• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Budidaya Wortel 1.Persiapan Benih

Dalam dokumen Perencanaan Kapasitas Produksi Wortel di (Halaman 40-48)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Hasil Magang Kerja

4.2.2. Teknik Budidaya Wortel 1.Persiapan Benih

Benih wortel yang digunakan di Yayasan Bina Sarana Bakti adalah benih lokal yang diperoleh dari hasil membenihkan sendiri dari seleksi induk dengan memilih indukan yang sehat dan dipilih dari umbi wortel yang unggul atau yang tergolong dalam grade A yang didapatkan dari hasil panen.

Gambar 4. Benih Wortel 2. Persiapan Lahan dan Pengolahan Tanah

Persiapan lahan di Yayasan Bina Sarana Bakti dimulai dengan pembuatan bedengan berukuran 10m x 1m, tinggi 20 cm, dan jarak antara bedengan 50 cm. Ukuran bedengan yang digunakan 10m x 1m dengan pertimbangan untuk mempermudah pengolahan dan dianggap paling ideal dalam mengelola kebun karena mempermudah pengaturan jarak tanam, jumlah populasi tanam, dosis pupuk, perawatan maupun perhitungan tingkat produktivitas. Untuk

29

bedengan yang telah jadi, pengolahan tanah dilakukan sebelum pelaksanaan tanam. Pengolahan tanah dilakukan seminimal mungkin (minnimum tillage) untuk memperbaiki struktur tanah, sifat kimia tanah, dan biologi tanah serta mempertahankan keseimbangan makhluk hidup didalamnya serta untuk mengurangi erosi oleh run off.

Pengolahan tanah di Yayasan Bina Sarana Bakti dikenal dengan sebutan SILATA (Siap Lahan Tanam). Pengolahan tanah untuk tanaman wortel dilakukan dengan 3 cara yaitu penggarpuan, tacarukub, dan double digging (penggalian rangkap). Pengolahan tanah penggarpuan dilakukan hanya dengan menggarpu tanah sehingga tanah menjadi gembur. Fungsi dilakukan penggarpuan adalah untuk melonggarkan pori tanah sehingga udara dan air dapat masuk kedalam tanah. Selain itu penggarpuan juga lebih efisien karena tidak membutuhkan tenaga kerja yang banyak dan tidak merusak apapun yang ada dalam tanah seperti organisme dalam tanah yaitu cacing.

Pengolahan tanah tacarukub adalah pengolahan tanah dengan cara tanah dicangkul kemudian rumput dikubur. Tanah dicangkul sedalam lapisan olah (top soil) atau sedalam ± 30 cm sampai pada bagian tanah keras. Kemudian masukkan rumput atau sisa tanaman sampai ke permukaan tanah dan selanjutnya di timbun kembali dengan tanah. Pengolahan tanah tacarukub bertujuan untuk menggemburkan tanah dengan memanfaatkan rumput atau sisa tanaman disekitar bedengan untuk menambah bahan organis.

Pengolahan tanah double digging (penggalian rangkap) adalah pengolahan tanah yang hampir serupa dengan pengolahan tanah tacarukub. Tanah dicangkul sedalam lapisan olah (top soil) kemudian garpu tanah lapisan top soil sampai ke tanah lapisan sub soil atau sedalam ± 50 cm. Setelah itu masukkan rumput atau sisa tanaman dan kompos sampai ke permukaan tanah dan selanjutnya ditimbun kembali dengan tanah. Pengolahan tanah double digging digunakan untuk tanah yang keras atau untuk tanah yang baru pertama kali ditanami sayuran. Selain itu, juga untuk memperlebar lapisan olah tanah, menambah hara tanah dan memperbaiki struktur tanah.

30

Gambar 5. Pengolahan Tanah 3. Penanaman

Kegiatan penanaman wortel dilakukan dengan pembuatan alur dalam bedengan, kemudian benih ditabur pada tiap alur secara merata sehingga wortel dapat tumbuh dengan rapih dan teratur dalam setiap bedengan. Setelah selesai ditabur, benih ditutup dengan tanah yang halus (remah). Penanaman wortel di YBSB tidak membutuhkan pupuk karena sistem rotasi yang dilakukan YBSB telah mencukupi kebutuhan pupuk yang dibutuhkan tanaman wortel. Apabila dilakukan penambahan pupuk maka umbi yang akan dihasilkan memiliki kualitas yang kurang baik, umbi akan berbulu karena pupuk kompos matang mengandung unsur N yang tinggi. Tanaman wortel membutuhkan unsur N yang lebih sedikit dibandingkan dengan unsur K, maka dalam pemeliharaannya tidak perlu lagi penambahan pupuk pada tanaman wortel.

Penanaman tanaman wortel di YBSB juga dilakukan dengan sistem kombinasi. Wortel dapat ditanam bersama bawang daun. Satu bedengan dibuat 4 alur untuk penanaman wortel dan satu alur untuk penanaman bawang daun. Wortel juga dapat ditanam dengan monokultur dalam satu bedengan, biasanya wortel dibuat 5 alur dalam satu bedengan.

Kombinasi tanaman wortel dengan bawang daun adalah companion (tanam bersama). Wortel dikombinasikan dengan bawang daun karena tanaman tersebut memiliki hubungan yang saling mendukung, tanaman bawang daun tumbuh ke atas sehingga tidak mempengaruhi cahaya matahari yang akan diterima oleh tanaman wortel, efisiensi lahan, tidak terjadi perebutan unsur hara sebab hara yang dibutuhkan oleh kedua tanaman tersebut berbeda, untuk tanaman wortel lebih banyak menyerap unsur K sedangkan bawang daun lebih banyak meyerap

31

unsur N. Selain itu bawang daun memiliki akar yang dangkal sehingga tidak terjadi perebutan unsur hara antara akar bawang daun dan umbi wortel.

Waktu tanam yang baik untuk tanaman wortel adalah saat musim kemarau. Musim hujan masih dapat dilakukan penanaman wortel tetapi kualitasnya menurun yaitu berupa umbi yang berukuran kecil. Hal ini karena kesuburan tanah berkurang yang disebabkan karena tercucinya unsur hara dalam tanah akibat tetesan air hujan. Selain itu pada saat musim hujan juga rawan terjadinya pembusukan pada umbi karena kelembabab tanah tinggi yang memicu terjadinya penyakit busuk umbi. Mengatasi hal tersebut bedengan dibuat agak tinggi agar air hujan tidak menggenang dalam bedengan.

Gambar 6. Bedengan Wortel 4. Pemeliharaan

a. Penyiraman

Penyiraman yang dilakukan di YBSB hanya dilakukan saat musim kemarau saja, karena pada musim hujan kebutuhan air telah tersedia. Tanaman wortel tidak mengkehendaki keadaan tanah yang terlalu lembab. Apabila benih baru ditanam dilakukan penyiraman 1 kali dalam sehari, namun saat benih telah berkecambah umur 1-2 minggu, penyiraman dikurangu menjadi 2 hari sekali. Penyiraman dilakukan saat pagu hari atau sore hari sekitar pukul 3-4 sore agar tidak cepat menguap. Ketika tanaman wortel sudah menjelang panen, tidak dilakukan penyiraman karena apabila terlalu banyak air dapat mengakibatkan umbi wortel menjadi busuk. Wortel membutuhkan air yang cukup dalam masa pertumbuhannya.

32 b. Penyiangan

Penyiangan bertujuan agar tidak terjadi persaingan dengan gulma dalam memperebutkan unsur hara, sinar matahari, dan air. Peyiangan pertama dilakukan setelah tanaman berumur 3 minggu setelah tanam dengan tinggi tanaman wortel ±5 cm. Penyiangan kedua dilakukan pada saat tanaman wortel berumur 7 minggu. c. Penjarangan

Penjarangan yang dilakukan oleh petani YBSB rata-rata 2 kali pada wortel berumur 3 minggu dan 7 minggu. Penjarangan dilakukan dengan mengatur jarak antar tanaman, apabila jarak terlalu lebar maka umbi yang akan dihasilkan kurang baik karena mengalami pemecahan umbi. Namun apabila penjarangan kurang dan antar tanaman terlalu rapat maka akan terjadi penyatuan antar umbi dan umbi menjadi bercabang. Penjarangan dilakukan pula dengan mencabuti tanaman yang tubuhnya lemah dan pertumbuhannya kurang baik secara hati-hati agar tanaman wortel lain tidak tercabut.. Jarak yang tepat untuk antar tanaman wortel adalah ± 3 - 5 cm. Penjarangan dilakukan bersamaan dengan penyiangan. d. Pendangiran

Pendangiran pada tanaman wortel dilakukan sekali. Pendangiran pertama dilakukan saat tanaman berumur 7 minggu setelah tanam dengan melakukan pembumbunan di sekitar tanaman agar umbi yang dihasilkan besar dan tidak bercabang yang dilakukan bersamaan dengan penjarangan dan peyiangan yang kedua. Tujuan pendangiran adalah membuat tanah menjadi lebih gembur sehingga pertumbuhan umbi wortel dapat lebih berkembang dan menghasilkan umbi yang baik.

e. Pemupukan

Pemupukan untuk tanaman wortel di YBSB tergantung pada situasi dan kondisi dilapangan tersebut. Pemupukan digunakan saat musim hujan yang berkepanjangan karena banyak terjadi pencucian unsur hara sehingga membutuhkan tambahan nutrisi untuk lebih meyuburkan tanah tersebut. Apabila keadaan tanah cukup subur tidak perlu lagi penambahan pupuk karena penambahan pupuk akan menyebabkan tanaman wortel berbulu. Pemupukan yang diberikan untuk tanaman wortel dikhususkan saat pembenihan untuk pembenihan

33

wortel bertujuan pada perkembangan daun sehingga dapat menghasilkan bunga yang baik dan dapat menghasilkan benih yang baik dengan bobot yang tepat. f. Pengendalian Hama dan Penyakit

Pada tanaman wortel hampir tidak ditemukan hama dan penyakit. Adapun hama yang sering ada pada tanaman wortel merupakan hama transmigran, yaitu hama yang hanya datang untuk makan. Penyakit yang sering dijumpai pada tanaman wortel adalah penyakit busuk umbi atau busuk lunak bakteri. Akan tetapi penyakit ini pun sangat jarang sekali ditemukan. Penyakit busuk umbi banyak terjadi ketika musim hujan berkepanjangan karena kelembaban tanah yang terlalu tinggi sehingga memicu timbulnya penyakit. Busuk umbi disebabkan oleh bakteri

Erwinia carotovora. Ciri-ciri tanaman wortel yang terkena busuk umbi adalah

daunnya layu dan kemudian saat tanah dicongkel umbinya busuk dan berair. Cara pencegahan penyakit busuk umbi yang dilakukan adalah

1) Menjaga kebersihan kebun dari sisa-sisa tanaman sakit sebelum tanam. Sisa-sisa tanaman sakit dibersihkan dan dibakar.

2) Pemeliharaan tanaman dilakukan secara hati-hati untuk menghindari terjadinya luka, terutama saat penyiangan.

3) Mengatur jarak tanam agar tidak terlalu rapat untuk menghindari kelembapan yang terlalu tinggi terutama pada saat musim hujan.

Gambar 7. Penyakit Busuk Umbi Wortel

4.2.3. Panen dan Pasca Panen Wortel 1. Panen

Umbi wortel dipanen sekitar umur 10-12 minggu. Panen wortel dilakukan pada pagi hari dalam satu bedengan secara keseluruhan agar umbi

34

wortel masih tampak segar serta untuk menghindari kehilangan hasil yang lebih banyak. Wortel dipanen langsung dicabut dari tanah secara hati-hati agar umbi tidak rusak atau cacat.

Tanah yang terlalu keras biasanya digemburkan dengan menggunakan garpu atau disiram dengan air sehingga mempermudah pencabutan umbi wortel. Apabila tanah tidak digemburkan terlebih dahulu, dapat terjadi patah umbi ketika dilakukan pencabutan. Tanaman wortel dipanen saat daun wortel telah menguning, umbi telah muncul keatas permukaan tanah, umbi mencapai ukuran panjang sekitar 14 – 20 cm dan berdiameter 2,5 – 3,5 cm. Secara fisik, umbi tidak bercabang, tidak busuk, lurus, mulus dengan warna umbi merah (oranye).

Gambar 8. Panen Wortel 2. Pasca Panen

Pada tanaman wortel untuk dapat menghasilkan hasil produksi yang berkualitas, YBSB melakukan penanganan pasca panen sebagai berikut:

a. Pencucian

Wortel harus dilakukan pencucian karena bagian tanaman yang dikonsumsi (umbi) berada di dalam tanah. Pencucian wortel untuk menghilangkan kotoran serta bagian-bagian seperti akar yang masih tertinggal. Proses pencucian tidak dilakukan dengan kain karena dapat merusak kulit luar tetapi dengan merendam dan membersihkan wortel dengan tangan.

b. Sortasi

Sortasi merupakan kegiatan memilih dan memisahkan sayuran yang layak maupun yang tidak layak. Sortasi wortel dilakukan dua kali yaitu pada waktu panen di kebun dan di pasar. Kegiatan sortasi ini sudah dimulai sejak proses

35

panen di kebun. Sedangkan kegiatan di bagian pemasaran cukup melakukan sortasi akhir. Setiap jenis sayuran memiliki proses sortasi yang berbeda-beda. Untuk sortasi wortel dilakukan dengan cara membuang umbi-umbi wortel yang busuk karena sudah tidak layak dipasarkan dan dikonsumsi.

c. Grading

Grading merupakan kegiatan mengelompokkan produk berdasarkan kriteria atau standart tertentu yang telah ditetapkan oleh Yayasan Bina Sarana Bakti. Untuk sayuran wortel dibedakan menjadi 2 grade yaitu grade A dan grade B. Wortel yang tidak termasuk dalam grade A dan grade B dapat disebut sebagai produk sisa (grade C). Grade A merupakan kualitas umbi yang paling baik dengan beberapa standar mutu sayuran organik diantaranya umbi memiliki keadaan sifat yang lurus, tidak bercabang, tidak busuk, tidak berkayu, tidak berbulu (mulus), dan berwarna oranye. Grade B merupakan kualitas kedua dengan ciri-ciri diantaranya umbi bercabang namun dalam keadaan umbi besar, umbi tidak lurus, bentuk umbi kecil tapi masih mulus dan tidak rusak. Sedangkan grade C mempunyai ciri-ciri umbi bercabang, bagian umbi ada yang busuk dan umbi pecah. Grade C ini biasanya digunakan untuk pakan angsa/kelinci. Penentuan grade dilakukan saat penimbangan.

Gambar 9. Sortasi dan Grading Wortel d. Packaging

Dalam pengemasannya, sayuran wortel dibagi menjadi 2 tipe produk yaitu curah dan kemas. Jadi secara umum produk wortel yang ada di Yayasan Bina Sarana Bakti yaitu terdiri dari wortel grade A curah, wortel grade A kemas dan wortel grade B curah, dan wortel grade B kemas. Yayasan Bina Sarana Bakti

36

memiliki beberapa kriteria dalam melakukan packaging sesuai dengan jenis sayuran. Untuk produk wortel kemas grade A maupun grade B rata-rata 0,5kg/pack yang dikemas dalam plastik dengan label “Group: Agatho Organics, Pioneer Organics in Indonesia”. Hal tersebut dilakukan untuk meyakinkan

konsumen bahwa produk wortel atau sayuran yang mereka konsumsi merupakan produk asli dari Agatho Farm, nama lain dari Yayasan Bina Sarana Bakti. Selain ada packaging, juga ada yang curah untuk dikirim ke agen atau dipasarkan. Untuk curah biasanya menggunakan kontainer plastik.

Pihak agen memesan wortel dalam bentuk kemasan packing maupun curah. Supermarket memesan dalam bentuk kemasan packing dan rumah sakit memesan dalam bentuk curah. Untuk pasar tradisional biasanya memesan wortel dalam bentuk curah karena Yayasan Bina Sarana Bakti menjual ke pasar tradisional jika terjadi kelebihan produksi. Sedangkan pada toko sayuran organik, semua jenis kemasan baik packing maupun curah dijual namun dengan jumlah yang sedikit karena sifatnya hanya memenuhi kebutuhan pegawai dan masyarakat sekitar wilayah Yayasan Bina Sarana Bakti. Biasanya Yayasan Bina Sarana Bakti mengirim hasil panen satu hari setelah hari panen yaitu pada hari Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat. Namun untuk hari Sabtu biasanya wortel yang dikirim untuk agen jumlahnya sedikit.

Dalam dokumen Perencanaan Kapasitas Produksi Wortel di (Halaman 40-48)

Dokumen terkait