Tahapan penelitian dan pengembangan bahan ajar OTAK mengikuti prosedur pengembangan sistem pembelajaran Dick, Carey & Carey (2005) dengan modifikasi yakni melalui 10 (sepuluh) tahapan yaitu 1) mengidentifikasikan tujuan instruksional 2) melaksanakan analisis pembelajaran 3) mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa 4) merumuskan tujuan performansi 5) mengembangkan butir–butir tes acuan patokan 6) mengembangkan strategi pembelajaran 7) mengembangkan dan memilih bahan ajar 8) mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif 9) merevisi bahan ajar 10) validasi bahan ajar.
Hasil identifikasi tujuan instruksional di MAN 2 Pekalongan menunjukkan bahwa tujuan pendidikan yang hendak dicapai sesuai KTSP meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik (BSNP 2006). Selaras dengan tujuan Badan Standar Nasional Pendidikan, maka tujuan pendidikan tingkat satuan MAN 2 Pekalongan menitikberatkan pada ketercapaian visi dan merealisasikan misi secara sistematis, sehingga mampu membentuk sumber daya manusia yang diharapkan.Visi yang diusung MAN 2 Pekalongan yaitu, “madrasah religius, unggul dan berprestasi”, sedangkan misi yang hendak diwujudkan yakni: menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas di bidang agama dan pendidikan umum; melaksanakan program pengembangan diri dan keterampilan; mengamalkan nilai-nilai agama dan mengembangkan sikap keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat; mengembangkan budaya kreatif dan kompetitif dalam upaya pencapaian dan peningkatan prestasi. Dengan demikian tujuan pembelajaran secara umum di MAN 2 Pekalongan adalah mewujudkan pembelajaran yang terintegrasi nilai islami, mengembangkan potensi siswa meliputi aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap, serta mewujudkan pembelajaran yang sesuai potensi lokal daerah Pekalongan.
Hasil observasi pada pembelajaran biologi di MAN 2 Pekalongan menunjukkan bahwa pembelajaran biologi cenderung tekstual dengan penyampaian materi secara verbalistik. Materi biologi tidak secara langsung terintegrasi dengan nilai karakter islami sebagaimana tersurat dalam visi dan misi yang akan direalisasikan.
Hasil wawancara dengan guru biologi menunjukkan selama ini guru telah berupaya menyisipkan nilai islami dalam pembelajaran biologi secara verbal dan spontan. Guru juga melakukan PTK (Penelitian Tindakan Kelas) sebagai upaya perbaikan kualitas pembelajaran biologi yang harapannya dapat mewujudkan hakikat pembelajaran biologi yang menyajikan biologi sebagai produk sains, proses sains dan sikap sains. Upaya guru belum memberikan hasil optimal, pada aspek psikomotorik guru kembali pada paradigma lama yang menganggap bahwa kegiatan praktikum menyita banyak waktu dan memerlukan alat dan bahan yang belum tentu tersedia di sekolah. Paradigma tersebut disebabkan guru berpatokan pada lembar praktikum yang terdapat dalam bahan ajar. Selama ini belum pernah dikembangkan bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pembelajaran biologi di MAN 2 Pekalongan. Ringkasan hasil wawancara dapat dilihat pada Lampiran 1.
Hasruddin dan Salwa (2012) menuturkan bahwa permasalahan umum yang menyebabkan kegiatan pengembangan keterampilan proses jarang dilakukan diantaranya; keterbatasan alat dan bahan praktikum, bahan ajar yang memuat lembar kerja penuntun kegiatan praktikum masih sangat terbatas hanya bergantung pada bahan ajar siswa dan buku pegangan guru, dan keterbatasan waktu untuk dilakukan praktikum. Dengan demikian, pengembangan bahan ajar yang dirancang sesuai tujuan pembelajaran dan kondisi sekolah merupakan kebutuhan bagi sistem pembelajaran biologi di MAN 2 Pekalongan.
Tahapan analisis pembelajaran menunjukkan hasil bahwa SK dan KD pada meteri perubahan dan pencemaran lingkungan sebagai berikut SK: 4. Menganalisis hubungan antara komponen ekosistem, perubahan materi dan energi serta peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem. KD: 4.2 Menjelaskan keterkaitan antara kegiatan manusia dengan masalah perusakan/pencemaran lingkungan dan
pelestarian lingkungan. 4.3 Menganalisis jenis-jenis limbah dan daur ulang limbah. Dari SK dan KD serta mempertimbangkan karakteristik sekolah maka dapat dirumuskan indikator pembelajaran berikut; 1) mengidentifikasi perubahan lingkungan, 2) menjelaskan pencemaran lingkungan, 3) terampil dalam percobaan pengaruh kegiatan manusia terhadap lingkungan, 4) menjelaskan pengertian dan klasifikasi limbah, 5) menjelaskan pemanfaatan limbah (melalui daur ulang dan tanpa daur ulang), 6) mendeskripsikan upaya pelestarian lingkungan, 7) mengintegrasikan karakter religius dan peduli lingkungan dalam materi pencemaran lingkungan.
Berdasarkan hasil analisis pembelajaran kriteria kompetensi yang harus dipenuhi siswa setelah menempuh progam pembelajaran teridentifikasi sebagai indikator pembelajaran. Untuk dapat memenuhi indikator pembelajaran, siswa perlu memiliki kompetensi awal yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap (kognitif, afektif dan psikomotor) sebagai bekal siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Kompetensi awal yang diharapkan dikuasai siswa dalam menempuh pembelajaran yang berorientasi pada hakikat biologi dan integrasi nilai karakter meliputi; aspek kognitif adalah pemahaman mengenai macam-macam variabel percobaan dan definisi dari hipotesis. Pengetahuan tersebut nantinya diperlukan siswa dalam kegiatan pengembangan keterampilan proses sains. Pada aspek psikomotorik siswa diharapkan sudah memiliki kecakapan berkenaan dengan keselamatan kerja saat kegiatan praktikum dan dari aspek afektif diharapkan siswa telah memiliki sikap dapat bekerja sama dalam kelompok, dengan memiliki kemampuan bawaan tersebut dapat membantu siswa menjalani proses instruksional dan memperoleh kemampuan baru yang merupakan produk dari proses instruksional.
Tahap selanjutnya adalah analisis tingkah laku masukan dan karakteristik siswa yang bertujuan untuk menganalisis kemampuan siswa dan daya dukung lingkungan untuk menunjang pencapaian tujuan instruksional. Kemampuan bawaan yang diperlukan siswa telah diajarkan oleh guru dalam materi-materi awal mata pelajaran Biologi kelas X dengan demikian diasumsikan bahwa siswa siap mengikuti proses instruksional. Sedangkan lingkungan tempat bahan ajar akan
diimplementasikan yakni MAN 2 Pekalongan merupakan sekolah yang bernuansa islami, siswa telah dikenalkan dengan visi dan misi sekolah sejak MOS (Masa Orientasi Siswa). Karakter islami dibahas secara lebih mendalam pada mata pelajaran Aqidah-akhlaq sehingga siswa telah dibiasakan untuk mengenal karakter islami. Dengan karakteristik siswa dan sekolah yang bernuansa islami diharapkan dapat menunjuang aplikasi nilai karakter islami dalam mata pelajaran biologi.
Tahap selanjutnya merupakan tahapan dalam perumusan tujuan performansi atau tujuan yang akan diakses setelah siswa mengikuti proses instruksional. Tahap ini menghasilkan tujuan pembelajaran sebagai berikut.
1. Siswa mampu mengidentifikasi kerusakan melalui kajian pustaka lingkungan dengan tepat
2. Siswa mampu menjelaskan macam-macam pencemaran lingkungan melalui kajian pustaka dengan tepat
3. Siswa dapat mengembangkan keterampilan proses sains melalui percobaan pengaruh kegiatan manusia terhadap lingkungan secara sistematis
4. Siswa dapat menjelaskan pengertian dan klasifikasi limbah melalui kajian pustaka secara tepat
5. Siswa dapat menjelaskan pemanfaatan limbah melalui kajian pustaka secara tepat guna
6. Siswa dapat mendeskripsikan upaya pelestarian lingkungan melalui kajian pustaka dengan relevansi pada aplikasi ilmu Biologi.
7. Siswa dapat menginternalisasi nilai karakter religius dan peduli lingkungan melalui rangkaian kegiatan pembelajaran biologi yang tercermin dalam sikap siswa.
Tahap selanjutnya adalah mengembangkan butir-butir penilaian yang sejajar dengan tujuan performansi yang telah ditentukan. Tujuan pembelajaran meliputi aspek kognitif, psikomotorik dan afektif. Sehingga butir penilaian dirancang sejajar dengan ketiga aspek tersebut.
Penilaian aspek kognitif dikembangkan soal pilihan ganda yang mewakili indikator berikut; 1) mengidentifikasi perubahan lingkungan, 2) menjelaskan pencemaran lingkungan, 3) menjelaskan pengertian dan klasifikasi limbah, 4)
menjelaskan pemanfaatan limbah (melalui daur ulang dan tanpa daur ulang), 5) mendeskripsikan upaya pelestarian lingkungan. Item soal pilihan ganda berjumlah 44 (empat puluh empat) butir (Lampiran 5). Sebelum digunakan sebagai instrumen evaluasi butir soal perlu diuji coba terlebih dahulu. Uji coba bertujuan untuk mengetahui kualitas butir soal ditinjau dari validitas, reliabilitas dan tingkat kesukaran.
Validitas soal dihitung dengan bantuan Microsoft Office Excel 2007. Berikut data hasil validitas soal uji coba disajikan dalam bentuk tabel.
Tabel 4. Hasil analisis validitas butir soal uji coba materi pencemaran Kriteria validitas
soal
Jumlah Nomor soal
Valid 31 2, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 12, 14, 15, 16, 17, 18, 20, 21, 22, 23, 25, 26, 28, 29, 30, 32, 34, 36, 37, 38, 40, 42, 43
Tidak valid 13 1, 3, 11, 13, 19, 24, 27, 31, 33, 35, 39, 41, 44
Berdasarkan hasil analisis validitas butir soal uji coba materi pencemaran yang terdiri dari 44 soal, sebanyak 31 soal dinyatakan valid dan 13 soal dinyatakan tidak valid.
Reliabilitas soal dihitung menggunakan bantuan aplikasi TAP. Berdasarkan hasil penghitungan menggunakan aplikasi TAP diperoleh hasil alpha 0.588 masuk dalam kriteria cukup. Untuk meningkatkan reliabilitas soal maka butir soal dengan kualitas buruk perlu dibuang.
Analisis selanjutnya dilakukan untuk mengukur tingkat kesukaran tiap butir soal. Hasil analisis disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 5. Hasil analisis tingkat kesukaran uji coba materi pencemaran
Kriteria tingkat kesukaran soal
Jumlah Nomor Soal
Sukar 3 31, 35, 36
Sedang 21 5, 6, 11, 16, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 28, 30, 32, 33, 34, 38, 40, 41, 43
Mudah 20 1, 2, 3, 4, 7, 8, 9, 10, 12, 13, 14, 15, 17, 18, 27, 29, 37, 39, 42, 44
Berdasarkan hasil analisis tingkat kesukaran uji coba soal materi pencemaran yang terdiri dari 44 soal, sebanyak 3 soal dikategorikan sukar, 21 soal dikategorikan sedang, dan 20 soal dikategorikan mudah.
Hasil analisis validitas, reliabilitas dan tingkat kesukaran butir uji coba soal materi pencemaran lingkungan digunakan sebagai pertimbangan dalam menentukan layak tidaknya butir soal digunakan sebagai instrumen evaluasi kognitif siswa. Butir soal yang memenuhi validitas, reliabilitas dan tingkat kesukaran. Tabel 6. berikut merinci soal yang layak pakai dan soal yang dibuang. Tabel 6. Penentuan butir soal untuk instrumen evaluasi kognitif
Kriteria tindakan Jumlah Nomor soal
Dipakai 22 2, 4, 5, 10, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 20, 21, 22, 25, 26, 28, 30, 31, 36, 40, 43,
Dibuang 22 1, 3, 6, 7, 8, 9, 11, 19, 23, 24, 27, 29, 32, 33, 34, 35, 37, 38, 39, 41, 42, 44
Berdasarkan hasil analisis uji coba soal materi pencemaran yang terdiri dari 44 soal, sebanyak 22 butir soal dinyatakan layak digunakan sebagai instrumen evaluasi kognitif siswa dan 22 butir soal dibuang. Data terlampir pada lampiran 7. Aspek psikomotorik yang diwakili indikator terampil dalam percobaan pengaruh kegiatan manusia terhadap lingkungan diakses melalui pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis Keterampilan Proses Sains (KPS). Kegiatan praktikum keterampilan proses sains dilakukan dengan percobaan pengaruh deterjen terhadap kondisi organisme (Lampiran 10). Mundilarto (2002) membagi keterampilan proses sains menjadi keterampilan proses sains dasar dan keterampilan proses sains terpadu. Keterampilan proses sains dasar terdiri dari: mengamati atau mengobservasi, mengklasifikasi, berkomunikasi, mengukur, memprediksi dan penarikan kesimpulan. Sedangkan keterampilan proses terintegrasi terdiri dari: identifikasi variabel, penyusunan tabel data, penyusunan grafik, pemrosesan data, analisis investigasi, penyusunan hipotesis, penyusunan variabel-variabel secara operasional dan penarikan kesimpulan. Pada penelitian ini keterampilan yang diakses adalah keterampilan proses terpadu yang meliputi: keterampilan identifikasi dan penyusunan variabel secara operasional, penyusunan
hipotesis, penyusunan tabel data, pemrosesan data dan penarikan kesimpulan. Untuk menilai tingkat keterampilan proses sains siswa dikembangkan pedoman penilaian laporan praktikum siswa (Lampiran 12).
Penilaian aspek afektif untuk mencapai indikator mengintegrasikan karakter religius dan peduli lingkungan dalam materi pencemaran lingkungan dikembangkan melalui angket sikap siswa. Menurut (Kemendiknas 2010) indikator nilai religius yang relevan dengan penelitian ini adalah; mensyukuri keunggulan manusia sebagai makhluk pencipta dan penguasa dibandingkan makhluk lain, bersyukur kepada Tuhan karena menjadi warga bangsa Indonesia, merasakan kekuasaan Tuhan yang telah menciptakan berbagai keteraturan di alam semesta, mengagumi kebesaran Tuhan melalui pokok bahasan pencemaran lingkungan dalam mata pelajaran Biologi. Sedangkan nilai peduli lingkungan indikatornya merencanakan dan melaksanakan berbagai kegiatan pencegahan kerusakan lingkungan. Indikator tersebut kemudian dikembangkan dalam bentuk pernyataan operasional untuk menjadi item dalam instrumen penilaian karakter siswa. (Lampiran 14).
Tahap ini juga merupakan tahap pengembangan angket tanggapan siswa pada uji kelompok kecil/skala kecil yang berfokus pada perbandingan bahan ajar lama dan bahan ajar yang akan dikembangkan. Dikembangkan pula angket tanggapan guru dan siswa terhadap implementasi bahan ajar ketika bahan ajar diaplikasikan dalam pembelajaran.
Tahap selanjutnya adalah pengembangan strategi instruksional yang diharapkan dapat mewujudkan tercapainya tujuan. Strategi instruksional menurut Costa (1985) dalam Trianto (2007) merupakan pola kegiatan pembelajaran berurutan yang diterapkan dari waktu ke waktu dan diarahkan untuk mencapai suatu hasil belajar yang diinginkan. Strategi pembelajaran juga untuk mencapai komponen pembelajaran yang meliputi tujuan, model dan evaluasi.
Berdasarkan informasi tahap sebelumnya tujuan pembelajaran meliputi ranah kognitif, psikomotor, dan afektif yang bertumpu pada pemahaman konsep siswa melalui penemuan sendiri dengan melakukan percobaan. Trianto (2007) menyatakan untuk merefleksikan tujuan pembelajaran tersebut hanya dapat dicapai
dengan strategi penyampaian secara berkelompok untuk membuat laporan atau mengkomunikasikan hasil percobaan. Strategi tersebut akan menjadi bermakna bila diiringi model pemrosesan informasi yang menekankan pada bagaimana cara berpikir siswa. Joyce (1992) sebagaimana dikutip Trianto (2007) menyatakan bahwa inti dari berpikir baik adalah kemampuan memecahkan masalah. Dasar dari pemecahan masalah adalah kemampuan untuk belajar dalam situasi proses berpikir. Salah satu model pemrosesan informasi adalah pembelajaran inkuiri.
Pembelajaran inkuiri memberikan siswa kesempatan untuk terlibat aktif secara intelektual, mental dan sosial emosional. Kegiatan pembelajaran yang berlangsung secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, dan analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri (Gulo 2002). Lebih lanjut Gulo (2002) menjelaskan agar dapat memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki siswa, proses pembelajaran inkuiri melalui tahapan berikut; mengajukan pertanyaan atau permasalahan, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, analisis data dan membuat kesimpulan. Berikut disajikan penjabaran tahap pelaksanaan pembelajaran inkuiri.
1. Mengajukan pertanyaan atau permasalahan
Kegiatan inkuiri dimulai ketika pertanyaan atau permasalahan diajukan. 2. Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara atas pertanyaan atau solusi permasalahan yang dapat diuji dengan data.
3. Mengumpulkan data
Hipotesis digunakan untuk menuntun proses pengumpulan data. Data yang dihasilkan dapat berupa tabel, matrik, atau grafik.
4. Analisis data
Siswa bertanggungjawab menguji hipotesis yang telah dirumuskan dengan menganalisis data yang telah diperoleh.
5. Membuat kesimpulan
Langkah penutup dari pembelajaran inkuiri adalah membuat kesimpulan sementara berdasarkan data yang diperoleh siswa.
Langkah pembelajaran inkuiri perlu dikembangkan untuk memenuhi tujuan pembelajaran di MAN 2 Pekalongan. Pengembangan langkah pembelajaran mengacu pada tahapan inkuiri menurut Gulo (2002) dengan tambahan langkah yang berorientasi untuk mengoptimalkan integrasi nilai karakter. Langkah inkuiri hasil pengembangan sebagai berikut.
1. Menyajikan permasalahan bersumber ayat kauniyah
Kegiatan pembelajaran dimulai dengan penyajian permasalahan yang terjadi di kehidupan sehari-hari.
2. Mengolah permasalahan (bertafakur)
Permasalahan yang disajikan guru selanjutnya di tafakuri oleh siswa melalui kegiatan ilmiah yang meliputi mengamati, menanya, mengumpulkan data dan mengasosiasikan data dalam bentuk tabel, matrik, atau grafik dan sekaligus dilakukan penarikan kesimpulan. Langkah ini dapat diasosiasikan dengan pencapaian keterampilan proses sains terpadu yang meliputi; identifikasi variabel, merumuskan hipotesis, mengolah data, menyajikan data dalam bentuk tabel atau grafik serta menyimpulkan.
3. Mengkomunikasikan hasil
Hasil dari kegiatan bertafakur kemudian dikomunikasikan dalam berbagai cara seperti laporan hasil praktik atau presentasi hasil kegiatan.
4. Muhasabah/refleksi diri
Tahap muhasabah/refleksi diri merupakan tahap dimana siswa melakukan evaluasi terhadap diri mereka terkait dengan permasalahan yang disajikan maupun tingkat kepahaman siswa terhadap materi. Melalui tahap ini diharapkan siswa dapat merefleksi diri secara holistik meliputi aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif. Melalui tahap ini pula diharapkan nilai karakter siswa dapat terinternalisasi dan berkembang secara optimal.
5. Merencanakan perubahan
Setelah siswa dibimbing melakukan evaluasi diri, tahap selanjutnya dibimbing untuk merencanakan perubahan ke arah yang lebih baik berdasarkan hasil evaluasi diri.
Langkah inkuiri hasil pengembangan selanjutnya disebut sebagai sintaks pembelajaran 5M tafakur ayat kauniyah. Hasil dari perumusan tujuan instruksional, butir tes sesuai patokan dan strategi pembelajaran hasil pengembangan direfleksikan pada silabus dan RPP (Lampiran 2 & 3).
Tahap berikutnya adalah memilih dan mengembangkan bahan ajar sesuai kondisi siswa dan memenuhi tujuan pembelajaran. Bahan ajar yang dikembangkan dipilih berwujud bahan ajar cetak sebagaimana digunakan siswa sebelumnya dengan mempertimbangkan bahwa tidak semua siswa memiliki perangkat laptop yang menunjang pembelajaran. Tujuan dari pembelajaran yang telah dirumuskan secara garis besar meliputi integrasi nilai islami dalam mata pelajaran biologi, pengembangan keterampilan proses sains melalui kegiatan praktikum serta pengembangan materi yang memuat potensi lokal daerah Pekalongan. Untuk mewujudkan tujuan pembelajaran tersebut, bahan ajar perlu memenuhi kriteria bahan ajar bermuatan keterampilan proses sains. Adisendjaja (2007) memaparkan kriteria untuk bahan ajar yang bermuatan keterampilan proses sains yaitu bahan ajar tidak bersifat ensiklopedia, teliti dan cermat melihat fakta, mengikuti perkembangan konsep mutakhir dan materi subyek baru, memiliki koherensi yang logis, kejelasan dalam penguraian dan keefektifan ilustrasi, sesuai dengan minat dan tingkatan siswa dan mewakili sains sebagai sains eksperimental.
Upaya pengembangan bahan ajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dilakukan dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik guna menghasilkan bahan ajar yang komprehensif. Pada ranah afektif upaya pengembangan dilakukan melalui integrasi nilai islami ke dalam materi pencemaran lingkungan. Nilai islami yang diintegrasikan bersumber dari ayat al-quran dengan mempertimbangkan relevansi pada nilai karakter religius dan peduli lingkungan. Disajikan pula kalimat yang memotivasi serta hikmah dari film animasi yang bercerita tentang pencemaran lingkungan dan merupakan film yang digemari remaja. Pada ranah kognitif materi
pencemaran lingkungan dikembangkan dengan muatan pencemaran akibat limbah batik serta solusi aplikasi biologi yang dapat menjadi alternatif pencegahan dan upaya mengurangi dampak negatif pencemaran limbah batik. Bahan ajar juga memuat kegiatan praktikum berkelompok yang relevan terhadap kondisi sekolah yakni melalui pengembangan lembar kerja praktikum pengaruh aktivitas manusia terhadap kondisi organisme di lingkungan.
Tahap selanjutnya merancang dan melaksanakan evaluasi formatif yang menghasilkan instrumen atau angket penilaian yang digunakan untuk mengumpulkan data. Data-data yang akan diperoleh sebagai pertimbangan dalam merevisi pengembangan pembelajaran ataupun produk bahan ajar. Ada tiga tipe evaluasi formatif : uji perorangan (one-to-one) uji kelompok kecil (small group) dan uji lapangan (field evaluation).
Uji perorangan bertujuan untuk memperoleh koreksi dari ahli. Untuk melaksanakan uji perorangan sebelumnya dihasilkan instrumen penilaian bahan ajar yang beracuan pada rubrik penilaian bahan ajar Biologi BSNP 2013. Aspek yang dinilai meliputi komponen kelayakan isi, komponen kebahasaan dan komponen penyajian (Lampiran 17). Hasil dari uji perorangan dari validator pertama menunjukkan bahwa bahan ajar masih terdapat kesalahan tata tulis, pencantuman peraturan dan undang-undang yang sudah tidak berlaku, penyajian integrasi nilai religius dan peduli lingkungan yang dinilai kurang mengena serta lembar kerja yang tidak relevan dengan alokasi waktu pembelajaran dan tidak tegas mencantumkan aspek keterampilan yang akan diakses, integrasi nilai religius tersaji dengan back ground kurang kontras, potensi lokal industri batik pekalongan lebih baik disajikan terpadu dengan pencemaran air, jumlah soal evaluasi kurang, belum terdapat soal dengan indikator yang berkaitan potensi lokal industri batik. Sedangkan validator kedua memberikan masukan agar judul bahan ajar yang semula bahan ajar BOTAK (Biologi Orientasi Tafakur Ayat Kauniyah) diganti sebab mengandung konotasi negatif, maka diputuskan untuk diganti dengan bahan ajar biologi OTAK (Orientasi Tafakur Ayat Kauniyah) (gambar 3). Lembar kerja pencemaran air dirancang sederhana untuk mengetahui hubungan antara kegiatan manusia dengan kondisi lingkungan (gambar 7). Penyajian integrasi nilai karakter
dengan tampilan menarik misalnya dengan kartun, serta dikemas dalam bahasa singkat, padat dan tajam (gambar 6). Perlu adanya korelasi antara peta konsep dengan daftar isi (gambar 4). Berdasarkan hasil uji perorangan maka dilakukan revisi sesuai koreksi yang diperoleh. Berikut disajikan hasil perubahan sebelum dan setelah revisi bahan ajar.
1) Judul (a)
(b)
Gambar 3. Perubahan Judul Bahan Ajar dari BOTAK (a) ke OTAK (b)
2) Peta Konsep
(a) (b)
3) Penyajian integrasi nilai karakter (a)
(b)
Gambar 5. Perubahan penyajian integrasi nilai karakter (a) sebelum revisi (b) setelah direvisi
4) Lembar Tafakur Siswa
(a) (b)
Perubahan lain yakni sebelumnya undang-undang yang digunakan Undang-Undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982 diganti dengan Undang-Undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 32 Tahun 2009. Jumlah soal evaluasi dalam bahan ajar sebelumnya 17 (tujuh belas) butir soal ditambah 6 (enam) soal dengan indikator terkait pencemaran akibat limbah batik. Kesalahan tata tulis paling banyak terjadi pada penulisan rumus kimia misal O2 tertulis O2 hal ini karena pada program power point 2007 tidak terdapat menu subscript, namun hal tersebut dapat diatasi dengan memindah tulisan dari microsoft word.
Tahap selanjutnya adalah uji kelompok kecil (small group). Pada tahap ini dihasilkan instrumen tanggapan siswa pengguna bahan ajar terdahulu (Lampiran 19). Tanggapan siswa pada uji coba skala kecil bertujuan mengetahui perbandingan antara bahan ajar OTAK hasil pengembangan dan bahan ajar terdahulu yang pernah digunakan dalam pembelajaran materi pencemaran lingkungan. Uji coba bahan ajar kelompok kecil (skala kecil) dengan responden kelas XI IPA yang pada saat kelas X menduduki peringkat atas paralel menggunakan 6 siswa sebagai sampel. Tabel hasil tanggapan siswa pada penilaian bahan ajar skala kecil.
Tabel 7. Penilaian Bahan Ajar Pada Uji Coba Skala Kecil
No Aspek Respon (%)
Ya Tidak 1 Keterpahaman siswa terhadap tata bahasa yang digunakan 100 0 2 Kebermanfaatan integrasi nilai islami dalam biologi 100 0 3 Keterkaitan materi dengan kehidupan sehari-hari 100 0 4 Keserasian penyajian gambar, tata letak dan warna 66.67 33.33 5 Kebernilaian lebih dibanding bahan ajar sebelumnya 100 0 *Jumlah responden 6 siswa
*Sampel angket dapat dilihat pada Lampiran 26.
Angket tanggapan siswa pada uji coba skala kecil merupakan gabungan jenis angket kuantitatif dan kualitatif sebab, selain mencantumkan alternatif pilihan jawaban Ya dan Tidak, angket juga disertai kolom komentar responden guna mengkonfirmasi alasan dari jawaban yang dipilih. Pemetaan respon jawaban siswa tersaji dalam Tabel 8.
Tabel 8. Rekapitulasi komentar responden
No Aspek Komentar Frekuensi
1 Kepahaman tata bahasa
* Terdapat istilah asing namun terbantu glosarium 3 * Penggunaan bahasa mudah dipahami 2 * Ukuran dan jenis huruf terbaca jelas 1 2 Integrasi nilai
islami
* Intergrasi nilai islami dengan materi biologi merupakan hal yang bermanfaat
6 3 Kontekstualitas
materi
* Materi memuat contoh pencemaran akibat industri batik pekalongan
4 * Kerusakan lingkungan sering ditemui di kehidupan
sehari-hari
2 4 Keserasian
penyajian tampilan
* Gambar dan tata letak menarik dan warna sesuai 4 * Beberapa gambar ukurannya terlalu besar 1