• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Konsentrasi Formalin terhadap Parameter yang Diamati

Dari hasil penelitian dan analisis yang dilakukan, secara umum menunjukkan bahwa konsentrasi formalin dalam daging ayam memberikan pengaruh terhadap deskripsi visual, organoleptik, deteksi bau formalin, pengujian dengan bahan kimia dan pengujian dengan fisika yang meliputi kekerasan, kadar air dan susut bobot. Ada dua parameter yang di uji tanpa menggunakan data berupa angka, yaitu deskripsi visual dan bahan kimia. Untuk hasil penelitian terhadap deskripsi visual diperlihatkan berupa photo daging ayam segar dan sesaat sebelum busuk. Sedangkan untuk hasil bahan kimia dengan menggunakan indikator kimia diperlihatkan dengan data uji kualitatif. Adapun hasil untuk data berupa angka seperti terlihat pada tabel 7 berikut.

Tabel 7. Pengaruh konsentrasi Formalin terhadap Parameter yang Diamati Konsentarsi Organoleptik Deteksi Kekerasan Kadar Kadar Susut

Formalin (warna dan Bau Air awal Air akhir Bobot (ppm) aroma) Formalin (%) (%) (%) F1= 0 ppm 1.152 1 2.2375 71.953 66.93 2.4525 F2= 10 ppm 1.122 1.9825 2.1625 71.88 65.57 2.8775 F3= 100 ppm 1.151 2.2 2.23 73.985 64.303 3.8650 F4= 103 ppm 1.130 2.35 2.23 74.755 64.318 5.1925 F5= 104 ppm 1.198 2.4 2.3625 74.11 63.75 12.545 F6= 105 ppm 1.234 2.575 2.525 75.298 61.008 15.213

Dari tabel 7 dapat dilihat bahwa organoleptik (warna dan aroma), deteksi bau formalin, kekerasan, kadar air awal dan susut bobot semakin meningkat dengan bertambahnya konsentrasi formalin yang ditambahkan pada daging ayam, sedangkan pada kadar air akhir semakin menurun dengan bertambahnya konsentrasi formalin yang ditambahkan.

Deskripsi Organoleptik, deteksi bau formalin, kekerasan, kadar air awal dan susut bobot tertinggi diperoleh pada perlakuan F6 (105 ppm), sedangkan deskripsi organoleptik, deteksi bau formalin, kekerasan, kadar air awal dan susut bobot terendah diperoleh pada perlakuan F1 (0 ppm). Kadar air akhir tertinggi diperoleh pada perlakuan F1 (0 ppm) dan yang terendah diperoleh pada perlakuan F6(105ppm).

Hasil analisis secara statistik dan kualitatif terhadap masing-masing parameter yang diamati dari setiap perlakuan dapat dilihat pada uraian berikut ini. Deskripsi Visual

Pengaruh Konsentrasi Formalin terhadap Deskripsi Visual

Dari hasil pengamatan yang dilakukan secara visual dengan menggunakan photo kamera digital merkCannon Ixus 7.0 megapixelterhadap daging ayam yang ditambahkan formalin dengan berbagai konsentrasi. Hasil photo dicetak dalam bentuk format JPEG Image / GIF Image (160 x 160 px) dan dilampirkan pada halaman terakhir.

Dari hasil gambar daging ayam yang di photo dapat dilihat bahwa formalin tidak sepenuhnya dapat berperan sebagai pengawet yang tahan lama, hal ini dapat dilihat formalin yang berkonsentrasi tinggi yaitu 105 ppm hanya dapat bertahan 5 hari.

Untuk daging ayam yang ditambahkan formalin dengan konsentrasi yang tinggi warna daging ayam hingga hari ke-5 tetap bagus walaupun pucat, tetapi bau daging ayam hampir busuk dan dagingnya sudah lembek berair, sedangkan daging ayam yang tidak ditambahkan formalin dan ditambahkan formalin dengan konsentrasi kecil yaitu 10 ppm hingga 1000 ppm pada hari hampir mendekati bau

busuk, warna daging ayam ikut juga menjadi berubah hampir busuk, begitu juga dengan bau dan teksturnya.

Deskripsi Organoleptik

Pengaruh Konsentrasi Formalin terhadap Deskripsi Organoleptik

Dari hasil analisis sidik ragam pada lampiran 2 dapat dilihat bahwa konsentrasi formalin memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0.01) terhadap deskripsi organoleptik yaitu warna dan aroma pada daging ayam. Hasil pengujian dengan Least Significant Range (LSR) menunjukkan pengaruh konsentrasi formalin terhadap deskripsi organoleptik untuk tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada tabel 8 berikut.

Tabel 8. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Formalin terhadap Deskripsi Organoleptik

Jarak LSR Konsentrasi Formalin Rataan Notasi 0.05 0.01 (ppm) 0.05 0.01 - - - F6= 100000 1.234 a A 2 0.056 0.076 F5= 10000 1.198 a A 3 0.058 0.080 F1= 0 1.152 b B 4 0.060 0.082 F3= 100 1.151 b B 5 0.061 0.083 F4= 1000 1.130 c C 6 0.062 0.085 F2= 10 1.122 c C

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5 % dan berbeda sangat nyata 1 %

Dari tabel 8 dapat dilihat bahwa perlakuan F6 berbeda tidak nyata dengan perlakuan F5 dan berbeda sangat nyata dengan perlakuan F1, F3, F4 dan F2. Perlakuan F5 berbeda sangat nyata dengan perlakuan F1, F3, F4dan F2. Perlakuan F1 berbeda tidak nyata dengan perlakuan F3 dan berbeda sangat nyata dengan perlakuan F4dan F2. Perlakuan F3 berbeda sangat nyata dengan perlakuan F4dan F2. Perlakuan F4 berbeda tidak nyata dengan perlakuan F2. Deskripsi organoleptik tertinggi diperoleh pada perlakuan F6 yaitu sebesar 1.234 dan terendah diperoleh pada perlakuan F yaitu 1.130.

Hubungan antara konsentrasi formalin dengan deskripsi organoleptik mengikuti garis regresi kuadratik seperti terlihat pada gambar 3 berikut.

Gambar 3. Hubungan Konsentrasi Formalin dengan Deskripsi Organoleptik Dari hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi formalin maka akan mempengaruhi organoleptik pada daging ayam yaitu pada warna dan aroma akan semakin meningkat. Konsentrasi formalin 105 ppm mempengaruhi organoleptik warna dan aroma daging ayam menjadi tidak seperti dalam keadaan segar.

Daging ayam yang ditambahkan formalin akan mempengaruhi warna dan aroma pada daging ayam, hal ini sesuai literatur Suara Merdeka (2007) bahwa daging ayam yang mengandung pengawet seperti formalin memiliki ciri-ciri warnanya akan lebih putih dan padat, tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar, teksturnya kencang dan baunya agak menyengat, sehingga daging ayam akan bertahan lebih dari 1 hari walaupun mempengaruhi warna dan aroma daging ayam tersebut. = 0 .0 0 8 6 F2 - 0 .0 4 2 9 F + 1 .1 8 3 5 R2 = 0 .8 8 8 1 1 .1 2 2 1 .1 4 2 1 .1 6 2 1 .1 8 2 1 .2 0 2 1 .2 2 2 0 1 2 3 4 5

Konse ntrasi Form alin ( log ppm )

O rg an ol ep tik (N um er ik )

Deteksi Bau formalin

Pengaruh Konsentrasi Formalin terhadap Deteksi Bau Formalin

Dari hasil analisis sidik ragam pada lampiran 4 dapat dilihat bahwa konsentrasi formalin memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0.01) terhadap deteksi bau formalin. Hasil pengujian dengan LSR menunjukkan pengaruh konsentrasi formalin terhadap deteksi bau formalin untuk tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada tabel 9 berikut.

Tabel 9. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Formalin terhadap Deteksi Bau Formalin

Jarak LSR Konsentrasi Formalin Rataan Notasi 0.05 0.01 (ppm) 0.05 0.01 - - - F6= 100000 2.575 a A 2 0.203 0.279 F5= 10000 2.4 a A 3 0.214 0.291 F4= 1000 2.35 b A 4 0.220 0.299 F3= 100 2.2 b B 5 0.224 0.305 F2= 10 1.9825 c B 6 0.227 0.309 F1= 0 1 d C

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5 % dan berbeda sangat nyata 1 %

Dari tabel 9 dapat dilihat bahwa perlakuan F6 berbeda tidak nyata dengan perlakuan F5 dan F4 dan berbeda sangat nyata dengan perlakuan F3, F2 dan F1. Perlakuan F5 berbeda tidak nyata dengan perlakuan F4 dan berbeda sangat nyata dengan perlakuan F3, F2 dan F1. Perlakuan F4 berbeda sangat nyata dengan perlakuan F3, F2dan F1. Perlakuan F3berbeda tidak nyata dengan perlakuan F2dan berbeda sangat nyata perlakuan F1. Perlakuan F2 berbeda sangat nyata dengan perlakuan F1. Deteksi bau formalin tertinggi diperoleh pada perlakuan F6 yaitu sebesar 2.575 dan deteksi bau formalin terendah diperoleh pada perlakuan F1 yaitu sebesar 1.

Hubungan antara konsentrasi formalin dengan deteksi bau formalin mengikuti garis regresi kuadratik seperti terlihat pada gambar 4 berikut.

Gambar 4 . Hubungan Konsentrasi Formalin dengan Deteksi Bau Formalin Hubungan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi formalin yang ditambahkan, maka bau formalin yang dihasilkan akan semakin meningkat. Hal ini karena sifat formalin yang mudah menguap, sehingga menimbulkan bau yang tajam. Hal ini sesuai literatur Percikan Iman (2006) menyatakan bahwa Karakteristik dari formalin adalah mudah larut dalam air, mudah menguap, membunyi bau tajam dan iritatif walaupun ambang penguapannya hanya 1%. Sehingga, semakin tinggi konsentrasi formalin yang ditambahkan pada daging ayam maka bau formalin pada daging ayam tersebut dapat mudah terdeteksi.

Formalin sangat berbahaya jika terhirup, karena sifatnya yang beracun sehingga penggunannya dilarang untuk ditambahkan pada bahan pangan seperti daging ayam. Hal ini sesuai literatur Direktorat Pengawasan Produk dan Berbahaya (2002) bahwa bahaya penggunaan formalin jika terhirup dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernafasan, sakit

= -0.0841F2 + 0.8535F + 0.3722 R2 = 0.9629 1 1.2 1.4 1.6 1.8 2 2.2 2.4 0 1 2 3 4 5

Konsentrasi Formalin (log ppm)

B au F or m al in

kepala, mual dan muntah dan pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kematian.

Pengujian Dengan Kimia

Pengaruh Konsentrasi Formalin terhadap Pengujian dengan Kimia (Penetesan dan Pereaksi Schiff, Reagen Tollens, Fehling dan KMnO4)

Dari hasil analisis secara kualitatif dapat dilihat bahwa pengujian daging ayam yang ditambahkan formalin dengan bahan kimia untuk menentukan ada tidaknya formalin pada daging ayam memberikan pengaruh terhadap daging ayam yang diuji.

Bahan kimia yang digunakan yaitu Fuchsin (Pereaksi Schiff), Reagen Tollens, Larutan Fehling, KMnO40,1 N + NaHSO30,1 N dan KMnO4 0,1 N yang diuji pada saat daging ayam hampir menimbulkan bau busuk. Hasil pengujian secara kualitatif untuk tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada tabel 10 berikut

Tabel 10.Pengaruh Konsentrasi Formalin terhadap Pengujian dengan Kimia (Penetesan dan Pereaksi Schiff, Reagen Tollens, Fehling dan

KMnO4) Perlakuan A B C D E 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 F11 (0 ppm) - - - -F12 - - - -F13 - - - -F14 - - - -F21 (10 ppm) - + - - - -F22 - + - - - -F23 - + - - - -F24 - + - - - -F31 (100 ppm) - + - - - -F32 - + - - - -F33 - + - - - -F34 - + - - - -F41 (103ppm) + + - - - -F42 + + - - - -F43 + + - - - -F44 + + - - - -F51 (104ppm) + + - + - - - + - + F52 + + - + - - - + - + F53 + + - + - - - + - + F54 + + - + - - - + - + F61 (105ppm) + + - + - - + + + + F62 + + - + - - + + + + F63 + + - + - - + + + + F64 + + - + - - + + + + Keterangan : A = Pereaksi Schiff B = Reagen Tollens C = Larutan Fehling D = KMnO40,1 N + NaHSO30,1 N E = KMnO40,1 N 1 = Penetesan langsung

2 = Penghancuran /ekstrak cairan daging ayam (-) = Tidak terdeteksi formalin

Konsentrasi Formalin Dalam Daging Ayam

F1 = 0 ppm F4 = 103 ppm F2 = 10 ppm F5 = 104 ppm F3 = 100 ppm F6 = 105 ppm

Dari tabel 10 dapat dilihat bahwa setiap bahan kimia yang digunakan untuk menguji ada tidaknya formalin dalam daging ayam menunjukkan hasil terdapatnya formalin dengan ditandai perubahan warna dari setiap bahan kimia yang dilakukan dengan penghancuran untuk mendapatkan ekstrak cairan daging ayam yang kemudian diteteskan dengan bahan kimia yang akhirnya menghasilkan perubahan warna, yaitu pada Pereaksi Schiff pada konsentrasi 10 ppm 105 ppm, untuk KMnO4 0,1 N + NaHSO3 0,1 N dan KMnO4 0,1 N pada konsentrasi 104 ppm 105 ppm, sedangkan pada Reagen Tollens pada konsentrasi 104 ppm 105 ppm dengan terbentuknya cermin perak, dan Fehling tidak menghasilkan endapan merah bata. Untuk pengujian dengan penetesan secara langsung menghasilkan perubahan warna pada permukaan daging ayam yaitu pada Pereaksi Schiff, KMnO4 0,1 N +NaHSO3 0,1 N dan KMnO4 0,1 N, yaitu untuk Pereaksi Schiff pada konsentrasi 103 ppm - 105 ppm, sedangkan pada KMnO4 0,1 N + NaHSO3 0,1 N dan KMnO4 0,1 N pada konsentrasi 104 ppm dan 105 ppm, sedangkan pada Reagen Tollens dan Fehling menunjukkan tidak adanya formalin. Hal ini sesuai literatur Menkokesra (2007) menyatakan bahwa untuk menentukan kandungan formalin pada makanan yang kadarnya rendah tidak dapat terdeteksi secara langsung, sehingga diperlukan uji laboratorium dengan penambahan bahan kimia (reagen) yang dilakukan dengan menghaluskan makanan yang akan dites, dan dilarutkan dalam air yang sudah disterilkan atau aquadest dan kemudian zat kimia tersebut ditetesi ke dalam air yang telah disterilkan sehingga menunjukkan perubahan warna pada air tersebut yang ditandai dengan terdapatnya formalin.

Kekerasan

Pengaruh Konsentrasi Formalin terhadap Kekerasan

Dari hasil analisis sidik ragam pada lampiran 6 dapat dilihat bahwa konsentrasi formalin memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P<0.05) terhadap kekerasan pada daging ayam. Hasil pengujian dengan LSR menunjukkan pengaruh konsentrasi formalin terhadap kekerasan untuk tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada tabel 11 berikut.

Tabel 11. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Formalin terhadap Kekerasan

Jarak LSR Konsentrasi Formalin Rataan Notasi 0.05 0.01 (ppm) 0.05 0.01 - - - F6= 100000 2.525 a A 2 0.205 0.280 F5= 10000 2.3625 a A 3 0.215 0.293 F1= 0 2.2375 b A 4 0.221 0.301 F3= 100 2.23 b A 5 0.225 0.306 F4= 1000 2.23 b A 6 0.229 0.311 F2= 10 2.1625 b B

Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5 % dan berbeda sangat nyata 1 %

Dari tabel 11 dapat dilihat bahwa perlakuan F6berbeda tidak nyata dengan perlakuan F5, F1, F3 dan F4 dan berbeda sangat nyata dengan perlakuan F2. Perlakuan F5 berbeda tidak nyata dengan perlakuan F1, F3, F4 dan berbeda sangat nyata dengan perlakuan F2. Perlakuan F1berbeda tidak nyata dengan perlakuan F3

dan F4 dan berbeda sangat nyata dengan perlakuan F2. Perlakuan F3berbeda tidak nyata dengan perlakuan F4 dan berbeda sangat nyata dengan perlakuan F2. Perlakuan F4 berbeda sangat nyata dengan perlakuan F2. Kekerasan tertinggi diperoleh pada perlakuan F6yaitu sebesar 2.525 dan kekerasan terendah diperoleh pada perlakuan F2yaitu sebesar 2.1625.

Hubungan antara konsentrasi formalin dengan kekerasan mengikuti garis regresi kuadratik seperti terlihat pada gambar 5 berikut.

Y = -0.0841F2 + 0.8535F + 0.3722 R2 = 0.9273 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8 2 2.2 2.4 0 1 2 3 4 5

Konsentrasi Formalin (log ppm)

K

ek

er

as

an

Gambar 5. Hubungan Konsentrasi Formalin dengan Kekerasan

Dari hubungan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi formalin maka kekerasan daging ayam semakin meningkat. Hal ini diakibatkan karena formalin mengikat protein di dalam daging ayam sehingga menyebabkan tekstur daging ayam menjadi keras. Semakin tinggi konsentrasi formalin yang ditambahkan pada daging ayam, maka kekerasan daging ayam semakin tinggi. Hal ini sesuai literatur Cahyadi (2006) bahwa jika formaldehid bereaksi dengan protein maka akan membentuk rangkaian-rangkaian antara protein yang berdekatan sehingga menyebabkan protein mengeras dan tidak dapat larut dan menyebabkan bahan pangan menjadi keras.

Menurut literatur Widyaningsih (2006) menyatakan bahwa daging ayam yang ditambahkan formalin memiliki ciri-ciri yaitu berwarna putih bersih, lebih awet, tidak mudah busuk dan agak sedikit tegang atau keras serta tidak ada lalat yang mengerubunginya, sehingga daging ayam dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama.

Kadar Air Awal (%)

Pengaruh Konsentrasi Formalin terhadap Kadar Air Awal (%)

Dari hasil analisis sidik ragam pada lampiran 8 dapat dilihat bahwa konsentrasi formalin memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata (P>0.05) terhadap kadar air awal pada daging ayam, sehingga uji LSR tidak dilanjutkan.

Kadar Air Akhir (%)

Pengaruh Konsentrasi Formalin terhadap Kadar Air Akhir (%)

Dari hasil analisis sidik ragam pada lampiran 10 dapat dilihat bahwa konsentrasi formalin memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0.01) terhadap kadar air akhir pada daging ayam. Hasil pengujian dengan LSR menunjukkan pengaruh konsentrasi formalin terhadap kadar air akhir untuk tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada tabel 12 berikut.

Tabel 12. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Formalin terhadap Kadar Air Akhir (%)

Jarak LSR Konsentrasi Formalin Rataan Notasi 0.05 0.01 (ppm) 0.05 0.01 - - - F1= 0 66.93 a A 2 2.528 3.465 F2= 10 65.57 a A 3 2.653 3.614 F4= 1000 64.318 a A 4 2.732 3.712 F3= 100 64.303 a A 5 2.786 3.783 F5= 10000 63.75 b A 6 2.826 3.837 F6= 100000 61.008 b B

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5 % dan berbeda sangat nyata 1 %

Dari tabel 12 dapat dilihat bahwa perlakuan F1berbeda tidak nyata dengan perlakuan F2, F4, F3 dan F5 dan berbeda sangat nyata dengan perlakuan F6. Perlakuan F2 berbeda tidak nyata dengan perlakuan F4, F3 dan F5 dan berbeda sangat nyata dengan perlakuan F6. Perlakuan F4 berbeda tidak nyata dengan

perlakuan F3 dan F5 dan berbeda sangat nyata dengan perlakuan F6. Perlakuan F3

berbeda tidak nyata dengan perlakuan F5 dan berbeda sangat nyata dengan perlakuan F6. Perlakuan F5 berbeda sangat nyata dengan perlakuan F6. Kadar air akhir tertinggi diperoleh pada perlakuan F1 yaitu sebesar 66.93 % dan kadar air akhir terendah diperoleh pada perlakuan F6yaitu sebesar 61.008 %.

Hubungan antara konsentrasi formalin dengan kadar air akhir mengikuti garis regresi kuadratik seperti terlihat pada Gambar 6 berikut.

Gambar 6. Hubungan Konsentrasi Formalin dengan Kadar Air Akhir (%) Hubungan ini menunjukkan bahwa kadar air akhir pada daging ayam yang diformalin semakin menurun dengan semakin banyaknya konsentrasi formalin yang ditambahkan. Hal ini dikarenakan akibat penambahan formalin yang mengikat protein sehingga lamanya penyimpanan daging ayam menyebabkan air di dalam daging ayam ikut keluar. Keluarnya air dalam daging ayam menyebabkan air dalam daging ayam berkurang, sehingga kadar air akhir pada daging ayam ikut berkurang akibat lamanya penyimpanan dan ketidaktahan formalin sehingga daging ayam menjadi hampir busuk dan air di dalamnya juga keluar.

= -0.0735F2 - 0.4873F + 67.133 R2 = 0.9026 59.93 60.93 61.93 62.93 63.93 64.93 65.93 66.93 0 1 2 3 4 5

Konsentrasi Formalin (log ppm)

K ad ar A ir A kh ir (%) 50

Susut Bobot (%)

Pengaruh Konsentrasi Formalin terhadap Susut Bobot (%)

Dari hasil analisis sidik ragam pada lampiran 12 dapat dilihat bahwa konsentrasi formalin memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0.01) terhadap susut bobot pada daging ayam. Hasil pengujian dengan LSR menunjukkan pengaruh konsentrasi formalin terhadap susut bobot untuk tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada tabel 13 berikut.

Tabel 13. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Formalin terhadap Susut Bobot (%)

Jarak LSR Konsentrasi Formalin Rataan Notasi 0.05 0.01 (ppm) 0.05 0.01 - - - F6= 100000 15.213 a A 2 1.253 1.717 F5= 10000 12.545 b B 3 1.315 1.791 F4= 1000 5.192 c C 4 1.354 1.840 F3= 100 3.865 c C 5 1.381 1.875 F2= 10 2.877 d D 6 1.401 1.902 F1= 0 2.452 d D

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5 % dan berbeda sangat nyata 1 %

Dari tabel 13 dapat dilihat bahwa perlakuan F6 berbeda sangat nyata dengan perlakuan F5, F4, F3, F2 dan F1. Perlakuan F5 berbeda sangat nyata dengan perlakuan F4, F3,F2dan F1. Perlakuan F4 berbeda tidak nyata dengan perlakuan F3

dan berbeda sangat nyata dengan perlakuan F2dan F1. Perlakuan F3berbeda sangat nyata dengan perlakuan F2 dan F1. Perlakuan F2 berbeda tidak nyata dengan perlakuan F1. Susut Bobot daging ayam tertinggi diperoleh pada perlakuan F6yaitu sebesar 15.213 % susut bobot terendah diperoleh pada perlakuan F1 yaitu sebesar 2.452 %.

Hubungan antara konsentrasi formalin dengan susut bobot mengikuti garis regresi kuadratik seperti terlihat pada gambar 7 berikut.

Gambar 7. Hubungan Konsentrasi Formalin dengan Susut Bobot (%)

Susut bobot pada daging ayam akan semakin meningkat dengan meningkatnya konsentrasi formalin yang ditambahkan. Hal ini disebabkan karena formalin mengikat protein pada daging ayam dan akibat lamanya penyimpanan menyebabkan air di dalam daging ayam keluar karena ketidaktahanan formalin dalam mengawetkan daging ayam lebih lama lagi sehingga menyebabkan bobot daging ayam juga berkurang pada saat mendekati hampir busuk yang dapat dinyatakan bahwa ayam tersebut telah rusak.

= 0.6549F2 - 1.8949F + 3.7235 R2 = 0.9570 2.3 4.3 6.3 8.3 10.3 12.3 14.3 0 1 2 3 4 5

Konsentrasi Formalin (log ppm)

Su su t B ob ot (% ) 52

Kesimpulan

Dari hasil penelitian pengaruh konsentrasi formalin terhadap parameter yang diamati dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Konsentrasi formalin memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap deskripsi organoleptik (warna dan aroma), deteksi bau formalin, kadar air akhir atau kadar air sesaat sebelum busuk dan susut bobot, memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kekerasan dan memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata terhadap kadar air awal. 2. Pada efektivitas bahan kimia uji formalin ternyata Pereaksi Schiff efektif pada

ekstrak cairan daging ayam atau dengan penghancuran pada konsentrasi formalin 10 ppm 105 ppm dan untuk penetesan efektif pada konsentrasi formalin 103 ppm 105 ppm, Reagen Tollens efektif pada ekstrak cairan daging ayam pada konsentrasi formalin 104 ppm dan 105 ppm, sedangkan penetesan tidak efektif sama sekali, Larutan Fehling tidak efektif sama sekali untuk ekstrak cairan daging ayam dan penetesan, Larutan KMnO4 0,1N + NaHSO3 0,1N pada ekstrak cairan efektif pada konsentrasi formalin 104ppm dan 105ppm dan penetesan efektif pada konsentrasi formalin 105ppm, Larutan KMnO4 0,1 N pada ekstrak cairan efektif pada konsentrasi formalin 104 ppm dan 105ppm dan penetesan efektif pada konsentrasi formalin 105ppm.

Saran

karena indikator tersebut yang dapat mendeteksi ada tidaknya formalin dengan penetesan pada konsentrasi 103 ppm 105 ppm dan penghancuran pada konsentrasi 10 ppm 105 ppm, sedangkan secara fisik dan organoleptik dilakukan dengan meraba tekstur daging ayam yang keras dan kenyal.

Berita Bumi, 2007. Metode Pengujian Formalin.

http://www.beritabumi.groups.yahoo.com[ 5 Maret 2008].

Buckle, K.A., R.A. Edwards, G.H. Fleet and M.Wootton., 1987. Ilmu Pangan. Penerjemah H. Purnomo dan Adiono. UI-Press, Jakarta.

Blogger, 1999. Sejarah Formalin. http://www.blogger.com[10 Maret 2006].

Cahyadi, W., 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Bumi Aksara, Jakarta.

Departemen Kesehatan RI., 1996. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Penerbit Bhratara, Jakarta.

Direktorat Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya, 2002. Mengenal Formalin dan Bahayanya.http://www.yahoo.com[ 10 Maret 2008].

Disnak Jatim, 2007. Ayam Bangkai dan Ciri-Cirinya.

http://www.disnak-jatim.go.id [ 3 Maret 2008].

Dunia Ibu, 2007. Memilih Ayam Segar. http://www.dunia-ibu.org

[ 3 Maret 2008].

English, J.H.Q and R.I. Baird, 1971. Principles of Organic Chemistry. Fourth Edition. Mc Graw Hilal Book Company, New York.

Gatra, 2007. Pemda DKI Temukan Ayam dan Ikan Berformalin.

http://www.gatra.com[11 Januari 2008].

Ham, M., 2006. Membuat Reagen di Laboratorium. Bumi Aksara, Jakarta. Iskandar, S., 2008. Zat-Zat Berbahaya Dalam Produk Cina.

http://www.chem-is-try.org[14 Juli 2008].

Jasmansyah, 2007. Aldehid dan Keton. http://www.jasmansyah.50megs.com

[ 3 Maret 2008].

Jawa Pos, 2007. Daging Berformalin Dimana-Mana. http://www.jawapos.com

[ 12 Januari 2008].

Juliavantiel, 2007. Apa Bisa Free Formaldehyde?

Kimia Indonesia, 2008. Uji Formalin di Makanan.

http://[email protected][ 12 Februari 2008].

Litbang Deptan, 2007. Pengganti Formalin, Asam Asetat Dapat Untuk Mengawetkan Daging Ayam. http://www.litbang.deptan.go.id [ 20 Januari 2008].

Mahdi, C., 2007. Kit Tes Formalin. http://www.groups.yahoo.com

[6 Februari 2008].

Mediacastore, 2007. Awas, Bahaya Formalin. http://www.mediacastore.com

[ 20 Februari 2008].

Menkokesra, 2007. Cara Penggunaan Uji Formalin dalam Makanan.

http://www.menkokesra.go.id[ 5 Maret 2008].

Norman, R.O.C and D.J. Waddington, 1983. Modern Organic Chemistry. Colliens Educational, New York.

Opensource, 2007. Kegunaan Formalin.http://www.opensource.jawatengah.go.id

[ 10 Januari 2008].

Percikan Iman, 2006. Sifat Fisik Formalin.http://www.percikan-iman.com

[ 31 Januari 2008].

Rasyaf, M., 2000. Beternak Ayam Petelur. Penebar Swadaya, Jakarta.

Smantel-wtp, 2007. Tata Nama Aldehid dan Keton.http://www.smantel-wtp.sch.id

[ 5 Maret 2008].

Soekarto, S.P., 1985. Dasar-Dasar Pengawasan dan Standarisasi Mutu Pangan. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Suara Merdeka, 2007. Dikhawatirkan Daging Ayam Potong Mengandung Formalin.http://www.suaramerdeka.com[ 22 Januari 2008].

Sudarmadji, S., B. Haryono dan Suhardi, 1984. Prosedur Analisa Bahan Makanan dan Hasil Pertanian. Liberty, Yogyakarta.

Suprijatna, E., U. Atmorsono dan R. Kartasudjana., 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Tarwotjo, C.S., 1998. Dasar-Dasar Gizi Kuliner. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.

Widyaningsih, T.W, dan E.S. Murtini, 2006. Alternatif Pengganti Formalin Pada Produk Pangan. Trubus Agirasana, Surabaya.

Wilbraham, A.C, and M.S. Matta, 1992. Pengantar Kimia Organik dan Hayati. Penerbit ITB, Bandung.

- Awal (Segar) 0 Hari - Sesaat Sebelum Busuk

F11 F11(2 hari)

F12 F12(2 hari)

F13 F13(2 hari)

F14

F14 F14(2 hari)

F21 F21(2 hari)

F22

F23 F23(2 hari)

F24 F24(2 hari)

F31 F31(3 hari)

F32 F32(3 hari)

F33 F33(3 hari)

F41 F41(3 hari)

F42 F42(3 hari)

F43 F43(3 hari)

F44 F44(3 hari)

F51 F51(4 hari)

F53 F53(4 hari)

F54 F54(4 hari)

F61 F61(5 hari)

F62 F62(5 hari)

F63 F63(5 hari)

F64 F64(5 hari)

Gambar Indikator Bahan Kimia Untuk Uji Formalin (Tanpa Bahan dan Pemanasan)

Fuchsin (Pereaksi Schiff) Reagen Tollens

Kiri ke kanan (10, 102, 103, 104, 105)ppm Kiri ke kanan (10, 102, 103, 104, 105)ppm

Larutan Fehling KMnO40,1 N + NaHSO30,1 N

Kiri ke kanan (10, 102, 103, 104, 105)ppm Kiri ke kanan (10, 102, 103, 104, 105)ppm

KMnO4 0,1 N

Kiri ke kanan (10, 102, 103, 104, 105)ppm

Lampiran 1. Data Pengamatan Deskripsi Organoleptik (Numerik)

Perlakuan Ulangan Total Rataan

I II III IV F1 1.15 1.2 1.12 1.1375 4.607 1.152 F2 1.1125 1.1 1.2 1.075 4.487 1.122 F3 1.1915 1.155 1.125 1.133 4.604 1.151 F4 1.1 1.12 1.14 1.16 4.52 1.130 F5 1.131 1.231 1.193 1.237 4.792 1.198 F6 1.265 1.235 1.215 1.22 4.935 1.234 Total 6.95 7.041 6.993 6.9625 27.95 Rataan 1.1583 1.1735 1.1655 1.1604 1.1644

Lampiran 2. Daftar Analisis Sidik Ragam Deskripsi Organoleptik (Numerik) Sumber Keragaman DB JK KT F hitung F0,05 F0,01 Perlakuan S Linier S Kuadratik 5 1 1 0.03705 0.4077 0.9423 0.0074106 0.4077 0.9423 5.1886** 2.77 4.25 Galat 18 0.02571 0.0014282 Total 23 0.06276 0.0027287 Keterangan : FK = 32.54195 KK = 0.035022 % ** = sangat nyata * = nyata tn = tidak nyata

Lampiran 3. Data Pengamatan Deteksi Bau Formalin

Perlakuan Ulangan Total Rataan

I II III IV F1 1 1 1 1 4 1 F2 2.2 1.98 2.2 1.55 7.93 1.982 F3 2.2 2.1 2.2 2.3 8.8 2.2 F4 2.3 2.3 2.4 2.4 9.4 2.35 F5 2.5 2.4 2.3 2.4 9.6 2.4 F6 2.6 2.6 2.6 2.5 10.3 2.575 Total 12.8 12.38 12.7 12.15 50.03 Rataan 2.133333 2.06333 2.1166667 2.025 2.0846

Lampiran 4. Daftar Analisis Sidik Ragam Deteksi Bau Formalin (Numerik) Sumber Keragaman DB JK KT Fhitung F0,05 F0,01 Perlakuan S Linier S Kuadratik 5 1 1 6.4420 0.8737 0.9812 1.2884042 0.8737 0.9812 68.376 ** 2.77 4.25 Galat 18 0.33918 0.0188431 Total 23 6.7812 0.2948346 Keterangan : FK = 104.2917 KK = 0.095075 % ** = sangat nyata * = nyata tn = tidak nyata 68

Lampiran 5. Data Pengamatan Kekerasan (Numerik)

Perlakuan Ulangan Total Rataan

I II III IV F1 2 2.2 2.15 2.6 8.95 2.2375 F2 2.35 2.05 2.25 2 8.65 2.1625 F3 2.2 2.26 2.23 2.23 8.92 2.23 F4 2.3 2.26 2.26 2.1 8.92 2.23 F5 2.375 2.425 2.35 2.3 9.45 2.3625 F6 2.56 2.64 2.4 2.5 10.1 2.525 Total 13.785 13.835 13.64 13.73 54.99 Rataan 2.2975 2.30583 2.2733333 2.28833 2.2913

Lampiran 6. Daftar Analisis Sidik Ragam Kekerasan (Numerik) Sumber Keragaman DB JK KT F hitung F0,05 F0,01 Perlakuan S Linier S Kuadratik 5 1 1 0.34674 0.8737 0.9629 0.0693475 0.8737 0.9629 3.63949 * 2.77 4.25 Galat 18 0.34298 0.0190542 Total 23 0.68971 0.0299875 Keterangan : FK = 125.9958 KK = 0.091192 % ** = sangat nyata * = nyata tn = tidak nyata

Lampiran 7. Data Pengamatan Kadar Air Awal (%)

Perlakuan Ulangan Total Rataan

I II III IV

Dokumen terkait