• Tidak ada hasil yang ditemukan

a. Kepadatan Spora

Berdasarkan hasil percobaan didapatkan jumlah spora hasil traping per 50 g contoh tanah untuk setiap ekosistem (jenis tanah PMK bekas hutan, tanah PMK bekas kebun karet, dan tanah gambut bekas hutan) seperti terlihat pada Tabel 1.

Pada Tabel 1 terlihat bahwa jumlah spora hasil trapping per 50 g contoh tanah berbeda untuk setiap jenis tanah, dimana jumlah spora terbanyak adalah di tanah PMK bekas kebun karet, disusul dengan tanah gambut bekas hutan dan tanah PMK bekas hutan. Sedangkan kepadatan spora alami sebelum dilakukan

trapping hanya 1-10 spora saja per 50 g tanah untuk setiap jenis tanah.

Tabel 1. Jumlah spora hasil trapping per 50 g contoh tanah pada setiap jenis tanah

Ulangan Tanah PMK bekas Tanah PMK bekas Tanah gambu bekas Hutan kebun karet hutan

1 167 224 165 2 160 110 178 3 148 187 138 4 170 171 167 Rata-rata 161.25 173 162

b. Jumlah Propagul Infektif

Setiap jenis tanah mengandung jumlah propagul infektif yang berbeda, yaitu di tanah PMK bekas hutan sebanyak 700 organisme/g tanah, di tanah PMK bekas kebun karet sebanyak 1400 organisme/g tanah, dan di tanah gambut bekas hutan sebanyak 1100 organisme/g tanah.

17

Jumlah propagul infektif yang tertinggi ternyata diperoleh pada tanah PMK bekas kebun karet diikuti oleh tanah gambut bekas hutan dan tanah PMK bekas hutan.

c. Karakterisasi Tipe Spora

Identifikasi tipe spora hasil isolasi atas dasar karakteristik morfologi dan responnya terhadap larutan Melzer’s di setiap jenis tanah ternyata memiliki jumlah dan tipe spora yang berbeda walaupun ada beberapa yang satu tipe. Tipe spora di tanah PMK bekas hutan ada sembilan tipe yaitu termasuk ke dalam genus Glomus (empat tipe) dan Acaulospora (lima tipe), seperti terlihat pada Tabel 2. Demikian juga dengan tipe spora yang ada di tanah PMK bekas kebun karet ada sembilan tipe dengan genus Glomus (tujuh tipe) dan Acaulospora (dua tipe), seperti terlihat pada Tabel 3. Tipe spora di tanah gambut bekas hutan primer terdapat 12 tipe spora yaitu Glomus (tujuh tipe) dan Acaulospora (lima tipe), seperti terlihat pada Tabel 4.

d. Kultur spora tunggal

Berdasarkan kultur spora tunggal didapatkan bahwa tidak semua tipe spora yang dikulturkan mampu tumbuh dan berkembang dengan baik. Dari sembilan jenis CMA (lima tipe Acaulospora dan empat tipe Glomus) yang ditemukan di rizosfir kelapa sawit yang ditanam pada tanah PMK bekas hutan hanya empat tipe spora yang mampu tumbuh dan berkembang dengan baik yaitu tipe spora Glomus

sp-3a (P-3), Glomus sp-4a (P-4), Acaulospora sp-3a (P-7), dan Acaulospora sp- 5a (P-9). Demikian juga di tanah PMK bekas kebun karet, dari sembilan jenis CMA (tujuh tipe Glomus dan dua tipe Acaulospora) yang ditemukan hanya empat tipe spora yang mampu tumbuh dan berkembang dengan baik yaitu Glomus sp-2b (S-2), Glomus sp-3b (S-3), Glomus sp-7b (S-7) dan Acaulospora sp-1b (S-8). Sedangkan di tanah gambut bekas hutan dari 12 jenis CMA (tujuh tipe Glomus dan lima tipe Acaulospora) yang diperoleh, hanya tiga tipe spora yang tumbuh dan berkembang dengan baik yaitu Glomus sp-1c (G-1), Glomus sp-5c (G-5), dan

18

Tabel 2. Jenis spora hasil isolasi dari perkebunan kelapa sawit yang ditanam pada tanah PMK bekas hutan Kabupaten Tebo Provinsi Jambi

No. Tipe Spora Karakteristik morfologi (Pembesaran 100 kali)

Reaksi dengan melzer’s

1 Glomus sp-1a Spora berbentuk bulat, berwarna hitam, per- mukaan spora halus, mempunyai hyphal attachment berbentuk lurus.

Tidak bereaksi dengan pewarna Melzer’s

2 Glomus sp-2a Spora berbentuk lon- jong, berwarna keco- klatan, permukaan spo- ra halus, berdinding te- bal, tidak mempunyai hyphal attachment.

Tidak bereaksi dengan pewarna Melzer’s

3 Glomus sp-3a Spora berbentuk bulat, berwarna kuning tua, permukaan spora halus dan berdinding tebal, tidak mempunyai hy- phal attachment.

Tidak bereaksi dengan pewarna Melzer’s

4 Glomus sp-4a Spora berukuran bulat, berwarna kuning sangat muda (keputihan), per- mukaan spora halus, ti- dak mempunyai hyphal attachments.

Tidak bereaksi dengan pewarna Melzer’s

19

Tabel 2. Lanjutan

5 Acaulospora sp-1a Spora berukuran bulat,

berwarna kekuningan, permukaan spora halus.

Bereaksi dengan pewar- na Melzer’s, terjadi pe - rubahan warna. Bagian dalam spora berwarna merah tua dan bagian luar berwarna kuning.

6 Acaulospora sp-2a Spora berukuran bulat,

berwarna kuning sangat muda (kuning keputih- an), permukaan spora relatif kasar dan mem- bentuk ornament seper- ti kulit jeruk.

Bereaksi dengan pewar- na Melzer’s, terjadi pe - rubahan warna. Bagian dalam spora berwarna kuning muda bagian luar berwarna kuning kepu- tihan.

7 Acaulospora sp-3a Spora berbentuk pipih,

berwarna kuning kehi- jauan. Permukaan spora relatif kasar dan membentuk ornament seperti kulit jeruk.

Tidak bereaksi dengan pewarna Melzer’s

8 Acaulospora sp-4a Spora berbentuk bulat

dan berukuran lebih kecil dari Acaulospora

sp-1a, berwarna keku- ningan. Permukaan spora relatif halus.

Bereaksi dengan pewar- na Melzer’s, terjadi pe - rubahan warna. Bagian dalam spora berwarna merah tua dan bagian luar berwarna kuning.

9 Acaulospora sp-5a Spora berukuran bulat,

berwarna kecoklatan. Permukaan spora relatif halus.

Bereaksi dengan pewar- na Melzer’s, terjadi pe - rubahan warna. Bagian dalam spora berwarna merah tua dan bagian luar berwarna kuning.

20

Tabel 3. Jenis spora hasil isolasi dari perkebunan kelapa sawit yang ditanam pada tanah PMK bekas kebun karet Kabupaten Tebo Provinsi Jambi

No. Tipe Spora Karakteristik morfologi (Pembesaran 100 kali)

Reaksi dengan melzer’s

1 Glomus sp- 1b Spora berbentuk lon-

jong, berwarna keco- klatan, permukaan spo- ra agak kasar, tidak mempunyai hyphal attachment.

Tidak bereaksi dengan pewarna Melzer’s

2 Glomus sp- 2b Spora berbentuk bulat,

berwarna kuning muda, permukaan spora halus, mempunyai hyphal attachment berbentuk lurus.

Tidak bereaksi dengan pewarna Melzer’s

3 Glomus sp- 3b Spora berbentuk bulat,

berwarna coklat tua, permukaan spora relatif kasar, mempunyai hy- phal attachment ber- bentuk lurus.

Tidak bereaksi dengan pewarna Melzer’s

4 Glomus sp-4b Spora berbentuk bulat,

berwarna coklat tua, permukaan spora relatif kasar, mempunyai hy- phal attachment ber- bentuk lurus.

Tidak bereaksi dengan pewarna Melzer’s

21

Tabel 3. Lanjutan

5 Glomus sp-5b Spora berbentuk lon-

jong, berwarna kuning muda, permukaan spora agak kasar, tidak mempunyai hyphal attachment.

Tidak bereaksi dengan pewarna Melzer’s

6 Glomus sp-6b Spora berbentuk bulat,

berwarna hitam, per- mukaan spora halus, mempunyai hyphal attachment berbentuk lurus.

Tidak bereaksi dengan pewarna Melzer’s

7 Glomus sp-7b Spora berbentuk bulat,

berwarna hitam, per- mukaan spora halus, mempunyai hyphal attachment berbentuk lurus.

Tidak bereaksi dengan pewarna Melzer’s

8 Acaulospora sp-1b Spora berukuran bulat,

berwarna kuning kepu- tihan (kuning sangat muda), Permukaan agak kasar.

Bereaksi dengan pewa- rna Melzer’s, ter jadi pe- rubahan warna. Bagian dalam spora berwarna kuning dan bagian luar berwarna kuning sangat muda.

9 Acaulospora sp-2b Spora berbentuk bulat,

berwarna kekuningan. Permukaan spora relatif halus.

Bereaksi dengan pewar- na Melzer’s, terjadi pe - rubah-an warna. Bagian dalam spora berwarna merah tua dan bagian luar berwarna kuning.

22

Tabel 4. Jenis spora hasil isolasi dari perkebunan kelapa sawit yang ditanam pada tanah gambut bekas hutan Kabupaten Muara Jambi Provinsi Jambi

No. Tipe Spora Karakteristik morfologi (Pembesaran 100 kali)

Reaksi dengan melzer’s

1 Glomus sp-1c Spora berbentuk bulat,

berwarna hitam, per- mukaannya halus, mempunyai hyphal attachments berbentuk lurus.

Tidak bereaksi dengan pewarna Melzer’s

2 Glomus sp-2c Spora berbentuk bulat,

berwarna kuning tua, permukaannya halus, tidak mempunyai hy- phal attachment.

Tidak bereaksi dengan pewarna Melzer’s

3 Glomus sp-3c Spora berbentuk bulat,

berwarna hitam, per- mukaannya halus dan berdinding lebih tebal dari Glomus sp-2c, mempunyai hyphal attachments berbentuk lurus.

Tidak bereaksi dengan pewarna Melzer’s

4 Glomus sp-4c Spora berbentuk lon-

jong, berwarna coklat, permukaannya relatif kasar mempunyai hy- phal attachments ber- bentuk lurus.

Tidak bereaksi dengan pewarna Melzer’s

23

Tabel 4. Lanjutan

5 Glomus sp-5c Spora berbentuk bulat,

berwarna kecoklatan, permukaannya relatif kasar, mempunyai hy- phal attachments ber- bentuk lurus.

Tidak bereaksi dengan pewarna Melzer’s

6 Glomus sp-6c Spora berbentuk bulat,

berwarna kuning tua, permukaannya halus, mempunyai hyphal attachments berbentuk lurus.

Tidak bereaksi dengan pewarna Melzer’s

7 Glomus sp-7c Spora berbentuk bulat,

berwarna coklat kehi- taman, permukaannya halus, mempunyai hyphal attachments berbentuk lurus.

Tidak bereaksi dengan pewarna Melzer’s

8 Acaulospora sp-1c Spora berbentuk bulat,

berwarna kecoklatan, permukaannya relatif kasar.

Bereaksi dengan pe- warna Melzer’s, terjadi perubahan warna dari kecoklatan menjadi co- klat kemerahan. Bagian dalam spora berwarna merah muda dan bagian luar berwarna keku- ningan.

24

Tabel 4. Lanjutan

9 Acaulospora sp-2c Spora berbentuk bulat,

berwarna kekuningan, permukaannya relatif kasar.

Bereaksi dengan pe- warna Melzer’s, terjadi perubahan warna dari kekuningan menjadi kuning kemerahan. Ba- gian dalam spora ber- warna merah dan ba- gian luar berwarna ke- kuningan.

10 Acaulospora sp-3c Spora berbentuk bulat,

berwarna kuning muda, permukaannya relatif kasar..

Bereaksi dengan pe- warna Melzer’s, terjadi perubahan warna dari kecoklatan menjadi ku- ning kecoklatan. Ba- gian dalam spora ber- warna kuning muda dan bagian luar ber- warna kuning agak tua.

11 Acaulospora sp-4c Spora berbentuk bulat,

berwarna kuning muda, permukaannya relatif kasar.

Bereaksi dengan pe- warna Melzer’s, terjadi perubahan warna. Ba- gian dalam spora ber- warna kuning muda dan bagian luar berwar- na kuning sangat muda.

12 Acaulospora sp-5c Spora berbentuk pipih,

berwarna kuning kehi- jauan. Permukaannya relatif kasar dan membentuk ornament seperti kulit jeruk.

Tidak bereaksi dengan pewarna Melzer’s

25

Pembahasan

Kepadatan spora alami sebelum trapping pada setiap jenis tanah hanya ditemukan 1-10 spora/50 g tanah. Hasil ini lebih rendah dibandingkan hasil penelitian Nadarajah dan Nawawi (1997) yang menemukan 33- 63 spora/50 g tanah, Nadarajah (1999) yang menjumpai jumlah spora 109-114 spora/100 g tanah serta Widiastuti (2004) yang mendapatkan 3-103 spora/100 g tanah pada rizosfir kelapa sawit. Rendahnya kepadatan spora alami pada rizosfir kelapa sawit ini kemungkinan pada saat mengambil contoh tanah CMA belum bersporulasi, jadi pada contoh tanah tersebut lebih banyak mengandung propagul yang lain seperti hifa.

Selanjutnya kepadatan spora pada rizosfir kelapa sawit untuk setiap jenis tanah hasil trapping menunjukkan hasil yang berbeda. Kepadatan spora tertinggi diperoleh di tanah PMK bekas kebun karet (173 spora/50 g tanah), diikuti tanah gambut (162 spora/50 g tanah) dan tanah PMK bekas hutan (161.25 spora/50 g tanah) seperti tercantum pada Tabel 1. Hasil ini ternyata lebih rendah juga dibandingkan kepadatan spora hasil trapping Widiastuti (2004) yang menemukan 1-474 spora/100 g tanah.

Jumlah propagul di setiap rizosfir juga bervariasi di antara jenis tanah di mana yang tertinggi diperoleh di tanah PMK bekas kebun karet (1400/g tanah), diikuti tanah gambut bekas hutan (1100/g tanah) dan tanah PMK bekas hutan (700/g tanah).

Perbedaan kepadatan spora dan jumlah propagul di antara contoh jenis tanah kemungkinan karena perbedaan lingkungan asal (jenis tanah, hara tanaman, pemupukan, cahaya, dan lain-lain) dan juga tanaman inang itu sendiri (umur tanaman inang), maupun cara pengelolaan. Menurut hasil penelitian Widiastuti (2004) bahwa umur kelapa sawit menentukan kepadatan spora dan jumlah propagul infektif yang ada di rizosfirnya, di mana semakin tua umur kelapa sawit maka jumlah spora dan propagulnya semakin menurun. Pada penelitian ini, contoh tanah yang diambil adalah dari rizosfir kelapa sawit yang berumur 8 tahun (untuk tanah PMK bekas kebun karet dan tanah PMK bekas hutan ) dan 3 tahun (untuk tanah gambut bekas hutan), berarti pernyataan Widiastuti (2004) tidak

26

berlaku untuk penelitian ini. Selain itu, hasil penelitian Ervayenri (1998) justru mendapatkan bahwa pada rizosfir kelapa sawit yang berumur 3 tahun lebih banyak jumlah spora dan propagul infektifnya dibandingkan kelapa sawit yang berumur 1 tahun. Jadi pada penelitian ini perbedaan kepadatan spora dan propagul terutama disebabkan perbedaan lingkungan tumbuh kelapa sawit, keberadaan vegetasi lain di bawah tanaman kelapa sawit dan mungkin juga cara pengelolaannya, bukan hanya semata-mata karena umur kelapa sawitnya.

Jumlah spora dan propagul infektif di tanah PMK bekas hutan ternyata lebih sedikit daripada tanah PMK bekas kebun karet. Hal ini kemungkinan pada tanah PMK bekas hutan, tanah tersebut masih alami (belum pernah dikelola), sedangkan PMK bekas kebun karet sudah dikelola untuk perkebunan karet sebelum ditanami kelapa sawit. Hasil tersebut sesuai dengan hasil penelitian Erickson (2001) yang menunjukkan bahwa kolonisasi dan jumlah spora CMA nyata lebih tinggi pada pengelolaan tanah (cara pengolahan dan pemupukan) yang kontinyu secara terus-menerus dibandingkan pengelolaan tanah yang tidak kontinyu. Sebaliknya hasil penelitian Ervayenri (1998) menunjukkan bahwa jumlah spora dan propagul infektif CMA di tanah yang terganggu lebih sedikit daripada yang belum terganggu (alami). Demikian juga dengan hasil penelitian McGonigle et al. (1990) dan Zhao et al. (2001) yang mendapatkan bahwa pengolahan tanah justru dapat mengurangi kolonisasi mikoriza serta tingkat pemupukan yang tinggi juga dapat berpengaruh negatif pada mikoriza. Dalam hal ini berarti bahwa jumlah spora dan propagul infektif di tanah PMK bekas kebun karet tidak berkurang akibat adanya pengolahan dan pemupukan tanah tersebut. Jadi berkurangnya jumlah spora dan propagul infektif pada suatu jenis tanah mungkin lebih disebabkan oleh perbedaan lingkungan, musim waktu pengambilan contoh tanah, jenis tanaman inang, keberadaan vegetasi lain di bawah kelapa sawit dan bukan semata-mata karena adanya pengolahan tanah dan pemupukan saja.

Jumlah CMA di tanah pertanian bervariasi tergantung musim setiap tahun dan juga tergantung beberapa faktor seperti pertumbuhan tanaman, faktor edafik, pola cuaca setiap musim dan pengelolaan (pemupukan, cara pemupukan dan pengolahan tanah). Seperti halnya hasil penelitian Giovannetti (1985) dan Sturmer

27

& Bellei (1994) yang mendapatkan bahwa jumlah spora atau frekuensi sporulasi CMA bervariasi sesuai musim.

Keanekaragaman jenis CMA di tanah yang diteliti cukup tinggi, di mana pada tanah PMK bekas hutan dan PMK bekas kebun karet masing-masing ditemukan 9 tipe spora, sedangkan di tanah gambut bekas hutan ada 12 tipe spora. Keragaman spesies yang didapatkan pada penelitian ini ternyata lebih tinggi daripada hasil penelitian Puspa dan Suwandi (1990) yang menemukan enam spesies dan Nadarajah (1999) yang hanya memperoleh tujuh spesies pada rizosfir kelapa sawit. Keragaman yang berbeda ini disebabkan karena perbedaan lingkungan, jenis vegetasi yang ada di bawah kelapa sawit dan cara pengelolaan.

Pada setiap jenis tanah hanya ditemukan dua genus CMA yaitu Glomus dan Acaulospora. Hal ini berhubungan dengan waktu pengambilan sampel tanah dan pada saat pengambilan sampel untuk karakterisasi. Kemungkinan pada saat pengambilan sampel tanah untuk trapping itu hanya ada propagul Glomus dan Acaulospora yang ada, demikian juga saat pengambilan sampel tanah dari hasil

trapping, sebab keberadaan dan keanekaragaman CMA dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan tanaman inang seperti hasil penelitian Johnson-Green & Booth (1995) dan Siguenza et al. (1996). Selain itu menurut Ocampo et al. (1986), setiap individu CMA dipengaruhi oleh faktor intrinsik terhadap perubahan lingkungan seperti halnya musim. Kemungkinan lain adalah ada beberapa genus CMA yang terbatas penyebarannya sehingga kemungkinan genus spora yang ditemukan dari suatu jenis tanah pada suatu wilayah pada suatu waktu tertentu mungkin tidak mewakili seluruh spora yang ada dari genus CMA yang ada di daerah tersebut.

Tipe spora di rizosfir kelapa sawit pada tanah PMK bekas hutan dan PMK bekas kebun karet ditemukan dalam jumlah yang sama yaitu sembilan tipe spora, walaupun tipenya berbeda, sedangkan di tanah gambut bekas hutan ada 12 tipe spora. Di tanah PMK bekas hutan jenis Acaulospora yang mendominasi (lima tipe Acaulospora dan empat tipe Glomus), sedangkan di tanah PMK bekas kebun karet jenis Glomus yang mendominasi (tujuh tipe) daripada tipe Acaulospora (dua tipe). Demikian juga di tanah gambut bekas hutan jenis Glomus juga yang mendominasi (tujuh tipe Glomus) dibandingkan jenis Acaulospora (lima tipe).

28

Jadi jelas terlihat bahwa jenis tanah sangat mempengaruhi keberadaan jenis CMA juga setiap jenis CMA memiliki kemampuan beradaptasi yang berbeda di setiap ekosistem. Hasil penelitian Allen & Cunningham (1983), Pond et al. (1984), Ragupathy & Mahadevan (1991) dan Purwanto (1999) menunjukkan bahwa jenis Glomus lebih beradaptasi dibandingkan genus yang lain terhadap kisaran keadaan lingkungan yang luas.

Tipe spora yang berhasil diperbanyak melalui kultur spora tunggal hanya 44,4 % (empat tipe) untuk masing-masing tanah PMK bekas hutan dan PMK bekas kebun karet, sedangkan untuk tanah gambut bekas hutan hanya 25 % (tiga tipe) dari seluruh spora yang ditemukan. Hal ini kemungkinan disebabkan daya adaptasi dari setiap tipe tersebut, di mana tidak semua tipe spora yang ditemukan mampu beradaptasi pada keadaan lingkungan yang baru. Oleh sebab itu, hanya spora yang memiliki adaptasi yang tinggi saja yang mampu hidup dan berkembang di lingkungan yang baru. Demikian juga berdasarkan Invam (2003), Glomus memang merupakan jenis CMA yang paling dominan dan mempunyai toleransi yang luas terhadap berbagai faktor lingkungan, sebab dari 172 jenis CMA yang sudah diidentifikasi ternyata 52,3 % adalah jenis Glomus diikuti oleh Acaulospora 20,9 %, Scutellospora 16,9 %, Gigaspora 4,7 %, Entrophospora 2,3 %, Archaespora 1,7 % dan Paraglomus 1,2 %. Hasil penelitian Ervayenri (1998) di tanah gambut di Dumai dan Perawang Kabupaten Bengkalis didapatkan bahwa jenis Glomus juga yang mendominasi daerah tersebut. Dari 27 tipe spora yang ditemukan genus Glomusmempunyai tipe spora yang tertinggi.

Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, maka untuk mendapatkan jumlah spora yang banyak dapat diisolasi dari tanah PMK bekas kebun karet dengan memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberadaan CMA tersebut terutama waktu pengambilan contoh tanah. Sebaliknya untuk mendapatkan keanekaragaman tipe spora, tanah gambut bekas hutan lebih baik dibandingkan tanah PMK. Tetapi walaupun demikian, keberadaan CMA di suatu ekosistem sangat bervariasi karena banyak yang mempengaruhi antara lain oleh perbedaan musim, keadaan lingkungan, jenis tanaman inang, jenis vegetasi di sekitarnya, cara pengelolaan dan sebagainya. Demikian juga untuk

29

mempertahankan keberadaan CMA dalam suatu ekosistem, ternyata tidak bisa dengan cara pengurangan pengolahan tanah atau pemupukan sebab hasil penelitian ini dan dari beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa banyak sekali faktor yang mempengaruhi keberadaan CMA tersebut selain cara pengelolaan tersebut.

Kesimpulan

1. Jenis CMA yang tedapat di rizosfir kelapa sawit yang ditanam pada tanah PMK bekas hutan, PMK bekas kebun karet dan gambut bekas hutan memiliki jumlah dan jenis yang berbeda. Pada setiap jenis tanah hanya ditemukan dua genus CMA yaitu Glomus dan Acaulospora.

2. Jenis CMA di rizosfir kelapa sawit yang ditanam pada tanah PMK bekas hutan diperoleh ssembilan jenis CMA (lima tipe Acaulospora dan empat tipe Glomus), di tanah PMK bekas kebun karet sembilan jenis CMA (tujuh tipe Glomus dan dua tipe Acaulospora) dan di tanah gambut bekas hutan diperoleh 12 jenis CMA (tujuh tipe Glomus dan lima tipe Acaulospora).

3. CMA di rizosfir kelapa sawit yang ditanam pada tanah PMK bekas hutan didominasi oleh Acaulospora, sedangkan di tanah PMK bekas kebun karet dan tanah gambut bekas hutan didominasi oleh Glomus.

4. Jenis CMA yang berhasil diisolasi dan diperbanyak dari kultur spora tunggal di rizosfir kelapa sawit yang ditanam pada tanah PMK bekas hutan ada empat tipe spora yaitu Glomus sp-3a (P-3), Glomus sp-4a (P-4), Acaulospora sp-3a (P-7), dan Acaulospora sp-5a (P-9), di tanah PMK bekas kebun karet empat tipe spora yaitu Glomus sp-2b (S-2), Glomus sp-3b (S-3), Glomus sp-7b (S-7) dan Acaulospora sp-1b (S-8) serta di tanah gambut bekas hutan tiga tipe spora yaitu Glomus sp-1c (G-1), Glomus sp-5c (G-5), dan Acaulospora sp-5c (G-12).

5. Ekosistem buatan (tanah PMK bekas kebun karet) memiliki jumlah spora dan propagul infektif lebih tinggi dibandingkan ekosistem alami (tanah PMK dan gambut bekas hutan).

PENGUJIAN KEEFEKTIVAN CMA TERHADAP BIBIT