BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Pembahasan
1. Pengaduan
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa penanganan pengaduan yang dilakukan saat ini kurang efektif, penaganan pengaduan seharusya lebih ditingkatkan dalam menindaklanjuti proses penanganan, terutama dalam bentuk mediasinya yang saat ini sangat kurang diterapkan, dengan adanya kekurangan seharusnya dinas sosial, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur terus berupaya sehingga penanganan pengaduan dapat mencapai proses yang lebih maksimal, masih banyak penerapan proses pengaduan belum sepenuhnya dipahami masyarakat dan masih banyak
kekurangan dalam proses penaganan lainnya seperti pengaduan berbasis online, kurangnya melakukan mediasi terhadap korban dan pelaku. Oleh karena itu adanya perbaikan penaganan dapat mempermudah untuk proses penaganan pengaduan.
Dapat dilihat dari kasus pengaduan dengan jumlah pada Tahun 2017 hingga 2020 mencapai 89 kasus, pengaduan yang diterima seperti KDRT, pelecehan, pencabulan, kekerasan fisik dan penelataran. Pada Tahun 2017 KDRT 1, pelecehan 4, pencabulan 2, kekerasan fisik 3 dan penelantaran 2 terselesaikan dengan baik berjumlah 12 kasus. pada tahun 2018 kasus yang terjadi dapat diselesaikan dengan baik KDRT 3, pelecehan 5, pencabulan 2, kekerasan fisik 2 serta penelantaran 3 berjumlah 15 kasus. pada tahun 2019 terdapat 26 kasus akan tetapi 10 kasus yang belum terselesaikan, KDRT 2, Pelecehan 2, pencabulan 2, kekerasan fisik 2 dan penelantaran 2, sedangkan yang sudah terselesaikan 16 kasus, KDRT 4, pelecehan 3, pencabulan 3, kekerasan fisik 3 dan penelantaran.
pada tahun 2020 kasus yang terselesaikan hanya 20, KDRT 5, pelecehan 5, pencabulan 5, kekerasan fisik 3 dan penelantaran 2. Kasus belum ditagani 16 kasus KDRT 4, pelecehan 3, pencabulan 3, kekerasan fisik 3 dan penelantaran 3.
Dibandingkan dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Rikha Anggraini (2018) menyatakan bahwa progam dinas PPPA secara umum belum berhasil menekan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, kemudian upaya dalam penangananya masih belum maksimal disebabkan oleh jarak rumah penduduk yang masih jarang, tingginya angka kekerasan terhadap
perempuan dan anak di Provinsi Lampung menunjukan adanya kegagalan Dinas PPPA dalam progm pencegahan sehingga perlu upaya yang maksimal.
2. Pendampingan
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa semua bentuk dampingan sudah diberikan untuk kebutuhan korban dan cukup memuasakan bagi masyarakat maupun korban kemampuan yang dimiliki untuk memberikan pendampingan cukup dikuasai oleh pegawai. dampingan saat ini sangat disesuaikan dengan baik, sesuai dengan tujuan yang sudah ditentukan oleh dinas sosial,pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur.
akan tetapi untuk dampingan dari semua kasus belum sepenuhnya korban mendapatkan pendampingan karena yang menjadi hambatan pendampingan yaitu banyaknya jumlah kasus tindak kekerasan bertambah dan kurangnya petugas untuk pendampingan.
Dapat dilihat pada tahun 2017 hingga 2020 mencapai 89 kasus, seperti pendampingan psikologis atau kesehatan untuk kasus KDRT, pelecehan, pencabulan, kekerasan fisik dan penelataran. Pada tahun 2017 pendampingan psikologis dan kesehatan KDRT 2, psikologis dan kesehatan pelecehan 2, psikologis dan kesehatan pencabulan 4, psikologis dan kesehatan kekerasan fisik 3 dan psikologis/ kesehatan penelantaran 1 dapat terselesaikan dengan baik dengan jumlah kasus 12, Pada Tahun 2018 pendampingan psikologis dan kesehatan KDRT 3, Pelecehan 4, pencabulan 2, kekerasan fisik 2 dan penelantaran 4 dapat terselesaikan dengan baik dengan jumlah kasus 15 dan pendampingan sudah diberikan hingga kasus selesai dengan baik, pada tahun
2019 jumlah kasus 26 sedangkan yang diberikan pendampingan psikologis dan kesehatan hanya 16 yaitu KDRT 2, Pelecehan 4, pencabulan 3, kekerasan fisik 2 dan penelantaran 5, terdapat 10 kasus belum diberikan pendampingan KDRT 1, pelecehan 3, pencabulan 2, kekerasan fisik 2 dan penelantaran 2, pada tahun 2020 kasus yang terselesaikan hanya 20 KDRT 4, pelecehan 5, pencabulan 2, kekerasan fisik 4 dan penelantaran 5, sedangkan 16 kasus belum ditagani KDRT 3, pelecehan 5, pencabulan 2, kekerasan fisik 3 dan penelantaran 3. Dibandingkan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan Naomi Narda (2018) menyatakan bahwa kinerja dinas pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, pengendalian Penduduk dan keluarga berencana Kota Padang dalam mengatasi kekerasan terhadap perempuan dan anak belum berjalan dengan baik, karena dalam penanganannya mengalami beberapa kendala yaitu perlunya peningkatan keahlian serta kemampuan kemampuan pegawai, meningkatkan koordinasi dengan intasi terkait, perlunya peningkatan anggaran, peningkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat terkait kekerasan, meningkatkan pegawasan oleh dinas instansi terkait yang terlibat dalam penanganan kasus kekerasan.
3. Rujukan Kasus
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa rujukan kasus untuk korban tindak kekerasan yang dilakukan oleh dinas sosial, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur untuk dilaksanakan dengan baik, akan tetapi masih dapat terjadi kendala yang dirasakan oleh masyarakat dalam penaganan rujukan kasusnya seperti proses pelayanannya yang kurang dimaksimalkan dan kurang cepat sehingga rujukan kasus semakin banyak.
Dapat dilihat pada tahun tahun 2017 hingga 2020 mencapai 89 kasus, seperti KDRT, pelecehan, pencabulan, kekerasan fisik dan penelataran. Pada tahun 2017 jumlah kasus 12 KDRT 1, pelecehan 5, pencabulan 4, kekerasan fisik 1 dan penelantaran 1 dapat diselesaikan dengan baik Pada tahun 2018 jumlah kasus 15 KDRT 2, Pelecehan 5, pencabulan 1, kekerasan fisik 2 dan penelantaran 5 rujukan kasusnya dapat diselesaikan sesuai dengan jumlah kasusnya, pada tahun 2019 jumlah kasus 26 sedangan yang dirujuk hanya 16 kasus KDRT 4, pelecehan 2, pencabulan 2, kekerasan fisik 2 dan penelantaran 6 selebihnya 10 kasus belum ada rujukan kasusnya KDRT 2, pelecehan 4, pencabulan 2, kekerasan fisik 1 dan penelantaran 1, pada tahun 2020 kasus yang terselesaikan untuk rujukan kasusnya hanya 20 kasus KDRT 6, pelecehan 5, pencabulan 5, kekerasan fisik 2 dan penelantaran 2, sedangkan 16 kasus belum ditagani rujukan kasusnya KDRT 2, pelecehan, pencabulan 2, kekerasan fisik 5 dan penelantaran 5.
Dibandingkan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan Naomi Narda (2018) menyatakan bahwa kinerja dinas pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, pengendalian Penduduk dan keluarga berencana Kota Padang dalam mengatasi kekerasan terhadap perempuan dan anak belum berjalan dengan baik, karena dalam penanganannya mengalami beberapa kendala yaitu perlunya peningkatan keahlian serta kemampuan kemampuan pegawai, meningkatkan koordinasi dengan intasi terkait, perlunya peningkatan anggaran, peningkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat terkait kekerasan, meningkatkan pegawasan oleh dinas instansi terkait yang terlibat dalam penanganan kasus kekerasan.
4. Bantuan Hukum
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa dinas sosial, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur telah menjamin bantuan hukum untuk tindak kekerasan, setiap bantuan hukum sudah dilakukan dan disesuaikan dengan baik untuk korban dalam membantu proses bantuan hukum hingga kepihak penegak hukum, bantuan hukum yang diberikan sudah sesuai dengan target meskipun masih ada kendala seperti banyaknya kasus yang terjadi sehingga belum sepenuhnya terproses bantuan hukumnya dan masyarakat banyak menilai seharusanya bantuan hukum dalam memberikan dampingan harus sampai kasus selesai akan tetapi dampingan yang diberikan hanya sampai ketahap pengataran saja dan kurang adanya perhatian atau mempertegas masalah proses bantuan hukum dan melihat apa yang mengakibatkan kasus tindak kekerasan setiap tahunya selalu terjadi dan menigkat.
Dapat dilihat pada tahun tahun 2017 jumlah kasus 12 KDRT 2, pelecehan 2, pencabulan 5, kekerasan fisik 1 dan penelantaran 2 dapat diselesaikan dengan baik dan 2018 jumlah kasus 15 KDRT 4, pelecehan 3, pecabulan 3, kekerasan fisik 4 dan penelantaran 1 bantuan hukumnya dapat diselesaikan sesuai dengan jumlah kasusnya, pada tahun 2019 jumlah kasus 26 sedangkan yang diberi bantuan hukum baru 16 KDRT 4, pelecehan 4, pencabulan 4, kekerasan fisik 2 dan penelantaran 2 dapat diselesaikan dengan baik bantuan hukumnya,kasus selebihnya 10 kasus KDRT 2, pelecehan 3, pencabulan 1, kekerasan fisik 2 dan penelantaran 2 belum ada bantuan hukumnya, pada tahun 2020 kasus yang terselesaikan untuk bantuan hukum kasusnya hanya 20 KDRT 5, pelecehan 3,
pencabulan 3, kekerasan fisik 4 dan penelantaran 5 telah diberikan bantuan hukum, sedangkan 16 kasus KDRT 4, pelecehan 4, pencabulan 2, kekerasan fisik 3 dan penelantaran 3 belum diberikan bantuan hukum dan masih dalam proses.
Dibandingkan dengan penelitian terdahulu Rinaldo Ibnu Awam (2019) menyatakan bahwa peran pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Provinsi Lampung dalam penanganan kasus kekerasan terhadap di bawah umur terdiri atas peran dibidang pencegahan, peran dibidang penanganan dan peran dibidang pemulihan. Pencegahan dilakukan dengan sosialisasi dan koordinasi dengan lembaga-lembaga yang terkait. Pelaksanaan dilakukan melaksanakan pendampingan dan bantuan hukum kepada korban dan pelayanan kesehatan.
faktor-faktor penghambat peran dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Provinsi Lampung dalam penanganan kasus kekerasan terhadap dibawa umur adalah masyarakat yang menganggap kekerasan sebagai cara mendidik anak, sebab meskipun Dinas PPPA Provinsi Lampung telah melaksanakan penaganan kasus kekerasan terhadap anak masalah kekerasan masih terjadi.
5. Pemulangan/Perlindungan.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa pemulangan atau perlindungan sudah diberikan dengan baik, pemulangan/perlindungan dapat dilihat upaya yang sudah dilakukan oleh dinas sosial, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur, akan tetapi dalam mengfungsikan hukum untuk perlindungan sangat kurang, masyarakat mengharapkan perlindungan dalam bentuk hukum harus lebih dimaksimalkan untuk pencegahan tindak kekerasan. Dapat dilihat bahwa pada saat ini yang menjadi kendala dalam
memberikan perlindungan yaitu tidak tersedianya rumah aman, adanya kekurangan seperti menjadi kendala dalam melindungi korban dari tinndak kekerasan. Oleh karena itu dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak telah mengupayakan menyediakan rumah aman untuk melindungi korban dari tindak kekerasan.
Dapat dilihat pada tahun 2017 hingga 2020 mencapai 89 kasus, seperti KDRT, pelecehan, pencabulan, kekerasan fisik dan penelataran. Pada tahun 2017 jumlah kasus 12 KDRT 3, pelecehan 3, pencabulan 4, kekerasan fisik 1 dan penelantaran 1 dapat diselesaikan dengan baik, pada tahun 2018 jumlah kasus 15 KDRT 3, pelecehan 3, pencabulan 4, kekerasan fisik 2 dan penelantaran 3 sudah dipulangkan dan diberi perlindungan dapat sesuai dengan jumlah kasusnya, pada tahun 2019 jumlah kasus 26 sedangkan yang diberi dperlindungan 16 kasus KDRT 7, pelecehan 3, pencabulan 2, kekerasan fisik 2 dan penelantaran 2 selebihnya 10 kasus, KDRT 2, pelecehan 1, pencabulan 2, kekerasan fisik 3 dan penelantaran 2 dalam proses perlindungan, pada tahun 2020 kasus yang baru diberi perlindungan hanya 20 kasus KDRT 6, pelecehan 7, pencabulan 1, kekerasan fisik 3 dan penelantaran 3 sedangkan 16 kasus KDRT 4, pelecahan 4, pencabulan 2, kekerasan fisik 3 dan penelantaran 3 belum diberikan perlindungan dan masih dalam proses.
Dibandingkan dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Rikha Anggraini (2018) menyatakan bahwa progam dinas PPPA secara umum belum berhasil menekan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, kemudian upaya dalam penangananya masih belum maksimal disebabkan oleh
jarak rumah penduduk yang masih jarang, tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Provinsi Lampung menunjukan adanya kegagalan Dinas PPPA dalam progm pencegahan sehingga perlu upaya yang maksimal.
96 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN.
A. KESIMPULAN 1. Pengaduan
Penaganan pengaduan dengan tanggung jawab sepenunhnya, menaganinya dengan cara memproses dan menerima setiap pengaduan yang dilaporkan sesuai dengan standar operasional prosedur, upaya yang dilakukan untuk pencegahnya sudah dioptimalkan dengan adanya pembentukan pendamping P2TP2A yang dibentuk disetiap kecamatan yang ada di Kabupaten Luwu Timur.
2. Pendampingan
Dampingan yang diberikan oleh pegawai kantor dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur yaitu berupa dampingan secara langsung dengan bertujuan untuk membantu setiap korban tindak kekerasan, dengan harapan kinerja yang diberikan dapat memecahkan suatu masalah, dampingan yang diberikan merupakan wadah utama masayarakat Kabupaten Luwu Timur terkhusus untuk korban tindak kekerasan, serta tugas pegawai yaitu untuk menerima dengan kemampuan untuk setiap keluh kesah masyarakat maupun korban.
3. Rujukan kasus
Rujukan kasus yang diberikan oleh melalui P2TP2A dengan cara mekanisme prosedur dan bekerjasama dengan penyelenggara, bantuan yang diberikan sesuai dengan rujukan kasusnya, seperti rujukan kasus yang berbentuk penaganan psikologi maupun pelayanan kesehatan, dalam penanagan yang
diberikan dilakukan oleh pihak penyelenggara yang memiliki kemampuan atau keahlian dalam bidang psikologi maupun kesehatan.
4. Bantuan hukum
Bantuan hukum untuk tindak kekerasan, setiap bantuan hukum sudah disertai dilakukan dengan baik untuk dan membantu bantuan hukum hingga kepihak penegak hukum, bantuan hukum yang diberikan sudah lakukan sesuai dengan tarhget. akan tetapi masyarakat banyak menilai seharusanya bantuan hukum dalam memberikan dampingan harus sampai kasus selesai akan tetapi dampingan yang diberikan hanya sampai ketahap pengataran saja dan kurang adanya perhatian atau mempertegas masalah hukum mengakibatkan kasus tindak kekerasan setiap tahunya selalu terjadi dan menigkat.
5. Pemulangan/perlindungan
Pemulangan atau perlindungan sudah diberikan dengan baik, bentuk kinerja pemulangan/perlindungan dapat dilihat upaya-upaya dan sudah dilakukan, akan tetapi dalam mengfungsikan hukum untuk perlindungan sangat kurang, sehingga dalam hal ini masyarakat mengharapkan perlindungan dalam bentuk hukum harus lebih dimaksimalkan untuk pencegahan tindak kekerasan.
B. SARAN.
Ada beberapa masalah belum bisa terpecahkan. Sehingga peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut:
1. Pengaduan
Penaganan pengaduan yang untuk masalah tindak kekerasan harus lebih ditingkatkan dengan tanggung jawab sepenunhnya, menaganinya dengan cara
memproses dan menerima setiap pengaduan yang dilaporkan sesuai dengan standar operasional prosedur, seharusnya upaya yang dilakukan untuk pencegahnya harus lebih dioptimalkan dengan adanya pembentukan pendamping P2TP2A yang dibentuk disetiap kecamatan yang ada di Kabupaten Luwu Timur 2. Pendampingan
Dinas pembedayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur dalam memberikan pendampingan harus lebih dioptimalkan sehingga korban medapatkan keuntungan dari pendampingan yang telah diberikan.
dampingan yang diberikan yaitu secara langsung dan harus sepenuhnya membantu setiap korban tindak kekerasan, dengan harapan kinerja yang diberikan dapat memecahkan suatu masalah, karena dampingan yang diberikan merupakan wadah utama masayarakat Kabupaten Luwu Timur terkhusus untuk korban tindak kekerasan,serta tugas pegawai yaitu untuk menerima setiap keluh kesah masyarakat maupun korban dengan memberikan dampingan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
3. Rujukan Kasus
Dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur harus lebih memperhatikan rujukan kasus yang ada sehingga masalah tindak kekerasan yang terjadi dapat teratasi dengan baik. rujukan kasus yang diberikan oleh dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur melalui P2TP2A seharusnya dengan melihat cara mekanisme prosedur dan bekerjasama dengan penyelenggara, bantuan yang diberikan harus disesuaikan dengan rujukan kasusnya, seperti rujukan kasus yang berbentuk
penaganan psikologi maupun pelayanan kesehatan, dalam penanagan yang diberikan dilakukan harus melalui pihak penyelenggara yang memiliki kemampuan atau keahlian dalam bidang psikologi maupun kesehatan.
4. Bantuan hukum
Bantuan hukum untuk kasus tindak kekerasan sehingga adanya bantuan hukum yang kuat masalah tindak kekerasan dapat berkurang. Bantuan hukum untuk tindak kekerasan, setiap bantuan hukum harus sudah disertai dengan penuh tanggung jawab untuk bantuan hukumnya sehingga bantuan hukum yang diberikan sudah lakukan sesuai dengan target. akan tetapi masyarakat banyak menilai seharusanya bantuan hukum dalam hal ini dalam memberikan dampingan harus lebih ditingkatkan hingga kasus selesai akan dan tidak hanya sampai ketahap pengataran saja, harus memberikan perhatian atau mempertegas masalah hukum yang mengakibatkan kasus tindak kekerasan setiap tahunya selalu terjadi dan menigkat.
5. Pemulangan/perlindungan
Perlindungan yang diberikan sudah cukup baik akan tetapi masih banyak kasus yang terabaikan perlindunganya sehinnga dalam hal ini harus lebih memperhatikan untuk perlindungan yang diberikan kepada korban tindak kekerasan. Pemulangan atau perlindungan harus diberikan dengan baik, bentuk kinerja pemulangan/perlindungan harus dilakukan dengan baik sehingga adanya pencegahan untuk tindak kekerasan, harus mengutamakan fungsi hukum untuk perlindungan, sehingga dalam hal ini dapat memberikan perlindungan yang
benar-benar mencegah tindak kekerasan dalam bentuk hukum, harus lebih dimaksimalkan untuk pencegahan tindak kekerasan.
101
DAFTAR PUSTAKA.
Abdullah, M. 2014. Manajemen dan evaluasi kinerja karyawan. Yogyakarta:
Penerbit Aswaja Pressindo
Anggraini, Rikha 2018 Skripsi. Analisis Kinerja Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Provinsi Lampung Dalam Pengentasan Kasus Kekerasan Anak Di Bawah Umur.Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Lampung.
Anonim. 2007. Pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan.Pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak (P2TP2A) Provinsi DKI Jakarta.
Awam Rinaldo Ibnu 2019 skripsi.Peran Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Provinsi Lampung Dalam Penanganan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Dibawa Umur. Fakultas Hukum Universitas Lampung.
Dharma, Surya. 2009. Kinerja dan pengembangan kompetensi SDM. Cetakan pertama .pustaka pelajar. Yogyakarta.
Dharma, Surya 2010.Manajemen kinerja.Yogyaakarta.Pustaka pelajar.
Http://infolutim.com/tekan-angka-kekerasan-dinas-sosial-p3a-luwu-timur-bekali-pelatihan-perempuan-dan-anak. diakses pada tanggal 25 november 2017.
Http://jdih.luwutimurkab.go.id/publication/download/peraturan-bupati-luwu-timur-nomor-6-tahun-2013. diakses pada tanggal 25 november 2017.
Https://inputrakyat.co.id/dinas-sosial-p3a-luwu-timur-tingkatkan-kapasitas-pengelola-p2tp2a. diakses pada tanggal 11 oktober 2017.
Ilham, Suhastini. 2019. Efektivitas Peran Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Dalam Mencegah Tindak Kekerasan Pada Perempuan Dan Anak Di Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat. Jurnal.
Huraerah, Abu. 2006. Kekerasan terhadap anak. Nuansa. Jakarta.
Kuncoro, Wahyu. 2010. Solusi cerdas menghadapi kasus keluarga. Raih asa sukses. Jakarta.
Mahsun, M. 2006. Pengukuran Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta
Mangkunegara, Prabu anwar A.A 2010. Evaluasi kinerja Sdm. Bandung: PT Refika Adiatama.
Narda, Naomi 2018 Skripsi. Kinerja Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana Dalam Mengatasi Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Anak.Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Andalas.
Peraturan mentri negara Nomor 21 tahun 2008 tentang paduan penguatan kelompok deasawisma untuk pencegahan dan penanganan dini tindak kekerasan terhadap anak. Jakarta. Peraturan mentri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak republic Indonesia.
Peraturan Menteri Negara Nomor 35 tahun 2012 tentang pedoman penyusunan standar operasional prosedur adminstrasi pemerintahan. Jakarta Peraturan menteri pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi republik Indonesia.
Peraturan Bupati Nomor 6 tahun 2013 tentang pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Peraturan Bupati Kabupaten Luwu Timur.
Saraswati, Rika 2006, perempuan dan penyelesaian kekerasan dalam rumah tangga. PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Sedamayanti. 2011. Tata Kerja Dan Produktivitas Kerja. Bandung: Mandar maju.
Soetodjo, Wagianti. 2010. Hukum pidana anak. Refika Adiatama. Bandung.
Suyanto, Bagong. 2007. Tindak kekerasaan mengenai anak-anak. Lutfansyah Mediatama. Surabaya.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Undang-undang Nomor 35 tahun 2014.Tentang perlindungan anak. Jakarta.
Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia.
Wibowo. 2011 . Manajemen Kinerja.Jakarta: Rajawali Pers.
Wibowo. 2016. Manajemen kinerja. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Yusran. 2020. Kinerja Pegawai Dalam Proses Perencanaan Pembangunan Partisipatif Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian Dan Pengembangan Daerah Di Kabupaten Jeneponto. Jurnal.
L
A
M
P
I
R
A
N
Dokumentasi
( Dokumentasi 1): Wawancara Pada Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Kabupaten Luwu Timur
( Dokumentasi 2). Wawancara Pengambilan Data-data pada kasi pengolahan data.
(Dokumentasi 3). Wawancara pada bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur.
(Dokumentasi 4). Wawancara pada pegawai dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur sekaligus kepala seksi Pusat pelayanan terpadu pemberdayaan Perempuan dan anak (P2TP2A)
( Dokumentasi 5.) (Wawancara pada pegawai dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten luwu timur sekaligus pengurus P2TP2A)
( Dokumentasi 6). Ruang Tunggu dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur.
( Dokumentasi 7). sarana dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur
( dokumentasi 8.) Profil Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Kabupaten Luwu Timur
(dokumentasi 9.) tempat parkiran dinas sosial, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kabupaten Luwu Timur.
DAFTAR RIWAYAT
Depi Nuryani atau biasa disapa Devi, Lahir di Mulyasri pada tanggal 19 September 1997. Anak pertama dari satu bersaudara yang merupakan putri tunggal dari Ayahanda Suradi dan Ibunda Suminten. Penulis menempuh pendidikan Sekolah Dasar pada tahun 2004 di SDN 178 Tuban Kabupaten Luwu Timur, dan tamat pada tahun 2010. Kemudian pada tahun 2010 penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMPN 1 Tomoni dan selesai pada tahun 2013, dengan semangat yang tinggi penulis kemudian melanjutkan lagi pendidikan ke jenjang Sekolah Menegah Atas ( SMA) pada tahun 2013 dan selesai pada tahun 2016. karena penulis memiliki keinginan yang kuat untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi maka pada tahun 2016 penulis melanjutkan pendidikan perkuliahan dengan mengambil jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik di Universitas Muhammadiyah Makassar progam Stara Satu ( S1).
Berkat petunjuk serta pertolongan dari Allah SWT, usaha dan doa kedua orang tua dalam menjalani aktivitas akademik di perguruan tinggi Universitas Muhammadiyah Makassar, Allhamdullilah penulis dapat menyelesaikan tugas akhir skripsi dengan Judul” Kinerja Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Di Kabupaten Luwu Timur”.