KARTU ATM
4.2. Sistem Penyelesaian Transaksi Antar Bank
5.1.2. Hasil Estimasi Model Persamaan Jangka Panjang
Estimasi persamaan jangka panjang yang digunakan adalah persamaan kointegrasi. Dari hasil estimasi tersebut terlihat ada tiga variabel yaitu variabel GDP, jumlah pemegang kartu ATM dan jumlah transaksi non tunai APMK yang bernilai signifikan secara statistik, dan empat dari tujuh variabel independen tidak signifikan yaitu variabel SBI, jumlah pemegang kartu kredit, jumlah pemegang kartu debit dan jumlah mesin ATM. Empat variabel yang disebutkan terakhir memiliki nilai probabilitas yang lebih besar dari taraf nyata sepuluh persen, dengan demikian perubahan variabel yang dimaksud tidak berpengaruh terhadap perubahan variabel dependen yaitu transaksi tunai.
Hasil estimasi menunjukkan hubungan yang positif antara GDP dengan transaksi tunai. Koefisien GDP menunjukkan elastisitasnya, artinya bahwa peningkatan GDP sebesar satu persen akan meningkatkan transaksi tunai sebesar 0.959651 persen. Peningkatan satu persen jumlah pemegang kartu ATM akan meningkatkan transaksi tunai 0.104408 persen. Dan terakhir hubungan negatif ditunjukkan antara jumlah nilai transaksi APMK terhadap nilai transaksi tunai yaitu penurunan 0.091143 persen nilai transaksi tunai untuk setiap kenaikan satu persen transaksi non tunai APMK.
Koefisien hasil estimasi menunjukkan tanda yang sesuai dengan teori yang ada. Sesuai dengan teori kuantitas uang Irving Fisher maka jumlah uang yang diminta adalah proporsional dengan jumlah total pembelian barang dan jasa. Dengan demikian, peningkatan pendapatan akan meningkatkan konsumsi dan mempengaruhi secara positif permintaan uang tunai. Sedangkan tingkat suku bunga nominal merefleksikan opportunity cost dalam memegang sejumlah uang tunai. Sehingga ketika nilai suku bunga nominal meningkat kecenderungan masyarakat untuk memegang uang tunai akan menurun dan lebih memilih untuk menyimpan sejumlah dananya dalam bentuk tabungan di bank. Meskipun hasil estimasi untuk variabel ini tidak signifikan secara statistik namun koefisien negatifnya menunjukkan pengaruh suku bunga nominal terhadap permintaan uang tunai untuk transaksi tunai yang sesuai teori ekonomi.
Penggunaan kartu pembayaran elektronik, dalam hal ini kartu kredit, kartu debit, dan kartu ATM ternyata belum mampu secara signifikan mensubstitusi transaksi tunai. Peningkatan jumlah pemegang kartu kredit memang akan
menurunkan transaksi tunai namun ini tidak signifikan terjadi. Dengan demikian kepemilikan kartu kredit hanya merupakan pola baru gaya hidup dan bukan cara transaksi andalan masyarakat meskipun pembayaran yang melibatkan kartu kredit cenderung ke jenis pembelian barang bernominal besar (Snellman, Vesala, dan Humphray, 2000). Keamanan transaksi yang terjadi antar bank memudahkan pemilik kartu kredit untuk membeli barang dan jasa tanpa resiko kehilangan dan kesulitan menjinjing sejumlah nominal uang yang besar. Namun kepemilikan kartu kredit yang diproksi dari jumlah pemegang kartu kredit tidak signifikan mensubstitusi transaksi tunai.
Jumlah pemegang kartu ATM memiliki hubungan yang positif dengan jumlah nilai transaksi tunai. Dengan mengasumsikan setiap rupiah yang ditransaksikan melalui ATM, baik transfer maupun penarikan uang tunai, semuanya digunakan untuk kegiatan konsumsi, maka semakin banyak jumlah pemegang kartu ATM akan memperbesar tingkat konsumsi masyarakat dan dengan demikian pula akan meningkatkan jumlah transaksi tunai. Secara signifikan hubungan positif antara jumlah pemegang kartu ATM dan transaksi tunai terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa kepemilikan kartu ATM ini memudahkan masyarakat mengakses penarikan dana dari rekeningnya dan mendorong peningkatan konsumsi melalui transaksi tunai.
Variabel jumlah mesin ATM yang ada juga merupakan pendekatan yang digunakan untuk mengindikasikan efek substitusi transaksi pembayaran. Hasil estimasi menunjukkan koefisien yang bernilai positif. Hasilnya sesuai dengan data yang diperoleh dari Bank Indonesia, mengenai jumlah mesin ATM dan jumlah
volume transaksi ATM. Namun, dari hasil regresi dalam penelitian ini jumlah mesin ATM tidak signifikan secara statistik mempengaruhi nilai transaksi tunai. Berikut ini perkembangan jumlah mesin ATM dan volume transaksinya ditunjukkan dalam bentuk grafik.
Perkembangan jumlah mesin ATM 2002-2005
0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000 2002M1 2003M1 2004M1 2005M1 tahun
unit Jmesin ATM
Volume Transaksi ATM 2002-2005
0.00 5000.00 10000.00 15000.00 20000.00 25000.00 30000.00 35000.00 40000.00 2000M1 2001M1 2002M1 2003M1 Tahun Rp mi lyar VTATM(Rp milyar)
Sumber: Data Bank Indonesia (2005), diolah
Pada gambar di atas dapat dilihat adanya kecenderungan peningkatan volume transaksi tunai melalui mesin ATM. Hubungan positif antara jumlah pemegang kartu ATM dan jumlah mesin ATM terhadap transaksi tunai menunjukkan bahwa fasilitas pembayaran elektronik ini belum mampu mensubstitusi pola transaksi tunai di Indonesia dalam jangka panjang. Fasilitas ini hanya mempermudah akses nasabah memperoleh uang tunai dalam jangka panjang. Hasil serupa disimpulkan oleh Mutaqqin (2006), bahwa jumlah ATM hanya merupakan upaya pihak bank memberikan pelayanan kemudahan kepada nasabahnya. Sementara itu Rahmat (2005) menyimpulkan bahwa jumlah mesin ATM hanya berpengaruh secara negatif (mensubstitusi) terhadap permintaan uang M1 dalam jangka pendek sedangkan dalam jangka panjang belum mampu mensubstitusi transaksi tunai.
Hasil penelitian ini menghasilkan kesimpulan yang berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan di Eropa. Snellman, Vesala, dan Humphrey (2000) pada penelitiannya di sepuluh negara di Eropa menemukan bahwa kehadiran fasilitas ATM mampu mengurangi biaya transaksi penarikan tunai, sehingga dengan demikian frekuensi penarikan tunai meningkat namun secara rata-rata nilai penarikannya menurun dari waktu ke waktu. Artinya keberadaan ATM mengurangi jumlah uang tunai yang dipegang, yang diasumsikan berkorelasi positif dengan nilai transaksi tunai, masyarakat di kesepuluh negara di Eropa. Stix (2004) juga menyimpulkan dari hasil penelitiannya di Austria bahwa pemegang ATM ternyata memegang nilai tunai 42 persen lebih sedikit daripada orang yang menarik tunai dari bank. Analisis data penarikan tunai menunjukkan bahwa 53
persen transaksi penarikan dilakukan melalui ATM dan 37 persen melalui bank. Artinya bahwa kehadiran kartu pembayaran elektronik, dalam hal ini kartu ATM, di Austria mengurangi keinginan masyarakat memegang uang tunai. Kemudahan mengakses dana melalui fasilitas pembayaran elektronik (dalam hal ini kartu ATM) mampu meningkatkan frekuensi penarikan tunai namun secara bertahap justru menurunkan nilai penarikannya.
Kedua hasil penelitian ini membuktikan bahwa di negara maju kecenderungan pensubstitusian transaksi non tunai dengan memanfaatkan kartu pembayaran elektronik terhadap transaksi tunai sudah terjadi. Sementara, fenomena yang terjadi di Indonesia berbeda. Keberadaan kartu pembayaran elektronik hanya mempermudah akses nasabah memperoleh uang tunai namun belum mampu mensubstitusi transaksi tunai yang terjadi dalam jangka panjang. Kartu pembayaran elektronik belum menjadi fasilitas pembayaran andalan dalam bertransaksi karena pola pembayaran secara tunai masih merupakan kebudayaan masyarakat Indonesia.
Keberadaan fasilitas pembayaran elektronik pada dasarnya bertujuan untuk memudahkan akses nasabah atau pengguna untuk mentransaksikan sejumlah dana tanpa harus mendatangi kantor cabang. EFT-POS dan mesin ATM memudahkan pengguna menyelesaikan proses transaksi dalam waktu yang lebih cepat. Dengan kehadiran fasilitas pembayaran ini pengguna mendapat kemudahan akses dana, kenyamanan dalam bertransaksi, penghematan biaya dan waktu penyelesaian transaksi. Sedangkan pihak bank sendiri mendapat keuntungan dari segi biaya, yaitu penghematan dalam hal penyediaan pelayanan. Dengan adanya EFT-POS
dan mesin ATM, bank dapat mengurangi biaya pembangunan kantor cabang, pembayaran tenaga pekerja, sewa gedung, pembelian kertas dan pendistribusian. Dengan kata lain kehadiran fasilitas pembayaran elektronik memberikan keuntungan bagi pihak bank dan pengguna atau nasabah.
Variabel nilai transaksi non tunai APMK berkolerasi negatif dan signifikan terhadap transaksi tunai. Dari nilai transaksi non tunai, peningkatan satu persennya akan menurunkan transaksi tunai sebesar 0.091143 persen. APMK dalam hal ini kartu kredit, kartu debit dan kartu ATM adalah kartu pembayaran elektronik yang paling sering digunakan. Hubungan negatif ini menunjukkan adanya pensubstitusian transaksi non tunai terhadap transaksi tunai, namun daya substitusinya masih sangat rendah. Peningkatan jumlah pemegang ATM dan mesin ATM secara positif mempengaruhi transaksi tunai. Artinya keberadaan kartu ATM dan mesinnya ternyata belum mampu mensubstitusi transaksi tunai. Namun hasil estimasi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel nilai transaksi APMK mampu mensubstitusi transaksi tunai. Dan dari ketiga kartu pembayaran elektronik yang paling sering digunakan tersebut yang mampu mensubstitusi transaksi tunai adalah nilai transaksi ATM (Mutaqqin, 2006). Kartu kredit dan kartu debit belum mampu mensubstitusi transaksi tunai, baik dari segi jumlah pemegang maupun dari nilai transaksinya.