• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Sosio Demografi Keluarga

Interaksi Sosial Kehidupan Masyarakat

HASIL DAN PEMBAHASAN Sosio Demografi Keluarga

Pendidikan Suami

Menurut teori human capital, kualitas sumberdaya manusia selain ditentukan oleh tingkat kesehatan juga ditentukan tingkat pendidikan. Pendidikan dipandang tidak hanya dapat menambah pengetahuan tetapi dapat juga meningkatkan keterampilan (keahlian) tenaga kerja sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan produktivitas. Produktivitas di satu pihak dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan dilain pihak dapat meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan penduduk. Berarti terjadi korelasi positif antara tingkat pendidikan dengan produktivitas kerja. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka produktivitas tenaga kerja semakin tinggi dan sebaliknya, semakin rendah tingkat pendidikan yang ditamatkan maka produktivitas kerja semakin rendah. Dengan demikian, tingkat pendidikan berkaitan erat dengan lapangan pekerjaan dan jabatan yang disandangkannya. Artinya, semakin baik lapangan pekerjaan dan jabatan yang dimiliki maka tingkat pendapatan yang diperoleh juga baik, dan sebaliknya. Hal ini sejalan dengankebijakan pemerintah (GBHN, 2004) bahwa keberhasilan pembangunan dapat dirasakan dalam berbagai sektor seperti pendidikan, taraf hidup, dan pekerjaan. Keberhasilan itu dapat dicapai antara lain dengan memanfaatkan jumlah penduduk yang besar melalui peningkatan usaha pembinaan, pengembangan dan potensi sumberdaya manusia, terutama dengan memperluas fasilitas dan meningkatkan mutu pendidikan.

Hal tersebut sejalan dengan Ananta, dan Hatmadji (Suandi dan Ernawati, 2005) bahwa tingkat pendidikan merupakan salah satu tolok ukur yang sering digunakan untuk mengukur tingkat kemajuan suatu daerah atau masyarakat. Pendidikan tidak hanya mencerdaskan kehidupan masyarakat yang bersangkutan, melainkan juga meningkatkan mutu masyarakat tersebut. Dengan mutu yang tinggi dan baik, jumlah penduduk tidak lagi merupakan beban atau tanggungan masyarakat melainkan sebagai modal atau aset pembangunan. Disisi lain, tingkat pendidikan dapat berpengaruh dalam keterampilan teknis dan kecerdasan akademis untuk memenuhi kecukupan pangan, penciptaan lapangan kerja baru

yang produktif serta dapat mengembangkan dan mengelola sumberdaya manusia (human resources) itu sendiri (Sumitro: Suandi dan Ernawati, 2005).

Hasil pengumpulan data lapang, ternyata persentase terbesar (48,9 %) kepala keluarga (suami) memiliki pendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah. Artinya, mayoritas responden belum mencapai tingkat pendidikan dasar yang digariskan oleh pemerintah yaitu pendidikan 9 tahun. Padahal tingkat pendidikan cukup berperan dalam kelancaran penerimaan dan menjalankan teknologi baru termasuk teknologi pertanian. Apabila dilihat berdasarkan wilayah penelitian, ternyata tingkat pendidikan responden terendah terdapat di wilayah pesisir pantai dengan persentase responden yang berpendidikan Sekolah Dasar kebawah mencapai 53,6 persen, sedangkan di wilayah pegunungan hanya 44,8 persen. Lebih memprihatinkan lagi, dimana responden di wilayah pesisir pantai ini persetase yang berpendidikan tidak tamat Sekolah Dasar mencapai 29,1 persen. Hal ini dikhawatirkan dalam pengembangan sumberdaya manusia dan pembangunan daerah kedepan karena tingkat pendidikan yang rendah ini menjadi beban pemerintah kalau tidak diantisipasi dan melakukan berbagai terebosan pembangunan demi kamajuan masyarakat dan daerah.

Menurut Walker (Suandi dan Ernawati, 2005), pendidikan merupakan proses pengembangan pengetahuan, keterampilan, maupun sikap seseorang yang dilaksanakan secara terencana sehingga diperoleh perubahan-perubahan dalam meningkatkan taraf hidup. Dalam pembangunan pertanian, wawasan dan pandangan seseorang diartikan sebagai cara seseorang merespon suatu inovasi pertanian dan membangun gagasan dalam perencanaan usahatani. Dengan demikian, pengukuran tingkat pendidikan sangat bermanfaat dalam memprediksi kondisi wawasan pengetahuan dalam asas pemikiran petani terhadap inovasi dan proses adopsi yang menyertai inovasi tersebut. Oleh karena itu, tingkat pendidikan yang relatif baik (tinggi) diharapkan dapat membantu dalam upaya pemberdayaan masyarakat pertanian melalui upaya pembangunan pertanian secara menyeluruh.

Tabel 25 menunjukkan bahwa pada umumnya tingkat pendidikan masyarakat relatif rendah. Dengan kondisi demikian, tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat secara formal tergolong rendah termasuk kedalam tata

cara pengelolaan rumahtangga. Padahal menurut Mubyarto (1992), bahwa tingkat pendidikan masyarakat perdesaan akan mempengaruhi cara berpikir dalam pengelolaan usahataninya terutama kemampuan manajemen, penerimaan inovasi baru dan pengambilan keputusan dalam memperhitungkan produktifitas usaha tani mereka.

Tabel 25 Sebaran Contoh Berdasarkan Tingkat Pendidikan Suami, 2006 Sebaran Contoh Wilayah Pegunungan Wilayah Pesisir Pantai T o t a l No Tingkat pendidikan Suami

Jumlah Persen Jumlah Persen Jumlah Persen

01 Tidak Tamat SD 19 10.9 44 29.1 63 19.4

02 Sekolah Dasar 59 33.9 37 24.5 96 29.5

03 SLTP 58 33.3 55 36.4 113 34.8

04 SLTA+ 38 21.8 15 9.9 53 16.3

- T o t a l 174 100.0 151 100.0 325 100,0

Artinya, semakin tinggi tingkat pendidikan petani maka penyerapan informasi atau inovasi baru akan lebih mudah dengan tingkat interaksi yang lebih cepat dibandingkan dengan petani yang tingkat pendidikan relatif lebih rendah. Disisi lain, tinggi rendah tingkat pendidikan seseorang mempengaruhi pilihan lapangan pekerjaan yang diminati atau ditekuni. Semakin rendah tingkat pendidikan maka mereka lebih cenderung memilih pekerjaan yang tidak memerlukan penanganan yang lebih rumit atau tingkat keterampilan tinggi dan sebaliknya.

Pendidikan Non Formal

Tingkat pendidikan non formal suami (responden) atau kepala keluarga diambil dari banyak dan lamanya menekuni pendidikan non formal baik pada bidang keahlian maupun mendapat pendidikan atau pelatihan pada bidang lain sehingga dalam pengkategorian ada yang disebut dengan mereka yang sangat sering mengikuti pendidikan, sering mengikuti pendidikan, kurang mengikuti pendidikan, dan tidak pernah mengikuti pendidikan non formal. Berdasarkan hasil

pengumpulan data melalui wawancara dan pengamatan lapangan diperoleh informasi bahwa rata-rata suami atau kepala keluarga keterlibatan mengikuti pendidikan non formal tergolong relatif rendah. Hal ini dapat dibuktikan melalui distribusi data responden yang berdasarkan jumlah pendidikan non formal yang diikuti, hampir 80,3 persen responden tergolong pada kelompok kurang mengikuti pendidikan non formal. Tabel 26 juga menginformasikan bahwa lebih dari 56 persen responden tergolong kepada kelompok yang tidak pernah sama sekali mengikuti pendidikan non formal (tidak memiliki keterampilan). Dengan arti kata, responden di daerah penelitian mayoritas tidak/belum pernah menerima pendidikan ataupun pelatihan dari istansi pemerintah/swasta baik pada bidang yang ditekuni maupun profesi lainnya. Tabel 26 Sebaran Contoh Berdasarkan Tingkat Pendidikan Non Formal Suami,

Tahun 2006 Sebaran Contoh Wilayah Pegunungan Wilayah Pesisir pantai T o t a l No Pendidikan Non

Formal yang diikuti

Suami Jumlah Persen Jumlah Persen Jumlah Persen

01 Tidak pernah mengikuti pendidikan 84 48.3 101 66.9 185 56.9 02 Kurang mengikuti pendidikan 37 21.3 39 25.8 76 23.4 03 Sering mengikuti pendidikan 29 16.7 9 6.0 38 11.7 04 Sangat sering mengikuti pendidikan 24 13.8 2 1.3 26 8.0 - T o t a l 174 100.0 151 100.0 325 100,00

Apabila dibedakan berdasarkan wilayah penelitian, tampaknya hampir di kedua wilayah ini memiliki tingkat keterampilan responden yang rendah tetapi berdasarkan data yang ada ternyata persentase terbesar responden yang tidak memiliki tingkat keterampilan yaitu responden yang berada di wilayah pesisir pantai yaitu sekitar 66,9 persen, sedangkan responden di wilayah pegunungan yang tidak terampil sebanyak 48,3 persen. Bagi responden yang memiliki keterampilan khususnya responden yang berada di daerah perdesaan pegunungan tampaknya sebagian besar mengikuti pendidikan atau pelatihan di bidang pertanian yang dimotori oleh Dinas Pertanian Kabupaten dan Dinas Pertanian Provinsi, sedangkan keterampilan lain yang dimiliki responden di wilayah

pegunungan yaitu mengikuti pelatihan di bidang teknik “las karbit” yang dilaksanakan oleh Departeme n Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kerinci.

Rendahnya tingkat keterampilan suami di daerah penelitian akan berdampak kepada kesejahteraan keluarga dan pembangunan daerah apalagi diperparah dengan rendahnya tingkat pendidikan formal yang dimiliki. Menurut hemat peneliti, perlu ada tindakan nyata “action” oleh pemerintah setempat kepada masyarakat secara umum dan responden khususnya dalam berbagai pemberdayaan baik secara kelompok maupun massal. Dengan harapan, semakin tinggi tingkat keterampilan masyarakat maka akan berpengaruh pada produktivitas kerja sehingga pada gilirannya akan berdampak pada naiknya pendapatan.

Tingkat Beban Ketergantungan Keluarga

Beban Ketergantungan (dependency ratio) merupakan perbandingan atau ratio antara jumlah anggota keluarga yang produktif dengan jumlah anggota keluarga yang belum dan tidak produktif dalam memberi nafkah untuk keperluan keluarga. Beban Ketergantungan (dependency ratio) diambil dari data komposisi keluarga menurut kelompok umur 14 tahun ke bawah (kelompok umur belum produktif), kelompok umur antara 15-64 tahun (kelompok umur produktif) dan kelompok umur 65 tahun keatas (kelompok umur tidak produktif).

Menurut Shryock dan Siegel (1976; 113), data tentang komposisi keluarga berdasarkan kelompok umur sanga t besar manfaatnya dalam berbagai perencanaan pembangunan terutama yang berkaitan dengan jasa dan lembaga kemasyarakatan, seperti: kecukupan akan sekolah, guru, fasilitas kesehatan, pangan dan perumahan. Kemudian, Kasto, (1995;7) melihat bahwa variabel umur sangat erat kaitannya dengan mortalitas, fertilitas dan mobilitas penduduk. Oleh karena itu, komposisi penduduk dapat dilihat hubungannya dengan kecukupan (penduduk sebagai beban) dan sumberdaya (tenaga kerja) dalam proses pembangunan.

Berdasarkan pernyataan diatas, tampaknya bahwa komposisi penduduk atau rumahtangga berdasarkan kelompok umur, salah satu variabel yang perlu diketahui adalah kelompok umur penduduk sebagai beban (belum dan atau tidak produktif) dan sumbedaya (produktif). Dengan kata lain melihat perbandingan antara penduduk produktif dengan penduduk yang belum dan atau tidak produktif. Mengingat besar kecilnya persentase penduduk yang produktif dengan penduduk belum dan atau tidak produktif akan menentukan besar kecilnya beban tanggungan penduduk yang bersangkutan dan tingkat kemajuan pembangunan suatu kelompok masyarakat. Perbandingan antara penduduk produktif dengan penduduk yang belum dan atau tidak produktif akan ditentukan oleh nilai atau ukuran Beban Ketergantungan (dependency ratio). Artinya, semakin besar jumlah penduduk yang belum dan atau tidak produktif maka nilai Dependency Ratio semakin besar. Dengan arti kata, penduduk produktif akan menanggung beban bagi kelompok penduduk yang belum dan atau tidak produktif untuk kecukupan mereka baik sebagai kecukupan pokok, seperti: kecukupan pangan, sandang, papan maupun kecukupan lainnya. Namun demikian, sebelum mempelajari tingkat Beban Ketergantungan (Dependency Ratio) penduduk, terlebih dahulu harus mengetahui komposisi penduduk (posisi penduduk muda atau tua) dengan jalan melihat persentase antara kelompok umur penduduk di bawah 15 tahun dan persentase kelompok umur di atas 64 tahun.

Komposisi penduduk suatu daerah dapat dikatakan muda atau tua menurut Shryrock dan Siegel (1976: 202) dapat ditentukan melalui nilai persentase penduduk yang berumur di bawah 15 tahun, 65 tahun ke atas dan rasio antara penduduk yang berumur 65 tahun ke atas dengan penduduk yang berumur di bawah 15 tahun. Apabila persentase penduduk umur di bawah 15 tahun lebih dari 40 persen, umur 65 tahun kurang dari 5 persen dengan rasio penduduk umur 65 ke atas dengan penduduk umur di bawah 15 tahun kurang dari 15 persen maka struktur penduduk tersebut tergolong “muda” atau dikenal dengan istilah struktur penduduk yang bersifat exspansive (Tabel 27). Apabila persentase penduduk umur di bawah 15 tahun kurang dari 30 persen, umur 65 tahun lebih dari 10 persen dengan rasio penduduk umur 65 ke atas dengan penduduk umur di bawah 15 tahun lebih dari 30 persen maka struktur pend uduk tersebut tergolong “tua”.

Tabel 27 Sebaran Contoh Berdasarkan Kelompok Umur Terpilih, 2006 Sebaran Contoh Wilayah Pegunungan Wilayah Pesisir pantai T o t a l No Kelompok Umur Terpilih

(tahun)

Jumlah Persen Jumlah Persen Jumlah Persen 01 Kelompok Umur Belum

Produktif (0-14) 267 34,8 227 32,5 494 33,7

02 KelompokUmur

Produktif (15-64) 479 62,5 466 66,8 945 64,5

03 Kelompok Umur Tidak

Produktif (>65) 21 2,7 5 0,7 26 1,8

- T o t a l 767 100,0 698 100,0 1.465 100,00

Data lapangan menunjukkan bahwa komposisi penduduk responden di daerah penelitian menurut struktur umur penduduk masih tergolong muda namun hampir menuju pada struktur penduduk tua. Hal ini ditandai dengan persentase penduduk usia di bawah 15 tahun masih diatas angka 30 persen (33,7 %) dengan jumlah penduduk yang berumur di atas 65 tahun atau umur tidak produktif sebesar 1,8 persen. Hal senada juga ditunjukkan oleh kelompok umur yang ada di wilayah pegunungan dan wilayah pesisir pantai dengan nilai tidak jauh berbeda satu dengan lainnya.

Dari data komposisi penduduk berdasarkan persentase penduduk muda dan tua akan dapat menentukan nilai dari beban ketergantungan suatu kelompok penduduk tersebut. Kalau kelompok umur 0-14 tahun dianggap sebagai kelompok penduduk yang belum produktif secara ekonomis, kelompok penduduk 15-64 tahun sebagai kelompok penduduk produktif, dan kelompok penduduk umur 65 tahun ke atas sebagai kelompok penduduk yang tidak produktif maka beban ketergantungan (dependency ratio) penduduk produktif di daerah penelitian sebesar 55 (Tabel 28).

Tabel 28 Sebaran Contoh BerdasarkanTingkat Beban Ketergantungan Keluarga, Tahun 2006 Sebaran Contoh Wilayah Pegunungan Wilayah Pesisir pantai T o t a l No Tingkat Beban Ketergantungan

Jumlah Persen Jumlah Persen Jumlah Persen 01 Beban Tanggungan sangat kecil (0-24 %) 23 13.2 25 16.6 48 14,8 02 Beban Tanggungan kecil (25-49 %) 36 20.7 42 27.8 78 24.0 03 Beban Tanggungan besar (50-74 %) 62 35.6 40 26.5 102 31,4 04 Beban Tanggungan sangat besar ( > 75 %) 53 30.5 44 29.1 97 29,8 - T o t a l 174 100.0 151 100.0 325 100,0 - Rata-rata (%) 60 50 55

Artinya, dalam 100 orang usia produktif dari keluarga-keluarga contoh di daerah penelitian menanggung beban 55 orang yang berusia belum dan tidak produktif untuk kecukupan konsumtif. Hal ini mengindikasikan bahwa beban tanggungan bagi anggota keluarga usia produktif di daerah penelitian masih tergolong besar walaupun nilai beban ketergantungan ini lebih kecil dibandingkan dengan nilai rasio ketergantungan Propinsi Jambi tahun 2003 (56), dan bahkan nasional (Suandi, dan Bambang, 2003: 17).

Angka beban ketergantungan tenaga kerja belum dan atau tidak produktif terhadap tenaga kerja produktif di daerah penelitian jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan batas angka beban ketergantungan di Negara- negara berkembang (60) (Shryrock dan Siegel (1976:202). Relatif rendahnya tingkat ketergantungan penduduk belum dan tidak produktif terhadap penduduk produktif dapat mendorong terhadap kemajuan pembangunan selanjutnya. Mengingat tingginya angka rasio beban tanggungan sebagai faktor penghambat pembangunan ekonomi karena sebagian dari pendapatan yang diperolah dari golongan yang produktif terpaksa harus dikeluarkan untuk memenuhi kecukupan

mereka yang belum produktif untuk kecukupan akan pangan, fasilitas pendidikan dan fasilitas lainnya (Mantra, 2000:92).

Manajemen Sumberdaya Keluarga

Kata manajemen berasal dari kata manage, sedangkan kata manage dalam buku ”Webster’s New Collegiate Dictionary” berasal dari bahasa Italia ”maneggio”, sedangkan maneggio berasal dari bahasa Latin yaitu ”manus” artinya tangan (Siagian, 1998:9). Selanjutnya dijelaskan bahwa istilah manajemen adalah ”the act or act of managing, conduct, direction, and control” (tindakan atau seni mengatur, membimbing, mengarahkan dan memantau). Menurut Terry (Siagian, 1996), manajemen adalah upaya mencapai tujuan dengan menggunakan tangan orang lain.

Berkenaan dengan istilah keluarga, menurut Burgers dan Locke (Guhardja S et al., 1992), keluarga adalah sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat yang anggotanya terikat oleh adanya hubungan perkawinan (suami+isteri) serta hubungan darah (anak kandung) atau adopsi (anak pungut). Apabila dilihat dari konsep sistem, keluarga adalah suatu sistem yang seperti sistem lainnya yang terdiri dari elemen-elemen yang saling berhubungan. Menurut Parsons (1965), sistem keluarga memiliki tiga elemen utama, yakni: (1) status sosial, (2) fungsi sosial, dan (3) norma sosial yang saling berhubungan satu sama lainnya (interralated). Hubungan antar elemen untuk mewujudkan satu fungsi tertentu terjadi, dan tidak saja bersifat alami tetapi juga dibentuk oleh berbagai faktor atau kekuatan yang ada disekitar keluarga seperti nilai- nilai atau norma serta faktor- faktor lain yang ada di masyarakat.

Menurut Parsons (Megawangi, 2001:66), konsep pokok keluarga adalah solidaritas. Maksud dari solidaritas dalam keluarga yaitu saling mau menerima, merasa memiliki sebagai anggota dari sebuah sistem, dimana mereka saling bergantung satu sama lain, mereka saling percaya untuk memenuhi keinginan bersama sehingga ketentraman dan keharmonisan keluarga tercapai. Setiap anggota keluarga percaya bahwa solidaritas keluarga merupakan landasan untuk dapat menumbuhkan solidaritas dan kepercayaan kepada masyarakat yang lebih luas. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya individualisme dalam keluarga

dan masyarakat, kelompok konservatif memiliki norma bersama terhadap peraturan perilaku (behavior). Keputusan yang harus diambil mengarah pada kepentingan bersama dengan tidak menghilangkan hak azasi manusia sebagai makhluk sosial dengan melakukan berbagai penyesuaian. Pendapat Parson ini banyak di dukung oleh ahli-ahli agama yang ada didunia ini terutama yang berkaitan dengan institusi perkawinan dan tanggung jawab.

Implikasinya dalam kehidupan bermasyarakat, keluarga layaknya seperti organisme hidup. Ia diibaratkan hewan berdarah panas yang dapat memelihara temperatur tubuhnya agar tetap konstan walaup un kondisi lingkungan berubah. Parsonnian melihat bahwa institusi keluarga tidak statis, sebaliknya keluarga sangat tanggap terhadap perkembangan atau perubahan lingkungan, artinya keluarga selalu dapat beradaptasi secara mulus menghadapi perubahan lingkungan atau disebut dengan istilah keseimbangan dinamis (dynamic equilibrium).

Fungsi keluarga adalah bertanggung jawab dalam menjaga, menumbuhkan dan mengembangkan anggota-anggotanya. Dengan demikian pemenuhan kebutuhan-kebutuhan untuk mampu bertahan, tumbuh dan berkembang perlu pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan formal, informal dan non formal Dalam pengembangan sumberdaya manusia, keluarga diperlukan baik sebagai unit pusat produksi maupun sebagai unit pusat konsumsi. Sebagai unit produksi, keluarga mengartikuasikan relasi pasar dan non pasar. Dalam konteks masyarakat madani, terdapat sebuah gagasan yang mengedepankan peran masyarakat yang terbentuk dari keluarga. Keluarga dalam susbsistem masyarakat juga tidak akan lepas dari interaksi dengan subsistem-subsistem lainnya yang ada dalam masyarakat, misalnya sistem ekono mi, politik, pendidikan dan agama. Dengan adanya interaksi subsistem-subsistem tersebut, keluarga berfungsi untuk memelihara keseimbangan sosial dalam masyarakat (equilibrium state).

Konsep Sumberdaya: sebagai alat atau bahan yang tersedia dan diketahui potensinya untuk memenuhi keinginan (Guhardja S et al., 1992). Sumberdaya ini tidak selalu bersifat langka tetapi dapat pula bersifat melimpah. Sumberdaya yang melimpah memudahkan dalam memenuhi keinginan dan sebaliknya. Klasifikasi sumberdaya berdasarkan jenisnya, yaitu: (1) sumberdaya manusia, (2)

sumberdaya non manusia/materi (benda/barang), dan (3) sumberdaya waktu dan energi. Sumberdaya manusia meliputi: (1) Ciri pribadi/personal, dan (2) ciri interpersonal. Adapun yang dimaksud dengan ciri pribadi adalah pengetahuan (cognitive), perasaan (affective) dan ketrampilan (psichomotoric), derajat kesehatan, bakat, tingkat intelegensia, minat dan sensitivitas (kepekaan). Adapun yang dimaksud dengan ciri interpersonal, meliputi: jalinan hubungan antar manusia dalam bentuk kerjasama, gotong royong, keintiman, dan keterbukaan atau ketertutupan.

Sumberdaya materi terdiri dari: (1) benda-benda/barang-barang, dan (2) jasa yang berguna bagi manusia. Kemudian, ada sumberdaya waktu dan energi. Waktu merupakan sumberdaya yang unik, karena jumlahnya tidak dapat ditambah, dikurangi, diakumulasi atau disimpan dan jumlahnya sama bagi setiap orang yaitu 24 jam sehari. Adapun energi dapat berupa sumberdaya manusia maupun sumberdaya non manusia.

Berdasarkan nilai ekonomi, ada sumberdaya ekonomi dan sumberdaya non-ekonomi. Sumberdaya ekonomi, dicirikan oleh kelangkaan sumberdaya tersebut sehingga dapat dipertukarkan dan dapat diukur untuk keperluan proses produksi dan distribusi termasuk pekerjaan rumahtangga. Sumberdaya non- ekono mi, cirinya dengan jumlah relatif tak terbatas dan tidak dapat dipertahankan serta sulit diukur, contoh, kasih sayang, dan lain- lain. Namun nilai ekonomi sumberdaya dapat berbeda berdasarkan tempat. Berdasarkan asal/letak dapat dibagi dua, yaitu: (1) sumberdaya lingkungan mikro/internal, dan (2) sumberdaya lingkungan makro/ekternal.

Pengukuran-pengukuran sumberdaya diperlukan untuk memudahkan dalam perbandingan serta pengalokasian sumberdaya, maka dibutuhkan suatu dasar umum dalam pengukuran suatu sumberdaya. Ada dua alat ukur sumberdaya, yakni: (1) uang, dan (2) waktu. Uang dapat menilai harga barang/jasa serta dapat mengukur potensi manusia seperti pengetahuan dan ketrampilan. Kemudian, hasil suatu pekerjaan dapat diukur melalui waktu.

Seperti pada umumnya suatu sistem, sistem keluarga dalam memenuhi fungsinya menerima masukan (input) yang berupa: materi, energi, dan informasi yang memasuki sistem keluarga yang diklasifikasikan sebagai sumberdaya dan

kebutuhan. Dalam keluarga, sumberdaya ini digunakan dalam rangka memenuhi kebutuhan. Sumberdaya yang telah digunakan ini akan keluar dari sistem keluarga sebagai output dan masuk sebagai input ke dalam sistem lingkungan. Kebutuhan merupakan “input” yang nenumbuhkan rangsangan, motivasi, dan arti pada kegiatan yang berlangsung di dalam sistem. Proses perubahan “input” dari materi, energi dan informasi menjadi “outpout” disebut througput atau trans formasi.

Berkenaan dengan tujuan penelitian ini yaitu tentang keterkaitan manajemen sumberdaya keluarga dengan tingkat kesejahteraan maka sumberdaya yang di pakai sebagai variabel penelitian atau loading variabel dari manajemen adalah (1) manajemen sumberdaya waktu, (2) manajemen anggota keluarga, dan (3) manajemen keuangan keluarga.

Untuk mendapat variabel sumberdaya keluarga dalam satu kesatuan yang utuh maka perlu penggunaan sumberdaya keluarga dalam usaha atau proses mencapai sesuatu yang dianggap penting oleh keluarga. Hasil dari penggunaan sumberdaya diharapkan lebih baik dari pengorbanan (Guhardja S et al., 1992). Secara implisit dapat dijelaskan bahwa manajemen sumberdaya keluarga dapat dilihat dari dua pendekatan, pertama: manajemen sumberdaya keluarga terfokus pada pengalokasian tenaga dan waktu sesuai dengan peran anggota keluarga, dan pendekatan kedua bahwa manajemen sumberdaya keluarga dilihat dari proses dan manfaat dari sumberdaya itu sendiri. Sehubungan dengan itu, sesuai dengan tujuan penelitian maka penelitian ini menggunakan pendekatan kedua, yaitu melihat manajemen sumberdaya berdasarkan proses dan manfaat sumberdaya itu sendiri.

Seperti terlihat pada Tabel 29, bahwa rata-rata tingkat manajemen sumberdaya keluarga di daerah penelitian tergolong baik karena lebih dari 60 persen kelompok responden tergolong pada kelompok dengan tingkat pengelolaan sumberdaya keluarga secara keseluruhan termasuk baik dan sangat baik. Tingginya persentase manajemen sumberdaya keluarga di daerah penelitian terlihat dari persentase manajemen pemanfaatan waktu, manajemen anggota keluarga dan manajemen keuangan. Namun, apabila di kelompok berdasarkan daerah penelitian tampaknya persentase responden dalam mengelola sumberdaya keluarga yang relatif lebih baik terdapat di wilayah pegunungan yaitu mencapai

70 persen lebih, sedangkan persentase responden dalam mengelola sumberdaya keluarga di wilayah pesisir pantai yang termasuk baik dan sangat baik hanya sekitar 43 persen. Terdapatnya perbedaan tingkat pengelolaan sumberdaya keluarga di daerah penelitian ini tampaknya akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan keluarga.

Tabel 29 Sebaran Contoh Berdasarkan Manajemen Sumberdaya Keluarga, Tahun 2006 Sebaran Contoh Wilayah pegunungan Wilayah pesisir pantai Total No Manajemen Sumberdaya Keluarga

Jumlah Persen Jumlah Persen Jumlah Persen

01 Sangat Kurang 17 9.8 25 16.6 42 12.9

02 Kurang 30 17.2 56 37.1 86 26.5

03 Baik 77 44.3 50 33.1 127 39.1

04 Sangat Baik 50 28.7 20 13.2 70 21.5

- T o t a l 174 100.0 151 100.0 325 100.0

Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa tingginya tingkat pengelolaan sumberdaya keluarga di wilayah pegunungan tidak terlepas dari kerjasama anggota keluarga terutama antara isteri dan suami. Hasil indepth interview denga n salah seorang isteri keluarga contoh yaitu ibu Nurwati, bahwa di keluarga mereka terutama dalam masalah konsumsi keluarga baik konsumsi pangan, konsumsi non pangan, dan bahkan investasi pendidikan dan kesehatan selalu dilakukan secara bersama-sama antara isteri dengan suami dan kadang- kadang ibu Nurwati dan suaminya minta informasi kepada anak-anak khususnya

Dokumen terkait