• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengamatan umum bahan merupakan tahapan untuk melihat kondisi bahan sebelum proses pengujian bahan dilakukan sesuai perlakuan. Pengamatan umum bungkil inti sawit dan bungkil kelapa berdasarkan ukuran ayakan (Tabel 13) serta gambar produk hasil ayakan bungkil inti sawit dan bungkil kelapa (Gambar 8) menunjukkan perbedaan karakteristik fisik bahan pada masing-masing ayakan.

Tabel 13. Pengamatan Umum Bahan Berdasarkan Ukuran Ayakan Indikator

Pengamatan

Nomor mesh

Jenis Bahan

Bungkil Inti Sawit Bungkil Kelapa Warna 4-100 Coklat Coklat

Bau 4-100 Bungkil Inti Sawit Bungkil Kelapa

Bentuk 4 Bongkahan *)

8 Butiran Kasar Butiran Kasar 30 Butiran Halus Tepung Kasar 100 Tepung Halus Tepung Halus Tekstur 4 Kasar Beragam *)

8 Kasar Seragam Kasar seragam 30 Halus Seragam Halus Seragam 100 Sangat Halus Sangat Halus

*) tidak ada bahan bungkil kelapa yang lolos pada nomor mesh 4.

Gambar 8. Bentuk dan Warna Produk Hasil Ayakan Bungkil Inti Sawit (A) dan Bungkil Kelapa (B)

A A A A A A

22 Berdasarkan pengamatan umum, warna bungkil inti sawit lebih cenderung menampilkan warna coklat yang lebih pekat dibandingkan bungkil kelapa, kondisi ini merata untuk setiap ayakan. Bau pada bungkil inti sawit lebih harum bila dibandingkan bungkil kelapa.

Nomor ayakan 4 mengidentifikasi kondisi fisik bungkil inti sawit didominasi bongkahan dengan tekstur kasar beragam sedangkan pada bungkil kelapa tidak teridentifikasi karena bahan tidak terayak pada nomor ayakan tersebut. Nomor mesh 8 mengidentifikasi kondisi fisik bungkil inti sawit dan bungkil kelapa didominasi butiran kasar dengan tekstur kasar seragam. Nomor mesh 30 pada bungkil inti sawit dan bungkil kelapa memiliki persamaan dengan tekstur halus seragam sedangkan perbedaannya terletak pada bentuk bahan, bungkil inti sawit dominan dalam bentuk butiran halus sedangkan bungkil kelapa dominan dalam bentuk tepung kasar. Nomor mesh 50 memiliki kondisi yang hampir sama dengan nomor mesh 30. Nomor mesh 100 mengidentifikasikan kondisi bentuk dan tekstur yang sama pada bungkil inti sawit dan bungkil kelapa, kedua jenis bahan pada nomor mesh 100 memiliki bentuk tepung halus dan tekstur sangat halus.

Kandungan Zat Makanan Bahan Pakan

Kandungan zat makanan bungkil kelapa dan bungkil inti sawit sebelum dilakukan pengayakan (sieving) dapat dilihat pada Tabel 11. Menurut Chung dan Lee (1985), pengetahuan komposisi kimia perlu dilakukan karena akan mempengaruhi sifat fisik dan thermal butiran, pemindahan masa bahan, termasuk penyimpanan butiran, pengeringan, aerasi, pendinginan, dan pengolahan.

Tabel 11 menunjukkan bahwa bungkil inti sawit memiliki nilai Protein Kasar yang lebih rendah jika dibandingkan dengan bungkil kelapa. Protein Kasar yang kecil pada bungkil inti sawit disebabkan oleh banyaknya kontaminasi luar yang menyebabkan Protein Kasar menurun dan Serat Kasar meningkat. Serat Kasar yang cukup tinggi pada bungkil inti sawit mengindikasikan pemakaian bungkil inti sawit lebih rendah untuk ternak monogastrik. Nilai Gross Energi pada bungkil inti sawit dan bungkil kelapa yang berkisar antara 4505-4559 kal/g menjadikan pertimbangan bahan ini sebagai sumber energi dalam penyusunan ransum.

23

Rasio Produk Hasil Ayakan

Gambar 9 menunjukkan persentase produk hasil ayakan bungkil kelapa dan bungkil inti sawit. Persentase ini menampilkan distribusi bahan yang berada pada masing-masing nomor ayakan.

Gambar 9. Persentase Produk Hasil Ayakan Bungkil Inti Sawit dan Bungkil Kelapa

Jumlah produk hasil ayakan terendah pada bungkil inti sawit berada pada nomor mesh 100, yaitu sebesar 2,31 % dan tertinggi berada pada nomor mesh 30, yaitu sebesar 29,04 %. Hasil ini menunjukkan bahwa kohesifitas bungkil inti sawit yang cukup tinggi menjadi faktor utama yang menghambat produk hasil ayakan melewati celah pada ukuran mesh sebelumnya (nomor mesh 30 dan 50). Berbeda halnya dengan bungkil kelapa, persentase bahan terendah berada pada nomor mesh 4 yaitu sebesar 0% dan tertinggi berada pada nomor mesh 30 sebesar 35,89% yang jauh lebih tinggi dibandingkan bungkil inti sawit. Hasil ini disebabkan gaya kohesi (gaya partikel sejenis) pada bungkil kelapa lebih rendah dibandingkan bungkil inti sawit sehingga bahan lebih mudah terpisah dan bahan lebih mudah melewati celah pada masing-masing ukuran mesh.

Secara umum, produk bungkil inti sawit hasil ayakan berada pada nomor ayakan 8 sampai 50 sedangkan bungkil kelapa berada pada nomor ayakan 16 sampai 100. Hasil ini menunjukkan bahwa ukuran bahan lebih dominan berada pada nomor mesh tersebut. 8,13 16,13 18,63 29,04 25,74 2,31 0 2,6 22,56 35,89 27,03 11,92 0 5 10 15 20 25 30 35 40 4 8 16 30 50 100 P ers en ta se B a h a n ( %) Ayakan (mesh)

24

Sifat Fisik Bahan Kerapatan Tumpukan (Bulk Density)

Perlakuan ayakan, jenis bahan, dan interaksinya nyata (P<0,01) mempengaruhi kerapatan tumpukan. Semakin kecil ukuran diameter lubang ayakan semakin menurunkan (P<0,01) nilai kerapatan tumpukan. Bungkil inti sawit memiliki nilai kerapatan tumpukan yang nyata (P<0,01) lebih besar dibandingkan bungkil kelapa (Tabel 14).

Tabel 14. Rataan Kerapatan Tumpukan Bahan Pakan berdasarkan Ukuran Ayakan

Keterangan: Huruf besar membandingkan antara jenis bahan yang berbeda pada ayakan yang sama sedangkan huruf kecil membandingkan antara ayakan yang berbeda pada jenis bahan yang sama (P<0,01)

Nilai tertinggi kerapatan tumpukan berada pada nomor mesh 4, yaitu sebesar 802,33 kg/m3 dan terendah berada pada nomor mesh 50 dan 100, yaitu sebesar 380 ,00 dan 335,55 kg/m3, berbeda dengan interaksi nomor ayakan pada bungkil kelapa, nilai rataan kerapatan tumpukan tertinggi pada bungkil kelapa berada pada nomor mesh 8 dan 16, yaitu sebesar 472,50 dan 429,13 kg/m3 dan terendah berada pada nomor mesh 4. Hasil ini menunjukkan perbedaan nilai kerapatan tumpukan berdasar-kan ukuran ayaberdasar-kan yang aberdasar-kan menentuberdasar-kan karakteristik dalam pencampuran bahan. Tabel 14 menunjukkan nilai rataan kerapatan tumpukan bungkil inti sawit berdasarkan ayakan lebih beragam bila dibandingkan dengan bungkil kelapa. Hasil ini menunjukkan komponen bahan bungkil inti sawit lebih beragam jika dibandingkan dengan bungkil kelapa pada pengukuran kerapatan tumpukan.

Nomor Mesh (Faktor A)

Jenis Bahan (Faktor B ) Bungkil Inti Sawit Bungkil Kelapa

---kg/m3--- 4 802,33±29,27h - 8 660,00±25,98Bf 472,50±6,41Ac 16 527,33±28,02Bd 429,13±18,75Ac 30 462,00±12,12Bc 394,73±4,56Ab 50 380,00±38,74Aa 384,01±13,08Ab 100 335,33±8,74Ba 315,82±2,88Aa

25 Menurut Kolatac (1996), bahan dengan kerapatan tumpukan lebih besar dari 500 kg/m3 akan sulit mengalami pencampuran bahan karena bahan akan mudah terpisah karena gaya kohesi (gaya antara partikel sejenis) lebih rendah. Berdasarkan Tabel 13, bungkil inti sawit yang sulit mengalami pencampuran adalah bahan yang berada pada nomor mesh 4, 8 dan 16 dan untuk bungkil kelapa, seluruh produk hasil ayakan telah memenuhi standar dalam proses pencampuran bahan karena nilai kerapatan tumpukan berada di bawah 500 kg/m3. Nilai kerapatan tumpukan bungkil inti sawit dan bungkil kelapa pada nomor mesh 50 menunjukkan respon yang sama. Hasil ini menunjukkan bahwa massa bahan tiap satuan volumenya relatif sama pada kedua jenis bahan.

Hubungan bungkil inti sawit dan bungkil kelapa pada pengukuran kerapatan tumpukan berdasarkan nomor ayakan menampilkan persamaan dalam bentuk linier. Korelasi yang dicapai bungkil inti sawit yaitu sebesar 86,60% dengan persamaan y = -3,035x+596,6 dan korelasi yang dicapai bungkil kelapa yaitu sebesar 95,39% dengan persamaan y = -1,518x+460,7 (Gambar 10).

Gambar 10. Hubungan Kerapatan Tumpukan dengan Jenis Bahan berdasarkan Nomor Ayakan

Nilai korelasi bungkil inti sawit lebih rendah jika dibandingkan dengan bungkil kelapa pada pengukuran kerapatan tumpukan. Hasil ini menunjukkan hubungan nilai kerapatan tumpukan bungkil inti sawit pada masing-masing nomor ayakan lebih rendah jika dibandingkan dengan bungkil kelapa, hal ini disebabkan ukuran partikel pada bungkil inti sawit lebih beragam jika dibandingkan dengan bungkil kelapa. y = -3,035x + 596,6 R² = 0,756 y = -1,518x + 460,7 R² = 0,919 0 100 200 300 400 500 600 700 0 20 40 60 80 100 120 K er a pa ta n T um pu k a n (kg /m 3) Nomor Ayakan

Bungkil Inti Sawit Bungkil Kelapa

26

Kerapatan Pemadatan Tumpukan (Compacted Bulk Density)

Perlakuan ayakan, jenis bahan, dan interaksinya nyata (P<0,01) mempengaruhi kerapatan pemadatan tumpukan. Semakin kecil ukuran diameter lubang ayakan semakin menurunkan (P<0,01) nilai kerapatan pemadatan tumpukan. Bungkil inti sawit memiliki nilai kerapatan tumpukan yang nyata (P<0,01) lebih besar dibandingkan bungkil kelapa (Tabel 15).

Tabel 15. Rataan Kerapatan Pemadatan Tumpukan Bahan Pakan berdasarkan Ukuran Ayakan

Keterangan: Huruf besar membandingkan antara jenis bahan yang berbeda pada ayakan yang sama sedangkan huruf kecil membandingkan antara ayakan yang berbeda pada jenis bahan yang sama (P<0,01)

Nilai kerapatan pemadatan tumpukan bungkil inti sawit tertinggi berada pada nomor mesh 4 dan 8, yaitu sebesar 723,33 dan 696,67 kg/m3 dan terendah berada pada nomor mesh 50 dan 100 sebesar, yaitu 500,00 dan 493,33 kg/m3, berbeda dengan bungkil kelapa, nilai kerapatan pemadatan tumpukan bungkil kelapa tertinggi berada pada nomor mesh 8 dan 16 sebesar 508,53 dan 447,81 kg/m3 dan terendah berada pada nomor mesh 4. Hasil ini menunjukkan perbedaan nilai kerapatan pemadatan bahan berdasarkan ukuran ayakan yang akan menentukan karakteristik kapasitas penyimpanan bahan.

Tabel 15 menunjukkan nilai rataan kerapatan pemadatan tumpukan bungkil inti sawit lebih beragam dibandingkan dengan bungkil kelapa. Hasil ini menunjukkan komponen bahan pada pengukuran kerapatan pemadatan tumpukan pada bungkil inti sawit lebih beragam jika dibandingkan dengan bungkil kelapa.

Nomor Mesh (Faktor A)

Jenis Bahan (Faktor B )

Bungkil Inti Sawit Bungkil Kelapa ---kg/m3--- 4 723,33±28,87 d - 8 696,67±11,55Bd 508,53±7,39Ab 16 623,33±23,09Bc 447,81±5,83Ab 30 540,00±17,05Bb 428,61±5,34Aa 50 500,00±17,32Ba 413,81±4,94Aa 100 493,33±15,28Ba 392,26±7,69Aa

27 Berdasarkan Tabel 15, seluruh produk hasil ayakan berdasarkan nomor mesh pada bungkil inti sawit lebih sedikit membutuhkan luas tempat penyimpanan jika dibandingkan dengan produk hasil ayakan pada bungkil inti sawit. Hasil ini dipengaruhi oleh distribusi ukuran partikel pada setiap ayakan. Selain itu, kadar lemak yang tinggi pada bungkil inti sawit cenderung menyebabkan bungkil inti sawit lebih kohesif dibandingkan bungkil kelapa sehingga massa bahan cenderung lebih sedikit menempati ruang dalam setiap satuan volumenya.

Hubungan bungkil inti sawit dan bungkil kelapa pada pengukuran kerapatan pemadatan tumpukan berdasarkan nomor ayakan menampilkan persamaan dalam bentuk linier. Korelasi yang dicapai bungkil inti sawit yaitu sebesar 80,60% dengan persamaan y = -1,913x+648,4 dan korelasi yang dicapai bungkil kelapa yaitu sebesar 82,46% dengan persamaan y = - 0,994x+478,1 (Gambar 11).

Gambar 11. Hubungan Kerapatan Pemadatan Tumpukan dengan Jenis Bahan ber-

dasarkan Nomor Ayakan

Nilai korelasi bungkil kelapa lebih tinggi jika dibandingkan dengan bungkil inti sawit pada pengukuran kerapatan pemadatan tumpukan. Hasil ini menunjukkan nilai kerapatan pemadatan tumpukan bungkil kelapa pada masing-masing nomor ayakan lebih tinggi jika dibandingkan dengan bungkil inti sawit, hal ini disebabkan keseragaman ukuran bungkil kelapa lebih tinggi jika dibandingkan dengan bungkil inti sawit. y = -1,913x + 648,4 R² = 0,649 y = -0,994x + 478,1 R² = 0,681 0 100 200 300 400 500 600 700 800 0 20 40 60 80 100 120 K er ap at an P em ad at an T um puk a n ( k g /m 3) Nomor Ayakan

Bungkil Inti Sawit Bungkil Kelapa

28

Berat Jenis (Spesific Bulk Density)

Perlakuan ayakan, jenis bahan, dan interaksinya nyata (P<0,01) mempengaruhi berat jenis. Semakin kecil ukuran diameter lubang ayakan semakin menurunkan (P<0,01) nilai berat jenis bahan. Bungkil inti sawit memiliki nilai berat jenis yang nyata (P<0,01) lebih besar dibandingkan bungkil kelapa pada nomor mesh 4,8,16,30 dan 50 sedangkan bungkil kelapa memiliki berat jenis yang nyata (P<0,01) lebih besar dibandingkan bungkil inti sawit pada nomor mesh 100 (Tabel 16).

Tabel 16. Rataan Berat Jenis Bahan Pakan berdasarkan Ukuran Ayakan

Keterangan: Huruf besar membandingkan antara jenis bahan yang berbeda pada ayakan yang sama sedangkan huruf kecil membandingkan antara ayakan yang berbeda pada jenis bahan yang sama (P<0.01)

Nilai berat jenis bungkil inti sawit tertinggi berada pada nomor mesh 8, yaitu sebesar 1403,33 kg/m3 dan terendah berada pada nomor mesh 100, yaitu sebesar 440,00 kg/m3, sedangkan nilai berat jenis bungkil kelapa tertinggi berada pada nomor mesh 8 sebesar 829,33 kg/m3 dan terendah berada pada nomor mesh 4. Hasil ini menunjukkan perbedaan nilai berat jenis bahan berdasarkan ukuran ayakan yang akan menentukan karakteristik dalam penakaran bahan secara otomatis pada industri pakan.

Tabel 16 menunjukkan nilai berat jenis bungkil inti sawit lebih tinggi jika dibandingkan dengan bungkil kelapa. Hasil ini menunjukkan komponen bahan bungkil inti sawit pada pengukuran berat jenis lebih beragam jika dibandingkan dengan bungkil kelapa.

Nomor Mesh (Faktor A)

Jenis Bahan (Faktor B ) Bungkil Inti Sawit Bungkil Kelapa

---kg/m3--- 4 1403,33±41,63 p - 8 1410,00±36,06Bq 829,33±58,73Af 16 1236,67±60,28Bn 731,33±45,08Ae 30 886,67±15,28Bh 706,33±85,98Ae 50 646,67±41,63Be 632,00±11,14Ac 100 440,00±34,64Aa 508,33±36,30Ba

29 Berdasarkan Tabel 16, berat jenis yang tinggi menunjukkan perbedaan massa per satuan volumenya lebih besar dan membutuhkan ketelitian lebih rinci dalam proses penakaran otomatis. Hasil ini sesuai dengan pendapat Khalil (1999) yang menyatakan partikel dengan kohesifitas yang tinggi pada bungkil menyebabkan bahan lebih mudah menempel satu sama lain, sehingga rongga antar partikel lebih kecil sehingga berat jenis meningkat. Nilai berat jenis yang tinggi mencirikan nilai kerapatan tumpukan dan kerapatan pemadatan tumpukan yang tinggi.

Hubungan bungkil inti sawit dan bungkil kelapa pada pengukuran berat jenis berdasarkan nomor ayakan menampilkan persamaan dalam bentuk linier. Korelasi yang dicapai bungkil inti sawit yaitu sebesar 92,19% dengan persamaan y = -10,09x+1335 dan korelasi yang dicapai bungkil kelapa yaitu sebesar 96,95% dengan persamaan y = -3,160x+810,1 (Gambar 12).

Gambar 12. Hubungan Berat Jenis dengan Jenis Bahan berdasarkan Nomor Ayakan

Nilai korelasi bungkil kelapa lebih tinggi jika dibandingkan dengan bungkil inti sawit pada pengukuran berat jenis. Hasil ini menunjukkan nilai berat jenis bungkil kelapa lebih tinggi jika dibandingkan dengan bungkil inti sawit, hal ini disebabkan kohesifitas bahan lebih tinggi pada bungkil inti sawit jika dibandingkan dengan bungkil kelapa.

Sudut Tumpukan (Angle of Respose)

Perlakuan ayakan, jenis bahan, dan interaksinya nyata (P<0,01) mempengaruhi sudut tumpukan. Semakin kecil ukuran diameter lubang ayakan semakin meningkatkan (P<0,01) nilai sudut tumpukan bahan. Bungkil inti sawit memiliki nilai sudut tumpukan yang nyata (P<0,01) lebih besar dibandingkan bungkil kelapa berada pada nomor mesh 50 dan 100 sedangkan bungkil kelapa

y = -10,09x + 1335. R² = 0,850 y = -3,160x + 810,1 R² = 0,939 0 500 1000 1500 0 20 40 60 80 100 120 B era t J en is ( k g /m 3) Nomor Ayakan

Bungkil Inti Sawit Bungkil Kelapa

30 memiliki nilai sudut tumpukan yang nyata (P<0,01) lebih besar dibandingkan bungkil inti sawit berada pada nomor mesh 8 (Tabel 17).

Tabel 17. Rataan Sudut Tumpukan Bahan Pakan berdasarkan Ukuran Ayakan

Keterangan : Huruf besar membandingkan antara jenis bahan berbeda pada ayakan yang sama sedangkan huruf kecil membandingkan antara ayakan yang berbeda pada jenis bahan yang sama (P<0.01)

Nilai rataan sudut tumpukan bungkil inti sawit tertinggi berada pada nomor mesh 100, yaitu sebesar 43,19° dan terendah berada pada nomor mesh 4, yaitu sebesar 12,67° sama halnya dengan bungkil kelapa, nilai tertinggi berada pada nomor mesh 100, yaitu sebesar 43,19° dan terendah berada pada nomor mesh 4. Hasil ini menunjukkan perbedaan nilai sudut tumpukan berdasarkan ukuran ayakan akan menentukan karakteristik aliran bahan dalam industri pakan.

Tabel 17 menunjukkan nilai rataan sudut tumpukan bungkil kelapa lebih beragam dibandingkan dengan bungkil inti sawit. Hasil ini menunjukkan komponen bahan pada pengukuran sudut tumpukan berdasarkan ukuran ayakan pada bungkil inti sawit lebih beragam jika dibandingkan dengan bungkil kelapa.

Berdasarkan Tabel 17, nilai sudut tumpukan yang tinggi akan mempersulit proses produksi karena aliran bahan dalam bin akan lambat sehingga sering menyumbat silo. Bahan dengan sudut tumpukan yang tinggi cenderung terkonsentrasi di tengah sedangkan bahan dengan sudut tumpukan yang rendah cenderung mudah mengalir. Berdasarkan kriteria sudut tumpukan menurut Fasina dan Sokhansanj (1993), bungkil inti sawit dan bungkil kelapa masih tergolong kriteria

Nomor Mesh (Faktor A)

Jenis Bahan (Faktor B ) Bungkil Inti Sawit Bungkil Kelapa

---(°)--- 4 12,67±1,44 a - 8 18,15±3,39Ab 22,79±1,05Ba 16 25,77±1,07Ac 26,65±2,74Ab 30 28,50±1,12Ad 26,84±1,59Ab 50 37,47±2,04Be 28,20±0,61Ab 100 43,19±2,90Be 38,49±6,12Ac

31 bahan yang dapat mudah mengalir yang memiliki sudut tumpukan berkisar antara (12°-45°).

Hubungan bungkil inti sawit dan bungkil kelapa pada pengukuran berat jenis berdasarkan nomor ayakan menampilkan persamaan dalam bentuk linier. Korelasi yang dicapai bungkil inti sawit yaitu sebesar 94,33% dengan persamaan y = -0,25x+19,81 dan korelasi yang dicapai bungkil kelapa yaitu sebesar 94,47% dengan persamaan y = -0,159x+21,49 (Gambar 13).

Gambar 13. Hubungan Sudut Tumpukan dengan Jenis Bahan berdasarkan Nomor

Ayak Ayakan

Nilai korelasi bungkil kelapa lebih tinggi jika dibandingkan dengan bungkil inti sawit pada pengukuran sudut tumpukan. Hasil ini menunjukkan hubungan sudut tumpukan dengan nomor ayakan pada bungkil kelapa lebih tinggi jika dibandingkan dengan bungkil inti sawit. Menurut Henderson dan Perry (1976) dalam penelitiannya yang menyatakan, sudut tumpukan yang tinggi akan cenderung mempengaruhi kesulitan pengangkutan bahan dan menimbulkan mekanisme industri yang tidak efisien. Bahan dengan sudut tumpukan yang tinggi akan membutuhkan tempat penyimpanan yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan bahan dengan sudut tumpukan yang lebih rendah.

Daya Ambang (Floating Rate)

Perlakuan ayakan, jenis bahan, dan interaksinya nyata (P<0,01) mempengaruhi daya ambang. Semakin kecil ukuran diameter lubang ayakan semakin meningkatkan (P<0,01) nilai daya ambang bahan (Tabel 18).

y = 0,254x + 19,81 R² = 0,894 y = 0,159x + 21,49 R² = 0,951 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 0 20 40 60 80 100 120 Sudut T u m p u k a n ( ) Nomor Ayakan

Bungkil Inti Sawit Bungkil Kelapa

32 Tabel 18. Rataan Daya Ambang Bahan Pakan Berdasarkan Ukuran Ayakan

Keterangan : Huruf besar membandingkan antara jenis bahan yang berbeda pada ayakan yang sama sedangkan huruf kecil membandingkan antara ayakan yang berbeda pada jenis bahan yang sama (P<0,01)

Nilai daya ambang bungkil inti sawit tertinggi berada pada nomor mesh 50 dan 100 sebesar 1,81 dan 1,79 m/s dan terendah berada pada nomor mesh 4 dan 8 sebesar 5,34 dan 4,09 m/s sedangkan pada bungkil kelapa nilai daya ambang tertinggi berada pada nomor mesh 100 sebesar 1,51 m/s dan terendah masing-masing berada pada nomor mesh 8, 16, 30 dan 50 sebesar 3,26; 1,89; 1,94 dan 1,68 m/s. Hasil ini menunjukkan perbedaan nilai daya ambang berdasarkan ukuran ayakan yang akan menentukan karakteristik dalam menentukan pengangkutan bahan dalam industri pakan.

Tabel 18 menunjukkan interaksi antar nomor ayakan terhadap rataan pengukuran daya ambang. Nilai rataan daya ambang bungkil inti sawit lebih beragam dibandingkan bungkil kelapa. Hasil ini menunjukkan komponen bahan pada pengukuran daya ambang bungkil inti sawit lebih beragam jika dibandingkan dengan bungkil kelapa.

Berdasarkan Tabel 18, nilai daya ambang bungkil kelapa lebih besar jika dibandingkan dengan bungkil inti sawit. Daya ambang dikatakan besar bila semakin pendek jarak yang dicapai dalam satu menit. Nilai daya ambang bungkil kelapa sama dengan nilai daya ambang bungkil inti sawit pada nomor mesh 30, 50, dan 100. Hasil ini dipengaruhi bobot partikel bungkil inti sawit lebih relatif sama untuk tiap satuan volumenya.

Nomor Mesh (Faktor A)

Jenis Bahan (Faktor B ) Bungkil Inti Sawit Bungkil Kelapa

---m/s--- 4 5,34±0,39 c - 8 4,09±0,86Bc 3,26±1,66Ab 16 2,49±0,64Bb 1,89±0,30Ab 30 2,22±0,46Ab 1,94±0,12Ab 50 1,81±0,15Aa 1,68±0,08Ab 100 1,79±0,47Aa 1,51±0,06Aa

33 Hubungan bungkil inti sawit dan bungkil kelapa pada pengukuran daya ambang berdasarkan nomor ayakan menampilkan persamaan dalam bentuk linier. Korelasi yang dicapai bungkil inti sawit yaitu sebesar 69,28% dengan persamaan y = -0,018x+3,215 dan korelasi yang dicapai bungkil kelapa yaitu sebesar 68,55% dengan persamaan y = -0,013x+2,584 (Gambar 14).

Gambar 14. Hubungan Daya Ambang dengan Jenis Bahan berdasarkan Nomor

Ayaka Ayakan

Nilai korelasi bungkil inti sawit lebih tinggi jika dibandingkan dengan bungkil kelapa pada pengukuran daya ambang. Hasil ini menunjukkan hubungan daya ambang dengan nomor ayakan lebih tinggi pada bungkil inti sawit bila dibandingkan dengan bungkil kelapa, hal ini disebabkan bobot bahan tiap satuan volume pada bungkil inti sawit lebih besar sehingga kecepatan jatuh bahan lebih stabil sedangkan bobot bahan tiap satuan volume pada bungkil kelapa lebih kecil sehingga keragaman jatuh bahan lebih tinggi.

Kelarutan Total (Total Solubility)

Perlakuan ayakan, jenis bahan, dan interaksinya nyata (P<0,01) mempengaruhi kelarutan total. Semakin kecil ukuran diameter lubang ayakan semakin meningkatkan (P<0,01) nilai kelarutan total bungkil inti sawit dan menurunkan (P<0,01) kelarutan total bungkil kelapa. Bungkil kelapa memiliki nilai kelarutan total yang nyata (P<0,01) lebih besar dibandingkan bungkil inti sawit (Tabel 19). y = -0,018x + 3,215 R² = 0,489 y = -0,013x + 2,584 R² = 0,469 0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 3,50 4,00 4,50 0 20 40 60 80 100 120 D aya A m b an g ( m/ s) Nomor Ayakan

Bungkil Inti Sawit Bungkil Kelapa

34 Tabel 19. Rataan Kelarutan Total Bahan Pakan berdasarkan Ukuran Ayakan

Nomor Mesh (Faktor A)

Jenis Bahan (Faktor B )

Bungkil Inti Sawit Bungkil Kelapa ---%--- 4 4,31±0,23 a - 8 4,89±0,19Aa 10,58±0,34Bc 16 5,69±0,17Ab 9,04±0,19Bb 30 5,72±0,09Ab 8,52±0,39Bb 50 6,08±0,10Ab 7,57±0,66Ba 100 6,39±0,16Ab 7,47±0,12Ba

Keterangan: Huruf besar membandingkan antara jenis bahan yang berbeda pada ayakan yang sama sedangkan huruf kecil membandingkan antara ayakan yang berbeda pada jenis bahan yang sama (P<0.01)

Nilai kelarutan total bungkil inti sawit tertinggi masing-masing berada pada nomor mesh 16, 30, 50 dan 100, yaitu sebesar 5,69; 5,72; 6,08 dan 6,39 % dan terendah berada pada nomor mesh 4 dan 8, yaitu sebesar 4,31 dan 4,89 %. Berbeda dengan bungkil kelapa, nilai kelarutan total tertinggi berada pada nomor mesh 8 sebesar 10,58% dan terendah berada pada nomor mesh 4. Hasil ini menunjukkan perbedaan nilai kelarutan total berdasarkan ukuran ayakan yang akan menentukan karakteristik dalam menentukan kecernaan bahan.

Tabel 19 menunjukkan kelarutan total bungkil inti sawit lebih seragam dibandingkan bungkil kelapa. Hasil ini menunjukkan bahwa komponen bahan terlarut pada bungkil inti sawit lebih seragam jika dibandingkan dengan bungkil kelapa.

Berdasarkan Tabel 18, nilai kelarutan total bungkil inti sawit lebih kecil jika dibandingkan dengan bungkil kelapa. Hasil ini dipengaruhi kontaminasi bungkil inti sawit oleh lapisan luar (endokaprium) inti sawit. Semakin rendah kontaminasi akan meningkatkan kelarutan total bahan. Tinggi rendahnya nilai kelarutan total tidak hanya dipengaruhi oleh tinggi rendahnya komponen tidak larut dalam bahan pakan tersebut dan kontaminasi luar pada proses pengolahan pakan maupun pemalsuan bahan. Kelarutan total bahan (bungkil inti sawit dan bungkil kelapa) dipengaruhi juga oleh komponen kimia bahan. Semakin tinggi kandungan polisakarida bahan

35 khususnya polisakarida non pati maka semakin rendah kelarutan bahan dalam air, hal ini disebabkan polisakarida non pati sulit mengalami hidrolisa dalam air. Menurut Naibaho (1990), bahan dengan kelarutan total yang lebih tinggi bahan tersebut akan tinggi kecernaannya.

Hubungan bungkil inti sawit dan bungkil kelapa pada pengukuran kelarutan total berdasarkan nomor ayakan (8 sampai 100) menampilkan persamaan dalam bentuk linier. Korelasi yang dicapai bungkil inti sawit yaitu sebesar 85,44% dengan persamaan y = 0,013x+5,217 dan korelasi yang dicapai bungkil kelapa yaitu sebesar 80,62% dengan persamaan y = - 0,028x+9,780 (Gambar 15).

Gambar 15. Hubungan Kelarutan Total dengan Jenis Bahan berdasarkan Nomor

Ayak Ayakan

Nilai korelasi bungkil inti sawit lebih tinggi jika dibandingkan dengan bungkil kelapa pada pengukuran kelarutan total. Hasil ini menunjukkan hubungan kelarutan total dengan nomor ayakan pada bungkil inti sawit lebih tinggi jika dibandingkan dengan bungkil kelapa, hal ini disebabkan komponen bahan terlarut pada bungkil inti sawit lebih seragam jika dibandingkan dengan bungkil kelapa.

Derajad Keasaman (pH)

Perlakuan ayakan, jenis bahan, dan interaksinya tidak nyata mempengaruhi derajad keasaman (pH). Derajad keasaman (pH) bungkil inti sawit berdasarkan ukuran ayakan berkisar antara 5,40-5,45 sedangkan derajad keasaman (pH) bungkil kelapa berdasarkan ukuran ayakan berkisar antara 5,40-5,43 (Tabel 20).

y = 0,013x + 5,217 R² = 0,738 y = -0,028x + 9,780 R² = 0,658 0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 0 20 40 60 80 100 120 K el ar u tan T ot al (%) Nomor Ayakan

Bungkil Inti Sawit

Dokumen terkait