• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

D. Paparan Data Hasil Penelitian

1. Hasil Observasi Siswa

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan obervasi setelah mendapatkan rekomendasi partisipan (siswa) dari masing-masing wali kelas yang nantinya partisipan tersebut peneliti wawancarai, karena ini penelitian kualitatif penting sekali peneliti mewawancarai orang yang tepat agar pertanyaan penelitian dapat terjawab. Oleh karena itu, observasi dilakukan peneliti bertujuan untuk menentukan partisipan yang diwawancarai. Peneliti menyiapkan lembar observasi yang di dalamnya terdapat lima dimensi kecerdasan sosial yang terdiri dari: kecerdasan situasional, kemampuan membawa diri, autentisitas (perilaku yang menyebabkan orang lain menilai bahwa kita adalah orang yang jujur, terbuka, beretika, dapat dipercaya, dan berniat baik), kejelasan (kemampuan untuk menjelaskan, menerangkan, menyampaikan serta mengartikulasikan pandangan kita) dan empati.

Observasi ini dilakukan selama empat hari, terputus tidak dilakukan secara terus menerus. Pada setiap waktunya peneliti duduk di lokasi observasi yaitu hari pertama peneliti masuk ke ruang belajar kelas VIII B di Homeschooling Kak Seto dari jam 09:00 WIB sampai dengan jam 12:00 WIB. Pemilihan tempat ini dikarenakan tempat interaksi antara siswa dengan guru ataupun siswa dengan siswa lainnya dan alasan pemilihan waktu karena pada jam tersebut merupakan jam siswa masuk sekolah. Hari kedua peneliti duduk di depan ruang resepsionis

Homeschooling Kak Seto dari jam 08:30 WIB sampai dengan jam 12:00 WIB.

dekat dengan ruang belajar siswa SMP dan pemilihan waktu karena jam tersebut merupakan jam siswa untuk datang ke sekolah sampai mereka pulang sekolah. Hari ketiga dan keempat peneliti duduk di kantin dari jam 08:30 WIB sampai dengan jam 11:00 WIB. Pemilihan tempat ini dikarenakan tempat siswa berinteraksi dengan para penjual makanan, minuman atau pun pegawai koperasi di

Homeschooling Kak Seto dan alasan pemilihan waktu karena jam tersebut

merupakan jam siswa datang ke sekolah dan waktu jam istirahat.

Dari hasil observasi yang peneliti lakukan, terlihat bahwa kelima dimensi kecerdasan sosial yang meliputi kecerdasan situasional, kemampuan membawa diri, autentisitas (perilaku yang menyebabkan orang lain menilai bahwa kita adalah orang yang jujur, terbuka, beretika, dapat dipercaya, dan berniat baik), kejelasan (kemampuan untuk menjelaskan, menerangkan, menyampaikan serta mengartikulasikan pandangan kita), dan empati muncul pada setiap siswa yang menjadi partisipan. Untuk lebih jelas, berikut pemaparannya:

1.1 Kecerdasan Situasional (Situational Awareness)

Kecerdasan situasional adalah kemampuan untuk membaca situasi dan mengartikan perilaku orang-orang dalam situasi tersebut.6 Dalam dimensi kecerdasan situasional, peneliti menemukan lima partisipan yang akan di wawancarai. Kelima partisipan menunjukkan perilaku menghibur teman yang bersedih dan membantu teman ketika kesulitan belajar seperti membantu mengerjakan lembar kerja (LK) mata pelajaran IPS.

1.2 Kemampuan Membawa Diri (Presence)

Kemampuan membawa diri menjelaskan tentang cara kita mempengaruhi orang lain melalui penampilan, perasaan dan perilaku, bahasa tubuh, serta bagaimana kita menguasai suatu ruangan.7 Dalam dimensi ini peneliti menemukan empat partisipan yang menunjukkan sikap mudah membawa diri di lingkungan homechooling. Seperti yang

6

Karl Albrecht, Cerdas Bergaul Kunci Sukses dalam Bisnis dan Masyarakat, Terj. dari Social Intelligence: The New Science of Success oleh Devi Femina, dkk, (Jakarta: PPM, 2006), Cet. 1, h. 33.

peneliti lihat saat melakukan observasi di lapangan, keempat partisipan mudah berkenalan dan bergaul dengan siapa saja sehingga memudahkan partisipan ketika bersosialisasi di lingkungan baru dan mudah mendapatkan teman baru.

1.3 Autentisitas (Authenticity)

Dimensi autentisitas merupakan kemampuan kita dalam membaca situasi dari perilaku kita yang membuat mereka menilai kita sebagai individu yang jujur, terbuka, beretika, dapat dipercaya dan berniat baik.8 Autentisitas bisa menjadi tolak ukur penilaian orang lain terhadap diri kita, orang lain akan lebih mempercayai kita, apabila kita tulus dalam segala perbuatan, berlaku apa adanya dan tidak dibuat-buat. Seperti yang peneliti temukan ketika observasi, ada lima partisipan memiliki sikap sesuai dengan apa yang terdapat di dalam dimensi autentisitas, yakni ketika pertama kali bertemu dengan orang lain partisipan menjadi invidu yang apa adanya namun tetap menunjukkan sikap sopan ketika berbicara, memberikan sapaan ramah saat bertemu dengan orang yang belum di kenal, dan cium tangan kepada orang yang lebih tua misalnya dengan guru atau tutor.

1.4 Kejelasan (Clarity)

Dimaksud dimensi kejelasan (clarity) yaitu kemampuan untuk menjelaskan diri kita dan mengartikulasikan pandangan kita agar orang lain bisa menerima dengan senang hati. Dalam dimensi kejelasan, peneliti menemukan empat partisipan yang memiliki aspek ini. Seperti yang dilihat oleh peneliti saat melakukan observasi, keempat partisipan menunjukkan kemampuan interaksi sosial yang berbeda-beda saat menggunakan bahasa non verbal ketika berkomunikasi, yakni memberikan anggukkan kepala ketika ditanya tutor apakah sudah mengerti dengan materi pelajaran yang sedang dijelaskan, salim tangan ketika bertemu dengan tutor atau orang yang lebih tua darinya, memberikan senyuman sebagai tanda sapaan saat bertemu dengan orang

lain, dan memasang raut wajah tidak senang ketika partisipan sedang merasa kesal.

1.5 Empati (Empathy)

Empati dalam sosial inteligensi sebagai memiliki perasaan untuk dibagi antara dua orang, maksudnya kita akan mempertimbangkan empati sebagai keadaan keterkaitan dengan orang lain yang menciptakan dasar bagi interaksi positif dan kerja sama.9 Dalam dimensi empati, peneliti menemukan tiga partisipan yang memiliki dimensi ini. Dilihat dari hasil observasi, ketiga partisipan menunjukkan perilaku sadar dan perhatian pada perasaan orang lain, seperti partisipan menghormati dan tidak membeda-bedakan teman yang berbeda agama, suku, maupun kekurangan fisik. Partisipan juga ikut merasakan kesedihan dan kebahagiaan orang lain, seperti ikut merasakan kesedihan teman yang memiliki masalah dan merasa gembira pada saat partisipan berhasil membantu permasalahan temannya. Tidak hanya itu, partisipan juga saling berbagi makanan dan minuman dengan teman, dan partisipan juga membantu para tutor membawakan media pembelajaran seperti laptop, infocus atau kabel colokan.

Keenam siswa yang terpilih dari setiap jenjang kelas merupakan siswa yang memenuhi kriteria dari dimensi kecerdasan sosial yang dijelaskan diatas. Mereka yang memenuhi kriteria dari kecerdasan sosial tersebut kemudian peneliti minta menjadi partisipan. Setelah disetujui, maka mereka mulai di wawancara sebanyak tiga kali yaitu wawancara pembuka, wawancara inti, dan member check. Wawancara pembuka dilakukan selama 20-30 menit setiap wawancaranya, wawancara inti dilakukan selama 40-60 menit, dan member check dilakukan setelah peneliti melakukan pengecekkan data yang telah diperoleh dari informan.

9

Dokumen terkait