HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
6. Nilai koefisien Return on Equity = 0.028, menunjukkan bahwa setiap terjadi kenaikan ROE sebesar 1 maka akan terjadi peningkatan kebijakan dividen
5.2.1 Hasil Uji Hipotesis Pertama
Berdasarkan uji asumsi klasik yang dilakukan pada model regresi I, dapat diketahui bahwa model regresi tersebut telah memenuhi syarat uji asumsi klasik sehingga layak digunakan untuk menganalisa pengaruh liquidity ratio, leverage, profitabilitas, asset growth, dan return on equity berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen.
Nilai Adjusted R Square sebesar 0,518 atau 51,8% artinya bahwa variabel independen seperti liquidity ratio, leverage,profitabilitas, asset growth dan return on equity dapat menjelaskan variabel dependen kebijakan dividen sebesar 51,8%. Hasil ini menunjukkan bahwa secara simultan variabel independen berpengaruh terhadap kebijakan dividen.
Hasil pengujian variabel liquidity ratio mempunyai nilai signifikansi
sebesar 0,000 < α = 5% dan berpengaruh negatif dilihat dari nilai koefisien -0.002 Hal ini menunjukkan bahwa variabel liquidity ratio berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen pada perusahaan jasa yang terdaftar di BEI periode tahun 2012 – 2015.Pengaruh negatif dan signifikan menunjukkan bahwa semakin tinggi liquidity ratio berarti mengakibatkan semakin rendahnya kemampuan perusahaan dalam membayar dividen. Hal ini tidak sejalan dengan
tinggi mampu meningkatkan keyakinan para investor bahwa perusahaan dapat membayar dividen yang tinggi. Namun, penelitian ini sejalan dengan Silviana et al (2014) yang menyatakan bahwa liquidity ratio berpengaruh negatif signifikan terhadap kebijakan dividen.
Variabel leveragemempunyai nilai signifikansi sebesar 0,045 < α = 5% dan
berpengaruh negatif dilihat dari nilai koefisien -0.095. Hal ini menunjukkan bahwa variabel leverage bepengaruh negative dan signifikan terhadap kebijakan dividen pada perusahaan jasa yang terdaftar di BEI periode tahun 2012 – 2015. Pengaruh negatif signifikan menunjukkan semakin tinggi DER berarti semakin tinggi pula tingkat komposisi hutang perusahaan sehingga mengakibatkan rendahnya kemampuan perusahaan dalam membayar dividen. Hal ini tidak sesuai dengan Signaling Theory yang menyatakan bahwa dengan tingkat leverage yang tinggi mampu meningkatkan keyakinan para investor bahwa perusahaan dapat membayar dividen yang tinggi, tetapi hasil penelitian ini sejalan dengan Sulistiyowati et al (2010) yang menyatakan hasilnya bahwa leverage berpengaruh negative dan signifikan terhadap kebijakan dividen.
Variabel profitabilitas mempunyai nilai signifikan sebesar 0,862 > α = 5%.
Hal ini menunjukkan bahwa variabel profitabilitas tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen pada perusahaan jasa yang terdaftar di BEI periode tahun 2012–2015. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi ROA yaitu tingkat keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan dalam menjalankan operasionalnya tidak mempengaruhi dividen yang akan dibagikan. Hasil penelitian ini tidak
sejalan dengan Indah (2010) yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh negatif signifikan terhadap kebijakan dividen.
Variabel assets growth mempunyai nilai signifikan sebesar 0,000 < α = 5%
dan berpengaruh positif dilihat dari nilai koefisien 4.082. Hal ini menunjukkan bahwa variabel assets growth berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen pada perusahaan jasa yang terdaftar di BEI periode tahun 2012-2015. Pengaruh positif dan signifikan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan perusahaan dapat dilihat dari sisi penjualan, asset maupun laba bersih perusahaan. Pertumbuhan perusahaan yang dapat diwujudkan dengan menggunakan investasi dengan sebaik-baiknya. Hal penelitian ini sesuai dengan Signaling Theory yang menyatakan bahwa dengan tingkat asset growth yang tinggi mampu meningkatkan keyakinan para investor bahwa perusahaan dapat membayar dividen yang tinggi. Namun hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Iwan (2012) yang menyatakan bahwa pertumbuhan pada total asset yang besar akan menurunkan pembayaran dividen kepada pemegang saham dan penelitian yang menyatakan bahwa assets growth tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen.
Variabel ROEmempunyai nilai signifikan sebesar 0,110 > α = 5%. Hal ini
menunjukkan bahwa variabel ROE tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen pada perusahaan jasa yang terdaftar di BEI periode tahun 2012 – 2015. Dengan hasil penelitian yang menunjukkan hasil tidak berpengaruh artinya semakin tinggi nilai ROE maka tidak akan mempengaruhi nilai DPR. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan Signaling Theory yang mengemukakan bahwa dengan tingkat
ROE yang tinggi mampu meningkatkan keyakinan para investor bahwa perusahaan dapat membayar dividen yang tinggi. Namun hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Ahmad (2013) yang menyatakan bahwa ROE tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen.
5.2.2 Hasil Uji Hipotesis Kedua
Variabel intervening merupakan variabel mediating yang fungsinya memediasi hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen (Ghozali, 2005). Untuk menguji pengaruh variabel intervening digunakan metode
Path Analysis.
Sebagaimana yang dilihat pada gambar dari variabel liquidity ratio terhadap kebijakan dividen lebih besar pengaruh langsung daripada pengaruh tidak langsung. Oleh sebab itu good corporate governance bukanlah variabel intervening yang baik. Maka dapat disimpulkan bahwa liquidity ratio berpengaruh terhadap kebijakan dividen.
Variabel leverage terhadap kebijakan dividen lebih besar nilai pengaruh tidak langsung daripada pengaruh langsung. Oleh sebab itu, variabel good corporate governance merupakan variabel intervening yang baik. Maka dapat disimpulkan leverage berpengaruh terhadap kebijakan dividen melalui good corporate governance.
Variabel profitabilitas terhadap kebijakan dividen lebih besar nilai pengaruh tidak langsung daripada pengaruh langsung. Oleh sebab itu, variabel Good Corporate Governance merupakan variabel intervening yang baik. Maka dapat
disimpulkan profitabilitas berpengaruh terhadap kebijakan dividen melalui Good Corporate Governance.
Variabel asset growth terhadap kebijakan dividen lebih besar nilai pengaruh langsung daripada pengaruh tidak langsung. Oleh sebab itu, variabel
Good Corporate Governance merupakan bukan variabel intervening yang baik. Maka dapat disimpulkan asset growth berpengaruh terhadap kebijakan dividen.
Variabel return on equity terhadap kebijakan dividen lebih besar nilai pengaruh langsung daripada pengaruh tidak langsung. Oleh sebab itu, variabel
Good Corporate Governance merupakan bukan variabel intervening yang baik. Maka dapat disimpulkan return on equity berpengaruh terhadap kebijakan dividen.
Dari penjelasan di atas, peran good corporate governance diyakini akan dapat membatasi perilaku secara teroritis manajer yang opotunitis. Dengan kehadiran good corporate governance ini diharapkan dapat menciptakan suatu tata kelola perusahaan yang baik dan lebih transparan. Melalui prinsip good corporate governance yaitu transaparansi, kewajaran, akuntabilitas, dan responbilitas yang ditersapkan dalam perusahaan diyakini akan menghasilkan suatu informasi yang akurat sehingga mendapatkan dividen perusahaan. Hasil ini tidak dapat dibandingkan dengan penelitian yang dillakukan oleh Silviana (2014) karena penelitian sebelumnya tidak menggunakan variabel intervening.
BAB VI