Hasil perhitungan nilai SBE terhadap keenam konsep green facade berdasarkan penilaian oleh seluruh responden berkisar antara 52 sampai 119. Konsep green facade dengan tanaman rambat berbunga dengan penutupan relatif padat pada struktur kerangka (K5) memiliki nilai SBE paling tinggi dengan nilai sebesar 119. Nilai SBE terendah yaitu pada konsep green facade dengan tanaman rambat pada dinding dengan penutupan tidak menyeluruh (K1) dengan nilai hanya sebesar 52 (Gambar 6). Perhitungan penilaian SBE oleh seluruh responden dapat dilihat pada lampiran 5.
Nilai SBE juga diklarifikasikan menurut jenis responden yaitu Mahasiswa Arsitektur Lanskap dan publik. Melalui uji lanjut Tukey yang dilakukan dengan tingkat kepercayaan 95% (Lampiran 8), diantara nilai SBE dari kedua jenis responden tersebut ternyata tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Hal tersebut menunjukkan responden dengan latar belakang berbeda, baik mahasiswa maupun publik memberikan penilaian estetika terhadap simulasi penerapan green
facade cenderung sama. Perbedaan antara responden mahasiswa dan masyarakat
terdapat pada usia responden. Rentang usia dari responden mahasiswa berkisar antara 21-23 tahun, sedangkan rentang usia responden masyarakat berkisar antara 21-60 tahun. Menurut Chen et al (2009), usia dan jenis kelamin responden tidak memberikan perbedaan yang signifikan pada penilaian estetik lingkungan. Hasil perhitungan penilaian SBE oleh responden Mahasiswa Arsitektur Lanskap dan oleh publik dapat dilihat pada lampiran 6 dan lampiran 7.
Melalui uji F dengan tingkat kepercayaan 95%, didapat bahwa penggunaan
green facade mempengaruhi kualitas estetika. Hal tersebut dapat dilihat dari
perbedaan signifikan antara nilai SBE dari keenam konsep green facade dengan kontrol. Selain itu, pola nilai yang diberikan oleh setiap responden terhadap keenam konsep memiliki pocenderung sama. Nilai SBE berdasarkan responden masyarakat memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai yang
19 diberikan oleh responden mahasiswa. Hal ini menunjukkan responden masyarakat memberikan apresiasi yang lebih baik dibandingkan dengan apresiasi dari mahasiswa. Pada umumnya responden mahasiswa hanya melihat secara visual
green facade tanpa melihat bagaimana pengaruh keberadaan green facade pada
rumah tinggal. Berbeda dengan responden masyarakat, umumnya mereka lebih melihat bagaimana perbedaan rumah tinggal dengan penggunaan green facade dengan rumah tanpa green facade, sehingga apresiasi terhadap keberadaan green
facade lebih tinggi.
Gambar 6 Nilai Scenic Beauty Estimation terhadap konsep green facade Nilai SBE tertinggi pada kategori responden mahasiswa berbeda dengan nilai SBE tertinggi pada kategori responden publik. Responden oleh Mahasiswa Arsitektur Lanskap memberikan nilai SBE tertinggi pada konsep green facade berupa tanaman rambat yang tumbuh pada kerangka grid (K4), sedangkan responden publik memberikan nilai SBE tertinggi pada konsep green facade berupa tanaman rambat berbunga yang tumbuh padat pada struktur kerangka (K5). Kesukaan responden mahasiswa terhadap konsep green facade berupa tanaman rambat yang tumbuh pada struktur kerangka grid dikarenakan konsep tersebut memiliki motif penutupan yang unik dan memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dari segi perawatan tanaman rambat untuk mempertahankan bentukan grid. Walaupun demikian, responden dari mahasiswa juga memberikan nilai SBE yang tinggi pada konsep yang sama (green facade berupa tanaman rambat berbunga dengan penutupan padat). Hal itu menunjukkan bahwa kesukaan responden mahasiswa dan publik tidak berbeda secara signifikan.
Pada Gambar 7, terlihat konsep green facade berupa tanaman rambat yang tumbuh langsung pada dinding dengan penutupan menutupi seluruh sisi dinding (K2) memiliki selisih nilai yang paling tinggi antara nilai dari responden publik
0 46 99 84 113 112 101 0 54 120 98 104 128 117 0 52 112 98 116 119 111 0 20 40 60 80 100 120 140 K0 K1 K2 K3 K4 K5 K6 N il ai SB E
Konsep Green Facade HASIL PENILAIAN SBE
20
dan dari responden mahasiswa. Kedua nilai tersebut memiliki perbedaan yang signifikan (Lampiran 9). Responden publik menganggap bahwa dengan penutupan yang padat memenuhi seluruh bagian dinding memberikan kesan yang lebih alami dan teduh pada rumah tinggal. Berbeda dengan respon dari mahasiswa, konsep K2 dianggap memiliki visual yang sederhana karena sedikit adanya campur tangan manusia untuk membentuk penutupan green facade.
Berdasarkan hasil uji lanjut dengan Uji Tukey terhadap nilai SBE oleh keseluruhan responden (Lampiran 10), didapat bahwa konsep green facade berupa tanaman rambat yang tumbuh langsung pada dinding dengan penutupan yang tidak menyeluruh (K1) dengan kelima konsep green facade lainnya memiliki perbedaan pengaruh yang signifikan terhadap kualitas estetika. Perbedaan itu juga didapat antara konsep green facade berupa tanaman rambat pada struktur grid (K3) dan konsep green facade berupa tanaman rambat berbunga pada struktur kerangka dengan penutupan yang padat (K5). Namun antara konsep green facade berupa tanaman rambat yang tumbuh langsung pada dinding dengan penutupan yang relatif padat dan memenuhi dinding fasad (K2), dengan konsep green facade berupa tanaman rambat yang tumbuh pada kerangka grid (K4), dan dengan green
facade berupa tanaman berbunga yang tumbuh merambat pada struktur kerangka espalier (K6) tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kualitas estetika.
Hasil tersebut dapat dikelompokkan dan divisualisasikan kedalam grafik nilai SBE rata-rata konsep green facade (Gambar 7).
Gambar 7 Nilai SBE rata-rata untuk setiap konsep green facade
Pada Gambar 7 terlihat bahwa konsep-konsep green facade seolah-olah berkelompok menjadi tiga, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Kontrol (K0) memiliki kecendrungan kualitas estetika terendah. Konsep green facade berupa tanaman rambat yang tumbuh langsung pada dinding dengan penutupan tidak memenuhi sisi dindinh (K1) termasuk kedalam kategori kualitas estetika sedang, dan keliman konsep lainnya termasuk kedalam kualitas estetika tinggi (Tabel 2). Hasil pengkatagorian kualitas estetika tersebut juga menunjukkan bahwa penggunaan keenam konsep green facade berpengaruh terhadap kualitas estetika visual pada rumah tinggal.
Kontrol K1 K2 K3 K4 K5 K6 0 20 40 60 80 100 120 140 N il ai SB E
21 Tabel 2 Kategori kualitas estetika konsep green facade
Tingginya nilai SBE pada keenam konsep green facade diduga adanya pengaruh keberadaan tanaman yang mampu memberikan nilai estetik visual pada suatu lanskap dan mampu memberikan dampak positif terhadap psikologi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh White dan Gatersleben (2011), penggunaan tanaman pada suatu halaman dapat memberikan dampak positif terhadap psikologi seseorang dibandingkan tanpa penggunaan tanaman. Kehadiran tanaman juga memiliki manfaat lainnya, yaitu mampu memperbaiki kondisi lingkungan dari segi ekologis, sosial ekonomi, dan bahkan kesehatan (Kurniawaty et al 2011). Beberapa penelitan (Ulrich 1984, Ulrich et al 1991, Peck
et al 1999, Köhler 1993, Hermy et al 2005 dalam Mirr 2011), menyebutkan
kehadiran tanaman dapat memberikan kesehatan manusia dan kesejahteraan mental. Seseorang sering merasa lebih bergairah ketika melihat suatu hal yang alami atau natural ketika berada di sekitarnya, karena lingkungan yang natural merupakan dasar dari kesejahteraan masyarakat (Kaplan, Ivancich, dan De Young 2007).
Kesukaan responden terhadap penggunaan green facades juga diduga adanya pengaruh presentasi warna. Warna tanaman memberikan tampilan yang lebih sejuk dan nyaman dibandingkan tanpa adanya tanaman. Menurut pendapat penulis buku Colour Healing, Lilian Verner-Bonds dalam Kress dan Leeuwen (2002), warna memiliki kekuatan besar untuk menurunkan atau meningkatkan tingkat stres. Penggunaan green facades menampilkan warna hijau yang lebih banyak dibandingkan tanpa penggunaan green facades. Warna hijau ini mampu memberikan efek psikologi positif pada seseorang. Berdasarkan dari beberapa penlitian (Levy 1984, Whitfiel dan Wiltshire 1990 dalam Elliot dan Maier 2007) menyatakan bahwa kesan warna hijau adalah damai dan rileks. Nuansa hijau pada
green facades lebih disukai oleh responden. Dalam penelitian Ilhami dan
Gunawan (2011) mengenai persepsi dan preferensi warna dalam lanskap, menyatakan bahwa 63% responden memilih warna hijau sebagai warna lanskap yang paling disukai.
Konsep green facade berupa tanaman rambat yang tumbuh langsung pada dinding dengan penutupan yang tidak menyeluruh (K1) memiliki pengaruh terhadap kualitas estetik visual paling rendah dibandingkan dengan kelima konsep lainnya. Perbedaan visual antara konsep tersebut dengan kelima konsep lainnya terdapat pada penutupan vegetasi yang secara menyeluruh maupun tidaknya. Kelima konsep lainnya cenderung memiliki penutupan yang relatif lebih padat dan memenuhi sisi dinding. Kemampuan green facade untuk menurunkan suhu temperatur udara pada ruangan bergantung pada kepadatan penutupan tanaman rambat. Kepadatan tanaman rambat mampu menghalangi masuknya radiasi sinar matahari kedalam ruangan. Bayangan yang dihasilkan dari lapisan tanaman rambat juga mampu mendinginkan suhu udara (Sheweka dan Mohamed 2012). Berdasarkan pernyataan tersebut, tentunya konsep green facade dengan tanaman
Konsep Kategori Kualitas Estetika Rentang Nilai SBE
K0 Rendah 0
K1 Sedang 46-52
22
rambat yang tidak menutupi secara menyeluruh serta relatif tidak rapat memiliki kontribusi dalam mendinginkan udara lebih rendah dibandingkan dengan kelima konsep lainnya. Selain itu konsep tersebut memiliki visual yang lebih terkesan kosong. Kesan kosong menimbulkan kesan yang kurang menarik, sehingga konsep ini memiliki nilai estetik yang lebih rendah dibandingkan dengan kelima konsep lainnya.
Seluruh penggunaan konsep green facade dengan struktur kerangka berbagai bentuk (linier vertical, grid, camouflage grid, dan espalier) termasuk kedalam kualitas estetika tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan struktur kerangka dengan berbagai jenis bentuk penutupan dapat memberikan kualitas estetika yang tinggi pada rumah tinggal. Penggunaan struktur kerangka dengan berbagai bentuk lebih terlihat lebih bervariasi dibandingkan tanaman rambat yang tumbuh langsung pada dinding.
Penggunaan jenis green facade dengan struktur kerangka sebagai pendukung tanaman rambat, tidak hanya dapat dilampirkan pada dinding tetapi juga dapat digunakan sebagai pembatas visual, peredam suara dan manfaat lainya. Keunggulan penggunaan struktur kerangka pada green facade yaitu dapat mencegah kerusakan pada dinding yang disebabkan oleh akar dari tanaman rambat. Struktur akar tanaman rambat yang melekat langsung pada dinding merupakan masalah utama green facade yang langsung menempel pada dinding tanpa struktur kerangka. Akar tanaman yang menempel pada dinding umumnya sulit untuk dihilangkan (Hermy et al, 2005 dalam Mirr, 2011). Oleh sebab itu, penggunaan green facades dengan struktur kerangka pendukung lebih baik untuk menghindari kerusakan pada dinding rumah.
Salah satu keunggulan lainnya dari penggunaan konsep green facade dengan struktur kerangka yaitu terdapatnya rongga udara di balik lapisan green
facade. Kapasitas rongga udara pada green facade penggunaan struktur kerangka
sebanyak 50 hingga 3000 mm. Rongga udara pada lapisan di antara green facade dan dinding fasad bermanfaat untuk mempercepat laju perpindahan panas sehingga radiasi matahari yang ditangkap oleh green facade tidak langsung masuk kedalam dinding (Green Distribution, 2012). Berbagai keunggulan terdapat pada konsep green facade yang menggunakan struktur kerangka. Namun, tentunya biaya pemasangan dan pengelolaannya membutuhkan lebih banyak biaya dibandingkan dengan green facade yang diterapkan langsung pada dinding (Mirr, 2011).
Berdasarkan Uji Tukey yang dilakukan (Gambar 3), menunjukkan bahwa secara signifikan konsep green facade berupa tanaman rambat yang tumbuh pada kerangka linear vertical (K3) memberikan pengaruh terhadap kualitas estetik lebih tinggi dibandingkan dengan konsep green facade yang tumbuh langsung pada dinding dengan penutupan tidak memenuhi seluruh sisi dinding dan relatif tidak rapat (K1). Secara visual, kedua konsep memiliki perbedaan pada alur yang terbentuk. Konsep green facade yang tumbuh langsung pada dinding memiliki alur yang alami berupa organik dan relatif melengkung, sedangkan pada konsep
green facade dengan struktur kerangka linier, alur secara jelas berbentuk garis
lurus.
Green facade dengan kerangka pendukung untuk tanaman rambat berupa
garis lurus vertikal yang disusun teratur dengan ukuran dan jarak yang sama memiliki pengulangan motif garis. Motif garis yang tercipta menjadikan konsep
23 ini mencapai prinsip repitition. Menurut Nikita (2012), pola yang menggunakan prinsip repitition pada taman memberikan kesan kuat dan menghasilkan nilai kualitas estetika cukup tinggi. Penggunaan konsep green facade dengan struktur kerangka linier selaras dengan sampel rumah tinggal yang digunakan dengan tipe rumah berdesain minimalis yang umumnya lebih menggunakan garis lurus dalam elemen desain. Penggunaan konsep ini menjadikan rumah tinggal lebih menarik. Garis lurus merupakan elemen dominan dan kuat untuk dapat mengarahkan pandangan tertuju pada objek (Molnar dan Rutledge 1992 dalam Nikita 2012).
Konsep green facade berupa tanaman rambat yang tumbuh pada kerangka
linear vertical (K3) dan konsep green facade berupa tanaman rambat berbunga
yang tumbuh padat pada kerangka (K5) memiliki perbedaan pengaruh terhadap kualitas estetik visual secara signifikan (Gambar 5). Nilai SBE yang diberikan pada konsep green facade berupa tanaman rambat berbunga dengan penutupan yang padat memiliki nilai SBE lebih tinggi dibandingkan dengan konsep green
facade berupa tanaman rambat tidak berbunga pada kerangka linear vertical. Hal
ini menunjukkan bahwa keberadaan bunga memberikan kualitas estetik yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa penggunaan tanaman berbunga. Didukung dari penelitian yang dilakukan oleh Kaplan (2007) dalam referensi White dan Gafersleben (2011), 50% respondennya menyatakan keinginan adanya kehadiran bunga yang lebih banyak pada lingkungan kerja mereka.
Perbedaan tanaman berbunga dan tidak berbunga memberikan kesan warna yang berbeda pula. Warna tersebut mempengaruhi perasaan seseorang ketika melihatnya. Warna juga dapat mempengaruhi karakter psikologi dan emosional manusia (Graves 1975 dalam Lestari dan Gunawan 2005). Warna hijau pada daun memberikan kesan sejuk dan warna bunga mampu memberikan kesan ruang lebih hangat sehingga dapat dikatakan konsep green facade dengan tanaman rambat yang tidak berbunga lebih terkesan dingin, sedangkan konsep green facade pada tanaman rambat berbunga lebih terkesan hangat.
Kesan dingin dan hangat didukung oleh pernyataan menurut Whiting dan Jong (2012), warna hijau termasuk kedalam kategori warna-warna dingin dan warna merah muda termasuk dalam kategori warna-warna hangat. Warna memiliki pengaruh besar terhadap elemen desain. Warna dingin dan warna hangat dapat menciptakan kesan tertentu pada lanskap. Warna-warna dingin pada lanskap memberikan kesan yang tidak mencolok, menenangkan, terkesan jauh, dan lembut, sedangkan warna-warna hangat memberikan kesan yang lebih menyolok, semangat, bergairah, terlihat lebih dekat, dan kuat.
Konsep green facade berupa tanaman rambat tidak berbunga pada kerangka
linear dengan warna yang dihasilkan hanya terdiri dari warna hijau, memiliki nilai
SBE lebih rendah dibandingkan dengan konsep green facade berupa tanaman rambat berbunga pada struktur kerangka. Menurut Ilhami dan Gunawan (2011), warna hijau yang terkesan netral dan monoton menyebabkan kualitas keindahan rendah. Tingginya kualitas estetika pada penggunaan konsep green facade berupa tanaman rambat berbunga dengan penutupan yang padat menunjukkan adanya pengaruh warna terhadap kualitas estetika. Menurut Gunawan (2005), warna pada bunga dan daun merupakan unsur yang menarik bagi responden dibandingkan dengan warna dari batang maupun bagian yang lain, karena secara visual terlihat dominan. Kemudian, salah satu faktor tingginya kualitas estetika pada tanaman rambat berbunga diduga karena keberadaan bunga dengan warna bunga merah
24
muda. Menurut Ilhami dan Gunawan (2011), bahwa warna dominan merah muda pada suatu foto lanskap memiliki nilai SBE tertinggi atau dapat dikatakan paling disukai.
Perbedaan visual lainnya antara konsep green facade berupa tanaman rambat yang tumbuh pada kerangka linear vertical (K3) dan berupa tanaman rambat berbunga yang tumbuh padat pada struktur kerangka (K5) adalah bagian penutupannya. Konsep green facade yang menggunakan kerangka linier vertikal memiliki jarak untuk setiap linier, sedangkan konsep tanaman rambat berbunga yang padat menutupi struktur kerangka hingga struktur kerangka terkamuflase tentunya jarak antar tanaman lebih sedikit. Perbedaan pengaruh terhadap kualitas dari kedua konsep menunjukkan bahwa kepadatan penutupan tanaman rambat pada green facade mempengaruhi kualitas estetika. Sama halnya perbedaan penutupan antara konsep green facade berupa tanaman rambat yang tumbuh langsung pada dinding dengan penutupan tidak rapat dan tidak memenuhi seluruh sisi dinding (K1) dengan konsep green facade berupa tanaman rambat yang tumbuh pada kerangka linear vertical (K3), bahwa kedua konsep dengan penutupan yang lebih padat secara signifikan memiliki nilai estetika yang lebih tinggi dibandingkan dengan penutupan yang tidak memenuhi sisi dinding.
Berdasarkan uji lanjut Tukey (Gambar 7), terdapat tiga konsep green facade yang tidak memiliki perbedaan pengaruh terhadap kualitas estetik. Ketiga konsep tersebut adalah konsep green facade berupa tanaman rambat yang tumbuh langsung pada dinding dengan penutupan relatif rapat (K2), konsep green facade berupa tanaman rambat yang tumbuh pada kerangka grid (K4), dan konsep green
facade berupa tanaman berbunga yang merambat pada kerangka espalier (K6).
Ketiga konsep termasuk kedalam kategori kualitas estetika tinggi (Tabel 2). Persepsi Konsep Green Facade Pada Rumah Tinggal
Hasil penilaian semantik diferensial yang dilakukan oleh responden terhadap kontrol dan keenam konsep green facade menunjukkan bahwa penggunaan green facade memberikan pengaruh yang berbeda-beda. Persepsi yang ditimbulkan akibat pengaruh penggunaan keenam konsep green facades umumnya menunjukkan kecenderungan yang positif. Artinya, penggunaan green
facade tidak hanya memberikan pengaruh ekologi, tetapi juga memberikan
persepsi yang positif. Persepsi yang ditimbulkan dari setiap konsep pun umumnya berbeda-beda.
Kriteria-kriteria yang diujikan pada penelitian ini yaitu, buruk-indah, tekstur kasar-tekstur halus, tidak menarik-menarik, polos-berwarna, statis-dinamis, sederhana-kompleks, panas-dingin, gelap-terang, gersang-teduh, kering-segar, kabur-jelas, tidak harmoni-harmoni, biasa-unik, tajam-lembut, kering-lembab, sempit-luas, klasik-modern, renggang-rapat, formal-non formal, tidak seimbang-seimbang, suram-cerah, kaku-lembut, dan tidak bervariasi-variasi.
Untuk melihat persepsi responden terhadap tiap konsep green facade yang ditampilkan dan mengetahui perbandingan sejauh mana kekuatan sifat tersebut dibandingkan dengan sifat/kriteria yang lain, maka tiap kriteria yang diperoleh dikorelasikan dengan nilai mean (rataan) dari masing-masing konsep green facade dalam bentuk grafik (Lampiran 12). Setelah itu hasil dari rataan setiap konsep
25 diuji lebih lanjut dengan Uji Tukey dan tingkat pengaruh yang sama dikelompokkan dengan tabulasi (Tabel 3).
Tabel 3 Hasil uji lanjut Tukey terhadap kriteria Semantic Differential
Kriteria Perlakuan
K0 K1 K2 K3 K4 K5 K6
Buruk – Indah D C BC B CD A CD
Tekstur Kasar- Halus B AB AB AB AB AB A
Tidak Menarik – Menarik B C CB CB B AB A
Polos – Berwarna-warni D C C CB B A A Statis – Dinamis D B C B B A A Sederhana – Kompleks* E D CD C B A A Panas – Dingin D C A B AB AB B Gelap – Terang* A CD E BCD D CB A Gersang – Teduh D C A AB AB AB B Kering – Segar D C AB B AB A AB Kabur – Jelas A A A A A A A
Tidak Harmoni – Harmoni C B A A A A A
Biasa – Unik* F E DE CD BC AB A Tajam – Lembut B A A A A A A Kering – Lembab D C A BC AB AB B Sempit – Luas A AB BC AB C BC B Klasik – Modern A A A A A A A Renggang – Rapat D CD A C B A CD
Formal –Non Formal C B BC B B A A
Tidak Seimbang –
Seimbang C C A A A AB BC
Suram – Cerah AB C D BC C A A
Kaku – Lembut D C BC C C A AB
Tidak Bervariasi–Variasi* E CD D BC B A A
*Kriteria tersebut memiliki keragaman pengaruh konsep green facade yang tinggi Hasil analisis persepsi responden melalui pengukuran Semantic Differential menunjukkan bahwa penggunaan seluruh konsep green facade memberikan keindahan pada karakter lanskap rumah tinggal. Hal tersebut ditunjukkan pada hasil perbandingan penilaian terhadap kontrol dan penilaian terhadap keenam konsep green facade. Pada hasil perbandingan tersebut menunjukkan bahwa persepsi terhadap konsep green facades cenderung pada kriteria yang bersifat positif dibandingkan dengan persepsi terhadap kontrol. Hasil tersebut dapat dilihat pada grafik hasil penilaian Semantic Differential (Lampiran 12) dengan nilai rata-rata pada Lampiran 13. Pada grafik tersebut, pola kurva kontrol memiliki perbedaan yang signifikan terhadap konsep green facade.
Uji F pada hasil pengukuran Semantic Differential dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa penerapan keenam konsep green facades berpengaruh nyata terhadap kriteria kecuali pada kriteria tekstur kasar-halus, kabur-jelas, dan klasik-modern (Lampiran 13). Tekstur kasar dan tekstur halus dipengaruhi oleh ukuran daun, bentukan, permukaan, dan percabangan (Booth 1983). Pada penelitian ini, jenis tanaman rambat yang digunakan pada keenam konsep green facade tidak terdapat perbedaan ukuran daun maupun bentukannya secara jelas. Sama halnya pada kriteria kabur dan jelasnya visual konsep green
26
pada kriteria klasik dan modern, keenam konsep tidak memberikan pengaruh yang membentuk kriteria tersebut. Walaupun rumah tinggal yang digunakan sebagai simulasi penerapan green facade relatif bertipe rumah modern, akan tetapi tetap saja kriteria tersebut tidak berpengaruh terhadap keenam konsep green facades.
Green facade hanya merupakan suatu elemen pembentuk fasad bangunan, artinya
penerapan green facade pada rumah tinggal tidak mempengaruhi gaya klasik maupun modern pada suatu bangunan rumah tinggal.
Dari 23 kriteria yang diujikan, terdapat empat kriteria yang paling berpengaruh dalam pembentuk konsep green facade, yaitu pada kriteria sederhana-kompleks, gelap-terang, biasa-unik, dan tidak bervariasi-variasi. Keempat kriteria tersebut memiliki keragaman pengelompokkan paling tinggi dibandingkan dengan 19 kriteria lainnya (Tabel 3).
Pada kriteria sederhana kompleks, konsep green facade berupa tanaman rambat berbunga baik pada kerangka yang tertutupi seluruhnya (K5) dan pada kerangka espalier (K6) memiliki persepsi kompleks paling tinggi. Konsep green
facade berupa tanaman rambat yang tumbuh pada dinding dengan penutupan tidak
rapat dan tidak memenuhi sisi fasad (K1) memiliki persepsi paling sederhana. Secara fisik, penggunaan green facade dengan tanaman rambat berbunga terlihat lebih menarik perhatian. Keberadaan bunga menjadikan green facade terlihat lebih padat dan berwarna. Tingginya kesan kompleks pada penggunaan tanaman rambat berbunga juga dipengaruhi dari kemampuan bunga dalam memberikan ransangan terhadap seseorang secara cepat. Menurut Haviland-Jones (2005), bunga dapat memberikan ransangan psikologi yang positif secara cepat (super
stimuli). Ransangan terhadap seseorang yang ditimbulkan oleh bunga tentunya