Kuadran II Strategi Diversifikasi
5 HASIL DAN PEMBAHASAN
Komoditas Unggulan
Pengembangan komoditas unggulan daerah merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pendapatan daerah dan pendapatan masyarakat. Penetapan komoditas unggulan daerah dengan metode yang sesuai sangat diperlukan agar pemanfaatan sumber daya pertanian lebih efektif dan efisien.
Untuk menentukan komoditas tanaman pangan yang menjadi unggulan di Kabupaten Bone dilakukan dengan menggunakan beberapa alat analisis yaitu analisis Location Quotient (LQ), analisis rataan luas panen dan analisis permintaan. Dari setiap alat analisis, dibuat skala prioritas pemilihan komoditas tanaman pangan. Hasil dari ketiga analisis tersebut kemudian di ranking menggunakan analisis MCDM dengan metode TOPSIS.
Komoditas Basis
Komoditas basis adalah komoditas dengan nilai LQ yang lebih besar dari 1. Nilai LQ yang lebih besar menunjukkan kemampuan suatu sub-wilayah untuk memproduksi komoditas tertentu dan kemampuan mensuplai ke wilayah lain (Hendayana 2003). Hal ini disebabkan karena komoditas dengan nilai LQ lebih dari satu memiliki pangsa relatif lebih besar dibandingkan dengan produksi komoditas di wilayah lain. Dalam penelitian ini dilakukan analisis terhadap 7 (tujuh) jenis komoditas yang tersebar di 27 kecamatan meliputi komoditas padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kedelai dan kacang hijau. Hasil analisis LQ terhadap tujuh komoditas pertanian tanaman pangan di Kabupaten Bone disajikan pada Tabel 15.
Tabel 15 Nilai LQ per Komoditas Setiap Kecamatan Tahun 2011
No Kecamatan
LQ Luas Panen
Padi Jagung Ubi
kayu Ubi jalar Kacang tanah Kedelai kacang hijau 1 Bontocani 1.07 0.55 1.21 0.57 2.88 1.09 1.00 2 Kahu 1.23 0.34 0.51 0.42 0.97 0.81 0.31 3 Kajuara 0.84 1.18 1.98 2.93 7.47 0.00 0.00 4 Salomekko 1.16 0.54 1.21 1.24 0.41 0.00 1.61 5 Tonra 1.19 0.43 1.19 1.29 0.00 0.00 1.99 6 Patimpeng 0.81 1.23 0.88 1.09 3.09 0.41 2.99 7 Libureng 1.07 0.60 0.39 0.28 1.19 2.81 0.20 8 Mare 1.26 0.46 1.60 1.98 0.00 0.00 0.20 9 Sibulue 1.21 0.42 0.44 0.40 1.66 0.60 0.08 10 Cina 1.13 0.76 1.18 1.06 0.35 1.06 0.07 11 Barebbo 0.88 1.41 0.40 0.33 0.07 2.11 0.68 12 Ponre 0.69 1.62 2.72 2.52 0.29 4.85 0.14 13 Lappariaja 0.84 1.14 0.81 0.93 0.93 3.69 1.00 14 Lamuru 0.89 1.31 3.22 5.62 0.34 1.00 1.03 15 Tellulimpoe 0.96 0.96 2.82 1.30 3.86 0.11 0.93
Tabel 15 (Lanjutan) 16 Bengo 1.25 0.27 0.91 0.28 0.38 1.39 0.06 17 Ulaweng 0.71 2.42 0.85 1.06 0.00 0.13 0.21 18 Palakka 0.92 1.15 1.94 1.35 0.80 2.64 0.14 19 Awangpone 1.15 0.49 0.30 0.75 0.03 0.14 2.51 20 Tellu Siattinge 0.66 1.93 0.99 1.17 0.30 0.00 4.11 21 Amali 0.15 3.59 3.34 1.50 0.18 0.00 4.60 22 Ajangale 1.00 1.35 0.42 0.37 0.87 0.00 0.16 23 Dua Boccoe 1.01 1.32 0.28 0.43 0.09 0.05 0.56 24 Cenrana 1.40 0.03 0.42 0.77 0.07 0.00 0.02
25 Tanete Riattang Barat 1.12 0.51 1.48 2.00 0.61 1.94 0.52
26 Tanete Riattang 1.06 0.46 1.16 1.63 0.56 3.65 0.51
27 Tanete Riattang Timur 1.28 0.13 0.34 0.25 0.00 1.91 0.11
Jumlah Kecamatan LQ>1 15 12 13 15 6 11 7
Peringkat 1 3 2 1 6 4 5
Hasil analisis LQ pada Tabel 15 menunjukkan bahwa komoditas padi dan ubi jalar merupakan komoditas basis yang paling sering menjadi komoditas basis kecamatan yaitu di 15 kecamatan, diikuti oleh ubi kayu di 13 kecamatan, jagung di 12 kecamatan, kedelai di 11 kecamatan, kacang hijau di 7 kecamatan dan kacang tanah di 6 kecamatan.
Dilihat dari kisaran nilainya, nilai LQ>1 untuk padi sawah berkisar antara 1,01 sampai 1,40. Nilai LQ padi sawah tertinggi terdapat di Kecamatan Cenrana dan terendah di Kecamatan Dua boccoe, padahal total panen padi sawah di Kecamatan Dua boccoe lebih tinggi dibanding Kecamatan Cenrana, yaitu 9.479 ha berbanding 6.610 ha. Begitupun juga dengan Kecamatan Tanete Riattang Timur yang luas panennya hanya 2.946 ha namun memiliki nilai LQ yang cukup tinggi yaitu 1,28. Hal tersebut berdasarkan pada pengertian LQ yang merupakan pembagian antara luas panen padi kecamatan dengan jumlah luas panen komoditas tanaman pangan kecamatan dibandingkan dengan pembagian luas panen padi kabupaten dengan luas panen komoditas tanaman pangan kabupaten. Nilai LQ yang tinggi bukan mencerminkan areal panen yang luas, tetapi merupakan cerminan nilai relatif terhadap rasio antar pangsa komoditas dalam suatu wilayah.
Komoditas jagung, kacang hijau dan ubi kayu memiliki nilai LQ yang tinggi, dengan nilai masing-masing 3,59, 4,60 dan 3,34 yang ketiganya berada di Kecamatan Amali. Nilai LQ untuk ubi jalar yang paling tinggi berada di Kecamatan Lamuru dengan nilai 5,62. Kacang tanah tertinggi berada di Kecamatan Kajuara dengan nilai LQ 7,47. Untuk komoditas kedelai, LQ tertinggi adalah 4,85 yang berada di Kecamatan Ponre.
Nilai LQ>1 dapat menjadi parameter komoditas unggulan berdasarkan luas panen. Nilai LQ>1 suatu komoditas menunjukan kemampuan suatu wilayah/daerah dalam memenuhi kebutuhan wilayahnya dan kebutuhan wilayah lain karena surplus produksi. Hal sesuai dengan penyataan Hendayana (2003), areal panen merupakan resultante kesesuaian tumbuh tanaman dengan kondisi agroekologi yang secara implisit mencakup unsur-unsur (peubah) iklim, fisiografi
41
dan jenis tanah. Hal ini ini menunjukkan bahwa secara agregat di wilayah kecamatan tersebut menghasilkan surplus produksi yang memungkinkan untuk mengekspor surplus keluar wilayah yang pada akhirnya meningkatkan penghasilan wilayah tersebut.
Rata-rata Luas Panen
Analisis rataan luas panen dilakukan berdasarkan data luas panen komoditas tanaman pangan tahun 2007 – 2011 dengan menghitung nilai rataan luas panen. Rataan luas panen menggambarkan tingkat aktivitas budidaya tanaman pangan. Semakin tinggi luas panen suatu komoditas maka semakin tinggi aktivitas budidaya komoditas yang dilakukan petani. Hal ini berarti komoditas yang memiliki luasan panen yang luas lebih banyak diusahakan dan disukai masyarakat. Nilai rata-rata luas panen tanaman pangan disajikan pada Tabel 16.
Tabel 16 Luas Panen dan Rata-rata Luas Panen Komoditas Tanaman Pangan Kabupaten Bone Tahun 2007 - 2011
Komoditas Luas Panen (ha)
Tren Perkem bangan Pering-kat 2007 2008 2009 2010 2011 Rata-rata + - Padi 117.066 130.503 139.918 141.931 140.644 134.012 √ - 1 Jagung 40.370 41.313 50.215 45.745 39.634 43.455 √ - 2 Ubi Kayu 663 615 583 815 911 717 √ - 5 Ubi Jalar 321 445 457 667 733 525 √ - 6 Kacang Tanah 12.846 13.815 9.594 12.545 4.126 10.585 - √ 7 Kedelai 4.791 5.980 10.150 12.358 6.648 7.985 √ - 3 Kacang Hijau 2.805 2.503 1.455 2.867 6.629 3.252 √ - 4
Sumber : BPS Kabupaten Bone (2012)
Data luas panen menunjukkan bahwa komoditas yang memiliki luas panen yang dominan atau yang paling banyak dibudidayakan selama lima tahun adalah padi dengan rata-rata luas panen 134.012 ha, diikuti komoditas jagung dengan luas panen 43.455 ha dan berikutnya kacang tanah dengan luas panen 10.585 ha. Namun luas panen ini belum merupakan peringkat dari komoditas tanaman pangan, karena peringkat komoditas selain berdasarkan rataan luas panen, juga sebaiknya didukung dengan tren perkembangan meningkat (positif) luas panen komoditas tanaman pangan tersebut.
Berdasarkan Tabel 16, maka peringkat komoditas tanaman pangan dilihat dari rataan luas panen dan didukung dari tren perkembangan luas panen (Lampiran 1) maka secara berurutan dari peringkat tertinggi adalah padi diikuti jagung, kedelai, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar dan kacang tanah. Kacang tanah memiliki luas panen yang cukup besar namun berada di peringkat terendah karena tren perkembangannya menurun jika dibandingkan dengan komoditas lain yang luas panennya lebih kecil.
Ketersediaan dan Konsumsi Pangan (Permintaan)
Komoditas yang mengalami surplus ketersediaan menunjukkan bahwa komoditas tersebut selain mampu memenuhi kebutuhan domestik juga dapat diekspor keluar kabupaten. Bagi komoditas yang mengalami kondisi minus produksi maka untuk memenuhi kebutuhan domestik/ konsumsi masyarakat dilakukan mekanisme impor dari wilayah lain.
Untuk mengetahui tingkat ketersediaan dan konsumsi pangan, dilakukan analisis permintaan berdasarkan data ketersediaan dan konsumsi bahan pangan Kabupaten Bone. Analisis data menunjukkan hampir semua komoditas tanaman pangan mengalami surplus kecuali ubi kayu. Surplus terbesar ditunjukkan komoditas padi dengan jumlah 372.617 ton yang didapat dari hasil konversi gabah ke beras. Surplus berikutnya adalah komoditas jagung sebesar 172.895 ton dan kedelai sebesar 9.623 ton. Hasil selengkapnya dari analisis permintaan disajikan pada Tabel 17.
Tabel 17 Ketersediaan dan Konsumsi Bahan Pangan Kabupaten Bone Tahun 2011 Komoditas Luas Tanam (Ha) Produksi (Ton) Tersedia (Ton) Jumlah Penduduk (Jiwa) Konsumsi Per Kapita (Kg/Kap/ Th) Total Kon-sumsi (Ton) Surplus/ Minus Keterse-diaan Pering-kat Padi/ Beras 151.463 817.871 459.576 724.905 119,96 86.960 372.617 1 Jagung 55.371 197.707 174.852 724.905 2,7 1.957 172.895 2 Ubi Kayu 1.043 9.002 7.652 724.905 17,6 12.758 -5.107 7 Ubi Jalar 813 6.097 5.365 724.905 1,4 1.015 4.350 6 Kacang Tanah 8.733 6.643 5.612 724.905 0,7 507 5.105 5 Kedelai 9.329 11.938 10.927 724.905 1,8 1.305 9.623 3 Kacang Hijau 7.703 8.820 8.010 724.905 0,6 435 7.575 4
Berdasarkan data Tabel 17 tersebut maka urutan peringkat komoditas tanaman pangan berdasarkan surplus produksi adalah padi/beras, jagung, kedelai, kacang hijau, kacang tanah, ubi jalar dan ubi kayu.
Komoditas Unggulan
Penetapan komoditas unggulan dilakukan dengan menggunakan analisis MCDM-Topsis. Analisis ini bertujuan untuk menentukan peringkat atau ranking dari tujuh komoditas pertanian tanaman pangan yang ada sehingga didapatkan tiga komoditas dengan rangking tertinggi sebagai komoditas unggulan. Analisis dilakukan berdasarkan hasil tiga analisis sebelumnya yaitu nilai LQ, rataan panen dan permintaan. Komoditas yang menjadi unggulan adalah tiga komoditas yang mempunyai nilai RUV tertinggi. Hasil analisis MCDM dengan metode TOPSIS tertera pada Tabel 18 dan Gambar 11.
Tabel 18 Urutan Peringkat Pemilihan Komoditas Unggulan Tanaman Pangan dengan Metode TOPSIS
Komoditas Peringkat RUV* Peringkat LQ Rataan Panen Permintaan Padi 1 1 1 1,00000 1 Jagung 3 2 2 0,75202 2 Kedelai 4 3 3 0,58604 3 Ubi Jalar 1 6 6 0,43827 4 Kacang Hijau 5 4 4 0,42099 5 Ubi Kayu 2 5 7 0,39260 6 Kacang Tanah 6 7 5 0,18234 7
43
Gambar 11 Urutan Pemilihan Komoditas Unggulan Tanaman Pangan Berdasarkan Tabel 18 dan Gambar 11 dapat diketahui bahwa nilai RUV padi lebih besar dari pada nilai RUV komoditas lain. Ini menunjukkan bahwa peringkat pertama dari komoditas tanaman pangan di Kabupaten Bone adalah padi, selanjutnya berturut-turut adalah jagung, kedelai, ubi jalar, kacang hijau, ubi kayu dan terakhir kacang tanah. Dari hasil ini maka diperoleh tiga komoditas yang memiliki peringkat teratas, yang ditetapkan sebagai komoditas yang menjadi unggulan yaitu komoditas padi, jagung dan kedelai. Ketiga komoditas tanaman pangan terpilih kemudian dianalisa lebih lanjut untuk melihat arahan dan strategi pengembangannya di wilayah Kabupaten Bone.
Selain ketiga komoditas yang telah ditetapkan sebagai komoditas unggulan daerah, komoditas ubi kayu yang minus produksi perlu mendapatkan perhatian tersendiri dari pemerintah daerah untuk dikembangkan dalam memenuhi konsumsi lokal masyarakat. Komoditas ubi kayu dapat menjadi pangan alternatif selain komoditas padi/beras.
Minusnya produksi komoditas ubi kayu salah satunya disebabkan masyarakat lebih berminat memilih membudidayakan komoditas tanaman pangan yang lain. Hal ini terlihat dari luas tanam komoditas ubi kayu yang lebih rendah yaitu seluas 1.043 ha, jika dibandingkan dengan komoditas tanaman pangan yang lain seperti padi, jagung, kedelai, kacang tanah dan kacang hijau sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 17 terdahulu.
Untuk mendapatkan 3 komoditas tanaman pangan yang akan dikembangkan termasuk komoditas lokal maka dilakukan peringkatan dengan menggunakan analisis MCDM-Topsis dengan kriteria analisis yang telah dilakukan sebelumnya (LQ, rataan panen dan data konsumsi masyarakat). Komoditas yang terpilih adalah komoditas yang mempunyai nilai RUV yang lebih tinggi Hasil analisis MCDM dengan metode TOPSIS tertera pada Tabel 19.
0.00000 0.20000 0.40000 0.60000 0.80000 1.00000 1.20000
Padi Jagung Kedelai Kacang
Hijau
Kacang Tanah
Tabel 19 Urutan Peringkat Pemilihan Komoditas Tanaman Pangan dengan Metode TOPSIS termasuk Komoditas Lokal
Komoditas Peringkat RUV* Peringkat LQ Rataan Panen Konsumsi Padi 1 1 1 1,00000 1 Jagung 3 2 3 0,69846 2 Ubi Kayu 2 6 2 0,56068 3 Kedelai 4 4 4 0,47192 4 Ubi Jalar 1 7 5 0,44128 5 Kacang Tanah 6 3 6 0,35235 6 Kacang Hijau 5 5 7 0,21292 7
*Rank Unit Value
Dari Tabel 19 menunjukkan hasil bahwa secara lokal komoditas ubi kayu terpilih menggantikan komoditas kedelai untuk dikembangkan. Mengingat komoditas padi, jagung dan kedelai merupakan komoditas strategis nasional maka ketiga komoditas tersebut lebih dipilih diprioritaskan untuk dikembangkan dibandingkan dengan komoditas ubi kayu, sebagaimana telah ditetapkan sebagai komoditas unggulan daerah.
Ketersediaan Sarana dan Prasarana Pertanian
Berdasarkan hasil analisis skalogram, terdapat 2 kecamatan yang merupakan wilayah hirarki 1, yaitu Kecamatan Tanete Riattang dan Tanete Riattang Barat. Hal tersebut menunjukan bahwa kedua wilayah tersebut merupakan pusat pelayanan bagi wilayah di sekitarnya. Hal ini pun sesuai dengan kondisi riil bahwa keduanya merupakan kecamatan kota. Kecamatan Tanete Riattang dan Tanete Riattang Barat merupakan wilayah hirarki I menunjukkan bahwa di kedua kecamatan ini sarana prasarana pertanian lebih lengkap. Semakin tinggi hirarki wilayah, semakin lengkap jenis sarana dan prasarana yang ada di wilayah tersebut.
Wilayah hirarki 2 terdapat 8 kecamatan dan hirarki wilayah 3 terdapat 17 kecamatan. Kecamatan Bontocani, Amali, Ponre, dan Tellulimpoe merupakan kecamatan dengan jumlah jenis sarana dan prasarana paling rendah yang berada di hirarki III. Namun, jumlah jenis sarana prasarana yang banyak bukan salah satu faktor yang menentukan hirarki suatu wilayah. Kecamatan Ulaweng, meskipun memiliki jumlah jenis sarana dan prasarana pertanian yang paling banyak, yaitu 14 namun berada pada hirarki wilayah 2, karena hal ini terkait dengan indeks perkembangan kecamatan tersebut yang lebih rendah dibandingkan dengan kecamatan yang berada di hirarki I. Begitupun halnya dengan Kecamatan Bengo, meski memiliki sarana prasarana pertanian yang cukup banyak dengan 12 sarana prasarana pertanian namun berada di hirarki III, hal ini karena indeks perkembangan kecamatannya lebih rendah jika dibandingkan dengan kecamatan yang berada di hirarki II. Hasil indeks perkembangan kecamatan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 1. Peta hirarki wilayah Kabupaten Bone berdasarkan hasil analisis skalogram disajikan pada Gambar 12.
45
Gambar 12 Peta Hirarki Wilayah Kabupaten Bone
Penentuan hirarki wilayah juga ditentukan dari luas lahan pertanian yang terlayani dengan ketersediaan sarana dan prasarana pertanian di wilayah tersebut, selain dari banyaknya jenis sarana dan prasarana yang dimiliki wilayah tersebut. Hal ini terlihat pada hirarki wilayah I, dengan jumlah sarana dan prasarana yang sama, Kecamatan Tanete Riattang dan Tanete Riattang Barat berada di hirarki I karena lahan pertanian yang dilayani lebih sempit. Hirarki wilayah berdasarkan hasil analisis skalogram disajikan pada Tabel 20.
Tabel 20 Hirarki Wilayah Berdasarkan Analisis Skalogram Nama Kecamatan LQ > 1 Luas Lahan Pertanian (ha) IPK Jumlah Jenis Sarana Prasarana Hirarki
Padi Jagung Kedelai
Tanete R. Barat 1,12 0,51 1,94 3.722 29,0 13 1 Tanete Riattang 1,06 0,46 3,65 1.508 36,1 12 1 Ulaweng 0,71 0,71 0,13 5.453 21,1 14 2 Dua Boccoe 1,01 1,32 0,05 13.375 12,3 13 2 Awangpone 1,15 0,49 0,14 8.484 13,7 12 2 Palakka 0,92 1,15 2,64 9.339 13,5 11 2 Tellu Siattinge 0,66 1,93 0,00 15.039 12,0 11 2 Barebbo 0,88 1,41 2,11 7.693 16,6 10 2 Tanete R. Timur 1,28 0,13 1,91 4.143 13,4 10 2 Sibulue 1,21 0,42 0,60 13.381 10,4 10 2
Tabel 20 (Lanjutan) Nama Kecamatan LQ > 1 Luas Lahan Pertanian (ha) IPK Jumlah Jenis Sarana Prasarana Hirarki
Padi Jagung Kedelai
Bengo 1,25 0,27 1,39 15.512 10,0 12 3 Cenrana 1,40 0,03 0,00 13.972 7,8 11 3 Lappariaja 0,84 1,14 3,69 12.678 10,0 10 3 Cina 1,13 0,76 1,06 10.926 7,1 10 3 Ajangale 1,00 1,35 0,00 11.749 7,6 10 3 Libureng 1,07 0,60 2,81 30.676 4,7 10 3 Salomekko 1,16 0,54 0,00 8.185 9,0 10 3 Tonra 1,19 0,43 0,00 19.820 2,4 10 3 Amali 0,15 3,59 0,00 10.121 2,8 9 3 Kajuara 0,84 1,18 0,00 11.884 3,8 9 3 Mare 1,26 0,46 0,00 12.311 7,0 9 3 Lamuru 0,89 1,31 1,00 8.118 6,3 8 3 Kahu 1,23 0,34 0,81 16.151 4,0 8 3 Patimpeng 0,81 1,23 0,41 9.075 6,8 8 3 Ponre 0,69 1,62 4,85 28.048 1,5 7 3 Bontocani 1,07 0,55 1,09 13.76 4,8 6 3 Tellu Limpoe 0,96 0,96 0,11 29.688 1,1 5 3
Dari Tabel 20 terlihat ada perbedaan antara hirarki I, II dan beberapa wilayah hirarki III. Di satu sisi ada wilayah yang memiliki sarana dan prasarana pertanian yang lebih lengkap dengan lahan pertanian yang sempit namun di sisi lain ada wilayah dengan lahan pertanian yang sangat luas namun memiliki ketersediaan sarana dan prasarana pertanian yang sedikit. Kecamatan Kajuara, Amali, Tellulimpoe, Ponre dan Kahu memiliki lahan pertanian yang cukup luas namun tidak didukung dengan ketersediaan sarana dan prasarana pertanian yang cukup. Hal ini bisa jadi merupakan salah satu faktor yang membuat produktivitas hasil pertanian di Kabupaten Bone cenderung fluktuatif dan bahkan menurun.
Dalam kaitannya dengan pengembangan komoditas unggulan pertanian tanaman pangan, maka wilayah-wilayah produksi tanaman pangan yang berada pada hirarki wilayah III perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah agar pembangunan pertanian tetap berjalan dan merata. Hal ini berkaitan erat dengan upaya mempertahankan produktivitas pertanian tanaman pangan. Peta wilayah produksi pangan Kabupaten Bone dapat dilihat pada Gambar 13.
47
Gambar 13 Peta Wilayah Produksi Pangan Kabupaten Bone
Dari sisi sarana produksi, ketersediaan benih/bibit, pestisida/obat-obatan belum cukup tersedia untuk memenuhi kebutuhan akan sarana produksi karena kurangnya kios sarana produksi pertanian di wilayah hiraki III. Berdasarkan analisis skalogram dengan menggunakan data Potensi Desa (PODES) dapat diketahui bahwa dari 27 kecamatan hanya ada 10 kecamatan yang memiliki kios sarana produksi pertanian non KUD dan 4 kecamatan yang memiliki kios sarana produksi milik KUD. Kurangnya ketersediaan kios sarana produksi pertanian milik KUD menunjukkan bahwa peran KUD yang dikoordinasikan oleh pemerintah belum mampu memenuhi kebutuhan sarana prasarana pertanian yang dibutuhkan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa peran swasta atau usaha perseorangan lebih dominan dibandingkan dengan peran KUD yang dikoordinasikan oleh pemerintah.
Kios sarana produksi pertanian non KUD yang tersebar 10 kecamatan tersebut berjumlah 63 unit dan umumnya terdapat di wilayah hirarki II. Hanya 3 kecamatan yang memiliki kios sarana produksi non KUD yang berada di wilayah hirarki III yaitu Kecamatan Cenrana, Bengo dan Amali. Wilayah lain dengan saprodi yang cukup adalah Kecamatan Ulaweng, Tellusiattinge, Palakka, Awangpone, Cenrana dan Tanete Riattang Timur. Kios sarana produksi milik KUD umumnya berada di Kecamatan Ulaweng dan Palakka (hirarki II) dan Kecamatan Lappariaja dan Cenrana (hirarki III). Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan sarana produksi bagi komoditas pertanian cukup terbatas bagi kecamatan yang ada di wilayah hirarki III. Kebutuhan akan sarana produksi ini masih bisa diatasi jika dekat dengan wilayah hirarki yang memiliki kios sarana produksi yang cukup lengkap. Namun dari sisi ekonomi akan menambah biaya
produksi karena akses yang jauh dan merugikan petani dari segi waktu. Beberapa sarana produksi yang tidak bisa diperoleh di masing-masing kecamatan atau kecamatan tetangga biasanya dapat diperoleh di ibukota kabupaten dengan jarak tempuh rata-rata 40 – 80 Km.
Untuk sarana produksi yang lain, seperti alat dan mesin pertanian cukup tersedia karena adanya usaha pelayanan jasa alsintan (UPJA) yang sebagian besar sudah terdapat di beberapa kecamatan kecuali Kecamatan Tanete Riattang Barat, Awangpone, Palakka, Ponre, Patimpeng dan Bontocani (Lampiran 1).
Untuk pengembangan komoditas tanaman pangan perlu dipertimbangkan potensi luasan lahan pertanian yang dimiliki kecamatan tersebut dan perlunya dukungan sarana dan prasarana pertanian. Kecamatan Libureng dan Kahu memiliki potensi areal pertanian yang sangat luas yang perlu didukung dengan ketersediaan sarana dan prasarana pertanian yang cukup. Dari analisis LQ untuk komoditas padi kedua kecamatan ini g mempunyai nilai LQ>1 karena didukung dengan luas lahan yang dimiliki. Tetapi jika dibandingkan dengan kecamatan Tanete Riattang Timur yang luas lahan kecil tapi nilai LQ>1 karena didukung dengan ketersediaan sarana prasarana pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan sarana prasarana pertanian merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan hasil produksi suatu wilayah.
Untuk itu beberapa kecamatan yang harus menjadi perhatian pemerintah dalam pengembangan komoditas tanaman pangan diantaranya kecamatan Libureng, Ajangale, Ponre, Salomekko dan Kahu. Hasil ini baru merupakan hasil sementara yang selanjutnya akan dilihat wilayah mana menjadi arahan pengembangan yang disintesis dengan peta lahan sesuai dan tersedia untuk menjadi arahan pengembangan komoditas unggulan pertanian tanaman pangan di Kabupaten Bone.
Kesesuaian Lahan dan Ketersediaan Lahan Kesesuaian Lahan
Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Padi
Berdasarkan hasil analisis kelas kesesuaian lahan diperoleh hasil bahwa Kabupaten Bone memiliki kelas kesesuaian lahan yang bervariasi. Secara aktual kesesuaian lahan di Kabupaten Bone untuk komoditas padi memiliki kelas kesesuaian lahan S1 seluas 127.440 ha (27,7%) yang tersebar dibeberapa kecamatan, yaitu kecamatan Tanete Riattang, Tanete Riattang Barat, Tanete Riattang Timur, Barebbo, Awangpone, sebagian besar Cina, Bengo, Libureng, Salomekko, Amali dan Sibulue. Kelas kesesuaian lahan S2 seluas 58.517 ha (12,7%) sebagian besar terdapat di kecamatan Cenrana, Tellusiattinge, Dua Boccoe, Ajangale dan Palakka. Kelas kesesuaian lahan S3 seluas 143.320 ha (31,2%) sebagian besar terdapat di kecamatan Mare, Kajuara, Tonra, sebagian besar kecamatan Ponre, Kahu, Patimpeng dan Lamuru. Sedangkan kelas kesesuaian lahan N seluas 130.223 ha (28,3%) sebagian besar terdapat di kecamatan Bontocani, Tellulimpoe dan Ponre. Peta kesesuaian lahan dan luas lahan aktual komoditas padi disajikan pada Gambar 14 dan Tabel 21.
49
Gambar 14 Peta Kesesuaian Lahan Komoditas Padi Kabupaten Bone
Tabel 21 Luas Kesesuaian Lahan Aktual Komoditas Padi di Kabupaten Bone No Kelas Kesesuaian Lahan Luas ha % 1 S1 127.440 27,7 2 S2 58.517 12,7 3 S3 143.320 31,2 4 N 130.223 28,3 Jumlah 459.500 100,0
Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Jagung
Dari hasil analisis kesesuaian lahan untuk komoditas jagung diperoleh kelas kesesuaian lahan S1 seluas 44.366 ha (9,7%) umumnya dijumpai di Kecamatan Mare dan Tonra, dan sebagian besar tidak memiliki kesesuaian lahan S1. Kelas kesesuaian lahan S2 seluas 42.304 ha (9,2%) sebagian besar terdapat di kecamatan Awangpone, Cenrana, Tellusiattinge, Dua Boccoe, Lamuru, Libureng, Kajuara, dan Kahu dan selebihnya tersebar di kecamatan lain. Kelas kesesuaian lahan S3 seluas 242.607 ha (52,8 %) terdapat secara merata disetiap kecamatan di Kabupaten Bone. Pada kelas S3 ini hanya kecamatan Tellulimpoe yang memiliki luas wilayah yang paling kecil yaitu 848 ha. Kelas kesesuaian N seluas 130.223 ha (28,3%) sebagian besar terdapat di kecamatan Bontocani, Tellulimpoe, dan Ponre. Peta kesesuaian lahan dan luas kesesuaian lahan aktual komoditas jagung disajikan pada Gambar 15 dan Tabel 22.
Gambar 15 Peta Kesesuaian Lahan Komoditas Jagung Kabupaten Bone Tabel 22 Luas Kesesuaian Lahan Aktual Komoditas Jagung di Kabupaten Bone
No Kelas Kesesuaian Lahan Luas ha % 1 S1 44.366 9,7 2 S2 42.304 9,2 3 S3 242.607 52,8 4 N 130.223 28,3 Jumlah 459.500 100,0
Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Kedelai
Kesesuaian lahan untuk komoditas kedelai tidak diperoleh kelas kesesuaian lahan S1, yang ada hanya kesesuaian lahan S2, S3 dan N. Hal ini disebabkan karena adanya faktor pembatas curah hujan (w), dimana tidak sesuai dengan syarat tumbuh tanaman kedelai. Namun kondisi ketersediaan air ini bisa dilakukan usaha perbaikan untuk menaikkan kelas kesesuaian lahan dengan cara perbaikan sistem irigasi. Kelas kesesuaian lahan S2 seluas 87.079 ha (19,0%) yang sebagian besar terdapat di kecamatan Mare, Tonra, Kajuara, Cina, Ponre, Sibulue, sebagian kecil Tellusittinge, Lamuru, Salomekko, Cenrana, Tanete Riattang Timur dan Kahu. Kelas kesesuaian lahan S3 seluas 250.256 ha (54,5%) sebagian besar terdapat di kecamatan Ajangale, Amali, Kahu, Tanete Riattang, Tanete Riattang Timur, Tanete Riattang Barat, Bengo, Cina, Sibulue, Tellusiattinge, Ulaweng, Dua boccoe, Libureng, Patimpeng, Lappariaja dan Lamuru. Kelas kesesuaian N seluas 122.156 ha (26,6%) sebagian besar terdapat di kecamatan Bontocani,
51
Tellulimpoe, dan Ponre serta sebagian kecil di Libureng, Lamuru, Lappariaja, Ulaweng, dan Patimpeng. Peta kesesuaian lahan dan luas kesesuaian lahan aktual komoditas kedelai disajikan pada Gambar 16 dan Tabel 23.
Gambar 16 Peta Kesesuaian Lahan Komoditas Kedelai Kabupaten Bone Tabel 23 Luas Kesesuaian Lahan Aktual Komoditas Kedelai di Kabupaten Bone
No Kelas Kesesuaian Lahan Luas ha % 1 S1 0 0,0 2 S2 87.079 19,0 3 S3 250.256 54,5 4 N 122.166 26,6 Jumlah 459.500 100,0
Masing-masing kelas kesesuaian lahan di Kabupaten Bone dari kelas S2, S3 dan N umumnya dibatasi oleh faktor pembatas yang hampir sama.
Ketersediaan Lahan
Evaluasi ketersediaan lahan dilakukan dengan proses overlay peta penggunaan lahan dengan peta RTRW Kabupaten Bone. Dari hasil evaluasi tersebut diperoleh lokasi lahan yang tersedia untuk pengembangan pertanian di Kabupaten Bone. Lahan tersedia adalah lahan yang berdasarkan sifat fisiknya memiliki kriteria sesuai untuk pengembangan pertanian dan dari sisi kebijakan sesuai dengan arahan rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kabupaten Bone.