Dalam penelitian ini, parameter fisika dan kimia yang diamati adalah suhu, salinitas, kecerahan dan kecepatan arus (Tabel 5).
Tabel 5 Data parameter fisika dan kimia perairan
No Stasiun Suhu (°C) Salinitas (‰) Kecerahan (m) Kecepatan arus (m/s)
1 Pramuka 28 30,0 9,30 0,27
2 Panggang 28 27,3 7,92 0,10
Sumber: Data sekunder TERANGI 2009 dan data primer 2013
Berdasarkan hasil pengukuran, suhu di kedua stasiun (28°C) termasuk ke dalam kisaran yang dapat ditolerir oleh terumbu karang yaitu 25-30°C (Nybakken 1992 dalam Huda 2008). Salinitas di Kelurahan Panggang (27,3-30,0‰) menunjukkan hasil yang berada di bawah standar baku mutu air laut. Salinitas perairan berdasarkan baku mutu berkisar antara 33-34‰. Hal ini diduga terjadi karena banyaknya limpasan air tawar ke dalam perairan dari pulau-pulau sekitar (Suharsono 1984 dalam Huda 2008). Tingkat kecerahan yang terukur adalah 7,92-9,30 m yang menunjukkan bahwa perairan Kelurahan Panggang masih memiliki kondisi kecerahan yang baik. Sedangkan pada pengamatan kecepatan arus berkisar antara 0,10-0,27. Kecepatan arus tergolong lambat sehingga kemung-kinan terjadinya proses sedimentasi menjadi lebih besar.
Kondisi Ekosistem Terumbu Karang
Sebanyak 24 genera dari 13 famili ditemukan di sekitar lokasi penelitian di Kelurahan Pulau Panggang (Lampiran 4). Jenis-jenis karang penyusun terumbu yang hidup di lokasi tersebut umumnya adalah jenis-jenis dari famili Acroporidae (Acropora sp. dan Montipora sp.), famili Pocilloporidae (Seriatopora sp.) dan famili Fungiidae (Fungia sp. dan Ctenactis). Terdapat juga karang non-scleractinia yaitu karang api (Millepora sp.) dan karang biru (Heliopora sp.). Estradivari et al (2011) mengungkapkan bahwa terumbu karang di Kepulauan Seribu didominasi oleh karang dari marga Acropora dan Montipora. Kedua marga ini banyak ditemukan karena memiliki daya pulih yang tinggi. Hal ini terbukti dengan cepat pulihnya karang dari kedua marga tersebut pasca kejadian pemutihan karang pada tahun 1982-1986 (Brown dan Suharsono 1990 dalam Estradivari et al 2011).
Kedua stasiun memiliki jenis-jenis karang yang hampir serupa, kecuali pada substasiun Panggang Selatan 3 yang memiliki jumlah karang masif yang lebih banyak. Substasiun Pramuka Selatan 1 memiliki keanekaragaman jenis karang sebanyak 15 genera dari 9 famili, substasiun Pramuka Selatan 2 memiliki 14 genera dari 10 famili, substasiun Panggang Selatan 1 memiliki 9 genera dari 8 famili, substasiun Panggang Selatan 2 memiliki 9 genera dari 7 famili, dan substasiun Panggang Selatan 3 memiliki 15 genera dari 12 famili. Stasiun Pramuka memiliki keanekaragaman karang yang lebih banyak dibandingkan
12
dengan Stasiun Panggang. Hal ini diduga karena arus di Stasiun Panggang yang lebih lambat dibandingkan dengan arus di Stasiun Pramuka sehingga sedimen-sedimen lebih mudah mengendap di polip karang (Huda 2008).
Berdasarkan rencana produksi karang hias yang dikeluarkan oleh Dirjen PHKA pada tahun 2013, terdapat 15 jenis karang yang ditransplantasi di Kelurah-an Pulau PKelurah-anggKelurah-ang. Dari ke-15 jenis tersebut, 12 diKelurah-antarKelurah-anya terlihat hidup di sekitar lokasi transplantasi. Hal ini mengindikasikan bahwa kegiatan transplantasi sedikit banyak dipengaruhi oleh keragaman jenis karang di perairan sekitar.
Dari kelima substasiun yang teramati, rerata tutupan substrat di ekosistem terumbu karang Kelurahan Pulau Panggang didominasi oleh karang mati dengan nilai tutupan sebesar 48% (Gambar 4). Penyusun lain tutupan substrat ekosistem terumbu karang di lokasi ini adalah tutupan karang hidup sebesar 29%; patahan karang (rubble) sebesar 18%; karang lunak sebesar 3%; dan pasir sebesar 2%. Berdasarkan kategori Gomez & Yap (1988), kondisi karang Kelurahan Pulau Panggang termasuk dalam kategori sedang. Jenis-jenis karang berdasarkan pertumbuhannya dapat dilihat pada Lampiran 5.
Gambar 4 Komposisi rerata penutupan kategori substrat
Jika ditelisik lebih lanjut, persen tutupan karang hidup di setiap subtasiun relatif serupa. Tutupan karang hidup yang diamati berada pada rentang 23% hingga 32% (Gambar 5). Tutupan karang hidup yang paling tinggi ditemukan pada sub-stasiun Panggang Selatan 3, sementara tutupan karang hidup yang paling rendah ditemukan pada substasiun Pramuka Selatan 1. Tutupan substrat lainnya yang mendominasi perairan ini adalah karang mati dan patahan karang. Kedua tutupan substrat abiotik ini apabila digabungkan maka akan menutupi sekitar 66% dari perairan Kelurahan Pulau Panggang. Tutupan karang mati terbesar dapat terlihat pada substasiun Panggang Selatan 1 dan substasiun Panggang Selatan 2. Hal yang patut untuk diperhatikan adalah tingginya jumlah patahan karang di Stasiun Pramuka jika dibandingkan dengan di Stasiun Panggang. Dapat dilihat bahwa pada Stasiun Pramuka jumlah karang mati berkisar hanya sebesar 31-40% sedangkan pada Stasiun Panggang berkisar 43-66%. Namun jumlah patahan karang di Stasiun Pramuka lebih mendominasi dengan kisaran 36-37% jika diban-dingkan dengan Stasiun Panggang yang hanya berkisar antara 2-12%. Hal ini memicu dugaan bahwa kerusakan lebih dulu terjadi di Stasiun Pramuka,
diindi-13 kasikan dari jumlah patahan karang yang terbentuk dari karang mati. Sementara pada Stasiun Panggang kerusakan terjadi baru-baru saja, hal ini diindikasikan dari jumlah patahan karang yang sedikit dan karang mati yang sangat tinggi.
Gambar 5 Grafik persen penutupan kategori substrat di 5 substasiun pengamatan Perubahan kondisi tutupan karang serta kelimpahan ikan dapat dijadikan indikator berhasil atau tidaknya upaya rehabilitasi yang telah dijalankan. Analisis tersebut didasari pernyataan Heeger dan Sotto (2000) bahwa indikator utama keberhasilan kegiatan transplantasi adalah meningkatnya tutupan karang. Berda-sarkan penggabungan hasil data primer yang telah ditampilkan sebelumnya dan data sekunder yang diperoleh, dapat dilihat bahwa persentase tutupan karang hidup berfluktuasi dari tahun ke tahun pada kedua titik stasiun. Peningkatan tertinggi terjadi di stasiun Pramuka pada selang tahun 2005-2007 (16% menjadi 48%). Kemudian pada tahun 2009 kembali turun drastis menjadi hanya 9% dan diikuti oleh peningkatan yang cukup signifikan menjadi 27% pada tahun 2013 (Gambar 6).
Sumber: Data sekunder TERANGI (2011) dan data primer (2013)
Gambar 6 Perkembangan tutupan karang hidup di sekitar area transplantasi Pramuka dan Panggang 2005-2013
14
Dapat dilihat bahwa di Stasiun Pramuka terjadi fluktuasi perkembangan tutupan karang yang sangat tinggi. Sebagian besar karang di daerah Pulau Pramuka merupakan jenis yang rentan terhadap perubahan lingkungan seperti Acropora sp. (Munasik & Siringoringo 2011), namun, karang dari jenis tersebut memiliki tingkat pertumbuhan yang cepat pula. Sementara itu, selain kegiatan transplantasi oleh nelayan, terdapat juga kegiatan rehabilitasi oleh Taman Nasional yang berlokasi tidak jauh dari lokasi transplantasi. Tingkat kerusakan juga dapat dibilang tinggi karena lokasi penelitian berjarak sangat dekat dengan Pulau Pramuka yang menghasilkan limbah dan sedimen. Hal-hal tersebut diduga menjadi pemicu berfluktuasinya tutupan karang di Stasiun Pramuka.
Situasi yang berbeda terjadi di Stasiun Panggang. Tutupan karang di stasiun ini mengalami penurunan yang relatif lambat namun stabil. Jarak stasiun yang cukup jauh dari Pulau Panggang mengakibatkan rendahnya kemungkinan terpa-parnya karang-karang di lokasi ini oleh limbah dan sedimen dalam jumlah yang tinggi, namun begitu, lokasi ini tetap tidak luput dari ancaman tersebut. Dalam jangka waktu tertentu, perubahan tingkat sedimentasi yang terjadi secara terus menerus akan menghasilkan dampak negatif terhadap kondisi tutupan karang sekitar. Selain itu, kegiatan transplantasi tidak begitu intens jika dibandingkan dengan di Stasiun Pramuka, hal ini dapat dilihat dari rak-rak transplantasi yang tidak terurus dengan baik, menyebabkan sedimen-sedimen menutup polip pada fragmen karang sehingga karang mati dan pada akhirnya alga tumbuh di fragmen yang telah mati.
Selain tutupan karang, dilihat pula tingkat mortalitas karang yang terjadi di Kelurahan Pulau Panggang sebagai data pendukung (Gambar 7). Kondisi terumbu karang dapat dikatakan memiliki rasio kematian yang tinggi dan memiliki tingkat kesehatan yang rendah jika nilai indeks mortalitas karang mendekati satu (English et al. 1997). Dapat dilihat bahwa pada periode tahun 2009-2013 indeks mortalitas karang di Stasiun Pramuka mengalami penurunan (0,84 menjadi 0,57), sementara hal yang kontras dialami oleh Stasiun Panggang dimana tingkat mortalitas justru meningkat cukup signifikan (0,32 menjadi 0,61).
Gambar 7 Indeks Mortalitas Karang
Secara umum, tingginya persen tutupan karang mati di Kelurahan Pulau Panggang disebabkan oleh beberapa faktor. Dalam kasus ini, banyaknya kegiatan
15 antropogenik menyebabkan upaya rehabilitasi menjadi terhambat. Pada umumnya, ekosistem terumbu karang memiliki kemampuan untuk memulihkan dirinya sen-diri apabila anomali alam terjadi. Namun aktivitas manusia yang merusak mem-perburuk hal tersebut dengan kegiatan-kegiatan yang merugikan sehingga ekosis-tem terumbu karang tidak memiliki waktu yang cukup untuk memulihkan diri.
Banyaknya pemukiman yang terletak di dekat ekosistem terumbu karang mengakibatkan banyak limpasan-limpasan nutrien yang terbawa ke laut dan akhirnya menstimulasi tumbuhnya alga yang lama kelamaan dapat menutupi karang karena pertumbuhannya yang lebih cepat dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhannya memang lambat (Aziz et al 2011; Maragos et al 1996; Estradivari et al 2011). Nutrien yang berlebihan dapat memberikan dampak buruk terhadap kualitas air di sekitar ekosistem terumbu karang (Marshall & Schuttenberg 2006). Di setiap substasiun terlihat banyak karang mati yang pada akhirnya menjadi media sebagai tempat tumbuhnya alga, hal ini merugikan bagi ekosistem terumbu karang karena karang tidak dapat tumbuh dengan baik (Birkeland 1988; Wittenberg & Hunte 1992; Gleason 1999 dalam Bowden-Kerby 2003a; Ruswahyuni & Purnomo 2009). Hal ini didukung oleh pernyataan Estradivari et al (2011) bahwa tutupan karang keras di Pulau Pramuka diperkirakan rendah karena pertumbuhan alga mengalahkan pertumbuhan karang keras. Faktor lain yang dapat berkontribusi pada peningkatan alga adalah penurunan jumlah predator alga seperti ikan herbivora dan bulu babi (Thacker 2001 dalam Estradivari et al 2011).
Penyebab lain rusaknya ekosistem terumbu karang di Kelurahan Panggang adalah aktivitas pariwisata di kawasan tersebut. Pulau Pramuka terkenal sebagai destinasi para pelancong dari Jakarta, dan berbagai kegiatan wisata kerap membawa dampak buruk bagi ekosistem terumbu karang, contohnya adalah karang yang diinjak-injak oleh para penyelam.
Faktor lain yang menyebabkan banyaknya karang mati di perairan Kelurahan Pulau Panggang adalah tingkat sedimentasi yang tinggi. Sedimen menghambat pertumbuhan karang berdasarkan beberapa alasan. Pertama, sedimen mengurangi penetrasi cahaya yang digunakan untuk proses fotosintesis karena adanya partikel di badan perairan. Kedua, pengendapan sedimen di atas koloni karang membuat karang mengeluarkan banyak energi untuk membersihkan diri dari sedimen tersebut, karang akan kehilangan energi sementara untuk mendapat-kan mamendapat-kanan dan metabolisme lain juga membutuhmendapat-kan energi. Hilangnya energi menyebabkan karang terhambat pertumbuhannya (Yamazato 1996; Connel & Hawker 1992 dalam Partini 2009). Karang yang sudah mati karena pengaruh sedimentasi lama kelamaan akan tergerus oleh ombak dan pada akhirnya menjadi patahan karang (rubble). Karang-karang yang diobservasi ketika penelitian berlangsung menunjukkan banyaknya polip karang yang tertutup oleh sedimentasi. Beberapa bahkan sudah mengalami kematian.
Permasalahan yang dialami oleh ekosistem terumbu karang ketika terdapat banyak patahan karang adalah tidak adanya substrat bagi karang untuk melakukan rekrutmen, karena karang harus memiliki media tempat mereka melekat (Connell 1973; Highsmith 1982; Harrison & Wallace 1990 dalam Bowden-Kerby 2003a). Patahan karang merupakan substrat yang tidak stabil, oleh karena itu larva karang tidak dapat menempel dengan baik (Brown & Dunne 1988; Lindahl 1998; Fox et al 1999 dalam Bowden-Kerby 2003a). Luasnya hamparan patahan karang di
16
perairan Kelurahan Pulau Panggang diduga menjadi salah satu alasan mengapa rekrutmen karang tidak dapat berjalan dengan optimal. Banyaknya patahan karang juga dapat disebabkan oleh maraknya penambangan karang yang kerap terjadi, hal ini menyebabkan terhambatnya rekrutmen karang karena tertutup dengan sedimen sisa penambangan (Brown & Dunne 1988 dalam Clark & Edwards 1995). Fenomena yang sama terjadi di Malaita, Pulau Solomon. Kegiatan masyarakat setempat seperti penambangan karang untuk menjadi bahan bangunan serta penggunaan bom untuk menangkap ikan menyebabkan banyaknya patahan karang (Bowden-Kerby 2003b).
Indeks keanekaragaman jenis karang di Kelurahan Pulau Panggang berkisar dari 1,54 hingga 2,24 (Tabel 6). Indeks keanekaragaman jenis karang di lokasi penelitian menurut Brower & Zar (1977) tergolong kecil, dimana tekanan ling-kungan kuat. Indeks keseragaman berkisar antara 0,67 hingga 0,79; hal tersebut mengindikasikan bahwa keseragaman tinggi sehingga ekosistem stabil. Sementara itu, tingkat dominansi cenderung rendah (0,17-0,35) menunjukkan bahwa tidak ada spesies tertentu yang mendominasi.
Tabel 6 Indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominansi karang
Substasiun Keanekaragaman (H’) Keseragaman (E) Dominansi (C)
Pramuka Selatan 1 2,02 0,71 0,20
Pramuka Selatan 2 2,14 0,79 0,17
Panggang Selatan 1 1,54 0,67 0,35
Panggang Selatan 2 1,60 0,69 0,25
Panggang Selatan 3 2,24 0,77 0,18
Dari hasil pengamatan, sebanyak 16 famili ikan ditemukan di lokasi penelitian. Berdasarkan peranannya menurut Dartnall & Jones (1986) dalam Adrim (2007), ditemukan sebanyak enam famili ikan target (Labridae, Nemipteridae, Mullidae, Serranidae, Lutjanidae, Siganidae), satu famili ikan indikator (Chaetodontidae) dan sembilan famili ikan mayor (Apogonidae, Pomacentridae, Blinniidae, Caesionidae, Pomacanthidae, Gobiidae, Scaridae, Aulostomidae, Holocentridae) (Lihat Lampiran 6). Jenis ikan yang mendominasi adalah dari famili Pomacentridae (ikan mayor) sebesar 55,25%; Labridae (ikan target) sebesar 20,12%; Caesionidae (Ikan mayor) sebesar 7,90%; Apogonidae (ikan mayor) 3,52%; dan Chaetodontidae (ikan indikator) 3,02% (Tabel 7).
Tabel 7 Komposisi kelimpahan lima famili ikan karang terbesar
Famili Nama Umum Persentase
Pomacentridae Damselfishes 55,25%
Labridae Wrasses 20,12%
Caesionidae Fusiliers 7,90%
Apogonidae Cardinalfishes 3,52%
Chaetodontidae Butterflyfishes 3,02%
Spesies ikan dari famili Pomacentridae yang sering ditemukan adalah Pomacentrus lepidogenys dan Amblyglyphidodon curacao, sementara spesies ikan dari famili Labridae yang sering teramati adalah Cirrhilabrus cyanopleura. Kedua famili ini memang merupakan komposisi jenis yang sering ditemukan paling banyak pada suatu ekosistem terumbu karang (TERANGI 2004; Quenouille et al
17 2004; Sale 1991; Estradivari et al 2011) dan berasosiasi erat dengan koloni koral individual dari tipe bercabang yang memang banyak ditemukan di lokasi penelitian (Nybakken 1993 dalam Desistiano 2008).
Ikan dari famili Pomacentridae pada umumnya pemakan plankton dan alga (TERANGI 2004; Sale 1991). Banyaknya nutrien yang terbuang dari pulau-pulau sekitar meningkatkan pertumbuhan alga sehingga persediaan makanan melimpah untuk mereka. Labridae adalah pemakan invertebrata kecil yang terdapat di dasar perairan (Sale 1991 dalam Desistiano 2008), beberapa spesies bahkan dapat membentuk schooling di sekitar terumbu karang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Low (1971) dalam Dhahiyat et al (2003), dominasi spesies dari genus Pomacentrus ini juga disebabkan oleh sifat mereka yang teritorial (mempertahan-kan daerah kekuasaan). Selain itu, famili ini dipengaruhi oleh karakteristik morfo-logi dari substrat, bahkan beberapa spesies diantaranya cenderung menggunakan karang sebagai habitat daripada sebagai sumber makanan, sehingga diduga peru-bahan habitat dengan adanya rak dan substrat pada daerah transplantasi karang menarik ikan-ikan dari famili ini (Roberts & Ormond 1987 dalam Dhahiyat et al 2003).
Pada umumnya ikan karang bersifat teritorial, namun karena ikan karang merupakan organisme yang mobile, keberadaannya pada suatu habitat sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Jika lingkungan sesuai, ikan karang akan berdatang-an, namun jika lingkungan berubah dan tidak sesuai baginya, maka ikan-ikan ini akan mencari tempat yang lebih sesuai. Hal ini merupakan kemungkinan akan adanya perubahan variasi spesies ikan yang muncul di daerah transplantasi (Dhahiyat et al 2003) karena tinggi rendahnya persentase tutupan karang hidup merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kehadiran ikan (Bell & Galzin 1984). Kelimpahan ikan karang di kelima substasiun di Kelurahan Pulau Panggang dapat dilihat pada Gambar 8. Berdasarkan grafik yang ditampilkan, dapat terlihat bahwa kelimpahan ikan karang relatif sama di seluruh substasiun, hanya saja pada substasiun Pramuka Selatan 1 ditemukan kelimpahan yang lebih sedikit dibandingkan dengan keempat substasiun lainnya. Hal ini disebabkan oleh minimnya tutupan karang hidup di substasiun tersebut (23% tutupan karang hidup). Tutupan karang pada substasiun ini merupakan yang paling rendah dibandingkan dengan keempat substasiun lainnya.
18
Keberadaan ikan indikator di suatu ekosistem terumbu karang merupakan salah satu indikasi penting dari keadaan terumbu karang tersebut. Menurut Manuputy & Winardi (2007), ikan dari famili Chaetodontidae merupakan jenis ikan karang yang khas mendiami daerah terumbu karang dan menjadi indikator kesuburan ekosistem daerah tersebut. Allen (2000) menambahkan bahwa banyak ikan karang dari famili Chaetodontidae memakan polip karang, sehingga apabila terumbu karang di suatu daerah sehat, maka hal tersebut akan mengundang ikan-ikan dari famili ini mendiami daerah tersebut karena ketersediaan makanannya yang cukup. Kelimpahan tertinggi ikan karang kategori indikator ini didapatkan pada substasiun Panggang Selatan 3 (380 ind/250m2) dan terendah pada substasiun Pramuka Selatan 1 (218/250m2). Hal ini berkorelasi positif dengan keadaan tutupan karang di kedua substasiun tersebut, karena substasiun Panggang Selatan 3 memiliki tingkat tutupan karang tertinggi sementara substasiun Pramuka Selatan 1 memiliki tingkat tutupan karang yang paling rendah.
Indeks keanekaragaman ikan karang di Kelurahan Pulau Panggang berkisar dari 2,00 hingga 3,08 (Tabel 8). Indeks keanekaragaman jenis karang di lokasi penelitian menurut Brower & Zar (1977) tergolong sedang, dimana tekanan ling-kungan sedang. Indeks keseragaman berkisar antara 0,69 hingga 0,89; hal tersebut mengindikasikan bahwa keseragaman tinggi sehingga ekosistem stabil. Sementara itu, tingkat dominansi cenderung rendah (0,06-0,21) menunjukkan bahwa tidak ada spesies tertentu yang mendominasi.
Tabel 8 Indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominansi ikan karang Substasiun Keanekaragaman (H’) Keseragaman (E) Dominansi (C)
Pramuka Selatan 1 2,00 0,69 0,21
Pramuka Selatan 2 2,58 0,80 0,11
Panggang Selatan 1 3,06 0,89 0,06
Panggang Selatan 2 2,95 0,88 0,07
Panggang Selatan 3 3,08 0,88 0,06
Secara keseluruhan, kondisi terumbu karang di lokasi penelitian tergolong sedang. Yang (1985) dalam Estradivari et al (2011) berpendapat bahwa terumbu karang di Kepulauan Seribu tidak mengalami proses rekrutmen yang baik karena koloni muda belum bisa mencapai reproduksi yang optimal dan rentan terhadap tekanan lingkungan seperti pemangsaan oleh hewan lain, terkubur sedimen, dan hancur karena arus. Hal ini diperparah oleh banyaknya limpasan nutrien yang masuk ke dalam perairan yang merangsang pertumbuhan alga dan membatasi ruang bagi karang untuk tumbuh. Transplantasi karang tidak akan menjadi efektif dalam merehabilitasi suatu ekosistem karang selama penyebab dari rusaknya terumbu karang masih tidak dapat ditekan (Bowden-Kerby 2003a).
Karakteristik dan Persepsi Nelayan Transplantasi Karang Hias
Berdasarkan informasi yang didapat oleh penulis, hanya terdapat sembilan nelayan yang hingga sekarang masih aktif mengelola kegiatan transplantasi karang di Kelurahan Pulau Panggang yang tergabung di dalam komunitas yang bernama PERNITAS (Perhimpunan Nelayan Ikan dan Tanaman Hias). Jumlah ini menunjukkan tren yang menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Nelayan trans-planttasi karang di Kelurahan Panggang sebagian besar berumur 40-49 tahun
19 (44%); Lalu diikuti dengan nelayan yang memiliki rentang umur 50-59 tahun (33%); dan 30-39 tahun (22%) (Gambar 9).
Gambar 9 Karakteristik usia nelayan transplantasi (n=9)
Sebanyak 67% dari nelayan yang diwawancarai memiliki riwayat pendidikan SMA. Bahkan ada satu nelayan (11%) yang merupakan lulusan sarjana. Sebesar 22% nelayan memiliki pendidikan akhir tingkat SD. Karakteristik tingkat pendidikan nelayan transplantasi Kelurahan Panggang dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar 10 Karakteristik pendidikan nelayan transplantasi (n=9)
Persepsi para nelayan transplantasi tentang kondisi terumbu karang menun-jukkan hasil yang hampir seimbang. Sebesar 34% dari responden menyatakan bahwa ekosistem terumbu karang di sekitar mereka baik; 33% dari responden berpendapat bahwa kondisi terumbu karang dalam kondisi sedang; dan 33% dari responden berpendapat bahwa kondisi terumbu karang di sekitarnya buruk. Perbedaan persepsi ini disebabkan oleh berbedanya pemahaman mereka akan baik/buruknya kondisi ekosistem terumbu karang. Karakteristik persepsi nelayan transplantasi terhadap kondisi terumbu karang dapat dilihat pada Gambar 11.
20
Gambar 11 Persepsi nelayan transplantasi terhadap kondisi terumbu karang (n=9) Pemahaman para nelayan transplantasi karang hias tentang konservasi pada umumnya bagus (89%). Hal ini dapat terjadi karena adanya campur tangan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan pemerintah yang ikut serta dalam sosialisasi akan pentingnya arti konservasi bagi keberlangsungan hidup mereka. Namun sosialisasi yang dilaksanakan belum merata karena kesadaran masyarakat akan lingkungan sekitar mereka masih cenderung rendah. Karakteristik pemahaman nelayan transplantasi terhadap konservasi dapat dilihat pada Gambar 12.
Gambar 12 Pemahaman konservasi nelayan transplantasi (n=9)
Sebagian besar dari nelayan transplantasi mengetahui manfaat dari ekosistem terumbu karang (78%), baik dari segi ekonomi ataupun dari segi ekologi. Hanya 22% yang memiliki pemahaman terumbu karang yang sedang. Karakteristik pemahaman nelayan transplantasi terhadap ekosistem terumbu karang dapat dilihat pada Gambar 13.
21
Gambar 13 Pemahaman nelayan transplantasi tentang terumbu karang (n=9) Hasil wawancara tingkat pendapatan nelayan transplantasi karang di Kelurahan Panggang menunjukkan hasil yang positif. Sebanyak 78% dari responden menyatakan bahwa mereka dapat menghasilkan rata-rata lebih dari satu juta per bulannya. Hanya 22% yang mendapatkan penghasilan 400 ribu – 499 ribu per bulan. Hasil dari transplantasi karang memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penghasilan perbulan para nelayan. Tingkat pendapatan nelayan transplantasi apabila dibandingkan dengan data Garis Kemiskinan per Maret 2013 (BPS Jakarta 2013) menunjukkan hasil yang hampir serupa. Garis Kemiskinan bulan Maret tahun 2013 sebesar Rp 1.629.748 per keluarga per bulan (asumsi: 1 keluarga terdiri dari 4 jiwa), hal tersebut mengindikasikan bahwa kondisi ekonomi para nelayan transplantasi tergolong buruk. Karakteristik tingkat pendapatan nelayan transplantasi dapat dilihat pada Gambar 14.
Gambar 14 Karakteristik pendapatan nelayan transplantasi (n=9)
Hampir seluruh responden (89%) menyatakan bahwa penghasilan dari transplantasi karang telah dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka. Hanya 11% yang menganggap kebutuhan sehari-hari mereka tidak tercukupi. Hal tersebut diduga karena nelayan tersebut tidak maksimal dalam menjalankan kegiatan transplantasinya, selain itu dia tidak memiliki pekerjaan sampingan yang
22
dapat dijadikan pendapatan alternatif. Karakteristik persepsi nelayan transplantasi terhadap kecukupan penghasilan dari kegiatan transplantasi dapat dilihat pada Gambar 15.
Gambar 15 Persepsi nelayan transplantasi terhadap pendapatan (n=9) Sebagian besar nelayan transplantasi merasa bahwa pemerintah telah sering mengadakan sosialisasi kepada masyarakat (56%). Sebagian besar lainnya menganggap pemerintah jarang melakukan sosialisasi (44%). Sering atau tidaknya pemerintah melakukan hal tersebut tergantung dari persepsi masyarakat itu sendiri. Rata-rata pemerintah mengadakan 4-6 kali sosialisasi terkait transplantasi karang. Frekuensi sosialisasi yang diadakan pun tergantung dari inisiatif nelayan-nelayan itu sendiri, apabila nelayan-nelayan aktif dan mau ikut serta terlibat dalam kegiatan ini, maka besar kemungkinan pemerintah pun akan meresponnya dengan baik. Karakteristik persepsi nelayan transplantasi terhadap sosialisasi yang diadakan oleh pemerintah dapat dilihat pada Gambar 16.
Gambar 16 Persepsi nelayan transplantasi terhadap sosialisasi (n=9) Berdasarkan hasil wawancara, sebesar 78% nelayan berpendapat bahwa mereka sering mengikuti sosialisasi yang diadakan oleh pemerintah, sedangkan