BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
1 Hasil identifikasi tumbuhan
Hasil identifikasi tumbuhan yang dilakukan di Herbarium Medanense (MEDA), Universitas Sumatera Utara menunjukkan bahwa tumbuhan termasuk jenis Myrmecodia tuberosa Jack. var versteegii (Sarang Semut), suku Rubiaceae. Hasil identifikasi tumbuhan dapat dilihat pada Lampiran 1, halaman 45.
4.2 Hasil karakterisasi
4.2.1 Pemeriksaan makroskopik umbi sarang semut
Hasil pemeriksaan makroskopik umbi sarang semut adalah memiliki bentuk bulat lonjong yang menggelembung membentuk bulatan berdiameter 10- 30 cm, berwarna coklat tua, permukaan dipenuhi duri-duri tajam, bagian dalam berbentuk rongga bersekat-sekat sebagai tempat tinggal koloni semut, menempel atau menggantung pada tumbuhan inang. Gambar tumbuhan sarang semut dapat dilihat pada Lampiran 2, halaman 46-47.
4.2.2 Pemeriksaan makroskopik simplisia umbi sarang semut
Hasil pemeriksaan simplisia umbi sarang semut adalah simplisia berwarna coklat tua, memiliki bau yang khas yaitu seperti teh dan memiliki permukaan yang kasar, berasa tawar dan agak sepat. Gambar simplisia dan serbuk simplisia sarang semut dapat dilihat pada Lampiran 3, halaman 48.
4.2.3 Pemeriksaan mikroskopik simplisia umbi sarang semut
Pemeriksaan dilakukan terhadap serbuk simplisia umbi sarang semut. Hasil pemeriksaan mikroskopik yaitu menunjukkan adanya butir pati, parenkim,
fragmen berisi pigmen, serat dan pembuluh kayu. Hasil pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia umbi sarang semut dapat dilihat pada Lampiran 4, halaman 49. 4.2.4 Hasil pemeriksaan karakteristik simplisia
Hasil pemeriksaan karakteristik simplisia umbi sarang semut dari Desa Fadoroyou, Kecamatan Hiliduho, Kabupaten Nias dibandingkan dengan hasil karakterisasi simplisia umbi sarang semut yang berasal dari Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, oleh Falna Yati (2014) yang berjudul Karakterisasi dan Skrining Fitokimia serta Uji Efek Antidiare Ekstrak Etanol Umbi Sarang Semut (Myrmecodia tuberosa Jack.) pada tikus putih jantan. Hasil pemeriksaan kadar air, kadar sari yang larut dalam air, kadar sari yang larut dalam etanol, kadar abu total dan kadar abu yang tidak larut asam dapat dilihat pada Tabel 4.1 dan perhitungan hasil karakterisasi simplisia umbi sarang semut dapat dilihat pada Lampiran 7, halaman 52-55.
Tabel 4.1 Hasil pemeriksaan karakteristik simplisia umbi sarang semut dari Desa Fadoroyou, Kecamatan Hiliduho, Kabupaten Nias dan Kabupaten Mimika, Provinsi Papua
No Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan A (%) Hasil Pemeriksaan B (%) 1 Kadar air 5,27 7,98
2 Kadar sari yang larut dalam air 16,66 6,95 3 Kadar sari yang larut dalam etanol 10,57 5,75
4 Kadar abu total 6,36 2,80
5 Kadar abu tidak larut asam 0,33 0,25
Keterangan:
A : simplisia umbi sarang semut dari Desa Fadoroyou, Kecamatan Hiliduho, Kabupaten Nias.
B : simplisia umbi sarang semut dari Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa karakteristik simplisia umbi sarang semut dari Desa Fadoroyou, Kecamatan Hiliduho, Kabupaten Nias berbeda
dengan hasil pemeriksaan karakteristik simplisia umbi sarang semut dari Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. Hal ini membuktikan bahwa tempat tumbuh mempengaruhi karakteristik tumbuhan sarang semut.
4.3 Hasil skrining fitokimia
Hasil skrining fitokimia terhadap simplisia umbi sarang semut diketahui bahwa tumbuhan mengandung golongan senyawa kimia seperti yang terlihat pada Tabel 4.2 berikut ini:
Tabel 4.2 Hasil skrining fitokimia serbuk simplisia umbi sarang semut
No Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan
1 Alkaloida 2 Glikosida + 3 Saponin + 4 Flavonoid + 5 Tanin + 6 Steroid/triterpenoid + 4.1 Keterangan:
+ = mengandung golongan senyawa, – = tidak mengandung golongan senyawa
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa simplisia umbi sarang semut mengandung senyawa golongan glikosida, saponin, flavonoid, tanin dan steroid/triterpenoid. Penambahan pereaksi Molish dan asam sulfat pekat membentuk cincin berwarna ungu yang menunjukkan adanya senyawa glikosida. Terbentuknya busa yang stabil dengan pengocokan dalam air dan tidak hilang dengan penambahan HCl 2 N menunjukkan adanya senyawa saponin (Depkes RI, 1995). Penambahan serbuk Mg dan asam klorida pekat menghasilkan larutan warna merah dan dengan penambahan amil alkohol, warna merah tertarik pada lapisan amil alkohol yang menunjukkan adanya flavonoid. Penambahan pereaksi Liebermann-Burchart membentuk warna merah ungu yang menunjukkan adanya
senyawa steroid/triterpenoid (Farnsworth, 1966). Sarang semut memiliki potensi sebagai antioksidan, yaitu dengan adanya senyawa-senyawa yang mempunyai potensi sebagai antioksidan umumnya merupakan senyawa flavonoid (Kumalaningsih, 2006). Hasil uji fitokimia menunjukkan tumbuhan sarang semut mengandung senyawa kimia golongan flavonoid dan tanin. Flavonoid merupakan antioksidan alam yang mampu bertindak sebagai pereduksi radikal hidroksil, superoksida dan radikal peroksil. Selain itu, tumbuhan ini juga mengandung 313 ppm tokoferol yang meredam 96% radikal bebas pada konsentrasi 12 ppm (Subroto dan Saputro, 2006).
4.4 Hasil analisis aktivitas antioksidan ekstrak etanol umbi sarang semut (EEUSS)
4.4.1 Hasil penentuan panjang gelombang serapan maksimum
Kurva panjang gelombang maksimum larutan DPPH dalam metanol dapat dilihat pada Gambar 4.1 berikut ini:
Gambar 4.1 Kurva Serapan Maksimum Larutan DPPH 40 ppm dalam Metanol Menggunakan Spektrofotometri UV-Visible
Pengukuran serapan maksimum larutan DPPH 40 ppm dalam metanol menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa
gelombang 516 nm, termasuk dalam kisaran panjang gelombang sinar tampak (400-800 nm) (Gandjar dan Rohman, 2007) dan termasuk dalam rentang panjang gelombang DPPH yang berkisar antara 515, 516, 517, 518 dan 520 nm (Molyneux, 2004).
4.4.2 Hasil analisis aktivitas antioksidan sampel uji
Aktivitas antioksidan ekstrak etanol umbi sarang semut diperoleh dari hasil pengukuran absorbansi DPPH pada menit ke-60 dengan adanya penambahan larutan uji dengan konsentrasi 25 ppm, 50 ppm, 75 ppm dan 100 ppm yang dibandingkan dengan kontrol DPPH (tanpa penambahan larutan uji). Penentuan konsentrasi larutan uji diperoleh dari orientasi konsentrasi larutan uji. Orientasi dilakukan untuk memperoleh konsentrasi larutan uji yang memiliki nilai absorbansi setengah dari nilai absorbansi larutan blanko. Selanjutnya konsentrasi larutan uji dibuat dengan rentang konsentrasi bertingkat untuk dapat mengetahui penurunan nilai absorbansi DPPH pada setiap kenaikan konsentrasi. Pada hasil analisis aktivitas antioksidan EEUSS dapat dilihat adanya penurunan nilai absorbansi DPPH yang diberi larutan uji terhadap kontrol pada setiap kenaikan konsentrasi. Tabel hasil orientasi konsentrasi larutan uji dapat dilihat pada lampiran 8, halaman 56.
Penurunan absorbansi DPPH dan persen peredaman dengan penambahan EEUSS dapat dilihat pada Tabel 4.3 dan vitamin c dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut ini:
Tabel 4.3 Penurunan absorbansi dan persen peredaman DPPH oleh EEUSS Larutan uji Konsentrasi (ppm) Absorbansi % pemerangkapan
EEUSS 0 1,053 0,00 25 0,626 40,50 50 0,352 66,58 75 0,208 80,22 100 0,163 84,46
Tabel 4.4 Penurunan absorbansi dan persen peredaman DPPH oleh vitamin c Larutan uji Konsentrasi (ppm) Absorbansi % pemerangkapan
Vitamin c 0 0,987 0,00 1 0,758 23,20 2 0,531 46,20 4 0,189 80,78 8 0,097 90,14
Tabel hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol umbi sarang semut (EEUSS) dapat dilihat pada Lampiran 9, halaman 57, dan contoh perhitungan persen peredaman dapat dilihat pada Lampiran 10, halaman 58-59.
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa adanya penurunan nilai absorbansi DPPH yang diberi EEUSS serta sebagai pembandingnya vitamin c dalam metanol pada setiap kenaikan konsentrasi. Penurunan absorbansi yang semakin besar menunjukkan aktivitas antioksidan yang semakin besar pula.
Penurunan nilai absorbansi terjadi karena larutan uji memerangkap DPPH dan pemerangkapan terjadi karena adanya transfer elektron atom hidrogen antioksidan kepada DPPH. Interaksi antioksidan dengan DPPH secara transfer elektron atom hidrogen kepada DPPH, akan menetralkan radikal bebas DPPH. Semua elektron pada radikal bebas DPPH menjadi berpasangan, akan ditandai
dengan warna larutan yang berubah dari ungu tua menjadi kuning terang dan absorbansi pada panjang gelombang maksimumnya akan hilang (Molyneux, 2004).
Hubungan antara konsentrasi dengan persentase pemerangkapan radikal bebas DPPH oleh EEUSS dapat dilihat pada Gambar 4.2 dan untuk vitamin c dapat dilihat pada Gambar 4.3 berikut ini:
Gambar 4.2 Grafik hasil uji aktivitas antioksidan EEUSS
Gambar 4.3 Grafik hasil uji aktivitas antioksidan vitamin c 4.4.3 Hasil analisis nilai IC50 (Inhibitory Concentration)
Nilai IC50 diperoleh berdasarkan perhitungan persamaan regresi linier yang
didapatkan dengan cara memplot konsentrasi larutan uji dan persen peredaman 0 20 40 60 80 100 0 20 40 60 80 100 120 % p ered a m a n Konsentrasi (ppm) 0 20 40 60 80 100 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 % p ered a m a n Konsentrasi (ppm)
DPPH sebagai parameter aktivitas antioksidan, dimana konsentrasi sampel (ppm) sebagai absis (sumbu X) dan nilai % inhibisi sebagai ordinat (sumbu Y).
Hasil persamaan regresi linier dan hasil analisis IC50 yang diperoleh untuk
ekstrak etanol umbi sarang semut dan vitamin c dapat dilihat pada Tabel 4.5 dan perhitungan nilai IC50 dapat dilihat pada Lampiran 11, halaman 60.
Tabel 4.5 Hasil persamaan regresi linier dan hasil analisis IC50 yang diperoleh
dari ekstrak etanol umbi sarang semut dan vitamin c
Larutan Uji Persamaan regresi IC50 (ppm)
EEUSS Y = 0,8345X + 12,625 44,23
Vitamin C Y = 5,7364X + 22,889 4,73
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ekstrak etanol umbi sarang semut memiliki aktivitas antioksidan kategori sangat kuat dengan nilai IC50 44,23
ppm, sama dengan vitamin c memiliki aktivitas antioksidan kategori sangat kuat dengan nilai IC50 4,16 ppm, dimana keduanya memiliki nilai IC50 <50 ppm. Hal
ini membuktikan bahwa tumbuhan sarang semut memiliki aktivitas antioksidan yang sangat baik. Namun, aktivitas antioksidan ekstrak etanol umbi sarang semut tidak lebih kuat dari vitamin c. Hal ini dikarenakan bahwa vitamin c merupakan senyawa murni sedangkan ekstrak etanol umbi sarang semut masih berupa campuran beberapa senyawa. Kategori nilai IC50 sebagai antioksidan dapat dilihat
pada Tabel 4.2 berikut:
Tabel 4.6 Kategori nilai IC50 sebagai antioksidan
No. Kategori Konsentrasi (ppm)
1. Sangat kuat <50
2. Kuat 50-100
3. Sedang 101-150
Kemampuan sampel uji dalam memerangkap 1,1-diphenyl-2- picrylhidrazyl (DPPH) sebagai radikal bebas dalam larutan metanol dengan nilai IC50 (konsentrasi sampel uji yang mampu memerangkap radikal bebas sebesar
50%) digunakan sebagai parameter untuk menentukan aktivitas antioksidan sampel uji tersebut (Prakash, 2001).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan: a. Hasil karakterisasi simplisia umbi sarang semut dari pulau Nias berbeda
dengan hasil karakterisasi simplisia umbi sarang semut dari Papua.
b. Hasil skrining fitokimia serbuk simplisia umbi sarang semut menunjukkan adanya senyawa kimia golongan glikosida, saponin, flavonoid, tanin dan steroid/triterpenoid.
c. Hasil pengukuran aktivitas antioksidan dengan metode pemerangkapan radikal bebas 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil (DPPH), ekstrak etanol umbi sarang semut menunjukkan kekuatan antioksidan dalam kategori sangat kuat.
d. Hasil analisis diperoleh nilai IC50 ekstrak etanol umbi sarang semut 44,23
ppm dan vitamin c 4,73 ppm.
5.2 Saran
Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan uji aktivitas antioksidannya dengan metode lain dan pelarut lain.
DAFTAR PUSTAKA
Dachriyanus. (2004). Analisis Struktur Senyawa Organik secara Spektrofotometri. Padang: Andalas University Press. Halaman 1.
Depkes RI. (1985). Cara Pembuatan Simplisia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 2-3, 10.
Depkes RI. (1995). Materia Medika Indonesia. Jilid VI. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 299-305, 334-335.
Depkes RI. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 1.
Depkes RI. (2008). Farmakope Herbal Indonesia. Edisi Pertama. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 174-175.
Ditjen POM. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 9, 29, 39, 47, dan 1119.
Falna, Y. (2014). Karakterisasi dan Skrining Fitokimia serta Uji Efek Antidiare Ekstrak Etanol Umbi Sarang Semut (Myrmecodia tuberosa Jack.) Pada Tikus Putih Jantan. Skripsi. Medan: Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Halaman 34-35.
Farnsworth, N.R. (1966). Biological and Phytochemical Screening of Plants. Journal of Pharmaceutical Sciences. 55(3): 263.
Florentinus, J. (2012). Sarang Semut Berantas Penyakit Maut. Yogyakarta: Gapura Publishing. Halaman 1-5.
Gandjar, I.G., dan Rohman, A. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Halaman 222, 252-256.
Hamid, A.A., Aiyelaagbe, O.O., Usman, L.A., Ameen, O.M., dan Lawal, A. (2010). Antioxidant: Its Medicinal and Pharmacological Applications. African Journal of Pure and Applied Chemistry. 4(8): 142-151.
Harborne, J.B. (1987). Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisa Tumbuhan. Penerjemah: Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Bandung: Penerbit ITB. Halaman 147, 259.
Hermawati, R., dan Arumsari, D. (2014). Khasiat Ajaib Sarang Semut Berantas Berbagai Penyakit. Jakarta: Padi. Halaman 5-25.
Ionita, P. (2005). Is DPPH Stable Free Radical A Good Scavenger for Oxygen Active Species?. Cem. Pap. 59(1): 11.
Kumalaningsih, S. (2006). Antioksidan Alami, Penangkal Radikal Bebas: Sumber, manfaat, cara penyediaan dan pengolahan. Cetakan Pertama. Surabaya: Trubus Agrisarana. Halaman. 4-5, 16, 21, 24, 43.
Mardawati, E., Achyar, C.S., dan Marta, H. (2008). Kajian Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Manggis (Garcinia mangostana L) dalam Rangka Pemanfaatan Limbah Kulit Manggis di Kecamatan Puspahiang Kabupaten Tasikmalaya. Laporan Akhir Penelitian Peneliti Muda (LITMUD). Bandung: Universitas Padjajaran. Halaman 17.
Marinova, G., dan Batchvarov, V. (2011). Evaluation of the Methods for Determination of the Free Radical Scavenging Activity by DPPH. Bulg. J. Agric. Sci. 17(1): 13-14.
Markham, K.R. (1988). Cara Mengidentifikasi Flavonoid. Bandung: Penerbit ITB. Halaman 1.
Molyneux, P. (2004). The Use of The Stable Free Radical Diphenylpicrylhydrazyl (DPPH) for Estimating Antioxidant Activity. Songklanakarin. J. Sci. Technol. 26(2): 212.
Muchtadi, D. (2013). Antioksidan Dan Kiat Sehat Di Usia Produktif. Bandung: Penerbit Alfabeta. Halaman 15, 83.
Noya, E., Buang, Y., dan Cunha T.D. (2013). Isolasi, Identifikasi, dan Uji Aktivitas Senyawa Antioksidan Fraksi Kloroform Ekstrak Metanol Sarang Semut (Myrmecodia pendans). Jurnal Kimia Terapan. 1(1): 6-7.
Packer, L. (2002). The Antioxidant Vitamins C and E. United States of America : AOCS Press. Halaman 9.
Pham-Huy, L.A., Hua He., dan Chuong, P. (2008). Free Radical, Antioxidants in Disease and Health. International Journal of Biomedical Science. 4(2): 89- 96.
Prakash, A. (2001). Antioxidant Activity. Analytical Progress. 19(2): 1-4.
Robinson, T. (1995). Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Edisi VI. Bandung: Penerbit ITB. Halaman 191-193.
Rosany, T., Vera, A., dan Usmar. (2012). Pengaruh Pemberian Infus Sarang Semut (Myrmecodia pendens) terhadap kadar asam urat darah pada kelinci (Oryctolagus cunilicus). Majalah Farmasi Dan Farmakologi. 16: 31-36. Rosidah., Yam, M.F., Sadikun, A., dan Asmawi, M.Z. (2008). Antioxidant
Roslizawaty., Nita, Y.R., Fakhrurrazi., dan Herrialfian. (2013). Aktivitas Antibakterial Ekstrak Etanol Dan Rebusan Sarang Semut (Myrmecodia sp.) Terhadap Bakteri Escherichia coli. Jurnal Medika Veterinaria. 7(2): 91-94.
Silalahi, J. (2006). Makanan Fungsional. Yogyakarta: Kanisius. Halaman 40-41, 47, 51-52, 54.
Subroto, M.A., dan Saputro, H. (2006). Gempur Penyakit dengan Sarang Semut. Jakarta: Penebar Swadaya.
Sudiana, I.K. (2008). Patobiologi Molekuler Kanker. Jakarta: Penerbit Salemba Medika. Halaman 36.
Sujuti, H., Sarwono, I., dan Qosim, W.P. (2013). Pengaruh Ekstrak Tanaman Sarang Semut (Myrmecodia pendans) terhadap ekspresi p53 pada sel HeLa S3 in vitro. Skripsi. Malang: Jurusan Pendidikan Dokter Universitas Brawijaya. Halaman 3-6.
Tatang, I., Andayana, P., dan Ema, S. (2011). Aktivitas Penangkapan Radikal 2,2- Difenil-1 Pikrilhidrazil Oleh Ekstrak Etanolik Batang Brotowali (Tinospora crispa (L.) Miers) Dan Fraksi-Fraksinya. Majalah Obat Tradisional. 16(3): 138 – 144.
Winarsi, H. (2011). Antioksidan Alami dan Radikal Bebas. Yogyakarta: Kanisius. Halaman 11, 17, 20.
World Health Organization. (1998). Quality Control Methods For Medicinal Plant Material. Switherland: WHO. Halaman 25-28.
Yuli, N.E., dan Triana, H. (2013). Potensi Antimikroba Ekstrak Etanol Sarang Semut (Myrmecodia tuberose jack.) Terhadap Candida albicans, Eschericia coli dan Staphylococcus aureus. Traditional Medicine Journal. 18(1): 53-58.