• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Penentuan Pola Tanam

Dalam dokumen HASIL PENELITIAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN (Halaman 118-125)

OPTIMASI POLA TANAM USAHATANI TUMPANGSARI SAYURAN DI KECAMATAN DUKUN KABUPATEN MAGELANG

HASIL DAN PEMBAHASAN Penentuan Pola Tanam

Terdapat 13 komoditas sayuran yang diusahakan di Kecamatan Dukun. Dari ketigabelas komoditas ini, rata-rata petani di Kecamatan Dukun melakukan tumpangsari sebanyak tiga hingga enam komoditas dalam satu lahan yang dimiliki. Komoditas yang ditumpangsarikanpun juga sangat beragam sehingga sangan sulit untuk di analisis secara rinci satu per satu pola tanam setiap musimnya. Hal ini menyebabkan sulitnya merumuskan pola tanam kedalam perumusan matematis. Sehingga, pola tanam yang ada dikelompokkan berdasarkan jumlah responden terbanyak yang menggunakan tumpangsari pada musim tanam I, II, dan III tersebut.

Setelah dikelompokkan, terdapat empat tumpangsari dominan yang diterapkan oleh petani di Kecamatan Dukun untuk setiap musimnya. Komoditas utama yang selalu ada dalam setiap tumpangsari adalah cabai keriting dan cabai rawit. Pada kenyataan di lapangan, satu petani bisa menerapkan lebih dari satu tumpangsari. Oleh karena itu, perhitungan didasarkan pada rerata penggunaan input juga keluaran output dalam nilai atau nominal per satu hektar lahan dengan batasan luas lahan yang dimiliki petani sebesar 0,273 hektar. Hal ini berfungsi untuk mencegah tumpang tindih variabel antara satu tumpangsari dengan tumpangsari lain. Setelah didapat pola yang sederhana untuk dianalisis menggunakan sofware WINQSB melalui pemrograman linear.

Tumpangsari A merupakan tumpangsari antara cabai keriting, cabai rawit, dan tomat. Tumpangsari B terdiri dari tumpangsari cabai keriting, cabai rawit, dan sawi. Tumpangsari

C merupakan tumpangsari antara cabai keriting, cabai rawit, dan buncis. Sedangkan tumpangsari D merupakan tumpangsari antara cabai keriting, cabai rawit, dan komoditas lain selain sawi atau buncis.

Analisis Primal

Analisis primal dimaksudkan untuk mengetahui pola tanam yang optimal untuk dijalankan serta mengetahui apakah penggunaan sumberdaya pada pola tanam terpilih telah optimal atau belum. Nilai keputusan yang bernilai lebih dari nol dan nilai biaya reduksi yang bernilai sama dengan nol menunjukkan bahwa pola tanam tersebut telah optimal. Pola tanam dengan nilai reduksi tidak sama dengan nol, disarankan untuk tidak dilakukan karena jika pola tanam tersebut tetap dilaksanakan, petani akan menanggung kerugian sebesar nilai yang tertera pada nila reduksi (reduced cost) untuk setiap aktivitas yang dipilih. Hasil analisis primal, dapat dilihat pada tabel 1 bagian lampiran.

Aktivitas Mengusahakan Tumpangsari a.

Hasil analisis primal pada pemrograman linear menunjukkan bahwa pola tanam untuk usahatani sayuran yang optimal pada musim tanam I, II, dan III yaitu dengan menerapkan tumpangsari A dengan luas lahan per musim tanam sebesar 0,279 hektar. Luas lahan untuk tiap musim tanam masih berada dalam rentang confi dence interval, sehingga solusi tersebut logis untuk dilakukan. Nilai confi dence interval untuk luas lahan adalah 0,224 hektar hingga 0,335 hektar. Terdapat sebanyak 43% usahatani yang telah menerapkan pola tanam A. Hal ini berarti bahwa pola tanam yang diterapkan di Kecamatan Dukun sudah cukup optimal mengingat sudah hampir separuh dari sampel menerapkan pola tanam A, yaitu tumpangsari antara cabai keriting, cabai rawit, dan tomat untuk setiap musimnya.

Tumpangsari A menyumbang pendapatan terbesar pada setiap musim tanamnya dalam luasan satu hektar lahan, yaitu sebesar Rp 229.277.000 pada musim tanam pertama, Rp 266.493.300 pada musim tanam kedua, dan Rp 602.389.800 untuk musim tanam ketiga. Biaya reduksi tumpangsari B, C, dan D pada musim tanam pertama secara berturut-urut sebesar Rp 29.230.930, Rp 47.716.190, dan Rp 12.226.160. Sedangkan untuk biaya reduksi pada musim tanam kedua tumpangsari B, C, dan D pada musim tanam kedua secara berturut-urut adalah Rp 16.450.550, Rp 49.899.730, dan Rp 13.171.030. tumpangsari B, C, dan D pada musim tanam ketiga secara berturut-urut adalah Rp 51.418.980, Rp 81.892.090, dan Rp 43.621.660. Penerimaan petani akan berkurang sebesar nilai reduksi jika menjalankan usahata tani menggunakan pola tanam selain tumpang sari A untuk musim tanam I, II, dan III.

Aktivitas Membeli Pupuk b.

Terdapat beranekaragam pupuk yang digunakan petani di Kecamatan Dukun untuk kegiatan usahatani sayuran yang dijalankan. Setiap usahatani menggunakan kombinasi jenis pupuk yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil analisis primal pemrograman linear untuk tumpangsari A, diketahui bahwa pembelian pupuk telah optimal dikarenakan biaya reduksi yang sebesar nol rupiah. Biaya pembelian pupuk yang harus dikeluarkan petani pada musim tanam pertama hingga musim tanam ketiga untuk tumpangsari A dengan luas lahan sebesar 0,279 hektar, secara berturut-urut adalah Rp 4.531.355, Rp 4.749.852, dan Rp 5.028.189.

Peningkatan biaya ini diakibatkan peningkatan pembelian pupuk pada tiap musimnya. Keadaan tanah di Kecamatan Dukun dirasa semakin terdegradasi sehingga kesuburannya semakin lama semakin menurun, sehingga petani terpaksa menambah kuantitas pupuk untuk lahannya agar dicapai produksi yang optimal.

Aktivitas Membeli Pestisida c.

Aktivitas membeli pestisida telah optimal untuk tumpangsari A dengan luasan lahan sebesar 0,279 hektar pada musim tanam I, II, dan III. Hal ini dikarenakan biaya reduksi dari pembelian pestisida yang sebesar nol. Secara berturut-urut, biaya pembelian pestisida untuk tumpangsari A pada musim satu hingga musim ketiga dengan luasan lahan 0,279 hektar adalah Rp 2.877.675, Rp 2.976.538, dan Rp 2.937.218.

Biaya pestisida tertinggi terjadi pada musim tanam kedua. Hal ini sesuai dengan keadaan nyata dilapangan. Menurut responden, serangan hama penyakit terjadi paling tinggi pada musim tanam kedua karena anomali cuaca. Pestisida yang biasa digunakan oleh petani di Kecamatan Dukun adalah jenis fungisida dan insektisida. Fungisida digunakan untuk melawan serangan patek pada cabai. Sedangkan insektisida biasanya digunakan untuk melawan serangga thrips.

Aktivitas Membeli Benih d.

Aktivitas membeli benih telah optimal untuk tumpangsari A dengan luasan lahan sebesar 0,279 hektar pada musim tanam I, II, dan III. Hal ini ditunjukkan dengan biaya reduksi yang sebesar nol. Biaya yang harus dikeluarkan petani untuk pola tanam A dengan luas lahan sebesar 0,279 hektar pada musim tanam pertama hingaa ketiga secara berturut- urut adalah Rp 952.233, Rp 1.217.278, dan Rp 910.702.

Biaya rerata untuk pembelian benih pada musim tanam kedua memiliki nominal yang paling tinggi dibandingkan dengan pembelian benih pada musim tanam lainnya. Hal ini dikarenakan ketika musim tanam kedua, saat terjadi anomali cuaca, petani terpaksa membeli banyak benih tambahan untuk menyulam tanaman yang tidak dapat tumbuh dengan baik atau busuk dan terkena hama penyakit pada saat usia tanaman masih muda.

Aktivitas Menyewa Tenaga Kerja e.

Dalam melakukan kegiatan usahatani sayuran, petani di Kecamatan Dukun memerlukan tambahan tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga. Hal ini dilakukan karena curahan tenaga kerja dalam keluarga tidak dapat memenuhi kebutuhan curahan tenaga keseluruhan yang dibutuhkan untuk melakukan usahatani sayuran khususnya usahatani dengan pola tanam A. Usahatani sayuran dengan pola tanam A, memerlukan lebih banyak curahan tenaga kerja mengingat ketiga komoditas tersebut, menurut petani, memerlukan perlakuan dan perawatan yang lebih intensif dibandingkan dengan komoditas lainnya.

Hasil analisis linear dari aktivitas menyewa tenaga kerja menunjukkan bahwa aktivitas tersebut masih belum optimal. Hal tersebut ditunjukkan dengan biaya reduksi yang tidak bernilai nol. Aktivitas menyewa tenaga menyebabkan kerugian sebesar Rp 40.000 untuk setiap curahan tenaga kerja dalam satuan hari orang kerja (HOK). Tenaga kerja luar keluarga, biasanya diperlukan untuk pengolahan tanah. Pengolahan tanah berupa pencangkulan, pemberian pupuk dasar dan pemasangan mulsa dirasa sulit dilakukan sendirian oleh petani dan keluarganya. Selain pengolahan tanah, biasanya petani akan menggunakan tenaga kerja luar keluarga dalam kegiatan pemanenan. Pemanenan harus dilakukan secepat mungkin sebelum pasar sayur mulai beroperai, sehingga penawaran harga produk lebih baik dari pedagang besar.

Aktivitas Membayar Biaya Lain-Lain f.

Terdapat satu biaya yang tidak dapat dilepaskan dari usahatani pada umumnya, yaitu biaya penyusutan alat pertanian, biaya irigasi, biaya selamatan, biaya perbaikan alat pertanian, dan biaya sewa lahan atau pajak lahan. Untuk usahatani sayuran, biaya lain-lain tak hanya terdiri dari biaya lain-lain pada usahatani umumnya. Biaya tersebut adalah biaya pembelian mulsa dan ajir.

Berdasarkan hasil analisis linear untuk aktivitas pembayaran biaya lain-lain untuk tumpangsari A, per musim tanam di Kecamatan Dukun telah optimal. Hal ini ditunjukkan dengan nilai biaya reduksi yang bernilai nol. Proporsi dari biaya lain-lain terbanyak digunakan untuk pembelian mulsa dan ajir.

Besar biaya yang harus dikeluarkan oleh petani untuk tumpangsari A pada musim tanam pertama hingga ketiga secara berturut-urut dengan luasan lahan sebesar 0,279 hektar adalah Rp 1.356.442, Rp 1.466.812, dan Rp 1.373.146.

Pendapatan Maksimal g.

Pendapatan usahatani sayuran merupakan hasil pengurangan antara penerimaan usahatani sayuran dengan biaya yang dikeluarkan petani untuk kegiatan produksi dalam usahatani sayuran. Pendapatan maksimal dapat diperoleh oleh petani jika melakukan aktivitas dalam solusi optimal pola tanam usahatani sayuran pada hasil analisis pemrograman linear.

Berdasarkan hasil analisis pemrograman linear, pendapatan maksimal yang didapatkan petani untuk luasan lahan sebesar 0,279 hektar dengan pola tanam A selama tiga musim tanam sebesar Rp 276.009.300. Sedangkan rerata pendapatan aktual yang didapatkan petani dengan pola tanam dan luas lahan yang sama dalam tiga musim tanam sebesar Rp 253.991.313. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendapatan dalam kondisi aktual yang diperoleh petani lebih rendah jika dibandingkan dengan pendapatan dalam kondisi optimal. Dengan demikian, pada kondisi aktual yang dilakukan petani dalam usahataninya masih belum optimal dan masih dapat ditingkatkan lagi.

Analisis Dual

Status sumberdaya dari suatu penyelesaian optimal menggunakan analisis pemrograman linear, dapat diketahui melalui analisis dual. Sumberdaya yang menjadi kendala dapat dilihat dari nilai slack/surplus-nya. Apabila nilai slack/surplus sebesar nol, maka sumberdaya tersebut habis digunakan dan status sumberdaya tersebut adalah langka. Penggunaan sumberdaya dengan optimal apabila nilai harga bayangan yang diperoleh sama dengan harga dari sumberdaya itu sendiri. Jika sumberdaya memiliki nilai harga bayangan terbesar dibandingkan dengan sumberdaya lain, maka sumberdaya tersebut menjadi kendala utama dalam pola tanam usahatani yang optimal.

Pada sumberdaya yang menjadi kendala dalam solusi optimal, penambahan satu satuan sumberdaya tersebut akan menyebabkan perubahan nilai tujuan sebesar nilai pada harga bayangannya. Dalam penelitian ini, fungsi kendala yang dianalisis adalah kendala luas lahan, modal pembelian pupuk, modal pembelian pestisida, modal pembelian benih, modal tenaga kerja, dan modal pembayaran biaya lain-lain. Hasil analisis dual, dapat dilihat pada tabel 2 bagian lampriran.

Kendala Luas Lahan a.

Luas lahan menjadi kendala dalam melakukan kegiatan usahatani. Hal ini dikarenakan luas lahan yang terbatas. Rata-rata luas lahan yang dikuasai oleh petani di Kecamatan Dukun tiap musim tanamnya adalah tetap, yaitu sebesar 0,279 hektar. Luas lahan sebesar 0,279 hektar merupakan pembatas atau Right Hand Side (RHS) dari fungsi kendala lahan.

Berdasarkan hasil analisis dual pada pemrograman linear, harga bayangan lahan pada musim tanam pertama hingga musim tanam ketiga secara berturut-urut adalah Rp 194.446.600, Rp 229.179.800, dan Rp 565.654.100. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sumberdaya lahan bersifat langka dan telah habis digunakan seluruhnya untuk kegiatan usahatani. Hal ini ditunjukkan dengan nilai surplus/slack yang bernilai nol. Harga banyangan

untuk fungsi kendala lahan memiliki nilai terbesar jika dibandingkan dengan fungsi kendala lain. Hal ini menunjukkan bahwa lahan merupakan kendala terbesar yang dihadapi petani dalam kegiatan usahataninya. Setiap penambahan satu hektar lahan, akan menambah pendapatan petani sebesar harga bayangannya.

Lahan merupakan sumberdaya istimewa yang tidak dapat bertambah jumlahnya. Sehingga upaya yang dapat dilakukan petani selain menyewa lahan untuk kegiatan usahataninya, adalah dengan pengaturan jarak tanam yang lebih baik lagi. Usahatani sayuran di Kecamatan Dukun memiliki luas guludan yang berbeda-beda antara satu usahatani dengan usahatani lainnya. Terdapat guludan yang sangat tinggi dan lebar, terdapat pula guludan yang rendah dan sempit.

Selain itu kebijakan yang melarang pengalihfungsian lahan pertanian menjadi non- pertanian juga akan sangat membantu. Hal ini perlu dilakukan mengingat lahan di Kecamatan Dukun merupakan lahan yang potensial untuk kegiatan usahatani khususnya sayuran. Penanaman sayuran di pekarangan menggunakan polybag atau benda-benda tak terpakai lainnya yang berbahan plastik juga dapat dijadikan solusi. Hal ini juga telah diterapkan oleh beberapa petani yang menanam sayuran menggunakan polybag di pekarangan rumah mereka. Penggunaan lahan kering seperti tegalan dan pembukaan hutan bisa menjadi solusi lain

Kendala Biaya Pupuk b.

Biaya untuk membeli pupuk menjadi kendala karena keterbatasan keuangan atau modal yang dimiliki petani untuk membeli pupuk guna kegiatan usahatani sayuran mereka. Besarnya biaya pupuk yang dikeluarkan oleh petani, harus lebih kecil atau sama dengan modal pembelian pupuk yang dimiliki petani untuk tiap musimnya. Hasil analisis dual untuk fungsi kendala pembelian pupuk, dapat dilihat melalui tabel berikut.

Hasil analisis dual pada kendala biaya pupuk menunjukkan bahwa modal yang dimiliki petani bersifat langka dan telah habis digunakan seluruhnya. Hal ini ditunjukkan dengan nilai slack/surplus yang bernilai sama dengan nol. Penambahan satu rupiah modal pembelian pupuk, akan meningkatkan pendapatan petani sebesar harga banyangan yang ada, yaitu sebesar satu rupiah pendapatan.

Kendala Biaya Pestisida c.

Keadaan keuangan petani untuk membayar biaya pembelian pestisida pada setiap musimnya memiliki keterbatasan. Oleh sebab itu, biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk pembelian pestisida harus lebih kecil atau sama dengan modal yang dimiliki petani per musim tanamnya agar dicapai usahatani yang optimal.

Berdasarkan hasil analisis dual pada pemrograman linear, dapat diketahui bahwa kendala modal pembelian pestisida yang dimiliki oleh petani di Kecamatan Dukun bersifat langka atau terbatas, dan telah habis digunakan seluruhnya untuk kegiatan usahatani. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai surplus/slack yang bernilai sama dengan dengan nol. Penambahan satu satuan modal pembelian pestisida akan meningkatkan fungsi tujuan sebesar satu satuan. Dengan kata lain, setiap penambahan satu rupiah modal pembelian pestisida, akan meningkatkan pendapatan petani sebesar nilai harga bayangan.

Kendala Biaya Benih d.

Modal pembelian benih yang dimiliki petani di Kecamatan Dukun tentu memiliki keterbatasan. Hal ini menyebabkan besaran biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk pembelian benih harus sama dengan atau lebih kecil dari modal yang dimiliki petani untuk tiap musimnya.

Berdasarkan hasil analisis, status dari modal pembelian benih bersifat langka. Dengan kata lain, modal yang dimiliki petani untuk pembelian benih terbatas dan telah digunakan seluruhnya. Hal ini ditunjukkan dengan nilai surplus/slack yang bernilai sama dengan nol. Harga banyangan yang bernilai satu, menunjukkan bahwa setiap penambahan modal pembelian benih sebesar satu rupiah, akan menaikkan pendapatan petani sebesar satu rupiah untuk setiap musim tanamnya. Jadi petani masih diizinkan untuk menambahkan modal pembelian benih jika memang masih memiliki dana tersebut.

Kendala Biaya Lain-lain e.

Sama seperti halnya kendala modal sebelumnya, modal yang dimiliki petani untuk pembayaran biaya lain-lain untuk usahatani sayurannya memiliki keterbatasan. Hal ini mengharuskan besaran biaya yang dibayarkan petani harus lebih kecil atau sama dengan modal yang dimiliki petani untuk membayar biaya lain-lain tersebut.

Berdasarkan hasil analisis dual pada fungsi kendala pembayaran biaya lian-lain, dapat diketahui bahwa modal yang dimiliki petani untuk pembayaran biaya lain-lain memiliki status langka yang bersifat terbatas. Hal tersebut dapat diketahui dengan nilai slack/surplus nya yang bernilai sama dengan nol. Setiap penambahan satu rupiah modal untuk pembayaran biaya lain- lain, akan meningkatkan pendapatan petani sebesar satu rupiah untuk setiap musim tanamnya.

Kendala Ketersediaan Tenaga Kerja f.

Selain menggunakan curahan tenaga kerja dalam keluarga, petani di Kecamatan Dukun juga menggunakan curahan tenaga kerja luar keluarga untuk kegiatan usahatani sayurannya. Hal tersebut dilakukan karena curahan tenaga kerja dalam keluarga yang dimiliki petani terbatas. Nilai RHS pada fungsi kendala ini, merupakan besarnya ketersediaan tenaga kerja dalam keluarga.

Berdasarkan hasil analisis dual pada fungsi kendala curahan tenaga kerja, dapat diketahui bahwa penggunaan tenaga kerja pada musim tanam pertama, kedua dan ketiga berlebihan atau dengan kata lain, status dari sumberdaya ini bersifat berlebihan. Kelebihan ketersediaan tenaga kerja pada musim tanam pertama adalah sebesar 129,49 HOK, sedangkan pada musim tanam kedua sebesar 129,14 HOK dan sebesar 121,07 HOK pada musim tanam ketiga. Nilai harga bayangan dari masing-masing curahan tenaga kerja per HOK-nya adalah sebesar nol. Hal ini berarti bahwa penambahan curahan tenaga kerja setiap satu HOK tidak memberikan tambahan pendapatan apapun atau tidak ada gunanya melakukan penambahan curahan tenaga kerja.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Pola tanam yang optimal adalah tumpangsari A untuk musim tanam I, II, dan III yang terdiri dari tumpangsri cabai keriting, cabai rawit, dan tomat. Terdapat 43% usahatani yang telah menerapkan pola tersebut.

Saran

Petani sebaiknya menerapkan pola tanam optimal, yaitu tumpangsari cabai keriting, 1.

cabai rawit, dan tomat untuk musim tanam I, II, dan III. Akan tetapi, pola tanam ini akan menyebabkan siklus hama dan penyakit yang tidak terputus. Maka, untuk mengendalikan penyebaran dan peningkatan serangan hama penyakit patek dan bulai, petani perlu memperhatikan sanitasi lahan, menggunakan benih resisten hama penyakit, menggunakan mulsa hitam perak, menggunakan jarak tanam anjuran, serta menggunakan tanaman

Sumberdaya lahan merupakan kendala terbesar dari usahatani sayuran di Kecamatan 2.

Dukun. Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui bahwa setiap penambahan satu hektar lahan, setiap usahatani memiliki peluang peningkatan pendapatan sebesar Rp 194.446.600 pada musim tanam I, Rp 229.179.800 pada musim tanam II, dan Rp 565.654.100 pada musim tanam III dengan menggunakan pola tanam optimal pada kondisi normal. Keterbatasan lahan dapat diatasi melalui pemanfaatan lahan tegalan, lahan pekarangan, dan juga perluasan lahan melalui pembukaan hutan milik daerah. Peraturan terkait pengurangan atau pelarangan alih fungsi lahan produktif pertanian juga sangat diperlukan dalam upayanya untuk mempertahankan luas lahan pertanian yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Kabupaten Magelang. 2016. Luas Panen dan Produksi Tanaman Sayur-sayuran menurut Kecamatan, 2011 – 2015. <https://magelangkab.bps.go.id/ linkTabelStatis/view/id/173>. Diakses pada 20 Septermber 2016.

Direktorat Jenderal Hortikultura. 2015. Rencana Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura 2015 – 2019. <http://hortikultura.pertanian.go.id/?page_id=195>. Diakses pada 20 September 2016

Hidayat, R. 2012. Maksimalisasi Pendapatan Usahatani Lidah Buaya (Aloe Vera) di Kecamatan Pontianak Utara. Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Rekayasa 1(2):18-26. Majeke, F., M. T. Mubvuma, K. Makaza, and J. Mutambara. 2013. Optimum Combination of

Crop Farm Activities: Application of a Linier Programming Model to a Rural Farmer in Zimbabwe. Greener Journal of Economics and Accountancy 2(2):58-61.

Masniati, D. S., dan U. Salawati. 2012. Optimasi Kombinasi Cabang Usahatani Tanaman Pangan untuk Memperoleh Pendapatan Maksimum di Wilayah Transmigrasi Km 38 Kelurahan Sei Gohong Kecamatan Bukit Batu Provinsi Kalimantan Tengah. Jurnal Agribisnis Pedesaan 2(2):144-158.

Oni, N. O., N. B. Osuntoki, A. Rahaman, dan Amao O. D. 2013. Pro t Maximization among Dry Season Vegetable Farmers. African Journal of Mathematics and Computer Science Research 6(4):72-76.

Sanusi, M. M., and A. O. Adesogan. 2014. Resource use Efficiency in Sweet Potato Production in Odeda Local Government Area, Ogun State, Nigeria. Nigerian Journal and Applied Science 22(4):111-117.

Soekartawi. 1995. Linear programming Teori dan Aplikasinya Khususnya dalam Bidang Pertanian. Rajawali Pers. Jakarta.

SISTEM PERTANAMAN CAMPURAN PADA LAHAN KERING

Dalam dokumen HASIL PENELITIAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN (Halaman 118-125)