V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.5.4. Analisis Laju Degradasi dan Laju Depresiasi
5.5.6.3. Hasil Optimasi Dinamik SDI Teri dengan Model Estimasi Algoritma Fox
Pada Tabel 20 tampak perbandingan pemanfaatan sumberdaya ikan teri pada kondisi aktual dan pada kondisi dinamik dengan tingkat discount rate yang berbeda. Dilihat dari sisi tingkat volume produksi, maka tingkat volume produksi yang bisa diperoleh jika pemanfaatan menggunakan pendekatan optimal dinamik jauh lebih besar dibandingkan dengan tingkat produksi pada pemanfaatan aktual. Dari sisi tingkat effort, effort yang dilakukan lebih besar dari tingkat effort aktual dan jika dilihat dari sisi rente ekonomi yang diperoleh, maka rente ekonomi pada kondisi pemanfaatan optimal dinamik sangat jauh lebih besar dari rente ekonomi pada kondisi aktual.
85
Tabel 20. Perbandingan Pemanfaatan Aktual dan Optimal Estimasi Algoritma Fox
Pengukuran
Algoritma Fox
Aktual Optimal Dinamik
0,1 0,12 0,15 0,18
h^*(ton) 30.48 38,30 38,37 38,45 38,50
E^*(trip) 26,816 29.641 30.100 30.762 31.396
(Π) (Rp juta) 194,76 2.175,37 2.275,80 1.834,29 1.538,18 Sumber : Data Diolah Pada Lampiran 21
Pada pendekatan optimal dinamik, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Gambar 32 terlihat bahwa tingkat discount rate yang tinggi akan mendorong semakin lajunya tingkat effort, sebaliknya tingkat discount rate yang rendah akan memperlambat laju tingkat effort. Pada Gambar 32 juga terlihat bahwa semakin tinggi tingkat discount rate, maka rente ekonomi yang diperoleh akan semakin kecil, sebaliknya semakin rendah tingkat discount rate, maka rente ekonomi yang diperoleh akan semakin tinggi.
Gambar 32. Hubungan Tingkat Discount Rate dan Rente Ekonomi Optimal
Dinamik Estimasi Algoritma Fox
Dari hasil analisis dengan beberapa tingkat discount rate di atas, pada ketiga model estimasi tampak bahwa semakin tinggi tingkat discount rate, maka rente ekonomi yang diperoleh akan semakin kecil, begitu pula sebaliknya semakin rendah tingkat discount rate, maka rente ekonomi yang diperoleh akan semakin tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Fauzi A (2004); Clark CW (1976) bahwa
86
apabila nilai discount rate sangat tinggi dan mendekati tak hingga, maka net price atau rente sumberdaya akan sama dengan nol, hal ini identik dengan pengelolaan sumberdaya perikanan dalam kondisi akses terbuka (open access). Sebaliknya, jika nilai discount rate sama dengan nol, maka rente sumberdaya akan semakin besar, hal ini identik dengan maksimasi rente sumberdaya dalam kondisi MEY.
Dari Analisis ketiga model estimasi di atas, model yang mendekati kondisi aktual adalah model Algoritma Fox. Sehingga dapat disimpulkan model yang cocok untuk menganalisis kondisi sumberdaya ikan teri di perairan Teluk Palabuhanratu yaitu dengan menggunakan model estimasi Algoritma Fox.
5.6. Implikasi Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Ikan Teri
Pengelolaan sumberdaya perikanan telah dijelaskan dalam Undang-Undang No 31 Tahun 2004 Pasal 6 tentang Perikanan. Dalam Undang-Undang-Undang-Undang tersebut disebutkan bahwa pengelolaan perikanan dalam wilayah pengeloalaan perikanan Republik Indonesia dilakukan untuk tercapainya manfaat yang optimal dan berkelanjutan, serta terjaminnya kelestarian sumberdaya ikan. Makna yang terkandung di dalamnya, diantaranya adalah melakukan pemanfaatan sumberdaya ikan secara optimal dan berkelanjutan, meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan nelayan, serta meningkatkan peran perikanan tangkap terhadap pembangunan perikanan nasional.
Sumberdaya ikan pada umumnya bersifat open access dan common
property, artinya pemanfaatan ikan bersifat terbuka oleh siapa saja dan
kepemilikannya bersifat umum, tanpa ada pengelolaan. Konsekuensinya dari sifat sumberdaya seperti ini adalah munculnya gejala eksploitasi yang berlebih (over
eksplotation), investasi berlebih (over investation) dan tenaga kerja berlebih (over
employment). Dalam kondisi seperti ini Perairan Teluk Palabuhanratu
menunjukan bahwa akan akses negatif dari pengelolaan ikan selama kurun waktu dari Tahun 1997 sampai dengan 2007 sudah nampak, hal ini diketahui dari kecenderungan menurunnya produksi sumberdaya ikan dari tahun ke tahun, karena tingginya tingkat aktivitas penangkapan (overfishing). Kondisi overfishing sudah terjadi di Tahun 2007. Produksi teri yang menurun drastis dari tahun sebelumnya (Tabel 7), akibat peningkatan jumlah alat tangkap bagan yang begitu
87
tinggi di Tahun 2006 (Tabel 4) sehingga berdampak pada hasil produksi dan rente di Tahun 2007. Jika kondisi ini terus dibiarkan maka, dalam waktu dekat akan timbul dampak berupa inefiensi ekonomi, yang akan menghilangkan potensi rente ekonomi sumberdaya serta terjadi kondisi berlebihnya faktor yang seharusnya bisa digunakan untuk kegiatan ekonomi lainnya yang lebih produktif.
Model pendekatan MSY merupakan model pendekatan optimasi pemanfaatan sumberdaya ikan dalam perspektif biologi yang hanya memperhatikan aspek biologi saja. Penggunaan pendekatan ini dalam pemanfaatan sumberdaya ikan memiliki beberapa kelemahan yang cukup mendasar sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Dalam perspektif bioekonomi, pemanfaatan sumberdaya ikan bertujuan untuk memaksimumkan manfaat ekonomi dengan tetap menjaga kelestarian sumberdaya ikan atau dengan kata lain bagaimana manfaat ekonomi dari ekstraksi sumberdaya ikan dapat diperoleh secara berkelanjutan. Analisis bioekonomi dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan statik dan pendekatan dinamik. Pendekatan statik adalah pendekatan yang menggabungkan parameter biologi dan ekonomi dalam analisisnya, tetapi tidak memasukan faktor waktu. Pendekatan dinamis adalah pendekatan yang sama dengan pendekatan statik, tetapi memasukan faktor waktu dalam analisisnya. Pendekatan statik, seperti MEY memiliki kelemahan yang cukup serius dalam analisisnya, kelemahan mendasar dari pendekatan optimasi statik, karena tidak memasukan faktor waktu dalam analisisnya, hal ini menyebabkan masalah serius dalam pengelolaan sumberdaya ikan, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.
Hasil perbandingan dari beberapa model optimasi di atas, diperoleh data bahwa optimasi dinamik memberikan rente ekonomi yang lebih tinggi dari model estimasi yang lain pada sumberdaya ikan teri dengan tetap menjaga kelestarian dan keberlangsungan dari sumberdaya ikan. Dari hasil perhitungan nilai optimal pemanfaatan sumberdaya ikan teri dengan pendekatan optimasi dinamik pada tingkat discount rate sebesar 0,10%, 0,12%, 0,15% dan 0,18% diperoleh data pemanfaatan pengelolaan optimal sumberdaya perikanan, sebagaimana yang tersaji pada Tabel 21.
88
Dengan melihat data yang tersaji pada Tabel 21 terlihat dengan jelas bahwa pemanfaatan optimal sumberdaya perikanan dengan pendekatan dinamik sangat dipengaruhi oleh discount rate yang berlaku, dimana semakin rendah
discount rate yang diberlakukan, maka pemanfaatan sumberdaya ikan akan lebih bersahabat dengan lingkungan dan semakin meningkatkan rente ekonomi yang diperoleh. Sebaliknya, semakin tinggi discount rate yang diberlakukan maka pemanfaatan sumberdaya ikan akan berdampak pada semakin tingginya tingkat
effort, sehingga akan menurunkan produksi rente ekonomi yang bisa diperoleh. Pada Tabel 21 terlihat bahwa rente ekonomi optimal pada sumberdaya ikan teri diperoleh pada tingkat discount rate sebesar 0,10%.
Untuk penelitian ini model estimasi yang lebih cocok untuk bisa menentukan keadaan optimal untuk sumberdaya ikan teri di Perairan Teluk Palabuhanratu adalah dengan menggunakan model estimasi Algoritma Fox. Pada sumberdaya ikan teri ini, volume produksi optimal sebesar 38,30 ton per tahun diperoleh pada tingkat effort optimal sebanyak 29.641 trip per tahun dengan rente optimal yang bisa diperoleh sebesar Rp2.715,37 juta per tahun. Jumlah bagan yang optimal untuk ekstraksi sumberdaya ikan teri adalah sebanyak 172 unit.
Tabel 21. Pemanfaatan Optimal Sumberdaya Ikan Teri di Perairan Teluk Palabuhanratu
Pengukuran
Algoritma Fox
Aktual Optimal Dinamik
0,1 0,12 0,15 0,18
h^*(ton) 30,484 38,30 38,37 38,45 38,50
E^*(trip) 26.816 29.641 30.100 30.762 31.396
(Π) (Rp juta) 194,76 2.715,37 2.275,80 1.834,29 1.538,18
Bagan (unit) 156 172 175 179 183 Sumber : Data Diolah Pada Lampiran 21
Dari Tabel 21 terlihat dengan jelas bahwa pengelolaan sumberdaya ikan teri di Perairan Teluk Palabuhanratu selama ini belum berjalan dengan optimal, keadaan masih memungkinkan untuk menambah jumlah unit bagan rakit dan trip, sehingga manfaat ekonomi dan produksi bisa lebih optimal, namun melihat kondisi akhir di Tahun 2007 (Tabel 4 dan Tabel 7), bahwa kondisi sumberdaya ikan teri di Perairan Teluk Palabuhanratu sudah terjadi biological overfishing dan
89
economy overfishing. Oleh karena itu, pemerintah Kabupaten Sukabumi harus segera melakukan pembenahan, membuat kebijakan antisipatif dan strategis sebagai solusi dari permasalahan pengelolaan sumberdaya perikanan di Perairan Teluk Palabuhanratu. Sehubungan dengan hal itu, dengan berdasar pada hasil penelitian ini, berikut beberapa rekomendasi altrenatif kebijakan yang diajukan, yaitu:
1) Membuat dan menetapkan regulasi tentang pemanfaatan sumberdaya ikan teri di Perairan Teluk Palabuhanratu yang meliputi tingkat effort optimal, volume produksi optimal, CPUE optimal dengan mengacu pada pendekatan optimal dinamik pada tingkat discount rate yang rendah, sehingga tercapainya rente ekonomi yang optimal sebagaimana yang dihasilkan dalam penelitian ini. 2) Membuat regulasi tentang rasionalisasi jumlah alat tangkap. Tujuan kebijakan
ini untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan dari jumlah alat tangkap yang berlebih, juga dari alat tangkap yang bersifat destruktif. Kebijakan ini memiliki
cost dan resistensi yang cukup tinggi, karena dengan kebijakan mengurangi alat tangkap dan membatasi alat tangkap, apabila memang sudah berlebih, berarti menuntut harus ada yang dikorbankan, kondisi ini sama halnya dengan menghalangi seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
3) Menetapkan kuota atas produksi. Instrumen ini dianggap mampu menghilangkan eksternalitas negatif yang sering terjadi pada perikanan. Pemabatasan kuota produksi diharapkan akan mengurangi tingkat upaya sehingga akan mencegah terjadinya biological dan economical overfishing¸ implikasinya akan menurunkan suplai ikan di pasar, sehingga dapat
meningkatkan harga ikan. Dengan meningkatnya harga ikan, maka pendapatan nelayan akan meningkat.
4) Menciptakan daerah-daerah perlindungan laut (marine protected areas). Pilihan ini adalah kunci keberhasilan pengelolaan perikanan berbasis
lingkungan. Sama halnya dengan mekhluk hidup lainnya, dimana diperlukan tempat yang aman dari pemangsaan, demikian pula halnya dengan populasi ikan di laut. Dengan tersedianya daerah-daerah yang aman di dalam daerah perlindungan laut dari penangkapan, maka diharapkan populasi ikan yang mengalami tangkap lebih akan pulih.
90
5) Penetapan schedule of catch melalui kelompok nelayan. Kebijakan penetapan jadwal penangkapan ikan dilatarbelakangi oleh banyaknya kendala dalam implementasi kebijakan untuk mengurangi dan mengontrol peningkatan jumlah alat tangkap. Dengan kebijakan ini diharapkan tidak ada yang dikorbankan terutama para nelayan, karena masih bisa melaut. Penjadwalan ini diatur sedimikian rupa, sehingga tingkat produksi effort dan manfaat rente yang diperoleh tetap dalam kondisi yang optimal.
6) Melakukan monitoring¸ controlling dan law enforcment (penegakan hukum), kebijakan agar produksi aktual yang dihasilkan tidak melebihi kapasitas dari produksi optimal yang seharusnya dihasilkan, juga untuk meminimalkan praktek pencurian ikan, hasil tangkapan yang tidak dilaporkan (unreported
catch), penangkpan yang merusak ekosistem (destruktive fishing). 7) Kebijakan terakhir sebagai pelengkap dan penyempurna dari alternatif
kebijakan yang diajukan di atas adalah kebijakan human development, mengingat manusia adalah pelaku utama dalam aktivitas pemanfaatan
sumberdaya ikan. Sudah banyak kebijakan yang ditetapkan dan sudah banyak juga kebijakan yang bagus, namun jika kebijakan yang ditetapkan tidak didukung oleh para pelaku utama dari kebijakan tersebut, baik pembuat kebijakan atau pun yang harus melaksanakan kebijakan, maka kebijakan tersebut hanya akan menjadi sebuah teori. Kebijakan ini ditujukan bagi peningkatan kualitas dan profesionalitas para pemegang kebijakan dan pengelola perikanan, juga ditujukan kepada para nelayan dalam bentuk memberikan penyadaran, sosialisai, pemahaman, rasa memiliki dan rasa tanggung jawab akan pentingnya pembangunan perikanan yang berkelanjutan bagi kehidupan dikemudian hari.
Selain dari rekomendasi alternatif kebijakan di atas, dalam hal pengelolaan perikanan, pemerintah Kabupaten Sukabumi diharapkan juga mengacu pada kode etik pengelolaan perikanan yang bertanggung jawab (Code of Conduct for
Responsible Fisheries, CCRF) yang telah dicanangkan oleh badan dunia yang menangani pangan dan pertanian (Food and Argiculture Organization, FAO) pada Tahun 1995. Banyak hal penting yang perlu menjadi bahan perhatian dalam mengaplikasikan pengelolaan sumberdaya ikan, khususnya ikan teri di Perairan
91
Teluk Palabuhanratu sebagaimana terkandung dalam butir-butir isi CCRF, antara lain :
1) Negara dan pengguna sumberdaya perikanan harus menjaga ekosistem perairan dan hak menangkapan ikan harus disertai dengan kewajiban menangkap ikan dengan cara yang bertanggung jawab
2) Negara harus mencegah terjadinya tangkap lebih (overfishing) dan menjaga agar penangkapan sesuai dengan daya lingkungan (carrying capacity). 3) Kebijakan pengelolaan perikanan harus didasarkan pada adanya bukti ilmiah