Hasil
Produksi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis)
Pendugaan potensi sumberdaya ikan yang diolah dengan menggunakan data produksi dan upaya penangkapan yang dilakukan setiap tahunnya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir (2014-2018). Produksi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) tahun 2014-2018 dan produksi dari setiap alat tangkap tahun 2014-2018 yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan dapat dilihat pada Gambar 6 dan Gambar 7.
Gambar 6. Grafik Produksi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) Tahun 2014-2018 yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan Berdasarkan jumlah produksi sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) pada tahun 2014-2018, produksi tertinggi terdapat pada tahun 2016 yaitu sebesar 619,8 ton dan produksi terendah terdapat pada tahun 2014 yaitu sebesar 366 ton.
Gambar 7. Grafik Produksi Setiap Alat Tangkap Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) Tahun 2014-2018 yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan
Berdasarkan jumlah produksi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) pada tiap alat tangkap, produksi tertinggi dari tahun 2014-2018 terdapat pada alat tangkap pukat cincin (purse seine). Produksi terendah dari tahun 2014-2018 terdapat pada alat tangkap jaring insang (gill net).
Upaya Penangkapan
Upaya penangkapan (effort) Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan dalam kurun waktu 5 tahun (2014-2018) dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8. Effort Ikan Tongkol Komo tahun 2014-2018 yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan
Berdasarkan jumlah effort tiap alat tangkap, nilai effort tertinggi pada alat tangkap pukat cincin berada di tahun 2015 yaitu 6613 trip dan effort terendah berada di tahun 2018 yaitu 3706 trip. Nilai effort tertinggi pada alat tangkap jaring insang berada di tahun 2014 yaitu 47 trip dan effort terendah berada di tahun 2015 yaitu 3 trip. Nilai effort tertinggi pada alat tangkap pancing berada di tahun 2018 yaitu 2638 trip dan effort terendah berada di tahun 2015 yaitu 1803 trip.
CPUE (Catch Per Unit Effort)
Hasil tangkapan per unit upaya tangkap atau Cacth per unit effort (CPUE) dapat memberikan gambaran mengenai kelimpahan sumberdaya ikan dalam suatu perairan. CPUE dapat dianggap sebagai indikator apakah stok ikan di perairan masih dalam kondisi baik atau sudah menipis. Nilai CPUE pada setiap alat tangkap dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Nilai CPUE Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan
Tahun Hasil Tangkapan (ton)
CPUE (Ton/trip)
Pukat Cincin Jaring Insang Pancing
2014 366 0,065 0 0
Data pada Tabel 2 diatas, menunjukkan bahwa nilai CPUE tertinggi pada alat tangkap pukat cincin yaitu terdapat pada tahun 2018 sebesar 0,111 ton/trip dan nilai CPUE terendah terdapat pada tahun 2014 sebesar 0,065 ton/trip. Nilai CPUE tertinggi pada alat tangkap jaring insang yaitu terdapat pada tahun 2017 sebesar 0,074 ton/trip dan nilai CPUE terendah terdapat pada tahun 2014-2015
sebesar 0 ton/trip. Nilai CPUE tertinggi pada alat tangkap pancing yaitu terdapat pada tahun 2018 sebesar 0,038 ton/trip dan nilai CPUE terendah terdapat pada tahun 2014-2015 sebesar 0 ton/trip.
Pendugaan Potensi Lestari (MSY) dan Effort Optimum
Pendugaan potensi sumberdaya ikan dengan metode surplus produksi yang terdiri dari model Schaefer dan model Fox. Berdasarkan analisis potensi sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) menggunakan formula model Schaefer. Regresi linier antara effort dengan CPUE Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) diperoleh nilai konstanta (a) sebesar 0,2097 dan koefisien regresi (b) sebesar -2,0548. Hasil dugaan potensi lestari (MSY) sumberdaya Ikan Tongkol Komo sebesar 535,009 ton/tahun dan effort optimum (f opt) sebesar 5102,66 trip/tahun. Berdasarkan analisis regresi, nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,5626. Nilai regresi linier antara effort dengan CPUE dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9. Regresi Linier antara Effort dengan CPUE Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) (Model Schaefer)
Hubungan antara hasil tangkapan (C) dengan upaya tangkapan (f) sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) ditunjukkan dengan menggunakan model Schaefer dalam persamaan C = 0,2097 – 2,0548 f2. Hubungan CPUE dengan effort dari persamaan regresi linier model Schaefer adalah y = -2,0548 + 0,2097 dengan R2 = 0,5626 artinya setiap peningkatan effort 1 trip maka CPUE akan berkurang sebesar 2,0548 ton/trip.
Berdasarkan analisis potensi sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) dengan metode surplus produksi menggunakan model Fox,
regresi linier antara effort dengan ln CPUE Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) pada Gambar 10, diperoleh konstanta (a) sebesar -1,3867 dan
koefisien regresi (b) sebesar -0,0002. Hasil dugaan potensi lestari (MSY) sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) sebesar 535,009 ton/tahun dan effort optimum (f opt) sebesar 5102,66 trip/tahun. Berdasarkan analisis regresi nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,4566.
Gambar 10. Regresi Linier antara Effort dengan CPUE Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) (Model Fox)
Hubungan antara hasil tangkapan (C) dengan upaya penangkapan (f) Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) ditunjukkan dengan menggunakan model Fox dalam persamaan C = f exp -0,0002 - -1,3867 f. Hubungan CPUE dengan effort dari persamaan regresi linier model Fox adalah y = -0,0002x - 1,3867 dengan R² = 0,4566 yang artinya setiap peningkatan effort 1 trip maka CPUE akan berkurang sebesar 0,0002 ton/trip. Perbandingan pendugaan potensi lestari antara metode surplus produksi model Schaefer dan model Fox dapat dilihat pada Tabel 3.
Pendugaan potensi lestari dengan metode surplus produksi dengan model Schaefer dan model Fox dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Perbandingan Potensi Lestari Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) antara Model Schaefer dan Fox
Nilai Schaefer Fox Satuan
a 0,2097 -1,3867
b 2,0548 -0.00017
MSY 535,009 512,404 ton/tahun
F optimum 5102,66 5573,5 trip/tahun
R² 0,5626 0,4566
Grafik Maximum Sustainable Yield dan effort optimum Ikan Tongkol Komo (Model Schaefer) dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11. Maximum Sustainable Yield (MSY) dan Effort Optimum Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) (Model Schaefer)
Berdasarkan model Schaefer, didapatkan nilai potensi lestari (Maximum Sustainable Yield/MSY) untuk sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan sebesar 535,009 ton/tahun dan nilai effort optimum sebesar 5102,66 trip/tahun, yang artinya jika effort dilakukan melebihi effort optimum maka akan terjadi penurunan terhadap nilai produksi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis).
Jika dilihat berdasarkan nilai tangkapan maksimum lestari, jumlah tangkapan yang dihasilkan pada tahun 2015 memiliki nilai produksi sebesar 563,1 ton/tahun dan effort sebesar 6613 trip/tahun, pada tahun 2016 memiliki nilai produksi sebesar 619,8 ton/tahun dan effort sebesar 6233 trip/tahun. Berdasarkan
data tersebut, diperoleh bahwa sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) sudah melebihi nilai potensi lestari (Maximum Sustainable
Yield/MSY) dan sudah melebihi effort optimum. Pada tahun 2018 memiliki nilai produksi sebesar 544,38 ton/tahun dan effort sebesar 3706 trip/tahun. Berdasarkan
data tersebut, diperoleh bahwa sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) sudah melebihi nilai potensi lestari (Maximum Sustainable
Yield/MSY) tetapi masih dibawah effort optimum.
Pada tahun 2014 memiliki nilia produksi sebesar 366 ton/tahun dan effort sebesar 5621 trip/tahun dan tahun 2017 memiliki nilai produksi sebesar 461,6 ton/tahun dan effort sebesar 5367 trip/tahun. Berdasarkan data tersebut, diperoleh bahwa sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) sudah melebihi effort optimum tetapi produksi sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) masih dibawah nilai potensi lestari (Maximum Sustainable Yield/MSY). Kondisi Ikan Tongkol Komo tahun 2014-2018 dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Kondisi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis)
Tahun Produksi (ton) Effort Standart (trip) MSY (ton) Effort Optimum (trip)
2014 366 5621
535,009 5102,66
2015 563,1 6613
2016 619,8 6233
2017 461,6 5367
2018 544,38 3706
Pendugaan Tingkat Pemanfaatan dan Pengupayaan
Tingkat pemanfaatan dan pengupayaan sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan dari tahun 2014 – 2018 dapat dilihat pada Tabel 5 dan Gambar 11. Tingkat pemanfaatan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) pada tahun 2014 sebesar 68,41 % dengan tingkat pengupayaan sebesar 110,16 %. Pada tahun 2015 tingkat pemanfaatan meningkat menjadi 105,25 % dengan tingkat pengupayaan meningkat menjadi 129,60 %. Pada tahun 2016 tingkat pemanfaatan meningkat kembali menjadi 115,85 % dengan tingkat pengupayaan menurun menjadi 122,15%. Kemudian tahun 2017 tingkat pemanfaatan mengalami penurunan menjadi 86,28 % dan tingkat pengupayaan yang yang diturunkan menjadi 105,18%. Tahun 2018 tingkat pemanfaatan meningkat menjadi 101,75% dengan tingkat pengupayaan menurun menjadi 72,63%. Tingkat pemanfaatan dan tingkat pengupayaan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) (model Schaefer) dapat dilihat pada Tabel 5 dan Gambar 12.
Tabel 5. Tingkat Pemanfaatan dan Tingkat Pengupayaan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis)
Tahun Tingkat Pemanfaatan % Tingkat Pengupayaan % TAC (ton)
2014 68,41 110,16 428,007
2015 105,25 129,60 428,007
2016 115,85 122,15 428,007
2017 86,28 105,18 428,007
2018 101,75 72,63 428,007
Rata-Rata 95,51 107,94 428,007
Gambar 12. Tingkat Pemanfaatan dan Tingkat Pengupayaan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis)
Total Allowble Catch (TAC)
Hasil dari Total Allowble Catch (TAC) diperoleh dari perkalian antara nilai 80% dengan nilai MSY yang dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Total Allowble Catch Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis)
Tahun Produksi (ton) TAC (ton) Pemanfaatan %
2014 366 428,007 68,41
2015 563,1 428,007 105,25
2016 619,8 428,007 115,85
2017 461,6 428,007 86,28
2018 544,38 428,007 101,75
Dari data diatas, nilai JTB yang diperbolehkan adalah 80% dari nilai MSY. Nilai JTB sumberdaya Ikan Tongkol komo di PPS Belawan yaitu sebesar 428,007 ton/tahun.
Status Keberlanjutan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis)
Status keberlanjutan Ikan Tongkol Komo yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan dapat dilihat dari dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi, dan kelembagaan yang terdiri dari beberapa atribut sebagai indikator keberlanjutan perikanan. Untuk mengetahui indeks keberlanjutan masing dimensi serta atribut yang sensitif mempengaruhi keberlanjutan dimasing- dimasing-masing dimensi, dapat dilakukan menggunakan teknik Rapfish yakni analisis dengan metode Multi Dimensional Scalling (MDS).
Uji Ketepatan Multi Dimensional Scaling (MDS) Setiap Dimensi
Analisis MDS bertujuan untuk melihat kondisi status keberlanjutan dari masing-masing dimensi. Dalam menentukan status keberlanjutan sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) dilakukan uji ketepatan MDS. Ketepatan analisis MDS (goodness of fit) ditentukan oleh nilai S-Stress dan koefisien determinasi (R2).
Jika nilai stress lebih kecil dari 0,25 (25%) dan nilai R2 mendekati 1 maka model dikatakan baik artinya memiliki ketepatan yang tinggi. Hasil uji ketepatan MDS pada 5 dimensi sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Hasil Uji Ketepatan MDS pada Setiap Dimensi Sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis)
Dimensi Nilai Stress (S) Korelasi Kuadrat (R²)
Ekologi 20.08 % 90.31 %
Ekonomi 17.86 % 93.10 %
Sosial 21.53 % 88.26 %
Teknologi 21,16 % 89,67 %
Kelembagaan 19.19 % 92.78 %
Berdasarkan hasil uji ketepatan MDS pada setaip dimensi yaitu dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan, diketahui bahwa pada dimensi ekologi memiliki nilai korelasi kuadrat (R2) sebesar 90,31 % dengan nilai stress (S) sebesar 20,08 %. Dimensi Ekonomi memiliki nilai korelasi kuadrat (R2) sebesar 93,10% dengan nilai stress (S) sebesar 17,86%. Dimensi sosial memiliki nilai korelasi kuadrat (R2) sebesar 89,67% dengan nilai stress (S) sebesar 21,16%.
Dimensi teknologi memiliki nilai korelasi kuadrat (R2) sebesar 89,67% dengan nilai stress (S) sebesar 21,16% dan dimensi kelembagaan memiliki nilai korelasi kuadrat (R2) sebesar 92,78% dengan nilai stress (S) sebesar 19,19%. Dari kelima dimensi tersebut, diketahui bahwa hasil uji ketepatan MDS sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) memiliki ketepatan yang tinggi karena nilai stress < 0,25 dengan nilai R2 mendekati 1.
Uji Validitas
Uji validitas dilakukan dengan melihat perbandingan antara nilai analisis MDS dengan analisis Monte Carlo, apabila hasil perbedaan (<1) maka pengaruh kesalahan sangat kecil (Wibowo et al, 2015). Perbandingan nilai analisis MDS dengan analisis Monte Carlo dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Perbandingan Nilai Indeks Keberlanjutan Analisis MDS dengan Analisis Monte Carlo
Dimensi Analisis MDS Analisis Monte Carlo Perbedaan
Ekologi 59.03 59.72 0.69
Ekonomi 20.64 20.25 0.39
Sosial 48.60 49.00 0.40
Teknologi 24.89 24.60 0.29
Kelembagaan 51.82 51.36 0.46
Hasil analisis Monte Carlo dibandingkan dengan hasil ordinasi (selang kepercayaan 95%) tidak memiliki banyak perbedaan. Hal ini berarti bahwa kesalahan dalam pembuatan skor pada setiap atribut dan kesalahan prosedur metode analisis sangat kecil.
Keberlanjutan Dimensi Ekologi
Dari hasil Rap-Analysis (analisis MDS) diperoleh nilai stress dari dimensi ekologi sebesar 20,08% dengan nilai R2 90,31% (Tabel 7). Nilai stress ini menunjukkan bahwa dimensi ekologi dalam kondisi goodness of fit artinya bahwa ketepatan analisis MDS pada dimensi ekologi sudah tepat, karena nilai stress berada dibawah 25%. Nilai kuadrat korelasi (R2) sebesar 90,31%, hal ini menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan (keakuratan) terhadap analisis multidimensional dapat dipercaya karena mendekati 100%.
(a)
(b)
Gambar 13. Posisi Status Keberlanjutan Dimensi Ekologi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan berdasarkan (a) analisis MDS, (b) analisis Monte Carlo
Berdasarkan hasil Rap-Analysis, nilai indeks status keberlanjutan dimensi ekologi sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan yaitu sebesar 59,03 (Gambar 13 a) artinya bahwa
secara ekologis kegiatan perikanan tangkap Ikan Tongkol Komo dalam status cukup berkelanjutan karena nilai indeks yang dihasilkan masuk dalam kategori nilai (51-75).
Hasil simulasi Monte Carlo terhadap dimensi ekologi menunjukkan hasil rata-rata sebesar 59,72 (Gambar 13 b). Jika dibandingkan dengan hasil ordinasi pada dimensi ekologi sebesar 59,03 terlihat tidak mengalami perbedaan yang signifikan dengan selisih 0,69. Hal ini berarti kesalahan pada setiap atribut sangat kecil.
Gambar 14. Hasil Analisis Laverage Dimensi Ekologi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan Berdasarkan hasil analisis Laverage terhadap dimensi ekologi yang terdiri dari 9 (sembilan) atribut, terdapat 2 atribut utama dengan nilai terbesar yaitu atribut hasil sampingan yang tertangkap dengan nilai sebesar 6,42 dan trend CPUE sebesar 4,87. Hal ini berarti bahwa atribut tersebut sangat berpengaruh
terhadap keberlanjutan sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Ethyunnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan.
Keberlanjutan Dimensi Ekonomi
Dari hasil Rap-Analysis (analisis MDS) diperoleh nilai stress dari dimensi ekonomi sebesar 17,86% dengan nilai R2 93,10% (Tabel 7). Nilai stress ini menunjukkan bahwa dimensi ekonomi dalam kondisi goodness of fit artinya bahwa ketepatan analisis MDS pada dimensi ekologi sudah tepat, karena nilai stress berada dibawah 25%. Nilai kuadrat korelasi (R2) sebesar 93,10%, nilai ini menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan (keakuratan) terhadap analisis multidimensional dapat dipercaya karena mendekati 100%.
(a)
(b)
Gambar 15. Posisi Status Keberlanjutan Dimensi Ekonomi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan berdasarkan (a) Analisis MDS, (b) Analisis Monte Carlo
Berdasarkan hasil Rap-Analysis, nilai indeks status keberlanjutan dimensi ekonomi sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan yaitu sebesar 20,64 (Gambar 15 a) artinya bahwa secara ekonomi status keberlanjutan Ikan Tongkol Komo di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan dalam status tidak berkelanjutan (buruk) karena nilai indeks yang dihasilkan masuk dalam kategori nilai (0-25).
Hasil simulasi Monte Carlo terhadap dimensi ekonomi menunjukkan hasil rata-rata sebesar 20,25 (Gambar 15 b). Jika dibandingkan dengan hasil ordinasi pada dimensi ekologi sebesar 20,64 terlihat tidak mengalami perbedaan yang signifikan dengan selisih 0,39. Hal ini berarti kesalahan pada setiap atribut sangat kecil.
Gambar 16. Hasil Analisis Laverage Dimensi Ekonomi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan Berdasarkan hasil analisis Laverage terhadap dimensi ekonomi, terdapat 2 atribut utama yang memiliki nilai tertinggi yaitu atribut rataan pendapatan relatif nelayan dengan nilai sebesar 10,29 dan atribut penyerapan tenaga kerja yaitu 9,18 (Gambar 16) yang artinya kedua atribut dari dimensi ekonomi tersebut sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Ethunnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan.
Keberlanjutan Dimensi Sosial
Dari hasil Rap-Analysis (analisis MDS) diperoleh nilai stress dari dimensi sosial sebesar 21,53% dengan nilai R2 88,26% (Tabel 7). Nilai stress ini menunjukkan bahwa dimensi sosial dalam kondisi goodness of fit artinya bahwa ketepatan analisis MDS pada dimensi ekologi sudah tepat, karena nilai stress berada dibawah 25%. Nilai kuadrat korelasi (R2) sebesar 88,26%, nilai ini
menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan (keakuratan) terhadap analisis multidimensional dapat dipercaya karena mendektai 100%.
(a)
(b)
Gambar 17. Posisi Status Keberlanjutan Dimensi Sosial Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan Berdasarkan (a) Analisis MDS, (b) Analisis Monte Carlo
Berdasarkan hasil Rap-Analysis, nilai indeks status keberlanjutan dimensi sosial sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan yaitu sebesar 48,60 (Gambar 17 a) yang artinya bahwa secara sosial status keberlanjutan Ikan Tongkol Komo di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan dalam status kurang berkelanjutan karena nilai indeks yang dihasilkan masuk dalam kategori nilai (26-50).
Hasil simulasi Monte Carlo terhadap dimensi sosial menunjukkan hasil rata-rata sebesar 49,00 (Gambar 17 b). Jika dibandingkan dengan hasil ordinasi pada dimensi ekologi sebesar 48,60 terlihat tidak mengalami perbedaan yang signifikan dengan selisih 0,40. Hal ini berarti kesalahan pada setiap atribut sangat kecil.
Gambar 18. Hasil Analisis Laverage Dimensi Sosial Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan Berdasarkan hasil analisis Laverage terhadap dimensi sosial, dua atribut utama yang mempunyai nilai tertinggi yaitu atribut keterlibatan nelayan dalam
pembinaan dan pelatihan dengan nilai yaitu 12,86 dan keterlibatan nelayan dalam pembuatan kebijakan pemerintah dengan nilai 11,07 (Gambar 18) yang artinya kedua atribut dari dimensi sosial tersebut sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Ethunnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan.
Keberlanjutan Dimensi Teknologi
Dari hasil Rap-Analysis (analisis MDS) diperoleh nilai stress dari dimensi teknologi sebesar 21,16% dengan nilai R2 89,67% (Tabel 7). Nilai stress ini menunjukkan bahwa dimensi teknologi dalam kondisi goodness of fit artinya bahwa ketepatan analisis MDS pada dimensi ekologi sudah tepat, karena nilai stress berada dibawah 25%. Nilai kuadrat korelasi (R2)sebesar 89,67%, nilai ini menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan (keakuratan) terhadap analisis multidimensional dapat dipercaya karena mendekati 100%.
(a)
(b)
Gambar 19. Posisi Status Keberlanjutan Dimensi Teknologi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan Berdasarkan (a) Analisis MDS, (b) Analisis Monte Carlo
Berdasarkan hasil Rap-Analysis, nilai indeks status keberlanjutan dimensi teknologi sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan yaitu sebesar 24,89 (Gambar 19 a) yang artinya bahwa secara teknologi status keberlanjutan Ikan Tongkol Komo di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan dalam status tidak berkelanjutan (buruk) karena nilai indeks yang dihasilkan masuk dalam kategori nilai (0-25).
Hasil simulasi Monte Carlo terhadap dimensi teknologi menunjukkan hasil rata-rata sebesar 24,60 (Gambar 19 b). Jika dibandingkan dengan hasil ordinasi pada dimensi ekologi sebesar 24,89 terlihat tidak mengalami perbedaan yang signifikan dengan selisih 0,29. Hal ini berarti kesalahan pada setiap atribut sangat kecil.
Gambar 20. Hasil Analisis Laverage Dimensi Teknologi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan Berdasarkan hasil analisis Laverage terhadap dimensi teknologi, dua atribut utama yang mempunyai nilai tertinggi yaitu metode penangkapan ikan yang bersifat destruktif atau ilegal dengan nilai 9,86 dan alat tangkap yang digunakan dengan nilai 9,13 (Gambar 20). Hal ini berarti dalam upaya meningkatkan status keberlanjutan dari dimensi teknologi, kedua atribut ini memerlukan perhatian khusus.
Keberlanjutan Dimensi Kelembagaan
Dari hasil Rap-Analysis (analisis MDS) diperoleh nilai stress dari dimensi kelembagaan sebesar 19,19% dengan nilai R2 92,78% (Tabel 7). Nilai stress ini menunjukkan bahwa dimensi kelembagaan dalam kondisi goodness of fit artinya bahwa ketepatan analisis MDS pada dimensi ekologi sudah tepat, karena nilai stress berada dibawah 25%. Nilai kuadrat korelasi (R2)sebesar 92,78%, nilai ini
menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan (keakuratan) terhadap analisis multidimensional dapat dipercaya.
(a)
(b)
Gambar 21. Posisi Status Keberlanjutan Dimensi Kelembagaan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan Berdasarkan (a) Analisis MDS, (b) Analisis Monte Carlo
Berdasarkan hasil Rap-Analysis, nilai indeks status keberlanjutan dimensi kelembagaan sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan yaitu sebesar 51,82 (Gambar 21 a) artinya bahwa secara kelembagaan status keberlanjutan Ikan Tongkol Komo di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan dalam status cukup berkelanjutan karena nilai indeks yang dihasilkan masuk dalam kategori nilai (51-75).
Hasil simulasi Monte Carlo terhadap dimensi kelembagaan menunjukkan hasil rata-rata sebesar 51,36 (Gambar 21 b). Jika dibandingkan dengan hasil ordinasi pada dimensi ekologi sebesar 51,82 terlihat tidak mengalami perbedaan yang signifikan dengan selisih 0,46. Hal ini berarti kesalahan pada setiap atribut sangat kecil.
Gambar 22. Hasil Analisis Laverage Dimensi Kelembagaan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan Berdasarkan hasil analisis Laverage terhadap dimensi kelembagaan, terdapat dua atribut utama dengan nilai terbesar yaitu atribut pelanggaran dalam penangkapan ikan dengan nilai 13,06 dan ketaatan nelayan terhadap peraturan
pelabuhan di PPS Belawan yaitu 11,30. Hal ini berarti bahwa dalam merumuskan kebijakan upaya meningkatkan status keberlanjutan dari dimensi kelembagaan sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Ethunnus affinis) perlu memperhatikan dan mempertimbangkan atribut tersebut.
Status Keberlanjutan Multidimensi
Analisis keberlanjutan sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Ethunnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan menghasilkan nilai indeks keberlanjutan. Atribut yang digunakan dalam menilai keberlanjutan sumberdaya Ikan Tongkol Komo terdiri dari lima dimensi, yaitu dimensi ekologi sebesar 59,03 dengan status cukup berkelanjutan, dimensi ekonomi sebesar 20,63 dengan status tidak berkelanjutan (buruk), dimensi sosial sebesar 48,59 dengan status kurang berkelanjutan, dimensi teknologi sebesar 24,89 dengan status tidak berkelanjutan (buruk), dan dimensi kelembagaan sebesar 51,82 dengan status cukup berkelanjutan. Dapat dilihat pada Gambar 23.
Gambar 23. Analisis Multidimensi Status Keberlanjutan Sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan
Berdasarkan hasil analisis keberlanjutan multidimensi, sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan memiliki nilai indeks keberlanjutan sebesar 40,99 yang berarti status keberlanjutan sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan berada dalam kategori kurang berkelanjutan karena nilai indeks yang dihasilkan masuk dalam kategori nilai (26-50).
Pembahasan
Produksi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis)
Hasil produksi sumberdaya Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) selama 5 tahun terakhir (2014-2018) cenderung mengalami perubahan secara fluktuatif. Produksi tertinggi terdapat pada tahun 2016 sebesar 619,8 ton. Hal ini disebabkan karena jumlah pengunaan alat tangkap yang meningkat, ketersediaan stok ikan yang melimpah dan upaya penangkapan yang tinggi. Pada tahun 2016 alat tangkap pukat ikan juga masih dilegalkan untuk beroperasi di perairan Belawan. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tingginya produksi ikan tersebut. Sedangkan produksi terendah terjadi pada tahun 2014 yaitu sebesar 366 ton. Hal ini disebabkan karena jumlah unit penangkapan di tahun 2014 lebih sedikit yaitu 241 unit dibandingkan dengan tahun-tahun berikutnya sehingga upaya penangkapan ditahun 2014 menjadi rendah.
Berdasarkan jumlah produksi dari tiap alat tangkap, diketahui bahwa produksi tertinggi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) dari tahun 2014-2018 terdapat pada alat tangkap pukat cincin (purse seine). Hal ini disebabkan karena sebagian besar kapal nelayan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan menggunakan alat tangkap pukat cincin yaitu 206 unit, karena alat tangkap pukat
cincin merupakan alat tangkap yang cocok untuk menangkap ikan pelagis yang bersifat bergerombol seperti Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) sehingga produksi yang dihasilkan pada alat tangkap pukat cincin akan lebih banyak dari alat tangkap jaring insang dan pancing, maka dari itu nelayan di PPS Belawan lebih banyak menggunakan alat tangkap pukat cincin sedangkan untuk alat tangkap jaring insang dan pancing di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan jumlahnya sangat sedikit yaitu 139 unit. Hal ini sesuai dengan Simanjuntak (2018), yang menyatakan bahwa hasil tangkapan dipengaruhi oleh jumlah dan efisiensi dari unit penangkapan, lamanya operasi dan ketersediaan ikan yang tertangkap selain dipengaruhi juga oleh faktor internal dan eksternal.
Dari hasil jumlah produksi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) tiap alat tangkap dari tahun 2014-2018, diketahui bahwa produksi tertinggi terdapat pada tahun 2016 sebesar 591,9 ton yaitu pada alat tangkap pukat cincin, sedangkan produksi terendah terdapat pada tahun 2014-2015 yaitu pada alat tangkap jaring insang dan pancing yang tidak mendapatkan hasil sama sekali.
Perbedaan hasil tangkapan tersebut disebabkan karena kapal yang menggunakan
Perbedaan hasil tangkapan tersebut disebabkan karena kapal yang menggunakan