Hasil Ekstraksi P. aduncum
Hasil ekstraksi buah P. aduncum dari 10 lokasi berbeda di Provinsi Riau yang menggunakan pelarut etil asetat berkisar dari 8.64% sampai 15.18% dengan rata-rata 11.55%, sementara hasil ekstraksi daun berkisar dari 9.37% sampai 14.56% dengan rata-rata 10.99% (Tabel 2). Ekstrak buah berbentuk pasta dan berwarna cokelat, sementara ekstrak daun berbentuk pasta yang lebih kental dan berwarna hijau pekat.
Hasil ekstraksi tertinggi untuk buah P. aduncum berasal dari Kecamatan Pangkalan Kerinci sebesar 15.18% dan hasil terendah berasal dari Kecamatan XIII Koto Kampar sebesar 8.64 %, sedangkan hasil ekstraksi tertinggi untuk daun P. aduncum berasal dari Kecamatan Pangkalan Kerinci sebesar 14.56% dan hasil terendah berasal dari Kecamatan Kuantan Tengah (9.37%) (Tabel 2). Tabel 2 Hasil ekstraksi buah dan daun P. aduncum menggunakan etil asetat dari
10 lokasi berbeda dan faktor retensi komponen ekstrak
Asal bahan ekstrak
Hasil ekstrak (%)
Komponen pada TLC
Buah Daun Buah Daun
Kampar Bangkinang Barat A 11.90 9.49 0; 0.1; 0.3;0.5;0.8 0; 0; 0.2; 0.5; 0.8 Bangkinang Barat B 12.45 10.08 0; 0.1; 0.3;0.5;0.8 0; 0.1; 0.2; 0.3; 0.5; 0.8 XIII Koto Kampar 8.64 11.84 0; 0.1; 0.2;0.5;0.8 0; 0.1; 0.2; 0.3; 0.5; 0.8 Kota Pekanbaru 12.66 10.93 0; 0.1; 0.3;0.5;0.8 0; 0.1; 0.2; 0.4; 0.5; 0.8 Pelalawan Pangkalan Kerinci 15.18 14.56 0; 0.1; 0.3;0.5;0.8 0; 0.1; 0.2; 0.3; 0.5; 0.8 Pelalawan 10.64 9.74 0; 0.1; 0.3;0.5;0.8 0; 0.1; 0.2; 0.4; 0.5; 0.8 Indragiri Hulu Kelayang 9.96 11.74 0; 0.1; 0.3;0.5;0.8 0; 0.1; 0.2; 0.5; 0.8 Peranap 10.92 11.08 0; 0.1; 0.3;0.5;0.8 0; 0.1; 0.2; 0.4; 0.5; 0.8 Kuantan Singingi Cerenti 10.98 10.16 0; 0.1; 0.2; .5;0.8 0; 0.1; 0.2; 0.4; 0.5; 0.8 Kuantan Tengah 12.12 9.37 0; 0.1; 0.5;0.8 0; 0.1; 0.2; 0.3; 0.5; 0.8 Bogor (pembanding) 0; 0.1; 0.2; 0.3; 0.5; 0.8 Minyak atsiri P. aduncum 0; 0.8
Pemeriksaan kualitatif komponen ekstrak etil asetat daun dan buah P. aduncum yang berasal dari 10 lokasi berbeda dan minyak atsiri buah P. aduncum sebagai pembanding dilakukan dengan metode TLC (thin layer chromatography). Hasil pemeriksaan menunjukkan komponen setiap ekstrak terpisah dengan pola yang serupa (Gambar 3).
14
Jumlah bercak pada ekstrak daun P. aduncum lebih banyak dibandingkan dengan jumlah bercak pada ekstrak buahnya. Ekstrak daun terpisah menjadi 5 bercak dengan Rf antara 0.1 hingga 0.8, sedangkan ekstrak buah terpisah menjadi 4 bercak dengan Rf antara 0.1 hingga 0.8. Sebagai pembanding, digunakan minyak hasil penyulingan buah P. aduncum yang hanya memiliki satu bercak dengan Rf 0.8 (Tabel 2 dan Gambar 3).
Minyak atsiri buah P. aduncum hanya memiliki satu bercak yang terdapat pada bagian atas pelat yang mengandung dilapiol 76% (Lina EC 2013, komunikasi pribadi), sehingga dapat diketahui posisi dilapiol ekstrak yang lainnya, yaitu sejajar dengan posisi dilapiol pada minyak atsiri P. aduncum (Gambar 3).
Gambar 3 Pemeriksaan kualitatif ekstrak P. aduncum dan pembanding dengan TLC gel silika. A (daun Bangkinang Barat A), B (daun Bangkinang Barat B), C (daun XIII Koto Kampar), D (daun Kota Pekanbaru), E (daun Pangkalan Kerinci), F (daun Pelalawan), G (daun Kelayang), H (daun Peranap), I (daun Cerenti), J (daun Taluk Kuantan), K (daun Bogor), L (buah Bangkinang Barat A), M (buah Bangkinang Barat B), N (buah XIII Koto Kampar), O (buah Kota Pekanbaru), P (buah Pangkalan Kerinci), Q (buah Pelalawan), R (buah Kelayang), S (buah Peranap), T (buah Cerenti), U (buah Taluk Kuantan), *Atsiri (Dilapiol 76%).
Uji Mortalitas Larva C. pavonana
Secara umum hasil pada uji pendahuluan menunjukan bahwa ekstrak buah P. aduncum mengakibatkan kematian larva C. pavonana lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak daun. Ekstrak buah, 0.2% menyebabkan kematian larva pada kisaran 44.4% hingga 100%, sedangkan ekstrak daun 0.25% hanya menyebabkan kematian larva pada kisaran 13.3% hingga 93.3%. Perlakuan ekstrak buah P. aduncum berasal dari Pelalawan mengakibatkan mortalitas tertinggi yaitu mencapai 100%, sedangkan mortalitas terendah 44.4% berasal dari Pangkalan Kerinci (Tabel 3).
Konsentrasi untuk uji lanjut ditentukan dari hasil uji pendahuluan, yaitu ekstrak 0.2% untuk pengujian ekstrak buah dan 0.25% untuk pengujian ekstrak daun yang dapat mematikan larva uji ≥ 80%. Adapun ekstrak sirih hutan yang mematikan ≥ 80% serangga uji adalah ekstrak yang berasal dari Bangkinang Barat A (buah 84.4%, daun 86.7%), Bangkinang Barat B (daun 80%), XIII Koto
*
15 Kampar (buah 97.8%), Kota Pekanbaru (buah 95.6%), Pelalawan (buah 100%, daun 93.3%), Peranap (daun 80%) dan Cerenti (buah 100%).
Tabel 3 Mortalitas larva C. pavonana yang diberi perlakuan 21 ekstrak P. aduncum a.
Asal bahan ekstrak Mortalitas larva C. pavonana (%) ± SD
Buahb Daunb
Kampar
Bangkinang Barat A 84.4 ± 4.1 86.7 ± 1.7 Bangkinang Barat B 64.4 ± 3.1 80.0 ± 5.2 XIII Koto Kampar 97.8 ± 0.6 48.9 ± 6.8
Kota Pekanbaru 95.6 ± 1.2 13.3 ± 1.0 Pelalawan Pangkalan Kerinci 44.4 ± 4.5 28.8 ± 2.1 Pelalawan 100.0 ± 0.0 93.3 ± 1.0 Indragiri Hulu Kelayang 51.1 ± 3.1 42.2 ± 1.0 Peranap 71.1 ± 4.2 80.0 ± 4.2 Kuantan Singingi Cerenti 100.0 ± 0.0 28.9 ± 2.5 Kuantan Tengah 57.8 ± 3.5 33.3 ± 4.4 Bogor (pembanding) 53.3 ± 3.3 a
Data mortalitas pada 96 jam setelah perlakuan
b
Buah pada konsentrasi 0.20%. Daun pada konsentrasi 0.25%
Tabel 4 Penduga parameter toksisitas sembilan ekstrak P. aduncum terhadap larva C. pavonanaa Asal ekstrak a ± GBb b ± GBb LC50 (%) LC95 (%) Daun Bangkinang Barat A 5.699 ± 0.507 6.883 ± 0.645 0.149 0.258 Bangkinang Barat B 8.265 ± 0.896 10.966 ± 1.233 0.176 0.249 Pelalawan 6.040 ± 0.491 7.879 ± 0.652 0.171 0.277 Peranap 3.897 ± 0.380 5.613 ± 0.536 0.202 0.397 Buah Bangkinang Barat A 7.812 ± 0.697 9.141 ± 0.827 0.140 0.212 XIII Koto Kampar 7.540 ± 0.667 8.680 ± 0.797 0.135 0.209 Kota Pekanbaru 11.967 ± 1.502 15.308 ± 1.950 0.165 0.211 Pelalawan 5.231 ± 0.475 5.839 ± 0.576 0.127 0.243 Cerenti 6.904 ± 0.627 7.916 ± 0.746 0.134 0.216
a
Data mortalitas pada 72 jam setelah perlakuan
b
a:intersep regresi probit. b: kemiringan regresi probit.
Berdasarkan hasil analisis probit (Tabel 4), ekstrak P. aduncum yang paling aktif adalah ekstrak buah dari XIII Koto Kampar (LC95 0.209%) dan yang terendah adalah ekstrak daun Peranap (LC95 0.397%). Hasil analisis probit tersebut dijadikan acuan untuk melakukan uji lainnya, yang mana dipilih empat
16
ekstrak yang memiliki toksisitas paling tinggi yaitu ekstrak Buah XIII Koto Kampar, ekstrak Buah Bangkinang Barat A, ekstrak Buah Pekanbaru dan ekstrak Buah Cerenti.
Gambar 4 memperlihatkan pola perkembangan mortalitas larva C. pavonana yang diberi perlakuan sembilan ekstrak P. aduncum. Mortalitas larva terlihat beragam namun menunjukan pola perkembangan yang sama. Mortalitas larva C. pavonana mulai terjadi pada hari pertama setelah perlakuan. Pada hari kedua, kematian larva meningkat pada semua konsentrasi terutama pada konsentrasi 0.3% dan 0.25% yaitu mencapai 100%.
Tingkat kematian larva C. pavonana pada 24 JSP masih rendah pada setiap lokasi kecuali untuk ekstrak buah Bangkinang Barat A, ekstrak buah XIII Koto Kampar, dan ekstrak buah Rantau Baru, dimana kematian serangga uji > 80%. Peningkatan mortalitas serangga uji mulai tampak pada 48 JSP dan meningkat dengan makin besarnya konsentrasi yang diuji. Pada 48 JSP perlakuan dengan menggunakan ekstrak daun yang berasal dari lokasi Bangkinang Barat A, Pelalawan, dan Peranap pada konsentrasi tertinggi mortalitas serangga uji > 80% sedangkan pada ekstrak daun Bangkinang Barat B, Buah Bangkinang Barat A, buah XIII Koto Kampar, buah Pekanbaru, buah Pelalawan, dan buah Cerenti pada konsentrasi tertinggi mencapai 100%.
Pengaruh Ekstrak terhadap Aktivitas Makan Larva C. pavonana Perlakuan ekstrak buah dari empat lokasi pada selang konsentrasi yang diuji menunjukan aktivitas makan larva tidak berbeda nyata pada setiap lokasi dan konsentrasi. Perlakuan aktivitas penghambat makan pada ekstrak P. aduncum Buah Bangkinang Barat A, XIII Koto Kampar dan Buah Cerenti semakin meningkat dengan meningkatnya konsentrasi, sedangkan pada ekstrak P. aduncum buah Pekanbaru, aktivitas penghambat makan tidak menunjukan kecenderungan terpaut konsentrasi, dimana penghambatan makan pada LC25
lebih besar dari pada perlakuan LC50 (Tabel 5).
Tabel 5 Pengaruh ekstrak P. aduncum dari empat lokasi di Riau terhadap aktivitas makan larva C. pavonana
Lokasi asal P. aduncum LAK (mm2) LAT (mm2) HM (%) Buah Bangkinang Barat A LC25 88.65 45.90 31.77a
LC50 89.25 38.90 39.29a
Buah XIII Koto Kampar LC25 71.60 48.48 19.26a
LC50 89.83 35.38 43.49a
Buah Pekanbaru LC25 94.22 33.18 47.92a
LC50 77.20 51.25 20.20a
Buah Cerenti LC25 76.08 50.00 20.68a
LC50 93.98 37.05 43.45a
LAK = rataan luas daun kontrol yang dimakan, LAT = rataan luas daun perlakuan yang dimakan
HM = penghambatan makan, rataan yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata
17
Gambar 4 Perkembangan mortalitas larva C. pavonana yang diberi perlakuan ekstrak daun P. aduncum dari Bangkinang Barat A (A), Bangkinang Barat B (B), Rantau Baru (C), Peranap (D), buah dari Bangkinang Barat A (E), XIII Koto Kampar (F), Pekanbaru (G), Pelalawan (H), Cerenti (I).
18
Uji Persistensi dan Fitotoksisitas Ekstrak P. aduncum pada Tanaman Brokoli
Perlakuan dari empat lokasi ekstrak buah P. aduncum pada 0 HSP (hari setelah perlakuan)dapat menyebabkan kematian larva hingga 100% pada setiap konsentrasi dan berbeda nyata terhadap kontrol. Pada 1 dan 2 hari setelah aplikasi tidak ada larva yang mati pada ekstrak yang berasal dari Pekanbaru dan Cerenti. Ekstrak pada lokasi Bangkinang Barat A jumlah larva yang mati secara statistik tidak berbeda nyata dengan ekstrak yang berasal dari lokasi XIII Koto Kampar tetapi Ekstrak XIII Koto Kampar berbeda nyata dengan lokasi Pekanbaru dan Cerenti. Pada hari ke-3 dan ke-5 tidak ada lagi larva yang mati pada setiap lokasi dan pada setiap konsentrasi (Tabel 6).
Tabel 6 Mortalitas larva C. pavonana akibat perlakuan dengan residu ekstrak P. aduncum dari empat lokasi di Riaua
Lokasi asal P. aduncum
Rata-rata ± SB persentase mortalitas larva pada perlakuan residu umur n harib
0 1 2 3 5 Kontrol 0 ± 0b 0 ± 0b 0 ± 0b 0 ± 0 0 ± 0 Bangkinang Barat A LC95 100 ± 0a 5 ± 8.7ab 5 ± 8.7ab 0 ± 0 0 ± 0 2 x LC95 100 ± 0a 6.5 ± 5.3ab 6.5 ± 4.6ab 0 ± 0 0 ± 0 XIII Koto kampar LC95 100 ± 0a 0 ± 0b 0 ± 0b 0 ± 0 0 ± 0 2 x LC95 100 ± 0a 11 ± 7.6a 8.3 ± 8.6a 0 ± 0 0 ± 0 Pekanbaru LC95 100 ± 0a 0 ± 0b 0 ± 0b 0 ± 0 0 ± 0 2 x LC95 100 ± 0a 0 ± 0b 0 ± 0b 0 ± 0 0 ± 0 Cerenti LC95 100 ± 0a 0 ± 0b 0 ± 0b 0 ± 0 0 ± 0 2 x LC95 100 ± 0a 0 ± 0b 0 ± 0b 0 ± 0 0 ± 0 a
Jumlah awal serangga uji pada setiap perlakuan sebanyak 75 larva instar II C. pavonana. Mortalitas pada 72 JSP.
b
Untuk setiap perlakuan, nilai rata-rata pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji Duncan (α = 5%)
Hasil pengujian pengaruh fitotoksik ekstrak terhadap tanaman brokoli pada pengamatan 0, 1, 2, 3, dan 5 hari setelah perlakuan (HSP) menunjukan bahwa keempat ekstrak dan kontrol tidak memperlihatkan gejala fitotoksik (Gambar 5). Faktor curah hujan yang memberikan pengaruh persistensi insektisida diabaikan dalam penelitian ini, karena tanaman yang dipaparkan diberi naungan apabila turun hujan untuk mengetahui ketahanan insektisida selama pemaparan 5 hari dibawah sinar cahaya matahari.
19
Gambar 5 Pengamatan gejala fitotoksik pada daun brokoli yang diberi perlakuan ekstrak P. aduncum asal Bangkinang Barat A (A), XIII Koto Kampar (B), Pekanbaru (C) dan Cerenti (D)
Pembahasan Umum
Hasil ekstraksi daun P. aduncum yang berasal dari 10 lokasi di Provinsi Riau secara rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan hasil ekstraksi buahnya. Hasil ekstraksi daun dan buah tertinggi didapatkan pada sampel yang berasal dari daerah Pangkalan Kerinci. Pangkalan Kerinci merupakan daerah yang memiliki ketinggian paling rendah (18 meter di atas permukaan laut) di antara daerah-daerah yang lain dan selalu mendapat luapan air sungai. Walaupun hasil ekstraksinya paling tinggi, mortalitas larva C. pavonana yang diberi perlakuan ekstrak yang berasal dari kecamatan tersebut menunjukan paling rendah dibandingkan dengan daerah lainnya yaitu 44.4% untuk ekstrak buah dan 28.8% untuk ekstrak daun. Pada Kecamatan XIII Koto Kampar yang memiliki ketinggian tertinggi yaitu 214 m dpl hasil ekstraksi sirih hutan hanya 8.64% untuk buah dan 11.84% untuk daun tetapi mortalitas larva C. pavonana yang diberi perlakuan ekstrak buahnya mencapai 97.8%.
Perlakuan dengan ekstrak buah P. aduncum mengakibatkan kematian larva C. pavonana yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak daunnya, kecuali pada ekstrak yang berasal dari Kecamatan Bangkinang Barat A dan Bangkinang Barat B. Perlakuan dengan ekstrak buah 0.2% dapat menyebabkan kematian larva dari 44.4% hingga 100% sedangkan perlakuan dengan ekstrak daun 0.25% hanya dapat menyebabkan kematian larva dari 13.3% hingga 93.3% (Tabel 2). Menurut Dadang dan Prijono (2008) senyawa metabolit sekunder yang dapat berfungsi sebagai protektan (pelindung) terkadang lebih banyak pada bagian biji/buah dibandingkan pada daun. Perlakuan dengan ekstrak daun dan buah dari Bangkinang Barat A dan Bangkinang Barat B menghasilkan mortalitas larva C. pavonana lebih tinggi pada ekstrak daun. Hal ini diduga kemungkinan buah yang berasal dari dua kecamatan ini berumur muda sehingga mortalitas lebih tinggi pada esktrak daun.
Pada pemeriksaan kualitatif komponen ekstrak, jumlah bercak yang terdapat pada daun juga lebih banyak dari pada bercak yang terdapat pada buahnya, namun berpola sama. Jika dibandingkan dengan minyak atsiri buah P.
A. 2 x LC95 5 HST B. LC95 5 HST
A. LC95 5 HST B. 2 x LC95 5 HST
C. 2 x LC95 5 HST C. 2 x LC95 5 HST
20
aduncum yang hanya memiliki satu bercak dengan kandungan dilapiol sebesar 76%. Hasyim (2011) melaporkan komponen utama fraksi teraktif hasil kromatografi kolom ekstrak n-heksana buah sirih hutan diduga mengandung dilapiol (68.8%), miristisin (4.87%), β-sitosterol (3.24%), dan piperiton (2.53%).
Berdasarkan hasil uji pendahuluan ekstrak P. aduncum terhadap larva C. pavonana dapat diketahui bahwa P. aduncum yang berasal dari Provinsi Riau layak dijadikan sebagai insektisida nabati. Dadang dan Prijono (2008) menyatakan bahwa insektisida nabati yang diekstrak dengan pelarut organik dinyatakan memiliki potensi yang baik bila pada konsentrasi ≤ 1% dapat mengakibatkan mortalitas serangga uji ≥ 80%. Hasyim (2011) melaporkan mortalitas larva C. pavonana yang diberi perlakuan ekstrak n-heksana P. aduncum pada konsentrasi 0.20% mencapai lebih dari 95%. Prijono (1999) menambahkan penggunaan ekstrak di lapangan pada konsentrasi lebih besar dari 1% untuk ekstrak suatu bahan tumbuhan dengan pelarut organik biasanya kurang layak secara ekonomi maupun ekologi seperti fitotoksik dan bersifat racun terhadap musuh alami.
Dari dua puluh ekstrak P. aduncum terdapat sembilan ekstrak yang pada konsentrasi 0.20% untuk buah dan 0.25% untuk daun mematikan serangga uji ≥80%. Adapun ekstrak tersebut berturut-turut yang memiliki toksisitas tertinggi adalah ekstrak buah XIII Koto Kampar, buah Pekanbaru, buah Bangkinang Barat A, buah Cerenti, buah Rantau Baru, daun Bangkinang Barat B, daun Bangkinang Barat A, daun Rantau Baru dan daun Peranap. Perkembangan larva C. pavonana yang diberi perlakuan ekstrak P. aduncum dari sembilan lokasi memperlihatkan pola yang sama, dimana dengan semakin tingginya konsentrasi maka persentase mortalitas larva juga meningkat. Dari sembilan ekstrak di atas, empat ekstrak tertinggi dipilih untuk uji lanjut. Toksisitas ekstrak P. aduncum dari masing-masing lokasi berbeda, perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan kandungan senyawa aktif pada P. aduncum, dimana kandungan senyawa aktif suatu bahan dipengaruhi oleh sifat genetika tanaman, kondisi tanah, jenis vegetasi dan iklim dilokasi tempat tumbuh tanaman (Leatemia dan Isman 2004; Kaufman et al. 2006).
Ekstrak buah P. aduncum yang berasal dari Bangkinang Barat A, XIII Koto Kampar dan Cerenti menunjukan peningkatan efek penghambat makan dengan meningkatnya konsentrasi. Pada konsentrasi yang lebih tinggi sepertinya serangga uji mengenali senyawa aktif yang terdapat pada pakan yang tidak dibutuhkan oleh tubuh sehingga serangga uji tidak mengonsumsi pakan yang diberikan. Kemungkinan lain serangga uji mengetahui racun pada saat mengonsumsi sehingga secara perlahan-lahan berhenti makan. Sedangkan pada ekstrak buah Pekanbaru efek penghambat makan tidak terpaut konsentrasi. Menurut Surahmat (2002) penghambat makan yang tidak terpaut konsentrasi tersebut kemungkinan karena larva berhenti makan setelah banyaknya ekstrak yang termakan mencapai jumlah tertentu dan tidak terpengaruh oleh peningkatan konsentrasi ekstrak. Lina et al (2010) melaporkan formulasi buah melur 20EC dapat menghambat makan larva C. pavonana hingga 100% pada LC85,
sedangkan pada LC5 justru menimbulkan efek perangsang makan. Hal ini mempertegas adanya efek penghambat makan primer dimana respon alat indra pendeteksi zat penghambat makan bekerja sehingga serangga mempersingkat atau menghentikan aktivitas makannya. Pada konsentrasi rendah efek
21 penghambat makan tidak terdeteksi oleh serangga akibatnya justru merangsang makan (Zarkani 2008).
Pada uji residu ekstrak P. aduncum, penurunan mortalitas larva C. pavonana pada 1, 2, 3 dan 5 HSP terlihat nyata. Pada ekstrak buah Bangkinang Barat, masih terdapat residu ekstrak P. aduncum pada 1 HSP dan 2 HSP yang dapat dilihat dari mortalitas larva C. pavonana walaupun persentase mortalitas sangat rendah. Pada ekstrak buah XIII Koto Kampar residu P. aduncum lebih tinggi dari ekstrak buah Bangkinang Barat A. Hal ini terlihat dengan lebih tingginya persentase mortalitas larva C. pavonana pada 2 x LC95, sedangkan pada ekstrak buah P. aduncum asal Pekanbaru dan Cerenti residu ekstrak P. aduncum tidak terlihat sama sekali pada 1, 2, 3 dan 5 HSP.
Penurunan mortalitas larva uji pada 1, 2, 3, dan 5 HSP disebabkan karena rendahnya residu senyawa aktif yang tertinggal pada daun perlakuan setelah penyemprotan. Rendahnya senyawa aktif yang terdapat pada daun perlakuan dapat disebabkan oleh banyak faktor di antaranya terdegradasinya bahan aktif oleh faktor lingkungan terutama cahaya matahari. Salah satu sifat insektisida nabati adalah bahan mudah terurai sehingga persistensi insektisida di lapangan menjadi rendah (Prijono 1999; Dadang dan Prijono 2008). Scott et al. (2003, 2004) melaporkan penurunan residu senyawa murni piperin lebih dari 50% akibat penyinaran matahari selama 1 jam. Arneti (2012) melaporkan bahwa formulasi ekstrak buah P. aduncum 20 EC dan 20 WP setelah diaplikasikan pada tanaman brokoli persistensinya singkat dan hanya bertahan 3 hari di lapangan. Prijono (1999) mengemukakan beberapa kekurangan insektisida nabati, antara lain persistensi insektisida nabati rendah, sehingga pada tingkat populasi hama yang tinggi, untuk mencapai keefektifan pengendalian yang maksimum diperlukan aplikasi yang berulang-ulang.
Tidak terdapatnya gejala fitotoksik pada perlakuan kemungkinan disebabkan rendahnya kandungan senyawa penyebab fitotoksik dan jaringan daun tanaman brokoli yang kuat. Menurut Syahputra (2007) bila suatu ekstrak tidak menyebabkan gejala fitotoksik atau menyebabkan gejala fitotoksik namun dalam batas yang dapat ditolerir tanaman, sediaan tumbuhan tersebut dapat langsung digunakan setelah disiapkan. Namun bila ekstrak tersebut menunjukan fitotoksik yang parah, perlu dilakukan pemisahan komponen penyusun ekstrak.
Arneti (2012) melaporkan formulasi ekstrak buah P. aduncum 20EC menyebabkan fitotoksik sangat ringan, sedangkan formulasi ekstrak 20WP tidak menimbulkan gejala fitotoksik.
Dari hasil semua uji yang dilakukan dapat diketahui bahwa aktivitas setiap ekstrak P. aduncum terhadap larva C. pavonana dari setiap lokasi berbeda. Aktivitas ekstrak yang berasal dari daerah yang lebih tinggi dengan kondisi tanaman kurang air cenderung lebih toksik dan ekstrak yang berasal dari lokasi yang habitat tumbuhnya sirih hutan juga lebih toksik dibandingkan daerah yang tumbuh dengan tumbuhan lain. Menurut Kaufman et al.(2006), perbedaan sifat bahan tumbuhan dapat disebabkan oleh keragaman sifat genetika dan umur tumbuhan, kondisi tanah dan vegetasi di sekitar lokasi tumbuhan sumber, serta kondisi musim saat pengambilan bahan tumbuhan. Laetamian dan Isman (2004) melaporkan penghambatan pertumbuhan larva Spodoptera litura (F.) (Lepidoptera: Noctuidae) yang diberi perlakuan ekstrak 10 sampel biji srikaya pada konsentrasi 250 ppm berkisar dari 33% sampai 92%.
22