• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen RESPON TANAMAN JAGUNG (Halaman 32-78)

Kondisi Umum Penelitian

Penelitian ini menggunakan kompos yang terbuat dari limbah kulit buah jarak. Bahan baku ini didekomposisikan dengan menggunakan empat jenis biodekomposer yaitu EM4, Biotriba, Orgadec, Mdec, dan tanpa biodekomposer. Selain itu, untuk mempercepat pembusukan bahan baku kompos dilakukan pemberian kotoran hewan sebanyak 25% serta ada juga yang tidak diberikan kotoran hewan. Masa inkubasi kompos dilakukan selama satu bulan hingga diperoleh kompos yang baik untuk tanaman.

Hasil analisis hara kompos menunjukkan bahwa kandungan kalium dan C-Organik terbesar yaitu pada kombinasi kulit buah + tanpa kotoran hewan + tanpa biodekomposer (K0B0) dengan nilai 11.36 mg dan 45.50%, kandungan nitrogen dan fosfor terbesar pada kombinasi kulit buah + kotoran hewan + Mdec (K1B4) dengan nilai 1.77% dan 0.25 ppm, sedangkan C/N ratio kompos yang mendekati C/N ratio tanah yaitu pada kombinasi kulit buah + kotoran hewan + EM4 (K1B1) sebesar 22.81. Kadar air kompos yang menunjukkan nilai terbesar 18.6% pada kombinasi kulit buah + kotoran hewan + Biotriba (K1B2). Penelitian ini dilakukan dalam dua tahapan percobaan. Percobaan I dan percobaan II dibedakan berdasarkan bobot tanah per polibag (kg/polibag) dan penambahan kapur pertanian. Pada percobaan I, tanah yang digunakan sebesar 5 kg/polibag dan tanpa penambahan kapur pertanian sedangkan pada percobaan II digunakan tanah sebesar 15 kg/polibag dengan penambahan kapur pertanian sebesar 5 x Al-dd.

Hasil analisis tanah pada saat awal penelitian menunjukkan bahwa tanah yang digunakan tergolong tanah ultisol yang miskin hara. Tanah percobaan I memiliki kandungan pH 5.24 yang tergolong masam, N-total 0.1% tergolong rendah, P2O5 tersedia 9.28 ppm tergolong sedang, kalium 0.04 mg dan C-Organik 0.96% tergolong sangat rendah. Pada percobaan II, kandungan pH 4.6 yang termasuk masam dan N-total 0.13% tergolong rendah. Kandungan P2O5 tersedia 3.09 ppm, kalium 0.09 mg dan C-Organik 0.9% yang tergolong sangat rendah serta kandungan Al-dd 3.83 me/100 mg tergolong sangat rendah (Tabel Lampiran 1).

Bahan tanam yang digunakan ialah varietas jagung manis Virginia II. Benih ditanam sebanyak 3 butir benih/polibag, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan jumlah tanaman per polibagnya (1 tanaman/polibag). Benih yang akan ditanam dilakukan inkubasi pada kapas basah selama semalam dengan tujuan agar terjadi imbibisi air ke dalam benih sehingga akan mempermudah proses perkecambahan. Penyulaman dilakukan saat tanaman berusia 1 MST dan penjarangan dilakukan saat 3 MST. Penjarangan adalah suatu tindakan mencabut atau membuang sejumlah tanaman yang ada untuk menyisakan tanaman terbaik yang akan dijadikan tanaman contoh.

Persentase daya tumbuh tanaman saat umur 1 MST mencapai 72.58% pada percobaan I dan 82.98% pada percobaan II. Kegiatan penjarangan menjadikan persentase jumlah tanaman contoh menjadi 100% untuk kedua percobaan (Tabel Lampiran 9). Hal ini dikarenakan dalam kegiatan penjarangan ini juga dilakukan penanaman kembali bibit yang tumbuh ke polibag-polibag yang benihnya tidak berkecambah. Pemunculan bunga jantan terlihat pada saat tanaman berumur 5 MST atau 35 HST dan pemunculan bunga betina dimulai pada 7 MST atau 49 HST dan tanaman dapat dipanen hasilnya pada saat berumur 10 MST atau 70 HST. Pertumbuhan tanaman ini cenderung tidak seragam dan ditemukan adanya pemunculan bunga betina pada bunga jantan, hal ini dimungkinkan karena kondisi kesuburan tanah yang rendah, derajat kemasaman yang rendah, dan suhu lingkungan pertanaman tinggi sehingga tanaman beradaptasi secara luas.

Gambar 1. Kondisi Pertanaman Jagung Umur 4 MST a) Percobaan I dan b) Percobaan II

20

Kegiatan penelitian ini dilakukan di dalam rumah kaca yang kondisi suhu dan intensitas cahaya cenderung fluktuatif. Pengukuran suhu dan intensitas cahaya dilakukan di dalam rumah kaca dan di luar rumah kaca dengan tujuan untuk melihat perbandingan antara yang di dalam dan di luar. Pengukurannya dilakukan pada saat tanaman berumur 1 MST, 2 MST, 7 MST, dan 8 MST. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa suhu dalam rumah kaca cenderung lebih tinggi dari suhu luar rumah kaca sedangkan intensitas cahaya yang masuk ke dalam rumah kaca hanya sebesar 1/3 kali dari intensitas cahaya luar. Hal ini dilakukan sejalan dengan pengukuran kadar air tanah sehingga kemungkinan terlihat adanya keterkaitan dengan adaptasi tanaman. Tanaman yang ternaungi memiliki wujud morfologi yang tinggi karena adanya mekanisme penangkapan cahaya dalam jumlah yang besar (Sopandie et al., 2005).

Air merupakan suatu komponen pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang cukup penting. Hal ini dikarenakan sebesar 80-90% bobot basah tanaman terdiri atas air dan pada tajuk tanaman jagung terkandung 92-93% air (Leiwakabessy, 1988). Kebutuhan air pada tanaman dapat dipenuhi melalui penyiraman. Kebutuhan air tanaman ialah jumlah air yang hilang per satuan waktu tertentu dan sangat dipengaruhi oleh faktor tanah dan iklim. Penyiraman pada percobaan I dilakukan sebanyak 500 ml/2 hari dan percobaan II sebanyak 1 250 ml/4 hari. Pada percobaan I diperoleh hasil bahwa jumlah air yang diberikan berkisar 8.72 mm/hari atau 785 mm selama pertumbuhan (3 bulan) sedangkan pada percobaan II jumlah air yang diberikan sebanyak 2.73 mm/hari atau 245.31 mm selama pertumbuhannya (Tabel Lampiran 21).

Selama pertumbuhan tanaman jagung dalam rumah kaca terdapat serangan hama penyakit. Hama-hama yang menyerang pertanaman antara lain, ulat (Plutella xylostella) yang memakan daun mulai dari daun muda hingga ke daun tua dan juga menyebabkan daun menggulung, belalang yang memiliki persentase serangannya terbesar selama penelitian yaitu 14.25% pada percobaan I dan 80.11% pada percobaan II, dan katak yang menyebabkan batang menjadi rebah. Penyakit yang menyerang tanaman muncul dengan gejala menguning pada ujung dan tepi daun hingga akhirnya bercak kebasahan berwarna coklat, bercak coklat, daun berwarna keabuan pada bagian tengah, bulai dan daun menggulung.

Tanaman ada yang menunjukkan pertumbuhan kerdil, hal ini kemungkinan disebabkan oleh tingginya derajat kemasaman tanah sehingga unsur hara tanah tidak cukup tersedia bagi tanaman (Tabel Lampiran 10).

a b c

Gambar 2. Gejala Serangan Hama dan Penyakit a) Serangan Hama Belalang, b) Serangan Hama Ulat (Plutella xylostella), dan c) Gejala Defisiensi Hara

22

Hara Kompos dan Tanah

Sifat kimia kompos dari hasil analisis dapat menunjukkan kualitasnya jika pertumbuhan dan produksi tanaman contoh yang diteliti memberikan hasil yang baik. Tisdale dan Nelson (1975) menyatakan bahwa bahan organik yang memiliki nilai C/N ratio < 20 akan menyebabkan terjadinya pelepasan N dari bahan organik ke dalam tanah, nilai C/N ratio antara 20-30 tidak akan terjadi pelepasan N dari bahan organik dan tidak terjadi immobilisasi nitrogen tanah, dan nilai C/N ratio > 30 akan terjadi immobilisasi nitrogen tanah sehingga C/N ratio dapat dijadikan sebagai indikator sifat kimia kompos yang dapat mempengaruhi serapan hara oleh tanaman.

Tanah yang memiliki kandungan bahan organik yang cukup akan memberikan nilai C/N ratio berkisar 10-12.5 (Leiwakabessy, 1988) sehingga kompos yang diaplikasikan ke dalam tanah akan dapat memberikan pertumbuhan yang baik bagi tanaman apabila nilai C/N ratio kompos mendekati nilai C/N ratio tanah. Berdasarkan hasil analisis Tabel 2, memperlihatkan bahwa kompos K1B1 memiliki nilai C/N ratio 22.81 yang lebih dekat dengan nilai C/N ratio tanah 9.6 (percobaan I) dan 7.5 (percobaan II) sehingga dimungkinkan kompos cukup memenuhi hara bagi tanaman dan tidak akan terlalu mempengaruhi serapan hara oleh tanaman. Berdasarkan SNI Kompos 19-7030-2004 menunjukkan bahwa kandungan C/N ratio kompos masih lebih tinggi dari standar maksimum yaitu 20 sedangkan menurut Pusat Penelitian Tanah (1983) C/N ratio tanah tergolong rendah.

Tabel 2. Kandungan Hara Kompos

Jenis Media Kandungan Hara N (%) P (ppm) K (mg) C-organik (%) C/N Ratio K0B0 1.27 0.11 11.36 45.50 36.20 K0B1 1.38 0.13 6.75 44.67 32.67 K0B2 1.37 0.11 10.74 40.39 29.74 K0B3 1.45 0.13 9.73 45.01 30.97 K0B4 1.54 0.14 10.53 44.81 29.30 K1B0 1.63 0.24 6.16 40.28 25.00 K1B1 1.70 0.24 6.54 38.61 22.81 K1B2 1.66 0.24 6.81 40.11 24.52 K1B3 1.65 0.22 5.92 44.74 27.20 K1B4 1.77 0.25 5.89 41.86 23.65

Pada bahan baku kompos yang ditambahkan pupuk kandang cenderung memiliki nilai C/N ratio berkisar 20-30 sehingga unsur N akan tersedia dalam jumlah yang cukup untuk tanaman, sebaliknya pada bahan baku kompos tanpa penambahan pupuk kandang kisaran nilai C/N ratio > 30 kemungkinan unsur N tidak cukup tersedia. Kandungan N hasil analisis kompos berkisar 1.27-1.77% yang berdasarkan SNI Kompos 19-7030-2004 menunjukkan bahwa kandungan N lebih tinggi dari standar minimum (0.4%) sedangkan menurut Pusat Penelitian Tanah (1983) kandungan N tanah tergolong rendah dengan nilai 0.1% untuk percobaan I dan 0.13% percobaan II sehingga dimungkinkan kandungan N tanah pada kedua percobaan tersebut dalam kondisi kurang cukup tersedia untuk tanaman.

Kandungan P tersedia dalam tanah akan berbeda menurut jenisnya, semakin muda tanah maka kandungan fosfor semakin tinggi tetapi umumnya bernilai rendah. Ketersediaannya yang rendah dikarenakan tingginya tingkat retensi P di dalam tanah sehingga sedikit tersedia dalam larutan tanah dan unsur hara ini menjadi mudah dijerap oleh oksida Fe, Al, dan Ca (Leiwakabessy, 1988). Berdasarkan hasil analisis hara kompos, kisaran unsur P antara 0.11-0.25 ppm, dalam SNI Kompos 19-7030-2004 menunjukkan bahwa nilainya lebih rendah dari standar minimum (0.1%) sedangkan menurut Pusat Penelitian Tanah (1983) kandungan P tanah tergolong sedang dengan nilai 9.28 ppm (percobaan I) dan tergolong sangat rendah pada percobaan II dengan nilai 3.09 ppm. Pada percobaan I, dimungkinkan kandungan P cukup tersedia untuk tanaman tetapi percobaan II memiliki kemungkinan sebaliknya yaitu kandungan P kurang cukup tersedia dalam tanah.

Serapan hara kalium (K) dipengaruhi oleh kedalaman akar dan suhu lingkungan. Pergerakan unsur K yang tinggi menyebabkan lebih banyak tersedia pada lapisan tanah bawah sehingga akar yang dangkal tidak akan mampu menyerap hara ini. Kemampuan tanaman menyerap hara ini juga dipengaruhi oleh suhu, makin tinggi suhu (sampai batas tertentu) maka makin tinggi pula serapan kalium oleh tanaman (Tisdale et al., 1985). Berdasarkan hasil analisis hara kompos, jumlah kalium yaitu 5.89-11.36 mg, SNI Kompos 19-7030-2004 menunjukkan bahwa kandungan K kompos lebih tinggi dari standar minimum

24

(0.2%) sedangkan menurut Pusat Penelitian Tanah (1983) kandungan K tanah tergolong sangat rendah dengan nilai 0.04 mg (percobaan I) dan 0.09 mg (percobaan II). Baik pada percobaan I maupun percobaan II dimungkinkan kandungan K tanah kurang cukup tersedia untuk tanaman.

Kandungan C-Organik pada tanah yang digunakan dalam penelitian tergolong dalam kategori sangat rendah dengan rentang nilai 0.9-1.0 % (Tabel 3). Hal ini menunjukkan tanah yang digunakan kurang subur. Peningkatan kandungan C-organik melalui pemberian kompos menjadi sangat berarti untuk meningkatkan kesuburan tanah, seperti yang ditunjukkan pada kompos K0B0 (45.5%) dimungkinkan dapat meningkatkan kandungan C-Organik tanah penelitian. Secara keseluruhan kandungan C-Organik kompos berkisar antara 38-46 % berada di atas nilai standar maksimum berdasar pada SNI Kompos 19-7030-2004.

Secara umum, tanah yang digunakan pada percobaan I lebih baik untuk tanaman terkait dengan jumlah hara yang terkandung bila dibandingkan dengan tanah pada percobaan II. Derajat kemasaman tanah percobaan II lebih masam dari percobaan I sehingga dilakukan pengapuran pada percobaan II maka ketersediaan hara pada tanah percobaan II lebih rendah. Kondisi kompos yang digunakan secara jumlah hara yang terkandung cukup baik bagi tanaman akan tetapi C/N ratio masih memiliki nilai yang terlalu tinggi dibandingkan dengan C/N ratio tanah pada kedua percobaan.

Tabel 3. Kandungan Hara Tanah Kandungan Hara

Tanah Perc. I Kriteria Perc. II Kriteria

N total (%) 0.10 rendah 0.13 rendah

P2O5 tersedia (ppm) 9.28 sedang 3.09 sangat rendah

K (mg) 0.04 sangat rendah 0.09 sangat rendah

C-organik (%) 0.96 sangat rendah 0.98 sangat rendah

Al-dd (me/100 g) *) *) 3.83 sangat rendah

pH H2O 5.24 masam 4.6 masam

KCl 4.7 *) 4.48 *)

Sumber : Kriteria Sifat Kimia Tanah Menurut Pusat Penelitian Tanah (1983) dan *) tidak dilakukan analisis

Respon Pertumbuhan Vegetatif Tanaman

Jumlah daun

Daun merupakan salah satu organ tanaman yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses fotosintesis. Semakin banyak jumlah daun dalam satu tubuh tanaman memungkinkan pemerataan jumlah cahaya yang diterima oleh daun dan penyerapan hara menjadi lebih optimum (Sulistyaningsih et al., 2005).

Peubah jumlah daun menunjukkan nilai yang berbeda nyata pada taraf 1% untuk kedua percobaan (I dan II) baik untuk perlakuan dosis kompos maupun jenis kompos sedangkan keterkaitan hubungan antara dosis kompos dan jenis kompos menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata baik pada percobaan I maupun percobaan II (Tabel Lampiran 3).

Pada percobaan II, jumlah daun terbanyak yaitu 7.13 helai (dosis kompos 20 ton/ha) dan 30 ton/ha 6.70 helai serta terrendahnya 5.65 helai pada perlakuan D1. Jumlah daun percobaan I masih lebih tinggi daripada percobaan II yang nilai rataan tertingginya terdapat pada 30 ton/ha dengan 7.68 helai dan 20 ton/ha 7.10 helai serta jumlah yang terrendah ada pada dosis D1 (6.92 helai).

Pada percobaan I, jumlah daun terbanyak terdapat pada kompos K1B0 dengan rataan 7.92 helai kemudian diikuti jenis kompos K1B3 dan K1B1 serta terrendah 6.33 helai (K0B1), K0B0, dan K0B3 sedangkan percobaan II nilai rataan jumlah daun terbanyak ada pada kompos K1B3 (7.61 helai), K1B1, dan K0B2 serta terrendah pada kompos K0B3 dan K0B4 dengan 5.50 helai (Tabel 4). Pemberian kompos dengan dosis 10 ton/ha (D1) memberikan jumlah daun berkisar antara 6–7 helai, dosis 20 ton/ha (D2) menghasilkan jumlah daun yang hampir sama banyaknya dengan D1 yaitu 7 helai, dan dosis 30 ton/ha (D3) berjumlah 7–8 helai daun dalam percobaan I. Pada percobaan II, pemberian kompos dengan dosis 10 ton/ha (D1) memberikan jumlah daun berkisar antara 5-6 helai, dosis 20 ton/ha (D2) menghasilkan jumlah daun sebanyak 7 helai, dan dosis 30 ton/ha (D3) berjumlah 6-7 helai daun.

Tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah daun tanaman pada polibag perlakuan kontrol tanah memiliki nilai sebesar 4.71 helai (berkisar 4-5 helai) untuk percobaan I dan 3.76 helai (berkisar 3-4 helai) untuk percobaan II. Berdasarkan

26

hasil pada tabel 4 bahwa pada percobaan I, pemberian kompos K1B0 dapat meningkatkan jumlah daun sebanyak 3-4 helai sedangkan pemberian kompos K1B3 pada percobaan II mampu meningkatkan jumlah daun sebanyak 4-5 helai. Aplikasi kompos sebanyak 30 ton/ha pada percobaan I juga meningkatkan jumlah daun sebesar 3-4 helai sedangkan 10 ton/ha hanya meningkatkan jumlah daun sebanyak 1 helai. Percobaan II hanya mampu memperlihatkan penambahan jumlah daun sebesar 3-4 helai jika diaplikasikan 30 ton/ha sedangkan 10 ton/ha meningkatkan jumlah daun sebanyak 2 helai.

Penambahan biodekomposer pada percobaan I menunjukkan jumlah daun yang cukup banyak dibandingkan tanpa penambahan biodekomposer. Hal ini berlawanan dengan jumlah daun pada percobaan II, penambahan biodekomposer orgadec K1B3 memberikan jumlah daun yang cukup banyak (berkisar 7-8 helai) dengan ditambahkan pupuk kandang sedangkan tanpa ditambahkan pupuk kandang jenis biodekomposer ini (K0B3) hanya mampu menghasilkan 5 helai daun.

Tabel 4. Jumlah Daun pada Perlakuan Dosis dan Jenis Kompos

Perlakuan

Jumlah Daun Perc. I Perc. II

Dosis Kompos …..helai….. …..helai…..

D1 6.92b 5.65b D2 7.10b 7.13a D3 7.68a 6.70a Jenis Kompos K0B0 6.49b 5.94bc K0B1 6.33b 6.11abc K0B2 7.28ab 7.33ab K0B3 6.66b 5.50c K0B4 6.71b 5.50c K1B0 7.92a 7.11ab K1B1 7.75a 7.39ab K1B2 7.65a 6.56abc K1B3 7.82a 7.61a K1B4 7.72a 5.89bc

(Dosis * Jenis) Kompos tn tn

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5%

Jumlah daun yang dihasilkan pada percobaan II lebih beragam daripada percobaan I hal ini dimungkinkan karena kondisi lingkungan yang tidak menunjang pertumbuhan tanaman (suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya) dan aspek pemeliharaan tanaman yang dilakukan seperti pengapuran pada percobaan II dan penyiraman sehingga daun sulit terbentuk. Menurut Tisdale et al., (1985) antara suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya terdapat keterkaitan satu sama lain. Perubahan suhu tanah maupun lingkungan penelitian secara tiba-tiba turut mempengaruhi kemampuan tanaman dalam menghasilkan daun dan hal ini dapat dikendalikan hanya dengan meningkatkan kelembaban. Apabila intensitas cahaya yang diterima tanaman kurang dan hal ini akan mempengaruhi fotosintesis daun.

Pada percobaan II, intensitas cahaya dalam rumah kaca memiliki perbedaan sebesar 33.3% dari kondisi di luar rumah kaca (Gambar 3) dan suhu dalam rumah kaca cenderung lebih tinggi dari yang di luar rumah kaca walaupun terlihat relatif tidak terlalu berbeda. Perbedaan suhu antara dalam rumah kaca dengan luar rumah kaca dapat mencapai 3ºC–6ºC dengan suhu luar berkisar 27ºC– 34.5ºC dan suhu dalam berkisar 30.5ºC-40.5ºC (Gambar Lampiran 1). Kondisi ini dimungkinkan mempengaruhi pembentukan daun pada percobaan II sehingga hasilnya lebih beragam dari percobaan I.

Inkubasi kapur yang digunakan dalam penelitian dilakukan selama 1 minggu, hal ini yang menyebabkan suhu tanah menjadi meningkat dan upaya meningkatkan kelembaban tidak dilakukan sehingga pembentukan daun dimungkinkan menjadi terhambat. Penyiraman juga menjadi faktor yang menghambat pembentukan daun, hal ini disebabkan oleh interval penyiraman dan jumlah air yang diberikan tidak seimbang sehingga turut meningkatkan suhu dan menurunkan kelembaban tanah.

Penyiraman pada percobaan I dilakukan sebanyak 500 ml/2 hari dan percobaan II sebanyak 1 250 ml/4 hari. Pada percobaan I diperoleh hasil bahwa jumlah air yang diberikan berkisar 8.72 mm/hari atau 785 mm selama pertumbuhan (3 bulan) sedangkan pada percobaan II jumlah air yang diberikan sebanyak 2.73 mm/hari atau 245.31 mm selama pertumbuhannya (Tabel Lampiran 21). Hal ini menunjukkan bahwa, pada percobaan II air menjadi faktor

28

penghambat pertumbuhan tanaman karena jumlah air yang diberikan di percobaan II 1/3 kali lebih sedikit dibandingkan dengan air yang diberikan pada percobaan I.

Gambar 3. Grafik Intensitas Cahaya Lingkungan Penelitian a) Dalam Rumah Kaca b) Luar Rumah Kaca 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 8 10 12 14 In te n si ta s C ah ay a (L u x ) Waktu 1 MST 2 MST 7 MST 8 MST 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 8 10 12 14 Int ens it as C aha ya ( L ux) Waktu 1 MST 2 MST 7 MST 8 MST

a

b

Lebar daun

Peubah lebar daun pada percobaan I memperlihatkan nilai yang berbeda nyata dengan taraf 1% pada perlakuan jenis kompos dan perlakuan dosis kompos tidak berpengaruh nyata sedangkan percobaan II memiliki hasil yang tidak berbeda nyata baik pada perlakuan dosis kompos maupun jenis kompos. Keterkaitan hubungan antara dosis kompos dan jenis kompos menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata baik pada percobaan I maupun percobaan II (Tabel Lampiran 3).

Pada percobaan I, lebar daun terbesar terdapat pada perlakuan dosis 30 ton/ha dengan 3.71 cm dan percobaan II lebar daun terbesar terdapat pada dosis kompos 20 ton/ha dengan 3.13 cm dan urutan kedua dosis D3 3.12 cm sedangkan lebar daun terkecil pada percobaan I dan II terdapat pada perlakuan D1 yaitu 3.43 cm dan 2.43 cm. Pada percobaan I, lebar daun terbesar ada pada kompos K1B0 dengan rataan 4.08 cm dan terrendah 3.15 cm (K0B1) sedangkan percobaan II nilai rataan lebar daun terbesar ada pada kompos K1B1 (3.57 cm) dan terrendah pada kompos K0B4 dengan 2.40 cm (Tabel 5).

Pemberian kompos dengan dosis 10 ton/ha (D1), 20 ton/ha (D2), dan 30 ton/ha (D3) memberikan lebar daun berkisar antara 3–4 cm dalam percobaan I dan 2-3 cm pada percobaan II. Begitupula untuk perlakuan jenis kompos mampu memberikan lebar daun sebesar 3-4 cm pada percobaan I dan 2-4 cm pada percobaan II. Lebar daun pada kompos yang ditambahkan pupuk kandang terlihat tidak terlalu berbeda jauh hasilnya dengan yang tanpa ditambahkan pupuk kandang dan hal ini juga ditunjukkan dengan hasil rataan lebar daun pada kompos yang ditambahkan biodekomposer tidak terlalu berbeda jauh nilainya dengan tanpa biodekomposer.

Tabel 1 menunjukkan bahwa lebar daun tanaman pada polibag perlakuan kontrol tanah memiliki nilai sebesar 2.68 cm untuk percobaan I dan 1.43 cm untuk percobaan II. Berdasarkan hasil pada tabel 5 bahwa pada percobaan I, pemberian kompos K1B0 dapat meningkatkan lebar daun sebesar 2 cm dan pemberian kompos K1B1 pada percobaan II juga mampu meningkatkan lebar daun 2 cm. Aplikasi kompos sebanyak 30 ton/ha pada percobaan I meningkatkan lebar daun

30

sebesar 1-2 cm sedangkan pada percobaan II dosis D2 dan D3 dapat menambah lebar daun sebesar 2 cm.

Tabel 5. Lebar dan Panjang Daun pada Perlakuan Dosis dan Jenis Kompos

Perlakuan

Lebar Daun Panjang Daun

Perc. I Perc. II Perc. I Perc. II Dosis Kompos …..cm….. …..cm….. …..cm….. …..cm…..

D1 3.43a 2.43b 60.95a 53.79b

D2 3.65a 3.13a 63.73a 62.21a

D3 3.71a 3.12a 63.10a 59.16a

Jenis Kompos

K0B0 3.39bc 2.72ab 60.35bc 53.69b

K0B1 3.15c 2.96ab 55.26c 58.01ab

K0B2 3.66abc 3.09ab 64.17ab 65.61a

K0B3 3.32bc 2.53b 60.08bc 55.23ab

K0B4 3.26c 2.40b 54.69c 54.10b

K1B0 4.08a 3.21ab 69.81a 62.76ab

K1B1 4.06a 3.57a 67.97a 65.46a

K1B2 3.49bc 2.77ab 63.63ab 56.02ab

K1B3 3.85ab 3.27ab 67.04ab 60.48ab

K1B4 3.72abc 2.41b 62.91ab 52.50b

(Dosis * Jenis) Kompos tn tn tn tn

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5%

Panjang Daun

Peubah panjang daun pada percobaan I memperlihatkan nilai yang berbeda nyata dengan taraf 1% untuk perlakuan jenis kompos dan perlakuan dosis kompos tidak berpengaruh nyata sedangkan percobaan II memiliki hasil yang berbeda nyata pada perlakuan jenis kompos dan berbeda sangat nyata untuk perlakuan dosis kompos. Keterkaitan hubungan antara dosis kompos dan jenis kompos menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata baik pada percobaan I maupun percobaan II (Tabel Lampiran 3).

Pada percobaan I, daun terpanjang terdapat pada dosis D2 (63.73 cm) dan jenis kompos K1B0 dengan rataan 69.81 cm dan yang terendah dosis D1 (60.95 cm) dan jenis kompos K0B4 dengan rataan 54.69 cm sedangkan panjang daun terbesar pada percobaan II yaitu 20 ton/ha (62.21 cm) dan jenis kompos K0B2

dengan 65.61 cm dan terkecil terdapat pada dosis D1 (53.79 cm) dan jenis kompos K1B4 dengan rataan 52.50 cm (Tabel 5).

Pemberian kompos dengan dosis 10 ton/ha (D1) memberikan kisaran panjang daun sebesar 60-61 cm pada percobaan I dan percobaan II hanya mampu menghasilkan panjang daun berkisar antara 53-54 cm. Dosis 20 ton/ha (D2) memiliki panjang daun 63-64 cm percobaan I dan percobaan II hanya memiliki panjang daun kisaran 62 cm, sedangkan dosis 30 ton/ha (D3) memberikan panjang daun hanya berkisar 59 cm dalam percobaan II dan pada percobaan II dapat mencapai panjang daun 63 cm . Biodekomposer mdec memberikan pertumbuhan panjang daun yang kurang optimum baik dengan adanya penambahan pupuk kandang (K1B4) maupun tanpa penambahan pupuk kandang (K0B4) karena pada K0B4 dan K1B4 memberikan panjang daun terendah.

Tabel 1 menunjukkan bahwa panjang daun tanaman pada polibag perlakuan kontrol tanah memiliki nilai sebesar 49.14 cm untuk percobaan I dan 30.28 cm untuk percobaan II. Berdasarkan hasil pada tabel 5 bahwa pada percobaan I, pemberian kompos K1B0 dapat meningkatkan panjang daun sebesar 20 cm dan pemberian kompos K0B2 pada percobaan II mampu meningkatkan panjang daun sampai 35 cm. Aplikasi kompos sebanyak 20 ton/ha pada percobaan I meningkatkan panjang daun sebesar 14 cm sedangkan pada percobaan II dosis D2 dapat menambah panjang daun sebesar 32 cm.

Lebar dan panjang daun merupakan komponen pengamatan daun yang penting dalam pertumbuhan tanaman. Permukaan daun yang lebar dan panjang mampu menyerap jumlah cahaya yang cukup banyak sehingga dapat meningkatkan kegiatan fotosintesis. Ntar (1992) menerangkan bahwa kegiatan fotosintesis tergantung pada kapasitas penerimaan organ tertentu sebagai contoh penyerapan cahaya oleh daun.

Pertumbuhan daun juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pertanaman. Menurut Tisdale et al., (1985) pemanjangan daun terjadi karena ada tingkat kepekaan terhadap kekurangan air dan akan berhenti sebelum persediaan air tanah habis terpakai dan Leiwakabessy (1988) menyatakan bahwa terhambatnya aktivitas organ tanaman bagian atas karena adanya gangguan translokasi air dan

Dalam dokumen RESPON TANAMAN JAGUNG (Halaman 32-78)

Dokumen terkait