HASIL HASIL HASIL HASIL PENELITIAN PENELITIAN PENELITIAN PENELITIAN 1.

Dalam dokumen Gambaran penerimaan diri kepala keluarga berstatus Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK). (Halaman 61-105)

HASIL DAN DAN DAN DAN PEMBAHASAN PEMBAHASAN PEMBAHASAN PEMBAHASAN

B. HASIL HASIL HASIL HASIL PENELITIAN PENELITIAN PENELITIAN PENELITIAN 1.

1.

1.1. PenerimaanPenerimaanPenerimaanPenerimaan diridiridiridiri subjeksubjeksubjeksubjek 1111

Secara umum peneriman diri subjek 1 dapat digambarkan sebagai berikut:

a. Individu mampu menerima kondisi diri

Individu yang mampu menerima kondisi dirinya tidak akan menganggap dirinya sebagai orang hebat atau abnormal. Sartain (dalam Handayani, 2000) memaparkan bahwa penerimaan diri adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sebagaimana adanya dan untuk mengakui keberadaan dirinya secara obyektif. Individu yang menerima dirinya adalah individu yang menerima dan mengakui keadaan diri sebagaimana adanya. Saat ini subjek telah beraktivitas seperti biasa dan berusaha bergaul secara normal. Subjek sadar bahwa dirinya harus bangkit demi anak-anaknya. Hal ini dapat dilihat pada petikan wawancara di bawah ini:

“Iya dik..bagaimanapun saya harus berguna. Diri saya ini harus ada artinya. Ya arti untuk anak-anak saya juga untuk orang sekitar. Saya senang bisa diberi tambahan pekerjaan seperti merumput. Artinya orang lain juga menghargai kemampuan saya dan saya bisa membantu orang dengan tenaga saya. Saya kan punya kemampuan bekerja apa saja serabutan bisa.”

WS1 B 44 Subjek juga pernah merasakan dikucilkan oleh tetangganya, tetapi tidak semuanya mengucilkan. Masih banyak masyarakat yang bersikap wajar terhadap dirinya. Hal ini mendorong subjek untuk tetap bergaul secara baik dengan lingkungan sekitar. Hal ini dapat dilihat dari petikan wawancara berikut ini:

“Ohh.. pernah dek. Tetangga sebelah sampai saat ini tidak mau berbicara lagi kepada saya. Anak saya pernah ditanyai. Ya anak jujur langsung jawab saya sakit kusta. Mungkin tetangga takut terkena seperti saya. Tapi tidak semua seperti itu dek. Masih banyak orang yang menganggap saya ya seperti orang biasa saja. Orang-orang yang juga bekerja di pehumaan bersama saya malah

selalu menanyakan bagaimana keadaan saya. Mereka tidak menjauhi saya, biasa saja. Saya pun biasa saja tidak malu untuk berkumpul bersama warga disini. Kalau ada kegiatan ibu-ibu saya ikut juga.”

WS1 B 36 Subjek juga mampu menerima kondisi dirinya dengan adanya sikap yang tidak malu atau serba takut dicela orang lain. Beberapa masalah psikososial akibat penyakit kusta ini dapat dirasakan baik oleh penderita kusta antara lain adalah perasaan malu dan ketakutan akan kemungkinan terjadinya kecacatan (Zulkifli, 2003). Seiring berjalannya waktu, subjek tidak lagi meras malu dan takut dengan kondisinya. Setelah sembuh, subjek pun kembali berinteraksi dengan lingkungan sekitar tanpa merasa takut dicela. Hal ini dapat dipahami dari petikan wawancara di bawah ini:

“Dulu awal-awal itu kan nebak-nebak sakit saya. Setelah tahu kan pada takut. Pernah ada yang bilang kalau saya tidak usah ikut dulu kalau ada acara warga tapi ya.. ehm saya kan memang merasa sakit waktu itu jadi saya rasa saya memang tidak ikut dulu kegiatan. Ada benarnya juga, mungkin warga juga nanti takut itu sama saya, haha Tapi sekarang ya ikut saja, tidak masalah juga.”

WS1 B 52 b. Adanya penghargaan terhadap diri sendiri

Penghargaan terhadap diri sendiri dapat terlihat dari adanya kepercayaan atas kemampuannya untuk dapat menghadapi hidupnya. Menurut Allport (dalam Hjelle dan Ziegler, 1992), penerimaan diri merupakan toleransi individu atas peristiwa-peristiwa yang membuat frustrasi atau menyakitkan sejalan dengan menyadari kekuatan-

kekuatan pribadinya. Hal ini mengindikasikan bahwa individu dengan penerimaan diri yang baik akan menyadari kekuatan atau kemampuan dalam dirinya. Saat ini kepercayaan diri subjek atas kemampuannya untuk menghadapi hidupnya sudah mulai tumbuh. Setelah sembuh dari sakit subjek telah kembali beraktivitas dan bekerja seperti biasanya. Hal ini dapat dibuktikan dari kutipan wawancara berikut:

“Setelah bapak meninggal, saya sendiri kepehumaan mengurus sawah.. sawah orang itu. Dulu masih ada bapak, kerja sebentar terus pulang ngurus anak-anak. Sekarang pagi sampai siang ya selalu dipehumaan. Pulang ya kalau siang kadang kalau tidak ada yang masak. Kalau ada yang minta cuci piring kalau ada acara pernikahan misalnya saya sering juga dimintai tolong. Nanti ada upah bisa untuk tambah-tambah”.

WS1 B 8 Kepercayaan diri subjek untuk menyelesaikan permasalahan sendiri juga mulai tumbuh, misalnya masalah pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekolah anak. Hal ini tercermin dalam petikan wawancara berikut ini:

“Kalau behuma itu kan sawah orang, saya diberi upah untuk mengurus sawah orang itu dek. Jadi bukan saya yang punya sawah. Walaupun bukan punya saya, saya kan diupah, saya harus bekerja baik-baik karena saya dipercaya oleh yang punya. Ya.. kalau untuk makan secukupnya selama ini bisa dik. Pernah pas saya gak ada uang anak pas bayar sekolah, saya kerja merumput dik cari tambahan juga. Jadi bisa cuci piring, merumput semua bisa jadinya.”

c. Adanya kontrol diri yang baik

Kontrol diri yang baik ditunjukkan subjek melalui sikap tidak menganiaya diri sendiri (mempermasalahkan keterbatasan atau mengingkari kelebihanya)

Sulaeman (1995) mengemukakan bahwa seseorang yang menerima dirinya memiliki penghargaan yang tinggi tentang sumber- sumber yang ada pada dirinya digabung dengan penghargaan tentang kebergunaan dirinya, percaya akan norma-norma serta keyakinan- keyakinan sendiri dan juga mempunyai pandangan realistik tentang keterbatasan-keterbatasannya tanpa menimbulkan tindakan penolakan diri. Hal ini secara implisit menunjukkan bahwa individu dengan penerimaan diri yang baik cenderung tidak mempermasalahkan keterbatasan dirinya. Saat ini subjek telah mampu mampu menerima kondisi dirinya, sehingga tak lagi mempermasalahkan keterbatasan fisiknya. Saat ini subjek merasa bahagia karena telah sembuh dan dapat bekerja seperti dulu. Hal ini terlihat dari petikan wawancara berikut ini:

“Sekarang saya biasa aja dek. Ya selain saya senang saya bisa sembuh saya kan bisa bekerja tidak dengan tenaga setengah- setengah lagi. Dulu kan kerja kalau sudah rasanya pusing sekali saya minum obat, sehabis minum obatpun masih sangat pusing. Tapi sekarang sudah bisa bekerja seperti biasa walaupun bekas luka masih keliatan ini (menunjuk jari kaki yang buntung).”

WS1 B 24 Subjek juga mensyukuri keadaan dirinya saat ini, karena dengan keterbatasannya subjek mampu bekerja dan menghidupi keluarga. Hal ini dapat dilihat dari petikan wawancara di bawah ini:

“Bekerja itu ya untuk cari uang memberi makan anak. Apalagi bapaknya tidak ada. Saya dengan keadaan seperti ini bersyukur aja dek. Walaupun ada bekas dari sakitnya yang penting saya sehat saja. Bahagia juga bisa sembuh bisa tetap cari uang.”

WS1 B 28 “Kalau hidup seperti ini saya sudah puas sudah bersyukur dik.. Hidup dirumah seperti ini.. yang tidak ada apa-apanya tidak apa- apa. Yang penting saya sehat bisa bekerja dapat uang untuk anak makan dan sekolah.”

WS1 B 30 Kontrol diri yang baik juga ditunjukkan subjek melalui sikap tidak menyangkal impuls atau emosinya atau merasa bersalah atas hal- hal tersebut. Kubler Ross (dalam Tomb, 2003) memaparkan bahwa sebelum mencapai pada tahap acceptance (penerimaan) individu akan melalui beberapa tahapan yang diantaranya tahapan penolakan dan tahap marah dengan kondisi yang dialami. Subjek tidak menyangkal terhadap emosi yang dirasakannya ketika dinyatakan menderita kusta. Subjek sempat merasa marah dengan berbagai cobaan yang dialaminya dan sempat takut bergaul dengan masyarakat. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, subjek dapat menerima kondisi dirinya. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara berikut ini:

“Marah? Sempat ada dek. Marahnya kenapa bisa saya terkena penyakit ini. Marahnya kenapa bapaknya juga meninggal dan setelah itu saya sakit seperti ini. Takut juga bergabung dengan warga. Tapi itu dulu.. saya sekarang.. yang sekarang menerima ini semua dik.”

WS1 B 46 Kontrol diri subjek selanjutnya terlihat dari adanya sikap subjek dalam mempertanggung jawabkan perbuatannya. Seseorang yang telah

menerima dirinya, berarti orang tersebut mengenal dimana dan bagaimana dirinya “saat ini”, serta mempunyai keinginan untuk terus mengembangkan diri (Handayani, 2000). Hal ini mengindikasikan bahwa individu dengan penerimaan diri yang baik memiliki keinginan untuk menjadi sosok yang bertanggung-jawab demi mengembangkan dirinya. Subjek terus berupaya untuk tumbuh menjadi sosok yang bertanggung-jawab dengan perbuatannya. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan keseriusannya dalam bekerja agar dapat menyekolahkan anak-anaknya. Hal ini dapat dilihat dari petikan wawancara berikut ini:

“Kalau saya dapat kerja tambahan selain behuma bisa uangnya ditabung untuk biaya anak sekolah dek. Dua anak ini ingin saya sekolahkan menjadi dokter. Kalau dokter kan hidup dia bisa lebih baik dari sekarang. Dulu saya sekolah sampai SMP saya mau anak saya bisa sampai jadi dokter.”

WS1 B 42 d. Memiliki ide-ide dan harapan

Ide-ide dan harapan pada diri subjek ditunjukkan dengan mengikuti standar pola hidupnya dan tidak ikut-ikutan. Penerimaan diri menurut Hurlock (1997) merupakan suatu tingkat kemampuan dan keinginan individu untuk hidup dengan segala karakteristik dirinya. Saat ini subjek berusaha menjalani hidup dengan polanya sendiri dan ke depannya ingin mengalami kehidupan yang jauh lebih baik. Hal ini dapat dilihat dari wawancara berikut ini:

“Capek juga dek.. ya seandainya bapak masih hidup mungkin bisa hidup lebih baik. Tapi tidak apa-apa seperti ini saja. Tapi tetap saya ingin hidup yang lebih baik dik.”

WS1 B 40 Subjek memiliki standar hidup yang positif, yakni memiliki tubuh yang sehat, bekerja untuk menafkahi dan menyekolahkan anak- anaknya. Hal ini dapat diamati berdasarkan petikan wawancara di bawah ini:

“Sayanya sehat, ada tenaganya jadi bisa kepehumaan kerja dek. Uangnya untuk memberi makan anak dan sekolahnya dek.”

WS1 B 48

2. 2.

2.2. PenerimaanPenerimaanPenerimaanPenerimaan diridiridiridiri subjeksubjeksubjeksubjek 2222

Secara umum peneriman diri subjek 2 dapat digambarkan sebagai berikut: a. Individu mampu menerima kondisi diri tidak menganggap dirinya

sebagai orang hebat atau abnormal dan tidak mengharapkan bahwa orang lain mengucilkannya. Supratiknya (1995) memaparkan bahwa salah satu ciri individu dengan penerimaan diri yang baik adalah tidak bersikap sinis terhadap diri sendiri. Oleh karena itu, individu cenderung menganggap dirinya normal dan dapat bergaul secara wajar dengan orang lain. Saat ini subjek dapat bergaul dan mengikuti berbagai kegiatan di lingkungannya. Hal ini menunjukkan bahwa subjek tidak ingin orang lain mengucilkan dirinya. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara berikut ini:

“Biasa saja.. apabila saya akan berangkat bekerja saya menyapa apabila ada tetangga yang duduk-duduk didepan rumahnya. Apabila ada pengajian atau acara apa yang diadakan tetangga ya saya datang saja dik. Tetangga baik saja.”

Subjek juga mampu menerima kondisi dirinya lewat Tidak malu- malu atau serba takut dicela orang lain. Allport (dalam Hjelle dkk., 1992) memaparkan bahwa penerimaan diri merupakan toleransi individu atas peristiwa-peristiwa yang membuat frustrasi atau menyakitkan sejalan dengan kesadaran akan kekuatan-kekuatan pribadinya. Saat ini subjek telah menerima kondisi dirinya dengan baik. Oleh karena itu, apapun tindakan orang lain terhadap dirinya dapat diterimanya dengan ikhlas dan menganggap hal itu sebagai bahan masukan dan renungan. Hal ini dapat dilihat pada petikan wawancara berikut ini:

“Kalau mendengar langsung mereka mengejek saya tiak pernah. Kalaupun ada tidak apa-apa. Tidak apa-apa, hidup ya memang seperti ini yang pasti mereka tidak mengganggu hidup saya. Apabila mereka mengejek anggap seperti angin lalu saja. Kalau ada yang mengejek anggap seperti memberi masukan.. direnungkan saja apabia benar berarti harus ada yang perlu diperbaiki dari diri ini.”

WS2 B 36 Subjek tidak malu dengan kondisinya saat ini. Hal ini dapat dilihat pada hasil wawancara berikut ini:

“Kan ini bekasnya ditangan, jadi tidak bisa ditutupi dik. Jadi biasa saja, seperti tidak ada apa-apa saja.”

WS2 B 42

Menerima kondisi diri juga terlihat dari adanya sikap yang mauu menerima pujian atau celaan secara objektif. Jersild (1963) mengungkapkan bahwa salah satu aspek penerimaan diri adalah memiliki penghargaan yang realistis terhadap kelebihan-kelebihan

dirinya. Hal ini dapat membantu individu untuk bersikap objektif dalam menilai pujian maupun celaan orang lain. Subjek memaklumi berbagai celaan orang lain akibat penyakit yang dideritanya, termasuk ketika istrinya meninggalkannya. Subjek juga tidak ingin menyalahkan orang lain atas kondisi yang sedang dialaminya. Saat ini yang terpenting subjek dapat bekerja seperti biasanya. Hal ini dapat dilihat pada petikan wawancara di bawah ini:

“Kalau dulu saya iyakan saja istri saya pergi karena saya memang berpenyakit. Tapi sekarang saya kan berobat, sekarang sudah baik. Saya juga tidak mau menyalahkan diri saya sendiri. Kalau sekarang tukang lain mengatai saya ini berpenyakit menular ya biar kan saja. Tidak apa-apa tanggapan orang seperti itu, yang penting kitanya. Saya bisa saja mencari pekerjaan lain, saya pasti mampu saja.”

WS2 B 22 b. Adanya penghargaan terhadap diri sendiri

Penghargaan terhadap diri sendiri terlihat dari adanya kepercayaan subjek atas kemampuannya untuk dapat menghadapi hidupnya. Chaplin (2004) memparkan bahwa penerimaan diri mencakup sikap yang menunjukkan rasa puas pada kualitas dan bakat. Hal ini secara implicit menunjukkan bahwa individu dengan penerimaan diri yang baik mampu menyesuaikan diri dengan segala kondisi dirinya. Subjek mampu bersikap objektif dalam menghadapi situasi yang dialaminya. Subjek dapat memahami ketakutan istrinya dengan sakit yang dideritanya, sehingga istrinya memilih untuk menjauh bersama anak-anaknya. Akan tetapi, subjek meyakini bahwa

dirinya mampu menghadapi situasi tersebut. Subjek berharap dapat kembali berkumpul bersama keluarganya. Hal ini dapat dilihat pada petikan hasil wawancara berikut ini:

“Wajar saja kalau istri menjauh, rasa malu pasti ada saja. Anak juga dibawa karena takut terkena juga seperti saya. Saya biarkan saja istri saya tinggal di rumah orang tuanya. Apabila benar-benar sudah sehat badan ini baru saya mengajak mereka berkumpul lagi. Saya pasti bisa membaik kata dokter, saya juga meyakini saya bisa membaik demi keuarga saya. Seperti sekarang ini saya bisa saja ke rumah orang tua istri saya, berkunjung sebentar, ingin juga bertemu anak saya.”

WS2 B 12 Subjek mengalami keterpurukan ketika mengetahui dirinya terserang kusta. Subjek awalnya bingung, tidak percaya dan marah ketika mengetahui bahwa dirinya terserang kusta. Akan tetapi kemudian subjek tersadar dan ingin terus bertahan hidup. Saat ini subjek tak lagi banyak mengeluh dengan kondisinya dan menerima dirinya apa adanya sambil terus berobat secara rutin. Hal ini dapat dilihat pada petikan wawancara di bawah ini:

“Pada awalnya saya mengira saya ini hanya sakit demam dan gatal-gatal saja. Lalu saya periksa karena tidak kunjung sembuh. Kata dokter saya terkena kusta. Kusta itu setahu saya penyakit yang seperti orang yang sering meminta-minta yang kakinya putung. Saya sempat bingung dan tidak percaya. Saya marah juga, kata saya sama dokter seperti tidak mungkin saya bisa sakit kusta. Penyakit tersebut darimana datangnya sampai saya tidak habis pikir. Bisakah saya bertahan hidup dengan kondisi sakit seperti ini. Seperti itu dulu yang saya berpikir. Dulu perasaan malu itu ada. Setelah saya pikir-pikir mengeluh terus tidak ada gunanya. Lebih baik saya menerimanya, saya taat berobat sekarang bisa sembuh.”

c. Adanya kontrol diri yang baik

Kontrol diri subjek terlihat dari adanya sikap yang tidak menganiyaya diri sendiri (mempermasalahkan keterbatasan atau mengingkari kelebihanya). Menurut Daradjat (1982) rasa dapat menerima diri dengan sungguh-sungguh akan menghindarkan seseorang dari kemungkinan untuk jatuh pada rasa rendah diri (inferiority complex) atau hilangnya kepercayaan diri. Hal ini menunjukkan bahwa individu dengan penerimaan diri yang baik tidak akan memepermasalahkan keterbatasan dirinya dan tetap percaya diri dihadapan orang lain. Subjek tidak lagi mempermasalahkan kondisi dirinya, bahkan subjek bersyukur karena masih hidup. Subjek percaya bahwa Tuhan punya rencana bagi dirinya. Saat ini subjek bahagia karena dapat menafkahi keluarganya. Hal ini dapat dilihat dari petikan wawancara berikut ini:

“Bersyukur kepada Allah masih diberi hidup. Walaupun dulu sakit ini, istri juga tidak mau tinggal serumah tidak apa-apa. Allah punya rencana untuk setiap umatNya. Apabila bisa memberikan uang kepada istri dan anak sudah bahagia saja puas hidup.. e.. kan bekerja juga untuk mereka. Nanti apabila istri sudahh bisa disini lagi berarti Allah sudah mengijinkan.”

WS2 B 32 Saat ini subjek dapat beraktivitas dan bekerja seperti dulu. Subjek tak lagi mempermasalahkan kondisi fisiknya karena bekas luka yang dimilikinya tidak mempengaruhi aktivitasnya sehari-hari. Hal ini dapat dilihat pada petikan wawancara di bawah ini:

“Apabila untuk bertukang segala macam tidak dik. Masih sama saja seperti dulu. Tidak menghambat. Hanya memang ada bekas lukanya tapi tidak terlalu bepengaruh. Hanya saja omongan orang haha..”

WS2 B 40 Selain itu, subjek juga mempunyai kontrol diri yang baik dengan adanya sikap tidak menyangkal impuls atau emosinya atau merasa bersalah atas hal-hal tersebut. Menurut Jersild (1963) salah satu aspek penerimaan diri adalah mengenali kelemahan-kelemahanya tanpa harus menyalahkan diri. Hal ini akan membantunya untuk dapat menerima emosi yang dirasakannya. Subjek berusaha menerima kondisi dirinya apa adanya dan terus menjalani pengobatan agar sembuh. Subjek menyadari bahwa kesembuhan dirinya harus terus diusahakan. Hal ini terlihat dari hasil wawancara berikut ini:

“Iya, rajin kok setelah itu. Mengingat yang minta-minta itu sampai kaki putung, ngeri sekali. Saya tidak mau sampai seperti itu. Dokter bilang apabila rajin berobat bisa sampai tidak parah. Tapi walaupun ini (sambil menunjuk lagi jari tangannya) tidak bisa kembali tapi tetap saja berobat menuruti apa kata dokter. Sudah tidak apa-apa saja terkena kusta tapi harus melawan keadaan itu. Apabila masih bisa sembuh berarti ya diusahakan saja.”

WS2 B 18

Kontrol diri yang baik ga ditunjukkan subjek dengan adanya sikap mempertanggung jawabkan perbuatannya. Individu dengan penerimaan diri yang positif cenderung memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi (Jersild, 1963). Subjek terus berusaha menjadi sosok yang bertanggung-jawab terhadap keluarganya. Oleh karena itu, subjek ingin kembali berkumpul dengan istrinya. Subjek juga terus bekerja untuk

menafkahi keluarganya. Hal ini dapat dilihat pada petikan wawancara di bawah ini:

“Pernah mengajak, bini sudah mau tapi sekarang orang tua istri yang tidak memperbolehkan. Maka dari itu saya tetap bekerja tetap menafkahi keluarga. Upah yang didapat tidak banyak dik apabila bertukang, tapi apabila masih bisa lagi bekerja yang lain ya dikerjakan juga. Istri juga tidak dibiarkan.. ya bekerja juga untuk istri dan anak. Datang ke rumah orang tua istri memberi uang apabila sudah diberi upah.”

WS2 B 24 d. Memiliki ide-ide dan harapan

Ide-ide dan harapan subjek ditunjukkan subjek dengan mengikuti standar pola hidupnya dan tidak ikut-ikutan. Individu dengan penerimaan diri yang baik salah satunya dicirikan oleh adanya keyakinan akan standar-standar dan prinsip-prinsip dirinya tanpa harus mengikuti opini-opini orang lain (Jersild, 1963). Subjek berusaha menjalani pola hidupnya saat ini. Subjek berupaya menyadari dan menerima kondisi dirinya saat ini dan tidak terlalu memikirnnya. Subjek juga meyakini bahwa dirinya mampu menjalani kehidupannya dengan baik. Hal ini dapat dilihat pada petikan wawancara berikut ini:

“Dibiarkan saja.. memang benar pernah menderita kusta. Tapi kan ya tetap manusia bisa bekerja. Orang tenaga saja ada, mereka tidak perlu dipikirkan. Percaya saja sama diri sendiri mampu.”

WS2 B 30

3. 3.

3.3. PenerimaanPenerimaanPenerimaanPenerimaan diridiridiridiri subjeksubjeksubjeksubjek 3333

Secara umum peneriman diri subjek 3 dapat digambarkan sebagai berikut: a. Individu mampu menerima kondisi diri

Mampu menerima kondisi dirinya ditunjukkan subjek melalui sikap tidak menganggap dirinya sebagai orang hebat atau abnormal dan tidak mengharapkan bahwa orang lain mengucilkannya. Salah satu aspek penerimaan diri adalah memiliki kemampuan untuk memandang dirinya secara realistis tanpa harus malu akan keadaanya (Jersild, 1963). Subjek dapat menerima sikap orang lain terhadap dirinya tanpa merasa dikucilkan. Karena itu subjek memiliki hubungan yang harmonis dengan tetangganya. Terkadang subjek juga menghadiri undangan tetangganya. Hal ini terlihat dari petikan wawancara berikut ini:

“Ya begitu-begitu aja dik. Kayak tadi saya bilang nanti kalau saya datang pada bubar dari warung. Takut lihat saya, hehehe. Tapi kalau hubungannya ya rukun saja tidak pernah berkelahi. Ya kalau bertemu saling sapa kalau ada acara saya diundang kadang ya saya datang.“

WS3 B 30 Subjek juga menerima kondisi dirinya melalui sikap yang tidak malu- malu atau serba takut dicela orang lain. Jersild (1963) mengemukakan bahwa salah satu aspek penerimaan diri adalah memiliki kemampuan untuk memandang dirinya secara realistis tanpa harus malu akan keadaannya. Subjek sempat merasa malu dengan kondisi fisiknya, tetapi

Dalam dokumen Gambaran penerimaan diri kepala keluarga berstatus Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK). (Halaman 61-105)