Pada penelitian ini beberapa jenis tanaman rumput yang diamati adalah Paspalum notatum, Paspalum dilatatum, Chloris gayana, dan ditanam dengan menggunakan anakan/pols. Tanaman tumbuh dengan baik pada awal pertumbuhan sebelum mendapatkan perlakuan karena masih mendapatkan perlakuan yang sama yaitu disiram setiap hari, hal ini bertujuan agar tanaman tumbuh sampai pada kondisi yang siap untuk diberikan perlakuan cekaman kekeringan.
Pengamatan pada tanaman dihentikan bila tanaman yang mendapatkan perlakuan cekaman kekeringan telah mengalami titik layu permanen yang diakibatkan oleh cekaman kekeringan ditandai dengan terjadinya pelayuan pada daun (daun berwarna kuning) kemudian rontok, lalu diikuti dengan pembusukan pada batang. Kondisi titik layu permanen, yaitu kondisi kandungan air tanah dimana akar- akar tanaman mulai tidak mampu lagi menyerap air dari tanah sehingga tanaman mengalami layu permanen dalam arti sukar disembuhkan kembali meskipun telah ditambahkan sejumlah air yang mencukupi. Pada tanaman Chloris gayana yang mendapatkan perlakuan cekaman kekeringan mengalami kelayuan permanen pada hari ke-32 sedangkan pada tanaman Paspalum notatum, dan Paspalum dilatatum mengalami kelayuan permanen pada hari ke-44 dan ke-24. Tanaman mengalami kelayuan permanen yang berbeda-beda, dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Kelayuan Permanen pada Setiap Jenis Rumput
Jenis Rumput Kelayuan Permanen Hari ke-
Paspalum dilatatum 24
Chloris gayana 32
Paspalum notatum 44
Keterangan : Setiap jenis rumput dilakukan penelitian yang terpisah.
Berdasarkan hasil pengamatan kelayuan permanen menunjukkan tanaman Paspalum notatum mengalami kekeringan yang lebih lama dibandingkan rumput yang lainnya. Keadaan suhu pada rumah kaca selama penelitian berkisar antara 23°C-33°C. Pada pagi hari suhu rumah kaca berkisar antara 23°C-27°C, dengan suhu
rata-rata 25°C. Pada siang hari suhu rumah kaca berkisar antara 29°C-35°C, dengan suhu rata- rata 33°C, sedangkan pada sore hari suhu rumah kaca berkisar antara 25°C-30°C, dengan suhu rata-rata 26°C.
Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Air Tanah
Kadar air tanah menggambarkan besarnya air tersedia yang diserap oleh tanaman untuk melakukan pertumbuhan hingga batas dimana air menjadi tidak tersedia dan tanaman mengalami layu. Rataan persen kadar air tanah dari rumput Paspalum notatum, Paspalum dilatatum, dan Chloris gayana dapat dilihat pada Tabel 5. Data rataan kadar air tanah pada Tabel 5 merupakan data kadar air tanah pada saat panen dilakukan, artinya data kadar air tanah perlakuan tersebut merupakan data kadar air tanah kondisi titik layu permanen pada perlakuan M1S1 dan M0S1. Berdasarkan hasil sidik ragam perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar air tanah pada rumput Paspalum notatum, Paspalum dilatatum, dan Chloris gayana Pengaruh perlakuan terhadap rataan persen kadar air tanah dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Persen Kadar Air Tanah.
Persen Kadar Air Tanah (%)
Perlakuan Chloris gayana Paspalum notatum Paspalum dilatatum M0S0 36,0±8.0A 66.9±2.5A 38.1±15,2A
M0S1 27,9±5.0C 26.2±1.1C 10.4±4.3C M1S0 39,9±8.1A 65.3±3.8A 42.4±8.0A M1S1 27,2±10.5B 32.5±4.7B 27.7±6.6B
Keterangan : Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata (P0,01). M0S0 : Tanpa mikoriza dan disiram tiap hari; M0S1 : Tanpa mikoriza dan tidak disiram; M1S0 : Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1 : Dengan mikoriza dan tidak disiram. Tanaman yang berbeda dilakukan penelitian yang terpisah.
Berdasarkan hasil sidik ragam perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap kadar air tanah (P<0,01) pada rumput Chloris gayana, Paspalum notatum, Paspalum dilatatum. Nilai tertinggi rataan persen kadar air tanah terhadap perlakuan ditunjukkan oleh perlakuan M0S0 dan M1S0 pada Chloris gayana (36,0 % dan 39,9 %), Paspalum notatum (66,9 % dan 65,3 %), dan Paspalum dilatatum
(38,1 % dan 42,4 %), hal ini menunjukkan bahwa penyiraman air setiap hari pada tanaman rumput dapat meningkatkan kadar air dalam tanah. Selain itu, pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa pada perlakuan yang mendapat perlakuan M1S1 dan M1S0 memiliki ketersedian air yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan perlakuan M0S1 dan M0S0, hal ini membuktikan bahwa pemberian mikoriza pada tanaman akan membuat tanaman rumput lebih efektif dalam penyerapan air dari dalam tanah oleh akar tanaman yang telah terinfeksi oleh mikoriza sehingga air yang tersedia lebih sedikit. Evapotranspirasi berpengaruh terhadap ketersediaan air tanah, evapotranspirasi merupakan gabungan evaporasi dari permukaan tanah dan transpirasi tanaman yang menguap melalui akar tumbuhan ke batang daun menuju atmosfer (BMG, 2006). Menurut Djondronegoro et al., (1989), produksi tanaman sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air yang diantaranya berasal dari curah hujan.
Gambar 8. Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Air Tanah Tanaman Chloris gayana
Keterangan: M0S0=Tanpa mikoriza dan disiriam tiap hari; M0S1=Tanpa mikoriza dan tidak disiram. M1S0=Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1=Dengan mikoriza dan tidak disiram
Pengaruh perlakuan terhadap kadar air tanah tanaman Chloris gayana, perlakuan M0S0 memberikan nilai kadar air tanah tertinggi pada hari ke 12, sedangkan perlakuan M1S0 memberikan nilai tertinggi pada hari ke 16 sampai hari ke 20 (Gambar 8), hal ini menunjukkan bahwa mikoriza memberikan pengaruh meningkatkan kadar air tanah setelah beberapa hari diinfeksi pada tanaman.
Pengaruh perlakuan pada tanaman Paspalum dilatatum terhadap kadar air tanah pada hari pengamatan menunjukkan perlakuan memberikan nilai tertinggi pada hari ke 12, sedangkan perlakuan terendah terjadi pada hari ke 24 pada M0S0, M0S1, M1S0 , dan M1S1 (Gambar 9), hal menunjukkan bahwa respon kadar air tertinggi tanaman Paspalum dilatatum terjadi pada hari ke 12 dan kadar air terendah menjelang titik layu permanen.
Gambar 9. Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Air Tanah Tanaman Paspalum dilatatum
Keterangan: M0S0=Tanpa mikoriza dan disiriam tiap hari; M0S1=Tanpa mikoriza dan tidak disiram. M1S0=Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1=Dengan mikoriza dan tidak disiram
Gambar 10. Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Air Tanah Tanaman Paspalum notatum
Keterangan: M0S0=Tanpa mikoriza dan disiriam tiap hari; M0S1=Tanpa mikoriza dan tidak disiram. M1S0=Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1=Dengan mikoriza dan tidak disiram
Pengaruh Perlakuan terhadap Pertambahan Tinggi Vertikal Tanaman Pertumbuhan adalah proses pertambahan ukuran yang tidak dapat kembali ke asal (irreversibel) yang meliputi pertambahan volume dan massa. Salah satu parameter pertumbuhan yang sering diamati adalah tinggi tanaman, dengan mengetahui pertambahan tinggi suatu tanaman maka dapat dilihat pertumbuhannya. Pengaruh perlakuan terhadap rataan pertambahan tinggi vertikal tanaman dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Pertambahan Tinggi Vertikal Tanaman
Rataan Tinggi Vertikal Tanaman (cm)
Perlakuan Chloris gayana Paspalum notatum Paspalum dilatatum M0S0 17,6 ± 1,7A 68,5 ± 6,4AB 97,63 ± 8,18AB M0S1 16,1 ± 0,9A 69,7 ± 5,4A 94,90 ± 5,98AB M1S0 17,6 ± 3,3A 61,0 ± 5,7B 101,40 ± 3,39A M1S1 14,3 ± 1,2B 67,5 ± 5,8AB 88,43 ± 4,65B
Keterangan : Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata (P0,01). M0S0 : Tanpa mikoriza dan disiram tiap hari ; M0S1 : Tanpa mikoriza dan tidak disiram; M1S0 : Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1 : Dengan mikoriza dan tidak disiram. Tanaman yang berbeda dilakukan penelitian yang terpisah.
Hasil pengukuran rataan tinggi tanaman pada tiap-tiap perlakuan menunjukkan hasil yang berbeda-beda pada tiap tanaman (Gambar 1, 2, dan 3). Berdasarkan hasil sidik ragam perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap tinggi tanaman (P<0,01) pada rumput Chloris gayana, Paspalum dilatatum, Paspalum notatum. Nilai terbesar rataan tinggi tanaman terhadap perlakuan berturut- turut ditunjukkan oleh perlakuan M1S0 (101,40 cm) pada Paspalum dilatatum dan perlakuan M1S0 (61,0 cm) pada Paspalum notatum dan M0S0 (17,6 cm) pada Chloris gayana, hal ini menunjukkan bahwa pemberian mikoriza dan penyiraman air setiap hari pada rumput dapat meningkatkan tinggi tanaman.
Tabel 3 memperlihatkan bahwa Paspalum dilatatum lebih merespon pemberian perlakuan terhadap tinggi tanaman bila dibandingkan dengan rumput Chloris gayana dan Paspalum notatum meskipun rataan tinggi rumput Chloris gayana lebih rendah dibandingkan keduanya. Chloris gayana memiliki tinggi yang
lebih besar bila dibandingkan dengan rumput yang lain (Paspalum notatum dan Paspalum dilatatum) Hal ini dikarenakan. Chloris gayana merupakan rumput yang berstolon dan tumbuh tegak.(Mcllroy, 1977).
Gambar 5. Pengaruh Perlakuan terhadap Tinggi Tanaman Chloris gayana
Keterangan: M0S0=Tanpa mikoriza dan disiriam tiap hari; M0S1=Tanpa mikoriza dan tidak disiram. M1S0=Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1=Dengan mikoriza dan tidak disiram
Karti (2005) menjelaskan bahwa terjadi penurunan laju pertambahan tinggi vertikal tanaman seiring dengan penurunan kadar air tanah dan sebaliknya yakni terjadi peningkatan pertambahan tinggi verikal tanaman pada kadar air tanah 85 % dari kapasitas lapang. Maka, pertumbuhan tanaman terutama tinggi tanaman sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air di dalam tanah.
Mapegau (2006) menyatakan bahwa pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh kondisi cekaman air, yaitu tanaman akan mengalami penurunan pertambahan tingginya dalam kondisi cekaman air.
Selain itu, rataan tinggi tanaman yang mendapat perlakuan pemberian mikoriza (M1S0 dan M1S1) pada rumput Paspalum dilatatum memiliki rataan tinggi tanaman yang lebih baik bila dibandingkan dengan perlakuan tanpa pemberian mikoriza (M0S0 dan M0S1), hal ini membuktikan bahwa pemberian mikoriza dapat membantu pertumbuhan tinggi tanaman
Gambar 6. Pengaruh Perlakuan terhadap Tinggi Tanaman Paspalum dilatatum.
Keterangan: M0S0=Tanpa mikoriza dan disiriam tiap hari; M0S1=Tanpa mikoriza dan tidak disiram. M1S0=Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1=Dengan mikoriza dan tidak disiram.
Gambar 7. Pengaruh Perlakuan terhadap Tinggi Tanaman Paspalum notatum.
Keterangan: M0S0=Tanpa mikoriza dan disiriam tiap hari; M0S1=Tanpa mikoriza dan tidak disiram. M1S0=Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1=Dengan mikoriza dan tidak disiram
Sasli (2004) menjelaskan bahwa mikoriza dapat membantu proses penyerapan unsur hara dari dalam tanah sehingga proses pertumbuhan tanaman terutama tinggi tanaman dapat berjalan secara optimal.
Pengaruh Perlakuan terhadap Jumlah Anakan
Pertumbuhan jumlah anakan pada rumput Paspalum notatum, Paspalum dilatatum, dan Chloris gayana dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Pengaruh Perlakuan terhadap Jumlah Anakan
Jumlah Anakan
Perlakuan Chloris gayana Paspalum notatum Paspalum dilatatum M0S0 21,4±6,1A 13,8±6,4A 18,2±5,5A
M0S1 2,4±2,3B 1,6±1.7C 4,0±1,2B M1S0 20,8±2,8A 16,0±6,8A 14,6±3,5A M1S1 2.2±2,7B 3,6±2,3B 6,4±0,9B
Keterangan : Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata (P0,01). M1S0 : Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1 : Dengan mikoriza dan tidak disiram; M0S0 : Tanpa mikoriza dan disiram tiap hari; M0S1 : Tanpa mikoriza dan tidak disiram. Tanaman yang berbeda dilakukan penelitian yang terpisah.
Jumlah anakan menggambarkan tingkat pertumbuhan tanaman pada setiap jenis rumput yang dihitung bila telah ada daun yang terbuka secara sempurna, Berdasarkan hasil sidik ragam perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap kadar air tanah (P<0,01) pada rumput Chloris gayana, Paspalum notatum, Paspalum dilatatum nilai tertinggi rataan jumlah anakan terhadap perlakuan ditunjukkan oleh perlakuan M0S0 dan M1S0 pada Chloris gayana (21,4 dan 20,8), Paspalum notatum (13,8 dan 16,0) dan Paspalum dilatatum (18,2 dan 14,6), hal ini menunjukkan bahwa penyiraman air setiap hari pada tanaman rumput dapat meningkatkan jumlah anakan pada setiap jenis rumput . Selain itu, pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa pada perlakuan yang mendapat perlakuan M1S1 dan M1S0 memiliki rataan jumlah anakan yang lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan M0S1 dan M0S0 terutama pada rumput Paspalum notatum. Jumlah anakan sangat dipengaruhi oleh kemampuan tanaman tersebut untuk menyerap unsur hara dari tanah. Infeksi mikoriza dapat meningkatkan penyerapan fosfor dan pertumbuhan tanaman (Mosse, 1981).
Pengaruh Perlakuan terhadap Berat Kering Tajuk dan Akar
Produksi bahan kering merupakan peubah yang sangat penting untuk menduga produksi potensial tanaman dan dijadikan pedoman untuk mengetahui tingkat pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Salisbury dan Ross, 1995).
Tabel 6. Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Berat Kering Tajuk dan Akar.
Berat Kering Tajuk (gram/pot)
Perlakuan Chloris gayana Paspalum notatum Paspalum dilatatum M0S0 34,5 ± 9,3A 34,1 ± 7,2A 24,3 ± 6,5A
M0S1 12,5 ± 3,7B 8,2 ± 12,9B 15,2 ± 0,7B M1S0 40,1 ± 9,0A 29,4 ± 15,1A 22,5 ± 3,4A M1S1 8,9 ± 3,5B 12,1 ±5,6B 12,4 ± 5,2B
Berat Kering Akar (gram/pot)
Perlakuan Chloris gayana Paspalum notatum Paspalum dilatatum M0S0 1,9 ± 1,0B 6,0 ± 1,2A 2,2 ± 1,1A
M0S1 1,0 ± 0,2C 2,3 ± 0,4B 2,0 ± 0,2A M1S0 3,7 ± 0,7A 4,9 ± 2,3A 2,2 ± 1,0A M1S1 0,9 ± 0,5C 2,9 ± 0,4B 1,9 ± 1,1A
Keterangan : Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata (P0,01). M0S0 : Tanpa mikoriza dan disiram tiap hari; M0S1 : Tanpa mikoriza dan tidak disiram; M1S0 : Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1 : Dengan mikoriza dan tidak disiram. Tanaman yang berbeda dilakukan penelitian yang terpisah.
Berat Kering Tajuk
Nilai berat kering tajuk dari rumput Chloris gayana, Paspalum notatum,dan Paspalum dilatatum dapat dilihat pada Tabel 6. Berdasarkan hasil sidik ragam perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap berat kering tajuk (P<0,01) pada rumput Chloris gayana, Paspalum notatum, dan Paspalum dilatatum. Nilai terbesar rataan berat kering tajuk terhadap perlakuan ditunjukkan oleh perlakuan M1S0 pada rumput Chloris gayana (40,1 gram), Paspalum notatum, (29,4 gram) dan Paspalum dilatatum (22,5 gram). Hal ini menunjukkan bahwa pemberian mikoriza dan penyiraman air setiap hari pada rumput dapat meningkatkan berat kering tajuk. Hasil penelitian (Tabel 6) menunjukkan bahwa cekaman kekeringan
dapat menurunkan berat kering tajuk sehingga pertumbuhan tanaman dapat dikatakan akan menurun dengan adanya cekaman kekeringan pada tanaman. Mapegau (2006) menjelaskan bahwa pertumbuhan tanaman sangat peka terhadap defisit air karena berhubungan dengan turgor dan hilangnya turgiditas dapat menghentikan pembelahan dan pembesaran sel yang mengakibatkan tanaman menjadi lebih kecil. Selain itu, hal ini juga akan berdampak terhadap produksi dari tanaman tersebut.
Pada Tabel 6, pemberian mikoriza pada Chloris gayana dapat meningkatkan berat kering tanaman tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian mikoriza dapat meningkatkan berat kering tajuk. Menurut Rungkat (2009) mikoriza dapat meningkatkan penyerapan unsur hara pada tanaman yang diinfeksinya, sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman tersebut dapat meningkat.
Berat Kering Akar
Berat kering akar dari rumput Chloris gayana, Paspalum notatum, dan Paspalum dilatatum dapat dilihat pada Tabel 6. Berdasarkan hasil sidik ragam perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap berat kering akar (P<0,01) rumput Chloris gayana, Paspalum notatum, dan Paspalum dilatatum terhadap berat kering akar. Nilai terbesar rataan berat kering akar terhadap perlakuan ditunjukkan oleh perlakuan M1S0 pada rumput Paspalum notatum (4,9 gram), Chloris gayana (3,7 gram) dan Paspalum dilatatum (2,2 gram). Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian mikoriza dan penyiraman setiap hari dapat meningkatkan berat kering akar pada rumput tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan mikoriza akan memiliki berat kering akar yang lebih besar bila dibandingkan dengan berat kering akar yang tanpa diberikan mikoriza (Tabel 6). Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Utama dan Yahya (2003), terjadi peningkatan berat kering akar pada tanaman legum penutup tanah (Calopogonium mucunoides, Calopogonium ceurelieum, Centrosema pubescens dan Pueraria javanica) yang diberikan mikoriza. Menurut Sasli (2004) peranan langsung dari mikoriza adalah membantu akar dalam meningkatkan penyerapan air dari dalam tanah ke dalam akar, karena mikoriza dapat memperluas permukaan akar dalam penyerapan air dari dalam tanah. Air yang diserap dari dalam tanah akan digunakan oleh tumbuhan untuk pembelahan dan
pembesaran sel yang salah satunya terwujud dalam pertumbuhan akar, yaitu meningkatnya derajat percabangan dan diameter akar.
Pada Tabel 6, dapat dilihat bahwa berat kering akar akan menurun dalam kondisi cekaman kekeringan. Menurut Sasli (2004) kekurangan air secara internal pada tanaman berakibat langsung pada penurunan pembelahan dan pembesaran sel. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya penurunan berat kering akar yang disebabkan oleh cekaman air.
Menurut Sasli (2004) tanaman yang tumbuh pada kondisi cekaman kekeringan akan mengurangi jumlah stomata sehingga mengurangi laju kehilangan air. Penutupan stomata akan menyebabkan serapan CO2 bersih pada daun berkurang secara paralel (bersamaan) selama kekeringan. Dampaknya, proses asimilasi karbon terganggu sebagai akibat dari rendahnya ketersediaan CO2 pada kloroplas karena cekaman air yang menyebabkan terjadinya penutupan stomata sehingga laju fotosintesis akan terhambat dan pembentukan karbohidrat akan menurun. Hal ini menyebabkan penurunan berat kering akar, batang dan daun pada tanaman.
Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Persen Infeksi Akar
Peran utama mikoriza adalah untuk menyediakan fosfor bagi akar tanaman yang terkena infeksi, karena fosfor adalah satu unsur yang tidak mobil di dalam tanah. (Turk et. al, 2006). Pada Tabel 7, nilai rataan persen infeksi akar tertinggi pada rumput Paspalum dilatatum ditunjukkan oleh perlakuan M1S1 (73,4%) dan terendah ditunjukkan oleh perlakuan M0S0 (9,6%). Untuk rumput Chloris gayana , Paspalum notatum, dan Paspalum dilatatum nilai rataan persen infeksi akar tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan M1S1 (60,2%, 68,8% dan 73,4%), sedangkan nilai rataan persen infeksi akar terendah pada rumput Chloris gayana dan Paspalum dilatatum ditunjukkan oleh perlakuan M0S1 (9,8% dan 10,6%) sedangkan pada rumput Paspalum notatum ditunjukkan oleh perlakuan M0S1 (14,8%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan tanaman rumput yang mendapatkan perlakuan M1S0 dan M1S1 akan terjadi peningkatan rataan persen infeksi akar dibandingkan dengan perlakuan M0S0 dan M0S1. Hal ini menunjukkan bahwa pada kondisi air tanah tersedia maupun pada kondisi cekaman kekeringan inokulasi (pemberian) mikoriza akan meningkatkan infeksi pada akar tanaman oleh mikoriza,
dengan tingkat persen infeksi akar yang berbeda-beda pada setiap jenis tanaman rumput.
Tabel 7. Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Persen Infeksi Akar
Persen infeksi akar (%)
Perlakuan Chloris gayana Paspalum notatum Paspalum dilatatum M0S0 14,8 ± 6,83B 20,4 ± 8,7C 9,6 ± 2,9B
M0S1 9,8± 4,66B 14,8 ± 2,4C 10,6± 2,3B M1S0 51 ± 13,11A 53,2± 16,3B 68,4 ± 3,6A M1S1 60,2 ± 17,25A 68,8± 9,7A 73,4 ± 10A
Keterangan : Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata (P0,01). M0S0 : Tanpa mikoriza dan disiram tiap hari; M0S1 : Tanpa mikoriza dan tidak disiram; M1S0 : Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1 : Dengan mikoriza dan tidak disiram. Tanaman yang berbeda dilakukan penelitian yang terpisah.
Setiadi (1999) menjelaskan bahwa keragaman nilai infeksi akar mencerminkan perbedaan intensitas akar dari setiap simbiosis yang terjadi. Intensitas infeksi dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kepekaan inang terhadap infeksi, iklim, dan tanah. Perbedaan jumlah senyawa karbon yang disediakan oleh tumbuhan inang juga menjadi penyebab tingkat infeksi akar yang berbeda-beda pada masing-masing tanaman. Selain itu, Delvian (2006) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan mikoriza di tanah, yaitu status fosfor tanah, kemasaman tanah (pH), kadar garam, suhu dan kelembaban.
Mikoriza mampu menyerap dan memindahkan fosfor (P) dari dalam tanah ke akar tanaman (Rungkat, 2009). Turk et al. (2006) mengatakan bahwa peran utama mikoriza adalah untuk menyediakan fosfor bagi akar tanaman yang terkena infeksi, karena fosfor adalah satu unsur yang tidak mobil di dalam tanah. Selain fosfor, mikoriza juga mampu menyerap beberapa unsur hara seperti : Nitrogen (N), Kalium (K), Magnesium (Mg), Seng (Zn), Tembaga (Cu), Kalsium (Ca), Besi (Fe), Cadmium, Nikel dan Uranium. Oleh karena itu, pengamatan terhadap banyaknya infeksi mikoriza pada akar tanaman merupakan salah satu cara untuk mengetahui kemampuan tanaman dalam menyerap unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan inangnya. Semakin tinggi tingkat infeksi mikoriza pada akar tanaman maka semakin banyak manfaat yang akan diperoleh tanaman dari infeksi mikoriza tersebut.
Indeks Sensitivitas terhadap Cekaman Kekeringan
Perhitungan indeks sensitivitas terhadap cekaman kekeringan digunakan untuk mendapatkan tingkat toleransi tanaman rumput terhadap cekaman kekeringan. Indeks sensitivitas terhadap cekaman kekeringan pada masing-masing rumput dihitung berdasarkan peubah kadar air tanah, pertambahan tinggi vertikal tanaman, berat kering tajuk, berat kering akar dan infeksi akar. Nilai indeks sensitivitas terhadap cekaman kekeringan tiap rumput dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Indeks Sensitivitas terhadap Cekaman Kekeringan
Jenis Rumput Peubah
Chloris gayana Paspalum notatum Paspalum dilatatum
KAT T T T PTVT P T P BKT P T AT BKA AT T T IA T AT AT Nilai ISK 5 9 6 Nilai Hari 2 3 1` Total Nilai 10 27 6
Keterangan: Indeks sensitivitas terhadap cekaman kekeringan yang dihitung berdasarkan peubah Kadar Air Tanah (KAT), Pertambahan Tinggi Vertikal Tanaman (PTVT), Berat Kering Tajuk (BKT), Berat Kering Akar (BKA) dan Infeksi Akar (IA). T = toleran jika nilai IS
0,5; AT = agak toleran jika 0,5 < IS ,0; P = peka jika IS > 1,0.
Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa pada rumput Chloris gayana peubah kadar air tanah, berat kering tajuk dan infeksi akar toleran dan peka terhadap cekaman kekeringan, sedangkan pada peubah berat kering akar agak toleran terhadap cekaman kekeringan, untuk peubah pertambahan tinggi vertikal tanaman peka terhadap cekaman kekeringan.
Pada rumput Paspalum notatum peubah kadar air tanah, pertambahan tinggi vertikal tanaman, berat kering tajuk, dan berat kering akar toleran terhadap cekaman kekeringan, sedangkan peubah infeksi akar agak toleran terhadap cekaman
kekeringan. Pada rumput Paspalum dilatatum peubah kadar air tanah dan berat kering akar toleran terhadap cekaman kekeringan, untuk peubah berat kering tajuk dan infeksi akar agak toleran terhadap cekaman kekeringan, sedangkan peubah pertambahan tinggi vertikal tanaman peka terhadap cekaman kekeringan.
Hasil perhitungan indeks sensitivitas menunjukkan bahwa tanaman rumput tropika, dengan total nilai tertinggi adalah rumput Paspalum notatum dengan nilai 27, diikuti oleh dengan Chloris gayana dengan nilai 10, dan Paspalum dilatatum dengan nilai 6, hal ini menunjukkan bahwa tanaman Paspalum notatum memiliki nilai toleransi yang paling baik bila dibandingkan dengan dua jenis rumput lainnya.