• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kemitraan Usaha ternak Ayam Ras Pedaging Perjanjian Kemitraan

Sistem kemitraan pada usaha ternak ayam ras pedaging dapat diartikan sebagai kerjasama dalam proses pemerliharaan yang dilakukan antara dua pihak, yaitu perusahaan dan peternak. Kerjasama kemitraan di Kecamatan pamijahan dilakukan peternak dengan perusahaan peternakan. Pola kemitraan yang umum dilakukan peternak mitra di Kecamatan Pamijahan yaitu pola inti plasma karena perusahaan peternakan berperan dalam menyediakan sarana produksi, melakukan pembinaan, dan memberikan jaminan pemasaran dengan harga kontrak. Sedangkan peternak berperan melakukan usaha ternak untuk inti dan tidak diperbolehkan menggunakan sapronak dari pihak lain serta menjual hasil panen ke pihak lain selain perusahaan peternakan.

Dalam penelitian ini, terdapat tiga perusahaan inti yang merupakan perusahaan peternakan. Perusahaan peternakan merupakan perusahaan yang melakukan kegiatan budidaya dan kemitraan. Perusahaan peternakan memiliki jaringan bisnis dengan penyuplai DOC, pakan, obat-obatan, dan konsumen yang diperlukan untuk memperlancar proses persiapan produksi, produksi, dan pemasaran. Kerjasama kemitraan yang dilakukan ketiga perusahaan tersebut

27 dengan peternak-peternak plasmanya dituangkan dalam dokumen kontrak yang disepakati oleh kedua belah pihak. Secara umum, perjanjian mengenai aturan dalam kemitraan yang diberlakukan oleh ketiga perusahaan tersebut sama dan harus disepakati oleh kedua belah pihak secara tertulis. Pada perjanjian kerjasama, pihak-pihak yang terlibat dan pokok kesepakatannya dapat dijabarkan sebagai berikut:

a. Pihak Pertama adalah peternak yang memerlukan bantuan permodalan, bantuan teknis pemeliharaan ternak, dan manajemen usaha serta bermaksud untuk menjadi mitra Pihak Kedua menurut pola kemitraan yang ditawarkan Pihak Kedua.

b. Pihak Kedua adalah perusahaan yang menyediakan sarana produksi peternakan (sapronak), pembimbingan teknik pemeliharaan ayam ras pedaging, kredit, dan pemasaran hasil produksi.

c. Pihak Pertama dan Kedua sepakat untuk mengadakan kerjasama kemitraan yang diatur dalam pasal-pasal yang tertera dalam perjanjian kerjasama. Aturan-aturan pelaksanaan kemitraan yang ada pada kontrak diperinci dalam 18 pasal yang memuat tentang ruang lingkup kerjasama, jangka waktu perjanjian, hak dan kewajiban inti dan plasma, pembayaran hasil, sanksi dan denda, jaminan dan hutang, serta penyelesaian perselisihan. Sementara, kesepakatan tentang harga sapronak, harga ayam per kilogram, dan ketentuan bonus tercantum dalam surat kesepakatan lain yang masih berhubungan dengan perjanian kerjasama. Aturan pelaksanaan kerjasama dari kesepakatan perjanjian kemitraan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Jangka waktu perjanjian

Perjanjian kerjasama disepakati kedua belah pihak selama hubungan kerjasama antara Pihak Pertama dan Pihak Kedua berlangsung terhitung sejak tanggal penandatanganan perjanjian kerjasama dan berakhir ketika kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri hubungan kerjasama.

2. Kewajiban dan hak inti-plasma

Dalam kemitraan inti-plasma, Pihak Pertama selaku plasma berkewajiban untuk:

a. Menyediakan sarana tempat produksi, peralatan kandang, bahan bakar, dan tenaga kerja dalam memperlancar proses produksi dengan biaya sendiri. b. Melakukan kegiatan budidaya ayam ras pedaging sesuai dengan tata cara

budidaya yang ditetapkan oleh Pihak Kedua.

c. Menjaga keamanan kandang dan sapronak dan tidak diperkenankan untuk memasukkan ayam tambahan dan/atau pakan yang bukan berasal dari Pihak Kedua.

d. Bertanggung jawab atas setiap risiko kegagalan pemeliharaan ayam sampai panen.

e. Menyerahkan seluruh hasil produksi pada pihak kedua. f. Membayar harga pengadaan sapronak

Dalam kemitraan inti-plasma, Pihak Kedua selaku inti berkewajiban untuk: a. Membina Pihak Pertama dalam pelaksanaan budidaya dengan memberikan

28

b. Menyediakan sarana produksi peternakan (sapronak) berupa DOC, pakan, obat-obatan yang berkualitas dan sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan peternak dengan tepat waktu.

c. Membantu administasi dan pengelolaan hutang piutang Pihak Pertama. d. Membeli seluruh hasil produksi Pihak Pertama sesuai dengan harga yang

disepakati.

Pihak Pertama selaku plasma berhak untuk:

a. Menerima sapronak yang berkualitas dan sesuai dengan yang dibutuhkan, dengan tepat waktu.

b. Menerima hasil pembayaran ayam setelah dipotong dengan jumlah kredit sapronak.

Pihak Kedua selaku inti berhak untuk: a. Mendapatkan ayam hasil panen

b. Memberikan sanksi atau menghentikan kerjasama kemitraan apabila: - Pihak Pertama tidak memenuhi kewajiban-kewajibannya,

- Pihak Pertama menghentikan aktivitasnya sebagai plasma dari Pihak Kedua

- Pihak Pertama melakukan hal-hal yang tercela. c. Melakukan kontrol ke lokasi pemeliharaan ayam.

d. Mengarahkan Pihak Pertama dalam hal pemeliharaan ayam.

e. Menerima hasil pencatatan data perkembangan ayam setelah panen dilakukan.

f. Menghentikan pengiriman sapronak dan kerjasama apabila Pihak Pertama mengalami kerugian dua kali siklus produksi secara berturut-turut.

3. Pembayaran hasil

Keuntungan hasil produksi Pihak Pertama harus dibayarkan oleh Pihak Kedua selambat-lambatnya dua minggu atau lima belas hari kerja setelah hari terakhir panen.

4. Sanksi, denda, hutang dan jaminan

a. Apabila terdapat selisih jumlah ayam atau pakan ternak antara catatan harian dengan jumlah panen, maka Pihak Pertama diharuskan untuk mengganti jumlah selisih secara tunai tersebut dengan disertai denda. b. Apabila Pihak Pertama terbukti menjual hasil produksi pada pihak selain

Pihak Kedua maka Pihak Pertama dikenakan denda untuk mengganti hasil produksi yang dijual secara tunai.

c. Hutang Pihak Pertama kepada Pihak Kedua dilunasi selambat-lambatnya tiga puluh hari setelah pemutusan kerjasama.

d. Untuk menjamin pengembalian kredit, Pihak Pertama bersedia menyerahkan jaminan berupa akta atas tanah yang tidak dalam sengketa. e. Apabila Pihak Pertama tidak dapat melunasi hutang atau kredit maka

Pihak Pertama setuju untuk memberikan kuasa pada Pihak Kedua untuk menjual jaminan dan diperhitungkan nilai pengembalian kredit atau

29 hutangnya dengan syarat yang dianggap adil dan disepakati kedua belah pihak.

5. Penyelesaian masalah

Semua perselisihan yang timbul dari perjanjian ini diselesaikan secara musyawarah. Namun, apabila tidak tercapai kesepakatan maka para pihak yang bermitra dapat menggunakan upaya hukum.

Berdasarkan uraian perjanjian kerjasama antara inti dan plasma diatas maka dapat dilihat bahwa perjanjian kemitraan tersebut dibuat sepihak oleh perusahaan inti tanpa ada campur tangan peternak. Pada uraian perjanjian kemitraan dapat terlihat bahwa kedudukan perusahaan inti lebih tinggi dibandingkan dengan peternak mitra sehingga kekuatan tawar peternak jauh lebih rendah. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah kewajiban yang harus dilakukan peternak sebagai mitra lebih banyak dibandingkan dengan hak yang diperoleh. Selain itu, peternak tidak diberikan hak untuk melakukan protes atau menyampaikan keluhan atas tindakan perusahaan inti yang dianggap tidak menguntungkan bagi peternak. Pada perjanjian juga tidak disebutkan sanksi atau denda yang diberlakukan pada perusahaan inti apabila perusahaan inti tidak melakukan kewajibannya. Padahal kesetaraan kedudukan antara kedua belah pihak yang bermitra diperlukan agar tercipta hubungan yang saling menguntungkan dan memajukan dalam perjanjian kemitraan.

Mekanisme Kemitraan

1. Prosedur penerimaan mitra

Sistem dan prosedur penerimaan calon mitra dibuat dengan tujuan agar dapat memberikan kepastian mitra dengan selektif dan sesuai dengan standar yang ditentukan oleh perusahaan inti. Sistem dan prosedur penerimaan mitra dilakukan secara formal dan memiliki tahapan-tahapan yang harus dilakukan. Hal ini dilakukan karena perusahaan dan peternak mitra akan menjadi rekan kerja yang secara bersama-sama menjalankan kewajiban masing-masing untuk mencapai tujuan bersama yakni memaksimalkan keuntungan yang diperoleh. Berdasarkan hasil wawancara, prosedur penerimaan mitra yang ditetapkan oleh ketiga perusahaan inti ini cenderung sama.

Terdapat beberapa alasan yang membuat peternak tertarik untuk menjalankan usaha ternaknya dengan sistem kemitraan. Berdasarkan hasil wawancara sebagian besar peternak memutuskan untuk menjalankan usahanya dengan bermitra karena kendala permodalan, kendala dalam pemasaran produk, dan risiko fluktuasi harga. Peternak yang ingin bergabung dalam kemitraan biasanya mengumpulkan informasi mengenai perusahaan yang menyediakan kemitraan. Informasi mengenai perusahaan inti ini dapat diperoleh dari keluarga, teman sesama peternak, maupun langsung dari perusahaan inti. Perusahaan- perusahaan inti yang ada di Kecamatan Pamijahan umumnya menerapkan aturan dan sistem yang sama sehingga keputusan peternak dalam memilih perusahaan intinya dipengaruhi beberapa faktor yakni jarak perusahaan inti dengan peternak, sistem pembayaran yang diterapkan, dan pendekatan dari petugas penyuluh lapang (PPL) perusahaan inti tersebut. Perusahaan inti dengan jarak yang dekat dengan lokasi peternak dipilih karena mempermudah peternak untuk melakukan berbagai urusan selama kemitraan berlangsung seperti distribusi input, pengaduan masalah, dan pengambilan hasil. Perusahaan inti dengan sistem pembayaran

30

secara tunai lebih banyak dipilih peternak dibandingkan dengan perusahaan inti yang menerapkan sistem pembayaran hasil dengan transfer melalui ATM.

Setelah menetapkan perusahaan inti yang diinginkan, peternak dapat langsung mendaftarkan diri sebagai calon peternak mitra. Peternak menyampaikan keinginannya untuk bermitra dengan perusahaan. Selanjutnya, petugas PPL akan mendatangi lokasi kandang untuk melihat keadaan dan kelengkapan kandang calon peternak mitra. Data-data terkait dengan kandang calon peternak mitra dicatat untuk dijadikan pertimbangan. Setelah proses survei kandang dilakukan, PPL akan menentukan layak atau tidaknya calon mitra tersebut untuk bergabung dengan perusahaan.

Setelah proses survei kandang dilakukan dan dianggap telah layak, selanjutnya peternak diminta mendatangi kembali perusahaan dengan membawa syarat-syarat untuk kelengkapan identitas peternak dan jaminan. Sebelum menyerahkan jaminan, peternak diminta membaca dengan seksama dan diberikan penjelasan mengenai perjanjian kerjasama. Apabila telah disepakati maka peternak dapat menyerahkan jaminan. Jaminan ini dapat berupa surat tanah, BPKB kendaaraan ataupun uang tunai yang bertujuan sebagai jaminan apabila peternak merugi dan tidak dapat membayar kredit penyediaan sapronak. Setelah itu calon peternak mitra menandatangani dokumen perjanjian kerjasama maka calon peternak mitra sudah sah menjadi mitra perusahaan.

Secara formal, peternak harus melakukan tahapan-tahapan dalam prosedur penerimaan mitra harus dilakukan termasuk menyerahkan jaminan. Tetapi ternyata terdapat beberapa peternak responden yang tidak menyerahkan jaminan. Peternak responden yang tidak menyerahkan jaminan ini umumnya karena didasarkan hubungan saling percaya karena telah mengenal baik petugas PPL dari perusahaan inti atau sudah pernah melakukan kerjasama sebelumnya dengan perusahaan dan sempat berpindah kerjasama dengan perusahaan inti lain. Hal ini membuat tingginya arus fluktuasi keluar masuknya peternak sebagai mitra. Penyebabnya adalah jika peternak mitra mengalami kerugian. Apabila mengalami kerugian, peternak mitra akan meminta pada inti untuk tidak mengirimkan sapronak untuk siklus produksi berikutnya dengan alasan ingin beristirahat, tetapi ternyata peternak akan mengajukan kerjasama dengan perusahaan inti lainnya.

Dapat dilihat bahwa meskipun peternak mengalami kerugian, peternak akan tetap melakukan usahanya dengan bermitra yakni dengan berpindah kerjasama dengan perusahaan inti yang lain. Mengingat bahwa sebagian besar peternak memilih untuk bermitra karena memiliki kendala permodalan, maka dapat dikatakan peternak memiliki ketergantungan terhadap inti terutama dalam penyediaan sarana produksi ternak. Ketergantungan ini yang membuat peternak akan tetap bermitra walaupun mengalami kerugian. Akan tetapi, adanya ketentuan perusahaan inti bahwa peternak mitra tetap harus membayar kerugian pada perusahaan inti meskipun peternak memutuskan hubungan kerjasama membuat peternak lebih memilih untuk berpindah perusahaan inti. Walaupun begitu, peternak mitra yang berpindah perusahaan inti tidak akan mengambil jaminan yang telah diberikan karena sewaktu-waktu mungkin peternak tersebut akan kembali lagi bermitra pada perusahaan inti tersebut apabila mengalami kerugian saat bermitra dengan perusahaan inti yang baru.

31 2. Kegiatan produksi

Kegiatan produksi dalam mekanisme kemitraan dimulai dari penyediaan sapronak hingga pemanenan hasil. Dalam penyediaan sapronak, perusahaan inti menyediakan sapronak berupa pakan, DOC, dan obat-obatan untuk kegiatan produksi peternak mitranya yang dikirimkan secara langsung ke kandang-kandang peternak. Jumlah sapronak yang dikirim telah disesuaikan dengan kebutuhan produksi peternak. Pengiriman DOC dilakukan setelah persiapan kandang selesai dikerjakan, pada umumnya dua hingga tiga minggu setelah panen. Bila persiapan kandang belum selesai maka perusahaan akan menunda pengiriman. Biasanya perusahaan akan menghubungi peternak untuk menanyakan apabila kandang telah siap untuk digunakan. Berdasarkan informasi tersebut, perusahaan akan menentukan jadwal pengiriman DOC.

Pengiriman DOC biasa dilakukan mulai pukul 02.00 malam hingga menjelang subuh dan peternak harus melengkapi form administrasi yang telah disiapkan perusahaan inti, seperti mencatat jam kedatangan, lama pengiriman, jumlah boks DOC dan hal lain yang diperlukan, terutama kondisi DOC. Tanpa adanya catatan tersebut, peternak tidak dapat mengajukan protes ke perusahaan inti apabila kondisi DOC ternyata tidak bagus dalam satu minggu pemeliharaan, sehingga peternak dapat mendapatkan pengganti DOC yang lebih baik. Akan tetapi, perusahaan inti biasanya melebihkan jumlah sapronak yang dikirim, seperti jumlah DOC yag dilebihkan sebanyak 2 persen untuk antisipasi adanya DOC yang mati selama perjalanan atau dalam satu minggu pemeliharaan.

Selain DOC, peternak juga mendapatkan pasokan pakan. Pakan yang disediakan perusahaan inti umumnya telah disesuaikan dengan kebutuhan peternak. Pada awal produksi pengiriman pakan akan diantarkan langsung ke kandang peternak. Apabila peternak membutuhkan tambahan pakan, peternak dapat langsung mengambil ke perusahaan ataupun menunggu diantar. Tetapi peternak harus menghubungi pihak perusahaan terlebih dahulu sebelum mengambil pakan. Begitu pula dengan penyediaan obat-obatan. Pada umumnya pengiriman sapronak ini dilakukan tepat waktu. Tetapi, untuk pengiriman DOC terkadang terlambat dua hingga tiga hari dari jadwal yang ditetapkan padahal peternak telah mempersiapkan kebutuhan yang diperlukan saat chick in seperti menyalakan pemanas dan menebar sekam. Apabila terdapat sisa pakan saat akhir produksi, maka peternak harus mengembalikan pakan yang tidak digunakan tersebut.

Seluruh kegiatan produksi dilakukan oleh peternak mitra. Akan tetapi, adanya kerjasama kemitraan membuat perusahaan inti memberikan pembinaan dan pengawasan pada peternak dalam kegiatan pemeliharaan pada peternak mitra agar ayam yang dihasilkan sesuai dengan kriteria atau standar performa yang ditetapkan perusahaan. Perusahaan inti menetapkan standar performa yang meliputi rata-rata bobot, FCR, total penggunaan pakan, dan mortalitas untuk setiap minggu yang disesuaikan dengan umur ayam selama proses produksi. Pembinaan dan pengawasan dilakukan oleh petugas penyuluh lapang (PPL). PPL biasanya mengunjungi peternak satu hingga dua kali dalam seminggu. Frekuensi kunjungan PPL dapat lebih sering apabila ayam terjangkit penyakit.

Pembinaan dalam kegiatan produksi yang diberikan perusahaan berupa pembinaan dalam tata cara budidaya yang sesuai dengan keinginan perusahaan inti dan jadwal pemberian obat serta pakan ternak yang telah disusun oleh

32

perusahaan inti. Jumlah pakan dan dosis obat yang tertera pada jadwal tersebut telah disesuaikan dengan kapasitas kandang ayam peternak. Pembinaan juga dilakukan apabila peternak mengalami kesulitan dalam masa budidaya dan membantu peternak menjaga kondisi kesehatan ayam..

Selain itu, peternak juga diwajibkan untuk melakukan pencatatan data perkembangan ayam dengan mengisi form laporan perkembangan ayam atau

recording setiap hari selama masa produksi. Form laporan ini merupakan bentuk dari pengawasan yang dilakukan oleh perusahaan. Dalam form ini peternak harus mencatat jumlah pakan yang digunakan, jumlah ayam yang mati, dan berat rata- rata ayam. Laporan pemeliharaan ayam tersebut akan diperiksa setiap minggunya oleh PPL agar performa ternak yang diusahakan peternak dapat sesuai dengan standar performa yang ditetapkan oleh perusahaan inti. Apabila hasil laporan pemeliharaan ayam tidak sesuai dengan standar performa yang ditetapkan perusahaan maka perusahaan melalui PPL akan memberikan pembinaan sehingga performa ayam tetap baik dan dapat dipanen dengan performa yang sesuai standar perusahaan.

Perusahaan akan menentukan jadwal panen peternak mitra berdasarkan catatan umur ternak yang dimiliki perusahaan. Apabila dirasa telah siap untuk dipanen dengan bobot ayam yang sesuai dengan keinginan konsumen, perusahaan akan menghubungi peternak mitra untuk mempersiapkan panen. Perusahaan inti umumnya melakukan panen saat ayam telah mencapai bobot 1.00 kilogram hingga 2.00 kilogram atau saat ayam berumur 28 hari – 35 hari sesuai dengan permintaan konsumen perusahaan. Perusahaan akan memberitahukan nama dari penangkap (pembeli), nomer kendaraannya, dan banyaknya volume panen. Penangkap akan diminta untuk memperlihatkan surat DO terlebih dahulu sebelum panen dilakukan. Peternak akan mengisi surat Daftar Timbangan Ayam yang berisi identitas kandang, identitas penangkap, nomer DO, tanggal dan jam tangkap, total berat, total ekor, dan rata-rata bobot. Pada saat panen, seluruh hasil panen peternak mitra harus diserahkan kepada inti termasuk penjualan ayam yang sakit. Selain itu, seluruh hasil penjualan harus menggunakan surat order kirim atau yang biasa disebut surat DO (delivery order) dari perusahaan inti dan semua pembayaran atas hasil produksi dialamatkan pada perusahaan serta peternak harus menyiapkan tenaga kerja dan biaya panen untuk mendukung kelancaran panen.

Walaupun secara formal perusahaan inti menetapkan bahwa jadwal panen ditentukan oleh perusahaan tetapi peternak dapat meminta pada perusahaan melalui PPL agar panen dilakukan lebih cepat apabila ayam telah memasuki umur panen dan food convertion ratio (FCR) ternak sesuai dengan standar perusahaan. Meskipun demikian, perusahaan inti tidak akan langsung melakukan pemanenan dan tetap akan melakukan panen sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan walaupun peternak telah meminta untuk dipanen. Hal ini dikarenakan perusahaan inti telah membuat jadwal panen untuk setiap kandang peternak mitranya agar pasokan input perusahaan selalu tersedia. Hal ini yang dikeluhkan oleh peternak mitra. Menurut pengakuan peternak, walaupun telah meminta untuk dipanen keterlambatan panen masih terjadi dan hal ini berpengaruh pada banyaknya pakan yang digunakan karena semakin besar bobot ayam maka konsumsi pakan yang digunakan peternak juga akan semakin banyak sehingga biaya pakan peternak akan semakin tinggi.

33 3. Penetapan harga input dan output

Dalam kerjasama kemitraan, perusahaan inti berperan sebagai penyedia sarana produksi berupa DOC, pakan, dan obat-obatan bagi peternak mitranya. Perusahaan memperoleh pasokan sarana produksi tersebut dari beberapa penyuplai sapronak yang sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan. Pasokan DOC diperoleh dari beberapa perusahaan seperti PT Malindo Feedmill, PT Asia Afrika, PT Charoen Phokpand Indonesia, dan PT Peternakan Ayam Manggis. Sedangkan pasokan pakan diperoleh dari PT Charoen Phokpand Indonesia dan PT Malindo Feeedmill. Sedangkan pasokan obat-obatan diantaranya diperoleh dari PT Mensana Aneka Satwa, PT Dian Langgeng Abadi, PT Avian Satwa Anugrah, dan PT Multifarma Satwa Maju.

Penetapan harga kontrak untuk sarana produksi dan harga jual ayam hidup ditentukan sepenuhnya oleh perusahaan inti. Daftar harga tersebut secara rinci tercantum dalam perjanjian yang ditandatangani oleh kedua belah pihak. Perjanjian harga kontrak ini dibuat terpisah dari dokumen perjanjian kerjasama karena perjanjian harga kontrak ini dapat diperbarui sewaktu-waktu jika terjadi perubahan harga. Isi dari perjanjian harga kontrak adalah daftar harga sapronak yang terdiri dari harga pakan dan harga DOC, daftar harga ayam hidup berdasarkan bobot ayam yang mana semakin rendah bobot ayam maka semakin tinggi harga per kilogramnya, serta keterangan mengenai ketentuan pemberian bonus, pemotongan harga, dan perubahan harga. Perjanjian harga kontrak dapat dibuat untuk setiap siklus produksi maupun jangka waktu tertentu misalnya satu – dua tahun dengan mempertimbangkan fluktuasi harga yang mungkin terjadi.

Bagi perusahaan yang memperbarui harga kontraknya dalam jangka waktu satu – dua tahun sekali maka perusahaan harus dapat menyiasati adanya fluktuasi harga pasar sarana produksi maupun output yang tidak terduga misalnya apabila terjadi kenaikan harga pakan karena dampak dari meningkatnya nilai tukar rupiah atau kenaikan harga daging ayam seperti yang terjadi belum lama ini. Untuk harga kontrak ayam hidup, perusahaan inti membuat ketentuan bahwa apabila harga pasar mengalami kenaikan sehingga harga pasar melebihi harga kontrak maka peternak mendapatkan kompensasi berupa kenaikan harga sebesar 25 persen dari harga pasar. Tetapi apabila harga pasar lebih rendah dari harga kontrak maka perusahaan menerapkan harga kontrak.

Kerugian dari penjualan hasil produksi saat harga pasar lebih rendah dari harga kontrak ditanggung oleh pihak inti tetapi kerugian ini dapat tertutupi dengan penjualan sapronak ke peternak mitra karena harga sapronak yang ditetapkan perusahaan inti umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan harga di pasar. Tingginya harga sapronak ini dikeluhkan oleh peternak mitra. Penetapan harga kontrak sapronak yang lebih tinggi membuat perusahaan tidak dapat meningkatkan harga kontrak yang telah ditetapkan apabila terjadi kenaikan harga sapronak di pasar. Untuk menyiasatinya, perusahaan memilih untuk menurunkan kualitas pakan terutama pakan finisher dan DOC yang digunakan agar harga kontrak tidak berubah. Penurunan kualitas sapronak berdampak pada jumlah produksi yang dihasilkan. Untuk mencegah menurunnya produksi, perusahaan menganjurkan peternak-peternak mitranya untuk menambah penggunaan obat- obatan. Tetapi dalam kontrak harga ini merupakan harga distributor sehingga tidak tercantum dalam perjanjian. Peternak baru akan mengetahui harga obat- obatan pada laporan laba rugi yang diterima saat pembayaran hasil produksi.

34

4. Sistem pembayaran hasil

Sistem pembayaran hasil yang ditentukan oleh perusahaan inti paling lambat rata-rata 15 hari atau dua minggu setelah seluruh ayam dipanen. Perusahaan akan menghubungi peternak mitra bahwa hasil telah dapat diambil. Terdapat dua cara pembayaran hasil yaitu pembayaran secara tunai dan pembayaran secara transfer.

Dokumen terkait