• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Kultur Bersama

Tabel 2 Hasil perhitungan konsentrasi sel dari uji kultur bersama probiotik multispesies terhadap AH26NAR

Perlakuan

Probiotik (CFU/mL) Bakteri AH26NAR (CFU/mL)

Sinergis/ Antagonistik ND2

CefR

P23

CipR L1k TetR Awal* Akhir**

A 103 103 0 103 107 nd 104 104 0 105 nd 105 105 0 104 nd B 103 0 103 103 104 nd 104 0 104 105 nd 105 0 105 105 nd C 0 103 103 103 106 nd 0 104 104 104 nd 0 105 105 107 nd D 103 103 103 103 108 nd 104 104 104 108 nd 105 105 105 106 nd E 0 0 0 103 1010 nd F 106 106 0 0 0 Sinergis G 106 0 106 0 0 Sinergis H 0 106 106 0 0 Sinergis Keterangan :

* : kepadatan AH26NAR yang diinokulasikan awal inkubasi

** : kepadatan AH26NARyang tumbuh pada media RS setelah 24 jam inkubasi nd : not determined

(A) perlakuan probiotik ND2 CefR dan P23 CipR; (B) perlakuan probiotik ND2 CefR dan L1k TetR; (C) perlakuan probiotik P23 CipR dan L1k TetR; (D) perlakuan probiotik ND2 CefR, P23 CipR dan L1k TetR; (E) Kontrol positif; (F) uji dual culture probiotik ND2 CefR dan P23 CipR ; (G) uji dual culture probiotik ND2 CefR dan L1k TetR; (H) uji dual culture probiotik P23 CipR dan L1k TetR; (0) tidak diinokulasikan.

9 Tabel 2 merupakan hasil uji kultur bersama probiotik terhadap AH26NAR. Hasil uji bakteri probiotik terhadap AH26 NAR secara in vitro menunjukkan kombinasi isolat probiotik ND2 CefR dan P23 CipR dengan kepadatan masing-masing 105 CFU/mL, kombinasi isolat probiotik ND2 CefR dan L1k TetR dengan kepadatan masing-masing 103 CFU/mL, kombinasi isolat probiotik P23 CipR dan L1k TetR dengan kepadatan masing-masing 104 CFU/mL dan kombinasi isolat probiotik ND2 CefR, P23 CipR dan L1k TetR dengan kepadatan masing-masing 105 CFU/mL mampu menghambat populasi AH26 NAR. Uji dual culture antar masing-masing probiotik menunjukkan bahwa ketiga probiotik tersebut bersifat sinergis, dengan demikian kedua isolat probiotik dapat digunakan secara bersamaan untuk menghambat pertumbuhan A. hydrophila.

Tingkat Kelangsungan Hidup/Survival Rate (SR)

Gambar 1 menunjukkan tingkat kelangsungan hidup ikan lele dumbo selama 28 hari perlakuan. Perlakuan B menunjukkan tingkat kelangsungan hidup yang tertinggi yaitu sebesar 89,33±4,62 dan berbeda nyata (P<0,05) dengan kontrol positif dan kontrol negatif yaitu masing-masing sebesar 54,67±6,11 dan 73,33±6,11. Perlakuan A menunjukkan SR sebesar 78,67±6,11 , perlakuan C sebesar 80±4,00 dan D sebesar 68±4,00.

Keterangan :

(K+) Kontrol positif; (K-) Kontrol negatif; (A) perlakuan probiotik ND2 CefR 105 CFU/mL dan P23 CipR 105 CFU/mL; (B) perlakuan probiotik ND2 CefR 103 CFU/mL dan L1k TetR 103

CFU/mL; (C) perlakuan probiotik P23 CipR 104 CFU/mL dan L1k TetR 104 CFU/mL; (D) perlakuan probiotik ND2 CefR 105 CFU/mL, P23 CipR 105 CFU/mL dan L1k TetR 105 CFU/mL. Huruf superscript yang berbeda menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05).

Gambar 1 Tingkat kelangsungan hidup ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) yang diinfeksi AH26 NAR dan dipelihara pada media mengandung probiotik multispesies

Laju pertumbuhan spesifik

Laju pertumbuhan spesifik ikan lele dumbo selama 28 hari pemeliharaan dapat dilihat pada Gambar 2. Berdasarkan pengamatan perlakuan B (1,75±0,08) dan kontrol negatif (1,79±0,18) berbeda nyata (P<0,05) dengan kontrol positif (1,46±0,03) dan perlakuan A (1,48±0,04).

10

Keterangan :

(K+) Kontrol positif; (K-) Kontrol negatif; (A) perlakuan probiotik ND2 CefR 105 CFU/mL dan P23 CipR 105 CFU/mL; (B) perlakuan probiotik ND2 CefR 103 CFU/mL dan L1k TetR 103

CFU/mL; (C) perlakuan probiotik P23 CipR 104 CFU/mL dan L1k TetR 104 CFU/mL; (D) perlakuan probiotik ND2 CefR 105 CFU/mL, P23 CipR 105 CFU/mL dan L1k TetR 105 CFU/mL. Huruf superscript yang berbeda menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05).

Gambar 2 Laju pertumbuhan spesifik ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) yang diinfeksi AH26 NAR dan dipelihara pada media mengandung probiotik multispesies

Rasio Konversi Pakan

Nilai rasio konversi pakan ikan lele dumbo pada kontrol positif (2,73±0,46) berbeda nyata dengan perlakuan lain (P<0,05), namun antar perlakuan probiotik (A, B, C, D) tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan kontrol negatif (1,86±0,51). Nilai rasio konversi pakan pada ikan lele dumbo dapat dilihat pada Gambar 3.

b

a a

a a

a

0,0 0,4 0,8 1,2 1,6 2,0 2,4 2,8 3,2 K+ K- A B C D R a si o Ko n v e r si Pa k a n Perlakuan Keterangan :

(K+) Kontrol positif; (K-) Kontrol negatif; (A) perlakuan probiotik ND2 CefR 105 CFU/mL dan P23 CipR 105 CFU/mL; (B) perlakuan probiotik ND2 CefR 103 CFU/mL dan L1k TetR 103

CFU/mL; (C) perlakuan probiotik P23 CipR 104 CFU/mL dan L1k TetR 104 CFU/mL; (D) perlakuan probiotik ND2 CefR 105 CFU/mL, P23 CipR 105 CFU/mL dan L1k TetR 105 CFU/mL. Huruf superscript yang berbeda menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05).

Gambar 3 Rasio konversi pakan pada ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) yang diinfeksi AH26 NAR dan dipelihara pada media mengandung probiotik multispesies

11

Kadar Hematokrit

Nilai hematokrit pada awal penelitian menunjukkan hasil yang sama yaitu sebesar 34,45±1,58. Penurunan nilai hematokrit terjadi pada hari ke 7 dan mulai terjadi kenaikan pada hari ke 14. Pada hari ke 28 nilai hematokrit perlakuan B (44,00±0,00) berbeda nyata (P<0,05) dengan semua perlakuan terutama dengan kontrol positif (28,99±0,59). Kadar hematokrit pada ikan lele dumbo dapat dilihat pada Gambar 4.

Keterangan :

(K+) Kontrol positif; (K-) Kontrol negatif; (A) perlakuan probiotik ND2 CefR 105 CFU/mL dan P23 CipR 105 CFU/mL; (B) perlakuan probiotik ND2 CefR 103 CFU/mL dan L1k TetR 103

CFU/mL; (C) perlakuan probiotik P23 CipR 104 CFU/mL dan L1k TetR 104 CFU/mL; (D) perlakuan probiotik ND2 CefR 105 CFU/mL, P23 CipR 105 CFU/mL dan L1k TetR 105 CFU/mL. Huruf superscript yang berbeda menunjukkan hasil yang berbeda nyata berdasarkan hari (H) pengambilan sampel (P<0,05).

Gambar 4 Kadar hematokrit pada ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) yang diinfeksi AH26 NAR dan dipelihara pada media mengandung probiotik multispesies

Diferensial Leukosit Monosit

Jumlah monosit pada awal penelitian menunjukkan nilai yang sama yaitu sebesar 2,5±0,71 kemudian mengalami peningkatan pada hari ke 7 dan menurun sampai 28 hari pemeliharaan. Hari ke 7 jumlah monosit pada perlakuan A (4,00±2,83), B (6,00±1,41) dan kontrol negatif (5,00±0,00) menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0.05) dengan kontrol positif (13,5±0,71) dan tidak berbeda nyata (P>0.05) dengan perlakuan C (9,5±3,54) dan perlakuan D (8,00±0,71). Persentase monosit darah pada ikan lele dumbo dapat dilihat pada Gambar 5.

12

Keterangan :

(K+) Kontrol positif; (K-) Kontrol negatif; (A) perlakuan probiotik ND2 CefR 105 CFU/mL dan P23 CipR 105 CFU/mL; (B) perlakuan probiotik ND2 CefR 103 CFU/mL dan L1k TetR 103

CFU/mL; (C) perlakuan probiotik P23 CipR 104 CFU/mL dan L1k TetR 104 CFU/mL; (D) perlakuan probiotik ND2 CefR 105 CFU/mL, P23 CipR 105 CFU/mL dan L1k TetR 105 CFU/mL. Huruf superscript yang berbeda menunjukkan hasil yang berbeda nyata berdasarkan hari (H) pengambilan sampel (P<0,05).

Gambar 5 Persentase monosit darah pada ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) yang diinfeksi AH26 NAR dan dipelihara pada media mengandung probiotik multispesies

Neutrofil

Nilai neutrofil pada awal penelitian menunjukkan nilai yang sama yaitu sebesar 9,5±0,71. Pada hari ke 7 sampai hari ke 14 terjadi peningkatan jumlah neutrofil pada semua perlakuan. Perlakuan probiotik B (20,00±4,24) berbeda nyata (P<0,05) dengan kontrol positif (13,00±2,83) dan terjadi penurunan pada hari ke 21 sampai akhir pemeliharaan. Persentase neutrofil darah pada ikan lele dumbo dapat dilihat pada Gambar 6.

Keterangan :

(K+) Kontrol positif; (K-) Kontrol negatif; (A) perlakuan probiotik ND2 CefR 105 CFU/mL dan P23 CipR 105 CFU/mL; (B) perlakuan probiotik ND2 CefR 103 CFU/mL dan L1k TetR 103

CFU/mL; (C) perlakuan probiotik P23 CipR 104 CFU/mL dan L1k TetR 104 CFU/mL; (D) perlakuan probiotik ND2 CefR 105 CFU/mL, P23 CipR 105 CFU/mL dan L1k TetR 105 CFU/mL. Huruf superscript yang berbeda menunjukkan hasil yang berbeda nyata berdasarkan hari (H) pengambilan sampel (P<0,05).

Gambar 6 Persentase neutrofil darah pada ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) yang diinfeksi AH26 NAR dan dipelihara pada media mengandung probiotik multispesies

13

Limfosit

Nilai limfosit pada awal penelitian menunjukkan nilai yang sama pada semua perlakuan yaitu sebesar 88±1,41. Penurunan jumlah limfosit terjadi pada hari ke 7 dan berangsur naik setelah 14 hari pemberian probiotik sampai akhir pemeliharaan dengan nilai 83±8,49 (K+), 85±2,83 (K-), 85±0,00 (A), 78±2,83 (B), 84±8,49 (C), 89±1,41 (D) Persentase limfosit darah pada ikan lele dumbo dapat dilihat pada Gambar 7.

Keterangan :

(K+) Kontrol positif; (K-) Kontrol negatif; (A) perlakuan probiotik ND2 CefR 105 CFU/mL dan P23 CipR 105 CFU/mL; (B) perlakuan probiotik ND2 CefR 103 CFU/mL dan L1k TetR 103

CFU/mL; (C) perlakuan probiotik P23 CipR 104 CFU/mL dan L1k TetR 104 CFU/mL; (D) perlakuan probiotik ND2 CefR 105 CFU/mL, P23 CipR 105 CFU/mL dan L1k TetR 105 CFU/mL. Huruf superscript yang berbeda menunjukkan hasil yang berbeda nyata berdasarkan hari (H) pengambilan sampel (P<0,05).

Gambar 7 Persentase limfosit darah pada ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) yang diinfeksi AH26 NAR dan dipelihara pada media mengandung probiotik multispesies

Respiratory Burst Activity

Nilai Respiratory burst activity setelah 14 hari pemberian probiotik antar perlakuan menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0.05). Perlakuan probiotik B menunjukkan nilai Respiratory burst activity tertinggi (0.072±0.00%) dan terendah pada kontrol positif (0.061±0.00%). Nilai Respiratory burst activity ikan lele dumbo dapat dilihat pada Gambar 8.

Keterangan :

(K+) Kontrol positif; (K-) Kontrol negatif; (A) perlakuan probiotik ND2 CefR 105 CFU/mL dan P23 CipR 105 CFU/mL; (B) perlakuan probiotik ND2 CefR 103 CFU/mL dan L1k TetR 103

CFU/mL; (C) perlakuan probiotik P23 CipR 104 CFU/mL dan L1k TetR 104 CFU/mL; (D) perlakuan probiotik ND2 CefR 105 CFU/mL, P23 CipR 105 CFU/mL dan L1k TetR 105 CFU/mL. Huruf superscript yang berbeda menunjukkan hasil yang berbeda nyata berdasarkan hari (H) pengambilan sampel (P<0,05).

Gambar 8 Respiratory burst activity pada ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) yang diinfeksi AH26 NAR dan dipelihara pada media mengandung probiotik multispesies

14

Aktivitas Lisozim

Nilai aktivitas lisozim antar perlakuan menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0.05). Penurunan aktivitas lisozim terjadi pada hari ke 7 dan mulai meningkat setelah 7 hari pemberian perlakuan probiotik. Nilai aktivitas lisozim pada kontrol negatif cenderung stabil. Nilai aktivitas lisozim pada ikan lele dumbo dapat dilihat pada Gambar 9.

Keterangan :

(K+) Kontrol positif; (K-) Kontrol negatif; (A) perlakuan probiotik ND2 CefR 105 CFU/mL dan P23 CipR 105 CFU/mL; (B) perlakuan probiotik ND2 CefR 103 CFU/mL dan L1k TetR 103

CFU/mL; (C) perlakuan probiotik P23 CipR 104 CFU/mL dan L1k TetR 104 CFU/mL; (D) perlakuan probiotik ND2 CefR 105 CFU/mL, P23 CipR 105 CFU/mL dan L1k TetR 105 CFU/mL. Huruf superscript yang berbeda menunjukkan hasil yang berbeda nyata berdasarkan hari (H) pengambilan sampel (P<0,05).

Gambar 9 Aktivitas Lisozim pada ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) yang diinfeksi AH26 NAR dan dipelihara pada media mengandung probiotik multispesies

Monitoring Populasi Sel Bakteri

Kepadatan sel bakteri total pada media pemeliharaan sampai akhir perlakuan menunjukkan nilai tertinggi pada perlakuan probiotik A (108 CFU/mL) diikuti perlakuan D (107 CFU/mL), C (105 CFU/mL), B (105 CFU/mL) dan kontrol positif (105 CFU/mL) dan kepadatan sel bakteri total terendah pada kontrol negatif (104 CFU/mL). Kepadatan sel A. hydrophila total sampai akhir penelitian menunjukkan jumlah kepadatan sel A. hydrophila total tertinggi pada kontrol positif (105 CFU/mL), diikuti kepadatan sel A. hydrophila total yang sama pada kontrol negatif, perlakuan probiotik A, C dan D (104 CFU/mL), A. hydrophila total pada perlakuan B menunjukkan pola penurunan dari kepadatan 104 CFU/mL pada hari ke 7 menjadi 103 CFU/mL pada akhir penelitian, sedangkan pada kontrol positif dan kontrol negatif kepadatan sel A. hydrophila

total cenderung meningkat. Kepadatan sel bakteri pada media pemeliharaan dapat dilihat pada Gambar 10.

15

Keterangan :

(K+) Kontrol positif; (K-) Kontrol negatif; (A) ND2 CefR 105 CFU/ml dan P23 CipR 105 CFU/ml; (B) ND2 CefR 103 CFU/ml dan L1k TetR 103 CFU/ml; (C) P23 CipR 104 CFU/ml dan L1k TetR 104

CFU/ml; (D) ND2 CefR 105 CFU/ml, P23 CipR 105 CFU/ml dan L1k TetR 105 CFU/ml. H (hari ke-)

Gambar 10 Kepadatan sel bakteri total (a), kepadatan sel AH total (b), kepadatan sel AH26 NAR (c), kepadatan sel probiotik ND2 CefR (d), kepadatan sel probiotik P23 CipR (e), kepadatan sel probiotik L1k TetR (f) pada media pemeliharaan ikan lele dumbo

Parameter Kualitas Air

Parameter kualitas air yang diamati selama penelitian adalah suhu, pH, DO dan amonia yang diukur pada hari ke 0, 7, 14, 21 dan 28. Menurut SNI 01-6484.5.2002, hasil pengukuran menunjukkan kualitas air pada kategori layak untuk pemeliharaan ikan lele dumbo. Data hasil pengukuran disajikan pada Tabel 3. b d e f c a

16

Tabel 3 Kisaran hasil pengukuran kualitas air pada setiap perlakuan selama penelitian Perlakuan Parameter Suhu (oC) pH DO (ppm) Amonia (ppm) K+ 26-28 6-7.5 4-5,6 0,0002-0,01 K- 26-28 5,9-6,5 4-5,8 0,0002-0,001 A 26-28 5,7-7 4-5,7 0,0002-0,001 B 26-28 5,6-7 4-5,9 0,0001 C 26-28 5,7-7 4-5,6 0,0002-0,001 D 26-28 5,5-7 4-5,6 0,0001-0,0003 Keterangan :

(K+) Kontrol positif; (K-) Kontrol negatif; (A) ND2 CefR 105 CFU/ml dan P23 CipR 105 CFU/ml; (B) ND2 CefR 103 CFU/ml dan L1k TetR 103 CFU/ml; (C) P23 CipR 104 CFU/ml dan L1k TetR 104

CFU/ml; (D) ND2 CefR 105 CFU/ml, P23 CipR 105 CFU/ml dan L1k TetR 105 CFU/ml.

Pembahasan

Berdasarkan nilai tingkat kelangsungan hidup diketahui bahwa perlakuan pemberian kombinasi probiotik ND2 CefR dan L1k TetR menunjukkan tingkat kelangsungan hidup yang paling tinggi yaitu sebesar 89,33±4,62 yang berbeda nyata (P<0,05) dengan perlakuan lainnya, kecuali dengan perlakuan C 80±4,00. Tingkat kelangsungan hidup paling rendah pada perlakuan kontrol positif yaitu sebesar 54,67±6,11. Tingginya tingkat kelangsungan hidup pada perlakuan B diduga seiring dengan menurunnya jumlah populasi sel A. hydrophila setelah pemberian probiotik sehingga dapat mengurangi tingkat stres pada ikan lele dumbo. Stres pada ikan menyebabkan penurunan pertumbuhan, tingkah laku yang abnormal, penurunan sistem imun ikan dan resistensi terhadap penyakit (Lupatsch

et al. 2009). B. subtilis menghasilkan beberapa zat antimikroba atau produk yang dapat menghambat A. hydrophila antara lain bakteriosin, subtilin, koagulin dan antibiotik surfaktan, iturins dan basilin (Balcazar et al. 2004). Hasil penelitian Septi (2014) menunjukkan bahwa pemberian bakteri L1k 104 CFU/mL dalam media pemeliharaan memberikan kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan harian paling tinggi pada ikan lele dumbo. Menurut hasil penelitian Santoso (2013) probiotik L1k memberikan efek menguntungkan pada inang dengan memperbaiki komposisi indigenous microflora sehingga memberikan dampak kelangsungan hidup yang tinggi pada ikan nila sebagai inang. Tingginya tingkat kelangsungan hidup diduga bahwa seiring dengan menurunnya jumlah bakteri A. hydrophila dalam media budi daya setelah pemberian kedua bakteri probiotik tersebut.

Laju pertumbuhan spesifik ikan lele dumbo selama 28 hari pemeliharaan berdasarkan pengamatan, perlakuan B (1,75±0,08) dan kontrol negatif (1,79±0,18) berbeda nyata (P<0,05) dengan kontrol positif (1,46±0,03) dan perlakuan A (1,48±0,04). Jumlah pakan yang dikonsumsi berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan lele dumbo, selain itu peningkatan pertumbuhan diduga juga disebabkan karena penurunan tingkat stres ikan lele dumbo terhadap kondisi lingkungan, sehingga energi dari pakan yang masuk dalam tubuh ikan sebagian besar diarahkan untuk pertumbuhan. Fu et al. (2007) menyebutkan bahwa energi yang

17 masuk dalam tubuh ikan yang berasal dari pakan akan sebagian besar digunakan untuk metabolisme, sebagian lagi digunakan untuk pertumbuhan dan sisanya dibuang dalam bentuk feses.

Rasio konversi pakan ikan lele dumbo selama penelitian menunjukkan pada kontrol positif (2,73±0,46) berbeda nyata dengan perlakuan lain (P<0,05), namun antar perlakuan probiotik (A, B, C, D) tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan kontrol negatif (1,86±0,51). Effendi (2002) menyatakan bahwa semakin kecil nilai konversi pakan maka semakin efektif pakan yang diberikan. Semakin efektif pakan yang diberikan, akan semakin tinggi nutrien pakan yang tercerna dan semakin besar kemungkinan nutrien tersebut dimanfaatkan oleh ikan untuk pertumbuhannya dan menurunkan porsi nutrien yang akan terbuang ke lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan nilai konversi pakan terkecil pada perlakuan probiotik ND2 CefR dan L1k TetR (1,33±0,1) dan terbesar pada kontrol positif. Hal ini sesuai dengan penelitian Santoso (2013) yang menunjukkan pemberian probiotik proteolitik L1k dapat menurunkan nilai konversi pakan pada ikan nila. Pemberian bakteri proteolitik L1k yang memproduksi enzim protease dalam pakan dapat berperan dalam proses pencernaan dengan memecah ikatan peptida menjadi berbagai asam amino kompleks yang mendukung untuk laju pertumbuhan ikan (Firdaus 2012). Menurut Irianto dan Austin (2002), Bacillus sp. dapat meningkatkan penggunaan pakan dengan menghasilkan enzim protease, lipase dan amilase sehingga memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup.

Kadar hematokrit menunjukkan penurunan pada hari ke 7 dan berangsur naik pada hari ke 28 di mana nilai tertinggi terdapat pada perlakuan B dengan nilai 44±0,00 yang berbeda nyata dengan kontrol positif 28,99±0,59 (P<0,05). Penurunan nilai hematokrit ini diduga karena adanya infeksi yang disebabkan bakteri A. hydrophila di mana bakteri ini mengeluarkan produk ekstraseluler antara lain aerolisin dan hemolisin yang berkaitan dengan tingkat virulensi dari bakteri tersebut (Yousr et al. 2007). Aerolisin dan hemolisin menunjukkan aktivitas hemolisis terhadap eritrosit secara in vitro (Chirila et al. 2008) dan in vivo (Kumar dan Ramulu 2013). Nilai hematokrit pada ikan lele dumbo sehat berkisar antara 30,8% - 45,5% (Bastiawan dkk 2001). Nilai hematokrit yang rendah menunjukkan ikan mengalami anemia. Meningkatnya jumlah hematokrit diduga karena efek dari pemberian probiotik. Hal ini sesuai dengan penelitian Mocanu et al. (2010) yang menyatakan bahwa probiotik dari jenis Bacillus licheniformis dan Bacillus subtilis dapat meningkatkan nilai hematokrit ikan rainbow trout (Oncorhynchus mykiss Walbaum).

Jumlah monosit pada hari ke 7 meningkat pada semua perlakuan, hal ini diduga karena adanya perlakuan pemberian patogen A. hydrophila, sehingga ikan menunjukkan respons terhadap patogen. Peningkatan jumlah monosit pada perlakuan merupakan kondisi respon imun yang alamiah terhadap antigen yang akan dikenali tubuh sebagai benda asing. Penurunan jumlah monosit terjadi mulai hari ke-14 diduga karena sel monosit mulai keluar dari sirkulasi darah, selanjutnya masuk ke jaringan yang terinfeksi dengan berdiferensiasi menjadi makrofag yang berperan dalam memfagosit dan menyajikan antigen kepada sel limfosit. Hal ini sesuai dengan pernyataan Esteban (2012), yaitu pada saat terjadi infeksi oleh benda asing, maka monosit akan bergerak cepat meninggalkan pembuluh darah menuju daerah yang terinfeksi untuk melakukan fagositosis. Jumlah monosit pada

18

perlakuan kontrol positif cenderung stabil dari awal sampai akhir penelitian. Pada perlakuan probiotik jumlah monosit dalam darah mengalami penurunan setelah 14 hari pemberian probiotik. Sel monosit merupakan sel yang berumur pendek, dan perannya akan segera digantikan oleh sistem imun spesifik. Salinas et al. (2005) menyebutkan bahwa pemberian Bacillus subtilis melalui pakan pada ikan gilthead seabream dapat meningkatkan aktivitas fagositosis.

Jumlah neutrofil berangsur meningkat pada hari ke-7, meningkatnya jumlah neutrofil diduga karena ikan menunjukkan respons adanya patogen A. hydrophilla, karena pada saat trerjadi infeksi jumlah neutrofil dalam darah meningkat. Penurunan neutrofil terjadi setelah hari ke-14 sampai akhir penelitian. Hal ini diduga bahwa ikan tidak memerlukan neutrofil dan telah membentuk antibodi dalam tubuhnya, sehingga jumlah neutrofil dalam darah menjadi berkurang dan digantikan sistem imun spesifik olehlimfosit. Menurut Chinabut et al. (1991), neutrofil berfungsi untuk melawan penyakit bersama-sama dengan eosinofil yang disebabkan oleh organisme mikroseluler seperti bakteri dan virus. Sedangkan menurut Brown (2000), peningkatan produksi neutrofil terjadi secara bersamaan dengan kerja neutrofil menuju jaringan daerah infeksi.

Persentase limfosit mengalami penurunan sampai hari ke-7, selanjutnya mengalami kenaikan sampai hari ke-28 pada semua perlakuan, kecuali kontrol negatif yang cenderung stabil. Jumlah limfosit sebelum pemberian probiotik memiliki hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05) pada semua perlakuan. Pada perlakuan probiotik jumlah limfosit dalam darah mengalami peningkatan setelah 14 hari pemberian probiotik. Pada hari ke-21 sampai akhir pemeliharaan nilai limfosit meningkat hal ini dikarenakan limfosit sebagai respon imun spesifik menggantikan peran sistem imun non spesifik oleh monosit dan neutrofil. Fujaya (2004) menyatakan limfosit bukanlah sel yang melakukan aktifitas fagositosis, tetapi memegang peranan penting dalam pembentukan antibodi. Magnadottir (2010) menyatakan bahwa respon imun spesifik oleh limfosit bekerja lebih lambat dibandingkan respon imun non spesifik oleh makrofag.

Aktivitas respiratory burst mengalami peningkatan pada hari ke-7 dan menurun pada hari ke-28. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan B dengan nilai 0,072±0,00 OD dan berbeda nyata (P<0,05) dibandingkan dengan kontrol positif sebesar 0,061±0,00 OD. Produksi oksigen radikal dari fagositosis dalam darah dapat dilihat dengan pewarnaan nitroblue tetrazolium (NBT). Menurut Irianto (2005) NBT akan direduksi oleh formazan pada reaksi dengan radikal oksigen yang diproduksi dari neutrofil dan monosit. Nilai NBT semakin tinggi menunjukkan bahwa produksi radikal oksigen bebas pada aktivitas respiratory burst semakin besar. Peningkatan produksi radikal bebas ini digunakan untuk melawan patogen. Ikan memiliki mekanisme membunuh sel-sel fagosit melalui oksigen bebas dalam vakuola lisosom yang mampu meningkatkan permeabilitas sel bakteri sehingga bisa menyebabkan masuknya substansi dan cairan dalam sel bakteri yang kemungkinan bisa menyebabkan plasmolisis.

Aktivitas lisozim semua perlakuan mengalami penurunan pada hari ke-7 kecuali kontrol negatif. Hal ini diduga karena meningkatnya kepadatan sel A. hydrophila setelah pemberian dalam media budi daya. Nilai aktivitas lisozim mulai meningkat setelah 7 hari pemberian probiotik. Peningkatan aktivitas lisozim berkaitan erat dengan faktor humoral yang dapat meningkatkan aktivitas fagositosis pada ikan (Veersamy et al. 2014). Nilai aktivitas lisozim tertinggi pada

19 perlakuan A (54,94±2,44) diikuti perlakuan C (42,33±016) dan B (35,00±2,67) yang berbeda nyata (P<0,05) dengan kontrol positif (30,06±1,65).

Kepadatan sel bakteri total sampai akhir perlakuan menunjukkan nilai tertinggi pada perlakuan probiotik A (108 CFU/mL) diikuti perlakuan D (107 CFU/mL), C, B dan kontrol positif (105 CFU/mL) dan total kepadatan sel bakteri terendah pada kontrol negatif (104 CFU/mL). Populasi A. hydrophila pada seluruh perlakuan terdeteksi pada awal pengamatan. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri

A. hydrophila merupakan bakteri oportunistik yang dapat ditemukan pada lingkungan perairan (Sharma et al. 2009). Kepadatan sel A. hydrophila total sampai akhir penelitian menunjukkan jumlah tertinggi pada kontrol positif (105 CFU/mL) diikuti kepadatan sel yang sama pada kontrol negatif, perlakuan probiotik A, C dan D (104 CFU/mL), perlakuan B menunjukkan pola penurunan dari kepadatan 104 CFU/mL pad hari ke-7 menjadi 103 CFU/mL pada akhir penelitian, sedangkan pada kontrol positif dan kontrol negatif kepadatan sel bakteri A. hydrophila total cenderung meningkat. Menurut Balcazar et al. 2004, B. subtilis menghasilkan zat antimikroba yang berdampak negatif terhadap A. hydrophila. Total bakteri probiotik ND2 CefR, P23 CipR, L1k TetR, menunjukkan peningkatan sampai akhir penelitian, hal ini dikarenakan pemberian probiotik setiap hari dan menunjukkan bahwa probiotik mampu hidup dan bertahan pada media pemeliharaan. Uddin dan Al-Harbi (2012) menyatakan bahwa jumlah bakteri dalam kolam budi daya tergantung salinitas, suhu, oksigen terlarut, pH, dan total padatan terlarut.

Defoirt et al. (2010) menyatakan bahwa Bacillus anthracis, Bacillus cereus, Bacillus subtilis, dan Bacillus thuringiensis menghasilkan senyawa acyl homoserine lactonase yang dapat mencegah terjadinya quorum sensing dari A. hydrophila, A. salmonicida, Edwardsiella tarda, dan Vibrio salmonicida.

Menurunnya jumlah A. hydrophila diiringi dengan meningkatnya jumlah bakteri probiotik selama pemeliharaan karena bakteri probiotik berkompetisi dengan bakteri patogen dalam mendapatkan ruang dan nutrisi sehingga dapat menghambat pertumbuhan patogen. Sorokulova et al. (2007) menyatakan bahwa probiotik dari golongan Bacillus telah banyak diaplikasikan untuk kepentingan bioteknologi termasuk jenis enzim dan asam amino yang dihasilkan serta produksi antibiotik untuk pengendalian patogen. Stapylococcus lentus merupakan bakteri heterotrof non patogenik, penambahan bakteri heterotrof non patogenik pada media pemeliharaan diduga mampu meningkatkan populasi bakteri total.

Menurut SNI 01-6484.5.2002 (2002) kualitas air selama pemeliharaan menunjukkan kategori layak untuk budi daya ikan lele dumbo. Kandungan amonia pada kontrol positif, kontrol negatif dan perlakuan A cenderung meningkat selama pemeliharaan, nilai amonia tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol positif yaitu 0,01 ppm pada akhir penelitian. Sedangkan pada perlakuan B, C dan D nilai amonia cenderung menurun sampai akhir penelitian dengan konsentrasi amonia terendah pada perlakuan B dan D sebesar 0,0001 ppm. Hal ini diduga karena efek pemberian probiotik L1k pada media pemeliharaan. Menurut Sekar et al. (2012),

Stapylococcus lentus merupakan strain bakteri yang biasa digunakan dalam

bioremediasi limbah industri dan detoksifikasi xenobiotik. Kemampuan

Stapylococcus lentus menghasilkan protease untuk memecah protein juga diduga berperan dalam mendegradasi sisa-sisa pakan dalam media budi daya, sehingga kondisi media budi daya tetap layak untuk pemeliharaan ikan lele dumbo.

20

Sebagai agen biokontrol, probiotik berperan sebagai musuh alami yang mencegah kerusakan yang disebabkan oleh mikroorganisme merugikan sampai batas yang dapat ditoleransi (Nayak 2011). Pemberian bakteri probiotik dalam media pemeliharaan dapat mempengaruhi jumlah komposisi bakteri dalam media terutama bakteri patogen. Sebagai agen bioremediasi, Bacillus sp. dan

Staphylococcus lentus berperan dalam memperbaiki kualitas air dan mengurangi senyawa tidak menguntungkan. Penambahan probiotik melalui media budi daya dapat memainkan peran yang signifikan dalam dekomposisi bahan organik, pengurangan nitrogen dan fosfor serta pengendalian amonia, nitrit dan hidrogen

Dokumen terkait