• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAKSANAAN PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tinggi Tanaman (cm)

Data pengamatan tinggi tanaman 2 – 5 MST serta sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 6 – 13. Dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi GA3 yang diberikan berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman 3 dan 4 MST tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 2 dan 5 MST, sedangkan varietas dan interaksi antara kedua faktor tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Data rataan tinggi tanaman terhadap varietas dan pemberian GA3 pada 2 – 5 MST dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rataan tinggi tanaman terhadap varietas dan pemberian GA3 pada 2 – 5 MST

Perlakuan Tinggi tanaman pada umur (MST)

2 3 4 5 Varietas (V) V1 12,55 16,65 20,74 46,45 V2 12,76 16,99 21,12 47,31 V3 12,14 16,60 20,92 49,04 GA3 (G) G0 12,26 16,13 cd 20,11 cd 46,16 G1 12,23 16,42 bc 20,73 abc 47,01

G2 12,75 17,07 ab 21,36 ab 48,59 G3 12,69 17,36 a 21,51 a 48,64

Keterangan: Angka – angka yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%.

Data rataan tinggi tanaman terhadap varietas dan pemberian GA3 pada 4 MST dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rataan tinggi tanaman terhadap varietas dan pemberian GA3 pada 4 MST.

Perlakuan Konsentrasi GA3 Rataan G0 G1 G2 G3

V1 20,32 20,67 21,31 20,67 20,74 V2 19,96 20,98 21,46 22,09 21,12 V3 20,04 20,53 21,31 21,78 20,92 Rataan 20,11 cd 20,73 abc 21,36 ab 21,51 a 20,93 Keterangan: Angka – angka yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama pada kolom yang sama

menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%.

. Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa perlakuan G1, G2 dan G3 berbeda tidak nyata antara ketiganya, tetapi berbeda nyata dengan G0.

Jumlah Cabang Primer (cabang)

Data rataan jumlah cabang primer dan sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 14 – 15. Dari hasil sidik ragam diketahui bahwa varietas dan perlakuan pemberian GA3 serta interaksi antara keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah cabang primer. Data rataan jumlah cabang primer terhadap varietas dan pemberian GA3 dapat dilihat pada Tabel 3.

Varietas Konsentrasi GA3 Rataan G0 G1 G2 G3 V1 5,32 4,92 4,59 4,54 4,84 V2 4,88 5,19 5,31 4,82 5,05 V3 5,10 5,61 5,38 5,42 5,38 Rataan 5,10 5,24 5,09 4,93 5,09 Keterangan: Angka – angka yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama pada kolom yang sama

menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%.

Dari Tabel 3 dapat diketahui bahwa jumlah cabang primer terbanyak pada

varietas diperoleh pada V3 (5,38 cabang) diikuti oleh V2 (5,05 cabang) dan V1 (4,84 cabang).

Dari Tabel 3 juga dapat diketahui bahwa pada pemberian GA3, jumlah cabang primer terbanyak diperoleh pada perlakuan G1 (5,24 cabang) diikuti oleh G0 (5,10 cabang), G2 (5,09 cabang) dan G3 (4,93 cabang).

Diameter Tanaman (mm)

Data pengamatan tinggi tanaman 2 – 4 MST serta sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 16 – 21. Dari hasil sidik ragam diketahui bahwa varietas dan perlakuan pemberian GA3 serta interaksi antara keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap diameter tanaman 2 – 4 MST. Data rataan diameter tanaman terhadap varietas dan pemberian GA3 pada 2 – 4 MST dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Rataan diameter tanaman terhadap varietas dan pemberian GA3 pada 2 – 4 MST

Perlakuan

Diameter tanaman pada umur MST

2 3 4 Varietas (V) V1 4,17 4,61 5,05 V2 4,52 4,95 5,38 V3 4,35 4,77 5,22 GA3 (G) G0 4,52 4,95 5,42 G1 4,27 4,70 5,13

G2 4,30 4,74 5,17

G3 4,29 4,70 5,14

Keterangan: Angka – angka yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%.

Tabel 4 menunjukkan pada umur 4 MST, diameter tanaman tertinggi pada varietas diperoleh pada V2 (5,38 mm) diikuti oleh V3 (5,22 mm) dan V1 (5,05 mm), yang berbeda tidak nyata satu sama lainnya.

Tabel 4 juga menunjukkan bahwa pada perlakuan pemberian GA3 diameter tanaman tertinggi diperoleh pada perlakuan G0 (5,42 mm) diikuti oleh G2 (5,17 mm), G3 (5,14 mm) dan G1 (5,13 mm).

Umur Berbunga (hari)

Data hasil pengamatan umur berbunga dan sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 22 – 23. Dari hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa varietas dan perlakuan GA3 serta interaksi antara keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap umur berbunga. Data rataan umur berbunga terhadap varietas dan pemberian GA3

dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Rataan umur berbunga terhadap varietas dan pemberian GA3

.

Perlakuan Konsentrasi GA3 Rataan

G0 G1 G2 G3

V1 36,67 38,33 40,67 38,00 38,42 V2 39,67 41,33 41,33 40,00 40,58 V3 41,33 38,00 39,33 40,67 39,83 Rataan 39,22 39,22 40,44 39,56 39,61 Keterangan: Angka – angka yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama pada kolom yang sama

menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%.

Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa pada varietas, umur berbunga tercepat diperoleh pada V1 (38,42 hari) diikuti oleh V3 (39,83 hari) dan V2 (40,58 hari).

Dari Tabel 5 juga dapat dilihat bahwa pada perlakuan pemberian GA3, umur berbunga tercepat diperoleh pada perlakuan G0 dan G1 yaitu sebesar 39,22 hari, diikuti oleh G3 (39,56) hari dan G2 (40,44 hari).

Jumlah Bunga Pertanaman (kuntum)

Data rataan jumlah bunga pertanaman dan sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 24 – 25. Dari hasil analisis data secara statistik diketahui bahwa varietas berpengaruh nyata terhadap jumlah bunga per tanaman sedangkan pemberian GA3 serta interaksi antara keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah bunga per tanaman. Data rataan jumlah bunga pertanaman dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rataan jumlah bunga pertanaman terhadap varietas dan pemberian GA3. Perlakuan Konsentrasi GA3 Rataan

G0 G1 G2 G3

V1 11,33 11,34 11,78 11,78 11,56 bc

V2 11,78 11,67 11,67 12,22 11,83 ab

V3 12,44 11,78 12,15 12,67 12,26 a

Rataan 11,85 11,59 11,87 12,22 11,88 Keterangan: Angka – angka yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama pada kolom yang sama

menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%.

Dari Tabel 6 dapat diketahui bahwa pada varietas, jumlah bunga terbanyak

diperoleh pada V3 (12,26 kuntum) diikuti oleh V2 (11,83 kuntum) dan V1 (11,56 kuntum).

Dari Tabel 6 juga dapat diketahui bahwa pada perlakuan pemberian GA3, jumlah bunga terbanyak terdapat pada perlakuan G3 (12,22 kuntum), yang

selanjutnya diikuti oleh G2 (11,87 kuntum), G0 (11,85 kuntum) dan G1 (11,59 kuntum).

Hubungan antara varietas dengan jumlah bunga per tanaman dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Hubungan antara varietas dengan jumlah bunga per tanaman.

Dari gambar 1 dapat diketahui bahwa jumlah bunga terbanyak terdapat

pada V3 (12,26 kuntum), selanjutnya diikuti oleh V2 (11,83 kuntum) dan V1 (11,56 kuntum).

Umur Panen (hari)

Data rataan umur panen dan sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 26 – 27. Dari hasil analisis data secara statistik diketahui bahwa varietas dan pemberian GA3 serta interaksi antara keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah bunga per tanaman. Data rataan umur panen dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Rataan umur panen terhadap varietas dan pemberian GA3.

Varietas Konsentrasi GA3 Rataan

G0 G1 G2 G3

V1 62,67 66,67 65,67 61,67 64,17 V2 66,33 66,00 65,67 65,67 65,92 V3 63,33 64,00 63,33 64,67 63,83 Rataan 64,11 65,56 64,89 64,00 64,64

Keterangan: Angka – angka yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%.

Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa pada varietas, umur panen tercepat diperoleh pada V3 (63,83 hari), selanjutnya diikuti oleh V1 (64,17 hari) dan V2 (65,92 hari).

Dari tabel 7 juga dapat dilihat bahwa pada perlakuan pemberian GA3, umur panen tercepat diperoleh pada G3 (64,00 hari), diikuti oleh G0 (64,11 hari), G2 (64,89 hari) dan G1 (65,56 hari).

Jumlah Polong Pertanaman (buah)

Data rataan jumlah polong pertanaman dan sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 28 – 29. Dari sidik ragam diketahui bahwa varietas dan perlakuan pemberian GA3 serta interaksi antara keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah polong per tanaman. Data rataan jumlah polong per tanaman terhadap varietas dan perlakuan pemberian GA3 dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Rataan jumlah polong pertanaman terhadap varietas dan perlakuan pemberian GA3.

Perlakuan Konsentrasi GA3 Rataan

G0 G1 G2 G3

V1 8,56 8,56 9,33 9,11 8,89 V2 9,29 9,17 9,28 9,64 9,35 V3 9,56 9,48 9,28 9,67 9,50 Rataan 9,14 9,07 9,30 9,47 9,24 Keterangan: Angka – angka yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama pada kolom yang sama

Dari Tabel 8 diketahui bahwa jumlah polong terbanyak pada varietas diperoleh pada V3 (9,50 buah), selanjutnya diikuti berturut-turut oleh V2 (9,35 buah) dan V1 (8,89 buah).

Dari Tabel 8 juga diketahui bahwa jumlah polong terbanyak pada perlakuan pemberian GA3 diperoleh pada perlakuan G3 (9,47 buah), selanjutnya diikuti berturut-turut oleh G2 (9,30 buah), G0 (9,14 buah) dan G1 (9,07 buah).

Jumlah Polong Hampa (buah)

Data rataan jumlah polong hampa dan sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 30 – 31. Dari sidik ragam diketahui bahwa varietas dan perlakuan pemberian GA3 serta interaksi antara keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah polong hampa. Data rataan jumlah polong hampa terhadap varietas dan perlakuan pemberian GA3 dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Rataan jumlah polong hampa terhadap varietas dan perlakuan pemberian GA3.

Varietas Konsentrasi GA3 Rataan

G0 G1 G2 G3

V1 2,89 2,78 2,78 2,78 2,81 V2 3,33 2,67 2,67 2,89 2,89 V3 2,67 3,08 3,11 2,67 2,88 Rataan 2,96 2,84 2,85 2,78 2,86 Keterangan: Angka – angka yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama pada kolom yang sama

menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%.

Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa pada varietas, jumlah polong hampa tersedikit diperoleh pada V1 (2,81 buah), selanjutnya diikuti dengan V3 (2,88 buah) dan V2 (2,89 buah).

Dari Tabel 9 juga dapat dilihat bahwa pada perlakuan pemberian GA3, jumlah polong hampa tersedikit diperoleh pada perlakuan G3 (2,78 buah), selanjutnya diikuti oleh G1 (2,84 buah), G2 (2,85 buah) dan G1 (2,96 buah).

Bobot Biji Pertanaman (g)

Data rataan bobot biji pertanaman dan sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 32 – 33. Dari sidik ragam diketahui bahwa varietas dan perlakuan pemberian GA3 serta interaksi antara keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap bobot biji per tanaman. Data rataan bobot biji per tanaman terhadap varietas dan perlakuan pemberian GA3 dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Rataan bobot biji pertanaman terhadap varietas dan perlakuan pemberian GA3.

Varietas Konsentrasi GA3 Rataan

G0 G1 G2 G3

V1 13,30 12,57 13,14 12,68 12,92 V2 12,38 12,73 12,78 13,33 12,80 V3 12,17 12,80 13,14 13,68 12,95 Rataan 12,62 12,70 13,02 13,23 12,89 Keterangan: Angka – angka yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama pada kolom yang sama

menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%. Dari Tabel 10 dapat dilihat bahwa pada varietas bobot biji per tanaman yang terbesar diperoleh pada V3 (12,95 g), selanjutnya diikuti oleh V1 (12,92 g) dan V2 (12,80 g).

Dari Tabel 10 juga dapat diketahui bahwa pada perlakuan GA3, bobot biji per tanaman yang terbesar diperoleh pada perlakuan G3 (13,23 g), selanjutnya diikuti oleh G2 (13,02 g), G1 (12,70 g) dan G0 (12,62 g).

Bobot Biji Perplot (g)

Data rataan bobot biji perplot dan sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 34 – 35. Dari sidik ragam diketahui bahwa varietas dan perlakuan pemberian GA3

plot. Data rataan bobot biji per plot terhadap varietas dan perlakuan pemberian GA3 dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Rataan bobot biji perplot terhadap varietas dan perlakuan pemberian GA3. Varietas Konsentrasi GA3 Rataan G0 G1 G2 G3 V1 73,61 71,73 75,06 77,01 74,35 V2 72,91 76,37 75,57 75,64 75,12 V3 75,06 76,84 76,69 75,92 76,13 Rataan 73,86 74,98 75,77 76,19 75,20 Keterangan: Angka – angka yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama pada kolom yang sama

menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%.

Dari Tabel 11 dapat dilihat bahwa pada varietas bobot biji per plot yang terbesar diperoleh pada V3 (76,13 g), selanjutnya diikuti oleh V2 (75,12 g) dan V1 (74,35 g).

Dari Tabel 11 juga dapat diketahui bahwa pada perlakuan GA3, bobot biji per plot yang terbesar diperoleh pada perlakuan G3 (76,19 g), selanjutnya diikuti oleh G2 (75,77 g), G1 (74,98 g) dan G0 (73,86 g).

Bobot 100 Biji (g)

Data rataan bobot 100 biji dan sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 36 – 37. Dari sidik ragam diketahui bahwa varietas dan perlakuan pemberian GA3 serta interaksi antara keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap bobot 100 biji. Data rataan bobot 100 biji terhadap varietas dan perlakuan pemberian GA3 dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Rataan 100 bobot biji terhadap varietas dan perlakuan pemberian GA3. Varietas Konsentrasi GA3 Rataan

G0 G1 G2 G3

V1 6,37 6,53 6,27 6,37 6,38 V2 6,20 6,30 6,50 6,47 6,37

V3 6,30 6,23 6,53 6,43 6,38 Rataan 6,29 6,36 6,43 6,42 6,38 Keterangan: Angka – angka yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama pada kolom yang sama

menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%.

Dari Tabel 12 dapat dilihat bahwa pada varietas bobot 100 biji yang terbesar diperoleh pada V3 dan V1 yaitu sebesar 6,38 g, selanjutnya diikuti oleh V2 (6,37 g).

Dari Tabel 12 juga dapat diketahui bahwa pada perlakuan GA3, bobot biji per plot yang terbesar diperoleh pada perlakuan G2 (6,43 g), selanjutnya diikuti oleh G3 (6,42 g), G1 (6,36 g) dan G0 (6,29 g).

Pembahasan

Perbedaan Pertumbuhan dan Produksi Dari Beberapa Varietas Kacang Hijau

Hasil analisa data secara statistik menunjukkan bahwa pada perbedaan varietas, memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah bunga pertanaman, dan tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 2 – 5 MST, jumlah cabang primer, diameter tanaman, umur mulai berbunga, umur panen, jumlah polong petanaman, jumlah polong hampa, bobot biji pertanaman, bobot biji perplot dan bobot 100 biji.

Perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap jumlah bunga. Jumlah bunga terbanyak diperoleh pada varietas V3 yaitu sebanyak 12,26 kuntum, sedangkan jumlah bunga tersedikit diperoleh pada varietas V1 yaitu sebanyak 11,56 kuntum. Hal ini diduga varietas V3 lebih unggul daripada V1 dan V2. Sutedjo (1987) menyatakan bahwa faktor-faktor mempengaruhi produksi tanaman

adalah sifat genetis tanaman misalnya varietas, faktor lingkungan seperti tata air, udara, serta faktor tanah yang mencakup sifat fisik, kimia dan biologi. Purwono dan Hartono (2005) menyatakan bahwa pengolahan tanah dan pemeliharaan seperti pemupukan, penyiangan, penyulaman, pengairan dan penyiraman merupakan bagian penting yang harus diperhatikan dalam budidaya kacang hijau karena akan mempengaruhi produksi.

Respon Varietas Terhadap GA3 Pada Pertumbuhan dan Produksi Kacang Hijau

Hasil analisa data secara statistik menunjukkan bahwa respon varietas terhadap GA3 berbeda tidak nyata pada ke semua parameter. Hal ini diduga karena faktor varietas lebih dominan terhadap pertumbuhan dan produksi kacang hijau dibandingkan dengan faktor pemberian GA3 sehingga interaksi tidak memberikan pengaruh yang nyata. Hal ini didukung oleh pernyataan Sutedjo (1987) yang menyatakan bahwa bila salah satu faktor lebih kuat pengaruhnya dari faktor lain sehingga dapat membuat faktor lain tersebut tertutupi.

Pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa rataan jumlah bunga terbanyak terdapat pada varietas V3 (12,26 kuntum). Respon perlakuan GA3 berbeda tidak nyata pada semua varietas yang digunakan. Dari ke semua perlakuan dapat terlihat bahwa rataan jumlah bunga tertinggi terdapat pada V3 (varietas kutilang). Hal ini menunjukkan faktor varietas lebih dominan dibandingkan dengan faktor GA3. Atau dengan kata lain faktor perlakuan yang digunakan belum dapat menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan dan produksi kacang hijau. Hal ini didukung oleh Marzuki dan Soeprapto (2004), menyatakan varietas unggul memegang peranan yang menonjol, baik dalam kontribusinya terhadap

peningkatan hasil persatuan luas lahan dan waktu maupun sebagai salah satu komponen utama dalam pengendalian hama dan penyakit, minimal dapat menekan penggunaan pestisida untuk memberantas/mencegah serangan hama dan penyakit tanaman. Varietas unggul pada umumnya berumur lebih genjah bila dibandingkan dengan varietas lokal. Umur yang pendek sangat penting artinya dalam menyusun pola pertanaman sepanjang tahun.

Interaksi antara pemberian GA3 dan varietas berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter pengamatan, yang berarti setiap varietas memiliki respon yang sama terhadap pemberian GA3 pada berbagai taraf konsentrasi. Setiap varietas kacang hijau yang digunakan berkemungkinan memiliki penghambat (retardan) pertumbuhan atau tidak adanya kemampuan untuk berinteraksi terhadap GA3. Hal tersebut mungkin saja terdapat pada genetis ataupun fisiologis endogen tanaman kacang hijau yang sulit untuk berinteraksi pada GA3 yang digunakan dalam berbagai taraf. Hal ini didukung oleh pernyataan Wilkins (1992) yang menyatakan bahwa terdapat sebuah blok genetik di jalan sintesis GA3 pada suatu tanaman sehingga suatu tanaman tersebut tidak berkemampuan untuk bereaksi terhadap GA3. Hal tersebut juga didukung oleh pernyataan Lakitan (1995) menyatakan bahwa, pertumbuhan dan diferensiasi jaringan tanaman dikendalikan oleh bahan kimia endogen (fitohormon), sehingga zat pengatur tumbuh yang diaplikasikan akan berinteraksi dengan hormon-hormon endogen dalam proses metabolisme tanaman.

Dokumen terkait