• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan pengumpulan data

Dari desain studi yang digunakan, didapatkan jumlah minimum sampel per kelompok adalah 27 ibu nifas, jadi jumlah minimal yang diperlukan untuk empat kelompok pada penelitian ini adalah 112 ibu nifas, yang kemudian dialokasikan secara acak (random assignment) kedalam empat kelompok. Sebanyak 142 ibu nifas yang memenuhi syarat inklusi dari total 144 ibu nifas dibagi secara random kedalam 4 kelompok perlakuan. Pada awal penelitian jumlah sampel penelitian terdiri atas 37 ibu nifas (KAMA), 35 ibu nifas (KAMO), 34 ibu nifas (KOMA), dan 36 ibu nifas (KOMO).

Selama penelitian terjadi pengurangan jumlah sampel, sehingga pada akhir penelitian berturut-turut menjadi 36 ibu nifas (KAMA), 30 ibu nifas (masing - masing KAMO dan KOMA), dan 34 ibu nifas (KOMO). Tingkat kepatuhan (compliance) selama penelitian mencapai 91,6% dengan jumlah peserta yang drop out sebesar 8,4% (sebanyak 12 orang dari total 142 sampel). Tingkat drop out tersebut di atas sudah dipertimbangkan di dalam desain penetapan jumlah sampel yaitu antara 10%. Hal yang menjadi alasan drop out antara lain, pindah rumah, ASI sudah tidak keluar, suami tidak mengijinkan untuk terus ikut pemeriksaan, bayi meninggal.

Analisis data selanjutnya dilakukan pada sampel yang mempunyai data lengkap dan hasil analisis yaitu kadar retinol ASI, sIgA dan lactoferrin pada kisaran dengan sebaran normal. Jumlah masing- masing untuk setiap kelompok perlakuan berturut-turut 29 ibu nifas pada kelompok KAMA, 29 ibu nifas pada kelompok KAMO, 28 ibu nifas pada kelompok KOMA dan 28 ibu nifas pada kelompok KOMO. Jumlah ini masih memenuhi persyaratan minimun sampel yang diperlukan untuk uji efikasi intervensi.

Pada awal penelitian dan selama intervensi berjalan, peneliti berusaha meminimalisasi dan mengontrol potensi bias akibat adanya pengubah penganggu. Hal tersebut dilakukan dengan cara mengeliminasi calon sampel yang tidak memenuhi persyaratan inklusif, randomisasi sampel, memotivasi ibu untuk mengkonsumsi minyak goreng denga n cara banyak memasak masakan yang perlu banyak minyak seperti menumis. Selain itu juga dikumpulkan peubah lainnya

yang diduga akan berpengaruh terhadap efikasi. Peubah yang dikumpulkan dan kemungkinan berpotensi menjadi penganggu terhadap perubahan variabel- variabel yang diukur (kadar retinol (R) ASI, kadar didehydroretinol (DR) ASI, rasio DR:R, kadar sIgA dan kadar lactoferrin) adalah status antropometri (IMT), umur ibu, jumlah anak yang pernah dilahirkan, tingkat pendidikan ibu, asupan vitamin A, asupan protein, asupan lemak, dan asupan zat besi.

Karakteristik Sampel

Sampel penelitian adalah ibu nifas yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Cikole, Puskesmas Pandeglang, Puskesmas Kadu Hejo, dan Puskesmas Cimanuk Kabupaten Pandeglang Propinsi Banten. Umur rata-rata ibu nifas ini adalah sebesar 28,7 ± 6 tahun dengan rentang nilai antara 17 sampai 43 tahun. Tabel 8 menunjukkan jumlah responden terbanyak berada pada kelompok umur < 30 tahun yaitu sebanyak 73 orang (64%) dan sisanya kelompok umur >30 tahun (36%). Analisis ANOVA mendapatkan hasil yang tidak bermakna (p>0,05).

Tabel 7 Karakteristik sampel menurut perlakuan

Karakteristik

Kelompok Perlakuan Signifikansi

/ Total

KAMA KAMO KOMA KOMO

Umur p >0,05 = 30 tahun, n (%) 17 (58,6) 22 (75,9) 18 (64,3) 16 (57,1) 73 (64) > 30 tahun, n (%) 12 (41,4) 7 (24,1) 10 (35,7) 12 (42,9) 41 (36) Total, n (%) 29 (100,0) 29 (100,0) 28 (100,0) 28 (100,0) 114 (100,0) Jumlah anak p >0,05 = 2 anak, n (%) 14 (48,3) 14 (48,3) 13 (46,4) 9 (32,1) 50 (43,9) > 2 anak, n (%) 15 (51,7) 15 (51,7) 15 (53,6) 19 (67,9) 64 (56,1) Total, n (%) 29 (100,0) 29 (100,0) 28 (100,0) 28 (100,0) 114 (100,0) Lama pendidikan P >0,05 = 6 tahun, n (%) 20 (69,0) 14 (48,3) 17 (60,7) 16 (57,1) 67 (58,8) > 6 tahun, n (%) 9 (31,0) 15 (51,7) 11 (39,3) 12 (42,9) 47 (41,2) Total, n (%) 29 (100,0) 29 (100,0) 28 (100,0) 28 (100,0) 114 (100,0)

Faktor lain yang juga dapat berpengaruh pada menyusui adalah berapa jumlah anak yang pernah dilahirkan atau paritas. Melihat dari usia dan anjuran pemerintah untuk program keluarga berencana, yaitu setiap keluarga dianjurkan untuk mempunyai 2 anak saja, sementara di masyarakat masih banyak ditemukan keluarga dengan anak lebih dari 3. Rata-rata ibu pernah melahirkan sebanyak 3,1±2,1 dengan rentang dari 1 hingga 9 kali. Hasil analisis menunjukkan masih banyak ibu dengan jumlah anak lebih dari 2 yaitu sebanyak 64 ibu (56,1%).

Pola menyusui ibu juga dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Lama pendidikan dibagi dalam 2 kategori yaitu < 6 tahun dan lebih dari 6 tahun. Rata- rata lama pendidikan ibu adalah 7,48 ± 2,8 tahun dengan lama pendidikan terpendek selama 2 tahun dan terlama 16 tahun (Tabel 7). Sebaran tingkat pendidikan menunjukkan masih rendahnya tingkat pendidikan dari ibu nifas yang menjadi sampel pada penelitian ini lama pendidikan ibu yang terbanyak adalah pada kategori = 6 tahun yaitu sebanyak 67 ibu (58,8%).

Tabel 8 Karakteristik sosial ekonomi sampel menurut perlakuan

Karakteristik

Kelompok Perlakuan Signifikansi

/ Total

KAMA KAMO KOMA KOMO

Jenis pekerjaan suami p = 0.339

PNS, n (%) 2 (6,9) 1 (3,4) 2 (7,1) 1 (3,6) 6 (5,3) Swasta, n (%) 1 (3,4) 4 (13,8) 5 (17,9) 3 (10,7) 13 (11,4) Wiraswasta, n (%) 3 (10,3) 11 (37,9) 6 (21,4) 6 (21,4) 26 (22,8) Buruh, n (%) 23 (79,3) 13 (44,8) 15 (53,6) 18 (64,3) 69 (60,5) Total, n (%) 29 (100) 29 (100) 28 (100) 28 (100) 114 (100) Pengeluaran pangan RT* p = 0.530 < Rp. 162.679, n (%) 24 (82,8) 20 (69,0) 18 (66,7) 21 (75,0) 83 (73.5) > Rp. 162.679, n (%) 5 (17,2) 9 (31,0) 9 (33,3) 7 (25,0) 30 (26.5) Total, n (%) 29 (100) 29 (100) 28 (100) 28 (100) 114 (100)

* Mengacu pada data BPS Pandeglang tahun 2006 (Rp 160.923 x 1.013 x 1.096 = Rp. 162.679)

Hasil perhitungan besar pengeluaran rumah tangga untuk pangan per kapita didapatkan sebesar 162.679 rupiah per bulan. Karakteristik sosial ekonomi

rumah tangga sampel yang disajikan pada Tabel 8 menunjukkan bahwa mayoritas sampel penelitian (83%) memiliki tingkat pengeluaran pangan rumah tangga dibawah 162.679,- rupiah per bulan sehingga dikategorikan ke dalam kurang mampu. Hal ini terkait erat dengan jenis pekerjaan suami para sampel penelitian yang sebagian besar (69%) bekerja sebagai buruh. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna terhadap kedua karakteristik sosial ekonomi rumah tangga sampel di keempat kelompok perlakuan yang ditunjukkan dari nilai p > 0,05 (Tabel 8).

Status Gizi Antropometri

Status gizi ibu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas ASI. Penilaian status antropometri pada ibu nifas menggunakan ukuran berat badan, tinggi badan, dan indeks massa tubuh (IMT). Rata-rata berat badan (BB) seluruh sampel pada awal penelitian adalah 52,3±7,9 kg dengan rentang nilai antara 37,8 kg hingga 80,2 kg (Tabel 9). Rata-rata tinggi badan (TB) pada awal penelitian adalah sebesar 148,7±4,4 cm dengan rentang nilai antara 137,8 hingga 160,7 cm. Sebelum pelaksanaan intervensi rata-rata nilai IMT pada seluruh kelompok adalah 23,6±3,1 kg/m2 dengan nilai paling kecil 16,7 kg/m2 dan paling tinggi 34,91 kg/m2. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa perbedaan BB, TB, dan IMT ibu pada keempat kelompok perlakuan tersebut tidak bermakna (p>0,05) (Tabel 9).

Hasil analisis pada data awal penelitian menunjukkan berdasarkan IMT menurut Depkes (2005) dibagi dalam 5 kategori yaitu <17.0 kg/m2 (kurus dengan resiko KEK berat), <18,5 kg/ m2 (kurus dengan resiko KEK ringan), 18-24,9 kg/m2 (normal), 25-27,0 kg/m2 (kelebihan berat badan tingkat ringan), dan >27 kg/m2 (kelebihan berat badan tingkat berat). Menurut kategori tersebut, sampel penelitian pada umumnya berada pada kriteria normal dan sisanya masuk ke dalam kategori kurus (0,9%), kelebihan berat badan tingkat ringan (27%), dan berat (3,5%). Terjadinya gizi lebih dan obesitas pada sampel ibu menyusui seringkali disebabkan karena penambahan berat badan selama proses kehamilan. Ibu yang menjadi responden adalah ibu yang baru saja melahirkan sehingga berat badannya umumnya masih berada di atas berat badan normal.

Setelah intervensi selama 80 hari terdapat penurunan rata-rata berat badan, yaitu rata-rata pada keempat kelompok menjadi 51,4±8,4 kg dengan selang antara 35,4-78,2 kg. Besar penurunan berat badan tersebut adalah 0,8±2,4 kg. Hasil analisis dengan uji t berpasangan mendapat tingkat kemaknaan sebesar 0,00 (p<0,05) yang berarti perbedaan berat badan sebelum dan sesudah intervensi secara statistik bermakna. Meskipun demikian, penurunan berat badan yang terjadi nampaknya bukan karena intervensi. Pada masa menyusui kebutuhan energi dan zat gizi lainnya meningkat, ibu nifas tidak dapat memenuhi semua kebutuhan tersebut sehingga tubuh menggunakan cadangan tubuhnya. Dengan uji ANOVA berat badan setelah intervensi antar keempat kelompok tersebut tidak nyata (p>0,05) (Tabel 9).

Tabel 9 Sebaran sampel dan rata-rata berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan indeks massa tubuh sampel menurut kelompok sebelum dan sesudah perlakuan Variabel Kelompok Nilai-p / Total (%) KAMA (n=29) KAMO (n=29) KOMA (n=28) KOMO (n=28) Awal* : BB (kg) 51,9±8,9 52,4±6,5 55,3±8.8 49,6±6,2 0,508a TB (cm) 148,9±5,5 148,5±4 149,8±3,6 147,7±4,3 0,318 a IMT (kg/m2) 23,3±3,5 23,7±2,5 24,6±3,8 22,7±2,7 0,162 a Kategori IMT : < 18 kg/m2 1 (3,4%) - - - 1(0,9%) 18 – 24,9 kg/m2 18(65,5%) 21(72,4%) 17(60,7%) 21(75%) 78(68,4%) >25 – 29,9 kg/m2 8 (27,6%) 8(27,6%) 8(18,6%) 7(25%) 31(27,2%) > 30 kg/m2 1(3,4%) - 3 (10,7 %) - 4 (3,5% ) Total 29(100%) 29(100%) 28(100%) 28(100%) 114(100%) Akhir* : BB (kg) 51,2±9,1 51,4±7,7 54±9 49±7,5 0,176a Kategori IMT : < 18 kg/m2 1(3,4%) - - - 1(0,9%) 18 – 24,9 kg/m2 19(65,5%) 21(72,4%) 17(60,7%) 21(75,0%) 78(68,4%) >25 – 29,9 kg/m2 8(27,6%) 8(27,6%) 8(28,6%) 7(25,0%) 31(27,2%) > 30 kg/m2 1(3,4%) - 3(10,7%) - 4(3,5%) Total 29(100%) 29(100%) 28(100%) 28(100%) 114(100%) Ket: * Uji T status antropometri Akhir - Awal menunjukkan perbedaan hasil yang signifikan

untuk kategori BB dan IMT (nilai p = 0.000) pada keempat perlakuan

Terjadi penurunan pada nilai IMT setelah dilakukan intervensi. Rata-rata IMT setelah intervensi adalah sebesar 23±3,4 kg/m2. Dengan uji ANOVA

perbedaan IMT setelah intervensi antar keempat kelompok tersebut tidak nyata (p>0,05) (Tabel 9). Hasil analisis dengan uji t berpasangan mendapat tingkat kemaknaan sebesar 0,00 (p<0,05) yang berarti perbedaan IMT sebelum dan sesudah intervensi secara statistik bermakna. Penurunan IMT terjadi karena penurunan berat badan, bukan karena pertumbuhan tinggi badan. Berat badan turun dapat disebabkan ketidak seimbangan antara keluaran energi dan asupan energi. Asupan energi menurut AKG sudah mencukupi. Pada penelitian ini tidak dilakukan pengukuran aktifitas dari ibu nifas. Pada umumnya ibu yang sedang menyusui pada umur bayi yang masih kecil kurang tidur.

Hasil Pemeriksaan Klinis

Pemeriksaan kondisi kesehatan dan penyakit dilakukan oleh dokter (medis) terhadap sampel, untuk mengetahui riwayat penyakit dan kondisi kesehatan yang diperkir akan akan mempengaruhi status vitamin A dan faktor imunitas. Tabel 10 memperlihatkan hasil pemeriksaan klinis oleh dokter pada saat awal dan akhir penelitian. Sampel yang menderita penyakit infeksi kronis tidak diikutsertakan dalam penelitian ini. Kondisi yang dimaksud sakit pada Tabel 10 meliputi batuk, pilek, diare.

Tabel 10 Sebaran sampel menurut status kesehatan sebelum dan sesudah perlakuan Variabel Kelompok P KAMA (n=29) KAMO (n=29) KOMA (n=28) KOMO (n=28) Awal : Sakit 9(31%) 3(10,3%) 2(7,1%) 1(3,6%) 0,087 a Sehat 20(69%) 26(89,7%) 26(92,9%) 27(96,4%) Akhir : Sakit 5(17,2%) 1(3,4%) 5(18,5%) 5(17,9%) 0,32 a Sehat 24(82,8%) 28(96,6%) 22(81,5%) 23(82,1%) a

perbedaan tidak bermakna antar kelompok (p<0.05)

Hasil pemeriksaan menunjukkan pada awal penelitian jumlah ibu nifas yang menderita gangguan kesehatan ditemukan sebanyak 9 orang pada kelompok

KAMA, namun kondisi ini tidak berpengaruh pada pelaksaan penelitian karena penyakit yang diderita ibu bukanlah penyakit kronis dan pada ibu segera diberikan pengobatan sesuai dengan penyakitnya. Setelah pelaksanaan intervensi jumlah yang menderita sakit menjadi lebih banyak terutama pada perlakuan KOMA dan KOMO yang tidak mendapat kapsul vitamin A, namun hasil analisis ANOVA menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05).

Hasil analisis wawancara tingkat morbiditas pada ibu nifas yang ditanya dengan wawancara yang dilakukan oleh ibu kader menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna.

Gambaran Konsumsi Minyak Selama Masa Perlakuan

Minyak yang dikonsumsi oleh sampel berasal dari dua sumber yaitu makanan yang dimasak dengan minyak goreng di rumah dan makanan yang sudah matang. Untuk mengetahui gambaran jumlah konsumsi minyak yang dikonsumsi ibu nifas dalam rumah tangga dilakukan recall konsumsi makanan sebanyak 3 kali. Recall awal dan akhir menggambarkan jumlah konsumsi minyak yang berasal dari rumah tangga, sedang recall minggu ke 6 dan ke 8 menggambarkan konsumsi minyak yang diberikan dalam penelitian ini. Minyak yang difortifikasi vitamin A, penyerapannya kedalam makanan yang digoreng berbeda, karena itu dalam perhitungan dugaan jumlah minyak yang dikonsumsi digunakan jumlah minyak yang diserap oleh bahan makanan yang dikonsumsi.

Distribusi data konsumsi minyak pada awal penelitian menurut hasil uji normalitas dengan menggunakan Kolmogorov-Smirov dengan kriteria p>0,05 menunjukkan normal, sedangkan konsumsi minyak pada minggu ke 6 dan minggu ke 8 menunjukkan tidak normal (p<0,05), namun dengan uji non parametrik Mann-Whitney mendapatkan hasil p > 0,05 yang berarti menunjukkan normal.

Gambaran konsumsi minggu ke 6 dan minggu ke 8 adalah gambaran konsumsi pada masa pertengahan intervensi berlangsung. Uji ANOVA pada keempat kelompok pada kedua waktu tersebut menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05). Meskipun demikian, jumlah minyak goreng yang dikonsumsi akan mempengaruhi asupan vitamin A pada kelompok KAMA dan KOMA. Hal

ini terlihat dari peningkatan konsumsi minyak goreng dimana rata-rata konsumsi pada awal penelitian sebesar 32±16 g dengan selang 3,6-73,1 g, sedangkan konsumsi minyak goreng rata-rata pada minggu ke 6 dan minggu ke 8 masing- masing 43,3±15,3 g dan 43,6±17,7 g dengan selang 10,3-80,9 g dan 10,2-91,2 g. Konsumsi rata-rata menurut kelompok perlakuan disajikan pada Tabel 11 berikut. Tabel 11 Rata-rata konsumsi minyak goreng selama masa perlakuan menurut

kelompok Konsumsi

Minyak

Kelompok (g)

P

KAMA KAMO KOMA KOMO

Awal 32 ±15,7 32,3±18,3 31,8± 13 31,7± 16,7 1,0 Minggu 6 42,7±17,4 47,6±16,2 39,3±10,5 43,7±15,6 0,52 Minggu 8 41,6±18,2 48,8±16,0 39,5±16,4 44,4±19,5 0,21 Rata-rata kenaikan minyak pada minggu ke 6 dibandingkan dengan awal perlakuan adalah sebesar 11,4±18,6 g dan antara minggu 8 dan awal perlakuan adalah sebesar 11,6±22,3 g. Gambaran perbedaan konsumsi minyak minggu ke 6 (beda 1) dan minggu ke 8 (beda 2) dibandingkan dengan konsumsi pada awal intervensi disajikan pada Gambar 7.

12 7,5 15 10,7 9,6 16,5 7,7 12,6 12,3 7,6 15,7 10,1 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18

KAMA KAMO KOMA KOMO

perbedaan konsumsi minyak

Beda 1 (M6-M) Beda 2 (M8-M0) Rata-rata

Perubahan peningkatan konsumsi minyak tertinggi ditemukan pada kelompok KAMO yaitu kelompok yang mengkonsumsi minyak plasebo, sedangkan peningkatan konsumsi yang terendah ditemukan pada kelompok KOMA. Hasil uji ANOVA perbedaan rata-rata peningkatan konsumsi minyak 1 maupun 2 menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05), demikian pula pada perbedaan rata-ratanya. Hasil uji ANOVA pada kedua kelompok ini menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05).

Asupan Energi dan Zat Gizi

Konsumsi minyak disertai dengan konsumsi makanan. Hasil analisis asupan energi dan zat gizi lainnya diambil dari data yang sama dengan data konsumsi minyak. Asupan rata-rata energi pada seluruh kelompok sebesar 2210±423 kkal dengan rentang nilai 1321-3333 kkal. Bila dibandingkan dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG), jumlah ini sudah mencapai sebesar 100%. Ibu nifas pada kelompok penelitian ini sudah mencukupi kebutuhan energinya. Hasil analisis ANOVA mendapatkan nilai p>0,05 yang menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna pada asupan energi pada keempat kelompok (Tabel 12). Distribusi energi berdasarkan uji normalitas data menggunakan Kolmogorov- Smirnov dengan kriteria p>0,05 untuk data berdistribusi normal menunjukkan bahwa distribusi asupan energi dari seluruh sampel adalah normal.

Asupan protein berasal dari dua sumber yaitu sumber protein hewani dan sumber protein nabati. Rata-rata asupan protein hewani dan nabati masing- masing sebesar dan 22,6±14,4 g dan 47,1±13,9 g dengan total asupan protein 69,7±19,8 g. Asupan protein nabati lebih besar dari asupan protein hewani. Rentang asupan protein hewani cukup lebar yakni dari 0-120 g, adanya nilai 0 disebabkan ada responden yang tidak mengkonsumsi makanan hewani. Dari hasil pengamatan dan wawancara dengan sampel, umumnya ibu nifas di wilayah tersebut pantang mengkonsumsi makanan tertentu, seperti misalnya telur dan hati, baik itu hati ayam maupun hati sapi yang merupakan sumber protein dan vitamin A yang cukup baik. Rentang asupan protein nabati antara 15-99,2 g dan rentang asupan total sebesar 25,4-172 g. Bila dibandingkan dengan AKG, konsumsi protein pada ibu nifas sampel ini sudah mencapai 100%. Distribusi asupan protein berdasarkan

uji normalitas data menggunakan Kolmogorov-Smirnov dengan kriteria p>0,05 untuk data berdistribusi normal menunjukkan bahwa distribusi asupan protein nabati dari makanan dari seluruh sampel adalah normal, sedangkan distribusi asupan protein total tidak berdistribusi normal, perlu dilakukan transformasi data. Tabel 12 Rata-rata asupan energi dan zat gizi lainnya menurut kelompok

perlakuan pada awal perlakuan Variabel Kelompok P KAMA (n=29) KAMO (n=29) KOMA (n=28) KOMO (n=28) Energi (kkal) 2351±419 2509±357 2469±467 2423±504 0,56 Protein hewani (g) 21,1±10,7 27,6±21,7 21±10,7 20,8±10,6 0,20 Protein nabati (g) 45±14,8 50,3±11,3 47,8±14,5 45±14,9 0,42 Protein total (g) 66,1±15,1 77,9±25,9 68,8±16 65,8±18,7 0,07 Lemak (g) 32±14,3 42,5±20,4 34,6±20 38,4±21,1 0,2 Besi hewani (mg) 3,4±2,2 4,2±4,3 3,2±3,6 3,1±2 0,6 Besi nabati (mg) 25,4±14,1 28,4±15,3 23,7±11,2 33,3±18,3 0,09 Besi total (mg) 28,8±14,6 32,6±16,1 27±10,5 36,4±17,7 0,09

Lemak merupakan faktor yang membantu penyerapan vitamin A terutama sumber karoten. Asupan lemak dari seluruh bahan makanan mendapatkan nilai rata-rata sebesar 36,9±19,3 g dengan rentang antara 4,7-105 g. Asupan lemak dari makanan hewani sebesar 13,6±10 g dengan rentang antara 0-63,2 dan asupan lemak dari makanan nabati sebesar 23,4±14 g dengan rentang 0,5-62,7 g (Tabel 12). Distribusi asupan lemak berdasarkan uji normalitas data menggunakan Kolmogorov-Smirnov dengan kriteria p>0,05 untuk data berdistribusi normal menunjukkan bahwa distribusi asupan lemak dari seluruh sampel adalah tidak normal, sehingga perlu dilakukan transformasi data.

Faktor lain yang juga mempengaruhi absorpsi vitamin A adalah asupan zat besi baik itu yang berasal dari makanan hewani yang mempunyai nilai serapan tinggi maupun dari makanan nabati yang mempunyai nilai serapan rendah. Asupan rata-rata zat besi makanan hewani adalah sebesar 3,5±3,2 mg dengan kisaran antara 0-21,4 mg, jumlah rata-rata asupan ini masih rendah. Asupan rata-

rata zat besi makanan nabati sebesar 27,7±15,1 mg dengan kisaran antara 4,7-74,3 mg. Total asupan zat besi mendapatkan nilai sebesar 31,1±15,2 mg dengan kisaran 7,7-78,3 mg (Tabel 12). Bila dibandingkan dengan AKG, ibu nifas sudah mencapai 97,4%, jumlah ini secara keseluruhan cukup besar, namun proporsi asupan dari bahan makanan hewani masih rendah. Hasil uji normalitas disribusi menggunakan Kolmogorov-Smirnov dengan kriteria p>0,05 menunjukkan tidak normal.

Asupan Vitamin A

Asupan vitamin A dari makanan pada seluruh sampel dinilai dari pencatatan konsumsi makan pada saat pelaksanaan intervensi berjalan, yaitu minggu ke 6 dan minggu ke 8. Hasil perhitungan asupan vitamin A dibagi berdasarkan sumber makanan yaitu sumber makanan hewani dan yang berasal dari non- hewani (sayuran, bua h dan bahan nabati lain). Untuk perhitungan asupan vitamin A didasarkan pada unit satuan Retinol Equivalent (RE). Perhitungan selanjutnya didasarkan pada jumlah total konsumsi asupan dari kedua bahan makanan tersebut. Untuk kelompok yang mendapat minyak yang difortifikasi vitamin A, asupan vitamin A dari minyak ditambahkan pada total asupan.

Distribusi asupan vitamin A berdasarkan uji normalitas data menggunakan Kolmogorov-Smirnov dengan kriteria p>0,05 untuk data berdistribusi normal menunjukkan bahwa distribusi asupan vitamin A dari makanan dari seluruh sampel adalah tidak normal (p<0,05) dilakukan transformasi menjadi bentuk log. Setelah dilakukan transformasi hasil uji normalitas data menunjukkan p>0,05, normal (Lampiran 6). Uji homogenitas data menggunakan Lavene, dengan menggunakan kriteria p>0,05, berarti homogen antar kelompok. Data yang telah ditransformasikan tersebut digunakan untuk menguji kemaknaan pada uji ANOVA dan post-hoc LSD, dan di dalam penyajian berikut ini menggunakan data asupan vitamin A faktual (Tabel 13).

Konsumsi vitamin A dari bahan pangan pada masa pemberian intervensi, rata-rata pada seluruh kelompok adalah 503±307 RE dengan selang antara 21- 1759 RE. Asupan dari bahan pangan hewani pada seluruh kelompok adalah 93±131 RE dengan selang antara 0 - 471 RE. Ditemukan nilai 0 karena ada 5 orang sampel yang saat diwawancara konsumsi makanan tidak mengkonsumsi

bahan pangan hewani. Asupan dari bahan pangan nabati mendapatkan nilai rata- rata sebesar 410±301 RE dengan selang antara 13-1701 RE. Rata-rata asupan vitamin A diantara keempat kelompok pelakuan memiliki perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05) (Tabel 13).

Tabel 13 Rata-rata asupan vitamin A dan tingkat kecukupannya menurut kelompok perlakuan selama masa intervensi

Variabel Kelompok (RE) P KAMA (n=29) KAMO (n=29) KOMA (n=28) KOMO (n=28) Vitamin A (RE) 86±73 112±118 88±90 86±80 0,642 Karoten (RE) 447±375 430±314 356±247 405±258 0,697 Asupan vitamin A 533±360 542 ±338 444±241 491±282 0,930 % AKG 63±42 64±40 52±28 58±33 0,620

Minyak goreng (RE) 793±285 0 717±255 0

Total asupan (RE) 1326±461 542 ±338 1161±376 491±282 0,000*

%AKG total 156±54 64±40 137±44 58±33 0,000*

Hasil analisis asupan vitamin A dari bahan pangan dibandingkan dengan AKG menunjukkan rata-rata sebesar 59±36% dengan selang 2 - 60%. Untuk lebih jelasnya gambaran asupan vitamin A terhadap pemenuhan AKG yang dianjurkan disajikan pada Gambar 8

63 64 850 491 444 542 533 52 58 100 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900

KAMA KAMO KOMA KOMO AKG

Asupan vitamin A (RE)

Asupan (RE) %AKG

Hasil analisis food frequency mendapatkan sebesar 96,5% dari ibu nifas tidak mengkonsumsi hati sapi, hampir sama dengan yang tidak mengkonsumsi hati ayam ya itu 78%. Ibu nifas yang tidak mengkonsumsi telur ditemukan sebanyak 40%. Wortel dikonsumsi 1-2 kali seminggu oleh sekitar 29% ibu nifas. Sayuran daun katuk, selain sumber karoten juga bermanfaat untuk meningkatkan jumlah ASI, namun sebanyak 44% ibu tidak mengkonsumsi, daun singkong tidak dikonsumsi oleh sebanyak 38% ibu nifas. Sayuran yang sering dikonsumsi adalah bayam, dikonsumsi 3-5 kali seminggu oleh 33% ibu nifas. Dari hasil analisis tersebut menunjukkan masih rendahnya jumlah dan jenis sumber vitamin A yang dikonsumsi.

Kandungan vitamin A dalam minyak goreng yang difortifikasi adalah 25 RE/g, sedangkan kandungan vitamin A dalam minyak yang tidak difortifikasi 0 RE/g. Dengan memperhitungkan kerusakan vitamin A dalam pemasakan rata-rata 30%, maka asupan vitamin A dari minyak adalah jumlah rata-rata minyak yang dikonsumsi kali kandungan vitamin A dalam minyak. Hasil analisis kandungan vitamin A yang telah digunakan untuk satu-dua kali menggoreng mendapatkan nilai rata-rata sebesar 18,8 RE/g. Kapsul vitamin A yang diberikan kepada kelompok KAMA dan KOMA sebanyak 2 kapsul yang diberikan 2 hari berturut- turut dengan dosis 200.000 SI atau 60.000 RE. Secara teori kelebihan vitamin A akan disimpan dalam hati. Hati akan mengeluarkan cadangan vitamin A pada saat diperlukan. Menurut Norum (1992) selain kemampuan hati untuk menyimpan vitamin A juga memobilisasi retinol agar konsentrasi plasma retinol dalam darah mendekati pada 2 µmol/L. Jumlah vitamin A yang dikeluarkan oleh cadangan dalam hati tidak dapat diperhitungkan. Oleh karena itu perhitungan asupan vitamin A yang dapat dihitung yaitu yang berasal dari bahan makanan dan minyak goreng yang difortifikasi.

Hasil perhitungan total asupan vitamin A, asupan dari makanan mendapatkan nilai rata-rata sebesar 502±307 RE dan dengan selang nilai antara 21 – 1759 RE. Total asupan vitamin A diantara keempat kelompok pelakuan memiliki perbedaan yang bermakna (p<0,00) (Tabel 13) dimana kelompok KAMA dan KOMA me ndapat total asupan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok KAMO dan KOMO. Hal ini terkait dengan intervensi yang

diberikan kepada ibu pada kelompok KAMA dan KOMA berupa minyak yang difortifikasi vitamin A. Konsumsi asupan vitamin A dari minyak yang dikonsumsi oleh kedua kelompok perlakuan tersebut berkisar 202-1609 RE dengan rataan sebesar 768±253 RE.

Status Vitamin A

Status vitamin A dapat diketahui dengan menganalisis sampel darah maupun ASI. Pada penelitian ini dilakukan analisis pada ASI dengan menggunakan metode analisis yang dikembangkan oleh Tanumihardjo dan Penniston (2002). Prinsip dari analisis ini adalah sama dengan uji MRDR (The- Modified-relative-dose-respone) pada darah yang telah digunakan secara luas untuk menghitung cadangan yitamin A secara kualitatif di dalam organ hati manusia maupun hewan dengan status kesehatan defisien hingga normal. Di dalam pengujian, digunakan DRA (3,4-didehydroretinyl asetat) yang di dalam usus dihidrolisa menjadi DR (didehydroretinol) dan di dalam kilomikron dibentuk sebagai DRE (3,4-didehydroretinyl ester). DRE diambil oleh jaringan hati di dalam kilomikron remnant dan dihidrolisa menjadi DR. Jika seseorang memiliki cadangan vitamin A di hati dalam jumlah yang memadai maka DR akan disimpan sebagai DRE di dalam hati. Jika simpanan vitamin A di dalam hati rendah, DR akan saling bergabung dan terakumulasi sebagai apo-retinol binding protein (apo- RBP) yang akan disirkulasikan ke seluruh tubuh untuk menggantikan jaringan ekstra hepatik yang mengalami deplesi. Sampel ASI diambil setelah 6-7 jam setelah pemberian DRA dan rasio DR:R diketahui; DR:R disebut juga sebagai

Dokumen terkait