SEL KANKER SERVIK (HeLa) IN VITRO
HASIL DAN PEMBAHASAN Berat Badan
Kisaran berat badan tikus hasil penelitian yaitu antara 122,5 g sampai 256,0 g. Rerata berat badan tikus sebesar 195,7 g. Rerata berat badan pada perlakuan
60
penanganan (saat pemberian takokak) secara preventif yaitu sebesar 175,6 g sedangkan secara kuratif yaitu sebesar 163,3 g.
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara perlakuan konsentrasi takokak dengan konsentrasi yang ditingkatkan dan penanganan (saat pemberian takokak secara preventif maupun kuratif) berpengaruh signifikan terhadap berat badan (p=0,022), konsentrasi takokak semakin meningkat dan penanganan (saat pemberian takokak secara preventif atau kuratif) berkontribusi meningkatkan berat badan.
Interaksi antara perlakuan konsentrasi takokak dengan konsentrasi yang ditingkatkan dan penanganan (saat pemberian takokak secara preventif maupun kuratif) berpengaruh signifikan terhadap berat badan (p=0,022), konsentrasi takokak semakin meningkat dan penanganan (saat pemberian takokak secara preventif atau kuratif) berkontribusi meningkatkan berat badan. Interaksi antara perlakuan konsentrasi takokak dan waktu nekropsi (minggu ke-12 dan 16) tidak berpengaruh terhadap berat badan (p=0,405), konsentrasi takokak semakin tinggi dan waktu nekropsi (minggu ke-12 dan ke-16) tidak berkontribusi terhadap peningkatan berat badan. Interaksi antara perlakuan penanganan (saat pemberian takokak secara preventif dan kuratif) dan waktu nekropsi (minggu 12 dan ke-16) tidak berpengaruh terhadap berat badan (p=0,896), penanganan (saat pemberian secara preventif maupun kuratif) dan waktu nekropsi (minggu ke-12 dan ke-16) tidak berkontribusi terhadap peningkatan berat badan. Interaksi antara perlakuan konsentrasi takokak dengan penanganan (saat pemberian takokak secara preventif dan kuratif) dan perlakuan waktu nekropsi (minggu 12 dan ke-16) tidak berpengaruh terhadap berat badan (p=0,999), konsentrasi takokak ditingkatkan dengan penanganan (saat pemberian takokak secara preventif maupun kuratif) dan waktu nekropsi (pada minggu ke-12 dan ke-16) tidak berkontribusi meningkatkan berat badan. Berat badan tikus kelompok preventif dapat dilihat pada Gambar 11 dan berat badan tikus kelompok kuratif dapat dilihat pada Gambar 12.
Gambar 11. Berat badan tikus kelompok preventif. 0 50 100 150 200 250 300 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 P0 P400 P800 B e r a t b a d a n (g) Pengamatan minggu ke
61
Gambar 12. Berat badan tikus kelompok kuratif.
Pakan yang dikonsumsi menyebabkan peningkatan secara signifikan pada berat badan tikus setiap minggunya, hal ini menunjukkan bahwa pakan yang dikonsumsi cukup karena pakan tersebut dapat meningkatkaan berat badan. Pemberian takokak dengan konsentrasi yang lebih tinggi akan meningkatkan berat badan baik secara preventif dan kuratif. Namun pemberian preventif lebih tinggi dari pada berat badan penanganan kuratif. Pada kelompok preventif ada kecenderungan semakin tinggi level takokak berat badan semakin tinggi, tetapi sebaliknya pada kelompok kuratif ada kecenderungan semakin tinggi level takokak berat badan akan semakin menurun. Hal ini diduga disebabkan pada kelompok preventif tidak banyak tikus yang mengalami kanker, tetapi pada kelompok kuratif lebih banyak tikus yang mengalami kanker. Munculnya kanker akan mempengaruhi nafsu makan tikus, sehingga berat badan pada kelompok kuratif cenderung menurun.
Kadar TNF-α
Sitokin merupakan zat yang dapat memfasilitasi pertumbuhan kanker, invasi dan metastase dengan merusak DNA dan menghambat perbaikan DNA melalui RO (reactive oxygen), serta menginaktifasi gen penekan tumor (Balkwill dan Mantaovani 2011). TNF-α merupakan sitokin yang terlibat dalam proses inflamasi, imunitas, homeostasis selluler dan tumor progresi (Zhou dan wu 2010). Kisaran kadar TNF-α hasil penelitian yaitu antara 23,50±2,29 pg/ml sampai 68,00±13,44 pg/ml. Rerata kadar TNF-α sebesar 46,90±21,9 pg/ml. Rerata kadar TNF-α pada perlakuan penanganan (saat pemberian takokak) secara preventif yaitu sebesar 39,43±5,50 pg/ml dan sebesar 50,19±7,0 pg/ml pada penanganan secara kuratif. Rerata kadar TNF-α perlakuan waktu nekropsi minggu ke-12 yaitu sebesar 42,83±3,25 pg/ml dan pada minggu ke-16 sebesar 46,79±9,33 pg/ml. Kadar TNF-α dapat dilihat pada Tabel 9.
0 50 100 150 200 250 300 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 K0 K400 k800 B e r a t b a d a n (g) Pengamatan minggu ke
62
Tabel 9. Kadar TNF-α tikus selama penelitian
Kons Ekst mg/kg Waktu Nekropsi Minggu ke Rerata Rerata 12 16
Preventif Kuratif Preventif Kuratif Preventif Kuratif (pg/ml) 0 26,50±0,0 28,33 ±1,6 23,50±2,2 28,67±3,0 24,70±10C 28,50±9,1CB 26,3±10,5c 400 30,00 ±0,7 62,33±6,6 44,25±11,6 54,00±9,1 37,12±22B 59,00±20A 49,3±22,2b 800 44,33±5,2 65,50±5,2 68,00±13,4 62,33±16,3 66,50±24A 63,91±23 A 65,1±25,2a rerata 33,61±2,0 52,06±4,5 45,25±9,1 48,33±9,5 39,43±5,5b 50,19±7,0a 46,9±21,9 p v a l u e Kt 0,000* Pn 0,021* N 0,882 Kt*pn 0,011* Kt*N 0,827 Pn*N 0,165 Kt*pn*N 0,216 Keterangan: Kt:konsentrasi takokak Pn: penanganan N: Nekropsi
Kt*pn : Interaksi konsentrasi takokak dan penanganan *: signifikan
Notasi huruf besar menandakan interaksi
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi takokak berpengaruh signifikan terhadap kadar TNF-α (p=0,000), semakin tinggi konsentrasi takokak maka kadar TNF-α akan semakin meningkat. Kadar TNF-α
perlakuan penanganan (saat pemberian takokak) secara preventif kadar TNF-α
lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan penanganan (saat pemberian takokak) secara kuratif. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan penanganan (saat pemberian takokak preventif dan kuratif) berpengaruh signifikan terhadap kadar TNF-α (p=0,021). Ada kecenderungan kadar TNF-α perlakuan waktu nekropsi minggu ke-12 sebesar 42,83±3,25 pg/ml lebih rendah dari pada kadar TNF-α perlakuan waktu nekropsi minggu ke-16 yaitu sebesar 46,79±9,3 pg/ml, namun secara statistik perlakuan waktu nekropsi (minggu ke-12 dan ke-16) tidak berpengaruh terhadap kadar TNF-α (p=0,882). Perlakuan waktu nekropsi yang dilakukan pada minggu ke-12 maupun ke-16 kadar TNF-α tidak berbeda.
Interaksi antara perlakuan konsentrasi takokak dengan konsentrasi yang ditingkatkan dan penanganan (saat pemberian takokak secara preventif maupun kuratif) berpengaruh signifikan terhadap kadar TNF-α (p=0,011), konsentrasi takokak semakin meningkat dan penanganan (saat pemberian takokak secara preventif atau kuratif) berkontribusi dalam meningkatkan kadar TNF-α. Interaksi antara perlakuan konsentrasi takokak dan waktu nekropsi (minggu 12 dan ke-16) tidak berpengaruh terhadap kadar TNF-α (p=0,827), konsentrasi takokak semakin tinggi dan waktu nekropsi (minggu ke-12 dan ke-16) tidak berkontribusi terhadap peningkatan kadar TNF-α. Interaksi antara perlakuan penanganan (saat pemberian takokak secara preventif dan kuratif) dan waktu nekropsi (minggu ke-12 dan ke-16) tidak berpengaruh terhadap kadar TNF-α (p=0,827), penanganan
63 (saat pemberian secara preventif maupun kuratif) dan waktu nekropsi (minggu ke-12 dan ke-16) tidak berkontribusi terhadap peningkatan kadar TNF-α. Interaksi antara perlakuan konsentrasi takokak dengan penanganan (saat pemberian takokak secara preventif dan kuratif) dan perlakuan waktu nekropsi (minggu 12 dan ke-16) tidak berpengaruh terhadap kadar TNF-α (p=0,216), konsentrasi takokak ditingkatkan dengan penanganan (saat pemberian takokak secara preventif maupun kuratif) dan waktu nekropsi (pada minggu ke-12 dan ke-16) tidak berkontribusi meningkatkan kadar TNF-α.
Kadar IL-6
IL-6 merupakan sitokin pro-inflamasi yang diproduksi oleh sel T dan makrofag untuk merangsang imun respon selama ada infeksi atau kerusakan jaringan (Simpson et al. 1997). IL-6 juga berkontribusi pada beberapa penyakit seperti kanker, syaraf dan metabolic syndrome. Adanya kenaikan kadar IL-6 pada tumor sel terkait dengan perkembangan kanker (Rinco 2012). Beberapa kanker yang sudah terjadi metastase kadar IL-6 meningkat (Tawara et al. 2011). Blocking
IL-6 memberikan keuntungan terhadap beberapa penyakit (Trikha et al. 2003). Kisaran kadar IL-6 yaitu antara 9,34±0,1 pg/ml sampai 21,81±0,40 pg/ml. Rerata kadar IL-6 sebesar 16,62±6,3 pg/ml. Rerata kadar IL-6 pada perlakuan penanganan (saat pemberian takokak) secara preventif yaitu sebesar 16,82±6,4 pg/ml dan rerata kadar IL-6 perlakuan penanganan (saat pemberian takokak) secara kuratif yaitu sebesar 16,43±6,2 pg/ml. Rerata kadar IL-6 perlakuan waktu nekropsi minggu ke-12 yaitu sebesar 16,50±6,2 pg/ml dan rerata kadar IL-6 perlakuan waktu nekropsi minggu ke-16 yaitu sebesar 16,56±7,5 pg/ml. Kadar IL-6 tikus selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Kadar IL-6 tikus selama penelitian
Kons Ekst mg/kg Waktu Nekropsi Minggu ke Rerata Rerata 12 16
Preventif Kuratif Preventif Kuratif Preventif Kuratif (pg/ml) 0 16,71± 0,5 18,71 ±0,8 17,14±0,5 19,57±1,4 16,96±6,5B 19,26±6,5A 18,11±6,6a 400 20,21±0,0 15,07±0,7 18,01±3,8 14,21±0,1 19,10±7,3A 14,72±6,1C 16,91±6,7b 800 9,34 ±0,1 14,71±0,4 21,81±0,4 15,91±0,1 14,38±5,3C 15,28±6,0C 14,83±5,7c rerata 15,42±0,2 16,16±0,6 18,98±1,5 16,56 ±0,5 16,82±6,4a 16,43 ±6,2a 16,62±6,3 p v a l u e Kt 0,000* Pn 0,265 N 0,904 Kt*pn 0,000* Kt*N 0,052 Pn*N 0,265 Kt*pn*N 0,899
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi yang berbeda berpengaruh signifikan terhadap kadar IL-6 (p=0,000), semakin tinggi konsentrasi takokak kadar IL-6 semakin menurun. Hal ini diduga didalam takokak mengandung alkaloid, triterpenoid dan tannin yang mampu menangkal radikal bebas, sehingga bisa menekan inflamasi. Perlakuan penanganan (pemberian
64
takokak secara preventif dan kuratif) tidak berpengaruh terhadap kadar IL-6 (p=0,265), penanganan (pemberian takokak secara preventif dan kuratif) tidak mengakibatkan perbedaan kadar IL-6. Perlakuan waktu nekropsi (minggu ke-12 dan ke-16 ) tidak berpengaruh terhadap kadar IL-6 (p=0,904).
Interaksi antara perlakuan konsentrasi takokak dengan konsentrasi yang berbeda dan penanganan (pemberian takokak secara preventif dan kuratif) berpengaruh signifikan terhadap kadar IL-6 (p=0,000), konsentrasi takokak semakin meningkat dan penanganan (saat pemberian takokak secara preventif dan kuratif) berkontribusi menurunkan kadar IL-6. Interaksi antara perlakuan konsentrasi takokak dan waktu nekropsi (minggu ke-12 dan ke-16) tidak berpengaruh terhadap kadar IL-6 (p=0,052), konsentrasi takokak semakin tinggi dan waktu nekropsi (minggu ke-12 dan ke-16) tidak berkontribusi terhadap penurunan kadar IL-6. Interaksi antara perlakuan penanganan (pemberian takokak secara preventif dan kuratif) dan nekropsi (minggu ke-12 dan ke-16) tidak berpengaruh terhadap kadar IL-6 (p=0,265). Interaksi antara perlakuan konsentrasi takokak dengan penanganan (pemberian secara preventif dan kuratif) dan waktu nekropsi (minggu ke-12 dan ke-16) tidak berpengaruh terhadap IL-6 (p=0,899), konsentrasi takokak ditingkatkan dengan penanganan (saat pemberian takokak secara preventif maupun kuratif) dan waktu nekropsi pada minggu ke-12 dan ke-16 tidak berkontribusi menurunkan kadar IL-6.
Kadar Superoxide Dismutase (SOD)
Superoxide dismutase (SOD) merupakan enzim (protein ko-faktor) yang mengkatalis reaksi dengan superoxide (O2-) menjadi oksigen dan hydrogen peroksida. SOD di dalam sel merupakan bahan yang pertama melawan ROS (reactive oxygen species) (Olawale 2005). Kisaran kadar SOD yaitu antara 4,37±0,20 µ/ml sampai 7,96±1,10 µ/ml. Rerata kadar SOD keseluruhan sebesar 5,93±2,30 µ/ml. Rerata kadar SOD perlakuan penanganan (saat pemberian takokak) secara preventif yaitu sebesar 5,95±2,3 µ/ml dan rerata kadar SOD perlakuan penanganan (saat pemberian takokak) secara kuratif yaitu sebesar 5,90±2,2 µ/ml. Rerata kadar SOD perlakuan waktu nekropsi minggu ke-12 yaitu sebesar 6,55±2,3 µ/ml dan rerata kadar SOD perlakuan waktu nekropsi minggu ke-16 yaitu sebesar 5,31±1,9 µ/ml.
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi takokak berpengaruh signifikan terhadap kadar SOD (p=0,023), semakin tinggi konsentrasi takokak maka kadar SOD akan semakin meningkat. Penanganan (saat pemberian takokak secara preventif dan kuratif) tidak berpengaruh terhadap kadar SOD (p=0,480), penanganan (saat pemberian takokak) secara preventif lebih tinggi dari penanganan (saat pemberian takokak) secara kuratif. Perlakuan waktu nekropsi (minggu ke-12 dan ke-16) berpengaruh signifikan terhadap kadar SOD (p=0,000), perlakuan waku nekropsi minggu ke-12 kadar SOD lebih tinggi dari perlakuan waktu nekropsi minggu ke-16.
Interaksi antara perlakuan konsentrasi takokak dan penanganan (saat pemberian takokak secara preventif dan kuratif) berpengaruh signifikan terhadap kadar SOD (p=0,012), konsentrasi takokak yang diberikan dengan cara preventif maupun kuratif berkontribusi meningkatkaan kadar SOD. Interaksi antara perlakuan konsentrasi takokak dan waktu nekropsi (minggu ke-12 dan ke-16)
65 tidak berpengaruh terhadap kadar SOD (p=0,197), konsentrasi takokak semakin meningkat dan waktu nekropsi (minggu ke-12 dan ke-16) tidak berkontribusi meningkatkaan kadar SOD. Interaksi antara perlakuan penanganan (saat pemberian takokak secara preventif maupun kuratif) dan perlakuan waktu nekropsi (minggu ke-12 dan ke-16) tidak berpengaruh terhadap kadar SOD (p=0,199), penanganan (saat pemberian takokak secara preventif maupun kuratif) dan waktu nekropsi (minggu ke-12 dan ke-16) tidak berkontribusi menurunkan kadar SOD. Interaksi antara perlakuan konsentrasi takokak, penanganan (saat pemberian takokak secara preventif maupun kuratif) dan waktu nekropsi (minggu ke-12 dan ke-16) berpengaruh signifikan terhadap kadar SOD (p=0,010), konsentrasi takokak semakin meningkat dan penanganan (saat pemberian takokak secara preventif maupun kuratif) serta waktu nekropsi minggu ke-12 dan ke-16 berkontribusi terhadap peningkatan kadar SOD. Kadar SOD tikus dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Kadar SOD tikus selama penelitian
Kons Ekst mg/kg Waktu Nekropsi Minggu ke Rerata Rerata 12 16
Preventif Kuratif Preventif Kuratif Preventif Kuratif (μ/ml) 0 7,96±1,1 A 6,07±0,4CD 5,34±0,3CDE 4,90±0,3DE 6,38±2,4AB 5,48±1,9B 5,89±2,3ab 400 5,23±1,2CDE 6,42±0,8BC 5,66±0,5CDE 4,37±0,2E 5,48±2,0B 5,60±2,1B 5,54±2,1b 800 6,33±0,1BC 7,46±1,1AB 5,51±0,1CDE 5,79±0,3CD 6,00±2,5AB 6,62±2,5A 6,34±2,5a rerata 6,50±0,8 6,65±0,8 5,50 ±0,3 5,02±0,3 5,95±2,3a 5,92±2,2a 5,93±2,3 p v a l u e Kt 0,023* Pn 0,480 N 0,000* Kt*pn 0,012* Kt*N 0,197 Pn*N 0,199 Kt*pn*N 0,010*
Jumlah Nodul, Berat Nodul, Persentase Nodul dan Jumlah Sel Proliferasi Kanker Minggu ke-16
Jumlah nodul yang paling banyak muncul perlakuan konsentrasi takokak 400 mg/kg BB dengan penanganan secara kuratif yaitu sebanyak 2 nodul (66 %), sedangkan jumlah nodul yang paling sedikit perlakuan konsentrasi takokak 0 mg/Kg BB dengan penanganan secara kuratif yaitu 0 (0 %). Berat nodul yang paling besar perlakuan konsentrasi takokak 400 mg/kg BB dengan penanganan secara kuratif yaitu sebesar 14,71 g. Berat nodul paling rendah perlakuan pemberian ekstrak takokak konsentrasi 0 mg/kg BB dengan penanganan secara preventif yaitu sebesar 0,99 g.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap empat nodul kanker yang terbentuk, perlakuan konsentrasi takokak 0 mg/kg dengan penanganan secara preventif memiliki jumlah sel proliferasi sebanyak 630 sel/lapang pandang, sedangkan pada perlakuan konsentrasi takokak 800 mg/kg BB dengan penanganan secara preventif jumlah sel proliferasi yaitu sebanyak 504 sel/lapang pandang. Jumlah sel proliferasi pada konsentrasi takokak 400 mg/kg dengan penanganan secara kuratif
66
yaitu sebanyak 468 sel/lapang pandang. Hasil penelitian tersebut menunjukkan penurunan proliferasi sel setelah ditambahkan ekstrak takokak. Jumlah nodul, berat nodul, persentase nodul dan jumlah proliferasi sel kanker minggu ke-16 dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Jumlah nodul, berat nodul, persentase nodul dan jumlah sel proliferasi minggu 16 Konsentrasi ekstrak mg/kg BB Jumlah nodul n=3 Berat
nodul (g) Kejadian % proliferasi/lapang Jumlah sel pandang (400x) Preventif 0 1 0,99 30 630 400 0 0 0 0 800 1 5,22 30 504 Kuratif 0 0 0 0 0 400 2 3,12 dan 14,71 66 468 800 0 0 0 0 KESIMPULAN
1. Konsentrasi takokak berpengaruh nyata terhadap peningkatan kadar TNF-α.
2. Konsentrasi takokak berpengaruh nyata terhadap penurunan kadar IL-6. 3. Konsentrasi takokak berpengaruh nyata terhadap peningkatan kadar SOD.
67
8 PEMBAHASAN UMUM
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol buah takokak mempunyai kemampuan sebagai bahan dengan toksisitas sedang dengan nilai LC50 sebesar 237,38 ppm. Menurut Nguta et al. (2012) ekstrak dengan nilai LC50
antara 100 ppm sampai 500 ppm mempunyai aktifitas sitotoksik yang sedang. Berdasarkan hasil penelitian ini ekstrak takokak mempunyai aktifitas antioksidan sebesar 1.227,0 mg AEAC/100 g ekstrak. Antioksidan merupakan komponen yang terdapat dalam makanan yang berpotensi dalam menangkal kerusakan oksidatif sel dan jaringan (Rosa et al. 2009). Kadar fenol ekstrak etanol 96 % buah takokak cukup umur yang dikeringkan sebesar 7.988,0 mg GAE/100 g. Fenol merupakan salah satu bagian dari polifenol sebagai antioksidan alami.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa takokak sebagai anti-proliferasi lebih sesuai pada sel kanker paru (A549), hal tersebut ditunjukkan dengan nilai IC50
yang paling rendah yaitu sebesar 335,7 μg/ml, sedangkan nilai IC50 sel kanker payudara (MCF-7) dan nilai IC50 sel kanker servik (hela) mempunyai nilai IC50
tersebut lebih tinggi dari pada sel kanker paru (A549). Takokak mempunyai kemampuan sebagai anti-proliferasi, karena takokak mengandung komponen alkaloid, triterpenoid dan tanin. Alkaloid merupakan komponen kimia yang mengandung atom basa nitrogen dan mengandung satu atau lebih atom nitrogen heterosiklik. Alkaloid mempunyai peranan dalam pharmacology sebagai anti-bakteri, anti-kanker, stimulant, anti-hipertensi, vasodilator, anti-inflamasi dan anti-spamodik (Aberoumand 2012). Triterpenoid atau triterpene merupakan komponen yang mengandung C30 terpene. Triterpene merupakan bentuk dari asam bebas dan aglycones (senyawa alkohol yang bersenyawa dengan glikosida). Triterpenoid banyak digunakan sebagai pencegah penyakit malaria, kanker dan hepatitis dan lain-lain (Sharma et al. 2013). Fungsi triterpenoid adalah sebagai anti-tumor, anti-inflamasi dan anti-bakteri (Mahato dan Sen 1996).
Nilai IC50 ekstrak takokak dibandingkan dengan hasil penelitian lain pada sel kanker servik (hela) secara berurutan adalah sebagai berikut; nilai IC50 ekstrak metanol Ceratoneis siliqua (teripang) 78,8 μg/ml, nilai IC50 ekstrak Solanum lyratum 82 μg/ml, nilai IC50 ekstrak takokak hasil penelitian 1.261,8μg /ml dan nilai IC50 Solanum nigrum 2.650 μg/ml. Nilai IC50 ekstrak takokak hasil penelitian menempati urutan yang ketiga, lebih rendah dari pada nilai IC50 Solanum nigrum (leunca).
Nilai IC50 ekstrak takokak dibandingkan dengan hasil penelitian lain pada sel kanker paru (A549) secara berurutan adalah sebagai berikut; nilai IC50
Solamargine 2,9 μg/ml, nilai IC50 ekstrak Coptis (temu lawak) 51,2 μg/ml, nilai IC50 ekstrak C Alata (ketepeng cina) 143 μg/ml, nilai IC50 ekstrak takokak hasil penelitian sebesar 335,7 μg/ml, nilai IC50 (60 % kematian) daun Molus domestica
1.000 μg /ml dan nilai IC50 Curcuma longa 2.700 μg/ml. Nilai IC50 ekstrak takokak hasil penelitian menempati urutan yang keempat lebih rendah dari pada nilai IC50 Curcuma longa (kunyit).
Nilai IC50 ekstrak takokak dibandingkan dengan hasil penelitian lain pada sel kanker payudara (MCF-7) secara berurutan adalah sebagai berikut; nilai IC50
68
Ononis hirta 27,9 μg /ml, nilai IC50 ekstrak air P guajava (daun jambu biji) 55 μg/ml, nilai IC50 fraksi ekstrak etil asetat Syzygium cumini (juwet) 110 μg/ml, nilai IC50 ekstrak metanol Scrophularia 180,5 μg/ml, nilai IC50 ekstrak air
Hisbiscus sabdariffa (bunga rosela) 500 μg/ml, nilai IC50 ekstrak takokak hasil penelitian sebesar 1.153,5 μg/ml dan nilai IC50 ekstrak methanol Argemone mexicana (celangkringan) 1200-1350 μg/ml. Nilai IC50 ekstrak takokak hasil penelitian menempati urutan yang ketuju lebih rendah dari pada nilai IC50 Argemone Mexicana (celangkringan).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak takokak sebagai anti-proliferasi didukung oleh data hasil penelitian bahwa ekstrak takokak mampu meningkatkan kadar TNF-α. Hal ini diduga karena didalam ekstrak takokak mengandung komponen fitokimia seperti alkaloid, tanin, triterpenoid dan mengandung komponen solasodin dan solamargin yang diduga mempunyai kemampuan meningkatkan protein pro-apoptosis atau sebaliknya menghambat protein anti-apoptosis. Semakin tinggi pemberian ekstrak takokak akan semakin banyak sel kanker yang mati. Hasil penelitian tersebut berbeda dengan hasil penelitian Hanaa et al, (2006) bahwa pemberian ekstrak metanol red sea soft coral (campuran Saecophyton trocheliophorum, Sinularia polydactyla, Xenia macrospiculata) menurunkan kadar TNF-α pada tikus yang diberi DMBA (10
μg/ekor dalam 0,2 ml aseton dan TPA (Topical Tumor Promotor) 10 µg dalam 0,2 ml aseton intraperitoneal).
TNF-α merupakan sitokin yang mempunyai berbagai fungsi seperti terlibat dalam apoptosis, proliferasi, inflamasi dan aktivitas imun. Pada Tahun 1975 TNF-α diisolasi dari serum mencit yang diberi perlakuan bakteri endotoksin sebagai komponen aktif dan TNF-α menunjukkan dapat menginduksi necrosis hemorrhagic pada tumor mencit. TNF-α juga bersifat cachectin dan sebagai faktor T limposit (Horssen et al. 2006).
TNF-α merupakan protein dengan berat melokul 17-kDa yang mengandung 157 asam amino sebagai homotrimer (protein yang terdiri dari 3 unit polipeptida) larut. Pada manusia gen tersebut berada pada kromosom 6. Bioaktifitasnya akan diatur oleh sTNF-α binding receptor. TNF-α akan mempengaruhi 2 reseptor, antara lain TNF-α receptor 2 dan TNF-α receptor 1. TNF-R2 jumlahnya 5 kali lipat TNF-1. TNF-1 terekspresi pada semua tipe sel, sedangkan TNF-2 terekpresi hanya pada sel imun. Perbedaan penting terletak pada death domain yang hanya ada pada TNFR-1, tetapi tidak terdapat pada TNFR-2. TNFR-1 merupakan family
death receptor yang mempunyai kemampuan menginduksi apoptosis (program kematian sel). Pengikatan TNF-α dan TNFR-1 akan menghasilkan silencer of
death domain (SODD) protein. TNFR-associaated death domain (TRADD)
mengikat pada DD (death domain) dari TNFR-1 dan memacu adaptor receptor
interacting protein (RIP), TNFR-assosciated factor 2 (TRAF-2) dan
Fas-associaated death domain (FADD). TNFR-1 sebagai signal apoptosis, FADD yang terikat akan mengaktivasi pro-caspase-8. Aktivasi protease caspase akan menyebabkan apoptosis, dalam proses apoptosis juga melibatkan mitokondria dan caspase sebagai kunci pengatur apoptosis. TNFR-2 diasosiasikan dengan penghambatan apoptosis melaui cytoplasmic inhibitor of apoptosis protein (cIAP). Ikatan antara TRAF-2 yang menginisiasi jalur posporilasi yang akan mengaktivasi cFos atau cJun transcription factor melalui mitogen activated protein kinase
69 (MAPK) dan c-Jun N-terminal kinase (JNK). Signal TRAF-2 dan receptor-interacting protein (RIP) mengaktivasi NfkB melalui NF-kB inducing kinase
(NIK) dan menghambat kB kinase (IKK). NF-kB, cFos atau cJun transcription factor menginduksi transkripsi, anti-apoptosis, proliferasi, immunomodulatory dan
inflammatory gene. NF-kB merupakan faktor utama yang menghambat TNF-α
dalam induksi apoptosis (Muenchen et al. 2000).
TNF-α diketahui mempunyai aktifitas potensi sebagai anti-tumor secara in vivo dan in vitro. TNF-α merupakan polipeptida sebagai mediator respon seluler termasuk apoptosis dan nekrosis dalam merusak sel proliferasi. Secara umum TNF-α dihasilkan dari makrofag sebagai respon ketika adanya benda asing dan sebagai komponen mediator kematian sel tumor (Muenchen et al. 2000). TNF-α
sebagai trigger dari proses signal transduksi apoptosis dan proliferasi. Hampir semua sel tidak akan mengalami apoptosis ketika TNF-α dalam konsentrasi rendah. Apoptosis diinduksi oleh kadar TNF-α yang tinggi untuk mengikat reseptor yaitu TNF-R1 dan mengaktivasi protease family caspase. Proses apoptosis akan berjalan ketika adanya TNF-α yang cukup. Adanya TNF-α akan menyebabkan beberapa gen anti-apoptosis terhalang (Muenchen et al. 2000).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak takokak akan menurunkan kadar IL-6 secara signifikan, diduga disebabkan ekstrak takokak mengandung fitokimia yang mampu menangkal radikal bebas, dengan berkurangnya senyawa radikal menyebabkan reaksi tubuh tidak banyak mengeluarkan kadar IL-6. Pada waktu nekropsi minggu ke-12 pemberian ekstrak takokak secara preventif (pemberian ekstrak takokak bersamaan dengan DMBA) kadar IL-6 lebih rendah dari pada secara kuratif (pemberian ekstrak takokak diberikan setelah DMBA), artinya pemberian ekstrak takokak secara preventif memperbaiki kadar IL-6. Sebaliknya waktu nekropsi minggu ke-16 pemberian ekstrak takokak secara preventif tidak memperbaiki kadar IL-6, hal ini diduga waktu nekropsi minggu ke-16 tikus sudah mengalami inflamasi yang lebih lanjut, sehingga ekstrak takokak tidak bisa menekan inflamasi. Hasil penelitian tersebut ada kesamaan dengan Alkalidi (2013) menyatakan bahwa pemberian Silymarine (flavanoid yang diekstrak dari Silybum marianum) dapat menurunkan kadar IL-6.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak takokak dapat menurunkan IL-6 didukung oleh data bahwa pemberian ekstrak takokak mampu meningkatkan kadar SOD. Pemberian ekstrak takokak dengan pemberian secara preventif dan kuratif serta waktu nekropsi minggu ke-12 dan ke-16 menyebabkan kadar SOD semakin meningkat. Hal ini karena ekstrak takokak mengandung fenol (antioksidan) yang diduga dapat menghentikan pembentukan senyawa ROS, menangkal radikal bebas dan mempengaruhi enzim yang terkait dengan radikal bebas. Peningkatan SOD yang merupakan salah satu antioksidan enzim, dapat menangkal komponen radikal bebas, sehingga dengan berkurangnya komponen radikal bebas, reaksi tubuh tidak banyak mengeluarkan protein pro-inflamasi seperti IL-6. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan Paliwal, (2011) bahwa pemberian ekstrak etanol-air Moringa oleifera (daun kelor) 200-400 mg/kg BB mampu meningkatkan kadar SOD pada mencit yang diberi DMBA 15 mg/kg bb selama 15 hari.
Antioksidan merupakan zat yang dapat menetralisir radikal bebas. Beberapa antioksidan antara lain: SOD, glutathione peroxidase, glutathione reductase,
70
non enzim yang meliputi karoten, flavonoid, polifenol, asam α-lipoat dan
glutathion.
Antioksidan bekerja dengan 3 mekanisme antara lain 1. Sebagai preventif, antioksidan bekerja dengan cara menghentikan pembentukan ROS. Contohnya seperti SOD sebagai katalisis Superoxide dismutase (O2-) menjadi H2O2 dan katalase serta memecah menjadi H2O. 2. Sebagai interception (penyerang) radikal bebas, yaitu dengan cara menangkal radikal bebas dalam bentuk peroxide radikal, termasuk didalamnya vitamin C, vitamin E, glutathione, flavonoid, polifenol dan lain-lain. 3. Sebagai perbaikan dan rekonstitusi, yaitu dengan cara mempengaruhi enzim yang terlibat dengan radikal bebas (Devasagayam et al. 2004). SOD