• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAKSANAAN PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Panjang Tanaman (cm)

Data hasil pengamatan dan sidik ragam dari panjang tanaman 1 MST, 2 MST dan 3 MST dapat dilihat pada Lampiran 7 s/d 9. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan induksi giberelin, varietas dan interaksi antara perlakuan giberelin dan varietas belum berbeda nyata terhadap parameter panjang tanaman.

Hasil uji beda rataan panjang tanaman pada perlakuan giberelin dan varietas dari 1 s/d 3 MST dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rataan Panjang Tanaman (cm) dengan Perlakuan Giberelin pada Tiga Varietas Semangka Minggu ke.. Perlakuan 1 2 3 ………..cm……….. Giberelin (G) G0 25,37 71,07 176,84 G1 23,90 55,10 142,91 G2 24,74 63,73 138,04 G3 26,36 62,22 157,10 Varietas (V) V1 (New Dragon) 24,79 57,46 143,76 V2 (Long Dragon) 24,48 63,88 141,12 V3 (Super Dragon) 26,00 67,75 176,30

Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan uji BNJ.

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

USU Repository © 2009

Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa tanaman terpanjang terdapat pada perlakuan tanpa giberelin (176,84 cm) dan terpendek terdapat pada perlakuan giberelin dengan konsentrasi 100 ppm (138,04 cm), sedangkan pada varietas tanaman terpanjang terdapat pada varietas Super Dragon (176,30 cm) dan terpendek terdapat pada varietas Long Dragon (141,12 cm).

Grafik pertumbuhan panjang tanaman pada 1 MST hingga 3 MST dari ketiga varietas semangka dapat dilihat pada Gambar 1.

0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 1 2 3 Umur Tanaman (mst) P an jan g T an am an ( cm ) V1 = New Dragon V2 = Long Dragon V3 = Super Dragon

Gambar 1. Grafik Pertumbuhan Panjang Tanaman (cm) Tiga Varietas Semangka

Umur Berbunga (HST)

Data hasil pengamatan dan sidik ragam dari umur berbunga dapat dilihat pada Lampiran 10. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan giberelin, varietas dan interaksi antara giberelin dan varietas belum berbeda nyata terhadap parameter umur berbunga.

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

USU Repository © 2009

Data umur berbunga pada perlakuan giberelin dan varietas dapat dilihat pada Tabel 2.

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

USU Repository © 2009

Tabel 2. Rataan Umur Berbunga (hst) dengan Perlakuan Giberelin pada Tiga Varietas Semangka

Varietas Giberelin Rataan G0 G1 G2 G3

V1 (New Dragon) 43.67 42.67 43.67 43.00 43.25 V2 (Long Dragon) 42.67 43.67 43.33 42.67 43.08 V3 (Super Dragon) 42.33 43.67 42.67 42.33 42.75 Rataan 42.89 43.33 43.22 42.67 43.03

Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan uji BNJ.

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa umur berbunga terlama terdapat pada perlakuan giberelin dengan konsentrasi 50 ppm (43,33 HST) dan terpendek terdapat pada perlakuan giberelin dengan konsentrasi 150 (42,67 HST), sedangkan pada varietas umur berbunga terlama terdapat pada varietas New Dragon (43,25 HST) dan terpendek terdapat pada varietas Super Dragon (42,75 HST).

Umur Terbentuknya Buah (HST)

Data hasil pengamatan dan sidik ragam dari umur terbentuknya buah dapat dilihat pada Lampiran 11. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan giberelin, varietas dan interaksi antara giberelin dan varietas belum berbeda nyata terhadap parameter umur terbentuknya buah.

Data umur terbentuknya buah pada perlakuan giberelin dan varietas dapat dilihat pada Tabel 3.

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

USU Repository © 2009

Tabel 3. Rataan Umur Terbentuknya Buah (hst) dengan Perlakuan Giberelin pada Tiga Varietas Semangka

Varietas Giberelin Rataan G0 G1 G2 G3

V1 (New Dragon) 48.00 47.67 48.67 47.33 47.92 V2 (Long Dragon) 48.33 48.00 48.00 47.67 48.00 V3 (Super Dragon) 47.33 48.33 48.00 47.67 47.83 Rataan 47.89 48.00 48.22 47.56 47.92

Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan uji BNJ.

Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa umur terbentuknya buah terlama terdapat pada perlakuan giberelin dengan konsentrasi 100 ppm (48,22 HST) dan terpendek terdapat pada perlakuan giberelin dengan konsentrasi 150 (47,56 HST), sedangkan pada varietas umur terbentuknya buah terlama terdapat pada varietasLong Dragon (48,00 HST) dan terpendek terdapat pada varietas Super Dragon (47,83 HST). Persentase Terbentuknya Buah (%)

Data hasil pengamatan dan sidik ragam dari persentase terbentuknya buah dapat dilihat pada Lampiran 12. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan giberelin, varietas dan interaksi antara giberelin dan varietas belum berbeda nyata terhadap parameter persentase terbentuknya buah.

Data persentase terbentuknya buah pada perlakuan giberelin dan varietas dapat dilihat pada Tabel 4.

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

USU Repository © 2009

Tabel 4. Rataan Persentase Terbentuknya Buah (%) dengan Perlakuan Giberelin pada Tiga Varietas Semangka

Varietas Giberelin Rataan G0 G1 G2 G3

V1 (New Dragon) 48.15 44.29 46.63 40.60 44.92 V2 (Long Dragon) 42.06 35.36 37.78 37.77 38.24 V3 (Super Dragon) 38.15 38.79 43.45 38.42 39.70 Rataan 42.79 39.48 42.62 38.93 40.95

Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan uji BNJ.

Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa persentase terbentuknya buah tertinggi terdapat pada perlakuan tanpa giberelin (42,79 %) dan terendah terdapat pada perlakuan giberelin dengan konsentrasi 150 ppm (38,93 %), sedangkan pada

varietas persentase terbentuknya buah tertinggi terdapat pada varietas

New Dragon (44,92 %) dan terendah terdapat pada varietas Long Dragon (38,24 %).

Umur Panen (HST)

Data hasil pengamatan dan sidik ragam dari umur panen dapat dilihat pada Lampiran 13. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan giberelin, varietas dan interaksi antara giberelin dan varietas belum berbeda nyata terhadap parameter umur panen.

Data umur panen pada perlakuan giberelin dan varietas dapat dilihat pada Tabel 5.

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

USU Repository © 2009

Tabel 5. Rataan Umur Panen (hst) dengan Perlakuan Giberelin pada Tiga Varietas Semangka

Varietas Giberelin Rataan G0 G1 G2 G3

V1 (New Dragon) 75.50 75.50 75.50 74.50 75.25 V2 (Long Dragon) 75.50 76.50 76.00 75.50 75.88 V3 (Super Dragon) 75.00 77.17 75.50 76.67 76.08 Rataan 75.33 76.39 75.67 75.56 75.74

Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan uji BNJ.

Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa umur panen terlama terdapat pada perlakuan giberelin dengan konsentrasi 50 ppm (76,39 HST) dan terpendek terdapat pada perlakuan tanpa giberelin (75,33 HST), sedangkan pada varietas umur panen terlama terdapat pada varietas Super Dragon (76,08 HST) dan terpendek terdapat pada varietas New Dragon (75,25 HST).

Bobot Buah (kg)

Data hasil pengamatan dan sidik ragam dari bobot buah dapat dilihat pada Lampiran 14. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan giberelin berpengaruh nyata terhadap parameter bobot buah, dan varietas juga berbeda nyata terhadap bobot buah, sedangkan interaksi antara giberelin dan varietas belum berbeda nyata terhadap parameter bobot buah.

Data bobot buah pada perlakuan giberelin dan varietas dapat dilihat pada Tabel 6.

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

USU Repository © 2009

Tabel 6. Rataan Bobot Buah (kg) dengan Perlakuan Giberelin pada Tiga Varietas Semangka

Varietas Giberelin Rataan G0 G1 G2 G3

V1 (New Dragon) 2.58 2.62 2.65 3.33 2.80 c V2 (Long Dragon) 3.33 3.23 4.80 4.15 3.88 b V3 (Super Dragon) 4.10 5.28 5.27 5.17 4.95 a Rataan 3.34 b 3.71 b 4.24 a 4.22 a 3.88

Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan uji BNJ.

Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa bobot buah terbesar terdapat pada perlakuan giberelin dengan konsentrasi 100 ppm (4,24 kg) dan terkecil pada perlakuan tanpa giberelin (3,34 kg), sedangkan pada varietas bobot buah terbesar

terdapat pada varietas Super Dragon (4,95 kg) dan terkecil pada varietas New Dragon (2,80 kg).

Histogram bobot buah dari ketiga varietas semangka dapat dilihat pada Gambar 2. 0 1 2 3 4 5 6

V1 = New Dragon V2 = Long Dragon V3 = Super Dragon

Varietas B obot B ua h ( kg)

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

USU Repository © 2009

Dari Gambar 2 dapat dilihat bahwa bobot buah pada varietas Super Dragon lebih besar dibandingkan dengan varietas New Dragon dan Long Dragon.

Grafik bobot buah dari perlakuan giberelin dapat dilihat pada Gambar 3. 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 G0 = 0 ppm G1 = 50 ppm G2 = 100 ppm G3 = 150 ppm Konsentrasi giberelin (ppm) B obot B ua h ( kg)

Gambar 3. Grafik Perbedaan Konsentrasi Giberelin terhadap Bobot Buah

Dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa bobot buah pada konsentrasi giberelin 100 ppm lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi giberelin 0 ppm, 50 ppm dan 150 ppm.

Panjang Buah (cm)

Dari hasil pengamatan dan sidik ragam dari panjang buah yang dapat dipasarkan dapat dilihat pada Lampiran 15. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan giberelin berpengaruh nyata terhadap parameter panjang buah, dan

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

USU Repository © 2009

varietas juga berbeda nyata terhadap panjang buah sedangkan interaksi antara giberelin dan varietas belum berbeda nyata terhadap parameter panjang buah.

Data panjang buah pada perlakuan giberelin dan varietas dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Rataan Panjang Buah (cm) dengan Perlakuan Giberelin pada Tiga Varietas Semangka

Varietas Giberelin Rataan G0 G1 G2 G3

V1 (New Dragon) 21.08 20.43 21.05 21.27 20.96 c V2 (Long Dragon) 22.00 22.08 23.07 23.89 22.76 b V3 (Super Dragon) 22.70 26.43 26.67 26.32 25.53 a Rataan 21.93 b 22.98 ab 23.59 a 23.82 a 23.08

Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan uji BNJ.

Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa panjang buah terbesar terdapat pada perlakuan giberelin dengan konsentrasi 150 ppm (23,82 cm) dan terkecil pada perlakuan tanpa giberelin (21,93 cm), sedangkan pada varietas panjang buah terbesar terdapat pada varietas Super Dragon (25,53 cm) dan terkecil pada varietas New Dragon (20,96 cm).

Histogram antara varietas dengan panjang buah dapat dilihat pada Gambar 4.

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

USU Repository © 2009 0 5 10 15 20 25 30

V1 = New Dragon V2 = Long Dragon V3 = Super Dragon

Varietas P anj ang B ua h ( cm )

Gambar 4. Histogram Perbedaan Varietas terhadap Panjang Buah

Dari Gambar 4 dapat dilihat bahwa panjang buah pada varietas Super Dragon lebih panjang dibandingkan dengan varietas New Dragon dan Long Dragon.

Grafik antara konsentrasi giberelin dengan panjang buah dapat dilihat pada Gambar 5. 20.5 21 21.5 22 22.5 23 23.5 24 G0 = 0 ppm G1 = 50 ppm G2 = 100 ppm G3 = 150 ppm Konsentrasi Giberelin (ppm) P anj ang B ua h ( cm ) 0,00

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

USU Repository © 2009

Gambar 5. Grafik Perbedaan Konsentrasi Giberelin terhadap Panjang Buah

Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa panjang buah pada konsentrasi giberelin 150 ppm lebih panjang dibandingkan dengan konsentrasi giberelin 0 ppm, 50 ppm dan 100 ppm.

Diameter Buah (cm)

Dari hasil pengamatan dan sidik ragam dari diameter buah yang dapat dipasarkan dapat dilihat pada Lampiran 16. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan giberelin berpengaruh nyata terhadap parameter diameter buah, dan varietas juga berbeda nyata terhadap diameter buah sedangkan interaksi antara giberelin dan varietas belum berbeda nyata terhadap parameter diameter buah.

Data diameter buah pada perlakuan giberelin dan varietas dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Rataan Diameter Buah (cm) dengan Perlakuan Giberelin pada Tiga Varietas Semangka

Varietas Giberelin Rataan G0 G1 G2 G3

V1 (New Dragon) 15.05 14.90 14.83 16.07 15.21 c V2 (Long Dragon) 16.02 16.17 17.00 16.92 16.53 b V3 (Super Dragon) 16.85 18.92 18.43 18.53 18.18 a Rataan 15.97 b 16.66 ab 16.76 a 17.17 a 16.64

Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan uji BNJ.

Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa diameter buah terbesar terdapat pada perlakuan giberelin dengan konsentrasi 150 ppm (17,17 cm) dan terkecil pada

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

USU Repository © 2009

perlakuan tanpa giberelin (15,97 cm), sedangkan pada varietas diameter buah terbesar terdapat pada varietas Super Dragon (18,18 cm) dan terkecil pada varietas New Dragon (15,21 cm).

Histogram antara varietas dengan diameter buah dapat dilihat pada Gambar 6. 13.5 14 14.5 15 15.5 16 16.5 17 17.5 18 18.5

V1 = New Dragon V2 = Long Dragon V3 = Super Dragon

Varietas D ia m e te r B u ah ( c m )

Gambar 6. Histogram Perbedaan Varietas terhadap Diameter Buah

Dari Gambar 6 dapat dilihat bahwa diameter buah pada varietas Super Dragon lebih besar dibandingkan dengan varietas New Dragon dan Long Dragon.

Grafik antara konsentrasi giberelin dengan diameter buah dapat dilihat pada Gambar 7.

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

USU Repository © 2009 15.2 15.4 15.6 15.8 16 16.2 16.4 16.6 16.8 17 17.2 17.4 G0 = 0 ppm G1 = 50 ppm G2 = 100 ppm G3 = 150 ppm Konsentrasi Giberelin (ppm) D iam et er B u ah ( cm )

Gambar 7. Grafik Perbedaan Konsentrasi Giberelin terhadap Diameter Buah

Dari Gambar 7 dapat dilihat bahwa diameter buah pada konsentrasi giberelin 150 ppm lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi giberelin 0 ppm, 50 ppm dan 100 ppm.

Jumlah Biji (biji)

Dari hasil pengamatan dan sidik ragam dari jumlah biji dapat dilihat pada Lampiran 17. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan giberelin berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah biji, dan varietas juga berbeda nyata terhadap jumlah biji sedangkan interaksi antara giberelin dan varietas belum berbeda nyata terhadap parameter jumlah biji.

Data jumlah biji pada perlakuan giberelin dan varietas dapat dilihat pada Tabel 9.

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

USU Repository © 2009

Tabel 9. Rataan Jumlah Biji (biji) dengan Perlakuan Giberelin pada Tiga Varietas Semangka

Varietas Giberelin Rataan G0 G1 G2 G3

V1 (New Dragon) 421.50 411.83 399.00 318.50 387.71 a V2 (Long Dragon) 316.00 339.17 272.67 253.00 295.21 b V3 (Super Dragon) 254.00 206.50 204.33 202.00 216.71 c Rataan 330.50 a 319.17ab 292.00b 257.83 c 299.88

Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan uji BNJ.

Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa jumlah biji terbanyak terdapat pada perlakuan tanpa giberelin (330,50 biji) dan terkecil pada perlakuan giberelin dengan konsentrasi 150 ppm (257,83 biji), sedangkan pada varietas jumlah biji terbanyak terdapat pada varietas New Dragon Dragon (387,71 biji) dan terkecil pada varietas Super Dragon (216,71 biji).

Histogram antara varietas dengan jumlah biji dapat dilihat pada Gambar 8. 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450

V1 = New Dragon V2 = Long Dragon V3 = Super Dragon

Varietas Ju m la h B iji ( b iji)

Gambar 8. Histogram Perbedaan Varietas terhadap Jumlah Biji

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

USU Repository © 2009

Dari Gambar 8 dapat dilihat bahwa jumlah biji pada varietas New Dragon lebih banyak dibandingkan dengan varietas Long Dragon dan Super Dragon.

Grafik antara konsentrasi giberelin dengan jumlah biji dapat dilihat pada Gambar 9. 0 50 100 150 200 250 300 350 G0 = 0 ppm G1 = 50 ppm G2 = 100 ppm G3 = 150 ppm Konsentrasi Giberelin (ppm) Ju m la h B iji ( b iji)

Gambar 9. Grafik Perbedaan Konsentrasi Giberelin terhadap Jumlah Biji

Dari Gambar 9 dapat dilihat bahwa jumlah biji pada perlakuan tanpa giberelin lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi giberelin 50 ppm, 100 ppm dan 150 ppm.

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

USU Repository © 2009

Pembahasan

Pengaruh Induksi Giberelin terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, secara statistik diperoleh bahwa perlakuan induksi giberelin berpengaruh nyata terhadap parameter bobot buah, panjang buah, diameter buah dan jumlah biji. Namun belum berpengaruh nyata terhadap parameter panjang tanaman, umur berbunga, umur terbentuknya buah, persentase terbentuknya buah dan umur panen.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, dapat dilihat pada Tabel 6 bahwa bobot buah terbesar terdapat pada perlakuan giberelin dengan konsentrasi 100 ppm dan terkecil pada perlakuan tanpa giberelin. Pada Tabel 7, panjang buah terbesar terdapat pada perlakuan giberelin dengan konsentrasi 150 ppm dan terkecil pada perlakuan tanpa giberelin. Pada tabel 8 juga menunjukkan bahwa perlakuan giberelin dengan konsentrasi 150 ppm menghasilkan diameter buah terbesar, sedangkan terkecil pada perlakuan tanpa giberelin. Ini menunjukkan bahwa perlakuan tanaman dengan giberelin berpengaruh nyata terhadap ukuran buah. Giberelin dapat berpengaruh terhadap pemanjangan batang, pembungaan dan pembuahan. GA juga meningkatkan besar bunga dan buah (Kusumo, 1984). GA mempengaruhi pembesaran sel (peningkatan ukuran) dan mempengaruhi pembelahan sel (peningkatan jumlah). Adanya pembesaran sel mengakibatkan ukuran sel yang baru lebih besar dari sel induk. Pertambahan ukuran sel menghasilkan pertambahan ukuran jaringan, organ dan akhirnya meningkatan ukuran tubuh tanaman secara keseluruhan maupun berat tanaman tersebut. Peningkatan pembelahan sel menghasilkan jumlah sel

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

USU Repository © 2009

yang lebih banyak. Jumlah sel yang meningkat, termasuk di dalam jaringan pada daun, memungkinkan terjadinya peningkatan fotosintesis penghasil karbohidrat, yang dapat mempengaruhi bobot tanaman (Salisbury dan Ross, 1995). Di fase generatif ini penambahan hormon giberelin eksogen akan meningkatkan kapasitas jaringan penyimpanan hasil fotosintesa yang dipanen (umbi, buah dll) yaitu giberelin akan memperbesar sel jaringan penyimpanan sehingga mampu menerima hasil-hasil fotosintesa lebih banyak yang berakibat ukuran jaringan penyimpanan (buah) lebih besar seperti pada semangka, kentang, dll atau bernas seperti pada padi, jagung dll (Wordpress, 2009).

Dari Tabel 9 menunjukkan perlakuan induksi giberelin mempengaruhi jumlah biji yang terbentuk, jumlah biji terbanyak terdapat pada perlakuan tanpa giberelin dan jumlah biji terkecil pada perlakuan giberelin dengan konsentrasi 150 ppm. Ada buah yang terjadinya harus ada biji, ada pula buah yang dapat tumbuh dan berkembang tanpa biji. Bahkan, ada buah yang terbentuk dan tumbuh tanpa pembuahan. Ketidaknormalan juga dapat terjadi dalam pembentukan biji. Ada biji yang berkembang tanpa pembuahan bahkan tanpa penyerbukan (Suwanto, 2002). Biji tidak hanya mengandung hormon giberelin saja tapi juga auksin sehingga pencelupan bunga betina menggunakan hormon giberelin saja kemungkinan tidak cukup efektif. Bagi tumbuhan, biji merupakan tempat cadangan auksin. Dengan penyemprotan auksin dan giberelin dapat menggantikan peran biji. Tumbuhan pun tak perlu menyimpan kedua hormon tumbuh itu dalam biji sehingga biji tak terbentuk. Auksin merupakan hormon pertumbuhan bagi tanaman. Auksin bekerja dengan mempengaruhi metabolisme pada dinding sel. Akibatnya sel lebih mudah memanjang ke arah sinar matahari. Giberelin

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

USU Repository © 2009

mempengaruhi meristem dan respon tanaman terhadap suhu, cahaya, serta pembentukan bunga dan buah. Pekebun memanfaatkan auksin dan giberelin itu untuk menghilangkan biji pada beberapa buah seperti anggur (Pardal, 2008). Berikutnya diketahui lagi bahwa auksin dapat menggantikan polinasi dan fertilisasi pada proses pembentukan dan perkembangan buah pada beberapa spesies tanaman (Gustafson, 1942). Percobaan pada tanaman strawbery, di mana bakal biji yang telah dibuahi (achenes) dapat dihilangkan tanpa merusak bagian reseptakel ternyata buah tetap tumbuh berkembang setelah achenes diganti dengan olesan senyawa lanolin yang berisi auksin (Nitsch, 1950). Lebih lanjut, Nitsch membuktikan bahwa kandungan dan sintesis auksin pada bakal biji (achenes) berlangsung hingga 17 hari setelah pembuahan. Hal ini membuktikan bahwa auksin dibutuhkan selama perkembangan buah. Zat pengatur tumbuh (ZPT) lain, seperti giberelin juga terbukti dapat menggantikan peran biji dalam perkembangan buah (Schwabe dan Mills, 1981). Namun, untuk efisiensi partenokarpi perlu kombinasi atau pengulangan aplikasi ZPT tersebut. Zat pengatur tumbuh berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap kandungan auksin (IAA) endogen dalam bakal buah (ovary), baik setelah polinasi dan fertilisasi ataupun setelah aplikasi ZPT dari luar. Kadar auksin selama perkembangan bakal buah berbeda-beda untuk setiap tanaman, tetapi umumnya meningkat pada saat 20 hari setelah pembungaan (anthesis) baik pada bunga yang diserbuki atau yang disemprot auksin (Lee etal., 1997). Perlakuan GA mengakibatkan tidak terbentuknya biji karena gangguan pertumbuhan tabung sari sebelum pembuahan.

Tingkat keberhasilan penghilangan biji ini mencapai hampir 100% (Suwanto, 2002). Masih adanya biji juga diduga karena adanya serbuk sari dari

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

USU Repository © 2009

tanaman lain dan konsentrasi giberelin yang belum tepat. Jika diberikan pada saat yang tepat dan konsentrasi yang cocok, giberelin menyebabkan gerombol buah anggur tanpa biji dan lebih panjang sehingga buahnya tidak terlalu berdesakan (Salisbury dan Ross, 1995).

Pengaruh Interaksi Induksi Giberelin dan Varietas terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi

Dari hasil analisis secara statistik diperoleh bahwa interaksi induksi giberelin dan varietas terhadap pembentukan buah partenokarpi belum memberikan pengaruh nyata terhadap parameter panjang tanaman, umur berbunga, umur terbentuknya buah, persentase terbentuknya buah, umur panen, bobot buah, panjang buah, diameter buah dan jumlah biji. Walaupun dalam beberapa penelitian lainnya ada juga ditemukan pengaruh interaksi GA3 dan varietas pada species tanaman tertentu, misalnya pada tanaman anggur.

Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi Pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka (Citrullus vulgaris Schard), 2009.

USU Repository © 2009

Dokumen terkait