• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. 5.

Taqman Universal MasterMix Primer WSSV-F Primer WSSV-R Probe WSSV RT-PCR grade water Total Volume 12,5 µl 1 µl 1 µl 1 µl 4,5 µl 20 µl

Masukkan 20 µl master mix ke dalam masing-masing well. Kemudian tambahkan 8 µl sampel DNA dan 8 µl control positif serta 8 µl RT-PCR grade water (ddH2O) untuk NTC (control negatif).

Siklus PCR

Tabel 2. Siklus PCR

No. Tahap Suhu Waktu Jumlah Siklus

1. 2. 3. Denaturasi Annealing Extensi 95oC 60oC 60oC 15 detik 45 detik 45 detik 40 siklus

3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Pengamatan Gejala Klinis

Gejala klinis pada lobster dilakukan setiap hari untuk melihat perubahan fisik setelah diinveksi dengan virus WSSV (White Spot p Syndrom Virus). Hasilnya menunjukkan aktifitas berenang lobster pada masing-masing perlakuan berbeda antara perlakuan I, II dan III. Pada perlakuan I tidak ada menunjuk kangejalan terinfeksi, tampak sehat, berenang normal. Pada perlakuan II lobster air tawar cenderung berenang kearah tepi secara bergerombol, pergerakan pasif, dan terlihat lemah, hal yang sama tampak seperti perlakuan II pada perlakuan III, tetapi Nefi Andriana Fajri dan Muhammad Ali

gejalanya terlihat setelah 18 hari pasca infeksi. Dari gambaran tersebut dapat diduga lobster air tawar terinfeksi. Hasil ini sesuai dengan penelitian Lio-Po et al (2001).

Hari ke 10, lobster air tawar pada perlakuan II sudah ada yang mati. Kematian total lobster pada perlakuan tersebut terjadi pada harike 13 pasca infeksi. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Wang et al (1998) yang menyatakan bahwa lobster jenis P. clarkia akan mati total dalam 18 hari setelah terinfeksi virus WSSV. Adanya perbedaan ini antara lain disebabkan oleh tingkat infeksi virus yang dialami oleh lobster air tawar yang ditentukan jumlah konsumsi udang terinfeksi lebih banyak.

Lobster pada perlakuan III (air aquariumnya dialirkan dari aquarium lobster yang diberikan pakan udang yang terinfeksi virus WSSV pada perlakuan II) mengalami kematian pada harike 15 pasca infeksi. Hasil ini memperkuat hasil penelitian Chang et al, (1996)bahwa virus WSSV mampu menyebar melalui kanibalisme maupun melalui air yang terkontaminasi oleh virus.

3.2. Deteksi Virus WSSV

Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah suatu reaksi berantai yang menggunakan enzim polimerase, yaitu enzim yang secara alami berada dalam tubuh mahluk hidup dan berperan menyalin materi genetic dalam proses replikasi sel. Deteksi virus WSSV menggunakan metode PCR konvensional pada penelitian ini dimaksudkan untuk deteksi awal apakah lobster-lobster tersebut mati karena terinfeksi virus WSSV.

I II III

Pada perlakuan I (Gambar 1) sampel lobster control yang diambildari BBI Aik Bukak Lombok Tengah tidak ditemukan adanya virus WSSV yang menginfeksi lobster air tawar, sedangkan hasil visualisasi pita DNA pada gel agarose perlakuan II menunjukkan adanya pita pada sampel lobter air tawar yang terinfeksi virus WSSV (Gambar 2, nomor 3 dan 4). Hal ini menunjukkan bahwa pada sampel tersebut terdeteksi adanya virus WSSV yang berarti sampel lobster positif terserang virus WSSV (Perlakuan II), dan pada perlakuan III (airnya dialiri dari perlakuan II) ditemukan adanya virus WSSV yang menginfeksi lobster air tawar pada perlakuan III sebanyak 1 ekor, baik pada pleopod maupun kaki renang.

Hasil uji PCR secara keseluruhan terhadap semua udang diduga terinfeksi virus WSSV. Lobster pada perlakuan I diuji sebanyak 3 sampel (n = 3). Hal ini disebabkan karena kondisi udang yang relative homogeny tidak menunjukkan gejala-gejala terserang virus WSSV. Namun lobster pada perlakuan II diperiksa 8 (n = 8) karena gejala klinis menunjukkan semua udang tersebut terinfeksi WSSV. Hasil uji menunjukan bahwa sebagian besar udang tersebut (61%) positif terserang virus WSSV. Gejala klinis lobster pada perlakuan III yang relative sehat menjadi alas an diambilnya hanya 2 (dua) sampel untuk uji PCR dan ternyata kedua sampel tersebut positif terinfeksi WSSV. Hasil uji dengan PCR ini selanjutnya dikonfirmasi kepastiannya dengan menggunakan Real Time PCR.

4. KESIMPULAN

Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penularan virus WSS pada lobster air tawar dapat berlangsung melalui konsumsi udang yang telah terinfeksi virus WSS dan melalui media air.

DAFTAR PUSTAKA

Chang, P.S., Chen, H.C., and Wang, Y.C. 1998. Detection of White Spot Syndrome Asociated Baculovirus in Eksperimentally Infected Wild Shrimp, crab and Lobsters by in Situ Hybridization Aquacult.164233-242.

Invitrogen. 2003. AFLP® Analysis System I, AFLP® Starter Primer Kit. Invitrogen, Carlsbad: i +18 hlm.

Kasornchandra J, Boonyaratpalin S, Itami T (1998) Detection of white-spot syndrome in cultured penaeid shrimp in Asia: microscopic observation and polymerase chain reaction. Aquaculture 164:243–251

Kiiyuki, C. 2003. Laboratory Manual of Food Microbiology for Ethiopian Health and Nutrition Reasearch Institute (Food Microbiology Laboratory).Unido Project: 28-33, 75-80

Koesharyaniisti, TatikMufidah, HambaliSupriyadi, HessyNovita , 2008, Infeksi Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) Pada Budidaya Udang Vaname (penaeus Vannamei) Di Jawa Timur.: 945-949

Lightner, D.V. 1996a.A Hand book of Shrimp Pathology and Diagnostic Procedures for Diseases of Cultured penaeid Shrimp. The World Aquaculture Society. Baton Rouge, Louisiana, 70803 USA.

Lightner, D.V. 1996b.Epizootiology, distribution and the impact on international trade of two penaeid shrimp viruses in the Americas. Revue Scientifiqueet Technique Office International des Epizooties 15: 579-601.

Lio-Po, G.D., Albright, L.I., Traxler, G.S. and Leano, E.M. 2001.Pathogenicity of The Epizooeic Ulcerative Syndrome (EUS)-Associated Rhabdovirus to Snakehead Ophicephalus Striatus. Fish Pathology 36, 57-66.

Pestana, E.A., S. Belak., A. Diallo., J.R. Crowther., G.J. Viljoen. 2010. Early Rapid and Sensitive Veterinary Moleculer Diagnostics – Real Time PCR Applications. Springer. Dordrecht Heidelberg, London New York

Pranawaty, R.N., Buwono, I.D., danLiviawaty, E. 2012.AplikasiPolymerase Chain Reaction (PCR) Konvensional dan Real Time PCR Untuk Deteksi White Spot Syndrome Virus Pada Kepiting.Jurnal Perikanan dan Kelautan. Vol. 3(4):61-74.

Prasetyo, A., 2009. Materi Asistensi Biomedik FK UNS. FK UNS. Semarang

Prijanto, Muljati. 1992. Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk Diagnosis Human Immunod eficiency Virus (HIV). http://www.pcr.htm. Diakses 1 Mei 2014.

Polanski, A. & M. Kimmel. 2007. Bioinformatics. Springer, Berlin: xvii + 376 hlm.

Sambrook, J. & D.W. Russell. 2001. Molecular Cloning: A Laboratory Manual. 3rd ed. CSHL Press, New York: xxvii + 18.

Tonsakun, F., Siwaporn, L., S. Rukpratarnporn, P. Chaivisuthangkura, W. Sithigornul, and P. Sithigorngul. 2006. Experimental Infection of Three Palaemonid Shrimps With White Wang, Y. G., M. Shariff, P.M. Sudha, P.S. SrinivasaRao, M.D. Hassan and L.T. Tan. 1998.

Managing white spot disease in shrimp, Info fish International.p : 30-36.

Wang, C. S., Y. J. Tsai, G. H. Kou and S. N. Chen. 1997. Detection of White Spot Syndrome Disease Virus Infection in Wild Caught Greasyback Shrimp, Metapenaeus Ensis (deHaan) in Taiwan. Fish Pathology, 32 (1): 35-41.

PRODUKSI LIMBAH TANAMAN AREN (Arenga pinnata) DAN POTENSINYA SEBAGAI PAKAN DI KABUPATEN LOMBOK BARAT

Ria Harmayani1*, Dian Oktaviana Said2

1,2Staff Pengajar Fakultas Peternakan Universitas Nahdlatun Wathan Mataram Jln. Kaktus 1-3 Mataram, Telp. 0370-641275 Fax: 0370-628133

*Email: [email protected]

Abstract

The research was conducted to know the waste production of palm’s flower and it’s chemical

composition (dry matter, minerals (ash), crude protein, ether extract, crude fiber, nitrogen free extract). Data were analysed by descriptive analysis, mean analysed for chemical composition.

Chemical composition of palm’s flower was conducted in Animal Nutrition Laboratory of

Animal Science, Mataram University and waste production in Batu Mekar-Lingsar-West

Lombok. Data concerning the availability of palm’s flower was estimated from the data of the amount of palm’s tree cultivated in one hectaare land and also from total land cultivated while palm’s tree in Lingsar district and eventually West Lombok regency from Indonesian State Forestry and chemical composition by proximat analysis. The result of this research are 1) the

palm’s tree cultivated of one hectaare land in West Lombok is ± 555,000 tree from total land

cultivated while palm’s tree is ± 212 Ha with palm’s flower product is 32,750 ton/ year, 2) Palm’s flower product potencially as feed because it’s chemical composition contain of

83.663% dry matter, 6.421% minerals, 11.923% crude protein, 2.675% ether extract, 18.705% crude fiber and 60.276% nitrogen free extract, 2) the chemical compotition of palm’s flower like as mill by rice product, 3). The palm’s flower more palatable caused the nutrition higher

than natural grass, the shape as pellet and the sweat aroma.

Keywords: chemical composition, feed, nutrition, palm’s flower, production,waste, west lombok

1. PENDAHULUAN

Aren adalah tanaman asli Asia Tropis yang potensial dalam menjaga ketahanan pangan dan mudah beradaptasi diberbagai agroklimat (Effendi, 2009; Ditjen Perkebunan, 2004) serta memiliki beragam fungsi. Fungsi ekologis dan konservasi pohon aren yaitu sebagai pengawet sumber daya alam terutama tanah, pencegah erosi/ longsor karena perakaran dangkal dan melebar, dan daun yang lebat serta batang yang terlapisi ijuk mampu menahan air hujan. Fungsi produksinya dapat menghasilkan berbagai komoditi bernilai ekonomi berupa ijuk, sagu, nira aren, gula, kolang kaling, dll, (Sunanto, 1993). Namun, hasil produksi pohon aren menghasilkan limbah yaitu kulit biji dalam produksi kolang kaling (hasil perkembangan bunga betina) dan bunga aren jantan (dipotong dalam produksi nira) dan tangkai dari setiap bunga jantan dideras selama 2-3 bulan (Sastrahidayat, dkk., 1991). Masih minimnya data mengenai tanaman aren dan limbah bunga aren (Gambar 1 dan 2), produksi dan potensinya sebagai pakan, sehingga penelitian ini perlu dilakukan.

Gambar 1. Limbah Bunga Aren Jantan Segar