak tetap menyebabkan pertambahan kemiringan kurva total biaya, sehingga akan menggeser titik pertemuan kedua kurva kearah kanan. Sebaliknya, penurunan biaya tidak tetap menyebabkan penurunan kemirngan kurva total biaya, sehingga akan menggeser titik pertemuan kedua kurva kearah kiri.
Jika komponen biaya yang lain tetap, maka kenaikan biaya tidak tetap mengharuskan perusahaan mengolah lebih dari 52 447 552.45 kg TBS/tahun. Hal ini dilakukan agar perusahaan tidak mengalami kerugian.
Perubahan Harga Jual
Harga jual akan mempengaruhi titik impas. Apabila terjadi kenaikan harga jual CPO dan/atau KP dan komponen biaya yang lain tetap, maka titik impas akan bergeser ke kiri. Sebaliknya, jika terjadi penurunan harga jual CPO dan/atau KP dan komponen biaya yang lain tetap, maka titik impas akan bergeser ke kanan.
Jika terjadi penurunan harga jual CPO dan/atau KP dan komponen biaya yang lain tetap, maka perusahaan harus mengolah lebih dari 52 447 552.45 kg TBS/tahun. Hal ini dilakukan agar perusahaan tidak mengalami kerugian.
Analisis Kelayakan Finansial Net Present Value (NPV)
Perhitungan nilai NPV menggunakan komponen biaya investasi, biaya tetap, biaya tidak tetap, penerimaan, suku bunga diskonto, dan umur teknis. Pada Lampiran 5 disajikan cash flow Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero) dengan umur proyek 30 tahun dan pada Tabel 12 disajikan hasil perhitungan NPV Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero)
Berdasarkan hasil perhitungan (Tabel 12), nilai NPV Pabrik Kelapa Sawit Berangir adalah 269 716 581 186. Hal ini Berarti, proyek pabrik kelapa sawit menggunakan komponen biaya dan data produksi Pabrik Kelapa Sawit PTPN IV (Persero) dengan umur proyek 30 tahun layak untuk dijalankan dan pengusaha akan memperoleh keuntungan dengan menjalankan proyek ini.
Internal Rate of Return (IRR)
IRR merupakan alat analisis untuk mengetahui tingkat pengembalian modal suatu proyek. Suatu proyek akan dinyatakan layak bila nilai IRR lebih besar dari nilai discount rate. Berdasarkan Cash Flow Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero) (Lampiran 5) dan perhitungan yang dilakukan, nilai IRR Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero) adalah 67.04%, hal ini berarti proyek pabrik kelapa sawit menggunakan komponen biaya dan data produksi Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero) dengan umur proyek 30 tahun layak untuk dijalankan karena nilai IRR yang diperoleh lebih dari discount rate yaitu 13.5%.
Nilai IRR lebih dari discount rate berarti pengusaha lebih untung jika menginvestasikan uang untuk proyek ini ketimbang menginvestasikannya di bank. Hal ini dikarenakan tingkat pengembalian modal proyek ini lebih cepat ketimbang tingkat suku bunga yang dibebankan.
Tabel 12 Hasil perhitungan NPV Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero)a
Tahun
ke- Nilai sekarang (Rp)
Tahun
ke- Nilai sekarang (Rp)
0 -72 473 508 554 16 -1 077 848 044 1 42 518 874 620 17 5 605 933 953 2 37 461 563 542 18 4 939 148 857 3 33 005 782 857 19 4 351 673 002 4 29 079 984 896 20 3 834 073 129 5 25 621 132 067 21 3 378 037 999 6 22 573 684 640 22 2 976 244 933 7 19 888 708 934 23 2 622 242 232 8 17 523 091 572 24 2 310 345 579 9 15 438 847 200 25 2 035 546 765 10 13 602 508 546 26 1 793 433 273 11 11 984 589 028 27 1 580 117 422 12 10 559 109 275 28 1 392 173 940 13 9 303 179 978 29 1 226 584 969 14 8 196 634 342 30 1 242 985 968 15 7 221 704 266 NPV (Rp) 269 716 581 186 a
Sumber: Diolah dari Unit Berangir PTPN IV (Persero) (2012).
Benefit-Cost Ratio (BC Ratio)
Perhitungan BC Ratio yang digunakan adalah Net BC Ratio. Berdasarkan Cash Flow Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero) (Lampiran 5) dan perhitungan yang dilakukan, nilai BC Ratio Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero) adalah 4.67. Hal ini berarti proyek pabrik kelapa sawit menggunakan komponen biaya Pabrik Kelapa Sawit Berangir PTPN IV (Persero) dengan umur proyek 30 tahun layak untuk dijalankan karena nlai BC Ratio yang diperoleh lebih dari satu.
Nilai BC Ratio lebih dari satu berarti rasio penerimaan dan biaya proyek ini memberikan keuntungan, karena komponen penerimaan lebih besar ketimbang komponen biaya dalam 30 tahun. Oleh karena itu, proyek ini akan memberikan keuntungan kepada pengusaha jika dijalankan.
Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas pada pabrik kelapa sawit dilakukan untuk mempelajari perubahan pada salah satu atau lebih komponen biaya.Sebelum dilakukan analisis sensitivitas, perlu ditentukan terlebih dahulu variabel kritis yang diperkirakan dapat dengan cepat berubah karena pengaruh dari keadaan sosial, politik, dan ekonomi saat itu dan dapat mengakibatkan perubahan biaya serta timbulnya risiko pada usaha. Pada penelitian ini, variabel kritas yang dipilih untuk dimasukkan dalam perhitungan analisis sensitivitas yaitu kenaikan harga TBS, penurunan harga CPO dan KP, kenaikan biaya tetap, kenaikan biaya tidak tetap, penurunan jumlah TBS yang diolah per tahun, serta kenaikan harga TBS dan penurunan jumlah TBS yang diolah per tahun.
Produk hasil olahan kelapa sawit sebagian besar berorientasi ekspor, sehingga harga CPO dan KP sangat dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar Rupiah. Selain itu, perdagangan kelapa sawit dan produk olahannya sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, politik, dan isu lingkungan. Oleh karena itu, harga CPO dan KP sangat cepat berubah.
Perubahan biaya tetap dan biaya tidak tetap sangat mungkin terjadi selama umur proyek.Perubahan tersebut dapat terjadi pada salah satu, beberapa, atau bahkan keseluruhan komponen biaya tetap.Perubahan ini dapat terjadi sewaktu waktu dan sulit diprediksi.
Perubahan jumlah TBS yang diolah per tahun dapat mengubah biaya pokok, sehingga jika jumlah TBS yang diolah per tahun meningkat maka biaya pokok akan menurun dan keuntungan meningkat. Perubahan biaya pemeliharaan sangat mempengaruhi kelayakan pabrik kelapa sawit. Oleh karena itu, perlu diketahui biaya pemeliharaan yang tepat agar pabrik kelapa sawit memiliki kelayakan finansial.
Kenaikan Harga TBS
Kenaikan harga TBS sebagai bahan baku produksi tentu mempengaruhi tingkat kelayakan pabrik kelapa sawit. Kenaikan harga ini juga dapat mempengaruhi pasokan TBS. Oleh karena itu, seringkali pabrik kelapa sawit mengalami kerugian saat terjadi kenaikan harga TBS. Sebaliknya, pabrik kelapa sawit memperoleh keuntungan saat harga TBS mengalami penurunan.
Pada tahun 2012, harga CPO rata-rata ialah Rp. 1 464. Pada tahun tersebut mengalami fluktuasi harga setiap bulannya. Perubahan harga TBS dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain produksi agregat TBS pada saat itu, biaya produksi tanaman sawit, dan permintaan terhadap TBS. Pada Tabel 13 terlihat perkembangan harga TBS.
Pada Tabel 13 terlihat bahwa variabel perubahan harga TBS merupakan variabel kritis yang dapat dengan cepat berubah. Perubahan yang signifikan juga akan mempengaruhi kelayakan pabrik kelapa sawit.
Pemilihan tingkat perubahan pada analisis ini ialah perubahan harga yang berpotensi mengubah keadaan atau tingkat kelayakan. Oleh karena analisis sebelumnya (NPV,IRR, dan BC Ratio) menunjukkaan kelayakan, maka pada