Interaksi Genetik dan Lingkungan
Hasil analisis ragam untuk semua karakter pada setiap lokasi menunjukkan bahwa semua karakter morfologi dan agronomi yang diamati menunjukkan perbedaan yang nyata. Ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan respon dari setiap varietas yang diamati. Perbedaan respon ini terjadi karena adanya pengaruh genetik dan lingkungan serta interaksi antara genetik dan lingkungan. Besarnya kontribusi antara genetik dan lingkungan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Table 2 yang dinyatakan dengan nilai heritabilitas (h2) dalam arti luas.
Tabel 2. Nilai heritabilitas pada setiap lokasi
Lokasi
Jumlah Anakan Produktif 0.890 0.766 0.922 Umur Keluar Malai (hari) 0.980 0.973 0.997
Umur Panen (hari) 0.966 0.980 0.966
Panjang Malai (cm) 0.863 0.809 0.915
Jumlah Gabah/malai (butir) 0.779 0.603 0.981
% Gabah Hampa 0.851 0.887 0.643
% Gabah berisi 0.851 0.887 0.643
Bobot 1000 Butir (g) 0.963 0.950 0.915
Produksi 0.949 0.632 0.952
Tabel 2 menunjukkan bahwa nilai heritabilitas dari semua karakter pada setiap lokasi yang diuji menunjukkan nilai yang tinggi (>0,5). Nilai ini menunjukkan bahwa ada keragaman genetik yang tinggi pada populasi akibatnya setiap varietas menunjukkan perbedaan respon terutama dalam hal respon tingkat adaptasi tanaman. Penampilan karakter yang diamati dari varietas yang diuji dapat dilihat pada Tabel 3.
Varietas Parameter
Ket: angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%
r:rendah (0 ≤ h2 ≤ 0,2 s:sedang (0,2 > h2 ≥0,5) t:tinggi (h2 > 0,5)
Tabel 3. Penampilan karakter setiap varietas pada lokasi optimal, sulfat masam dan salin
Ket: angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%
*:Varietas yang tidak terdapat pada suatu lokasi menunjukkan bahwa varietas tersebut tidak mampu beradaptasi r:rendah (0 ≤ h2 ≤ 0,2 s:sedang (0,2 > h2 ≥0,5) t:tinggi(h2>0,5)
Tabel 3 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata dari varietas yang diamati pada setiap karakter morfologi dan agronomi yang diamati pada setiap lokasi. Pada lokasi yang optimal, produksi tertinggi berturut-turut terdapat pada varietas Bernas, Hipa 8 Pioner, Hipa 7 dan Banyuasin yang keempatnya menunjukkan perbedaan yang tidak nyata. Pada lokasi Sulfat masam produksi tertinggi terdapat pada varietas Lambur, Punggur, Banyuasin dan Siak Raya yang keempatnya menunjukkan perbedaan yang tidak nyata. Pada lokasi salin, nilai produksi tertinggi berturut –turut terdapat pada varietas Martapura, Margasari, Banyuasin, Dendang yang keempatnya juga menunjukkan perbedaan yang tidak nyata. Dari hasil tersebut terlihat bahwa secara sederhana varietas memiliki adaptabilitas yang tinggi adalah Banyuasin karena varietas tersebut mampu beradaptasi pada ketiga lokasi dengan produksi yang maksimal. Pada lokasi optimal produksi tertinggi terdapat pada varietas hibrida (Bernas, Hipa 8 pioner, Hipa 7) namun ketiga varietas yang diuji tidak tumbuh pada lokasi yang marginal.
Ini menunjukkan bahwa varietas hibrida tidak mampu beradaptasi pada lahan yang marginal. (Suwarno 2002) mengemukakan agar heterosis dapat terekspresi dengan baik, padi hibrida harus ditanam di lingkungan optimal dengan teknik budi daya yang tepat. Pada lokasi yang marginal terjadi penurunan produksi jika dibandingkan dengan lahan optimal. Pada penelitian penurunan paling ekstrim terjadi pada lahan yang salin.
Nilai heritabilitas dari setiap varietas pada Tabel 3 menunjukkan nilai yang beragam. Nilai heritabilitas setiap verietas berubah pada setiap lokasi. Varietas Banyuasin pada lahan salin 0,74(t), pada lahan sulfat masam 0,35 (s) dan pada
lahan optimal 0,87 (t). Varietas Martapura pada lahan salin 0,79 (t), pada lahan sulfat masam 0,95 (t) dan pada lahan optimal 0,92 (t). Varietas Siak raya pada lahan salin 0,35 (s), pada lahan sulfat masam 0,62 (t) dan pada lahan optimal 0,89 (t). Varietas Dendang pada lahan salin 0,74 (t), pada lahan sulfat masam 0,48 (s) dan pada lan optimal 0,77(t). Varietas Margasari pada lahan salin 0,93 (t), pada lahan sufat masam 0,92 (t) dan pada lahan optimal 0,76 (t). Secara umum nilai heritabilitas setiap varietas yang mampu beradaptasi pada setiap lokasi cendrung bernilai sedang sampai tinggi. Ini menunjukan bahwa daya adaptasi tanaman tersebut sehingga mampu berproduksi pada kondisi lahan marginal lebih dipengaruhi oleh genetik tanaman. Poespodarsono (1988) menyatakan bahwa heritabilitas dengan nilai 0 berarti bahwa keragaman fenotipe hanya disebabkan oleh lingkungan, sedangkan heritabilitas dengan nilai 1 berarti keragaman fenotipe hanya disebabkan oleh genetik. Makin mendekati 1 dinyatakan heritabilitasnya makin tinggi, sebaliknya makin mendekati 0, heritabilitasnya makin rendah. Nilai ini juga memungkinkan untuk dilakukannya seleksi pada populasi yang memiliki heritabilitas tinggi. Hayward dkk., (1993) menyatakan estimasi heritabilitas dapat digunakan sebagai langkah awal pada pekerjaan seleksi terhadap populasi. Populasi dengan heritabilitas tinggi memungkinkan dilakukan seleksi, sebaliknya dengan heritabiltas rendah masih harus dilakukan penilaian pada tingkat rendahnya karena bila mendekati 0, berarti tidak akan banyak berarti pekerjaan tersebut.
Pengamatan pada karakter anatomi tanaman (kerapatan stomata) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata pada parameter kerapatan
stomata antara varietas yang ditanam dilokasi yang berbeda. Varietas yang ditanam pada lokasi optimal dan sulfat masam tidak menunjukkan perbedaan dalam hal jumlah stomata tetapi pada lahan salin terdapat perbedaan yang nyata antar varietas. Pengujian jumlah stomata berkaitan dengan proses fisiologi tanaman dalam hal fotosintesis. Hasil analisis parameter tersebut ditunjukkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Jumlah stomata, pada 3 lokasi yang diuji kadar klorofil a, b dan total pada lahan salin
Rataan 312,33b 312,53b 327,93a
Kadar klorofil a pada lokasi salin (mg/g daun) Klorofil a Klorofil b Rasio a/b total
Ket: angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama dan pada baris rataan tidak berbeda nyata menurut uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.
Tabel 4 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara jumlah stomata antara lokasi optimal dengan lokasi yang marginal berupa tanah salin dan sulfat masam. Jumlah stomata pada lahan optimal cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan lahan yang tercekam. Ini menunjukkan bahwa ada sebuah proses dalam hal adaptasi tanaman terhadap kondisi tercekam. Pada lahan salin, jumlah stomata pada varietas yang diamati menunjukkan perbedaan yang nyata antar varietas.
Jumlah stomata tertinggi terdapat pada varietas Dendang sedangkan yang terendah terdapat pada varietas Martapura. Nilai ini diduga memiliki hubungan dengan umur tanaman. Pada varietas Dendang yang memiliki jumlah stomata yang tertinggi ternyata memiliki umur tanaman yang terendah sedangkan varietas Martapura dengan jumlah stomata terendah ternyata memiliki umur tanaman paling lama. Dapat dijelaskan bahwa dengan semakin rendahnya kerapatan jumlah stomata maka memungkinkan tanaman untuk menghindar dari kondisi tercekam pada lahan salin yaitu dengan mempertahankan tekanan turgor tanaman.
Sedangkan pada tanaman dengan jumlah stomata yang tinggi, maka salah salah satu cara tanaman untuk menghadapi kondisi tercekam yaitu dengan mempersingkat masa vegetatif dan generatif tanaman.
Pengamatan pada karakter fisiologi yang meliputi kadar klorofil a, b dan total (Tabel 4) menunjukkan bahwa pada klorofil a, kadar tertinggi terdapat pada varietas Siak raya yang tidak berbeda nyata dengan Banyuasin, Dendang dan Margasari tetapi berbeda nyata dengan varietas Martapura. Hasil analisis klorofil b menunjukkan bahwa ternyata varietas Martapura yang memiliki klorofil a terendah memiliki klorofil b tertinggi, dan varietas yang memiliki klorofil b terendah yaitu varietas Margasari yang tidak berbeda nyata dengan varietas Banyuasin, Siak raya dan Dendang. Nilai ini juga diduga berhubungan dengan parameter umur keluar malai. Literatur menyebutkan bahwa tanaman yang ditanam pada kondisi tercekam (Tabel 1) seharusnya memberikan respon adaptasi yaitu dengan memperpendek umur tanaman. Akan tetapi pada penelitian ini umur tanaman semakin lama jika dibandingkan dengan deskripsi. Jadi tanaman dapat
mempertahankan proses fisiologis dengan menurunkan nisbah klorofil a/b. Hale dan Orcutt (1987) menyatakan bahwa peningkatan klorofil sangat penting sebagai daya adaptasi tanaman yaitu dengan peningkatan jumlah kloroplas per luas daun.
Salisbury dan Ross (1992) mengemukakan bahwa P680 dalam kompleks inti Fotosistem II menerima energi cahaya dengan cara resonansi induktif dari sekitar 250 molekul klorofil a dan b yang terdapat dalam jumlah yang hampir sama sedangkan kompleks inti fotosistem I menerima energi cahaya dengan cara resonansi induktif dari sekitar 100 molekul klorofil a dan b dalam perbandingan sekitar 4:1. Akmal (2008) menyatakan kekeringan (memiliki pengaruh yang hampir sama dengan cekaman salinitas) lebih mempengaruhi fotosistem II dibandingkan dengan fotosistem I pada proses fotosintesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nisbah klorofil yang terendah (lebih aktif dalam fotosistem II) adalah pada varietas martapura. Ini merupakan sebuah adaptasi tanaman untuk menghadapi kondisi tercekam dengan meningkatkan jumlah klorofil b sehingga fotositem II bisa tetap berlangsung.
Hasil analisis regresi untuk menentukan koefisien dan simpangan regresi dari varietas yang mampu bertahan pada ketiga kondisi lingkungan ditunjukkan pada Tabel 5.
Tabel 5. Nilai koefisien, simpangan regresi dan rataan 5 varietas padi.
Varietas Produksi koefisien regresi simpangan regresi
Banyuasin 4,97 1,03tn 0,03tn
Ket: *:berbeda nyata dengan 1 pada kolom koefisien regresi dan berbeda nyata dengan 0 pada kolom simpangan regresi
tn:tidak berbeda nyata dengan 1 pada kolom koefisien regresi dan tidak berbeda nyata dengan 0 pada kolom simpangan regresi
Tabel 5 dapat diinterpretasi dalam sebuah plot dua dimensi seperti yang disajikan pada Gambar 3.
Gambar 3. Interpretasi produksi dengan koefisien regresi
Eberhart dan Russel (1966) mengemukakan bahwa varietas yang stabil adalah yang memiliki koefisien regresi sama dengan satu dan simpangan regresinya tidak berbeda dengan nol. Maka Tabel 5 dan Gambar 3 dapat menjelaskan bahwa varietas Banyuasin adalah satu-satunya varietas yang stabil pada ketiga kondisi lingkungan karena memiliki koefisien regresi yang tidak berbeda dengan 1 dan simpangan regresi yang tidak berbeda dengan 0. Varietas dendang walaupun memiliki nilai koefisien regresi tidak berbeda dengan 1 tapi
dianggap tidak stabil karena memiliki simpangan regresi yang tidak sama dengan 0. Tabel 5 juga menunjukkan bahwa varietas Siak raya yang memiliki
potensi hasil sama dengan rata-rata tapi dianggap tidak stabil karena memiliki koefisien regresi berbeda dengan 1 dan simpangan regresi tidak sama dengan 0.
Berdasarkan konsep yang dikemukakan oleh Eberhart dan Russel (1966) tersebut
Koefisien regresi
Produksi
diatas, maka jika seorang pemulia melakukan seleksi berdasarkan stabilitas tanaman maka yang memungkinkan hanyalah varietas Banyuasin, sedangkan varietas yang lain akan tereliminasi. Pendekatan lain untuk mengatasi masalah ini digunakan analisis AMMI.
Analisis AMMI
Berdasarkan analisis ragam pada Tabel 6 terlihat bahwa pengaruh utama yaitu varietas dan lokasi tanam serta interaksinya memberikan pengaruh yang nyata terhadap produksi tanaman padi pada taraf nyata 5% . Hal ini menunjukkan bahwa respon gabungan dipengaruhi oleh faktor varietas dan lingkungan tanam.
Ini artinya bahwa varietas akan memberikan respon yang baik pada lingkungan tertentu, tetapi akan memberikan respon yang berbeda jika di tanam pada lingkungan yang berbeda. Berdasarkan hasil ini maka memberikan kemungkinan peluang dilakukan analisis AMMI untuk menetukan varietas yang stabil di semua lingkungan maupun varietas-varietas yang spesifik pada lingkungan tertentu. Ini menunjukkan salah satu dari kegunaan analisis AMMI yang di kemukakan oleh Gauch (1992) yaitu analisis AMMI dapat digunakan sebagai analisis pendahuluan untuk mencari model yang lebih tepat, karena jika tidak ada satupun komponen yang nyata maka pemodelan cukup dengan model aditif saja. Sebaliknya jika hanya pengaruh ganda saja yang yang nyata maka pemodelan sepenuhnya ganda berarti analisis yang tepat hanyalah analisi komponen utama saja. Sedangkan jika semua komponen interaksi nyata berarti pengaruh interaksi benar-benar sangat kompleks, tidak memungkinkan dilakukannya tanpa kehilangan informasi penting.
Berdasarkan hasil pengujian daya adaptasi pada sub bab sebelumnya, ternyata hanya 5 varietas yang mampu bertahan hidup dan berproduksi pada lokasi salin. Sehingga untuk analisis AMMI hanya digunakan 5 varietas yang mampu berproduksi. Hal ini disebabkan karena pendekatan analisis AMMI masih diterapkan pada respon tunggal yaitu tingkat produksi.
Tabel 6. Hasil analisis ragam model AMMI.
SK db JK KT F P
Ulangan 2 0,972444 0,486222 4,166485 0,05 Varietas 4 3,491111 0,872778 7,478917 0,05 Lokasi 2 30,25644 15,12822 129,6352 0,05 Interaksi (V*L) 8 8,856889 1,107111 9,486942 0,05 IAKU 1 3 6,642667 2,214222 18,97388 0,05 IAKU 2 2 1,771378 0,885689 7,589554 0,05 Simpangan 3 0,442844 0,147615 1,264926 0,15
Galat 28 3,267556 0,116698
Total terkoreksi 44 46,84444 1,064646
Tabel 6 menunjukkan banyaknya komponen yang dapat di pertimbangkan pada model AMMI terdapat dua komponen yaitu komponen ke-1 dan komponen ke-2, kontribusi ragam yang dapat di terangkan oleh masing-masing komponen utama adalah 66,44%, 23,06% dan 10,5%. Berdasarkan kontribusi keragaman tersebut dua komponen pertama memiliki peranan yang dominan dalam menerangkan keragaman pengaruh interaksi yaitu sebesar 89.5%.
Untuk melihat varietas yang stabil di semua lingkungan maupun varietas-varietas yang spesifik pada lingkungan tertentu dapat dilihat dari output dari analisis AMMI berupa biplot yang di sajikan pada Gambar 4.
Ket: V1: Banyuasin V2:Martapura V3:Siak Raya V4:Dendang V5:Margasari
Gambar 4. Biplot pengaruh interaksi Model AMMI 2 untuk data produksi (kesesuaian model 89,5%).
Gambar 4. menjelaskan bahwa keragaman pengaruh interaksi sebesar 89,5%, dan keragaman yang tidak bisa di jelaskan sebesar 10,5%. Dari gambar tersebut varietas yang stabil pada ketiga lokasi adalah varietas Banyuasin dan Dendang karena memiliki posisi yang dekat dengan sumbu utama. Varietas Margasari, spesifik untuk lokasi yang optimal, varietas Martapura spesifik untuk lokasi optimal dan salin sedangkan varietas Siak Raya spesifik untuk lokasi optimal dan sulfat masam. Berdasarkan hasil ini dapat dijelaskan bahwa varietas Banyuasin dan Dendang dapat direkomendasikan untuk ketiga jenis lokasi yang diuji. Sedangkan varietas Martapura bisa di rekomendasikan untuk lokasi yang optimal sampai mengarah ke lokasi yang sifatnya salin, dan Varietas Siak Raya bisa di rekomendasikan untuk lokasi optimal dan sulfat masam, sedangkan varietas Margasari dapat dianggap kurang stabil karena hanya spesifik untuk lokasi yang optimal. Hal ini sesuai dengan Sumertajaya (2007) yang menyatakan
salin
bahwa suatu galur dianggap stabil jika posisinya berada dekat dengan sumbu utama. Galur dianggap spesifik pada lokasi tertentu dapat dilihat melalui posisi masing-masing galur terhadap garis lokasi. Rekomendasi ini masih perlu pengujian lanjutan karena kondisi tanah salin dan sulfat masam tidak semuanya sama terutama dalam hal pH dan daya hantar listrik (DHL).
Berdasarkan penjelasan dari penggunaan analisis regresi dalam menentukan koefisien dan simpangan regresi dan penggunaan analisis AMMI, menunjukkan bahwa pada penggunaan analisis regresi hanya varietas Banyuasin yang termasuk dalam kelompok varietas yang stabil dan varietas Martapura, Margasari, Siak raya dan Dendang tidak termasuk dalam kelompok varietas yang stabil meskipun pada satu lokasi beberapa varietas diantaranya memiliki tingkat produksi yang tertinggi. Sedangkan pada analisis AMMI dapat ditentukan di lokasi mana suatu varietas dapat berproduksi dengan baik, sehingga dengan penggunaan analisis AMMI masalah tereliminasinya varietas pada analisis regresi dapat teratasi. Ini menunjukkan bahwa penggunaan analisis AMMI pada uji multilokasi lebih efektif dibandingkan dengan analisi regresi.
Analisis Lintas Lahan Optimal
Hasil analisis regresi berganda pada lahan optimal dapat dituliskan sebagai berikut:
Ŷ=22x10-14+0.02X1-0.09X2+0.17X3-0.17X4+0.13X5-0.08X8
Persamaan ini memberikan arti bahwa karakter yang diamati ada yang memberikan pengaruh positif dan negatif. Persamaan tersebut menunjukkan
bahwa parameter tinggi tanaman (X1), jumlah anakan (X2), jumlah anakan produktif (X3), umur keluar malai (X4), umur panen (X5) dan jumlah gabah hampa per malai (X8) memberikan pengaruh yang nyata terhadap produksi pada α=5%. Pengaruh ini sesuai dengan pengaruh langsung dari karakter terhadap produksi. Pengaruh total, pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung dari karakter yang diamati pada lahan optimal dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Pengaruh total, pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung dari karakter yang diamati pada lahan optimal.
Variabel
*Data dianalisis dari 18 varietas X1=tinggi tanaman
X2=jumlah anakan
X3=jumlah anakan produktif X4= umur keluar malai X5= umur panen
Tabel 7 menunjukkan bahwa terdapat pengaruh total yang bernilai positif antara karakter jumlah anakan (0,504), jumlah anakan produktif (0,586), panjang malai (0.555), jumlah gabah per malai (0,707), dan % gabah berisi (0,733) dengan produksi gabah. Dari pengaruh total tersebut ternyata terdapat beberapa karakter yang pengaruh langsungnya bernilai negatif terhadap produksi di antaranya jumlah anakan (-0,745), panjang malai, dan % gabah berisi (-9,193).
Hal ini terjadi karena pengaruh tidak langsung karakter tersebut lebih berpengaruh terhadap produksi dibanding dengan pengaruh langsungnya. Pada karakter
X6= panjang malai
X7=jumlah gabah per malai X8=% gabah hampa per malai X9= % gabah berisi per malai X10= bobot 1000 butir
jumlah anakan pengaruh tidak langsung yang paling berpengaruh adalah melalui jumlah anakan produktif (1,116). Pada karakter % gabah berisi pengaruh tidak langsung yang paling berpengaruh yaitu % gabah hampa (9,412). Karakter yang memiliki pengaruh langsung yang positif terhadap produksi yaitu tinggi tanaman (0,438), jumlah anakan produktif (1,164), umur panen (0,810) dan jumlah gabah per malai (0,154). Berdasarkan nilai pengaruh total, pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung ini maka dapat diambil beberapa karakter untuk dijadikan parameter seleksi tidak langsung pada kondisi optimal yaitu jumlah anakan produktif dan jumlah gabah per malai serta karakter yang memiliki pengaruh tidak langsung melalui kedua karakter tersebut yaitu jumlah anakan dan panjang malai. Hal ini sesuai dengan Singh dan Chaudhary (1977) yang menyatakan mekanisme hubungan kausal diperoleh dari penguraian koefisien korelasi menjadi pengaruh langsung masing-masing karakter dan pengaruh tidak langsung masing-masing karakter melalui karakter lain. Guna melakukan seleksi secara tidak langsung maka karakter yang digunakan sebagai kriteria seleksi harus diwariskan dan berkorelasi positif dengan karakter yang akan diseleksi.
Lahan Sulfat Masam
Hasil analisis regresi berganda pada lahan sulfat masam dapat dituliskan sebagai berikut:
Ŷ=14.92-0.15x1-0.72x2+0.59x3+0.28x4+0.19x5-0.06x8
Persamaan ini memberikan arti bahwa karakter yang diamati ada yang memberikan pengaruh positif dan negatif. Persamaan tersebut menunjukkan bahwa parameter tinggi tanaman (X1), jumlah anakan (X2), jumlah anakan
produktif (X3), umur keluar malai (X4), umur panen (X5) dan jumlah gabah hampa per malai (X8) memberikan pengaruh yang nyata terhadap produksi pada α=5%. Pengaruh ini sesuai dengan pengaruh langsung dari karakter terhadap produksi. Pengaruh total, pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung dari karakter yang diamati pada lahan sulfat masam dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Pengaruh total, pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung dari karakter yang diamati pada lahan sulfat masam.
Variabel Bebas
Pengaruh Langsung
Pengaruh Tidak Langsung Melalui Total
X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10
*Data dianalisis dari 12 varietas X1=tinggi tanaman
X2=jumlah anakan
X3=jumlah anakan produktif X4= umur keluar malai X5= umur panen
Tabel 8 menunjukkan bahwa karakter yang memiliki pengaruh total bernilai positif meliputi semua karakter kecuali % gabah hampa. Tetapi terdapat beberapa karakter yang memiliki pengaruh langsung yang bernilai negatif meliputi karakter tinggi tanaman (-0,899), jumlah anakan (-1,444), dan umur panen (-0,401). Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh tidak langsung dari karakter tersebut terhadap produksi lebih berperan. Pada karakter tinggi tanaman pengaruh tidak langsung yang lebih berperan adalah melalui jumlah anakan
X6= panjang malai
X7=jumlah gabah per malai X8=% gabah hampa per malai X9= % gabah berisi per malai X10= bobot 1000 butir
produktif (1,1182), hal ini dapat dijelaskan bahwa pada lokasi sulfat masam (bekas tambak) dengan kondisi lahan yang masih tergenang dibutuhkan varietas tanaman yang memiliki karakter tinggi sehingga kondisi air yang menggenangi tidak begitu berpengaruh dalam hal proses pembentukan anakan dan jumlah anakan produktif.
Pengaruh total tertinggi terdapat pada karakter jumlah gabah per malai (0,930), pada karakter ini pengaruh langsung juga terlihat lebih dominan (1,198).
pengaruh total tertinggi kedua terdapat pada karakter % gabah berisi per malai (0,783) tetapi ternyata memiliki pengaruh tidak langsung yang lebih dominan yaitu melalui karakter jumlah gabah per malai (1,046). Berdasarkan penjelasan dari Tabel 8 dapat ditentukan bahwa parameter untuk seleksi tidak langsung pada lahan sulfat masam yaitu empat karakter yang meliputi tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, jumlah gabah permalai dan % gabah berisi.
Lahan Salin
Hasil analisis regresi berganda pada lahan salin dapat dituliskan sebagai berikut:
Y=14.16+0.06x1-0.65x2+0.73x3+0.21x4+0.01x5-0.012x7+0.06x8-0.07x9
Persamaan ini memberikan arti bahwa karakter yang diamati ada yang memberikan pengaruh positif dan negatif. Persamaan tersebut menunjukkan bahwa parameter tinggi tanaman (X1), jumlah anakan (X2), jumlah anakan produktif (X3), umur keluar malai (X4), umur panen (X5), jumlah gabah per malai (X7), jumlah gabah hampa per malai (X8) dan % gabah berisi per malai (X9) memberikan pengaruh yang nyata terhadap produksi pada α=5%. Pengaruh
ini sesuai dengan pengaruh langsung dari karakter terhadap produksi. Pengaruh total, pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung dari karakter yang diamati pada lahan salin dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel 9. Pengaruh total, pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung dari karakter yang diamati pada lahan salin .
Variabel
*Data dianalisis dari 5 varietas X1=tinggi tanaman
X2=jumlah anakan
X3=jumlah anakan produktif X4= umur keluar malai X5= umur panen
Tabel 9 menunjukkan bahwa karakter yang memiliki pengaruh total positif meliputi semua karakter yang diamati kecuali % gabah hampa dan bobot 1000 butir. Pengaruh total tertinggi dijumpai pada karakter umur panen (0,758).
Pada karakter umur panen, menunjukkan pengaruh langsung yang bernilai negatif.
Ini menunjukkan bahwa tanaman akan menunjukkan tingkat produksi yang lebih tinggi dengan semakin lamanya umur panen. Hal ini disebabkan karena dengan semakin lamanya umur tanaman maka akan meningkatkan jumlah anakan (memiliki pengaruh tidak langsung tertinggi yaitu (7,831). Lamanya umur panen tanaman ternyata terjadi pada masa vegetatif (Tabel 3) sehingga dengan semakin lamanya umur tanaman maka jumlah anakan yang muncul pada masa vegetatif
X6= panjang malai
X7=jumlah gabah per malai X8=% gabah hampa per malai X9= % gabah berisi per malai X10= bobot 1000 butir
juga akan semakin banyak. Hal ini didukung dengan nilai pengaruh langsung tertinggi yang dijumpai pada karakter jumlah anakan produktif .
Tabel 9 juga menunjukkan bahwa pada karakter bobot 1000 butir gabah memiliki pengaruh total yang tinggi tetapi bernilai negative (-0.908). ini artinya verietas yang memiliki bulir berukuran kecil lebih adaptif untuk tanah salin.
Tabel 3 menunjukkan bahwa secara umum terjadi penurunan bobot 1000 butir gabah pada kondisi salin jika dibandingkan pada kondisi optimal dan sulfat masam. Hal ini diduga adalah sebuah mekanisme adaptasi tanaman untuk meningkatkan jumlah gabah /malai dan % gabah berisi permalai. Berdasarkan penjelasan tersebut, seleksi tidak langsung pada tanah salin akan lebih akurat jika dilakukan pada karakter umur panen dan jumlah anakan produktif .
Berdasarkan hasil uji rataan dari karakter amatan dan analisis AMMI pada karakter produksi maka dapat disimpulkan bahwa varietas Hipa 8 Pioner, Bernas
Berdasarkan hasil uji rataan dari karakter amatan dan analisis AMMI pada karakter produksi maka dapat disimpulkan bahwa varietas Hipa 8 Pioner, Bernas