Sulawesi Utara
Sulawesi Utara terletak di jazirah Pulau Sulawesi yang terdiri atas 13 kabupaten/kota, 100 kecamatan, dan 1196 kelurahan/desa. Dilihat dari kondisi geografisnya, Sulawesi Utara terletak pada 0°15’-5°34’ Lintang Utara dan 123°7’-127°10’ Bujur Timur. Provinsi ini berbatasan dengan Laut Sulawesi, Samudra Pasifik, dan Republik Filipina (sebelah utara), Laut Maluku (sebelah timur), Teluk Tomini (sebelah selatan) dan Gorontalo (sebelah barat).
Sulawesi Utara beribukota di Manado. Luas wilayah Sulawesi Utara adalah 15 364.08 km2 yang meliputi 9 kabupaten (Boolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Utara, Minahasa, Kepulauan Sangihe, Kepulauan Talaud, Minahasa Selatan, Minahasa Utara, Kepulauan Sitaro, dan Minahasa Tenggara) serta 4 kota (Manado, Bitung, Tomohon, dan Kotamobagu). Jumlah penduduk Sulawesi Utara pada tahun 2007 adalah 2 186 810 jiwa.
Penduduk Sulawesi Utara terdiri atas Suku Minahasa (40%), Sangir (19.8%), Mongondow (11.3%), dan Gorontalo (7.4%). Bahasa yang digunakan di Sulawesi Utara adalah Bahasa Minahasa (Toulour, Tombulu, Tonsea, Tontemboan, Tonsawang, Ponosakan, dan Bantik), Bahasa Sangihe Talaud (Sangihe Besar, Siau, Talaud), Bahasa Bolaang Mongondow (Mongondow, Bolaang, Bintauna, Kaidipang). Agama yang dianut oleh penduduk Sulawesi Utara adalah Protestan (65%), Islam (28.4%), Katolik (6%), dan lainnya (0.6%).
Pada tahun 2006, total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Utara mencapai 13.53 triliun rupiah. Kontribusinya berasal dari sektor pertanian sebesar 2.77 triliun rupiah atau 21.8% dari total PDRB diikuti sektor jasa sebesar 2.08 triliun rupiah (16.3%) kemudian sektor bangunan sebesar 1.98 triliun rupiah atau sekitar (15.6%) dari total PDRB. Upah Minimum Regional (UMR) Sulawesi Utara pada tahun 2008 adalah 845 000 rupiah.
Komoditas unggulan Sulawesi Utara di bidang pertanian adalah kentang, wortel dan nanas. Komoditas unggulan di bidang perikanan adalah industri ikan tuna, cakalang dan layang. Pariwisata merupakan salah satu sektor potensial yang dimiliki Sulawesi Utara sebagai salah satu sumber-daya ekonomi seperti wisata alam, wisata bahari, dan wisata budaya.
Gorontalo
Gorontalo adalah provinsi ke-32 berdasarkan Undang-Undang nomor 38 tahun 2000 tanggal 22 Desember 2000. Gorontalo terdiri atas 6 kabupaten/kota, 65 kecamatan, dan 577 desa/kelurahan. Dilihat dari kondisi geografisnya, Gorontalo terletak antara 0°30’- 1°0’ Lintang Utara dan 121°0’-123°30’ Bujur Timur. Gorontalo berbatasan dengan Laut Sulawesi dan Laut Pasifik (sebelah utara), Sulawesi Utara (sebelah timur), Teluk Tomini (sebelah selatan), dan Sulawesi Tengah (sebelah barat).
Gorontalo beribukota di Gorontalo. Luas wilayah Gorontalo adalah 12215.44 km2 yang mencakup Kabupaten Gorontalo Utara, Boalemo, Gorontalo, Pohuwato, Bone Bolango dan Kota Gorontalo. Jumlah penduduk provinsi ini pada tahun 2008 adalah 941 444 jiwa. Mayoritas penduduk Gorontalo (97.5%) beragama Islam, sedangkan sisanya pemeluk agama Protestan, Katolik, Hindu dan Budha. Bahasa daerah yang digunakan di Gorontalo terbagi menjadi tiga dialek, yaitu dialek Gorontalo, dialek Bolango, dan dialek Suwawa.
Pada tahun 2007, PDRB Gorontalo mencapai 4.761 trilyun rupiah. UMR Gorontalo pada tahun 2008 adalah 600 000 rupiah. Secara sektoral perekonomian Gorontalo didominasi oleh sektor pertanian dan sektor jasa serta sektor perdagangan, hotel dan restoran. Komoditas unggulan Gorontalo di bidang pertanian adalah jagung, padi, cabai, dan tomat. Komoditas sektor perikanan terdiri atas perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Gorontalo memiliki satu kawasan industri yaitu kawasan Industri Agro Terpadu (KIAT) yang terletak di Kabupaten Bone Bolango.
DKI Jakarta
DKI Jakarta adalah ibukota negara dan pusat pemerintahan, sesuai dengan Undang-Undang No. 10 tahun 1964 tanggal 31 Agustus 1964 yang menyatakan bahwa Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya adalah Ibukota Negara Republik Indonesia. DKI Jakarta terdiri atas 5 kota dan 1 kota administratif (kotif), 43 kecamatan, dan 265 kelurahan. Secara geografis, DKI Jakarta terletak antara 6°11 Lintang Selatan dan 106°50 Bujur Timur. DKI Jakarta berbatasan langsung dengan Jawa Barat, Banten, dan Laut Jawa.
Ibukota DKI Jakarta adalah Jakarta. Luas wilayah DKI Jakarta adalah 7639.02 km², terdiri atas daratan seluas 661.52 km² dan lautan seluas 6 977.5 km² yang mencakup Kota Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Pusat, sedangkan 1 kotif adalah Kotif Kepulauan Seribu.
Jumlah penduduk DKI Jakarta pada tahun 2006 adalah 7 523 591 jiwa. DKI Jakarta memiliki penduduk lebih dari 300 suku bangsa dengan 200 bahasa.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DKI Jakarta pada tahun 2006 mencapai 312.70 triliun rupiah. Kontribusi terbesar berasal dari sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan yang mencapai 30.8% dari total PDRB diikuti sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor industri pengolahan dengan nilai untuk masing-masing sektor tersebut sebesar 21.5% dan 17.3%. UMR DKI Jakarta pada tahun 2008 adalah 972 605 rupiah.
Karakteristik Demografi dan Sosial-Ekonomi Sampel
Karakteristik demografi dan sosial-ekonomi sampel terdiri atas umur, jenis kelamin, status kawin, besar keluarga, pendidikan, pekerjaan, pengeluaran per kapita, dan tipe wilayah.
Tabel 2 memperlihatkan proporsi terbesar umur sampel total berkisar antara 25 dan 34 tahun (24.8%). Menurut sebaran masing-masing provinsi, proporsi terbesar umur sampel di Sulawesi Utara sekitar 35-44 tahun (22.9%), sedangkan di Gorontalo (26.1%) dan DKI Jakarta (26.4%) sekitar 25-34 tahun.
Untuk jenis kelamin, sekitar separuh sampel total adalah perempuan (52.3%);
begitu juga berdasarkan sebaran per provinsi: 51.3% sampel di Sulawesi Utara, 52.1% sampel di Gorontalo dan 53.2% sampel di DKI Jakarta adalah perempuan.
Untuk status kawin, kebanyakan sampel total berstatus kawin (69.5%); demikian pula menurut sebaran tiap provinsi: mayoritas sampel di Sulawesi Utara (72.5%), Gorontalo (72.6%), dan DKI Jakarta (65.8%) berstatus kawin. Adapun untuk besar keluarga, proporsi terbesar sampel total mempunyai 3-4 anggota keluarga yang tinggal serumah (47.2%); begitu pun berdasarkan sebaran masing-masing provinsi: sekitar separuh sampel di Sulawesi Utara (51.4%) dan Gorontalo (50.2%), dan kurang dari separuh sampel di DKI Jakarta (42.5%) memiliki 3-4 anggota keluarga yang tinggal serumah.
Pendidikan merupakan salah satu karakteristik demografi dan sosial-ekonomi sampel. Dalam Tabel 2 dapat dilihat bahwa proporsi terbesar pendidikan sampel total (29.2%) adalah tamat SMA. Menurut sebaran per provinsi, proporsi terbesar pendidikan sampel di Sulawesi Utara (26.6%) dan DKI Jakarta (37.1%) adalah tamat SMA, sedangkan proporsi terbesar pendidikan sampel di Gorontalo (29.3%) adalah tamat SD. Untuk pekerjaan, proporsi terbesar pekerjaan sampel total adalah ibu rumah tangga (28.8%), demikian juga berdasarkan sebaran tiap provinsi: sampel di Sulawesi Utara (29.5%), Gorontalo
(30.5%), dan DKI Jakarta (27.6%) adalah ibu rumah tangga. Proporsi terbesar kedua pekerjaan sampel total adalah petani/nelayan/buruh dan wiraswata/pedagang/jasa. Menurut sebaran masing-masing provinsi, proporsi terbesar kedua pekerjaan sampel di Sulawesi Utara (28.4%) dan Gorontalo (29.1%) adalah petani/nelayan/buruh, sedangkan di DKI Jakarta (20.1%) adalah wiraswasta/pedagang/jasa.
Pengeluaran per kapita sampel merupakan salah satu ukuran tingkat sosial-ekonomi sampel. Tabel 2 menunjukkan bahwa proporsi pengeluaran per kapita sampel total hampir sama (20%). Begitu pula berdasarkan sebaran per provinsi, pada ketiga provinsi proporsi pengeluaran per kapita kurang lebih sama.
Tidak terdapat perbedaan proporsi pengeluaran per kapita yang mencolok pada ketiga provinsi.
Karakteristik lain sampel yang dilihat adalah karakteristik tempat tinggal.
Lebih dari separuh sampel total tinggal di perkotaan (62.2%). Bila dilihat menurut sebaran tiap provinsi, kebanyakan sampel di Sulawesi Utara (63.8%) dan Gorontalo (74.6%) tinggal di perdesaan. Adapun di DKI Jakarta, semua sampel bertempat tinggal di perkotaan.
Tabel 2. Karakteristik demografi dan sosial-ekonomi sampel Karakteristik
15-24 1644(18.5) 1386(23.6) 2743(23.2) 5773(21.7)
25-34 1944(21.9) 1543(26.1) 3111(26.4) 6589(24.8)
35-44 2033(22.9) 1397(23.8) 2551(21.6) 5981(22.5)
45-54 1565(17.6) 846(14.4) 1798(15.2) 4209(15.8)
55-64 899(10.1) 474(8.1) 972(8.2) 2345(8.8)
65-74 555(6.2) 189(3.2) 470(4.0) 1214(4.6)
75 245(2.8) 45(0.8) 160(1.4) 450(1.7)
Jenis kelamin
Laki-laki 4330(48.7) 2813(47.9) 5523(46.8) 12666(47.7) Perempuan 4555(51.3) 3058(52.1) 6282(53.2) 13895(52.3)
Status kawin
Belum kawin 1852(20.8) 1282(21.8) 3228(27.3) 6362(24.0)
Kawin 6439(72.5) 4264(72.6) 7763(65.8) 18466(69.5)
Cerai hidup/mati 594(6.7) 325(5.5) 814(6.9) 1733(6.5)
Besar keluarga
1-2 1119(12.6) 519(8.8) 1297(11.0) 2935(11.1)
3-4 4564(51.4) 2948(50.2) 5021(42.5) 12533(47.2)
Karakteristik
5-6 2421(27.2) 1782(30.4) 3677(31.1) 7880(29.7)
>6 781(8.8) 622(10.6) 1810(15.3) 3213(12.1)
Pendidikan
Tidak pernah sekolah 110(1.2) 180(3.1) 474(4.0) 764(2.9) Tidak tamat SD 1492(16.8) 1697(28.9) 856(7.3) 4045(15.2) Tamat SD 2298(25.9) 1722(29.3) 2265(19.2) 6285(23.7) Tamat SMP 2119(23.8) 961(16.4) 2690(22.8) 5770(21.7) Tamat SMA 2361(26.6) 1009(17.2) 4383(37.1) 7753(29.2)
Tamat PT 505(5.7) 302(5.1) 1137(9.6) 1944(7.3)
Pekerjaan
Tidak bekerja/sekolah 1564(17.6) 1069(18.2) 2265(19.2) 4898(18.4) Ibu rumah tangga 2618(29.5) 1789(30.5) 3253(27.6) 7660(28.8)
TNI/POLRI/PNS 486(5.5) 358(6.1) 373(3.2) 1217(4.6)
Pegawai BUMN/swasta 393(4.4) 96(1.6) 2017(17.1) 2506(9.4) Wiraswasta/pedagang/jasa 938(10.6) 610(10.4) 2371(20.1) 3919(14.8) Petani/nelayan/buruh 2526(28.4) 1706(29.1) 1065(9.0) 5297(19.9)
Lainnya 360(4.1) 243(4.1) 461(3.9) 1064(4.0)
Pengeluaran per kapita
Kuintil 1 1706(19.2) 1130(19.2) 2351(19.9) 5187(19.5) Kuintil 2 1810(20.4) 1138(19.4) 2372(20.1) 5320(20.0) Kuintil 3 1773(20.0) 1181(20.1) 2365(20.0) 5319(20.0) Kuintil 4 1780(20.0) 1199(20.4) 2345(19.9) 5324(20.0) Kuintil 5 1816(20.4) 1223(20.8) 2372(20.1) 5411(20.4)
Tipe wilayah
Perkotaan 3220(36.2) 1490(25.4) 11805(100.0) 16515(62.2)
Perdesaan 5665(63.8) 4381(74.6) 0(0.0) 9046(34.1)
Gaya Hidup Sampel
Gaya hidup sampel terdiri atas kebiasaan merokok selama satu bulan terakhir, aktivitas fisik berat, perilaku konsumsi makanan/minuman dan kondisi mental emosional. Tabel 3 menunjukkan bahwa kurang dari separuh sampel total memiliki kebiasaan merokok (33.4%), demikian pula berdasarkan sebaran masing-masing provinsi: 33.9% sampel di Sulawesi Utara, 37.8% sampel di Gorontalo dan 30.9% sampel di DKI Jakarta biasa merokok. Untuk aktivitas fisik berat, lebih dari separuh sampel total (62.9%) tidak beraktivitas fisik berat.
Menurut sebaran per provinsi, separuh sampel di Sulawesi Utara (59.1%) dan Gorontalo (54.3%) dan sebagian besar sampel di DKI Jakarta (84.1%) tidak beraktivitas fisik berat.
Perilaku konsumsi terdiri atas konsumsi minuman beralkohol selama satu bulan terakhir, konsumsi sayuran dan buah, konsumsi makanan/minuman manis dan konsumsi makanan berlemak. Tabel 3 menunjukkan bahwa konsumsi minuman beralkohol selama satu bulan terakhir pada sampel total sebesar 10.1%. Berdasarkan sebaran tiap provinsi, konsumsi minuman beralkohol selama satu bulan terakhir di Sulawesi Utara, Gorontalo, dan DKI Jakarta berturut-turut sebanyak 18.5%, 12.1%, dan 2.8%. Hampir semua sampel total (98.5%) kurang mengonsumsi sayuran dan buah, demikian pula menurut sebaran masing-masing provinsi: 98.3% sampel di Sulawesi Utara, 99.3%
sampel di Gorontalo, dan 97.5% sampel di DKI Jakarta kurang mengonsumsi sayuran dan buah. Untuk konsumsi makanan/minuman manis, kurang dari separuh sampel total mengonsumsi makanan/minuman manis 1 kali per hari (36.3%). Berdasarkan sebaran per provinsi, kurang dari separuh sampel di Sulawesi Utara (37.6%) dan Gorontalo (33.4%) mengonsumsi makanan/minuman manis > 1 kali per hari, sedangkan di DKI Jakarta, kurang dari separuh sampel mengonsumsi makanan/minuman manis 1 kali per hari (39.7%).
Perilaku konsumsi lainnya yang dapat dilihat adalah konsumsi makanan berlemak. Kurang dari separuh sampel total mengonsumsi makanan berlemak 1-2 kali per minggu (27.2%). Menurut sebaran tiap provinsi, kurang dari separuh sampel di Sulawesi Utara (38.7%) dan Gorontalo (23.7%) mengonsumsi makanan berlemak < 3 kali per bulan, sedangkan di DKI Jakarta, kurang dari separuh sampel (30.9%) mengonsumsi makanan berlemak 1-2 kali per minggu.
Kondisi mental emosional adalah suatu keadaan yang mengindikasikan individu mengalami suatu perubahan emosional yang dapat berkembang menjadi keadaan patologis apabila terus berlanjut (Balitbangkes, Depkes 2008). Tabel 3 menunjukkan bahwa sekitar 13.7% sampel total terganggu kondisi mental emosionalnya. Berdasarkan sebaran per provinsi, sampel yang terganggu kondisi mental emosionalnya di Sulawesi Utara, Gorontalo, dan DKI Jakarta berturut-turut adalah 9.8%, 17.4%, dan 14.6%.
Tabel 3. Gaya hidup sampel
Tidak pernah 5408(60.9) 3470(59.1) 7517(63.7) 16395(61.7)
Pernah 465(5.2) 182(3.1) 636(5.4) 1283(4.8)
Kadang kadang 580(6.5) 363(6.2) 872(7.4) 1815(6.8)
Setiap hari 2432(27.4) 1856(31.6) 2780(23.5) 7068(26.6) Aktivitas fisik berat
Tidak 5252(59.1) 3190(54.3) 9925(84.1) 18367(62.9)
Ya 3633(40.9) 2681(45.7) 1880(15.9) 8194(30.8)
Konsumsi minuman beralkohol
Tidak 7238(81.5) 5163(87.9) 11480(97.2) 23881(89.9)
Ya 1647(18.5) 708(12.1) 325(2.8) 2680(10.1)
Konsumsi sayuran dan buah
Kurang 8735(98.3) 5827(99.3) 11505(97.5) 26167(98.5)
Cukup 150(1.7) 44(0.7) 300(2.5) 494(1.9) 1 kali per hari 3098(34.9) 1868(31.8) 4688(39.7) 9654(36.3)
> 1 kali per hari 3343(37.6) 1962(33.4) 3849(32.6) 9154(34.5) Konsumsi makanan berlemak
Tidak pernah 888(10.0) 678(11.5) 874(7.4) 2440(9.2)
< 3 kali per bulan 3376(38.0) 1391(23.7) 2340(19.8) 7107(26.8) 1 – 2 kali per minggu 2358(26.5) 1208(20.6) 3650(30.9) 7216(27.2) 3 – 6 kali per minggu 1653(18.6) 1288(21.9) 2418(20.5) 5359(20.2) 1 kali per hari 362(4.1) 815(13.9) 1710(14.5) 2887(10.9)
> 1 kali per hari 248(2.8) 491(8.4) 813(6.9) 1552(5.8) Kondisi mental emosional
Tidak terganggu 8011(90.2) 4848(82.6) 10076(85.4) 22935(86.3) Terganggu 874(9.8) 1023(17.4) 1729(14.6) 3626(13.7)
Profil Obesitas Sentral Berdasarkan Karakteristik Demografi dan Sosial Ekonomi
Tabel 4 menunjukkan sebaran sampel menurut karakteristik demografi dan sosial-ekonomi terhadap kejadian obesitas sentral. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada sampel total dengan kisaran umur 45-55 tahun (38.1%). Menurut sebaran masing-masing provinsi, prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada sampel dengan kisaran umur 45-55 tahun di Sulawesi Utara (37.3%) dan DKI Jakarta (39.7%) dan 55-64 tahun di Gorontalo (37.8%).
Berdasarkan jenis kelamin, prevalensi obesitas sentral pada sampel total lebih tinggi pada perempuan (40.2%) dibandingkan dengan laki-laki (11.5%), demikian pula menurut sebaran per provinsi: 27.2% pada perempuan dan 13.6%
pada laki-laki di Sulawesi Utara, 40.6% pada perempuan dan 8.4% pada laki-laki di Gorontalo, serta 36.9% pada perempuan dan 11.5% pada laki-laki di DKI Jakarta. Hasil penelitian sejalan dengan beberapa hasil penelitian sebelumnya yang menemukan tingginya prevalensi obesitas sentral pada perempuan. Di Yunani, prevalensi obesitas sentral 36% pada laki-laki dan 43% pada perempuan (Panagiotakos et al. 2004); di Turki, 18.1% pada laki-laki dan 38.9% pada perempuan (Erem et al. 2004); di Oman, 31.5% pada laki-laki dan 64.6% pada perempuan (Al-Riyami&Afifi 2003); dan di China, 16.1% pada laki-laki dan 37.6%
pada perempuan (Reynolds et al. 2007). Tingginya prevalensi obesitas sentral pada perempuan diduga akibat lebih banyaknya kelebihan lemak pusat pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki (Misra et al. 2001).
Menurut status kawin, prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada sampel total yang berstatus cerai hidup atau mati (39.5%), begitu pula berdasarkan sebaran tiap provinsi: 37.5% di Sulawesi Utara, 38.8% di Gorontalo, dan 41.3% di DKI Jakarta. Hasil penelitian sejalan dengan hasil penelitian yang dilaporkan Erem et al. (2004) yang menemukan tingginya prevalensi obesitas pada sampel yang berstatus cerai. Menurut besar keluarga, prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada sampel total yang memiliki anggota keluarga 1-2 orang (30.6%), demikian pula menurut sebaran masing-masing provinsi: 33.0%
di Sulawesi Utara, 31.2% di Gorontalo dan 28.4% di DKI Jakarta. Terdapat kecenderungan penurunan prevalensi obesitas sentral dengan semakin banyaknya anggota keluarga, baik pada sampel total maupun sampel per provinsi.
Berdasarkan pendidikan, prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada sampel total yang tidak sekolah. Menurut sebaran tiap provinsi, prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada sampel yang tidak sekolah di DKI Jakarta (41.4%) dan tamat perguruan tinggi di Gorontalo (36.8%) dan Sulawesi Utara (38.4%). Berdasarkan pekerjaan, prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada sampel total yang bekerja sebagai ibu rumah tangga (47.1%), begitu pula menurut sebaran masing-masing provinsi: 49% di Sulawesi Utara, 46.7% di Gorontalo dan 45.1% di DKI Jakarta.
Menurut pengeluaran per kapita, prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada sampel total dengan pengeluaran per kapita kuintil ke-5 (30.6%), demikian pula berdasarkan sebaran per provinsi: 33.8% sampel di Sulawesi Utara, 33.0% sampel di Gorontalo, dan 26.9% sampel di DKI Jakarta memiliki pengeluaran per kapita kuintil ke-5. Terdapat kecenderungan meningkatnya prevalensi obesitas sentral seiring dengan meningkatnya pengeluaran per kapita, baik pada sampel total maupun sampel tiap provinsi.
Menurut tipe wilayah, prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada sampel total yang bertempat tinggal di perkotaan (59.4%), demikian pula berdasarkan masing-masing provinsi: 35.4% sampel di Sulawesi Utara, 30.9%
sampel di Gorontalo, dan 25% sampel di DKI Jakarta bermukim di perkotaan.
Tabel 4. Sebaran sampel berdasarkan karakteristik demografi dan sosial-ekonomi terhadap kejadian obesitas sentral
Karakteristik Demografi dan
Sosial-Ekonomi
Obesitas Sentral (%)
Sulawesi Utara Gorontalo DKI Jakarta Total
Umur
Laki-laki 587(13.6) 237(8.4) 636(11.5) 1460(11.5)
Perempuan 2020(44.3) 1242(40.6) 2321(36.9) 5583(40.2)
Status kawin
Belum kawin 167(9.0) 98(7.6) 254(7.9) 519(8.2)
Kawin 2217(34.4) 1255(29.4) 2367(30.5) 5839(31.6)
Cerai hidup/mati 223(37.5) 126(38.8) 336(41.3) 685(39.5)
Besar keluarga
Tidak sekolah 24(21.8) 29(16.1) 196(41.4) 249(32.6) Tidak tamat SD 423(28.4) 354(20.9) 281(32.8) 1058(26.2)
Tamat SD 651(28.3) 469(27.2) 639(28.2) 1759(28.0)
Tamat SMP 556(26.2) 223(23.2) 648(24.1) 1427(24.7)
Karakteristik Demografi dan
Sosial-Ekonomi
Obesitas Sentral (%)
Sulawesi Utara Gorontalo DKI Jakarta Total
Tamat SMA 767(35.2) 288(28.5) 903(20.6) 1958(25.3)
Tamat PT 186(36.8) 116(38.4) 290(25.5) 592(30.5)
Pekerjaan
Tidak bekerja/sekolah 263(16.8) 141(13.2) 298(13.2) 702(14.3) Ibu rumah tangga 1306(49.9) 835(46.7) 1468(45.1) 3609(47.1) TNI/POLRI/PNS 190(39.1) 152(42.5) 91(24.4) 433(35.6) Pegawai BUMN/swasta 114(29.0) 18(18.8) 336(16.7) 468(18.7) Wiraswasta/pedagang/jasa 300(32.0) 144(23.6) 533(22.5) 977(24.9) Petani/nelayan/buruh 333(13.2) 136(8.0) 135(12.7) 604(11.4)
Lainnya 101(28.1) 53(21.8) 96(20.8) 250(23.5)
Pengeluaran per kapita
Kuintil 1 431(25.3) 191(16.9) 550(23.4) 1172(22.6)
Kuintil 2 496(27.4) 265(23.3) 562(23.7) 1323(24.9)
Kuintil 3 520(29.3) 281(23.8) 606(25.6) 1407(26.5)
Kuintil 4 546(30.7) 338(28.2) 601(25.6) 1485(27.9)
Kuintil 5 614(33.8) 404(33.0) 638(26.9) 1656(30.6)
Tipe wilayah
Perkotaan 1139(35.4) 460(30.9) 2957(25.0) 4556(59.4)
Perdesaan 1468(25.9) 1019(23.3) 0(0.0) 2487(24.8)
Profil Obesitas Sentral Berdasarkan Gaya Hidup
Tabel 5 menunjukkan sebaran sampel menurut gaya hidup terhadap timbulnya obesitas sentral. Berdasarkan kebiasaan merokok, prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada sampel total yang tidak pernah merokok (34.1%), demikian pula menurut sebaran per provinsi: 37.7% di Sulawesi Utara, 35.3% di Gorontalo dan 31.0% di DKI Jakarta.
Berdasarkan aktivitas fisik berat, prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada sampel total yang tidak beraktivitas fisik berat (30.2%), demikian pula menurut sebaran tiap provinsi: 35.7% di Sulawesi Utara, 32.9% di Gorontalo dan 26.4% di DKI Jakarta. Berdasarkan konsumsi minuman beralkohol, prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada sampel total yang tidak mengonsumsi minuman beralkohol dalam satu bulan terakhir (28.1%), begitu pula menurut sebaran masing-masing provinsi: 32.6% di Sulawesi Utara, 27.8%
di Gorontalo dan 25.5% di DKI Jakarta.
Berdasarkan konsumsi sayuran dan buah, prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada sampel total yang cukup mengonsumsi sayuran dan buah (28.3%). Menurut sebaran per provinsi, prevalensi obesitas sentral tertinggi
ditemukan pada sampel yang cukup mengonsumsi sayuran dan buah di DKI Jakarta (30.7%) dan kurang mengonsumsi di Sulawesi Utara (29.4%) dan Gorontalo (25.2%). Berdasarkan konsumsi makanan/minuman manis, prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada sampel total yang tidak pernah mengonsumsi makanan/minuman manis (31.9%), demikian pula menurut sebaran tiap provinsi: 34.2% di Sulawesi Utara, 28.7% di Gorontalo dan 32.9% di DKI Jakarta.
Berdasarkan konsumsi makanan berlemak, prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada sampel total yang mengonsumsi makanan berlemak < 3 kali per bulan (27.6%). Menurut sebaran masing-masing provinsi, prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada sampel yang mengonsumsi makanan berlemak 3-6 kali per minggu di Sulawesi Utara (34.4%) dan 1 kali per hari dan
<3 kali per bulan di Gorontalo (26.4%), sedangkan di DKI Jakarta, prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada sampel yang tidak pernah mengonsumsi makanan berlemak (29.4%).
Berdasarkan kondisi mental emosional, prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada sampel total yang terganggu kondisi mental emosionalnya (32.0%); demikian pula menurut sebaran per provinsi: 34.0% di Sulawesi Utara, 32.1% di Gorontalo dan 31.1% di DKI Jakarta.
Tabel 5. Sebaran sampel berdasarkan gaya hidup terhadap kejadian obesitas sentral
Tidak pernah 2038(37.7) 1226(35.3) 2333(31.0) 5597(34.1)
Pernah 104(22.4) 38(20.9) 145(22.8) 287(22.4)
Kadang kadang 96(16.6) 45(12.4) 133(15.3) 274(15.1)
Setiap hari 369(15.2) 170(9.2) 346(12.4) 885(12.5)
Konsumsi minuman beralkohol
Tidak 2275(32.6) 1409(27.8) 2887(25.5) 6571(28.1)
Ya 332(17.3) 70(8.8) 70(13.9) 472(14.7)
Aktivitas fisik berat
Tidak 1875(35.7) 1050(32.9) 2618(26.4) 5543(30.2)
Ya 732(20.1) 429(16.0) 339(18.0) 1500(18.3)
Konsumsi sayuran dan buah
Kurang 2569(29.4) 1469(25.2) 2865(24.9) 6903(26.5)
Cukup 38(25.3) 10(22.7) 92(30.7) 140(28.3)
Konsumsi makanan/minuman manis
Gaya hidup Obesitas Sentral(%) Sulawesi Utara Gorontalo
DKI Jakarta Total
Tidak pernah 69(34.2) 76(28.7) 125(32.9) 270(31.9)
< 3 kali per bulan 166(31.5) 38(23.0) 114(32.4) 318(30.5)
Tidak pernah 230(25.9) 178(26.3) 257(29.4) 665(27.3)
< 3 kali per bulan 957(28.3) 367(26.4) 634(27.1) 1958(27.6)
Tidak terganggu 2310(28.8) 1151(23.7) 2420(24.0) 5881(25.6) Terganggu 297(34.0) 328(32.1) 537(31.1) 1162(32.0)
Hubungan Karakteristik Demografi dan Sosial-Ekonomi dengan Obesitas Sentral
Umur
Prevalensi obesitas sentral tertinggi ditemukan pada umur yang lebih tua (Tabel 4). Martins dan Marinho (2003) menyatakan bahwa kejadian obesitas sentral meningkat seiring dengan bertambahnya umur seseorang akibat penumpukan lemak tubuh, terutama lemak pusat. Hasil uji statistik menunjukkan hubungan nyata positif antara umur dengan timbulnya obesitas sentral pada ketiga provinsi (Tabel 6). Hasil analisis sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Janghorbani et al. (2007) yang menemukan kuatnya hubungan antara umur dengan obesitas. Kantachuvessiri et al. (2005) menyatakan, kecenderungan obesitas dialami oleh seseorang yang berumur lebih tua diduga akibat lambatnya metabolisme, rendahnya aktivitas fisik, seringnya frekuensi konsumsi pangan, dan kurangnya perhatian pada bentuk tubuhnya.
Jenis Kelamin
Hasil uji statistik menunjukkan hubungan nyata antara jenis kelamin dengan kejadian obesitas sentral pada ketiga provinsi (Tabel 6). Beberapa penelitian sebelumnya menemukan lebih tingginya kejadian obesitas sentral pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki (Al-Riyami&Afifi 2003;
Martins&Marinho 2003; Guitierrez-Fisac et al. 2004; Sonmez et al. 2003; De
Pablos-Velasco et al. 2002). Hal ini diduga karena lebih tingginya cadangan lemak tubuh pada perempuan daripada laki-laki. Janghorbani et al. (2007) menyatakan bahwa tingginya kejadian obesitas sentral pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki karena adanya perbedaan tingkat aktivitas fisik dan asupan energi pada laki-laki dan perempuan. Perempuan menopause cenderung mengalami obesitas sentral dibandingkan dengan perempuan premenopause. Hal ini karena penurunan massa otot dan perubahan status hormon (Lee et al. 2005).
Status Kawin
Status kawin berhubungan nyata positif dengan kejadian obesitas sentral (Erem et al. 2004). Penelitian lain menemukan tidak terdapatnya hubungan nyata antara status kawin dengan kejadian obesitas sentral (Panagiotakos et al. 2004).
Hasil uji statistik menunjukkan hubungan nyata antara status kawin dengan kejadian obesitas sentral pada ketiga provinsi (Tabel 6). Penelitian ini menemukan bahwa prevalensi obesitas sentral tertinggi pada sampel yang berstatus cerai mati/hidup (Tabel 4). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilaporkan Erem et al. (2004) yang menemukan tingginya prevalensi obesitas pada orang yang berstatus cerai daripada yang belum menikah.
Terdapatnya hubungan antara status kawin dengan kejadian obesitas sentral diduga karena seseorang yang sudah menikah akan menyesuaikan diri dengan pasangannya. Penyesuaian ini dapat memengaruhi pola pikir dan perubahan gaya hidup seseorang seperti perubahan perilaku makan.
Penyesuaian diri dengan pasangan yang buruk mengakibatkan tingginya depresi seseorang. Kondisi stres atau depresi ini dapat menjadikan gaya hidup yang tidak baik seperti konsumsi minuman beralkohol dan konsumsi makanan tinggi lemak. Kantachuvessiri et al. (2005) menyatakan bahwa seseorang yang mengalami depresi cenderung mengonsumsi makanan dalam jumlah yang berlebihan.
Besar Keluarga
Kantachuvessiri et al. (2005) menemukan bahwa besar keluarga tidak berhubungan dengan obesitas di Thailand. Penelitian di Oman juga menemukan tidak terdapatnya hubungan antara besar keluarga dengan kejadian obesitas sentral (Al-Riyami&Afifi 2003). Hasil uji statistik menunjukkan hubungan nyata negatif antara besar keluarga dengan kejadian obesitas sentral pada ketiga provinsi (Tabel 6). Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan beberapa hasil
penelitian sebelumnya. Terdapatnya hubungan antara besar keluarga dengan kejadian obesitas sentral diduga karena ketersediaan pangan dalam memenuhi kebutuhan anggota keluarga. Seseorang yang memiliki anggota keluarga kecil memperoleh lebih banyak bagian dalam pemenuhan pangan dibandingkan dengan yang memiliki anggota keluarga lebih besar.
Pendidikan
Pendidikan yang rendah berhubungan nyata dengan peningkatan kejadian obesitas sentral (Panagiotakos et al. 2004; Janghorbani et al. 2007). Aekplakorn et al. (2007) menemukan hubungan nyata negatif pada perempuan dan hubungan nyata positif pada laki-laki antara pendidikan dengan kejadian obesitas sentral di Thailand. Di Korea, pendidikan dapat menurunkan risiko obesitas sentral (Yoon et al. 2006). Hasil uji statistik menunjukkan hubungan nyata positif di Sulawesi Utara dan Gorontalo dan hubungan nyata negatif di DKI Jakarta antara pendidikan dengan kejadian obesitas sentral (Tabel 6). Hubungan pendidikan dengan kejadian obesitas sentral dalam penelitian ini tidak konsisten dengan beberapa hasil penelitian sebelumnya. Hal ini diduga karena tingginya pendidikan tidak paralel dengan pengetahuan gizi seseorang. Seseorang yang memiliki level pendidikan yang tinggi, belum tentu memiliki pengetahuan gizi yang baik.
Walapun pendidikan dapat memengaruhi kepercayaan dan tingkat pengetahuan (Yoon et al. 2006), seseorang yang memiliki pengetahuan yang baik tentang obesitas, masih saja melakukan perilaku yang tidak sehat seperti gaya hidup sedentary dan makan dalam jumlah yang berlebihan ketika mengalami stres (Kantachuvessiri et al. 2005).
Pekerjaan
Pekerjaan berhubungan dengan perubahan berat badan dan lingkar perut (Lahmann et al. 2000; Erem et al. 2004). Hasil uji statistik menunjukkan hubungan nyata antara pekerjaan dengan kejadian obesitas sentral pada ketiga provinsi (Tabel 6). Terdapatnya hubungan antara pekerjaan dengan kejadian obesitas sentral diduga karena hubungannya dengan aktivitas fisik. Penelitian ini menemukan prevalensi obesitas sentral tertinggi pada ibu rumah tangga dan terendah pada petani/nelayan/buruh (Tabel 4). Petani/nelayan/buruh memiliki aktivitas fisik yang lebih tinggi dibandingkan dengan ibu rumah tangga dan pekerja kantor. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilaporkan Erem et al. (2004) yang menemukan tingginya prevalensi obesitas pada ibu rumah