• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Sistem Kepercayaan Pernikahan

DALAM NOVEL PEREMPUAN BERNAMA ARJUNA 4 (SEBUAH PENDEKATAN KRITIK SOSIALKULTURAL)

HASIL DAN PEMBAHASAN Sistem Kepercayaan Pernikahan

Dalam novel Perempuan Bernama Arjuna 4, masyarakat Batak memiliki kepercayaan terhadap tradisi acara pernikahan, yakni kata-kata dan proses yang harus diikuti dengan baik dan tidak boleh dilanggar.

“Harus ada tanda ikatan yang disepakati dua belah pihak calon mempelai, yaitu memberi dan menerima tanda burja. Itu adalah benda yang diikat dengan barang mahal, misalnya emas, serta ulos, dan gajut...(Sylado, 2016: 61)”.

Berdasarkan kutipan tersebut, dapat diketahui bahwa masyarakat Batak memiliki tradisi khas dalam upacara pernikahan, yakni mengikat benda dengan barang yang mahal. Secara tidak langsung, mereka telah berinteraksi dengan benda itu. Namun, ketika pihak lelaki tidak sanggup memberikan burja dengan barang mahal, maka dapat dilakukan negosiasi dengan keluarga pihak perempuan. Hanya saja, ketika diperoleh kesepakatan bersama, maka pihak lelaki harus mampu komitmen memberikan apa yang sudah ditawar diawal.

“Uang mahar itu dalam bahasa Batak disebut sinamot. Pada dasarnya, dalam kata sinamot itu, orang percaya, waris tradisi lama, bahwa dalam keyakinan ada kekuatan spritual yang luar biasa. Pada saat acara ini dilangsungkan, ada juru bicara masing-masing dari kedua pihak yang menyambungkan kata-kata.” Ujar Nadeak (PBA4: 62)

Masyarakat Batak mempercayai tradisi lama, bahwa dalam uang mahar atau sinamot terdapat kekuatan spritual. Mereka percaya sekaligus melaksanakannya sebagai tradisi,

117

karena uang mahar yang diberikan oleh pihak laki-laki merupakan sesuatu yang sakral. sehingga orang-orang Batak mengharuskan adanya uang mahar agar pernikahan kedua pasangan terjauh dari musibah. Dalam hal ini, secara tidak langsung masyarakat Batak berinteraksi dengan uang mahar itu sebagai penolak bala atau kesengsaraan. Dalam hal ini, proses penerimaan dan pemberian uang mahar akan diwakilkan oleh juru bicara dari pihak masing-masing.

“ Dasarnya dilaraskan dengan pengetahuan Dalihan na Tolu, prinsipnya, tidak boleh ada perkawinan semarga. Masalahnya, nanti ketika pihak istri, misalnya menjadi

hula-hula, yaitu keluarga yang menjadin tinggi, fungsi boru sebagai anggota keluarga yang kawin dengan putri semarga, akan hilang, dan hak boru akan menjadi dongan sebutuhan dengan hula-hula tersebut.” Kata Regina (PBA4, 59-60)

Dalam pernikahan masyarakat Batak, mereka mempunyai komitmen tidak dibolehkan menikah dengan semarga, hal ini karena mereka mempercayai akan terjadi musibah, itu merupakan perbuatan cela, dan dapat mengubah status marga keluarga salah satu pihak. Jika itu dilanggar, maka orang yang melakukan dapat diusir dari kampung halaman. Dalam hal ini, masyarakat Batak telah melakukan interaksi dengan warisan berupa pengetahuan yang sudah menjadi sistem kepercayaan bersama.

“Percakapan kedua belah pihak dilangsungkan dengan sastra lisan berupa pantun-pantun kebajikan, yang dalam segi-segi tertentu memiliki bobot magis dari sisa tradisi animis...” Kata Nadeak (PBA4, 62)

Tokoh Nadeak menjelaskan Masyarakat Batak memiliki kepercayaan bahwa pantun-pantun yang disampaikan secara bergantian dalam proses pernikahan memiliki bobot magis. Pantun-pantun itu merupakan serangkaian dalam proses pernikahan yang tidak boleh ditinggalkan atau dilewatkan, karena dalam pantun-pantun itu tersimpan kekuatan yang tidak terlihat, kekuatan yang mengantarkan pada kebahagiaan pasangan pengantin. Oleh sebab itu, pantun-pantun yang memiliki daya magis ini, disampaikan oleh raja parhata sebagai wakil dari masing-masing keluarga pengantin yang tentunya memiliki pemahaman dengan adat ini.

“Lebih dulu pihak boru harus menyediakan piring yang ditaruh di atasnya sedikit beras dan sirih. Piring itu disebut pinggan panungkun” (PBA4, 63)

Berdasarkan kutipan di atas, sistem kepercayaan yang dimiliki masyarakat Batak adalah harus menyediakan piring yang berisi sedikit beras dan sirih. Piring yang berisi sedikit beras dan sirih tidak semata-mata hanya sebagai simbol, tetapi terdapat makna yang berisi pengharapan untuk pasangan pengantin yakni supaya pencaharian mereka semakin baik dan keturunannya kuat dan kukuh. Oleh sebab itu, proses menyediakan piring berisi beras dan sirih merupakan keharusan, karena tidak mahal dilihat dari segi benda-bendanya.

Sistem Kepercayaan Kematian

Dalam novel Perempuan Bernama Arjuna 4, masyarakat Batak memiliki sistem kepercayaan terhadap kematian. Dalam hal ini, terdapat benda-benda tertentu yang digunakan untuk mengiringi kematian. Di samping itu, ada hal-hal yang harus dilakukan oleh masyarakat setempat ketika menghormati perkabungan tetangga atau keluarga sendiri.

118

“Dalam adat Batak, menyangkut itu, mesti dilihat dulu penjenisan kematiannya.” (PBA4, 123)

“Dalam penjenisan ini, dimaksudkan bahwa jenazah ditutup oleh ulos, yang dilakukan oleh seorang tulang, yaitu saudara laki-laki ibu atau paman dari pihak ibu.” (PBA4, 124)

Dari kutipan di atas, dapat diketahui bersama bahwa orang yang mati atau meninggal, dilihat dulu penjenisan kematiannya, apakah anak-anak, orang dewasa atau orang yang sudah sangat tua, bahkan penjenisan ini dapat dilihat dari segi apakah orang yang meninggal sudah menikah, pernah menikah, atau masih belum menikah, karena setiap tingkatan umur dan status orang yang meninggal akan berbeda perlakuannya. Pada kutipan selanjutnya, diperjelas bahwa penjenisan yang dilakukan adalah untuk menenukan ulos (kain tenunan) yang akan menjadi penutup orang yang telah meninggal. Ulos akan dilakukan oleh pihak dari ibu. Penjenisan kematian dan bentuk ulos yang akan dipakai merupakan bentuk interaksi masyarakat Batak terhadap adat dan kepercayaan yang sudah turun-temurun.

“Ketika orang menyanyikan andungandung di rumah duka, maka adatnya mereka patut memakai ulos khusus bernama ulos tongar tuna.” (PBA4, 126-127)

Berdasarkan kutipan di atas, masyarakat Batak memakai ulos khsusus ketika menyanyikan andungandung di rumah duka. Ulos tongar tuna sebagai bentuk interaksi masyarakat Batak ketika ada kematian keluarganya. Dalam hal ini, ulos tungar tuna patut dipakai masyarakat Batak sebagai wujud rasa duka terhadap malapetaka atau musibah yang menimpa keluarga. Masyarakat Batak patut menyesuaikan ulos sesuai dengan corak perkabungannya, jika tidak memakai ulos yang sesuai, maka tidak diperoleh corak perkabungannya.

Sistem Kepercayaan kekerabatan Batak

Dalam novel Perempuan Bernama Arjuna 4 dikenal adanya hubungan kekeluargaan dalam masyarakat adat Batak dan hubungan ini sudah menjadi warisan pemikiran secara turun temurun. Hubungan kekeluargaan sebagai bentuk kekerabatan antar keluarga yang ditandai dengan tiga unsur hubungan.

“Harfiahnya ‘tiga tungku sejerangan’. Dalihan na Tolu diterangkan sebagai ‘tungku nan tiga’, yaitu tiga unsur yang merupakan asas hubungan kekeluargaan dalam adat Batak. Masing-masing istilahnya:

1. Toba: dongan sabutuha, boru, dan hula-hula.

2. Angkola/Mandailing: kahanggi, anakboru, dan mora. 3. Simalungun: senina, anakboru, dan tondong.

4. Dairi: dengan sebeltek, berru, dan kula-kula.

5. Karo: senina, anak boru, dan kalimbubu (PBA4, 29)

Berdasarkan kutipan di atas, secara kebahasaan terlihat berbeda, tetapi intinya dalam kebudayaan terlihat sama. Artinya, semua orang Batak adalah serumpun senenek moyang. Dalam hal ini, nama-nama kekerabatan di atas menjadi warisan masyarakat Batak yang masih dipegang sampai sekarang ini, mereka dapat mengetahui hubungan dengan orang lain dengan nama tersebut, karena itulah yang menggambarkan kekhasan daerah Batak.

119

“Marga itu adalah nama suatu keluarga besar. Di masyarakat Batak, lazim orang mengajukan pertanyaan akan siapa nama marganya untuk menentukan ada tidaknya hubungan keluarga.” (PBA4, 30)

Dari kutipan di atas, masyarakat Batak mempunyai marga yang harus disertakan setelah nama dirinya. Nama tersebut menjadi tanda pengenal asal-usul keluarga. Marga ini menjadi ciri khas masyarakat Batak dengan daerah lainnya, masyarakat Batak pun telah menggunakan marga sebagai jati dirinya. Marga sebagai wujud kepercayaan masyarakat Batak yang bersifat nonfisik. Hingga sampai saat ini, masyarakat Batak tidak meninggalkan marga itu dan sudah menjadi warisan turun temurun.

Sistem Kepercayaan Kesenian

Dalam novel Perempuan Bernama Arjuna 4, terdapat beberapa kesenian yang menjadi kepercayaan masyarakat Batak. Dalam hal ini, kesenian yang menjadi kepercayaan masyarakat Batak terlihat pada beberapa intrumen yang dianggap memiliki kekuatan magis yang digunakan dalam upacara adat.

“Menurut kepercayaan lama, bunyi ogung memiliki daya magis yang luar biasa. Sekaligus dipercaya, bahwa para penabuhnya itu memiliki juga kekuatan berlandas supranatural yang sanggup melakukan tindakan-tindakan dahsyat terhadap kehidupan insani. Kehebatan para penabuh itupun dipercaya turun dari roh-roh tertentu yang ada dijagat raya.” (PBA4, 121)

Dari kutipan di atas, ogung merupakan salah satu intrumen khas Batak yang biasa dipakai dalam upacara adat. Bunyi yang dihasilkan dari ogung memiliki daya magis, selain bunyinya yang memiliki daya magis, penabuhnya pun memiliki kekuatan supranatural. Berlandaskan kekuatan tersebut, penabuh dapat melakukan tindakan-tindakan diluar tindakan orang pada umumnya, karena masyarakat Batak percaya bahwa para penabuh mendapat keistimewaan kekuatan yang diturunkan oleh roh jagat raya. Masyarakat Batak berinteraksi dengan instumen tersebut dalam upacara adat, karena kekuatan magis yang dihasilkan dari alat tersebut, selain sebagai alat seni, tetapi memiliki nilai magis yang dahsyat.

“Yang sepenuhnya merupakan piranti magis adalah jenis seruling bambu bernama

sordam. Di kalangan animis zaman dulu, instrumen sordam dibunyikan untuk memanggil roh orang mati, roh para leluhur yang diharapkan hadir di jisim yang kasatmata.” (hal.122)

Dari kutipan di atas, seruling bambu atau sordam dalam bahasa Batak merupakan salah satu instrumen yang digunakan oleh masyarakat Batak dalam upacara-upacara adatnya. Sordam tidak hanya sekedar sebagai alat pengiring dalam upacar adat masyarakat Batak. Akan tetapi, dalam bunyi yang dihasilkan dari seruling bambu tersebut memiliki daya magis seperti ogung. Daya magis ini dapat memanggil roh orang mati, masyarakat Batak menggunakannya, karena dengan bunyi yang dihasilkan diharapkan dapat hadir roh leluhur dalam upacara yang sedang dilaksanakan.

“Sedang andungandung adalah nyanyian perkabungan waris kebudayaan lama yang bersinambung dari leluri animis...” (PBA4, 123)

120

Berdasarkan kutipan di atas, dalam upacara adat, masyarakat Batak menyanyikan sebuah lagu yang disebut andungandung. Nyanyian ini merupakan nyanyian perkabungan yang harus dinyanyikan, karena waris kebudayaan yang di dalamnya mengandung makna dan kekuatan magis. Masyarakat Batak menyanyikannya sebagai wujud belasungkawa kepada orang yang telah meninggal. Andungandung ini sastra lama yang mesti ditafsir dulu, karena makna-maknanya yang tersirat. Oleh sebab itu, orang yang menyanyikan andungandung adalah orang yang berbakat seni.

KESIMPULAN

Berdasarkan paparan sebelumnya dapat disimplkan sebagai berikut.

1. Gambaran sistem kepercayaan masyarakat Batak dalam novel Perempuan Bernama Arjuna 4 dapat dilihat dalam kepercayaan masyarakat Batak dan interaksinya terhadap proses pernikahan. Dalam hal ini, terdapat kepercayaan tertentu yang harus ditaati oleh masyarakat Batak ketika proses pernikahan dan di dalamnya terdapat kekuatan magis. 2. Kepercayaan masyarakat Batak terhadap kematian yang memiliki kekuatan magis dan

interaksi mereka terhadap benda-benda tertentu.

3. Kepercayaan masyarakat Batak terhadap kekerabatan yaitu percaya bahwa perbedaan nama kekerabatan, tetapi tetap serumpun dan dibalik nama unsur kekeraban terdapat makna yang sangat mendalam.Sehingga, nama unsur kekerabatan tidak boleh ditinggalkan.

4. Kepercayaan masyarakat Batak terhadap kesenian yaitu mereka percaya pada beberapa instrumen yang digunakan sebagai pengiring musik dalam upacara adat yang bunyinya menghasilkan daya magis.

DAFTAR PUSTAKA

Dirgantara, Yuana Agus. 2012. Pelangi Bahasa Sastra dan Budaya Indonesia. Yogyakarta: Garudhawaca.

Effendi, Djohan. 2009. Merayakan Kebebasan Beragama: Bunga Rampai. Jakarta: ICRP bekerja sama dengan Kompas.

Endraswara, Suwardi. 2013. Metodologi Kritik Sastra. Yogyakarta: Ombak.

Jabrohim (Ed.). 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya bekerja sama dengan Masyakarat Poetika Indonesia.

Liliweri, Alo. 2002. Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LkiS. Mahayana, Maman. 2015. Kitab Kritik Sastra. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Saputra, Anwar. 2010. Kearifan Lokal yang Terkandung dalam Upacara Tradisional

Kepercayaan Masyarakat Sakai-Riau. Tanjungpinang: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional.

Sarinah. 2016. Ilmu Sosial Budaya Dasar (di Perguruan Tinggi). Yogyakarta: Deepublish. Siswanto, Wahyudi. 2013. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Grasindo.

Sumarsono.1998. Budaya Masyarakat Pebatasan (Studi tentang Corak dan Pola Sosial pada Masyarakat Kecamatan Langensari Provinsi Jawa Barat). Jakarta: CV. Bupara Nugraha.

121

KRITIK SOSIAL PADA MASYARAKAT MENENGAH KE BAWAH